Kamis, 12 Maret 2015

PENGOBATAN RUQYAH NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

As-Syaikh Prof.DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullah Ta'ala. 

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu 'ala Rosulillah, wa ba'du;

Pembahasan kali ini berkaitan dengan ruqyah atau pengobatan yang sangat agung yang telah terang diriwayatkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melalui para sahabat radhiyallahu anhum ajmaiin, dan dikatakan bahwa ini cara pengobatan Nabi Sallallahu alaihi wa sallam ketika menjenguk orang sakit atau didatangi oleh orang yang sedang sakit, dan yang digunakan oleh Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu anha untuk mengobati penyakit Nabi di waktu-waktu terakhir beliau sedang sakit shallallahu alaihi wa sallam, dan ini merupakan ruqyah yang agung, pengobatan yang mujarab, mengandung penyembuhan dan penawar bagi yang sakit dan terkena penyakit. 

Barangsiapa yang diberikan taufiq untuk menghafal lafadz ini serta memahami makna yang terkandung didalamnya dengan penuh ketulusan dan kejujuran dalam memanjatkan dan bersandar dan tawakal sepenuhnya kepada Allah Ta'ala, niscaya akan diberikan kesembuhan, baik dari penyakit badan atau hati. 

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhary di dalam kitab Sohihnya, dari 'Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Nabi shollallahu alaihi wa sallam mengucapkan doa perlindungan kepada Allah Ta'ala untuk sebahagian sahabat dan mengusapkan dengan tangan kanan beliau seraya berkata,

 "  إذهب البأس رب الناس ، واشف أنت الشافي لا شفاء إلا شفاؤك ، شفاء لا يغادر سقما  ". 

 "Adzhibil ba’sa robbannas,  wa isyfi ‘antasyafiy laa syifaa’a ‘illa syifaa ‘uka syifaa’an laa yughoodiru saqomaa".

“Ya Allah, hilangkan penyakit ini, wahai Penguasa seluruh manusia, sembuhkanlah! Engkaulah yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, sembuhkanlah dengan kesembuhan sempurna tanpa meninggalkan rasa sakit.” (HR. Al-Bukhary).

Dan dalam riwayat lain, bahwa Rosulullah Sallallahu alaihi wa sallam ketika menjenguk orang sakit mengucapkan doa ini. (HR. Muslim). 

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam meruqyah dengan doa, " 

امسح البأس رب الناس ، بيدك الشفاء ، لا كاشف له إلا أنت ". 

"Imsahil ba'sa robban-nas, biyadikas-syifa', la ka'syifa lahu illa anta".

Artinya: "Ya Allah , hilangkanlah penyakit ini , wahai Penguasa manusia, di tangan-Mu lah kesembuhan, tiada yang mampu menyembuhkan kecuali Engkau". (HR. Mutafaqqun Alaihi). 

Di dalam riwayat Imam Muslim, berkata 'Aisyah radhiyallahu anha, "Dahulu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila didatangi oleh para sahabat yang sedang sakit maka beliau shallallahu alaihi wa sallam mengusap dengan tangan kanannya seraya berdoa dengan doa diatas, dan tatkala Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sakit dan terasa amat parah, maka aku gerakan tangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk mengusap sebagai mana dahulu beliau mengusap, kemudian beliau tiba-tiba menarik tangan beliau seraya berkata, "  

اللهم اغفر لي واجعلني مع الرفيق الأعلى  ".

Artinya: "Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan perkenankanlah aku berjumpa dengan-Mu Wahai Dzat Yang Maha Mendampingi lagi Maha Tinggi".

Kemudian 'Aisyah radhiyallahu anha berkata, "Dalam sekejap setelah beliau berdoa, maka beliau wafat, Sholawatullah wa Sallamuhu Alaihi. 

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Majah dengan lafadz, " Aisyah radhiyallahu anha berkata, "Dahulu Nabi Sallallahu alaihi wa sallam berlindung kepada Allah Ta'ala dengan memanjatkan doa,

 "  إذهب البأس رب الناس ، واشف أنت الشافي لا شفاء إلا شفاؤك ، شفاء لا يغادر سقما  ".

Kemudian tatkala Nabi Sallallahu alaihi wa sallam sakit, yang menjadikan beliau wafat, Aku menggerakkan tangan beliau untuk mengusap dan aku mengucapkan doa diatas, tiba-tiba beliau sadar dan menarik tangan beliau seraya mengucapkan doa,  

" اللهم اغفر لي والحقني بالرفيق الأعلى "

 Artinya:  "Ya Allah, ampunilah dosa-dosa ku , dan aku memohon perjumpaan dengan Dzat Yang Maha Mendampingi lagi Maha Tinggi". 

Dan ini merupakan ucapan yang terakhir yang aku dengar dari Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam. 

Diriwayatkan dari Ishaq ibnu Rohuyyah dalam musnadnya, bahwa 'Aisyah radhiyallahu anha berkata, "Aku mengucapkan doa kesembuhan untuk Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam sakitnya yang terakhir, yaitu doa:

إذهب البأس رب الناس ، أشفق أنت الشافي ، اشف شفاء لا يغادر سقما ، الشفاء بيدك

'Aisyah radhiyallahu anha berkata, "Aku mengucapkan doa ini ketika beliau wafat karena sakit, maka Nabi Sallallahu alaihi wa sallam berkata, "Berhentilah untuk berdoa, sesungguhnya doa ini bermanfaat selama ajal belum datang, yaitu selagi masih bisa hidup di dunia ini". 

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad di dalam musnad-nya, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, "Dahulu Nabi Sallallahu alaihi wa sallam apabila menjenguk orang sakit beliau berdoa,

اللهم رب الناس ، مذهب البأس ، اشف انت الشافي ، لا شفاء إلا أنت ، شفاء لا يغادر سقما  " .

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bazzar didalam musnad-nya, dari sahabat Ammar ibnu Yasir radhiyallahu anhu berkata, "Suatu hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam datang kepada dirinya dan mengucapkan doa: 

« أذهب البأس رب الناس ، واشف أنت الشافي لاَ شفاء إلا شفاؤك ، شفاءً لاَ يغادر سقما» 

Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Thobrony dalam kitab do'a , dari sahabat Abdullah ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu, dahulu ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam datang menjenguk orang sakit beliau berdoa : 

 « أذهب البأس رب الناس ، واشف أنت الشافي لا شفاء إلا شفاؤك ، شفاءً لا يغادر سقما » 

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad didalam musnad-nya , berkata Muhammad bin Ha'tib , suatu hari tanganku terkena tumpahan panci, yaitu masakan yang panas mendidih, kemudian ibuku membawaku ke hadapan Nabi Sallallahu alaihi wa sallam mengucapkan doa : 

«أَذْهِبْ الْبَأسْ رَبَّ النَّاسْ » 

Dan aku mendengar pula ucapan doa : 

 «اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي» 

Dan beliau sallallahu alaihi wa sallam mengusap dengan tangan beliau.  

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad didalam musnad-nya dari Muhammad bin Ha'tib dari ibu nya Ummu Jamil binti Mujjalil radhiyallahu anha, ia bercerita, " Suatu hari aku membawa mu dari ngeri Habasya hingga pada suatu saat sampai ke kota Madinah, di malam pertama atau malam kedua, aku memasak suatu masakan, dan di waktu tersebut aku kehabisan kayu bakar, dan aku pergi untuk mencari kayu bakar, kemudian engkau mendekati panci besar tersebut, sedangkan engkau saat itu masih kecil, kemudian panci tersebut tumpah mengenai tangan bagian lengan mu, kemudian aku membawamu ke hadapan Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, kemudian aku berkata, wahai Rasulullah, ini Muhammad bin Ha'tib ( terkena tumpahan masakan mendidih ), kemudian Nabi Sallallahu alaihi wa sallam meniup dan mengusap kepala mu dan berdoa seraya mengusap bagian tangan mu, dengan mengucapkan doa : 

 «أَذْهِبْ الْبَاسْ رَبَّ النَّاسْ ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا» 

Kemudian ibunya berkata, " Tidaklah aku bangkit dari duduk ku hingga aku melihat tangan mu yang terluka menjadi sembuh ". 

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, " Didalam hadist ini dikisahkan bahwa Nabi shollallahu alaihi wa sallam melakukan rukyah kepada orang yang terkena luka bakar, akan tetapi hal ini tidak menjadikan ruqyah khusus untuk yang terkena luka bakar, akan tetapi umum untuk orang-orang yang terkena apa saja dari suatu gangguan ".

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad didalam musnad-nya, dari Abdurrahman ibnu Sa'ib, putra dari saudara Maimunah Al-Hilaliyah , ia bercerita, wahai putera saudara ku, maukah saya ajarkan ruqyah yang dahulu di ajarkan oleh Rosulullah Sallallahu alaihi wa sallam, maka ia menjawab, iya. 

Ucapan : 

" بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ وَاللَّهُ يَشْفِيكَ مِنْ كُلِّ دَاءٍ فِيكَ أَذْهِبْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ ".

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ad-Dhobby dalam kitab do'a, dari Sahim ibnu Naufal, ia berkata, " Tatkala aku bersama Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu , tiba-tiba datang seorang budak wanita berkata kepada majikannya, apa yang membikin diri mu termenung, carilah orang yang bisa meruqyah, sesungguhnya kuda peliharaan yang engkau miliki terkena penyakit ain, maka Abdullah berkata, janganlah mencari orang yang dapat meruqyah, akan tetapi datangi kudamu, dan tiuplah pada bagian kanan empat kali, dan bagian kiri tiga kali dengan mengucapkan doa : 

بسم الله لا بأس أذهب البأس رب الناس واشف أنت الشافي لا يكشف الضر إلا أنت .

Maka ia berkata,  "Tidaklah aku melakukan perintah nya sehingga aku melihat kuda tersebut seolah-olah terbebas dari ikatan , ia mampu makan dan minum dan mengeluarkan kotoran". 

Do'a ini merupakan ruqyah yang sangat agung, yang mengandung tawasul dan permohonan perlindungan kepada Allah Ta'ala Dzat Yang Maha Agung yang menguasai langit dan bumi, dan tiada yang dapat memberikan kesembuhan penyakit kecuali hanya Allah Ta'ala semata, maka barangsiapa yang diberikan taufiq untuk menghafalkan do'a ini dan memahami kandungan isi nya, meyakini dengan tulus dan semata-mata bertawakal kepada Allah Ta'ala , percaya dan yakin bahwa kesembuhan hanya datang dari Allah Ta'ala, niscaya ia akan diberikan kesembuhan dari penyakit apa saja yang ia derita, dengan izin Allah Ta'ala kesembuhan akan menghampiri nya, sesungguhnya Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Memberi kesembuhan, tiada kesembuhan kecuali datang dari Nya, marilah kita memohon kepada Allah Ta'ala dengan Nama-Nama Nya Yang Indah dan Sifat-Sifat Nya yang Mulia, tiada Ilah yang hak kecuali Dia , Dia Penguasa manusia, Memberikan kesembuhan, agar memberikan kesembuhan kepada kita dan segenap kaum muslimin, dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan gangguan. 

Jumat, 06 Maret 2015

KIAT SUKSES PEDAGANG MUSLIM

As-Syaikh Prof.DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullah Ta'ala. 

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du;  

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad didalam musnad-nya dari hadist Abdullah bin Amru, bahwasanya Rosulillah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda, " Empat perangai, sekiranya terdapat dalam jiwa kalian, maka janganlah merasa risau seandainya  terlewatkan oleh kalian perkara dunia, yaitu, menjaga amanah, jujur dalam berbicara, akhlak yang mulia, dan berhati-hati dalam menjaga makanan ". 

Hadis ini sangat agung kandungan maknanya, seyogyanya para pelaku bisnis mengindahkan dan senantiasa menjadikan kekang dihadapan nya, bahkan selayaknya disebarluaskan kepada para pelaku usaha, pemilik bisnis, kantor perdagangan, agar dapat meluruskan bagi setiap siapa saja yang hendak menerjuni dunia perniagaan dan usaha, yang mana ke-empat pondasi ini dijadikan sebagai asas dan ideologi yang tidak tergeser walaupun disana dijumpai gemerlap keuntungan yang fantastis, dan didalam hadist terdapat solusi yang agung untuk memperbaiki kerusakan yang parah yang terjadi pada diri manusia tatkala berhadapan dengan dunia serta aneka gemerlap nya dan cara mengais rizkinya, dimana seseorang tidak akan selamat dari bencana buruk tersebut kecuali dengan menjaga empat pondasi diatas dalam hadist, dan tidak bergeser sedikitpun dari keempat perkara ini, walaupun ia kehilangan dunia dan keuntungan yang menggiurkan, dan senantiasa mengingat sabda Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, " Maka janganlah merasa risau seandainya terlewatkan oleh kalian perkara dunia ", yaitu jangan anda bersedih, merana, galau, disaat berpegang teguh dengan pondasi ini, terlewatkan gemerlap duniawi. 

Manusia tentu diberikan ujian yang berat tatkala ia dihadapkan kepada dunia perbisnisan, terkadang ia untuk mendapatkan keuntungan yang fantastis ia rela untuk berbohong, berbuat curang, dan semisalnya, sehingga timbul didalam dirinya, apakah aku harus melakukan ini atau bagaimana? , atau harus berpegang kepada hadist ini, walaupun ia tidak beruntung, bahkan rela tidak terjual dan terpaksa mendapatkan kerugian?, ketahuilah, bahwasanya Allah Ta'ala akan memberikan ganti yang lebih utama dan lebih baik, dikarenakan rizki berada di tangan Allah Ta'ala. 

Sabda Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, " Maka janganlah kalian merasa risau seandainya terlewatkan oleh kalian perkara dunia ", ini merupakan jaminan dari Allah Ta'ala, dan Allah Ta'ala akan memberikan yang terbaik sekiranya diri mu berpegang teguh kepada hadist ini. 

Sepantasnya bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia usaha hendaknya ia mencermati ke empat perkara ini. 

* Yang pertama, yaitu menjaga amanah,  yaitu seyogyanya ia dapat dipercaya didalam gerak geriknya, tidak berbuat curang, menipu, berbuat makar, bisa diberikan amanat, menunaikan hak hak orang lain, tidak menyia-nyiakan, menunaikan sebagaimana mestinya. 

Maka ini merupakan ujian bagi manusia, terkadang untuk mendapatkan keuntungan duniawi, seseorang tidak menjalankan amanah sebagaimana mestinya, demi sekelumit uang, ia mengorbankan amanah, dan banyak manusia yang terperosok dalam kobangan ini.

Terdapat pula golongan manusia yang menjalankan amanah dalam batasan yang sempit, yaitu hanya sebagai balasan yang setimpal, jikalau ia berhubungan dengan orang yang amanah, maka ia turut serta berbuat amanah, akan tetapi sekiranya berhadapan dengan orang yang khianat, maka ia berperilaku yang serupa. Dan ini bukanlah sifat mukmin yang sejati, sebagaimana didalam Musnad Imam Ahmad rahimahullah, dari hadist Anas bin Malik radiyallahu anhu, bahwa Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, " Tunaikanlah amanah kepada orang yang telah memberikan mandat amanat tersebut, dan janganlah  berkhianat kepada orang yang berbuat khianat kepada dirimu ".

Maka amanah dituntut disegala waktu dan keadaan, dan sebaliknya khianat adalah dilarang kapan pun dan dimana pun, dan perbuatan khianat adalah tercela, kapan pun dan dimana pun, sebagaimana sabda Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, " Janganlah berkhianat kepada orang yang berbuat khianat kepada dirimu ".  

Dibolehkan bagi seseorang untuk mengambil hak nya, akan tetapi tidak dengan berbuat khianat semisalnya, dikarenakan khianat merupakan keburukan kapan pun dan dimana pun. 

* Yang kedua, yaitu jujur dalam berbicara, dengan tidak berdusta, akan tetapi senantiasa menjaga kejujuran, tatkala berhadapan dengan manusia dalam perniagaan, perdagangan, seperti ketika mengatakan, " Ini barang baru ", maka ia berkata sejujurnya bahwa barang tersebut benar-benar baru, dan tatkala ia mengatakan, " Ini barang asli ", maka ia berkata sebenarnya bahwa barang yang dijual adalah asli bukan tiruan, dan tatkala ia mengatakan, " Barang ini datang pada hari ini, bukan kemarin ", maka ia berkata sesuai dengan kenyataan yang ada, dan didalam hatinya berkata, " Apa yang saya dapatkan dari keuntungan satu atau dua atau sepuluh atau seribu atau lebih, jika aku harus kehilangan kejujuran dan aku menjadi seorang pendusta !, sedangkan Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda, " Jauhilah kalian berbuat dusta, dikarenakan berdusta akan membawa kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa akan menjerumuskan kepada neraka ", dan hendak nya ia merasa yakin bahwa rizki berada di tangan Allah Ta'ala, dan uang real atau dirham yang menggeser kejujuran pada dirinya, akan tetapi kejujuran adalah asas dan pondasi yang menjadi harga mati diatas segalanya, ia tak akan pernah menyia-nyiakan nya. 

Berbeda dengan kebanyakan manusia yang menjadi rusak ketika berinteraksi dengan perniagaan yang seolah ia merasa rakus terhadap gemerlap duniawi sehingga tergiur untuk memperkaya diri dengan cara berdusta, bahkan berani untuk bersumpah palsu dengan nama Allah Ta'ala. 

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, " Tiga golongan yang ia tidak akan dilihat oleh Allah Ta'ala kelak hari kiamat, dan tidak akan diberikan kesucian dan baginya siksa yang pedih. ....di antara nya , seseorang yang memperjualbelikan dagangan nya dengan sumpah palsu ".

Ia rela berbuat dusta dan bersumpah palsu demi mendapatkan dunia yang semu wal-iyadhu billah. 

* Yang ketiga, berakhlak mulia, yaitu berinteraksi dengan para manusia dengan adab yang baik dalam menjalani perniagaan, akan tetapi banyak dijumpai diantara mereka yang berkecimpung urusan ini memiliki perangai yang buruk, berinteraksi dengan perdagangan dan jual beli mengakibatkan berpengaruh terhadap akhlak mereka, yaitu pengaruh negatif, selagi tidak mengindahkan wasiat yang tercantum dalam hadist, " Berakhlak mulia ", sehingga wasiat ini senantiasa memerintahkan kepada para pedagang untuk menjaga diri dan tidak menukar akhlak mulia ini, karena sebagian manusia tatkala memasuki pasar dan bergelut dengan perdagangan, berubah menjadi mudah berkata kotor, mudah mencaci maki, mudah mengucapkan laknat, dan berakhlak buruk. 

Pengaruh negatif ini ia peroleh lantaran terbawa arus ketika bergelut dunia perdagangan, tanpa mengindahkan pondasi agung ini. 

Adapun pedagang muslim yang sejati ia tidak akan merubah pola pikir dan akhlak nya, dikarenakan ia sangat memahami, apa untungnya jikalau ia bergelimang dengan harta yang melimpah, keuntungan yang berlipat, seandainya hal itu merubah akhlak dan fitrah yang ia miliki. 

* Yang keempat, berhati-hati dalam menjaga makanan, yaitu menjaga diri dari urusan makan, dengan berusaha mendapatkan harta halal dan menjauhi yang haram dan syubhat, sebagaimana Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda, " Sesungguhnya perkara halal sangatlah jelas dan perkara haram sangatlah jelas dan diantara keduanya terdapat perkara perkara yang syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan para manusia, maka barangsiapa yang berhati-hati menjauhi perkara syubhat, sungguh ia telah menjaga dirinya dalam agama dan martabat nya, dan barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, sungguh ia telah terjerembab dalam perbuatan haram, selayaknya seorang penggembala yang menggembalakan ternak nya di sekitar pagar yang niscaya ia akan terjerumus kedalamnya, ketahuilah bahwa setiap penguasa memiliki batasan, dan batasan Allah Ta'ala adalah perkara yang dilarang " . 

Yaitu, seseorang sepantasnya menjaga diri dalam perkara makan, berhati-hati tidak terjerumus dan tercampur dengan sesuatu yang haram, yang syubhat dan yang samar. 

Kita memohon kepada Allah Ta'ala agar senantiasa diberikan taufiq dan inayah serta dijauhkan dari segala perkara yang buruk, sesungguhnya Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mampu atas segala sesuatu. 




Selasa, 24 Februari 2015

MENGGAPAI AMPUNAN

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rosulillah, wa ba'du; 

Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah, aniaya, dan bodoh yang senantiasa terjerumus dalam lembah kemaksiatan baik di waktu pagi dan petang, betapa tidak, manusia diberikan sifat oleh Allah Ta'ala dalam firman Nya, "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh ". ( QS Al - Ahzab 72 ). 

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, "  كل ابن آدم خطاء ، وخير الخطاءين توابون ".  

" Setiap anak cucu Adam senantiasa berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang mau bertaubat ". ( HR Tirmidzi dan Ibnu Majah ). 

Allah Ta'ala berfirman, " Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar ". ( QS Taha 82 ).

Allah Ta'ala berfirman, " Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ". ( QS Al - Hijr 49 ).

Allah Ta'ala mensifati diri Nya, " Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya. Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nya-lah kembali (semua makhluk). ( QS Ghafir 3 ). 

Allah Ta'ala berfirman, " Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ". ( QS Az-Zumar 53 ). 

Shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas pernah mengabarkan bahwa ada sekelompok orang dari kalangan musyrikin yang telah melakukan banyak pembunuhan dan perzinaan. Kemudian mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya apa yang engkau katakan dan engkau dakwahkan sangat baik, kiranya engkau memberitahu kami apa yang bisa menjadikaffarah (penghapus dosa) atas perbuatan-perbuatan kami tersebut?”

Seketika itulah, Allah menurunkan ayat-Nya (yang artinya), " Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53) (HR Bukhari dan Muslim)

Allah Ta'ala berfirman, " Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya ". ( QS Ar-Ra'ad 6 ).

Allah Ta'ala berfirman dalam hadist Qudsi, "   يا عبادي ! انكم تخطءون بالليل والنهار وانا أغفر الذنوب جميعا فاستغفروني اغفر لكم  ".  

Artinya, " Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian senantiasa berbuat kesalahan dan kealpaan sepanjang malam dan siang, dan Aku niscaya memberikan ampunan semuanya, maka mohonlah ampunan, niscaya Aku ampuni ". ( HR Muslim ). 

Merupakan tanda keberuntungan bagi seorang hamba, sekiranya ia melakukan suatu dosa, maka ia bersegera kembali ke jalan yang lurus dan bertaubat serta memohon ampunan kepada Allah Ta'ala, karena Dia adalah Dzat Penerima Taubat. 

Allah Ta'ala berfirman, "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal ". ( QS Ali-Imran 133 - 136 ).

Sesungguhnya sebab-sebab diampuninya suatu dosa dan kesalahan diperoleh dengan beberapa cara diantaranya adalah berdoa, beristigfar dan memohon ampunan serta mengesakan Allah Ta'ala dengan bertauhid secara benar.  

عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : (( قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً )).

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR. at-Tirmidzi )

Doa merupakan sebab untuk menghapus dosa, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, " Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu ". ( QS Ghafir 60 ).

Allah Ta'ala berfirman, " Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji". Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik". ( QS Ali-Imran 192-195 ).

Nabi sallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya tentang doa permohonan ampunan yang paling utama, yaitu lafal : 

اللّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَاْ عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إَلَّا أَنْتَ

Allaahumma Anta Rabbii laa ilaaha illaa anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu, a’uudzu bika min syarri maa shana’tu, abuu`u laka bi ni’matika ‘alayya, wa abuu`u laka bi dzanbii faghfir lii, innahu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta

“Ya Allah, engkau adalah Rabb ku tidak ada yang berhak disembah selain engkau, engkau yang telah menciptakanku dan aku adalah hambamu, dan aku berada di atas perjanjian-Mu semampuku, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat, aku mengakui nikmatmu atas ku dan aku mengakui dosa-dosaku maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa selain-Mu”. 

( HR Bukhary ). 

Suatu hari sahabat muliya Abu Bakar As-Siddik radhiyallahu anhu berkata, wahai Rasulullah , ajarkan kepadaku suatu doa yang aku panjatkan dalam sholalku, maka Nabi Sallallahu alaihi wa sallam mengajarkan doa : 

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيْرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ اللهَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“  

Artinya ; " Ya Allâh! sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang banyak dan tidak ada Yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allâh, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan kasihilah aku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”.  ( HR Bukhary dan Muslim ). 

                                  ~▪▪▪~