Jumat, 03 April 2015

UJIAN

As-Saikh Prof.DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullah Ta'ala. 

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala ' Rosulillah, wa ba'du;  

Sesungguhnya kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang penuh cobaan dan ujian, tiada manusia yang tinggal di bumi ini kecuali pasti mendapatkan ujian, kemudian ia akan kembali kehadapan Allah Ta'ala , sebagaimana firman Allah Ta'ala, 

وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ لِيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔوا۟ بِمَا عَمِلُوا۟ وَيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ بِٱلْحُسْنَى ﴿٣١﴾

Artinya : " hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)."
(Q.S.53 : An-Najm : 31)

Allah Ta'ala berfirman, 

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ ﴿٣٥﴾

Artinya : " Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan."  (Q.S.21: Al-Anbiya : 35 ) 

Ujian yang Allah Ta'ala turunkan kepada hamba-Nya didunia ini terkadang berupa kesenangan dan kegembiraan dan terkadang dengan keburukan dan petaka, seseorang di uji dengan sehat dan sakit, di uji dengan kekayaan dan kemiskinan, maka setiap mukmin pasti mendapatkan bagian dari cobaan dan ujian, dengan kesenangan dan kesengsaraan, dan semua adalah membawa baik dan kebaikan dalam setiap ujian yang ia terima, sebagaimana telah diriwayatkan dalam musnad Imam Ahmad rahimahullah, dari hadist Anas radhiyallahu anhu, bahwasanya Rosulillah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda, "  

 : ((عَجَبًا لِلْمُؤْمِنِ !! لَا يَقْضِي اللَّهُ لَهُ شَيْئًا إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ ))؛

Artinya : " Mengherankan perkara orang-orang mukmin, tidaklah Allah Ta'ala memutuskan suatu perkara baginya, kecuali kembali padanya suatu kebajikan ". 

Sabda Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, " Suatu perkara baginya " , ini menunjukkan kepada bentuk cobaan yang bisa berbentuk kesenangan dan keburukan, dan apa yang menimpa seorang mukmin semuanya adalah baik bagi dirinya, hal ini dikarenakan bahwasanya seorang mukmin jika ia tertimpa suatu keburukan, musibah, menderita sakit, mengalami kefakiran, dan semisalnya dari sesuatu yang tidak disenangi, ia mampu bersabar, sehingga ia menggapai pahala orang-orang yang sabar, demikian juga tatkala ia diberikan ujian yang berupa sesuatu yang menyenangkan seperti kegembiraan, diberikan kemudahan dalam urusan nya, dilimpahkan kesehatan, kekayaan, ia dapat melalui ujian ini dengan berbuat syukur kepada Allah Ta'ala, sehingga ia tergolong dari para hamba yang mampu bersyukur. 

Sebagaimana telah tetap riwayat dari sahabat Syuhaib ibnu Sinan radhiyallahu anhu, bahwasanya Rosulillah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda,  

: (( عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ !! إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ))

Artinya : " Mengherankan perkara yang menimpa seorang mukmin, sesungguhnya segala urusannya kembali kepada kebaikan, dan hal itu hanya terjadi pada seorang mukmin, sekiranya ia ditimpa suatu kebahagiaan, maka ia bersyukur, maka ini adalah kebaikan untuk nya, dan jika ia ditimpa musibah dan bersabar, maka ini adalah kebaikan untuk nya ". 

 Kandungan dalam hadist ini menunjukkan bahwa orang yang sedang tertimpa musibah dan ia mampu untuk bersabar maka ini merupakan kebaikan untuk dirinya karena ia mendapatkan pahala orang yang bersabar, dan jika ia mendapatkan  ujian yang berupa kesenangan, kelonggaran, keluasan dan bersyukur, maka ia mendapatkan pahala orang yang bersyukur, sehingga ia nenggapai antara pahala sabar dan syukur dalam setiap ujian dan cobaan, sebagaimana dua perkara ini tergabung dalam empat tempat didalam Al-Qur'an Al-Karim, 

  إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

" Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur."
(Q.S.31: Luqman : 31) 

Didalam ayat mulia ini terkumpul dua kemuliaan dan pujian yang keduanya memiliki kedudukan yang tinggi lagi agung, yaitu kedudukan sabar di waktu susah dan kedudukan syukur di waktu gembira. 

Seyogyanya seorang hamba Allah yang mukmin mengetahui bahwa sebagian hamba Allah Ta'ala yang diberikan kenikmatan, kelonggaran, lebih dalam harta, kecukupan dalam rizki, diberikan kesehatan, diberikan karunia keluarga dan keturunan, atau semisalnya dari kenikmatan, hal ini bukanlah pertanda dan dalil bahwasanya Allah Ta'ala ridho kepadanya, dan memberikan kemuliaan pada dirinya, sebagaimana pula ketika Allah Ta'ala menimpakan musibah, mempersempit rizkinya, mengurangi kesehatan dirinya, dan memberikan keterbatasan dalam segala urusannya, bukan pertanda dan dalil bahwa Allah Ta'ala tidak cinta dan meridhai dirinya dan Allah Ta'ala menghinakan dirinya. 

Prasangka buruk yang ada pada sebagian manusia ini telah dijelaskan oleh Allah Ta'ala tentang ketidak benarannya, sebagaimana di firmankan, 

فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ ﴿١٥﴾

وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ ﴿١٦﴾

Artinya : 15. " Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku".  16. " Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakan ".
(Q.S.89: Al-Fajri :15-16)

Maka Allah Ta'ala sangkal tentang prasangka yang demikian dengan firman Nya,  
كَلَّا ۖ
Artinya : "Sekali-kali tidak (demikian),  yaitu, tidak seperti yang kalian sangkakan, sesungguhnya orang yang Allah Ta'ala berikan kelonggaran harta, kesehatan, keturunan dan semisalnya, bukan merupakan dalil dan pertanda bahwa Allah Ta'ala ridho dan memuliakan orang tersebut, dan sebaliknya, jika Allah Ta'ala memberikan kesempitan harta dan semisalnya bukan menjadi pertanda bahwa Allah Ta'ala menghinakan orang tersebut, keduanya adalah ujian dan cobaan, ini di berikan ujian harta, kesehatan, keturunan, serta aneka karunia dan satunya diberikan ujian fakir, sakit serta beragam keterbatasan. 

Oleh karena itu, para ulama berbeda pendapat tentang kedua kelompok tersebut, mana yang paling afdal dan utama disisi Allah Ta'ala antara orang kaya lagi bersyukur atau orang fakir nan sabar ?

Jawaban yang tepat adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah Ta'ala diantara keduanya, sekiranya dalam ketakwaan sama maka keduanya memiliki pahala yang sama, karena salah satunya diberikan ujian kekayaan dan bersyukur, dan satunya di berikan ujian fakir dan sabar, keduanya meraih keberhasilan, keduanya melaksanakan ubudiyah di setiap ujian mereka, keberhasilan pahala syukur dan keberhasilan pahala sabar. 

Kemudian akhir dari semua perjalanan ini adalah :  وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ  ,

Yaitu, semua akan kembali kehadapan Allah Ta'ala. 

Dengan demikian segala bentuk ujian dan cobaan yang ditimpakan kepada para hamba, ia akan menerima balasan dari Allah Ta'ala, balasan baik kepada orang yang berbuat kebajikan, dan siksa kepada orang yang berbuat keburukan, maka sepantasnya kita bertakwa kepada Allah Ta'ala dan kita bermujahadah terhadap diri kita masing-masing dalam mengarungi kehidupan ini, sehingga kita tergolong sebagai hamba-Nya yang beruntung dan selamat dari ujian dan cobaan yang bersifat kesenangan dan kesedihan, dan Allah Ta'ala semata yang memberikan limpahan taufiq dan tiada sekutu bagi-Nya. 




Rabu, 01 April 2015

AKHLAK TERCELA

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala ' Rosulillah, wa ba'du; 

Al-Qur'an Al-Karim memberikan bimbingan kepada umat islam agar mereka memiliki akhlak yang mulia, membangun masyarakat islami yang berbudi luhur, memberikan tarbiyah sehingga mempunyai adab yang tinggi, memiliki perasan yang peka terhadap sesama, menentramkan hati, menyejukkan pandangan, menjaga lisan, menghormati hak-hak manusia.

Diantara bimbingan islam yang diajarkan dalam Al-Qur'an Al-Karim adalah firman Allah Ta'ala ; 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿١١﴾

Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
(Q.S.49: Al-Hujuraat : 11)

Didalam ayat mulia ini terkandung larangan tentang sukhriyah, yaitu memandang rendah orang lain dan mencela, dikarenakan hal ini menunjukkan tentang sifat sombong, sebagaimana yang telah digambarkan oleh Nabi Sallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya,  

 الكبر بطر الحق و غمط الناس 

 Artinya : " Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia ".

Sedangkan arti Al-lamzu atau mencela adalah mengucapkan sesuatu dengan keburukan, dan arti An-Nabzu adalah memanggil dengan gelar-gelar yang mengandung ejekan, dengan menyebutkan sifat sifat yang buruk dan dibenci yang keluar dari batasan syar'i yang berlawanan dengan sifat seorang mukmin. 

Apa yang terjadi diantara adat dan kebiasaan manusia dari sikap dan perbuatan mereka, bukanlah suatu timbangan dan tolak ukur dihadapan Allah Ta'ala, akan tetapi timbangan hakiki adalah takwa serta iman dan amal saleh, Sebagai mana firman Allah Ta'ala, 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿١٣﴾

Artinya : " Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."  (Q.S.49: Al-Hujuraat : 1)

Allah Ta'ala berfirman,  

وَمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُم بِٱلَّتِى تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَىٰٓ إِلَّا مَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ جَزَآءُ ٱلضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا۟ وَهُمْ فِى ٱلْغُرُفَٰتِ ءَامِنُونَ ﴿٣٧﴾

Artinya : " sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga)."  (Q.S.34: Saba' : 37)

Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

 لا فضل لعربي على عجمي إلا بالتقوى 

Artinya : " Tiada keutamaan bagi orang arab atas orang ajam (non arab) kecuali  dengan ketakwaan ". 

Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda,  

 إ ن الله لا ينظر إلى صوركم و أموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم و أعمالكم   

Artinya : " Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak melihat kepada tampilan dan harta kalian, akan tetapi Allah Ta'ala melihat kepada hati dan amal kalian ". 

Disebutkan oleh Imam Al - Qurthuby rahimahullah menerangkan tentang tafsir ayat diatas, " Diriwayatkan dari sahabat Abdullah ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwasanya dahulu dijumpai seseorang yang memiliki telinga yang sakit, dan ia selalu duduk disamping Rosulillah Sallallahu alaihi wa sallam untuk mendengar apa yang disabdakan, maka pada suatu hari ia terlambat datang dan tempat duduk telah dipenuhi oleh para sahabat, maka ia melangkah menuju depan seraya berkata, " berikanlah kelonggaran " , hingga antara ia dan Rosulillah Sallallahu alaihi wa sallam terdapat seseorang yang duduk, dan ia berkata, " berikanlah kelonggaran " , maka orang yang duduk tersebut menjawab, " Jika engkau mendapatkan tempat duduk disitu, maka duduklah " , maka ia marah dan bertanya ," siapa orang ini ? ", maka dikatakan, dia fulan. ...., dia fulan ibnu fulanah ?, kemudian mencela ibunya, maka turun ayat ini

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ ....

Dan diriwayatkan pula bahwa ayat ini turun kepada sekelompok orang yang mencela para sahabat yang miskin seperti Ammar, Khobbab, Bilal, Salman, Salim maula Abi Hudzaifah, dan semisalnya yang terlihat kesederhanaan keadaan mereka.  

Kandungan ayat ini menitikberatkan bagian tarbiyah kepada masyarakat muslim, dan melarang tiga perangai buruk yang diwarisi dari kaum jahiliah, yaitu, merendahkan orang lain, meremehkan, mengurangi harga diri lainnya, baik dengan ucapan, pandangan, dikarenakan kebencian dan perasaan iri. 

Larangan kedua yaitu mencela, baik dengan menyebut kekurangan atau aib, dihadapan secara langsung atau berbicara dibelakang nya. 

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasanya Rosulillah Sallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat, " Apakah kalian mengetahui perbuatan ghibah ?", para sahabat menjawab, “ Allah dan Rasul-Nya yang lebih tau " . Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda, " Menyebutkan kekurangan yang terdapat pada saudaramu ". Sahabat bertanya, bagaimana jika yang disebutkan tersebut benar adanya ? , maka dijawab ," Jika sekiranya yang kalian sebut adalah benar adanya, maka itu adalah ghibah, dan jika yang kalian sebut tidak nyata, maka engkau berdusta atas nama nya ". ( HR. Muslim ). 

Larangan yang ketiga adalah memberikan julukan buruk kepada seorang muslim, seperti memanggil saudaranya muslim dengan ucapan,  Wahai kamu orang fasik,  kamu orang kafir, kamu orang yahudi, perkataan ini adalah haram termasuk dosa besar, terancam dengan sabda Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, " Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya muslim, wahai kamu orang kafir, sungguh ia telah menggantung kekafiran kepada salah satu dari keduanya, jika benar sebagaimana yang ia katakan maka ia selamat, jika tidak, maka akan kembali kepada dirinya sendiri " . ( HR. Al-Bukhary ). 

Diharamkan pula seseorang mencela orang lain yang telah bertaubat dari suatu dosa yang pernah ia lakukan, sebagaimanaterdapat atsar yang berbunyi, " Barangsiapa yang mempermalukan seorang mukmin dari suatu dosa yang ia telah bertaubat dari nya, maka Allah Ta'ala berkuasa untuk menimpakan keburukan tersebut kepada dirinya, dan Allah akan permalukan bagi nya didunia dan akhirat ". ( HR. At-Tirmidzi ). 

  

Sepantasnya setiap muslim hendaknya bertakwa kepada Allah Ta'ala, tidak selayaknya seorang mukmin melakukan perbuatan aniaya, mendzalimi, merendahkan, mencela, menggunjing, mempermalukan, melontarkan julukan yang buruk, bahkan menumpahkan darah terhadap muslim lainnya, dikarenakan seorang muslim dengan muslimin lainnya haram darahnya, hartanya, dan hargadirinya, dikarenakan bisa jadi, orang yang dicela dan dianiaya kedudukannya lebih tinggi dihadapan Allah Ta'ala, dikarenakan ketakwaan, keikhlasan, dan kebersihan hati dan amal nya. 

Semoga kita dijauhkan dari sikap sikap tercela dan diberikan kekuatan dan taufiq untuk melakukan kebaikan, hingga kita selamat dari siksa neraka dan dimasukan kedalam surga yang kekal abadi. 

Kamis, 26 Maret 2015

TATKALA GELISAH MENGHAMPIRI


Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala ' Rosulillah, wa ba'du; 

Sesungguhnya kehidupan dunia tidak luput dari perasaan gelisah dan kesedihan, sedangkan manusia diciptakan dalam keadaan lelah dan letih.

Allah Ta'ala berfirman dalam surat Al-Balad :4 ,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

Hati manusia terkadang diselimuti ketakutan dan terbayangi terhadap perkara yang telah dikerjakan sehingga mendatangkan kesedihan, demikian pula Kawatir terhadap urusan yang akan datang menghampirinya sehingga menimbulkan kegelisahan, dan terkadang ia sedang terbelit suatu urusan yang ia hadapi, sehingga mengakibatkan kegundahan.

Hal semacam ini terjadi kepada siapa saja, termasuk orang-orang salih di zaman dahulu.

Allah Ta'ala berfirman mengisahkan tentang Nabi Ya'qub alaihi salam dalam surat Yusuf : 85-86 :

قَالُوا۟ تَٱللَّهِ تَفْتَؤُا۟ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ ٱلْهَٰلِكِينَ ﴿٨٥﴾     قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ﴿٨٦﴾

Artinya :
Mereka berkata: "Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa".  86. Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya".

Jika kita tertimpa kesedihan dan kegundahan maka seyogyanya memohon perlindungan kepada Allah Ta'ala, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Sallallahu alaihi wa sallam senantiasa mengucapkan doa :

اللَّهُمَّ إني أعوذ بك من الهم والحزن .

Artinya : " Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kegelisahan ".

Allah Ta'ala berfirman dalam surat fa'thir : 34 ,

وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِىٓ أَذْهَبَ عَنَّا ٱلْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ ﴿٣٤﴾

" Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri."

Sepantasnya seorang muslim tidak berlarut dalam kesedihan, dikarenakan Allah Ta'ala telah menulis suratan takdir setiap makhluk, dan segala kebaikan dan keburukan tidak akan menimpa hamba kecuali atas takdir Allah Ta'ala semata, apa yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki oleh Allah Ta'ala tidak akan menimpa dirinya, dan barangsiapa yang ridho terhadap putusan Allah Ta'ala maka baginya keridhoan, dan barangsiapa yang berkeluh kesah dan benci, maka baginya kebencian.

Diantara petunjuk yang dianjurkan dalam agama islam, ketika seseorang mendapatkan kesedihan, hendaknya ia mengucapkan doa-doa berikut ini :

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ، إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ،

Artinya : " Tiada Ilah yang hak kecuali hanyalah Engkau ya Allah, Maha Suci Diri-Mu, sesungguhnya aku termasuk dari golongan hamba-Mu yang telah berbuat aniaya ".

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ ال...ْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada diriku. Ketetapan-Mu adil atas diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku serta pelenyap bagi kegelisahanku ".

Diantara kandungan doa diatas sebagai berikut :

1). Merealisasikan ibadah hanya untuk Allah, merasa hina di hadapan-Nya, mengaku bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan-Nya sekaligus hamba-Nya, baik dirinya maupun kakek dan nenek moyangnya, mulai dari bapak ibu kandungnya yang terdekat sampai berpangkal pada Adam dan Hawa. Semua adalah hamba dari Allah. Dialah yang menciptakan mereka, Rabb mereka, Penguasa mereka, yang menangani segala urusan mereka.
Di antara bentuk realisasi pengakuan-pengakuan di atas adalah konsistensi seorang hamba dalam beribadah kepadaNya yang terwujud dalam rasa keterhinaan dan ketundukannya kepada Allah, melaksanakan titah dan menjauhi laranganNya, selalu merasa butuh kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, tawakkal kepada-Nya, meminta perlindungan kepada-Nya, dan agar hati tak bertaut pada selain-Nya, baik dalam hal kecintaan, rasa takut, maupun pengharapan.

2). Hendaknya seorang hamba mengimani qadha dan qadar Allah. Juga meyakini apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, sedang yang tidak dikehendaki-Nya tak akan terjadi. Demikian pula bahwa tidak ada yang sanggup mengintervensi hukum Allah (merubah ataupun membatalkannya), tak ada pula yang dapat menolak keputusan-Nya. Allah Ta'ala berfirman dalam surat Fa'thir : 2 ,

مَّا يَفْتَحِ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ ﴿٢﴾

" Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Karena itulah, dalam doa tersebut dinyatakan, “Ubun-ubunku ada ditangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku terhadapku, keputusan-Mu terhadapku adil semata.” Ubun-ubun seorang hamba, yakni kepada bagian depan, ada di tangan Allah. Allah memperlakukannya sekehendak-Nya; juga memberi ketentuan terhadapnya sesuai dengan yang Dia kehendaki. Tak ada yang bisa mencampuri ketentuan-Nya, tidak ada pula yang bisa menolak keputusan-Nya, tidak ada pula yang bisa menolak keputusan-Nya. Maka dari itu, kehidupan seorang hamba, kematiannya, kematiannya, kebahagiaannya, kesengsaraannya, kesehatannya, cobaan yang ia terima, semua itu kembali pada Allah, tak ada sama sekali yang menjadi wewenang hamba.

Bila seorang hamba percaya bahwa ubun-ubunnya dan juga ubun-ubun semua hamba lainnya ada di tangan Allah, Dia akan memperlakukan mereka sesuai dengan kehendak-Nya, maka setelah itu ia tidaklah takut kepada sesama hamba, tidak menaruh harap pada mereka, tidak memposisikan mereka sebagai pemilik dirinya, tidak menggantungkan asa dan harapannya pada mereka. Ketika itu, barulah tauhid, tawakkal dan penghambaannya kepada Alllah benar-benar terwujud. Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam surat Huud : 56 ,

إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٥٦﴾

" Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus"."

Ungkapan dalam doa “ketentuan-Mu berlaku atas diriku” ini mencakup dua ketentuan; ketentuan dalam agama dan ketentuan dalam agama dan ketentuan takdir berkenaan dengan semesta. Dua ketentuan ini akan berlaku pada diri hamba, ia terima ataupun tolak. Hanya saja ketentuan takdir tidak mungkin untuk dilawan. Sedangkan ketentuan agama terkadang dilanggar oleh seorang hamba dan ia terancam mendapatkan hukuman siksa sesuai dengan pelanggaran yang ia lakukan.

Ungkapan “keputusan-Mu terhadapku adil semata”, ini mencakup semua keputusan Allah terhadap hamba-Nya dari segala sisi, baik sehat atau sakit, kaya atau miskin, rasa nikmat atau rasa nyeri, hidup atau mati, mendapat siksa atau mendapat ampun; semua yang Allah putuskan terhadap hamba itu adalah adil semata.

3). Hendaknya seorang hamba mempercayai nama-nama Allah yang indah (asmaul husna) dan sifat-sifat-Nya yang agung yang terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah; bertawassul kepada Allah dengan nama dan sifat-Nya. Ini sebagaimana firman Allah dalam surat Al-A'rof : 180,

وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ﴿١٨٠﴾

" Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."

Semakin kuat seorang hamba mengenal Allah, nama dan sifat-Nya, maka ia akan semakin takut kepada Allah, semakin besar merasakan pengawasan-Nya terhadap dirinya dan akan semakin jauh dari kemaksiatan dan hal-hal yang Allah murkai.

Karena itulah, hal terbesar yang dapat mengusir rasa resah, sedih dan gelisah adalah kala hamba mengenal Rabbnya, memenuhi hatinya dengan pengetahuan tentang Allah dan bertawassul kepada-Nya dengan nama dan sifat-Nya. Karena itulah dalam doa tersebut dinyatakan, aku memohon kepada-Mu dengan segenap nama milik-Mu yang Engkau sandangkan pada diri-Mu, atau yang Engkau turunkan di kitab-Mu, atau Engkau ajarkan pada seseorang dari sekalian hamba-Mu, atau yang Engkau simpan sendiri di ilmu gaib yang ada pada sisi-Mu. Ini adalah wasilah kepada Allah yang paling Allah cintai.

4 ). Memberikan perhatian pada al-Quranul Karim yang sama sekali tidak mengandung kebatilan sedikit pun, yang memuat petunjuk, kesembuhan, kecukupan dan keselamatan. Semakin besar perhatian seorang hamba pada al-Qur’an, baik dengan membaca, menghafal, mengkaji dan merenungkannya, mengamalkan, dan mengejawantahkannya, ia akan menggapai kebahagiaan, ketenangan, kelapangan dada, hilangnya resah, gelisah dan kesedihan sesuai dengan tingkat perhatiannya terhadap Kitabullah.

"لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ، وَرَبُّ الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ"

Artinya: “Tiada sembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah Yang Maha Agung, Maha Sabar, Tiada sembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah Rabb Al ‘Arsy Yang Agung, Tiada sembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah Rabbnya langit-langit dan Rabbnya bumi, Rabbnya “Arsy Yang Mulia.”

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Artinya: “Wahai Allah, Rahmat-Mu aku harapkan, maka janganlah sandarkan aku kepada diriku walau sekejap mata, perbaikilah keadaanku seluruhnya, tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.”

Semoga kita diberikan perlindungan Allah Ta'ala dari segala keburukan dan dijauhkan dari kegelisahan dan kesedihan.