Rabu, 10 Januari 2024

TABARUK YANG SYAR`I

#DAURAH_SYAR’IYYAH_SOLO_MAHAD_IMAM_AL_BUKHARI
#PERTEMUAN_KEENAM

KITAB 
سبيل الرشاد في تقرير مسائل الإعتقاد


Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily hafizhahullah menjelaskan:


*TABARUK YANG DISYARI’ATKAN:*

1. Tabaruk dengan al-Qur’an (sudah dibahas di tulisan sebelumnya)
2. Tabaruk dengan dzikir kepada Allah (sudah dibahas di tulisan sebelumnya)
===========================
*3. TABARUK DENGAN NABI ﷺ 
==========================
--- ini ada tiga :
a. Tabaruk dengan cara beriman kepadanya
Yaitu dengan mentaati apa yang menjadi perintahnya, memegang teguh petunjuknya ﷺ dan ini adalah sebab terbesar bagi seorang muslim untuk bisa mendapatkan kebarokahan dalam umur, ilmu, amal dan rezkinya.
Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A’raaf: 96).

اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.” (QS. Al-Baqarah: 285)
Ini menunjukkan sebab kebarokahan itu dengan beriman kepada Nabi ﷺ.

b. Tabaruk dengan dzatnya Nabi ﷺ

Nabi ﷺ diberikan kebarokahan dalam jasadnya, anggota badannya dan telah banyak hadits yang menjelaskan tentang hal tersebut. 
Hadits yang mulia:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا
dari Aisyah radhiallahu'anha, Bahwasanya Rasulullah ﷺ apabila menderita sakit, maka beliau membacakan AL MU'AWWIDZAAT (surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas) untuk dirinya sendiri, lalu beliau meniupkannya. Dan ketika sakitnya parah, maka akulah yang membacakannya pada beliau, lalu mengusapkan dengan menggunakan tangannya guna mengharap keberkahannya. (HR. Al-Bukhari no. 5016 dan Muslim no. 2192).

c. Tabaruk dengan Peninggalan Nabi ﷺ

=====Tabaruk dengan peninggalan Nabi ﷺ ketika Beliau masih hidup:
Seperti:
1.) Tabaruk dengan rambut Nabi ﷺ
Sebagaimana hadits :

عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَلَّاقُ يَحْلِقُهُ وَأَطَافَ بِهِ أَصْحَابُهُ فَمَا يُرِيدُونَ أَنْ تَقَعَ شَعْرَةٌ إِلَّا فِي يَدِ رَجُلٍ

Dari Anas dia berkata, "Sungguh saya pernah melihat Rasulullah ﷺ sedang dicukur oleh seorang tukang cukur dengan dikerumuni oleh para sahabat beliau. Sebenarnya yang mereka inginkan adalah agar setiap helai rambut beliau yang tercukur itu jatuh ke tangan seorang sahabat yang mengerumuninya." (HR. Muslim no. 2325). 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى الْبُدْنِ فَنَحَرَهَا وَالْحَجَّامُ جَالِسٌ وَقَالَ بِيَدِهِ عَنْ رَأْسِهِ فَحَلَقَ شِقَّهُ الْأَيْمَنَ فَقَسَمَهُ فِيمَنْ يَلِيهِ ثُمَّ قَالَ احْلِقْ الشِّقَّ الْآخَرَ فَقَالَ أَيْنَ أَبُو طَلْحَةَ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ

dari Anas bin Malik bahwasanya; Setelah Rasulullah ﷺ melempar Jamratul 'Aqabah, beliau langsung bergegas menuju Unta (hewan kurbannya) dan menyembelihnya. Sementarara tukang bekam sedang duduk di sekitar itu. Maka beliau memberi isyarat dengan tangannya ke arah kepala (agar ia mencukurnya). Lalu tukang cukur itu pun mencukur rambut beliau yang sebelah kanan dan kemudian beliau membagikannya kepada orang yang berada di dekatnya. Setelah itu, rambut yang sebelahnya lagi, kemudian beliau bertanya, "Mana Abu Thalhah?" maka beliau pun memberikan rambut itu padanya. (HR. Muslim no. 1305).

2.) Mengambil Keberkahan dari tahnik yang dilakukan oleh Nabi ﷺ: 

عَنْ أَسْمَاءَ أَنَّهَا حَمَلَتْ بِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ بِمَكَّةَ قَالَتْ فَخَرَجْتُ وَأَنَا مُتِمٌّ فَأَتَيْتُ الْمَدِينَةَ فَنَزَلْتُ بِقُبَاءٍ فَوَلَدْتُهُ بِقُبَاءٍ ثُمَّ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ فِي حَجْرِهِ ثُمَّ دَعَا بِتَمْرَةٍ فَمَضَغَهَا ثُمَّ تَفَلَ فِي فِيهِ فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيقُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ حَنَّكَهُ بِالتَّمْرَةِ ثُمَّ دَعَا لَهُ وَبَرَّكَ عَلَيْهِ وَكَانَ أَوَّلَ مَوْلُودٍ وُلِدَ فِي الْإِسْلَامِ

dari Asma', Ketika dia mengandung anaknya 'Abdullah bin Zubair, dia masih berada di Makkah. Dia berkata, "Kemudian aku hijrah ke Madinah, padahal aku sudah hamil tua. Kemudian aku berhenti di Quba, dan aku melahirkan di sana. Lalu aku bawa anakku kepada Rasulullah dan meletakkannya di pangkuan beliau. Rasulullah meminta sebuah kurma lalu dikunyahnya. Sesudah itu disuapkannya ke mulut bayiku. Itulah makanan yang pertama kali masuk ke mulut bayi itu, kurma yang telah bercampur dengan air ludah beliau. Kemudian Nabi ﷺ mendoakan keberkahan baginya. Dialah bayi yang pertama-tama lahir dalam Islam." (HR. Al-Bukhari no. 5469 dan Muslim no. 2146).

3.) Tabaruk dengan keringat Nabi ﷺ:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عِنْدَنَا فَعَرِقَ وَجَاءَتْ أُمِّي بِقَارُورَةٍ فَجَعَلَتْ تَسْلِتُ الْعَرَقَ فِيهَا فَاسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ مَا هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ قَالَتْ هَذَا عَرَقُكَ نَجْعَلُهُ فِي طِيبِنَا وَهُوَ مِنْ أَطْيَبِ الطِّيبِ

dari Anas bin Malik dia berkata, Nabi ﷺ pernah berkunjung ke rumah kami. kemudian beliau tidur sebentar (Qailulah) di rumah kami hingga berkeringat. Lalu Ibu saya mengambil sebuah botol dan berupaya memasukkan keringat Rasulullah ﷺ itu ke dalam botol tersebut. Tiba-tiba Rasulullah terjaga sambil berkata kepada ibu saya, 'Hai Ummu Sulaim, apa yang kamu lakukan terhadap diriku? Ibu saya menjawab, 'Kami hanya mengambil keringat engkau untuk kami jadikan wewangian kami.' keringat beliau merupakan salah satu wewangian yang paling harum wanginya. (HR. Muslim no. 2331).

Terdapat di Shohih Muslim hadits:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ بَيْتَ أُمِّ سُلَيْمٍ فَيَنَامُ عَلَى فِرَاشِهَا وَلَيْسَتْ فِيهِ قَالَ فَجَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَامَ عَلَى فِرَاشِهَا فَأُتِيَتْ فَقِيلَ لَهَا هَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَامَ فِي بَيْتِكِ عَلَى فِرَاشِكِ قَالَ فَجَاءَتْ وَقَدْ عَرِقَ وَاسْتَنْقَعَ عَرَقُهُ عَلَى قِطْعَةِ أَدِيمٍ عَلَى الْفِرَاشِ فَفَتَحَتْ عَتِيدَتَهَا فَجَعَلَتْ تُنَشِّفُ ذَلِكَ الْعَرَقَ فَتَعْصِرُهُ فِي قَوَارِيرِهَا فَفَزِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَصْنَعِينَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا قَالَ أَصَبْتِ

"Rasulullah ﷺ pernah berkunjung ke rumah Ummu Sulaim. Lalu beliau tidur di atas tempat tidur Ummu Sulaim, ketika ia sedang tidak berada di rumah. Anas berkata, 'Pada suatu hari, Rasulullah ﷺ datang ke rumah kami dan tidur di atas tempat tidur Ummu Sulaim. Kemudian Ummu Sulaim disuruh pulang dan diberitahu bahwasanya Nabi ﷺ ﷺ sedang tidur di atas tempat tidurnya. Anas berkata, 'Ketika Ummu Sulaim tiba di rumah, Nabi ﷺ telah berkeringat, dan keringat beliau tergenang di tikar kulit di atas tempat tidur.' Maka Ummu Sulaim segera membuka tasnya dan segera mengusap keringat Rasulullah dengan sapu tangan dan memerasnya ke dalam sebuah botol. Tiba-tiba Nabi ﷺ terbangun dan terkejut seraya berkata, 'Apa yang kamu lakukan hai Ummu Sulaim? Ummu Sulaim menjawab, 'Ya Rasulullah, kami mengharapkan keberkahan keringat engkau untuk anak-anak kami. Rasulullah ﷺ bersabda, "Kamu benar hai Ummu Sulaim!" (HR. Muslim no.  2331)
Hadits ini menunjukkan bolehnya mengambil kebarokahan dengan keringat Nabi ﷺ dengan apa yang dilakukan oleh Ummu Sulaim dan dibenarkan oleh Rasulullah ﷺ.

4.  Mereka mengambil kebarokahan dari apa yang disentuh  oleh badan Nabi ﷺ yaitu:
a. Mereka mengambil kebarokahan dengan pakaian Nabi ﷺ
sebagaimana hadits di Shohih al-Bukhari 

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبُرْدَةٍ فَقَالَ سَهْلٌ لِلْقَوْمِ أَتَدْرُونَ مَا الْبُرْدَةُ فَقَالَ الْقَوْمُ هِيَ الشَّمْلَةُ فَقَالَ سَهْلٌ هِيَ شَمْلَةٌ مَنْسُوجَةٌ فِيهَا حَاشِيَتُهَا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَكْسُوكَ هَذِهِ فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْتَاجًا إِلَيْهَا فَلَبِسَهَا فَرَآهَا عَلَيْهِ رَجُلٌ مِنْ الصَّحَابَةِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَحْسَنَ هَذِهِ فَاكْسُنِيهَا فَقَالَ نَعَمْ فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَامَهُ أَصْحَابُهُ قَالُوا مَا أَحْسَنْتَ حِينَ رَأَيْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَهَا مُحْتَاجًا إِلَيْهَا ثُمَّ سَأَلْتَهُ إِيَّاهَا وَقَدْ عَرَفْتَ أَنَّهُ لَا يُسْأَلُ شَيْئًا فَيَمْنَعَهُ فَقَالَ رَجَوْتُ بَرَكَتَهَا حِينَ لَبِسَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَلِّي أُكَفَّنُ فِيهَا

Dari Sahl bin Sa'd dia berkata, "Seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ dengan membawa selimut bersulam. Sahal bertanya: Apa kalian tahu selimut apakah itu? Mereka menjawab, "Ya, ia adalah mantel." Sahal berkata, Ia adalah mantel bersulam yang ada rendanya. Lalu wanita itu berkata, "Wahai Rasulullah! aku membawanya untuk mengenakannya pada Anda." Lalu Nabi ﷺ mengambilnya karena beliau sangat memerlukannya. Kemudian beliau mengenakan mantel tersebut ternyata salah seorang dari sahabat melihat beliau mengenakan mantel itu lalu berkata, "Alangkah bagusnya selimut ini, kenakanlah untukku wahai Rasulullah!" Rasulullah ﷺ bersabda, "Ya." Ketika Nabi ﷺ beranjak pergi, orang-orang pun mencela sahabat tersebut sambil berkata, "Demi Allah, kau berlaku kurang ajar. Kamu tahu, Rasulullah ﷺ diberi selimut itu saat beliau memerlukannya, malahan kau memintanya, padahal kau tahu beliau tidak pernah menolak seorang peminta pun." Sahabat itu berkata, "Aku hanya mengharap keberkahannya ketika Nabi ﷺ mengenakannya semoga kain itu menjadi kafanku pada saat aku meninggal." (HR. al-Bukhari no. 6036)

Hadits mulia:
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الْأَنْصَارِيَّةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَتْ ابْنَتُهُ فَقَالَ اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ فَأَعْطَانَا حِقْوَهُ فَقَالَ أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ تَعْنِي إِزَارَهُ

dari Ummu 'Athiyyah seorang wanita Anshar radhiallahu'anha, ia berkata, Rasulullah ﷺ menemui kami saat kematian putrinya, lalu beliau bersabda, "Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian) atau yang sejenis. Dan bila kalian telah selesa,i beritahu aku." Ketika kami telah selesai, kami memberitahu beliau. Maka kemudian beliau memberikan kain beliau kepada kami seraya bersabda, "Pakaikanlah ini kepadanya." Maksudnya pakaian beliau". (HR. Al-Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939).

b. Mereka para shahabat mengambil kebarokahan dengan posisi jari-jarinya pada makanan. 
Shahabat Abu Ayub al-Anshori pernah menyaksikan:

فَكَانَ يَصْنَعُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا فَإِذَا جِيءَ بِهِ إِلَيْهِ سَأَلَ عَنْ مَوْضِعِ أَصَابِعِهِ فَيَتَتَبَّعُ مَوْضِعَ أَصَابِعِهِ

 Abu Ayyub Al Anshari pernah membuatkan makanan untuk Nabi ﷺ. Bila tempat makanan di kembalikan Abu Ayyub Al Anshari bertanya dimanakah tempat jari-jari Nabi ﷺ, lalu ia makan pada bekas jari-jari Nabi ﷺ. (HR. Muslim no. 2053)
Al-Nawawi rahimahullah berkata: jika makanan diberikan kepadanya dan Nabi ﷺ makan darinya sesuai kebutuhannya lalu mengembalikan sisanya, maka Abu Ayyub memakannya dari posisi jari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mencari berkah” (Lihat Syarah an-Nawawy 10/14)
c. Mereka para shahabat mengambil kebarokahan dengan posisi minum Rasulullah ﷺ dan kelebihan dari air minumnya.
Hadits yang mulia:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرِبَ مِنْهُ وَعَنْ يَمِينِهِ غُلَامٌ وَعَنْ يَسَارِهِ الْأَشْيَاخُ فَقَالَ لِلْغُلَامِ أَتَأْذَنُ لِي أَنْ أُعْطِيَ هَؤُلَاءِ فَقَالَ الْغُلَامُ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا أُوثِرُ بِنَصِيبِي مِنْكَ أَحَدًا قَالَ فَتَلَّهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَدِهِ

dari Sahal bin Sa'ad As-Sa'idiy radhiallahu'anhu bahwa kepada Rasulullah ﷺ disuguhkan minuman, lalu beliau meminumnya sementara disamping kanan beliau ada seorang anak kecil sedangkan di sebelah kiri beliau ada para orang-orang tua. Maka beliau berkata, kepada anak kecil itu, "Apakah kamu mengizinkan aku untuk memberi minuman ini kepada mereka?" Anak kecil itu berkata, "Demi Allah, tidak wahai Rasulullah, aku tidak akan mendahulukan seorangpun daripadaku selain Anda." Maka beliau memberikan kepadanya. (HR. Al-Bukhari 2451 dan Muslim no. 2030) 

d. Mereka para shahabat mengambil kebarokahan dari sisa air wudhu Nabi ﷺ:
hadits Abu Juhaifah radhiallahu’anhu, pernah berkata:

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ فَأُتِيَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهِ فَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ

"Rasulullah ﷺ pernah keluar mendatangi kami di waktu tengah hari yang panas. Beliau lalu diberi air wudhu hingga beliau pun berwudhu, orang-orang lalu mengambil sisa air wudhu beliau seraya mengusap-ngusapkannya. (HR. Al-Bukhari no. 187 dan Muslim no. 503)

(فضل وضوئه) محتمل لمعنيين ذكرهما شراح الحديث

(Fadhlu wadhuihi) dimungkinkan karena dua makna yang disebutkan oleh para ahli tafsir hadis  
Yang pertama: sisa air wudhunya yang ada di dalam bejana, dan yang kedua: sisa air wudhunya yang mengalir dari anggota tubuh Beliau ﷺ. Dari sini jelas bahwa para sahabat bermaksud mencari keberkahan dari air yang menyentuh anggota badan dan badannya, dan tujuan mencari keberkahan dengan air tersebut didasarkan pada makna pertama bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah mengambil dengan tangannya dari bejana untuk membasuh organ-organ tubuhnya, maka sisa air itu mendapat keberkahannya karena Rasulullah ﷺ mencelupkan tangannya yang mulia ke dalamnya, Kedua: Air memperoleh keberkahannya dengan mengalir dari organ-organ tubuhnya ﷺ

===== Tabaruk dari peninggalan Nabi ﷺ setelah kematian Nabi ﷺ
Ini dibolehkan manakala ada dasar yang ilmiyah sebagaimana hadits mulia:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ قَدَحَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْكَسَرَ فَاتَّخَذَ مَكَانَ الشَّعْبِ سِلْسِلَةً مِنْ فِضَّةٍ قَالَ عَاصِمٌ رَأَيْتُ الْقَدَحَ وَشَرِبْتُ فِيهِ

Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu berkata, "Gelas milik Nabi ﷺ pecah lalu beliau mengumpulkan dan mengikatnya dengan Rantai terbuat dari perak." 'Ashim berkata, "Aku melihat gelas tersebut lalu kupergunakan untuk minum". (HR. Al-Bukhari no. 3109)

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَوْهَبٍ قَالَ أَرْسَلَنِي أَهْلِي إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ وَقَبَضَ إِسْرَائِيلُ ثَلَاثَ أَصَابِعَ مِنْ قُصَّةٍ فِيهِ شَعَرٌ مِنْ شَعَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ إِذَا أَصَابَ الْإِنْسَانَ عَيْنٌ أَوْ شَيْءٌ بَعَثَ إِلَيْهَا مِخْضَبَهُ فَاطَّلَعْتُ فِي الْجُلْجُلِ فَرَأَيْتُ شَعَرَاتٍ حُمْرًا

Dari Utsman bin Abdullah bin Mauhab berkata, "Keluargaku pernah menyuruhku menemui Ummu Salamah istri Nabi ﷺ dengan membawa mangkuk berisi air, sementara Isra'il memegang mangkuk tersebut menggunakan tiga jarinya yang di dalamnya terdapat beberapa helai rambut Nabi ﷺ yang diikat, apabila ada seseorang yang terkena sihir atau sesuatu, maka tempat mewarnai rambut beliau diberikan kepada Ummu Salamah, lalu aku mendongakkan kepala ke wadah yang menyerupai lonceng, aku melihat rambut beliau sudah berubah merah." (HR. Al-Bukhari no. 5896)

FENOMENA PENYIMPANGAN DALAM TABARUK
1. Tabaruk dengan tempat-tempat yang Nabi ﷺ pernah singgah dan Beliau ﷺ lewati.
Seperti Jabal Tsur, Goa Hira, Jabal Arafah, Jabal Uhud, Jabal ar-Ramaah/Jabal ‘Ainain dekat Jabal Uhud, Tempat di khondaq, tempat perang badar, dan lainnya. Tempat-tempat tersebut tidak bisa diambil kebarokahannya.
2. Tidak Tabaruk dengan kubur Nabi ﷺ
3. Tidak Tabaruk dengan Masjidl Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsho, baik dengan menyentuhnya, tiangnya, pintu-pintunya dan lainnya.
4. Tabaruk dengan orang-orang Sholih dari ulama atau ahli ibadah dari badannya mereka ataupun peninggalan mereka ataupun bajunya mereka.

يقول ابن رجب رحمه الله : والتبرك بالآثار إنما كان يفعله الصحابة رضي الله عنهم مع النبي ولم يكونوا يفعلونه مع بعضهم بعضا ولا يفعله التابعون مع الصحابة مع علو قدرهم فدل على أن هذا لا يفعل إلا مع الرسول ﷺ مثل التبرك بالوضوء وغيره.» (۳).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata: Tabaruk dengan peninggalan, itu hanya dilakukan oleh Para sahabat radhiyallahu 'anhu dengan peninggalan Nabi ﷺ, dan mereka tidak melakukannya sebagian kepada sebagian lainnya, dan para Tabi’in  tidak melakukannya dengan peninggalan para Sahabat, padahal kemampuan mereka tinggi, hal ini menandakan bahwa hal tersebut hanya dilakukan terhadap Rasulullah ﷺ, seperti mencari kebarokahan melalui wudhu dan lainnya. (Lihat Majmu’ Rasa’il Ibni Rajab 1/252)

Semoga bermanfaat.

Bersambung ke tulisan selanjutnya, inSya Allah.




==============

UDZUR KARENA BODOH

UDZUR KARENA KEJAHILAN
العذر بالجهل

Syaikh Ibrahim bin 'Amir Ar-Ruhaily ditanya: 

"Kami ingin mengambil faidah dari antum -jazaakumullah khairan- tentang udzur bil jahli, sangat banyak diskusi, perdebatan tentangnya. Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan"

JAWABAN: " udzur karena kebodohan termasuk dari pokok-pokok syariat yang ditunjukkan oleh dalil-dalil syariat. Diantaranya:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." Q.S. Al-Baqarah: 286

Diantara doa hamba yang beriman: 

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ 

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan" Q.S. Al-Baqarah:286

Karenanya manusia adalah orang yang berbuat salah dan diberikan udzur. Dan telah datang dalam sebuah hadits bahwa Allah telah mengijabah permintaan kaum mukminin.  Syaikhul Islam ketika menyebutkan ayat tersebut mengatakan:
 'telah ditetapkan bahwa Allah mengijabah doa kaum mukminin, sebagaimana dalam Shahih Muslim Bahwa Allah mengatakan: 'Aku telah mengabulkannya'.

Demikian pula firman Allah:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبۡعَثَ رَسُولٗا 

"tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang Rasul." QS. Al-Isra: 15

Diutusnya seorang Rasul bukanlah tujuan, akan tetapi tujuannya adalah MENEGAKKAN HUJJAH. Allah berfirman:

{ رُّسُلٗا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِۚ

"Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus... "Q.S. An-Nisa:165

Tidak akan dihukum seseorang, kecuali karena dosa atau kekufuran yang telah tegak hujjah padanya. Dan dalilnya adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhori tentang seseorang yang berdosa melampaui batas, meminta kepada keluarganya untuk membakar dirinya setelah wafat dan abunya ditabur di laut dan di daratan, karena takut dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban. Ketika hari kiamat Allah perintahkan lautan dan daratan mengumpulkan jasadnya dan membangkitkannya.

 Kemudian Allah bertanya: "Wahai hambaku apa yang menyebabkan engkau berbuat ini?" 

Hamba menjawab: "Takut kepada engkau wahai Rabb"
Maka Allah mengampuninya.

Orang ini, tidak mengetahui (jahil) tentang kekuasaan dan kemampuan Allah untuk membangkitkan. Dan dia mendapatkan udzur karena kejahilannya. Dan sudah diketahui bahwa meyakini Allah tidak sanggup membangkitkan,  lebih kufur daripada menyembelih dan sujud kepada selain Allah; karena hal ini adalah bentuk mengingkari sifat Allah, dan syirik dalam rububiyah lebih besar dibandingkan syirik uluhiyyah. Walaupun demikian, Allah tetap memberikannya udzur.

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: "orang ini mukmin, akan tetapi jahil terhadap kekuasaan Allah dalam membangkitkan."

Kemudian,  Ahlus Sunnah telah Ijma', bahwa mengingkari satu sifat Allah saja, hukumnya kafir. Dan telah diketahui bahwa sebagian ulama tafsir, fuqoha, ahli hadits, dengan kemampuan dan keilmuan mereka, banyak dari mereka yang menolak beberapa sifat Allah dan mentakwil beberapa sifat yang menyebabkan ditolaknya sifat Allah. 

Kalau sekiranya tidak ada udzur dengan kejahilan, maka orang yang paling berhak dikafirkan adalah para ulama tersebut sebelum orang-orang awamnya. Karena mereka hafal Al-Qur'an, mengerti Al-Qur'an, paham istidlal dan kandungan suatu dalil,akan tetapi tidak ada para ulama yang mengkafirkan mereka.

Dan mereka yang mengatakan tidak ada udzur terhadap kejahilan dan mengkafirkan orang awam yang tidak tahu dengan jatuhnya mereka terhadap kesyirikan, maka melazimi mereka untuk mengkafirkan para ulama tersebut. Tapi tidak dilakukan oleh mereka.

Ini adalah satu permasalahan, dan permasalahan lainnya Saya mengatakan: Bahwa saya siap untuk berdiskusi dengan orang yang tidak memberikan udzur terhadap kebodohan, dan sebatas melakukan perbuatan kekufuran dan kesyirikan, mengharuskan kafirnya mereka, untuk berdiskusi tentang beberapa permasalahan aqidah yang rinci yang tersembunyi bagi kebanyakan orang. Yang apabila kita jalankan hukum ini (yaitu tidak ada udzur terhadap kebodohan) maka tidak ada yang selamat dari kekafiran.

Kalau kita bertanya tentang beberapa nama dan sifat Allah, banyak yang syak dan ragu,  apakah ini sifat atau bukan sifat, apakah ini nama atau bukan nama Allah. Dan tuntutan dari tidak memberikan udzur terhadap kejahilan adalah kafir dan mengkafirkan, bisa karena ragu atau tidak tahu (jahil) tentang sifat dan nama Allah.

Saya mengingat seorang pemuda yang datang ke masjid Nabawi, kemudian ia berkata: 'Anda memberikan udzur bagi yang bodoh dan tidak mengkafirkan orang musyrik.!!

Saya menjawab: 'tidak! Saya mengkafirkan orang musyrik, akan tetapi memberi udzur bagi kaum muslimin yang jahil (bodoh)'

Ia menjawab: 'akan tetapi ilmu sudah tersebar!?'

Kemudian saya bertanya: 'kamu belajar di mana?' ia menjawab: 'di universitas Islam Madinah'

Saya bertanya: apakah kamu menetapkan sifat dhohik (tertawa) bagi Allah?'

Ia berkata: 'hah...?!' sambil mengangkat kepalanya.

Saya berkata: anda dengan kaidah yang anda pegang (yaitu tidak memberikan udzur terhadap kebodohan) maka berada pada satu dari dua keadaan:

1. Tidak tahu, dan dengan kaidah yang anda pegang anda telah kafir. 
2. Ragu/syak. Dan dengan keyakinan saya dan kamu, anda telah kafir.

Maka pemuda tersebut meninggalkan saya.

Dan orang yang berpegang dengan tidak adanya udzur dalam masalah kejahilan, kalau kita baca tulisan dalam kitab mereka, maka kita dapati bahwa banyak permasalahan, yang sekiranya tidak ada udzur terhadap kejahilan, mereka telah tervonis kafir.

Dan diantara yang aneh dari mereka, mereka mengatakan bahwa memberikan udzur bagi yang jahil adalah pendapat yang baru, dan mereka pura-pura bodoh tentang perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam banyak kitabnya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang tidak mengkafirkan orang yang meminta kepada Husen dan Albadawi karena kebodohan mereka, mereka pura-pura bodoh terhadap perkataan para imam dakwah dan termasuk perkataan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin.

Apabila kita berpegang kepada tidak ada udzur pada orang yang jahil maka tidak akan ada yang tersisa dari umat ini kecuali dikafirkan atau minimal perbuatannya dikategorikan kekufuran.

Selain itu mereka kontradiksi dalam berpegang kepada kaidah mereka  ketika kita bertanya tentang Sayid Qutub yang mengatakan bahwa Surat An-Najm seperti suara not musik, apakah telah kafir dan tidak diberikan udzur?! Maka mereka marah dan emosi karena tokoh itu diagungkan mereka.

Mereka yang berpegang kepada kaidah ini, pada hakikatnya tidak mengerti perkataan para ulama dalam masalah ini. Mereka mengatakan bahwa memberi udzur kepada orang jahil adalah aqidah irja' (Murjiah). Padahal memberi udzur kepada orang yang jahil, tidak berarti mengingkari hukum kesyirikan secara mutlak, karena kesyirikan adalah kesyirikan. 

Berulang kali saya mengatakan bahwa apabila ada seorang yang beribadah kepada Allah puluhan tahun dan dia setelahnya menyembelih nyamuk atau lalat kepada selain Allah, dan mengetahui bahwa itu adalah kesyirikan, maka dia telah kafir dan kekal di neraka.  Tapi justru dinisbatkan kepada saya bahwa saya tidak mengkafirkan seseorang secara ta'yin (tertentu). Padahal saya mengkafirkan orang setelah menegakkan hujjah dan terpenuhi semua syarat pengkafiran.

Dan sayapun dengan tegas membantah tulisan:

لا ردة بعد الإسلام

TIDAK ADA KEMURTADAN SETELAH ISLAM

Tulisan ini salah dan saya telah bantah!!!

Untuk hukum secara mutlak, tidak perlu diragukan, akan tetapi untuk mengkafirkan secara muayyan maka harus tegak hujjah dan hilang syubhat. Dan inilah prinsip dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: 

من ثبت إسلامه بيقين فلا يزيله بالشك

Barang siapa yang tetap Islamnya dengan yakin tidak boleh dihilangkan dengan keraguan.

Dan hal ini sangat jelas, dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, barang siapa membantah ini, maka hendaknya dia pertama kali membantah Syaikhul Islam sebelum membantah yang lain. Dan selayaknya pelajar tidak terpengaruh kepada suatu pendapat apabila tidak berdasarkan dengan dalil.

Solo, 10 Januari 2024
28 Jumadal Akhiroh 1445 H

MENCARI BERKAH

#DAURAH_SYAR’IYYAH_SOLO_MAHAD_IMAM_AL_BUKHARI
#PERTEMUAN_KELIMA

KITAB 
سبيل الرشاد في تقرير مسائل الإعتقاد


Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily hafizhahullah menjelaskan:

PASAL KEDUA
*AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JANNAH TENTANG TABARUK *

Aqidah Ahlus Sunnah dalam  AT-TABARUK  (mengambil kebarokahan)
Definisi Tabaruk secara bahasa dan istilah syar’i.
AT-TABARUK SECARA BAHASA: meminta kebarokahan seperti at-Ta’alum yaitu meminta ilmu.
At-Tafahum – meminta kefahaman, 

البركة : هي الكثرة في كل خير

Al-Barokah itu adalah banyak di setiap kebaikan
Dalam definisi lainnya, Asal kebarokahan adalah 

قال الأزهري: وأصل البركة: الزيادة والنماء

Al-Azhari berkata, Asal barokah itu maknanya adalah bertambah dan berkembang.

والتبرك في الشرع : استدعاء البركة واستجلابها ببذل أسباب تحصيلها الشرعية 

#TABARUK SECARA SYAR’I:
Kebarokahan menurut syariat  berarti memohon keberkahan dan memperolehnya dengan cara yang sah untuk memperolehnya.

#PENJELASAN KEBAROKAHAN DARI  ALLAH:
Barokah itu dari Allah, dan Allah menyandarkan kepada diri-Nya dan dikembalikan kepada-Nya. 
Allah Ta’ala berfirman:

﴿ اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًاۙ وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍۢ بِاَمْرِهٖٓ ۙاَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ٥٤ ﴾

Sungguh, Rabbmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Rabb seluruh alam. (QS. Al-A’raaf: 54).
Makna Tabaaraka adalah bentuk Tafa’ala dari al-Barokah (kebarokahan) dan ini adalah pendapatnya Ibnu Abbas, Ibnu Jarir, al-Qutaibiy, Az-Zajaaj, al-Baghawi, Ibnu Katsir dan kembanyakan para ulama ahli Tafsir.

قال السمعاني تخلله وزاد: «والمعنى: أن جميع البركات منه تعالى 

Imam as-Sam’ani rahimahullah berkata dan menambahkan, Makna : Sesungguhnya seluruh kebarokahan itu dari Allah Ta’ala.

وقال الحسن: تبارك صفة من صفات الله تعالى؛ لأن كل بركة تجيء منه 

Al-Hasan rahimahullah berkata, Tabaaraka adalah salah satu sifat dari Sifat Allah Ta’ala, karena setiap barokah itu berasal dari Allah. 


#KEBAROKAHAN  YANG  ADA  PADA  MAKHLUK-NYA:

Kebarokahan yang Allah berikan kepada makhluknya adalah berbagai macam bisa berkaitan dengan dzat, individualnya, apa yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan dan apa yang berkaitan dengan tempat, dan waktu.

Yang diberikan kebarokahan berupa dzat dan individual yaitu:
Allah memberikan kebarokahan kepada Rasulullah ﷺ

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:  غَزَوْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَتَلَاحَقَ بِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا عَلَى نَاضِحٍ لَنَا قَدْ أَعْيَا فَلَا يَكَادُ يَسِيرُ فَقَالَ لِي مَا لِبَعِيرِكَ قَالَ قُلْتُ عَيِيَ قَالَ فَتَخَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَزَجَرَهُ وَدَعَا لَهُ فَمَا زَالَ بَيْنَ يَدَيْ الْإِبِلِ قُدَّامَهَا يَسِيرُ فَقَالَ لِي كَيْفَ تَرَى بَعِيرَكَ قَالَ قُلْتُ بِخَيْرٍ قَدْ أَصَابَتْهُ بَرَكَتُكَ قَالَ أَفَتَبِيعُنِيهِ قَالَ فَاسْتَحْيَيْتُ وَلَمْ يَكُنْ لَنَا نَاضِحٌ غَيْرُهُ قَالَ فَقُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَبِعْنِيهِ فَبِعْتُهُ إِيَّاهُ عَلَى أَنَّ لِي فَقَارَ ظَهْرهِ حَتَّى أَبْلُغَ الْمَدِينَةَ قَالَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي عَرُوسٌ فَاسْتَأْذَنْتُهُ فَأَذِنَ لِي فَتَقَدَّمْتُ النَّاسَ إِلَى الْمَدِينَةِ حَتَّى أَتَيْتُ الْمَدِينَةَ فَلَقِيَنِي خَالِي فَسَأَلَنِي عَنْ الْبَعِيرِ فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا صَنَعْتُ فِيهِ فَلَامَنِي قَالَ وَقَدْ كَانَ رَسُولُ    اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِي حِينَ اسْتَأْذَنْتُهُ هَلْ تَزَوَّجْتَ بِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا فَقُلْتُ تَزَوَّجْتُ ثَيِّبًا فَقَالَ هَلَّا تَزَوَّجْتَ بِكْرًا تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُوُفِّيَ وَالِدِي أَوْ اسْتُشْهِدَ وَلِي أَخَوَاتٌ صِغَارٌ فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَزَوَّجَ مِثْلَهُنَّ فَلَا تُؤَدِّبُهُنَّ وَلَا تَقُومُ عَلَيْهِنَّ فَتَزَوَّجْتُ ثَيِّبًا لِتَقُومَ عَلَيْهِنَّ وَتُؤَدِّبَهُنَّ قَالَ فَلَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ غَدَوْتُ عَلَيْهِ بِالْبَعِيرِ فَأَعْطَانِي ثَمَنَهُ وَرَدَّهُ عَلَيَّ قَالَ الْمُغِيرَةُ هَذَا فِي قَضَائِنَا حَسَنٌ لَا نَرَى بِهِ بَأْسًا

dari Jabir bin 'Abdullah radhiallahu'anhuma berkata, Aku ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ lalu beliau menemuiku saat aku sedang menunggang unta milik kami yang sudah sangat lemah hampir tidak sanggup berjalan. Beliau bertanya kepadaku, "Ada apa dengan untamu?" Jabir berkata, Aku jawab, "Kelelahan." Jabir berkata, Maka Rasulullah ﷺ berbalik ke belakang lalu menuntun unta itu dan mendoakannya. Beliau terus saja berada di dekat unta hingga unta itu berjalan mendahului lalu beliau bertanya kepadaku, "Bagaimana pendapatmu tentang untamu sekarang?" Dia berkata, Aku jawab, "Bagus, dia telah mendapatkan barakah Tuan." Beliau berkata, "Apakah kamu mau menjuanya kepadaku?" Jabir berkata, "Aku malu, karena tidak ada lagi unta yang kami miliki selain itu." Jabir berkata, "Aku katakan, "Ya." Beliau berkata, "Juallah untamu kepadaku." Maka aku jual unta itu kepada beliau dengan ketentuan saya boleh tetap menungganginya sampai di Madinah. Jabir berkata, Aku katakan, "Wahai Rasulullah, aku mau nikah." Lalu aku meminta izin kepada beliau dan beliau mengizinkan aku." Lalu aku mendahului orang-orang menuju Madinah hingga ketika aku sudah sampai di Madinah aku menemui pamanku (saudara laki-laki ibu) lalu dia bertanya kepadaku tentang unta maka aku beritahu apa yang sudah aku lakukan dengan unta tersebut dan dia mencelaku." Jabir berkata, "Rasulullah ﷺ berkata kepadaku ketika aku meminta izin untuk menikah, "Kamu menikahi seorang gadis atau janda?" Aku jawab, "Aku menikahi seorang janda." Beliau berkata, "Mengapa kamu tidak menikahi gadis sehingga kau dapat bercengkerama dengannya dan diapun dapat bercengkerama dengan kamu." Aku katakan, "Wahai Rasulullah, bapakku telah meninggal dunia atau mati syahid dan aku memiliki saudara-saudara perempuan yang masih kecil-kecil dan aku khawatir bila aku menikahi gadis yang usianya sebaya dengan mereka dia tidak dapat membimbing mereka dan tidak dapat bersikap tegas terhadap mereka hingga akhirnya aku menikahi seorang janda agar dia dapat bersikap tegas dan membimbing mereka." Jabir berkata, "Setelah Rasulullah ﷺ sudah sampai di Madinah aku segera menemui beliau dengan menyerahkan unta dan beliau memberiku uang penjualan unta tersebut namun beliau juga mengembalikan unta tersebut kepadaku." Al Mughirah berkata, "Ini merupakan ketentuan kita yang baik dan kami memandangnya tidak ada masalah". (HR. Al-Bukhari no. 2967 dan Muslim no. 715)
Nabi memberikan kepada air liur kepada Ali dari sakit mata 

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَى يَدَيْهِ قَالَ فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوكُونَ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَاهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّاسُ غَدَوْا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّهُمْ يَرْجُو أَنْ يُعْطَاهَا فَقَالَ أَيْنَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالُوا يَشْتَكِي عَيْنَيْهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَأَرْسِلُوا إِلَيْهِ فَأْتُونِي بِهِ فَلَمَّا جَاءَ بَصَقَ فِي عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ فَبَرَأَ حَتَّى كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ فَأَعْطَاهُ الرَّايَةَ...

Dari Sahal bin Sa'ad radhiallahu'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Besok, sungguh aku akan menyerahkan bendera komando ini kepada seorang laki-laki yang lewat tangannya Allah memenangkan peperangan ini." (Sahal) berkata, "Maka orang-orang semalaman memperbin cangkan siapa diantara mereka yang akan diberikan kepercayaan itu." Pada pagi harinya, orang-orang telah berkumpul di hadapan Rasulullah ﷺ dan masing-masing berharap diberikan kepercayaan tersebut. Beliau berkata, "Mana 'Ali bin Abu Thalib?" Orang-orang menjawab, "Dia sedang sakit mata, wahai Rasulullah." Beliau berkata, "Datangilan dan bawa dia kemari." Tatkala 'Ali datang dengan matanya yang bengkak, Rasulullah ﷺ meludani mata Ali dan beliau mendoakannya maka seketika matanya sembuh seakan tidak ada bekas sakit sebelumnya. Akhirnya beliau menyerahkan bendera komando perang tersebut kepadanya. (HR. Al-Bukhari no. 3701 dan Muslim no. 2406)


Kedua:
Allah berikan kepada para Nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ
Sebagaimana dikatakan oleh Nabi Ibrahim:

﴿ وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌ ࣖ ١١٣ ﴾

Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishak. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. (QS. As-Shafaat: 113).

ALLAH MENJADIKAN KEBAROKAHAN DARI BERBAGAI AMALAN:
Pertama adalah: Amalan Salam

فَسَلِّمُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةًۭ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةًۭ طَيِّبَةًۭ ۚ

 
hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah. (QS. An-Nuur: 61)

Ucapan salam:

﴿ لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ ٢٨ ﴾

Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mere-ka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS. Al-Hajj: 28)


Kedua: Makah dan Al-Madinah;

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ بِالْمَدِينَةِ ضِعْفَيْ مَا جَعَلْتَ بِمَكَّةَ مِنْ الْبَرَكَةِ  

Nabi ﷺ bersabda, "Ya Allah jadikanlah Madinah seperti Makkah, yang dimana Engkau telah menjadikannya (Makkah) penuh dengan barakah." (HR. Al-Bukhari no. 1185 dan Muslim no. 1369)

Ketiga: Negeri Syam

﴿ وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ ٧١ ﴾

Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam. (QS. Al-Anbiya: 71)
Di dalam tafsir ath-Thobari disebutkan bahwa yang dimaksud itu adalah negeri Syam. (lihat Tafsir ath-Thobari 16/310).

Keempat: Al-Yaman 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا فَأَظُنُّهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

dari Ibnu Umar mengatakan, Nabi ﷺ pernah memanjatkan doa, "Ya Allah, berilah kami barakah dalam Syam kami, ya Allah, berilah kami barakah dalam Yaman kami." Para sahabat berkata, 'ya Rasulullah, dan juga dalam Nejed kami!' Rasulullah ﷺ membaca doa, "Ya Allah, berilah kami barakah dalam Syam kami, ya Allah, berilah kami barakah dalam Yaman kami." Para sahabat berkata, 'Ya Rasulullah, juga dalam Nejed kami!' dan seingatku, pada kali ketiga, beliau bersabda, "Disanalah muncul keguncangan dan fitnah, dan disanalah tanduk setan muncul." (HR. Al-Bukhari no. 7094)

ALLAH MENJADIKAN  KEBAROKAH DALAM WAKTU:
1. Bulan Ramadhan
2. Lailatul Qadar
 
Hadits yang mulia:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira kepada sahabatnya, "Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah, bulan yang mana Allah mewajibkan kepada kalian puasanya. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu jahanam ditutup, setan-setan dibelenggu, dan pada bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, maka barang siapa terhalang darinya sungguh ia telah terhalang dari kebaikan." (HR. Ahmad no. 7148, Shohihul Jami 1/72)

MACAM TABARUK DAN HUKUM-HUKUMNYA.
• Tabaruk Yang Disyariatkan 
• Tabaruk Yang Dilarang

Tabaruk Yang DIsyari’atkan ada empat syarat:
1. Ada Dalil-Dalil nash tentang kebarokahan dari yang dimintai kebarokahannya, maka tidak meminta kebarokahan kepada selain yang diberikan keberkahan.
Hal ini dibuktikan berdasarkan syari’atnya, akal sehat, dan pengalaman. Sesungguhnya jika seorang kehilangan sesuatu maka dia tidak bisa memberikannya (kepada orang lain); oleh karena itu, tidak masuk akal untuk belajar dari orang bodoh atau menerima kemurahan hati dari orang yang tidak punya apa-apa. Demikian pula, jangan mencari kebarokahan dari apa yang tidak diberikan kebarokahan.”  
2. Dalil-dalil kebolehan mencari keberkahan namun tidak semua yang  telah terbukti keberkahannya dibolehkan untuk meminta kebarokahan darinya. Telah disebutkan bahwa beberapa daerah, seperti Mekkah, Madinah, Siria, dan Yaman, diberkahi, namun mencari kebarokahan darinya tidak diperbolehkan.
Syaikh Ibrahim ar-Ruhaily hafizhahullah berkata:
“Akan tetapi, disyariatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui amal sholih, dan amal sholih itu ada pahalanya, seperti yang disebutkan dalam nash dalil. Meskipun demikian, orang yang beribadah di tempat-tempat  tersebut tidak dikatakan diberkahi  dengan termpat tersebut seperti mengatakan siapa yang beribadah di Mekkah maka ia diberkahi olehnya, dan siapa yang beribadah di Madinah maka ia diberkahi olehnya, Tapi dia diberikan kebarokahan dengan amal Sholih yang dilakukan ditempat-tempat  tersebut.

قال سماحة الشيخ محمد بن إبراهيم  رحمه الله : «فإن الذوات جعل الله فيها ما جعل من  البركة ولكن لا تصلح للتبرك بها إلا نبينا محمد ﷺ من أبعاضه كريقه، ولا يقاس على النبي غيره».

Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah, “Pada hakikatnya Allah telah menempatkan pada mereka (individu tertentu) apa yang Allah jadikan kebarokahan, namun mereka tidak layak untuk dimintai kebarokahan kecuali Nabi kita Muhammad ﷺ, dari di antara sebagiannya seperti keringatnya, dan selain Nabi ﷺ tidak ada seorang pun yang dapat dibandingkan dengannya” (lihat fatawa wa rasail Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Latif Alu Syaikh 1/103).


3. Tabaruk atas jalan syar’i, 
contohnya yaitu ka’bah itu adalah diberkahi, namun bukan termasuk tabaruk yang disyari’atkan untuk mengusap kiswahnya, batu-batunya kecuali apa yang disyari’atkan untuk dicium.

4. Hendaknya orang yang diberi keberkahan berkeyakinan bahwa memperoleh keberkahan itu berasal dari Allah dan mencari keberkahan itu hanya sekedar usaha untuk mencapainya.

GAMBARAN TABARUK YANG DISYARI’ATKAN

1. Tabaruk dengan al-Qur’an, al-Qur’an itu mubarok sebagaimana firman Allah Ta’ala:

﴿ كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ ٢٩ ﴾

Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran. (QS. Shod: 29)
Begitupula dalil dari hadits Nabi ﷺ: tentang hadits Umamah al-Bahili: 

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ
قَالَ مُعَاوِيَةُ بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ السَّحَرَةُ

"Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. Bacalah Zahrawain, yaitu surah Al-Baqarah dan Ali 'Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya. Bacalah Al-Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh keberkahan, sementara tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan dan dengan membacanya tidak akan dikuasai (dikalahkan) oleh tukang-tukang sihir." Mu'awiyah berkata, "Telah sampai (kabar) kepadaku bahwa Al Bathalah adalah tukang-tukang sihir." (HR. Muslim no. 804)

Begitu pula hadits tnetnag membaca al-Qur’an dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

"Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur'an, maka baginya satu pahala kebaikan, sementara satu pahala kebaikan itu akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali. Aku tak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf dan MIIM satu huruf." (HR. At-Tirmidzi no. 2910, dishohihkan Syaikh Al-Albani rahimahullah  di Shohih at-Tirmidzi no. 2910 dan Shohihul Jaami’ no. 2202).

Dan hadits ini menunjukkan tentang keberkahan dalam membaca al-Qur’an dan Allah lah yang akan memberikan ganjaran berlimpah  disetiap hurum dengan satu kebaikan dan dilipat gandakan kebaikan itu sampai sepuluh kali lipat semisalnya.

2. Tabaruk dengan Dzikir kepada Allah. 

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ تَبٰرَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِى الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِ ࣖ ٧٨ ﴾

Mahasuci nama Rabbmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan. (QS. Ar-Rahman : 78)

Dan dalam doa istiftah dalam Sholat: 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

(ya Allah Yang Mahasuci, segala puji untuk-Mu, keberkahan pada nama-Mu, dan Yang Mahatinggi dan Mahabesar, Tiada Tuhan selain-Mu).  (HR. Ahmad no. 11473, Ibnu Majah no. 804, An-Nasai no. 899, Shohih dan Dho’if Ibni Majah no. 806).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
‌فَإِنَّ ‌اسْمَ ‌اللَّهِ ‌مُبَارَكٌ ‌تُنَالُ ‌مَعَهُ ‌الْبَرَكَةُ

Maka sesungguhnya Nama Allah adalah Mubarok (mengandung keberkahan) maka akan didapati bersamanya kebarokahan. (Lihat Majmu’ al-Fatawa: 16: 322)

Dzikir kepada Allah itu adalah seagung-agungnya yang bisa didapat dengannya kebarokahan karena barokahnya Nama-nama Allah dan Sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu dzikir kepada Allah akan mendapatkan pahala yang sangat besar. 

Semoga bermanfaat.

Bersambung ke tulisan selanjutnya, inSya Allah.