Selasa, 03 November 2026

NIKMAT KERIDHAAN


NIKMAT KERIDHAAN 


Terjemah Khutbah Masjidil Haram 11/5/1429 H

 

Syaikh Dr. Saud bin Ibrahim asy-Syuraim حفظه الله

Ditambahkan: 17 Mei 2008 M / 13 Jumadil Ula 1429 H.



 Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah, Dzat Yang memulai penciptaan dan mengulanginya kembali, Dzat Yang Maha Melaksanakan segala sesuatu yang Dia kehendaki. Dia telah menurunkan kepada kita kitab-kitab-Nya yang terbaik dan mengutus kepada kita rasul-rasul-Nya yang paling utama. Dia telah menyempurnakan agama bagi kita dan menyempurnakan nikmat-Nya atas kita.

Aku memuji dan bersyukur kepada-Nya, memohon ampun serta bertobat kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, manusia pilihan dan kekasih-Nya. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umat, dan meninggalkan kita di atas jalan yang terang, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.

Semoga selawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga beliau yang baik lagi suci, para sahabat, para tabi'in, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat.

Amma ba'du:

Aku berwasiat kepada kalian, wahai kaum muslimin, dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah عز وجل, berusaha meraih keridaan-Nya, serta meninggalkan segala sesuatu yang mendatangkan kemurkaan-Nya. Tidaklah tersesat orang yang bertakwa kepada-Nya, dan tidaklah merugi orang yang berharap kepada-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ۝ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ﴾

"Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa." (QS. Yunus: 62–63).

Wahai sekalian manusia!

Sesungguhnya di antara perkara yang tidak diperselisihkan oleh orang-orang berakal dan tidak diabaikan oleh orang-orang yang hidup di muka bumi ini, yang memiliki mata untuk melihat dan akal untuk memahami, adalah bahwa ketenteraman dan kestabilan jiwa merupakan kebutuhan seluruh manusia.

Meskipun mereka berbeda-beda dalam menentukan standar ketenteraman tersebut dan jalan untuk mencapainya, terkadang sebagian jiwa memiliki pandangan yang sempit dalam memahami makna yang luhur ini.

Sebagian orang membatasi seluruh makna ketenteraman pada harta dan usaha mengumpulkannya. Sebagian lainnya membatasinya pada kehormatan, kedudukan, dan jabatan. Sebagian yang lain menganggap bahwa ketenteraman hanya terletak pada harta, keluarga, dan anak-anak. Ada pula yang membatasinya pada keluarga dan keturunan.

Meskipun semua perkara tersebut mempunyai tempat dalam kehidupan dunia, sesungguhnya kedudukannya bersifat relatif bagi setiap individu dan hanya sementara dalam perjalanan waktu.

Realitas yang dapat kita saksikan justru menunjukkan perkara yang berbeda.

Betapa banyak orang kaya yang tidak pernah terlepas dari penderitaan. Ia tidak menemukan makna kekayaan yang sesungguhnya di dalam hartanya. Betapa banyak orang kaya yang memiliki banyak hal, tetapi seolah-olah yang diperolehnya justru kebalikan dari apa yang diharapkannya.

Betapa banyak orang yang memiliki kehormatan dan kedudukan tinggi, tetapi tidak pernah merasakan kenikmatan keakraban, ketenteraman, dan kestabilan jiwa, baik pada waktu pagi maupun petang. Bahkan, bayangan ketenteraman itu tidak pernah tampak dalam kehidupannya.

Betapa banyak orang yang mempunyai keluarga dan anak-anak, tetapi hidupnya terus bergelimang dalam panasnya kesedihan, kecemasan, kegelisahan, kekacauan jiwa, serta ketidakpuasan terhadap keadaan yang dialaminya.

Bahkan, dalam kenyataan hidup, kita mendapati orang-orang yang sama sekali tidak memperoleh semua itu. Mereka tidak memiliki harta, kedudukan, keluarga, maupun anak. Namun, dadanya lebih lapang daripada bumi seluruhnya, kebahagiaannya lebih besar daripada penderitaan seluruh penghuninya, dan ketenteramannya jauh lebih terang dibandingkan kegelisahan serta kekacauan yang dialami orang-orang lain.

Mengapa demikian? Apakah sebabnya, wahai hamba-hamba Allah?

Sebabnya adalah karena golongan-golongan manusia tersebut berbeda-beda dalam menyikapi suatu nikmat agung yang Allah karuniakan kepada hamba-Nya yang beriman.

Suatu nikmat yang apabila masuk ke dalam hati seorang mukmin, akan menjadikan dunia terasa luas dan lapang baginya, sekalipun ia berada di dalam sebuah kamar yang luasnya hanya enam hasta.

Sebaliknya, apabila nikmat itu dicabut dari hatinya, dunia yang begitu luas akan terasa sempit baginya, sekalipun ia tinggal di dalam istana-istana dan rumah-rumah megah yang luas.

Nikmat itu adalah nikmat keridaan (ar-ridha), wahai hamba-hamba Allah.

Ya, itulah nikmat keridaan. Senjata ampuh yang mampu menumpas berbagai jurang kegelisahan besar yang menakutkan jiwa dan merampas rasa aman serta ketenteramannya, akibat lemahnya keyakinan dan iman.

Sebab, orang yang beriman akan mengetahui jalannya. Orang yang mengetahui jalannya akan merasa rida terhadap jalan tersebut dan menempuhnya dengan cara yang terbaik, agar dapat mencapai tujuan dan sampai kepada apa yang diharapkannya.

Ia tidak terlalu memedulikan berbagai rintangan yang menghadangnya, karena pandangan dan pemikirannya tertuju kepada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih suci daripada berbagai kenikmatan duniawi.

Tidak mengherankan, wahai hamba-hamba Allah, apabila orang seperti ini dapat segera mencapai kebahagiaan. Sebab, orang yang merasa sesak dan tidak memiliki kelapangan jiwa tidak akan dapat mencapai ketenteraman, dan tidak pula diharapkan akan sampai kepadanya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا»

"Telah merasakan manisnya iman orang yang rida kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul."

Beliau ﷺ juga bersabda:

«مَنْ قَالَ: رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ»

"Barang siapa mengucapkan: 'Aku rida kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul,' niscaya surga wajib baginya."

Sesungguhnya keridaan memiliki kemanisan yang melampaui segala kemanisan, dan kelezatan yang mengungguli segala kelezatan.

Keridaan mempunyai cita rasa yang dirasakan oleh jiwa, ruh, dan hati, yang jauh lebih nikmat daripada rasa manis yang dirasakan lidah ketika mengecap madu yang berulang kali.

Kedua hadis ini, wahai hamba-hamba Allah, merupakan poros kebahagiaan dan ketenteraman.

Dengan senantiasa menghadirkan makna keduanya melalui zikir dan pengamalan, jiwa akan mampu mengarungi samudra kehidupan dan menghadapi badai-badainya tanpa kesulitan dan kelelahan, betapapun berat kesukaran dan kesulitan yang ditimbulkannya.

Hal itu karena kedua hadis tersebut mencakup keridaan terhadap rububiyah dan uluhiyah Allah سبحانه وتعالى, keridaan terhadap Rasul-Nya ﷺ dan ketundukan kepada beliau, serta keridaan terhadap agama-Nya dan kepasrahan kepadanya.

Maka, sungguh pantas orang yang menghimpun ketiga landasan ini di dalam hatinya akan menjalani kehidupan dengan penuh kebahagiaan dan hidup dalam keadaan rida.

Sebab, wahai hamba-hamba Allah, ketiga landasan tersebut merupakan tujuan-tujuan yang disyariatkan, yang berlawanan dengan berbagai hal yang menyelisihinya, berupa hawa nafsu, syubhat, dan syahwat yang senantiasa menghadang manusia selama ia masih hidup.

Semua itu terus menyertai manusia dalam pergulatan dan pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, antara yang baik dan yang buruk, serta antara keridaan dan kemurkaan.

Barang siapa yang rida, maka baginya keridaan. Dan barang siapa yang murka, maka baginya kemurkaan. Rabbmu tidak pernah menzalimi seorang pun.

Wahai kaum muslimin!

Sesungguhnya umat Islam pada zaman sekarang, yang sedang bergelombang di tengah berbagai fitnah dan sebagian mereka saling terpengaruh oleh berbagai keburukan serta musibah, sangat membutuhkan untuk menyatakan keridaannya kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad ﷺ sebagai rasul.

Ya, wahai hamba-hamba Allah, umat Islam sangat membutuhkan untuk menyatakan hal tersebut dengan lisan, hati, dan seluruh anggota badannya.

Sebab, kondisi yang dialami umat Islam sekarang ini membenarkan perkataan Hasan al-Bashri رحمه الله ketika beliau ditanya:

"Dari manakah kerusakan akhlak manusia ini berasal?"

Beliau menjawab:

«مِنْ قِلَّةِ الرِّضَا عَنِ اللَّهِ»

"Karena sedikitnya keridaan terhadap Allah."

Beliau kemudian ditanya:

"Dari manakah seseorang memperoleh sedikitnya keridaan terhadap Allah?"

Beliau menjawab:

«مِنْ قِلَّةِ الْمَعْرِفَةِ بِاللَّهِ»

"Karena sedikitnya pengetahuan tentang Allah."

Tidak diragukan lagi, wahai hamba-hamba Allah, bahwa kita sering mendengar pernyataan semacam ini diucapkan oleh banyak orang.

Akan tetapi, pernyataan tersebut bukanlah akhir perjalanan dan bukan pula tujuan akhir yang hendak dicapai.

Bahkan, sesungguhnya kita sangat membutuhkan agar keridaan tersebut diwujudkan dalam kenyataan dan praktik kehidupan, sehingga menyentuh berbagai urusan kita: makanan, minuman, pakaian, ilmu, pekerjaan, pemerintahan, perekonomian, kehidupan sosial, kebudayaan, media informasi, serta seluruh aspek kehidupan lainnya.

Sesungguhnya jiwa-jiwa manusia sedang menantikan dan berbagai peristiwa tengah menyaksikan bagaimana keridaan terhadap uluhiyah Allah, Yang Mahatinggi dan Mahamulia, benar-benar terwujud dalam kehidupan.

Keridaan terhadap uluhiyah Allah mengandung makna bahwa seseorang hanya mencintai-Nya, hanya takut kepada-Nya, hanya berharap kepada-Nya, dan mengarahkan seluruh bentuk ibadah yang semestinya ditujukan kepada-Nya semata.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ۝ قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ﴾

"Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadah kurbanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (kepada Allah).

Katakanlah: Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dialah Rabb segala sesuatu?" (QS. Al-An'am: 162–164).

Demikian pula keridaan terhadap rububiyah Allah سبحانه وتعالى. Hal ini mencakup keridaan terhadap pengaturan dan ketetapan-Nya, serta keyakinan bahwa apa yang menimpa seorang hamba tidak mungkin luput darinya, dan apa yang luput darinya tidak mungkin menimpanya.

Apabila seorang hamba rida terhadap rububiyah dan uluhiyah Allah, maka Rabbnya pun akan meridainya.

Dan apabila Rabbnya telah meridainya, niscaya Allah akan menjadikannya puas, mencukupinya, menjaganya, dan memeliharanya.

Allah سبحانه وتعالى telah menyebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur'an bahwa keridaan-Nya terhadap para hamba berkaitan dengan keridaan mereka kepada-Nya.

Allah berfirman dalam beberapa ayat:

﴿رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ﴾

"Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya." (QS. At-Taubah: 100).

Wahai hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya tersebarnya keridaan terhadap agama Allah di muka bumi merupakan sebab yang diharapkan akan mendatangkan kebahagiaan bagi seluruh masyarakat muslim.

Kapan pun umat ini mengagungkan agamanya dan meridainya sebagai hukum yang adil dalam seluruh urusannya, niscaya mereka akan beruntung dan mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus.

Sesungguhnya masyarakat yang mendorong manusia untuk beragama, mengingatkan mereka akan hak Allah, dan aroma pengamalan agama begitu terasa di seluruh penjuru kehidupannya, itulah masyarakat yang benar-benar memiliki keridaan.

Masyarakat yang menyadari bahwa kebutuhan mereka terhadap agama ini sama pentingnya dengan kebutuhan mereka terhadap air dan udara.

Sebab, setiap umat yang mengabaikan urusan agamanya dan menonaktifkan penerapan firman Allah di tengah masyarakatnya, sesungguhnya sedang mengabaikan sumber kekuatan terbesarnya dan menonaktifkan sebab-sebab keberhasilannya di dunia dan akhirat.

Sungguh mengherankan!

Bagaimana mungkin ada sebagian orang yang melepaskan diri dari agama mereka, meremehkannya, menghalangi manusia dari jalan Allah, dan menghalangi orang-orang yang telah beriman dari agama tersebut, sementara mereka menghendaki agar agama ini menyimpang dari jalan yang lurus?!

Sungguh mengherankan!

Bagaimana mungkin ada sebagian orang yang menyembunyikan agamanya dan tidak menampakkannya kecuali dengan rasa malu atau ketakutan?!

Di manakah mereka dari sabda Nabi ﷺ:

«ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ»

"Ada tiga perkara, barang siapa memilikinya, niscaya ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah; dan ia membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran tersebut, sebagaimana ia membenci apabila dilemparkan ke dalam api neraka."

Alangkah agungnya umat yang percaya diri, yang rida kepada Rabbnya, agamanya, dan Rasul-Nya ﷺ, serta senantiasa mengulang-ulang dalam hati maupun terang-terangan:

"Kami rida kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad ﷺ sebagai rasul."

Sesungguhnya keguncangan, perpecahan, kehinaan, ketakutan, dan kekacauan, seluruhnya berkaitan secara positif maupun negatif dengan keridaan terhadap agama, baik dalam keberadaannya maupun ketiadaannya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾

"Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Ali Imran: 85).

Islam adalah agama yang sempurna dan sesuai untuk setiap zaman dan tempat.

Islam adalah agama kasih sayang, kelembutan, kekuatan, kejujuran, amanah, istiqamah, dan penghambaan kepada Allah.

Islam adalah agama yang kokoh dan abadi. Bangunannya tidak dapat dirusak dan fondasinya tidak dapat dihancurkan.

Agama yang tidak memiliki kekurangan dan tidak membutuhkan tambahan. Agama yang telah sempurna karena Allah sendiri yang menyempurnakannya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu." (QS. Al-Ma'idah: 3).

Semoga Allah memberkahiku dan kalian melalui Al-Qur'an yang agung. Semoga Allah memberikan manfaat kepadaku dan kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Aku telah menyampaikan apa yang perlu kusampaikan. Jika perkataanku benar, maka itu berasal dari Allah. Jika terdapat kesalahan, maka itu berasal dari diriku sendiri dan setan.

Aku memohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.

### Khutbah Kedua

Segala puji hanya milik Allah semata. Selawat dan salam semoga tercurah kepada orang yang tidak ada nabi setelahnya.

Amma ba'du:

Bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah!

Ketahuilah bahwa manisnya iman tidak akan dapat dinikmati kelezatannya dan tidak akan menyentuh relung hati seorang mukmin sampai ia rida kepada Muhammad ﷺ sebagai nabi dan rasul.

Hal itu diwujudkan dengan mengikuti beliau dan menerima secara mutlak segala wahyu yang beliau bawa.

Dengan demikian, seseorang tidak menjadikan selain petunjuk beliau sebagai pedoman dalam berhukum, tidak menjadikan selain hukum beliau sebagai ketetapan, dan sama sekali tidak meridai hukum selain hukum beliau.

Ia juga tidak boleh menyimpan sedikit pun keberatan di dalam hatinya terhadap keputusan beliau. Bahkan, ia harus menerima dan tunduk sepenuhnya terhadap keputusan beliau ﷺ, apa pun bentuk keputusannya, sekalipun bertentangan dengan keinginan jiwa dan hawa nafsunya, atau berbeda dengan pendapat siapa pun, siapa pun orangnya.

Sebab, Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih:

«كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى»

Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan?"

Beliau menjawab:

«مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى»

"Barang siapa menaatiku, niscaya ia masuk surga. Dan barang siapa mendurhakaiku, sungguh ia telah enggan (masuk surga)."

Sungguh, tidak ada yang lebih buruk dan lebih menghinakan daripada menentang sunah Rasulullah ﷺ dengan hawa nafsu dan syahwat, atau mendahulukan akal di atasnya, atau meragukan kebenarannya.

Hal semacam ini telah dilakukan oleh sejumlah besar manusia dengan berbagai cara dan tipu daya, sementara mereka tidak memperoleh petunjuk menuju jalan yang benar.

Terutama dalam sejumlah persoalan yang menjadi landasan dan prinsip-prinsip pokok syariat kaum muslimin.

Hal itu dilakukan dengan membiasakan manusia untuk menganggap mudah pengingkaran terhadap nas-nas hadis Nabi tanpa alasan syar'i yang mengharuskan mereka kembali kepada dalil dan ketentuan syariat.

Mereka berani menghadapi hadis-hadis Nabi dan menggambarkannya seolah-olah bertentangan dengan akal pada suatu kesempatan, atau tidak sesuai dengan realitas kehidupan pada kesempatan lainnya.

Bahkan, sebagian orang telah menyimpang jauh dari sunah Nabi, sampai-sampai sunah tersebut menjadi duri yang menyangkut di tenggorokan mereka.

Sungguh mengherankan!

Apabila seseorang yang tersedak oleh sesuap makanan berusaha mencari air untuk menolong dirinya, lalu kepada apakah orang yang justru tersedak oleh air itu akan mencari pertolongan?

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Semoga Allah merahmati Al-Hafizh Ibnu Hajar. Sungguh beliau telah memberikan perkataan yang sangat baik ketika berkata:

"Orang-orang yang datang setelah tiga generasi utama telah memperluas berbagai perkara yang dahulu diingkari oleh para imam dari kalangan tabi'in dan pengikut mereka.

Mereka belum merasa cukup dengan hal itu, hingga mencampurkan berbagai persoalan agama dengan perkataan para filsuf dan menjadikannya sebagai landasan pokok. Kemudian, segala riwayat yang bertentangan dengannya mereka kembalikan kepada penafsiran yang sesuai dengan landasan tersebut, meskipun penafsiran itu dipaksakan.

Kemudian mereka belum merasa cukup dengan hal itu, hingga menganggap bahwa ilmu yang mereka susun tersebut merupakan ilmu yang paling mulia dan paling layak untuk dipelajari.

Mereka bahkan menganggap orang yang tidak menggunakan istilah-istilah dan kaidah yang mereka tetapkan sebagai orang awam yang bodoh.

Maka, orang yang berbahagia adalah orang yang berpegang teguh dengan apa yang dahulu menjadi pegangan generasi salaf dan menjauhi berbagai perkara baru yang diada-adakan oleh generasi belakangan."

Selesai perkataan beliau رحمه الله.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ۝ وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِنْدِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ وَاللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا ۝ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا﴾

"Barang siapa menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh ia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling, maka Kami tidak mengutusmu sebagai pemelihara mereka.

Dan mereka mengatakan, 'Kami taat.' Namun, apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebagian dari mereka mengatur siasat pada malam hari untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari apa yang engkau katakan. Allah mencatat apa yang mereka rencanakan pada malam hari itu. Maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung.

Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur'an? Sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya." (QS. An-Nisa': 80–82).

Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bertakwalah kepada Allah!

Berselawat dan ucapkanlah salam kepada sosok yang diutus sebagai rahmat dan nikmat yang dianugerahkan kepada umat manusia, yaitu Muhammad bin Abdullah, pemilik telaga (Al-Haudh) dan pemberi syafaat.

Sungguh, Allah telah memerintahkan kalian untuk berselawat kepadanya dengan suatu perintah yang Dia mulai dengan menyebut diri-Nya sendiri, kemudian menyebut para malaikat-Nya yang senantiasa bertasbih menyucikan-Nya, lalu memerintahkan kalian, wahai orang-orang beriman.

Allah Yang Mahatinggi lagi Mahamulia berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).

### Doa Penutup

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, tambahan keberkahan, dan kebaikan kepada hamba dan Rasul-Mu, Muhammad, yang memiliki wajah paling bercahaya dan dahi yang paling bersinar.

Ya Allah, rida dan rahmatilah keempat khalifah beliau: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Rida dan rahmatilah seluruh sahabat Nabi-Mu Muhammad ﷺ, para tabi'in, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat.

Dan ridailah pula kami bersama mereka, dengan ampunan, kemurahan, kemuliaan, dan kebaikan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik.

Ya Allah, tolonglah agama-Mu, kitab-Mu, sunah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman.

Ya Allah, hilangkanlah kesedihan orang-orang muslim yang sedang dirundung kesedihan. Lapangkanlah kesulitan orang-orang yang tertimpa kesusahan. Lunasilah utang orang-orang yang berutang. Sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami dan seluruh kaum muslimin, dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, anugerahkanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.

Perbaikilah para pemimpin kami dan para pemegang urusan pemerintahan kami.

Jadikanlah kepemimpinan kami berada di tangan orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridaan-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami agar dapat melakukan perkataan dan perbuatan yang Engkau cintai dan Engkau ridai, wahai Dzat Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.

Ya Allah, perbaikilah orang-orang dekat dan para penasihatnya, wahai Dzat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.

Mahasuci Rabb kami, Rabb Yang memiliki keperkasaan, dari segala sifat yang mereka nisbatkan kepada-Nya.

Semoga keselamatan tercurah kepada para rasul.

Dan penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.



Senin, 02 November 2026

TAFSIR SURAT AL BAQARAH 207


 Tafsir Ibnu Katsir

Surah Al-Baqarah ayat 204–207

Firman Allah Ta'ala:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.”

Setelah Allah mengabarkan tentang orang-orang munafik beserta sifat-sifat mereka yang tercela, Allah kemudian menyebutkan sifat-sifat orang-orang beriman yang terpuji. Allah berfirman:

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.”

Ibnu Abbas, Anas, Sa'id bin Al-Musayyib, Abu Utsman An-Nahdi, Ikrimah, dan sejumlah ulama lainnya mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi.

Peristiwa tersebut bermula ketika Shuhaib masuk Islam di Makkah dan hendak berhijrah. Orang-orang Quraisy menghalanginya untuk membawa hartanya ketika berhijrah. Mereka berkata bahwa ia tidak boleh membawa hartanya pergi bersama dirinya.

Apabila ia ingin meninggalkan hartanya dan berhijrah tanpa membawa harta tersebut, maka mereka akan membiarkannya.

Akhirnya, Shuhaib berhasil melepaskan diri dari mereka dengan menyerahkan seluruh hartanya kepada mereka. Kemudian Allah menurunkan ayat ini berkenaan dengannya.

Ketika Shuhaib tiba di Madinah, Umar bin Al-Khaththab bersama sejumlah sahabat menyambutnya sampai di ujung kawasan Al-Harrah. Mereka berkata:

“Perdaganganmu benar-benar telah memperoleh keuntungan!”

Shuhaib menjawab:

“Begitu pula kalian, semoga Allah tidak menjadikan perdagangan kalian merugi. Memangnya ada apa?”

Mereka kemudian memberitahukan kepadanya bahwa Allah telah menurunkan ayat ini berkenaan dengannya.

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya:

«رَبِحَ الْبَيْعُ صُهَيْبُ، رَبِحَ الْبَيْعُ صُهَيْبُ»

“Perdaganganmu telah menguntungkan, wahai Shuhaib! Perdaganganmu telah menguntungkan, wahai Shuhaib!”

Riwayat Ibnu Mardawaih

Ibnu Mardawaih berkata:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Rustah, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud, telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Sulaiman Adh-Dhab'i, telah menceritakan kepada kami Auf, dari Abu Utsman An-Nahdi, dari Shuhaib, ia berkata:

“Ketika aku hendak berhijrah dari Makkah menuju Nabi ﷺ, orang-orang Quraisy berkata kepadaku:

‘Wahai Shuhaib! Engkau dahulu datang kepada kami dalam keadaan tidak memiliki harta, tetapi sekarang engkau hendak keluar meninggalkan kami dengan membawa hartamu? Demi Allah, hal itu tidak akan pernah terjadi!’

Aku pun berkata kepada mereka:

‘Bagaimana menurut kalian, jika aku menyerahkan hartaku kepada kalian, apakah kalian akan membiarkanku pergi?’

Mereka menjawab:

‘Ya.’

Maka aku menyerahkan hartaku kepada mereka. Setelah itu mereka membiarkanku pergi. Aku pun berangkat hingga akhirnya tiba di Madinah.

Berita tersebut sampai kepada Nabi ﷺ. Beliau kemudian bersabda:

«رَبِحَ صُهَيْبٌ، رَبِحَ صُهَيْبٌ»

‘Shuhaib benar-benar telah memperoleh keuntungan! Shuhaib benar-benar telah memperoleh keuntungan!’”

Beliau mengucapkannya sebanyak dua kali.

Riwayat lainnya tentang Shuhaib

Hammad bin Salamah meriwayatkan dari Ali bin Zaid, dari Sa'id bin Al-Musayyib, ia berkata:

“Shuhaib berangkat menuju Nabi ﷺ sebagai seorang muhajir. Namun, beberapa orang Quraisy mengejarnya.

Maka Shuhaib turun dari tunggangannya dan mengeluarkan seluruh anak panah yang ada di wadah anak panahnya. Kemudian ia berkata:

‘Wahai orang-orang Quraisy! Sungguh kalian telah mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling mahir memanah di antara kalian. Demi Allah, kalian tidak akan dapat mendekatiku sampai aku melepaskan seluruh anak panah yang ada di wadah anak panahku. Setelah itu aku akan menyerang kalian dengan pedangku, hingga tidak tersisa sedikit pun senjata di tanganku.

Setelah itu, lakukanlah apa pun yang kalian kehendaki!

Namun, jika kalian mau, aku akan menunjukkan kepada kalian tempat hartaku dan tempat tinggal keluargaku di Makkah, kemudian kalian membiarkan aku pergi.’

Mereka menjawab:

‘Ya.’

Ketika Shuhaib telah tiba di hadapan Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«رَبِحَ الْبَيْعُ، رَبِحَ الْبَيْعُ»

‘Perdagangan itu benar-benar telah memperoleh keuntungan! Perdagangan itu benar-benar telah memperoleh keuntungan!’

Sa'id bin Al-Musayyib berkata:

‘Dan turunlah ayat:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”’”

Pendapat mayoritas ulama tentang makna ayat

Adapun mayoritas ulama berpendapat bahwa ayat tersebut mencakup setiap orang yang berjihad di jalan Allah.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala:

﴿إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Dan demikian itulah kemenangan yang agung.”

(QS. At-Taubah: 111).

Ketika Hisyam bin Amir menerobos masuk di antara dua barisan pasukan musuh, sebagian orang mengingkari tindakannya tersebut.

Maka Umar bin Al-Khaththab, Abu Hurairah, dan sahabat-sahabat lainnya membantah mereka. Mereka membacakan ayat ini sebagai dalil:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”





 TAFSIR AL-QURTHUBI

Surah Al-Baqarah Ayat 207

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

(QS. Al-Baqarah: 207).

### 1\. Penjelasan susunan bahasa dan hubungan ayat

Kata ابْتِغَاءَ (ibtighā'a) dibaca nashab (manshub) karena berkedudukan sebagai maf'ul li ajlih (objek yang menjelaskan sebab atau tujuan suatu perbuatan).

Setelah Allah menyebutkan perbuatan orang-orang munafik, Allah kemudian menyebutkan perbuatan orang-orang mukmin.

Ada yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib.

Hal itu karena Shuhaib datang berhijrah menuju Rasulullah ﷺ. Kemudian beberapa orang Quraisy mengejarnya.

Maka Shuhaib turun dari tunggangannya, mengeluarkan seluruh anak panah yang ada di wadah anak panahnya, mengambil busurnya, lalu berkata:

“Sungguh kalian telah mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling mahir memanah di antara kalian. Demi Allah, kalian tidak akan dapat menjangkaiku sampai aku melepaskan seluruh anak panah yang ada di wadah anak panahku. Setelah itu aku akan menyerang kalian dengan pedangku, sampai tidak tersisa sedikit pun senjata di tanganku. Kemudian lakukanlah apa yang kalian kehendaki!”

Mereka berkata:

“Kami tidak akan membiarkanmu pergi meninggalkan kami dalam keadaan kaya, padahal dahulu engkau datang kepada kami dalam keadaan miskin dan tidak memiliki harta. Akan tetapi, tunjukkanlah kepada kami hartamu yang berada di Makkah, niscaya kami akan membiarkanmu pergi.”

Mereka membuat perjanjian dengannya mengenai hal tersebut. Maka Shuhaib pun melakukannya.

Ketika ia telah tiba di hadapan Rasulullah ﷺ, turunlah ayat:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.”

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

«رَبِحَ الْبَيْعُ أَبَا يَحْيَى»

“Perdaganganmu benar-benar menguntungkan, wahai Abu Yahya!”

Beliau juga membacakan ayat tersebut kepadanya.

Riwayat ini dikeluarkan oleh Razin. Riwayat ini juga dikemukakan oleh Sa'id bin Al-Musayyib rahimahullah.

### 2\. Riwayat lain mengenai pengorbanan Shuhaib Ar-Rumi

Para ahli tafsir mengatakan:

Orang-orang musyrik pernah menangkap Shuhaib dan menyiksanya.

Maka Shuhaib berkata kepada mereka:

“Sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki tua yang sudah lanjut usia. Tidak ada bedanya bagi kalian apakah aku berada bersama kalian atau bersama orang lain. Bagaimana jika kalian mengambil hartaku, tetapi membiarkan aku tetap memegang agama dan keyakinanku?”

Mereka pun menyetujui hal tersebut.

Shuhaib juga mensyaratkan kepada mereka agar menyediakan seekor tunggangan dan bekal perjalanan untuknya.

Kemudian ia berangkat menuju Madinah.

Abu Bakar, Umar radhiyallahu 'anhuma, dan beberapa orang lainnya menyambut kedatangannya.

Abu Bakar berkata kepadanya:

“Perdaganganmu benar-benar menguntungkan, wahai Abu Yahya!”

Shuhaib menjawab:

“Begitu pula perdaganganmu, semoga tidak merugi. Memangnya ada apa?”

Abu Bakar berkata:

“Allah telah menurunkan ayat berkenaan dengan dirimu,” kemudian ia membacakan ayat tersebut kepadanya.

### 3\. Pendapat Al-Hasan Al-Bashri mengenai makna ayat

Al-Hasan berkata:

“Apakah kalian mengetahui berkenaan dengan siapa ayat ini diturunkan?

Ayat ini turun berkenaan dengan seorang muslim yang bertemu dengan orang kafir, lalu orang muslim tersebut berkata kepadanya:

‘Ucapkanlah: Lā ilāha illallāh!’

Apabila engkau telah mengucapkannya, engkau akan melindungi harta dan jiwamu.”

Namun orang kafir tersebut menolak untuk mengucapkannya.

Maka orang muslim itu berkata:

“Demi Allah, sungguh aku akan mengorbankan diriku untuk Allah.”

Kemudian ia maju menghadapi orang kafir tersebut dan berperang hingga akhirnya terbunuh.

### 4\. Pendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang yang melakukan amar makruf dan nahi mungkar

Ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran.

Umar, Ali, dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum menafsirkan ayat ini berdasarkan pengertian tersebut.

Ali dan Ibnu Abbas berkata:

“Dua orang laki-laki saling berperang.”

Maksudnya, seseorang yang melakukan perubahan terhadap kemungkaran berkata kepada orang yang melakukan kerusakan:

“Bertakwalah kepada Allah!”

Namun orang yang melakukan kerusakan itu menolak nasihat tersebut. Kesombongan dan keangkuhan menguasai dirinya.

Maka orang yang mengingkari kemungkaran itu mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah dan memerangi orang tersebut. Akhirnya keduanya saling berperang.

### 5\. Kisah Umar bin Al-Khaththab ketika mendengar ayat ini

Abu Al-Khalil berkata:

Umar bin Al-Khaththab pernah mendengar seseorang membaca ayat ini.

Maka Umar berkata:

«إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ»

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita akan kembali.”

Kemudian Umar berkata:

“Seorang laki-laki telah bangkit untuk memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, tetapi ia terbunuh.”

Ada pula yang mengatakan bahwa Umar pernah mendengar Ibnu Abbas berkata:

“Dua orang laki-laki saling berperang.”

Hal itu terjadi ketika seorang pembaca sedang membaca ayat tersebut.

Umar kemudian bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai maksud perkataannya. Ibnu Abbas pun menjelaskan tafsir tersebut kepadanya.

Maka Umar berkata:

«لِلَّهِ تِلَادُكَ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ»

“Demi Allah, sungguh bagus pemahaman dan pengetahuan yang telah engkau warisi, wahai Ibnu Abbas!”

### 6\. Pendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang yang menerobos barisan musuh

Ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang yang menerobos masuk ke medan pertempuran.

Hisyam bin Amir pernah menyerang barisan musuh dalam peperangan di Konstantinopel. Ia terus berperang hingga terbunuh.

Kemudian Abu Hurairah membaca ayat:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.”

Hal yang serupa juga diriwayatkan dari Abu Ayyub.

Ada pula yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan para syuhada dalam Perang Ar-Raji'.

Qatadah berkata:

“Mereka adalah kaum Muhajirin dan kaum Anshar.”

### 7\. Pendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib

Ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.

Hal itu terjadi ketika Nabi ﷺ meminta Ali untuk tidur di tempat tidur beliau pada malam ketika Rasulullah ﷺ berangkat menuju gua.

Penjelasan mengenai peristiwa ini akan datang pembahasannya dalam Surah At-Taubah (Barā'ah), insya Allah Ta'ala.

### 8\. Pendapat bahwa ayat ini berlaku umum

Ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini berlaku umum.

Ayat ini mencakup setiap orang yang berjihad di jalan Allah, atau seseorang yang mengorbankan dirinya untuk memperoleh kesyahidan, atau orang yang melakukan perubahan terhadap kemungkaran.

Pembahasan mengenai hukum seseorang yang menerobos barisan musuh telah dijelaskan sebelumnya.

Adapun pembahasan mengenai orang yang mengubah kemungkaran, persyaratan-persyaratannya, dan hukum-hukumnya akan dibahas dalam Surah Ali Imran, insya Allah Ta'ala.

### 9\. Penjelasan makna kata يَشْرِي (yasyri)

Kata:

يَشْرِي (yasyri)

Artinya adalah menjual.

Di antaranya terdapat dalam firman Allah Ta'ala:

﴿وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ﴾

“Dan mereka menjualnya dengan harga yang murah.”

(QS. Yusuf: 20).

Maksudnya, mereka menjualnya.

Asal makna kata tersebut adalah al-istibdāl, yaitu saling mengganti atau menukarkan sesuatu.

Di antaranya juga firman Allah Ta'ala:

﴿إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ﴾

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”

(QS. At-Taubah: 111).

Seorang penyair berkata:

وَإِنْ كَانَ رَيْبُ الدَّهْرِ أَمْضَاكَ فِي الْأُولَى شَرَوْا هَذِهِ الدُّنْيَا بِجَنَّاتِهِ الْخُلْدِ

“Jika ketidakpastian zaman telah membuatmu menderita dalam kehidupan yang pertama, mereka telah menjual dunia ini demi memperoleh surga-surga yang kekal.”

Penyair lainnya berkata:

وَشَرَيْتُ بُرْدًا لَيْتَنِي مِنْ بَعْدِ بُرْدٍ كُنْتُ هَامَهْ

“Aku telah membeli seorang budak bernama Burd. Seandainya setelah Burd itu aku menjadi Hāmah.”

Kata Burd dalam syair tersebut adalah nama seorang anak laki-laki.

Penyair lainnya berkata:

يُعْطِي بِهَا ثَمَنًا فَيَمْنَعُهَا وَيَقُولُ صَاحِبُهَا أَلَا فَأَشْرِ

“Dia memberikan harga untuk barang itu, tetapi kemudian menahannya. Sementara pemilik barang tersebut berkata: ‘Tidakkah engkau mau menjualnya?’”

### 10\. Makna mengorbankan jiwa dalam ayat

Yang dimaksud dengan menjual jiwa dalam ayat ini adalah:

Mengerahkan dan mengorbankan jiwa untuk melaksanakan perintah-perintah Allah.

Adapun kata:

ابْتِغَاءَ (ibtighā'a)

Berkedudukan sebagai maf'ul li ajlih, yaitu kata yang menjelaskan tujuan atau sebab suatu perbuatan.

### 11\. Perbedaan bacaan pada kata مَرْضَاتِ

Imam Al-Kisa'i berhenti (waqaf) pada kata:

مَرْضَاتِ

dengan huruf ta' (ت).

Sedangkan para imam qiraat lainnya berhenti dengan huruf ha' (ه), sesuai bentuk penulisan dan pengucapan ketika waqaf.

Abu Ali berkata:

Imam Al-Kisa'i berhenti dengan huruf ta' karena salah satu dari dua kemungkinan:

Pertama: Mengikuti bahasa Arab dari suatu kelompok yang mengucapkan kata-kata seperti:

طَلْحَتْ وَعَلْقَمَتْ

Mereka mengucapkan huruf ta' pada akhir kata yang pada umumnya diucapkan dengan ha' ketika berhenti.

Di antaranya adalah perkataan seorang penyair:

بَلْ جَوْزُ تِيهَاءَ كَظَهْرِ الْحَجَفَتِ

“Bahkan sebuah pohon kenari di padang tandus, seperti punggung perisai.”

Kedua: Karena kata yang disandarkan (mudhaf ilaih) dalam susunan tersebut tetap dipahami sebagai bagian yang dimaksud dalam lafaz itu. Oleh sebab itu, huruf ta' dipertahankan sebagaimana ketika dibaca sambung (washal), agar diketahui bahwa kata yang disandarkan kepadanya memang dimaksudkan.

### 12\. Makna kata مَرْضَاة (mardhāt)

Kata:

الْمَرْضَاةُ

Artinya adalah keridaan.

Dikatakan:

رَضِيَ يَرْضَى رِضًا وَمَرْضَاةً

“Dia telah rida, menjadi rida, dengan keridaan.”

Dengan demikian, makna mardhātillāh adalah mencari keridaan Allah.

### 13\. Pembahasan bahasa: apakah يَشْرِي bermakna membeli?

Sebagian ahli bahasa meriwayatkan bahwa kata:

شَرَى (syarā)

juga dapat digunakan dengan makna:

اشْتَرَى (isytarā)

yaitu membeli.

Makna ini diperlukan oleh orang yang menafsirkan ayat tersebut berkenaan dengan Shuhaib.

Sebab, Shuhaib sebenarnya membeli kebebasan dirinya dengan hartanya, bukan menjual dirinya.

Akan tetapi, hal tersebut dapat dijawab dengan mengatakan:

Bahwa tawaran Shuhaib kepada orang-orang Quraisy untuk menghadapi dan memerangi mereka merupakan bentuk penjualan dirinya kepada Allah.

Dengan demikian, penggunaan lafaz tersebut tetap benar berdasarkan makna menjual.

### Catatan kaki dari naskah

(1) Dalam sebagian naskah huruf ha' terdapat bacaan: al-muttaqī.

(2) Lihat pembahasan masalah tersebut pada jilid 2, halaman 363.

(3) QS. Yusuf: 20.

(4) QS. At-Taubah: 111.

Keterangan biografi Shuhaib Ar-Rumi:

Shuhaib adalah Shuhaib bin Sinan bin Malik Ar-Rumi. Ia pernah ditawan oleh bangsa Romawi ketika masih kecil, kemudian dibawa ke Makkah dan dibeli oleh Abdullah bin Jud'an.

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ia melarikan diri dari bangsa Romawi, kemudian datang ke Makkah dan menjalin persekutuan dengan Ibnu Jud'an.

Shuhaib termasuk orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Ia mengikuti Perang Badar dan seluruh peperangan bersama Rasulullah ﷺ.

Ia wafat di Madinah pada tahun 38 H.

(Keterangan diambil dari kitab An-Nujūm Az-Zāhirah).

Keterangan istilah:

Intathala mā fī kinānatihi (انْتَثَلَ مَا فِي كِنَانَتِهِ) artinya mengeluarkan anak-anak panah yang berada di dalam wadahnya.

Al-kinānah (الْكِنَانَةُ) adalah wadah atau tempat menyimpan anak panah. Wadah tersebut dibuat dari kulit tanpa kayu, atau dari kayu tanpa kulit.

Syair pada pembahasan perbedaan bacaan:

Syair tersebut merupakan bagian akhir dari bait karya Ma'dī Karib. Bagian awalnya berbunyi:

وَخَيْلٍ قَدْ دَلَفْتُ لَهَا بِخَيْلٍ

“Dan pasukan berkuda yang telah aku hadapi dengan pasukan berkuda lainnya.”

Sumber: Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Ahkām Al-Qur'ān, jilid 3, hlm. 20–22, tafsir Surah Al-Baqarah ayat 207.

Catatan ilmiah: Al-Qurthubi menyebutkan beberapa pendapat tentang sebab turunnya ayat ini: Shuhaib Ar-Rumi, orang yang berjihad, orang yang melakukan amar makruf nahi mungkar, para syuhada, dan Ali bin Abi Thalib. Beliau juga menyebutkan pendapat bahwa ayat ini berlaku umum.

Karena itu, perlu dibedakan antara sabab an-nuzul (sebab khusus turunnya ayat) dan keumuman makna ayat. Tidak semua pendapat yang disebutkan merupakan riwayat sebab turun yang memiliki kekuatan sanad setara.

Makna umum ayat ini menunjukkan keutamaan orang yang mengorbankan kepentingan dirinya demi ketaatan kepada Allah dan mencari keridaan-Nya.






 Tafsir Ibnu Al-Jauzi

Kitab: Zādul Masīr fī ‘Ilmit Tafsīr Surah Al-Baqarah Ayat 207, hlm. 223–224

Firman Allah Ta'ala:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.”

Para ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang dimaksud dengan orang yang disebutkan dalam ayat ini. Terdapat lima pendapat:

### Pendapat pertama: Ayat ini turun berkenaan dengan amar makruf dan nahi mungkar

Ayat ini turun berkenaan dengan orang yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran.

Inilah makna pendapat Qamar dan Ali radhiyallahu 'anhuma.

### Pendapat kedua: Ayat ini turun berkenaan dengan Az-Zubair dan Al-Miqdad

Ayat ini turun berkenaan dengan Az-Zubair dan Al-Miqdad ketika keduanya pergi untuk menurunkan Khubaib dari kayu tempat ia disalib.

Kisah tersebut telah kami jelaskan sebelumnya.

Ini merupakan pendapat Ibnu Abbas dan Adh-Dhahhak.

### Pendapat ketiga: Ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib Ar-Rumi

Para ulama berbeda pendapat mengenai kisah yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.

Diriwayatkan bahwa:

“Shuhaib berangkat berhijrah menuju Nabi ﷺ. Kemudian beberapa orang Quraisy mengejarnya.

Maka Shuhaib turun dari tunggangannya, mengeluarkan seluruh anak panah dari wadah anak panahnya, lalu berkata:

‘Sungguh kalian telah mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling mahir memanah di antara kalian. Demi Allah, kalian tidak akan dapat menjangkaiku sampai aku melepaskan seluruh anak panah yang kubawa kepada kalian. Setelah itu aku akan menyerang kalian dengan pedangku sampai tidak tersisa sedikit pun senjata di tanganku.

Namun, jika kalian menghendaki, aku akan menunjukkan kepada kalian tempat hartaku.’

Mereka berkata:

‘Tunjukkanlah kepada kami tempat hartamu, niscaya kami akan membiarkanmu pergi.’

Maka Shuhaib membuat perjanjian dengan mereka mengenai hal tersebut.

Kemudian turunlah ayat ini berkenaan dengannya.

Ketika Nabi ﷺ melihatnya, beliau bersabda:

«رَبِحَ الْبَيْعُ أَبَا يَحْيَى»

‘Perdaganganmu benar-benar telah menguntungkan, wahai Abu Yahya!’

Kemudian beliau membacakan ayat Al-Qur'an kepadanya.”

Ini merupakan pendapat Sa'id bin Al-Musayyib.

Abu Shalih juga menyebutkan kisah yang serupa dari Ibnu Abbas. Ia mengatakan bahwa orang yang menyambut Shuhaib dan menyampaikan kabar gembira kepadanya mengenai ayat yang turun berkenaan dengannya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Riwayat dari Muqatil

Muqatil menyebutkan bahwa Shuhaib berkata kepada orang-orang musyrik:

“Sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki tua yang telah lanjut usia. Tidak ada kerugian bagi kalian, baik jika aku berada bersama kalian maupun berada di pihak yang memerangi kalian. Aku juga mempunyai hak atas kalian karena hubungan perlindungan dan tetangga di antara kita.

Maka ambillah hartaku, selain tungganganku, dan biarkanlah aku bersama agamaku.”

Shuhaib mensyaratkan agar dirinya tidak dihalangi untuk melaksanakan salat dan berhijrah.

Kemudian ia tinggal di sana selama waktu yang dikehendaki Allah.

Setelah itu, ia menaiki tunggangannya dan berangkat menuju Madinah untuk berhijrah.

Abu Bakar kemudian bertemu dengannya dan menyampaikan kabar gembira seraya berkata:

“Sesungguhnya ayat ini telah turun berkenaan dengan dirimu.”

Pendapat Ikrimah

Ikrimah berkata:

“Ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib dan Abu Dzar Al-Ghifari.

Adapun Shuhaib, keluarganya pernah menangkapnya, kemudian ia menebus dirinya dengan hartanya.

Sedangkan Abu Dzar, keluarganya pernah menangkapnya, tetapi ia berhasil meloloskan diri dari mereka hingga akhirnya tiba di Madinah sebagai seorang muhajir.”

### Pendapat keempat: Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah

Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.

Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Zaid, dan beberapa ulama lainnya.

### Pendapat kelima: Ayat ini turun berkenaan dengan kaum Muhajirin dan Anshar

Ayat ini turun berkenaan dengan kaum Muhajirin dan Anshar ketika mereka berperang demi membela agama Allah hingga akhirnya memperoleh kemenangan.

Ini merupakan pendapat Qatadah.

### Penjelasan makna kata يَشْرِي (Yasyri)

Kata يَشْرِي (yasyri) termasuk kata dalam bahasa Arab yang memiliki dua makna berlawanan (al-adhdād).

Kata tersebut dapat digunakan dengan makna:

* بَاعَ (bā'a): menjual.

* اشْتَرَى (isytarā): membeli.

Dengan demikian, makna kata tersebut berbeda sesuai dengan pendapat mengenai sebab turunnya ayat.

* Menurut pendapat ulama yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib, kata yasyri bermakna membeli. Sebab, Shuhaib membeli kebebasan dirinya dengan menyerahkan hartanya kepada orang-orang musyrik.

* Adapun menurut pendapat-pendapat lainnya, kata yasyri bermakna menjual, yakni mengorbankan dan menyerahkan dirinya demi mencari keridaan Allah.

Sumber: Imam Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Ibnu Al-Jauzi, Zādul Masīr fī ‘Ilmit Tafsīr, hlm. 223–224, tafsir Surah Al-Baqarah ayat 207.

### Catatan ilmiah

Dari penjelasan Ibnu Al-Jauzi ini terdapat dua pembahasan penting:

* Perbedaan sebab turunnya ayat: Beliau menghimpun lima pendapat yang berkaitan dengan Shuhaib, amar makruf nahi mungkar, penyelamatan Khubaib, jihad, serta perjuangan kaum Muhajirin dan Anshar.

* Perbedaan makna kata يَشْرِي: Kata ini dapat bermakna menjual ataupun membeli. Penentuan maknanya bergantung pada konteks penafsiran yang dipilih.

Dengan demikian, ayat ini mengandung pelajaran tentang pengorbanan jiwa, harta, dan kepentingan pribadi demi memperoleh keridaan Allah Ta'ala.






Tafsir Al-Alusi

Rūḥul Ma‘ānī fī Tafsīril Qur’ānil ‘Azhīm was-Sab‘il Matsānī

 Surah Al-Baqarah ayat 207, hlm. 96–97.

Firman Allah Ta'ala:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya.”

Maksudnya, ia menjual dirinya dengan cara mengerahkan dan mengorbankannya dalam jihad, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Adh-Dhahhak radhiyallahu ta'ala 'anhuma, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan pasukan ekspedisi Ar-Raji'.

Ada pula pendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan perintah untuk melakukan amar makruf dan nahi mungkar, sebagaimana riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dari Abu Al-Khalil.

Abu Al-Khalil berkata:

“Umar radhiyallahu ta'ala 'anhu pernah mendengar seseorang membaca ayat ini. Maka beliau mengucapkan istirja' (mengucapkan Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn), kemudian berkata:

‘Seorang laki-laki telah bangkit untuk memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, tetapi ia terbunuh.’”

### Penjelasan firman Allah: ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ

﴿ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ﴾

“Untuk mencari keridaan Allah.”

Maksudnya, untuk mencari dan memperoleh keridaan-Nya.

Kata ibtighā'a berkedudukan sebagai maf'ul li ajlih (objek yang menjelaskan tujuan atau sebab suatu perbuatan).

Adapun kata mardhāt merupakan bentuk mashdar yang dibentuk dengan tambahan huruf ta', sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Bahr. Bentuk tersebut serupa dengan kata mad‘āh (مدعاة).

Padahal, menurut kaidah asal pembentukannya, kata tersebut semestinya tidak menggunakan tambahan huruf ta' tersebut.

Kata itu ditulis dalam mushaf dengan huruf ta'.

Adapun ketika berhenti (waqaf) pada kata tersebut, terdapat dua cara pembacaan: dengan huruf ta' maupun dengan huruf ha'.

### Sebab turunnya ayat berkenaan dengan Shuhaib Ar-Rumi

Mayoritas riwayat menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib Ar-Rumi radhiyallahu ta'ala 'anhu.

Sejumlah ulama telah meriwayatkan:

“Shuhaib berangkat berhijrah menuju Nabi ﷺ. Kemudian beberapa orang musyrik mengejarnya.

Maka Shuhaib turun dari tunggangannya, mengeluarkan seluruh isi wadah anak panahnya, lalu mengambil busurnya.

Kemudian ia berkata:

‘Wahai orang-orang Quraisy! Sungguh kalian telah mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling mahir memanah di antara kalian.

Demi Allah, kalian tidak akan dapat menjangkaiku sampai aku melepaskan seluruh anak panah yang ada di dalam wadah anak panahku. Setelah itu aku akan menyerang kalian dengan pedangku hingga tidak tersisa sedikit pun senjata di tanganku. Kemudian lakukanlah apa yang kalian kehendaki!’

Mereka berkata:

‘Tunjukkanlah kepada kami rumah dan hartamu yang berada di Makkah, niscaya kami akan membiarkanmu pergi.’

Mereka membuat perjanjian dengannya bahwa apabila ia menunjukkan tempat hartanya, mereka akan membiarkannya pergi.

Maka Shuhaib pun melakukan hal tersebut.

Ketika ia telah tiba di hadapan Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«أَبَا يَحْيَى، رَبِحَ الْبَيْعُ، رَبِحَ الْبَيْعُ»

‘Wahai Abu Yahya, perdaganganmu benar-benar telah menguntungkan! Perdaganganmu benar-benar telah menguntungkan!’

Kemudian beliau membacakan ayat tersebut kepadanya.”

Berdasarkan riwayat ini, kata asy-syirā' (الشِّرَاءُ) dipahami menurut makna asalnya, yaitu membeli.

### Pendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Az-Zubair bin Al-Awwam dan Al-Miqdad

Dalam kitab Al-Kawasyi disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Az-Zubair bin Al-Awwam dan sahabatnya, Al-Miqdad bin Al-Aswad.

Hal itu terjadi ketika Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ يُنْزِلْ خُبَيْبًا عَنْ خَشَبَتِهِ فَلَهُ الْجَنَّةُ»

“Barang siapa yang bersedia menurunkan Khubaib dari kayu tempat ia disalib, maka baginya surga.”

Az-Zubair berkata:

“Aku dan sahabatku, Al-Miqdad.”

Saat itu Khubaib telah disalib oleh penduduk Makkah.

### Pendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib

Kaum Syiah Imamiyah dan sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib, semoga Allah memuliakan wajahnya.

Hal itu terjadi ketika Nabi ﷺ meminta Ali untuk menggantikan beliau tidur di tempat tidur beliau di Makkah, pada malam ketika Rasulullah ﷺ berangkat menuju gua.

Berdasarkan pendapat ini, pemaknaan kata asy-syirā' (الشِّرَاءُ) dilakukan dengan cara penafsiran yang sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, yakni tidak dipahami secara langsung dengan makna menjual, tetapi diarahkan kepada makna membeli atau menukarkan sesuatu.

### Penjelasan firman Allah: وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

﴿وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾

“Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Maksudnya, Allah Maha Penyantun kepada orang-orang beriman.

Hal itu karena Allah telah memberikan petunjuk kepada mereka menuju perkara-perkara yang mengandung keridaan-Nya.

Allah juga menjadikan kenikmatan yang kekal sebagai balasan atas amal perbuatan yang sementara dan akan terputus.

Selain itu, Allah memberikan pahala kepada mereka atas transaksi pengorbanan kepemilikan mereka, dengan memberikan balasan berupa kepemilikan-Nya.

Sumber: Al-Imam Syihabuddin Mahmud Al-Alusi, Rūḥul Ma‘ānī fī Tafsīril Qur’ānil ‘Azhīm was-Sab‘il Matsānī, hlm. 96–97, tafsir Surah Al-Baqarah ayat 207.







 Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir

Imam Muhammad ath-Thahir bin ‘Asyur 

— QS. Al-Baqarah: 207 (Jilid 2, hlm. 272–274)

Firman Allah Ta‘ala:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ ۝٢٠٧﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

### Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya

Ayat ini merupakan kebalikan dari firman Allah:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya membuatmu kagum.” (Al-Baqarah: 204).

Penyebutan golongan ini di sini kedudukannya seperti penyisipan pembahasan tambahan (istithrad), sebagai bentuk penyempurnaan pembicaraan mengenai dua golongan manusia.

Golongan yang disebutkan dalam ayat ini adalah golongan yang seluruh perbuatannya benar-benar tertuju kepada kebaikan, hingga mencapai puncaknya. Puncak kebaikan tersebut adalah ketika seseorang mempertaruhkan dirinya sendiri—padahal dirinya merupakan sesuatu yang paling berharga baginya—untuk menghadapi kebinasaan demi memperoleh sesuatu yang mendatangkan keridaan Allah Ta‘ala.

Sesungguhnya keridaan Allah Ta‘ala terhadap perbuatan manusia terwujud melalui tindakan mereka melakukan kebaikan yang telah diperintahkan-Nya kepada mereka.

### Makna kata يَشْرِي

Kata يَشْرِي bermakna menjual, sebagaimana kata يَشْتَرِي bermakna membeli. Penjelasan mengenai hal ini telah dikemukakan sebelumnya ketika membahas firman Allah Ta‘ala:

﴿وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا﴾

“Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.” (Al-Baqarah: 41).

Kata يَشْرِي dalam ayat ini digunakan secara majazi untuk menunjukkan makna pengorbanan.

Dengan demikian, maknanya adalah:

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk menghadapi kebinasaan demi mencari keridaan Allah.”

Maksudnya, ia menghadapkan dirinya kepada kebinasaan dalam rangka membela agama.

Ini merupakan tingkatan keimanan yang paling tinggi, karena jiwa manusia adalah sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya.

### Makna مَرْضَاتِ اللَّهِ

Kata مَرْضَاتِ اللَّهِ berarti keridaan Allah.

Kata tersebut merupakan bentuk masdar dari kata رَضِيَ (rida), dengan pola maf‘al. Huruf ta’ ditambahkan di dalamnya berdasarkan pemakaian bahasa yang diriwayatkan secara turun-temurun (sama‘i), sebagaimana kata الْمَدْعَاة dan الْمَسْعَاة.

### Sebab turunnya ayat

Dalam pembahasan sebab-sebab turunnya ayat ini, Sa‘id bin Al-Musayyib berkata:

“Ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib bin Sinan An-Namiri bin An-Namir bin Qasith.” (1)

Ia dijuluki Ar-Rumi karena pada masa jahiliah pernah ditawan oleh bangsa Romawi di wilayah sekitar Mosul. Kemudian ia dibeli oleh Bani Kalb sehingga menjadi budak mereka.

Di Makkah, pada masa jahiliah, ia memperoleh kekayaan. Ia termasuk orang-orang yang pertama kali masuk Islam.

Ketika Nabi ﷺ berhijrah, Shuhaib pun keluar untuk berhijrah. Beberapa orang Quraisy menyusulnya dengan maksud menangkap dan mengikatnya.

Shuhaib kemudian turun dari tunggangannya dan mengeluarkan anak-anak panah dari tempat penyimpanannya. Ia adalah seorang pemanah yang mahir.

Ia berkata kepada mereka:

“Sungguh, kalian telah mengetahui bahwa aku termasuk orang yang paling mahir memanah di antara kalian. Demi Allah, kalian tidak akan dapat menjangkaiku sebelum aku melepaskan seluruh anak panah yang ada dalam tempat penyimpananku. Setelah itu, aku akan menyerang kalian dengan pedangku selama pedang itu masih berada di tanganku.”

Mereka berkata:

“Kami tidak akan membiarkanmu pergi dari hadapan kami dalam keadaan membawa kekayaan, padahal dahulu engkau datang kepada kami sebagai orang miskin. Akan tetapi, tunjukkanlah kepada kami hartamu, maka kami akan membiarkanmu pergi.”

Mereka membuat perjanjian dengannya mengenai hal itu. Shuhaib kemudian menunjukkan kepada mereka tempat hartanya.

Ketika ia tiba di hadapan Nabi ﷺ, beliau berkata kepadanya saat melihat kedatangannya:

«رَبِحَ الْبَيْعُ أَبَا يَحْيَى»

“Perdaganganmu benar-benar menguntungkan, wahai Abu Yahya.”

Kemudian beliau membacakan ayat ini kepadanya.

Ada pula yang mengatakan bahwa orang-orang kafir Makkah menyiksa Shuhaib karena keislamannya. Lalu ia menebus dirinya dari mereka dengan hartanya dan berangkat berhijrah.

Ada pula pendapat lain selain itu.

Namun, pendapat yang lebih jelas adalah bahwa ayat ini berlaku umum. Shuhaib atau orang selainnya termasuk orang-orang pertama yang tercakup dalam kandungan ayat tersebut.

### Makna firman Allah: وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Adapun firman Allah:

﴿وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾

“Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Kalimat ini merupakan tadzyil (kalimat penutup yang menegaskan dan menyempurnakan makna sebelumnya).

Maksudnya, Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya yang saleh, yang di antara mereka terdapat orang-orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah.

Dengan demikian, sifat ra'fah (sangat penyantun) merupakan ungkapan yang menunjukkan sesuatu yang menjadi konsekuensinya, yaitu pemberian berbagai kebaikan, sebagaimana halnya sifat rahmat.

Secara lahiriah, kata sandang alif-lam pada kata الْعِبَادِ menunjukkan makna mencakup seluruhnya (istighraq). Sebab, Allah Maha Penyantun kepada seluruh hamba-Nya, meskipun mereka memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam memperoleh sifat penyantun-Nya.

Di antara mereka ada yang mendapatkan kasih sayang dan kelembutan Allah di dunia dan di akhirat, dengan tingkatan yang berbeda-beda pada keduanya, sesuai dengan tuntutan ilmu dan hikmah Allah.

Ada pula yang hanya mendapatkan kelembutan Allah di dunia, tidak di akhirat. Mereka adalah orang-orang musyrik dan kafir. Sebab, termasuk bentuk kelembutan Allah kepada mereka ialah bahwa Dia memberikan kesehatan dan rezeki kepada mereka.

Ada kemungkinan pula bahwa alif-lam dalam kata tersebut menunjukkan makna tertentu (al-‘ahd). Maksudnya, yang dimaksud adalah hamba-hamba yang termasuk golongan ini, yaitu golongan orang-orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah.

Ada kemungkinan juga bahwa alif-lam tersebut merupakan pengganti dari kata yang disandarkan kepadanya (mudhaf ilaih), sebagaimana firman Allah:

﴿فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى﴾

“Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi‘at: 41).

Kata الْعِبَادُ apabila disandarkan kepada nama Allah Yang Mahaagung, biasanya dimaksudkan untuk menunjukkan hamba-hamba-Nya yang dekat dengan-Nya.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ﴾

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak mempunyai kekuasaan atas mereka.” (Al-Hijr: 42).

### Kesesuaian penutup ayat dengan kandungan sebelumnya

Kesesuaian kalimat penutup ini dengan kalimat sebelumnya adalah bahwa orang-orang yang disebutkan dalam ayat tersebut telah mengorbankan diri mereka untuk Allah dan menjadikan diri mereka sebagai hamba-hamba-Nya. Karena itu, Allah Maha Penyantun kepada mereka, sebagaimana kelembutan seseorang terhadap hambanya.

Apabila cakupan kata مَنْ (orang yang) bersifat umum, sebagaimana yang tampak secara lahiriah, sehingga mencakup setiap orang yang mengorbankan dirinya untuk Allah, maka maknanya adalah:

“Allah Maha Penyantun kepada mereka.”

Dalam susunan kalimat ini, Allah beralih dari penggunaan kata ganti menjadi penyebutan kata yang jelas (izhhar), bukan menggunakan kata ganti (idhmar). Hal itu dimaksudkan agar kalimat penutup ini berkedudukan seperti sebuah peribahasa yang berdiri sendiri dan memiliki makna sempurna. Ini termasuk salah satu konsekuensi dari penggunaan tadzyil.

Selain itu, susunan tersebut juga menunjukkan bahwa sebab kelembutan Allah kepada mereka adalah karena mereka telah menjadikan diri mereka sebagai hamba-hamba-Nya.

Namun, apabila yang dimaksud dengan kata مَنْ adalah Shuhaib, maka maknanya:

“Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya, yang Shuhaib termasuk salah seorang di antara mereka.”

Dalam keadaan apa pun, kalimat tersebut tetap merupakan tadzyil.

Kesesuaiannya adalah bahwa Shuhaib sebelumnya pernah menjadi budak bangsa Romawi, kemudian menjadi budak suatu kelompok dari kalangan Quraisy, yaitu Bani Kalb. Mereka tidak bersikap lembut kepadanya, bahkan ia disiksa karena Allah.

Namun, ketika ia menjadi hamba Allah, Allah pun memberikan kelembutan kepadanya.

### Pelajaran adab, karakter, dan tingkatan jiwa dalam ayat

Dalam ayat ini, mulai dari firman Allah:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya membuatmu kagum dalam kehidupan dunia,” (Al-Baqarah: 204),

hingga firman-Nya:

﴿رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾

“Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya,”

terdapat sejumlah pelajaran tentang adab jiwa, tingkatan-tingkatannya, dan akhlaknya.

Pelajaran-pelajaran tersebut mengajarkan kepada kaum mukminin kewajiban untuk mencermati hakikat dan sisi batin berbagai perkara, serta tidak tertipu oleh penampilan lahiriah sebelum melakukan pengujian dan pembuktian.

Sebab, di antara manusia ada orang yang membuat orang lain tertipu oleh penampilan lahiriahnya yang baik, padahal batinnya menyimpan keburukan. Ia memperindah perkataannya dengan ungkapan yang manis, sementara di dalam dirinya tersembunyi niat buruk dan tipu daya.

Al-Ma‘arri berkata:

وَقَدْ يُخْلِفُ الْإِنْسَانُ ظَنَّ عَشِيرَةٍ وَإِنْ رَاقَ مِنْهُ مَنْظَرٌ وَرَوَاءُ

“Adakalanya seseorang menyelisihi dugaan dan penilaian kaum kerabatnya, meskipun penampilan dan parasnya tampak mengagumkan.”

Keadaan seperti ini tercakup dalam sabda Nabi ﷺ:

«إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا»

“Sesungguhnya sebagian penjelasan yang fasih benar-benar memiliki pengaruh seperti sihir.”

Hal ini mencakup salah satu dari dua makna yang terkandung dalam hadis tersebut. Hadis ini termasuk jawami‘ al-kalim, yaitu ungkapan singkat Nabi ﷺ yang mengandung makna sangat luas.

Keadaan tersebut dapat mencapai tingkat yang begitu parah sehingga seseorang sampai menjadikan Allah sebagai saksi bahwa apa yang dikatakannya adalah benar, padahal kenyataannya justru sebaliknya. Ia menyembunyikan di dalam dirinya permusuhan dan kebencian.

### Tanda-tanda yang menunjukkan keadaan batin seseorang

Tanda-tanda keadaan batin seseorang dapat diketahui melalui perilaku dan tindakan-tindakannya.

Orang yang menyukai kerusakan serta membinasakan tanaman dan keturunan bukanlah orang yang memiliki hati nurani yang baik.

Demikian pula, orang yang tidak mau mendengarkan seruan kebenaran ketika engkau mengajaknya kepada kebenaran, bahkan memperlihatkan sikap membanggakan diri dengan melakukan kezaliman, maka ia tidak akan berhenti dari kesesatannya dan tidak akan meninggalkan akhlak-akhlaknya yang tercela.

Adapun orang yang tidak segan mengorbankan dirinya untuk membela kebenaran, maka akhlaknya menunjukkan bahwa ia lebih mengutamakan kebenaran dan kebaikan daripada kebatilan dan kerusakan.

Dan barang siapa tidak memiliki sifat kasih sayang, maka Allah tidak akan menyayanginya.

### Catatan kaki

(1) Shuhaib termasuk orang-orang mukmin yang pertama kali masuk Islam. Ia masuk Islam bersama ‘Ammar bin Yasir pada hari Uhud. Ia mengikuti Perang Badar dan wafat pada tahun 37 H.

Sumber: At-Tahrir wa At-Tanwir, 2/272–274, tafsir QS. Al-Baqarah: 207.








CINTA KEPADA ALLAH DAN SEBAB-SEBAB YANG MENDATANGKANNYA


CINTA KEPADA ALLAH DAN SEBAB-SEBAB YANG MENDATANGKANNYA




Khutbah Masjid Nabawi, 24 Jumadal Ula 1434 H


Oleh: Syekh Abdul Bari bin ‘Awadh ats-Tsubaiti حفظه الله

Sumber: Alukah – Khutbah Masjid Nabawi, 24/5/1434 H




 Khutbah pertama

Segala puji bagi Allah. Segala puji bagi Allah yang menjadikan cinta kepada-Nya sebagai pencapaian yang paling mulia dan anugerah yang paling agung. Aku memuji-Nya, Mahasuci Dia, dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat makanan dan minuman.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Yang Mahasuci dari segala kekurangan dan cela.

Dialah yang menciptakan manusia dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.

Aku bersaksi bahwa junjungan dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang menyeru kepada petunjuk, cahaya, dan penyucian jiwa dari segala kekurangan.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Amma ba‘du:

Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya takwa merupakan jalan keselamatan dan keberuntungan.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Muslim."

(QS. Ali ‘Imran: 102).

### Cinta kepada Allah merupakan konsekuensi keimanan

Cinta kepada Allah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan. Tauhid tidak akan sempurna sampai sempurna pula kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya.

Cinta tidak dapat dibatasi dengan suatu definisi yang lebih jelas daripada hakikatnya sendiri, dan tidak dapat digambarkan dengan suatu sifat yang lebih terang daripada maknanya.

Tidak ada sesuatu pun yang dicintai karena zatnya dari segala sisi selain Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Dialah satu-satunya yang berhak menerima uluhiyah, penghambaan, ketundukan, kerendahan diri, dan kecintaan yang sempurna.

Kecintaan kepada Rabb, Subhanahu wa Ta‘ala, memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintai oleh hati daripada Pencipta dan Yang Mengadakan dirinya.

Dialah sesembahan, tempat ibadah, pelindung, penolong, Rabb, pengatur segala urusan, pemberi rezeki, Yang mematikan, dan Yang menghidupkan.

Maka, mencintai-Nya merupakan kenikmatan bagi jiwa, kehidupan bagi ruh, kebahagiaan bagi diri, kekuatan bagi hati, cahaya bagi akal, penyejuk mata, dan kehidupan bagi batin.

Tidak ada sesuatu yang lebih indah, lebih lezat, lebih baik, lebih membahagiakan, dan lebih menenteramkan bagi hati yang sehat, ruh yang baik, serta akal yang bersih daripada mencintai Allah, merasa tenteram dan akrab dengan-Nya, serta merindukan perjumpaan dengan-Nya.

Yahya bin Mu‘adz berkata:

"Pengampunan-Nya meliputi seluruh dosa; lalu bagaimana dengan keridaan-Nya? Keridaan-Nya meliputi segala harapan; lalu bagaimana dengan cinta-Nya? Cinta-Nya membuat akal menjadi takjub; lalu bagaimana dengan kasih sayang-Nya? Kasih sayang-Nya membuat seseorang melupakan segala sesuatu selain-Nya; lalu bagaimana dengan kelembutan-Nya?"

Semakin banyak seseorang memiliki kecintaan kepada Allah, semakin besar pula kenikmatan dan manisnya iman yang ia rasakan.

Barang siapa hatinya dipenuhi kecintaan kepada Allah, niscaya kecintaan tersebut akan mencukupkannya dari ketergantungan kepada kecintaan selain-Nya, rasa takut kepada selain-Nya, dan ketergantungan kepada selain-Nya.

Tidak ada sesuatu yang dapat mencukupi hati, menutup kekurangannya, dan mengenyangkan kebutuhannya selain kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Seandainya seseorang memperoleh segala sesuatu yang dapat memberikan kenikmatan kepadanya, ia tetap tidak akan merasa akrab dan tenteram kecuali dengan mencintai Allah Azza wa Jalla.

Apabila hati kehilangan kecintaan tersebut, rasa sakit yang dirasakannya lebih besar daripada sakitnya mata ketika kehilangan cahaya penglihatan, telinga ketika kehilangan pendengaran, hidung ketika kehilangan penciuman, dan lidah ketika kehilangan kemampuan berbicara.

Bahkan, rusaknya hati ketika kosong dari kecintaan kepada Pencipta, Yang Mengadakan, dan Sesembahan yang hak, jauh lebih besar daripada rusaknya tubuh ketika kehilangan ruh.

### Hakikat cinta kepada Allah

Hakikat cinta adalah menyerahkan seluruh dirimu kepada sesuatu yang engkau cintai, sehingga tidak tersisa sedikit pun dari dirimu untuk selainnya.

Kecintaan kepada Allah harus mendahului seluruh kecintaan lainnya dan mengalahkannya. Adapun kecintaan-kecintaan seorang hamba yang lain harus mengikuti kecintaan tersebut.

Dengan kecintaan inilah kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba dapat terwujud.

Orang-orang yang mencintai Allah memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam kadar kecintaan mereka. Hal ini karena Allah Ta‘ala menggambarkan orang-orang beriman sebagai orang yang sangat kuat cintanya kepada Allah.

Allah berfirman:

﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ﴾

"Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah."

(QS. Al-Baqarah: 165).

Penggunaan kata أَشَدُّ (lebih kuat atau sangat kuat) merupakan dalil bahwa kecintaan mereka bertingkat-tingkat, karena maknanya adalah semakin kuat dan semakin kuat lagi.

Cinta kepada Allah adalah mengutamakan segala sesuatu yang dicintai-Nya di atas diri, jiwa, dan hartamu.

Kemudian engkau menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan.

Selanjutnya, engkau menyadari kekuranganmu dalam mencintai-Nya.

Artinya, seluruh dirimu disibukkan dengan sesuatu yang dicintai-Nya, jiwamu dicurahkan untuk-Nya, hatimu terus melakukan perjalanan dalam mencari sesuatu yang dicintai-Nya, dan lisanmu senantiasa basah dengan menyebut-Nya.

Nabi kita ﷺ pernah berdoa:

«وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ»

"Aku memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu, dan kecintaan kepada amal yang dapat mendekatkan kepada kecintaan-Mu."

Apabila kecintaan semakin kuat, semakin besar, dan semakin tinggi kedudukannya dalam diri seseorang, maka kecintaan tersebut dapat mencapai tingkatan walah (kerinduan dan kecintaan yang sangat mendalam).

Walah adalah kecintaan yang sangat kuat.

Adapun ta'alluh kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala adalah kecintaan yang sangat mendalam kepada Allah dan kecintaan terhadap segala sesuatu yang datang dari sisi Allah Tabaraka wa Ta‘ala.

Kebutuhan manusia terhadap penghambaan dan ketuhanan Allah jauh lebih besar daripada kebutuhan mereka terhadap makanan.

Sebab, apabila makanan tidak tersedia, tubuh akan rusak. Sementara itu, dengan hilangnya penghambaan dan ketergantungan kepada Allah, jiwa akan mengalami kerusakan.

Seorang mukmin, apabila mengenal Rabbnya, niscaya ia akan mencintai-Nya. Apabila mencintai-Nya, ia akan bergegas menghadap kepada-Nya.

Apabila telah merasakan manisnya menghadap kepada Allah, ia tidak lagi memandang dunia dengan pandangan yang didorong oleh syahwat, dan tidak memandang akhirat dengan pandangan yang diliputi kelemahan dan kelalaian.

### Pengaruh cinta kepada Allah dalam kehidupan seorang hamba

Cinta kepada Allah mendorong seseorang untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan.

Cinta tersebut juga mendorong seorang hamba untuk mengerjakan amalan-amalan sunnah dan menjauhi perkara-perkara yang makruh.

Cinta kepada Allah memenuhi hati dengan kenikmatan dan manisnya iman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا»

"Akan merasakan manisnya iman orang yang rida Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya."

Cinta kepada Allah mengeluarkan dari hati kecintaan terhadap segala sesuatu yang dibenci Allah.

Anggota tubuh pun terdorong untuk melakukan ketaatan karena kecintaan kepada Allah. Jiwa menjadi tenang dan tenteram.

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

«... فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا»

"...Apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan."

Orang yang mencintai Allah akan mendapatkan kenikmatan cinta yang dapat membuatnya melupakan berbagai musibah. Ia tidak merasakan beratnya musibah sebagaimana yang dirasakan oleh orang lain.

Cinta kepada Allah termasuk sebab paling kuat yang membantu seseorang bersabar untuk tidak menyelisihi-Nya dan tidak melakukan kemaksiatan kepada-Nya.

Sebab, orang yang mencintai akan menaati sesuatu yang dicintainya.

Semakin kuat kekuasaan cinta di dalam hati, semakin kuat pula dorongannya untuk melakukan ketaatan dan meninggalkan penyelisihan.

Adapun kemaksiatan dan penyelisihan terhadap perintah Allah muncul karena lemahnya kecintaan dan pengaruhnya di dalam hati.

Orang yang benar-benar mencintai Allah senantiasa merasa diawasi oleh Dzat yang dicintainya. Ia menjaga hati dan seluruh anggota tubuhnya.

Kecintaan semata tidak akan menghasilkan pengaruh tersebut apabila tidak disertai dengan pengagungan dan penghormatan terhadap Dzat yang dicintai.

Apabila kecintaan disertai pengagungan dan penghormatan, maka hal itu akan melahirkan rasa malu kepada-Nya dan ketaatan.

Jika tidak demikian, kecintaan yang tidak disertai pengagungan dan penghormatan hanya akan melahirkan suatu bentuk keakraban, kelapangan, ingatan, dan kerinduan.

Oleh sebab itu, pengaruh dan konsekuensi kecintaan tersebut terkadang tidak terwujud.

Seorang hamba memeriksa hatinya, lalu mendapati bahwa ia memiliki suatu bentuk kecintaan kepada Allah. Akan tetapi, kecintaan itu tidak mendorongnya untuk meninggalkan kemaksiatan.

Penyebabnya adalah karena kecintaan tersebut tidak disertai pengagungan dan penghormatan kepada Allah.

Tidak ada sesuatu pun yang dapat memenuhi hati sebagaimana kecintaan yang disertai pengagungan dan penghormatan kepada Allah.

Kecintaan seperti itulah salah satu karunia Allah yang paling utama bagi seorang hamba, bahkan boleh jadi itulah karunia yang paling utama.

Semua itu merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Apabila kecintaan terlepas dari ketundukan dan kerendahan diri, maka kecintaan tersebut berubah menjadi sekadar pengakuan yang tidak memiliki nilai.

Inilah keadaan orang yang mengaku mencintai Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya, tidak tunduk kepada Sunnah Muhammad ﷺ, dan tidak menjadikan Sunnah tersebut sebagai pedoman dalam perkataan, perbuatan, serta ibadahnya.

Tidak mungkin seseorang benar-benar mencintai Allah dan mengaku mencintai-Nya sementara ia tidak mengikuti Rasulullah ﷺ.

Oleh karena itu, orang-orang Yahudi dan Nasrani pernah berkata sebagaimana yang Allah kisahkan dalam firman-Nya:

﴿وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ﴾

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, 'Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.'"

(QS. Al-Ma'idah: 18).

Pengakuan semata dapat diklaim oleh siapa saja.

Namun, Allah telah memutuskan perkara berbagai pengakuan tersebut dan menjelaskan mana yang benar dan mana yang palsu melalui firman-Nya:

﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾

"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

(QS. Ali ‘Imran: 31).

### Tanda-tanda kecintaan kepada Allah

Di antara tanda kecintaan kepada Allah adalah mencintai orang-orang yang menaati-Nya, memberikan loyalitas kepada para wali-Nya, memusuhi orang-orang yang melakukan kemaksiatan kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menolong para penolong agama-Nya.

Semakin kuat kecintaan seorang hamba kepada Allah di dalam hatinya, semakin kuat pula amal-amal tersebut dalam dirinya.

### Sebab-sebab yang mendatangkan kecintaan Allah

Di sini, sudah sepantasnya kita mengetahui sebab-sebab yang mendatangkan kecintaan kepada Allah.

Di antaranya adalah:

1\. Mengenal nikmat-nikmat Allah kepada para hamba-Nya.

Nikmat-nikmat Allah tidak terhitung dan tidak terhingga.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا﴾

"Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya."

(QS. An-Nahl: 18).

Allah juga berfirman:

﴿وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ﴾

"Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu."

(QS. Al-Qashash: 77).

2\. Mengenal Allah Ta‘ala melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Barang siapa mengenal Allah, niscaya ia akan mencintai-Nya.

Barang siapa mencintai Allah, niscaya ia akan menaati-Nya.

Barang siapa menaati Allah, niscaya Allah akan memuliakannya.

Barang siapa dimuliakan oleh Allah, niscaya Allah akan menempatkannya di sisi-Nya.

Dan barang siapa ditempatkan di sisi Allah, maka sungguh beruntunglah ia.

3\. Merenungkan kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang telah Allah ciptakan.

Di antara sebab terbesar yang mendatangkan kecintaan kepada Allah adalah memikirkan kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang telah Allah ciptakan berupa tanda-tanda kebesaran-Nya.

Tanda-tanda tersebut menunjukkan keagungan, kekuasaan, kemuliaan, kesempurnaan, kebesaran, kasih sayang, rahmat, dan kelembutan-Nya, serta berbagai nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Semakin kuat pengetahuan seorang hamba tentang Allah, semakin kuat pula kecintaannya kepada Allah dan kecintaannya terhadap ketaatan kepada-Nya.

4\. Berinteraksi dengan Allah secara jujur dan ikhlas serta menyelisihi hawa nafsu.

Di antara sebab yang mendatangkan kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla adalah bermuamalah dengan Allah melalui kejujuran dan keikhlasan serta menyelisihi hawa nafsu.

Sesungguhnya hal itu merupakan sebab datangnya karunia Allah kepada hamba-Nya dan sebab Allah menganugerahkan kecintaan-Nya kepada hamba tersebut.

5\. Memperbanyak zikir kepada Allah.

Di antara perkara terbesar yang dapat mendatangkan kecintaan kepada Allah adalah memperbanyak zikir kepada-Nya.

Barang siapa mencintai sesuatu, niscaya ia akan banyak menyebutnya.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

(QS. Ar-Ra‘d: 28).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al-Qur'an yang agung, dan memberikan manfaat kepada kita semua dengan ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah yang terkandung di dalamnya.

Inilah yang aku sampaikan. Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung untuk diriku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

### Khutbah kedua

Segala puji bagi Allah yang telah menolong hamba-hamba-Nya melalui doa-doa yang baik.

Aku memuji-Nya, Mahasuci Dia, dan bersyukur kepada-Nya atas berbagai kemuliaan dan karunia.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Rabb seluruh makhluk.

Aku bersaksi bahwa junjungan dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang dikuatkan dengan berbagai mukjizat.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Amma ba‘du:

Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar."

(QS. Al-Ahzab: 70–71).

### Empat macam kecintaan yang harus dibedakan

Wahai saudara-saudara kaum Muslimin, di sini terdapat empat macam kecintaan yang wajib dibedakan.

Pertama: Kecintaan kepada Allah.

Kecintaan kepada Allah saja belum cukup untuk menyelamatkan seseorang dari azab Allah dan memperoleh pahala-Nya.

Sebab, orang-orang musyrik, para penyembah salib, orang-orang Yahudi, dan selain mereka juga mencintai Allah.

Kedua: Mencintai segala sesuatu yang dicintai Allah.

Inilah kecintaan yang memasukkan seseorang ke dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekufuran.

Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling lurus dan paling kuat dalam mewujudkan kecintaan semacam ini.

Ketiga: Mencintai karena Allah dan di jalan Allah.

Kecintaan ini merupakan konsekuensi dari mencintai segala sesuatu yang dicintai Allah.

Sebab, kecintaan terhadap sesuatu yang dicintai Allah tidak akan menjadi benar dan lurus kecuali apabila kecintaan tersebut dilakukan karena Allah dan di jalan-Nya.

Keempat: Mencintai sesuatu bersama Allah.

Inilah kecintaan yang mengandung kesyirikan.

Setiap orang yang mencintai sesuatu bersama Allah, bukan karena Allah, bukan demi Allah, dan bukan dalam rangka mencintai-Nya, berarti ia telah menjadikan sesuatu tersebut sebagai tandingan bagi Allah selain-Nya.

Inilah bentuk kecintaan orang-orang musyrik.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ﴾

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah."

(QS. Al-Baqarah: 165).

### Shalawat kepada Nabi ﷺ

Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bershalawatlah kepada Rasul pembawa petunjuk.

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk melakukan hal tersebut di dalam kitab-Nya.

Allah berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

(QS. Al-Ahzab: 56).

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, istri-istri, dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada keluarga Ibrahim.

Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, istri-istri, dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

### Doa-doa khutbah

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik. Hancurkanlah musuh-musuh-Mu, musuh-musuh agama.

Ya Allah, jadikanlah negeri ini sebagai negeri yang aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri kaum Muslimin.

Ya Allah, sesungguhnya saudara-saudara kami di negeri Syam telah ditimpa berbagai musibah yang Engkau Maha Mengetahui dan Mahakuasa untuk menghilangkannya.

Ya Allah, angkatlah dari mereka bencana dan bahaya yang telah menimpa mereka.

Ya Allah, satukanlah barisan mereka dan persatukanlah kalimat mereka.

Ya Allah, jadilah Engkau sebagai penolong, pendukung, dan pelindung mereka, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, satukanlah barisan mereka dan luruskanlah bidikan mereka.

Ya Allah, tolonglah mereka dalam menghadapi musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, timpakanlah kehinaan kepada musuh-musuh mereka.

Ya Allah, timpakanlah kebinasaan kepada penguasa zalim di Syam dan para pendukungnya, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, pecah-belahlah persatuan mereka, cerai-beraikanlah kekuatan mereka, dan jadikanlah kehancuran menimpa mereka, wahai Dzat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.

Ya Allah, Dzat Yang menurunkan kitab, menggerakkan awan, dan mengalahkan pasukan-pasukan musuh, kalahkanlah musuh mereka dan tolonglah mereka, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, kalahkanlah musuh mereka di Syam dan tolonglah saudara-saudara kami di Syam dalam menghadapi musuh mereka, wahai Rabb semesta alam.

Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, sesungguhnya saudara-saudara kami di Syam ada yang tidak memiliki pakaian, maka berilah mereka pakaian.

Mereka kelaparan, maka berilah mereka makanan.

Mereka tidak beralas kaki, maka sediakanlah kendaraan bagi mereka.

Mereka dizalimi, maka berilah mereka pertolongan.

Ya Allah, sesungguhnya mereka benar-benar dizalimi, maka berilah mereka pertolongan.

Ya Allah, sesungguhnya mereka benar-benar dizalimi, maka berilah mereka pertolongan.

Ya Allah, sesungguhnya mereka benar-benar dizalimi, maka berilah mereka pertolongan.

Ya Allah, sesungguhnya mereka benar-benar dizalimi, maka berilah mereka pertolongan, wahai Dzat Yang Mahakuat, Mahaperkasa, dan Mahakuasa.

Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, kabulkanlah doa kami.

Ya Allah, kabulkanlah doa kami.

Ya Allah, kabulkanlah doa kami.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu surga dan segala perkataan serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.

Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.

Ya Allah, perbaikilah agama kami yang merupakan penjaga urusan kami.

Perbaikilah dunia kami yang di dalamnya terdapat kehidupan kami.

Perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami.

Jadikanlah kehidupan sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai waktu istirahat bagi kami dari segala keburukan, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, tolonglah kami dan janganlah Engkau menolong pihak yang memusuhi kami.

Menangkanlah kami dan janganlah Engkau memenangkan pihak yang memusuhi kami.

Aturlah urusan kami dengan baik dan janganlah Engkau menjadikan urusan kami berada di tangan pihak yang memusuhi kami.

Berilah kami petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagi kami.

Tolonglah kami dalam menghadapi orang-orang yang melampaui batas terhadap kami.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang banyak mengingat-Mu, banyak bersyukur kepada-Mu, tunduk dan khusyuk kepada-Mu, banyak merintih dalam doa kepada-Mu, serta senantiasa kembali dan bertobat kepada-Mu.

Ya Allah, terimalah tobat kami, kabulkanlah doa kami, dan bersihkanlah kedengkian serta kebencian dari dada kami, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, lapangkanlah kesedihan orang-orang Muslim yang sedang bersedih.

Hilangkanlah kesusahan orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.

Lunasilah utang orang-orang yang terlilit utang.

Sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami dan kaum Muslimin.

Ampunilah orang-orang yang telah meninggal dunia di antara kami dan kaum Muslimin, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridai.

Bimbinglah dirinya menuju kebaikan dan ketakwaan.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada seluruh pemimpin kaum Muslimin agar mereka mengamalkan Kitab-Mu dan menerapkan syariat-Mu, wahai Rabb semesta alam.

### Doa penutup dari Al-Qur'an

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾

"Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."

(QS. Al-Hasyr: 10).

Allah Ta‘ala juga berfirman:

﴿رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾

"Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi."

(QS. Al-A‘raf: 23).

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾

"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka."

(QS. Al-Baqarah: 201).

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."

(QS. An-Nahl: 90).

Maka, ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kalian.

Dan sungguh, mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya.

Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.