Dalam Anjuran untuk Beradab dengan Al-Qur'an dan Adab Membaca
Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih, Maha Agung dalam nikmat-Nya, Maha Kaya, Maha Kuat dalam kekuasaan-Nya, Maha Penyantun, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Pembalas, Yang Awal sehingga tidak ada sesuatu yang mendahului-Nya, Maha Pemberi Nikmat, yang melimpahkan keutamaan-Nya kepada seluruh makhluk-Nya, yang melimpahkan manfaat secara berkesinambungan sepanjang zaman.
Mahasuci Dia dari sekutu dan anak, serta Mahatinggi dari kebutuhan terhadap siapa pun. Dia menyucikan diri-Nya dari menyerupai sesuatu yang mungkin ada dan sesuatu yang telah ada. Dia menciptakan makhluk dengan kebijaksanaan-Nya dan membentuknya, membedakan serta mengumpulkan segala sesuatu dengan kekuasaan-Nya.
Dia menghamparkan bumi dan membentangkannya di atas air, meninggikan langit serta menyempurnakannya.
وَٱلسَّمَآءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ ٱلْمِيزَانَ
Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan,"
(QS. Ar-Rahman: 7)
Dia meninggikan dan merendahkan, memuliakan dan menghinakan, menjadikan kaya dan menjadikan miskin, membahagiakan dan mencelakakan, mengangkat dan menurunkan derajat
Dan menghidupkan dan mematikan,mengekalkan dan membinasakan,mengurangi dan menambah, menghias dan merubah.
يَسْـَٔلُهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْنٍ ﴿٢٩﴾
"Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. " (Q.S.55:29)
Dia membentangkan bumi, lalu meluaskannya dengan kekuasaan-Nya.
Dia mengalirkan sungai-sungainya dengan kebijaksanaan-Nya, serta menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya dengan berbagai warna melalui hikmah-Nya.
Siapakah yang mampu menciptakan warna-warna itu?
Dia meneguhkan gunung-gunung yang kokoh sebagai pasak-pasaknya, mengirimkan awan dengan air yang menyuburkannya, dan menentukan bahwa makhluk-Nya akan mengalami kefanaan.
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴿٢٦﴾
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa, "(Q.S.55:26)
Allah memberi nikmat kepada umat ini dengan kesempurnaan kebaikan-Nya dan memperbarui anugerah serta karunia-Nya bagi mereka.
Dia menjadikan bulan mereka sebagai bulan khusus yang dicurahkan ampunan di dalamnya.
شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ
"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia ".(Q.S.2:185)
Aku memuji-Nya atas keistimewaan yang diberikan kepada kami berupa puasa dan qiyam (shalat malam), serta aku bersyukur kepada-Nya atas tercapainya harapan dan tersebarnya nikmat.
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, Tuhan Yang Maha Kekal dan Maha Mengatur (ad-dayyān), Yang tidak dapat dijangkau oleh akal dan pemikiran. Aku bersaksi dengan kesaksian yang kuharapkan sebagai simpanan di saat keterasingan dan sebagai pelindung dari azab dan kehancuran.
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, makhluk-Nya yang paling utama, serta nabi yang paling dimuliakan dengan mukjizat-mukjizatnya, yang dengannya malam telah bersinar dengan cahaya iman.
Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat kepada beliau, kepada keluarganya, serta para sahabatnya dengan shalawat yang terus-menerus seiring berjalannya waktu, serta keselamatan yang abadi.
Allah Ta'ala berfirman:
۞ لَيْسُوا۟ سَوَآءً ۗ مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ أُمَّةٌ قَآئِمَةٌ يَتْلُونَ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ ﴿١١٣﴾
"Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat)." (QS. Āli 'Imrān: 113)
Dikatakan bahwa makna ayat ini adalah: "Tidak sama mereka dan orang-orang yang memiliki keutamaan dalam keimanan dan amal."
Allah juga berfirman:
كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ ﴿٢٩﴾
"Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran." (Q.S. Shaad :29)
Makna dari ayat ini adalah: "Yakni, mereka yang memiliki akal yang cerdas dan dapat mengambil pelajaran."
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:
"Demi Allah, bukanlah yang dimaksud dengan membaca itu hanya sekadar menyuarakan huruf-hurufnya tetapi mengabaikan batasan-batasannya, hingga salah seorang dari mereka berani berkata: 'Aku telah membaca Al-Qur’an.' Tidaklah seseorang disebut qāri' (pembaca Al-Qur’an) yang sebenarnya hingga ia juga mengamalkannya."
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya di antara seburuk-buruk manusia adalah mereka yang membaca Al-Qur’an, namun mereka tidak memahami maknanya dan tidak mengamalkannya sesuai dengan petunjuknya. Mereka itulah orang-orang yang Allah murkai dan Allah tidak akan menolong mereka."
Ketahuilah bahwa membaca Al-Qur’an memiliki keutamaan yang besar. Yang dituntut dari pembaca adalah tadabbur (merenungkan maknanya) serta mengamalkan adab dan tujuan membaca Al-Qur’an.
Aku akan menyebutkan beberapa adab membaca Al-Qur’an, insyaAllah Ta'ala.
Di antara hal yang diperintahkan adalah:
ikhlas dalam membaca Al-Qur’an, yaitu membacanya demi mencari ridha Allah semata, tanpa mengharapkan tujuan lain.
Selain itu, ia harus memperlakukan Al-Qur’an dengan adab yang baik, membaca dalam keadaan suci (thaharah), serta tidak membaca Al-Qur’an ketika sedang disibukkan oleh kesibukan duniawi.
Jika seseorang ingin membaca Al-Qur’an, hendaknya ia bersiwak (membersihkan giginya) serta membersihkan mulutnya. Tidak disukai membaca Al-Qur’an dalam keadaan mulut najis, seperti setelah makan sesuatu yang berbau tidak sedap.
Ketika membaca, hendaknya ia menghadirkan dalam hatinya bahwa ia sedang bermunajat kepada Allah Ta’ala dengan firman-Nya. Seakan-akan ia berada dalam keadaan melihat Allah, dan jika belum mampu mencapai perasaan tersebut, maka hendaknya ia meyakini bahwa Allah sedang melihatnya.
Kemudian, ia berlindung kepada Allah dari gangguan setan yang terkutuk, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
"Apabila kamu membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk" (QS. An-Nahl: 98).
Karena iblis sangat berambisi mengalihkan perhatian seorang hamba saat membaca Al-Qur’an dan membuatnya lupa akan tujuan membaca, yaitu untuk merenungkan dan memahami firman Allah, serta mengenal apa yang dikehendaki oleh Allah melalui wahyu-Nya.
Oleh karena itu, terkadang seorang pembaca keliru dalam bacaannya, lupa terhadap makna yang dibacanya, atau pikirannya menjadi kacau saat membaca Al-Qur’an.
Maka ini adalah kebiasaan si terkutuk (setan), ia berusaha menghalangi manusia ketika mereka berniat melakukan kebaikan agar berpaling darinya.
Maka apabila seorang hamba mengucapkan:
A‘ūdhu billāhi as-samī‘ al-‘alīm min asy-syaithān ar-rajīm
(Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk),
setan pun akan terlempar dari hati hamba tersebut, karena ia telah berlindung kepada Tuannya, dan tidak ada tempat bagi setan di sisinya.
Dengan berlindung kepada Allah, ia menjadi aman dan terlindungi. Saat itu, setan pun lari dalam keadaan terhina, kecil, dan rendah.
Dan ketahuilah bahwa malaikat Ar-Rahman mendekat kepada pembaca Al-Qur’an, mendengarkan bacaannya, dan menghayatinya dengan tartil (bacaan yang baik dan perlahan).
Jika suaranya tidak mengganggu orang lain, ia boleh membacanya dengan suara keras ataupun pelan sesuai keinginannya. Kemudian, jika keadaannya penuh dengan kekhusyukan, tadabbur (merenungi makna), dan ketundukan, maka inilah yang dimaksud dan diharapkan.
Dengan ini, dada menjadi lapang, hati menjadi hidup, dan pengaruhnya lebih mendalam daripada sekadar membaca terburu-buru.
Telah terjadi pada sekelompok salaf, di mana salah seorang dari mereka membaca satu ayat dan mengulanginya, lalu ia menghidupkan malam dengan ayat itu sepenuhnya atau sebagian besar malamnya, dan menghidupkannya.
Dan mereka membangunkan anggota keluarga mereka ketika membaca Al-Qur'an. Sekelompok dari kalangan salaf yang saleh meninggal dunia dalam keadaan membaca Al-Qur'an.
Menangis saat membaca Al-Qur'an adalah sesuatu yang dianjurkan. Jika tidak mampu menangis, maka hendaknya dibuat-buat menangis, karena membaca dengan tangisan adalah sifat orang-orang yang arif.
Pemilik kitab Al-Ma'arif wa Al-Lata'if, Ibrahim Al-Khawwash, berkata:
Obat hati ada lima:
membaca Al-Qur'an dengan tadabbur, mengosongkan perut, shalat malam, merendahkan diri di waktu sahur, dan duduk bersama orang-orang saleh.
Membaca Al-Qur'an dari mushaf lebih utama daripada membaca dari hafalan, sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Dan ini adalah sesuatu yang terkenal dari kalangan salaf, karena lebih dapat menghimpun perhatian dan lebih kuat dalam menghadirkan pemahaman ketika melihat dan merenungkan ayat-ayat.
Sebagian orang bisa mengalami kondisi sebaliknya. Sebagian orang merasa lebih baik membaca dengan hafalan jika tidak menyebabkan kantuk atau kemalasan, karena mereka lebih fokus dan hatinya lebih terkonsentrasi pada Allah serta lebih terjaga dari kantuk. Membaca dengan hafalan juga lebih mendorong aktivitas.
Ketahuilah bahwa waktu-waktu yang memiliki keutamaan harus dimanfaatkan dengan baik, seperti bulan ini (Ramadan).
Imam Syafi'i biasa mengkhatamkan Al-Qur'an setiap bulan sebanyak tiga puluh kali, dan di bulan Ramadan beliau mengkhatamkannya sebanyak enam puluh kali, selain dari yang beliau baca dalam salat.
Sebagian dari mereka mengkhatamkan Al-Qur'an setiap hari dan malam sekali khataman.
Sebagian lainnya mengkhatamkannya tiga kali dalam sehari semalam.
Ada juga yang mengkhatamkan delapan kali dalam sehari semalam: empat kali di malam hari dan empat kali di siang hari.
Di antara mereka adalah Ibnu Katib As-Sufi rahimahullah.
An Nawawy berkata: 'Ini adalah jumlah yang paling banyak yang sampai kepada kami dalam sehari semalam.'
Manshur bin Za’dan mengkhatamkan Al-Qur'an antara Zuhur dan Asar, dan mengkhatamkannya lagi antara Magrib dan Isya di bulan Ramadan."
Inilah keadaan para salaf (pendahulu yang saleh). Barang siapa memiliki tekad dan semangat, hendaklah ia meneladani mereka.
Namun, banyaknya membaca (Al-Qur'an) tanpa tadabbur (perenungan), serta membacanya dengan nada dan irama yang menyerupai nyanyian, bisa jadi termasuk sesuatu yang haram. Sebab, membaca (Al-Qur'an) seharusnya tidak dilakukan secara sembarangan, tanpa perenungan dan tanpa pemahaman yang benar.
Maka, membaca Al-Qur'an memiliki adab-adabnya.
Barang siapa yang beramal baik, maka itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa berbuat buruk, maka akibatnya akan menimpa dirinya juga. Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.
Dalam Syair dikatakan;
Maka sungguh berbuatlah sesuai yang engkau kehendaki
Besok engkau akan menuai hasil dari apa yang engkau tanam,
dan engkau akan memasuki api neraka yang panas membakar,
dan engkau telah mengusir agama dari hatimu,
serta engkau telah menyiapkan bagi dirimu tempat di neraka Jahanam.
Maka engkau telah menggali sendiri jurang kebinasaan,
dan engkau telah menebarkan jalan kehancuran,
hingga engkau menggapai puncak kecelakaan.
Maka, carilah ampunan dengan penuh ketundukan,
dan dekatilah gunung penyesalan, meskipun jalannya sulit,
dan berusahalah untuk sampai ke puncaknya,
seraya berkata:
"Ya Ilaha al-‘Arsy, bimbinglah aku kepada jalan petunjuk-Mu!"
Maka janganlah sampai engkau kehilangan jalan hidayah.
Ketahuilah bahwa yang mendekatkanmu kepada kebaikan adalah takwa,
dan sesungguhnya keselamatan ada dalam ampunan dan rahmat-Nya.
Maka perhatikanlah bagaimana kebiasaanmu dalam ibadah,
dan bagaimana kebiasaanmu dalam membaca (Al-Qur’an).
Jauhilah kebiasaan yang buruk,
dan tinggalkanlah kebatilan serta kedustaan.
Karena sesungguhnya tanda-tanda kebenaran ada dalam kitab-Nya,
dan ia adalah cahaya yang terang,
dan ia adalah petunjuk yang nyata.
Namun kini, Al-Qur’an telah menjadi sekadar bacaan di antara berbagai bacaan lain,
dan telah menjauh dari hati yang dipenuhi maksiat dan dosa.
Maka manusia sibuk dengan urusan dunia,
dan tenggelam dalam perbincangan sia-sia,
serta melupakan tujuan sejatinya."
Perkataan dan pendengaran telah berpaling menuju yang rendah dan hina, sementara niat telah berputar dalam mengumpulkan tulang-belulang.
Hati telah dikuasai oleh kekerasan yang berasal dari makanan yang haram. Mata dilepaskan untuk memandang setiap yang diharamkan. Hampir tidak berlalu satu bulan tanpa adanya perbuatan keji yang terkenal di sisi kami. Seolah-olah kami tidak pernah mendengar firman Allah, Raja yang Maha Mulia:
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?" (Al-Hadid: 16).
Tidak lagi terlihat sesuatu yang memberikan peringatan kepada pelaku dosa dan kesalahan.
Bertambah banyak sikap kasar, dengki, kebencian, iri hati, kebohongan, dan perbuatan tercela. Setiap waktu dan masa berlalu dalam keburukan.
Kekhusyukan dalam shalat telah menjadi sesuatu yang asing. Hati telah lenyap, sementara jasad masih hadir.
Kebaikan telah menjadi sesuatu yang mungkar, dan kemungkaran telah menjadi sesuatu yang makruf.
Bid’ah merajalela, hak-hak telah hilang akibat perbuatan kikir, bumi telah terbelah, langit telah menumpahkan kegelapan, dan kerusakan telah tampak di daratan dan lautan akibat kezaliman para pendosa.
Keberkahan semakin berkurang, kebajikan semakin sedikit, binatang liar pun semakin terganggu, kehidupan menjadi semakin gelap oleh kezaliman.
Cahaya siang menangis, kegelapan malam berduka karena perbuatan keji dan tindakan buruk.
Para malaikat yang mulia mengadu kepada Tuhan mereka karena banyaknya perbuatan keji dan tindakan kezaliman yang merajalela.
Ini semua adalah peringatan dari Allah berupa azab yang mendekat. Malam telah menyelimuti kegelapan. Maka, janganlah kalian terhalang dari jalan keselamatan.
Pintu taubat masih terbuka, dan jalannya masih lapang. Waktu terus berlalu, kehidupan terus melaju, dan kesuksesan bergantung pada usaha.
"Sungguh beruntung orang-orang yang bertaubat dan memperbaiki diri, karena sesungguhnya Kami Maha Pengampun." (Al-Baqarah: 160).
Fasal ;
Allah Ta’ala berfirman:
عَٰلِيَهُمْ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ ۖ وَحُلُّوٓا۟ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٍ وَسَقَىٰهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا ﴿٢١﴾
"Mereka berpakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan memakai gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (dan suci)." (Q.S.76:21)
Dari Ibnu Umar, ia berkata: Ada seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepada kami tentang pakaian ahli surga, apakah mereka ditenun ataukah tidak?” Maka para sahabat tertawa, kemudian beliau bertanya, ada apa kalian tertawa? Para sahabat menjawab; “Seorang laki-laki yang tidak berpengetahuan bertanya kepada orang berilmu.” Kemudian beliau bersabda: “Pakaian mereka muncul dari buah surga.” (Diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi dan ia berkata: Hadis ini hasan gharib).
Diriwayatkan dari Murtsitz bin Abdullah, ia berkata: “Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon yang menghasilkan sutera halus, maka dengan itu di peruntukkan kepada para penghuni surga.”
Berkata Ka'ab Al Akhbaar Radhiyallahu anhu: “Sesungguhnya Allah menciptakan para malaikat sejak hari penciptaan surga hingga Hari Kiamat, tugasnya adalah mengukir perhiasan ahli surga. Jika sekiranya perhiasan tersebut di nampakkan kepada penduduk bumi, niscaya cahaya nya akan menutup sinar matahari di bumi, maka janganlah kalian bertanya tentang keindahan perhiasan ahli surga.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya.)
Dan berkata Syamsuddin Ibnu al-Qayyim, "Di antara pakaian mereka adalah jubah sutra." Kemudian dia mengutip hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi. Dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang membaca Al-Qur'an dan berdiri dengannya pada waktu malam dan pada siang harinya dia menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, maka Allah akan mencampurkan Al-Qur'an dengan daging dan darahnya, serta menjadikannya bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Dan ketika datang hari kiamat, Al-Qur'an akan menjadi pembelanya. Ia berkata: 'Wahai Tuhanku...'
Setiap orang yang beramal di dunia, ia akan mengambil balasannya dari amalnya di dunia, kecuali si fulan ini. Dia dahulu bangun di malam hari dan pada waktu siang hari ia menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Maka berikanlah ia, wahai Tuhanku."
Lalu Allah pun memberinya, dan pertama kali yang diberikan kepadanya adalah mahkota kerajaan, kemudian ia diberi pakaian dari jubah kemuliaan, lalu dikatakan kepadanya: "Apakah engkau ridha?" Ia menjawab: "Wahai Tuhanku, aku ingin lebih baik dari ini."
Maka Allah memberikan kepadanya kerajaan di tangan kanannya dan keabadian di tangan kirinya. Kemudian dikatakan kepadanya: "Apakah engkau ridha?" Ia menjawab: "Ya, wahai Tuhanku."
Dalam hadits Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi ﷺ:
"Al-Qur'an akan muncul pada Hari Kiamat dalam bentuk seorang laki-laki. Lalu ia mendatangi orang yang membawanya, tetapi orang itu telah melanggar perintahnya. Maka Al-Qur'an menjelma sebagai lawannya (musuhnya) dan berkata: 'Wahai Tuhanku! Orang yang membawaku telah melanggar batasan-Mu, mengabaikan kewajiban-Mu, dan meninggalkan ketaatan kepada-Mu.'
Al-Qur'an terus mendakwanya hingga ia memberikan alasan. Maka dikatakan kepadanya: 'Jauhilah dia!' Lalu ia mengambil tangannya dan tidak meninggalkannya sampai ia melemparkannya ke dalam neraka."
Puasa dan Al-Qur'an akan memberi syafaat bagi siapa yang mengamalkannya. Sedangkan bagi yang memiliki Al-Qur'an (membacanya) tetapi tidak mengamalkannya di siang hari dan tidak bangun untuknya di malam hari, maka Al-Qur'an akan menjadi lawannya dan menuntutnya atas haknya yang disia-siakan, sebagaimana telah tetap dalam hadits."
"Wahai orang yang menyia-nyiakan umurnya dalam ketidaktaatan! Wahai orang yang menyia-nyiakan bulan (Ramadhan), bahkan seluruh hidupnya! Wahai orang yang membuang waktunya dengan menunda-nunda (amal kebaikan), menyia-nyiakan (kesempatan), dan membuang umur dalam kesia-siaan! Wahai orang yang menjadikan Al-Qur'an dan bulan Ramadhan sebagai lawannya! Bagaimana engkau bisa mengharapkan syafaat dari sesuatu yang telah engkau jadikan sebagai musuhmu?
Betapa banyak orang yang puasa, namun bagian yang mereka peroleh dari puasanya hanyalah lapar dan haus! Betapa banyak orang yang menghidupkan malamnya dengan shalat, namun bagian yang mereka peroleh dari shalatnya hanyalah rasa letih! Setiap ibadah yang tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak akan menambah bagi pelakunya kecuali semakin jauh (dari Allah). Dan setiap puasa yang tidak menjauhkan dari perkataan dusta serta perbuatan yang sia-sia, maka ia tidak akan memberikan manfaat bagi pelakunya kecuali rasa lapar dan dahaga semata."**
"Wahai kaum, di manakah jejak puasa?
Di manakah cahaya-cahaya shalat malam?"
Inilah, wahai hamba Allah, bulan Ramadhan—bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, bulan yang penuh keberkahan bagi orang-orang yang berpuasa.
Kitab Allah dibacakan kepada kalian, tetapi hati kalian tidak tunduk, mata kalian tidak menangis, dan tidak ada puasa yang menghalangi dari hal-hal yang haram, tidak ada shalat malam yang membuat seseorang teguh. Bagaimana seseorang bisa berharap hatinya akan lembut, padahal ia hanya membebani dirinya dengan hawa nafsunya, yang kegelapan dosa-dosa menutupinya hingga tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat?
Berapa banyak ayat Al-Qur'an yang telah kita baca, tetapi hati kita tetap keras seperti batu atau bahkan lebih keras? Berapa banyak bulan Ramadhan yang telah berlalu atas kita, tetapi keadaan kita tetap seperti para orang yang lalai?
Anak muda tidak menahan diri dari kesia-siaan, orang tua tidak berhenti dari keburukan, dan orang alim tidak bertindak dengan kejujuran. Dimanakah kita dibandingkan dengan kaum yang ketika mereka mendengar seruan Allah, mereka segera menjawabnya?
Ketika ayat-ayat Allah dibacakan kepada mereka, hati mereka menjadi lembut, jika mereka berpuasa, lidah, pendengaran, dan penglihatan mereka juga ikut berpuasa. Tetapi, betapa jauhnya keadaan kita dari mereka!
Berapa banyak perbuatan kita yang menghapus keikhlasan dan kebajikan kita? Setiap kali amal kita menjadi baik, harta kita yang buruk merusaknya. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Dikatakan dalam syair:
"Wahai jiwa, yang bahagia dengan kesalihan dan takwa
orang yang berjalan di jalan kebajikan, mereka telah melihat kebenaran."
Wahai orang yang telah indah di waktu gelap nya,
Dan malam mereka bercahaya dengan cahaya bintang-bintang.
Mereka bersenang-senang dengan berzikir di hati mereka,
Maka bagi mereka dzikrullah telah menjadi lezat.
Air mata mereka menetes, seakan-akan mereka adalah mutiara yang berserakan.
Dan hatimu, wahai diri, janganlah lalai,
Sebelum kau jatuh ke dalam kehancuran.
Nasib zaman berada di antara keberuntungan dan kejatuhan,
Maka sadarlah sebelum yang akan datang menyusul dan membuatmu menyesal.
Ya Allah, wahai Dzat yang membuka pintu bagi orang-orang yang meminta,
Tampakkanlah kekayaan-Mu kepada orang-orang yang berharap,
Dan lancarkanlah lisan orang-orang yang memohon.
Kami memohon kepada-Mu agar Engkau bersikap lembut kepada kami dalam segala ketentuan-Mu,
Dan selamatkan kami dari cobaan-Mu,
Serta berilah kami kehidupan yang baik untuk menghadap kepada-Mu.
Ya Allah, bangunkanlah kami dari tidur kelalaian,
Teguhkanlah kami untuk bertaubat sebelum ajal tiba,
Anugerahkanlah kepada kami keberuntungan di dunia ini,
Dan berilah kami waktu yang cukup untuk memperbaiki diri.
Ya Allah, teguhkanlah kami pada apa yang Engkau ridhai, baik dalam perkataan maupun perbuatan,
Sucikanlah kami dari keraguan, kemalasan, dan kehinaan,
Selamatkanlah kami pada hari ketakutan dan penyesalan,
Lindungilah kami dari kedahsyatan hari kiamat.
Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal,
Dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar