Tentang Qiyam al-Lail
Segala puji bagi Allah yang Maha Esa dalam keagungan-Nya, yang Maha Suci dari persekutuan dan kefanaan, yang Maha Mengetahui segala sesuatu, yang tidak diawali oleh permulaan dan tidak diakhiri oleh kesudahan, yang Maha Mendengar sehingga tidak tersembunyi bagi-Nya suara-suara yang beragam di berbagai bahasa, yang Maha Melihat sehingga dapat melihat langkah semut di malam yang gelap, yang Maha Mengetahui sehingga tidak ada satu atom pun yang luput dari-Nya, baik di bumi maupun di langit, yang Maha Penyantun sehingga kemurahan-Nya mencurahkan penutup dan perlindungan yang indah bagi hamba-Nya, yang Maha Memberi Nikmat sehingga karunia-Nya menyelimuti segala sesuatu, yang Maha Bijaksana sehingga meninggikan bintang-bintang di ketinggian langit dan menggantungkan bumi di udara serta menjadikan air sebagai dasar yang mengalir di seluruh alam, yang Maha Suci dari segala sekutu, teman, anak, dan pasangan, yang Maha Mengetahui sehingga tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya dalam setiap waktu dan keadaan, serta tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya di bumi maupun di langit.
Syair:
Maha Suci Tuhan yang meliputi segala sesuatu,
Maha Suci Tuhan yang tak tertutupi oleh apa pun dan tak terhalang.
Yang mengetahui segala rahasia, walaupun samar, tetap Ia memaafkan,
Di depan pintu-Nya ada hijab, tetapi...
Ia memiliki masjid yang dipenuhi oleh orang-orang yang menangis,
Mereka bersimpuh memohon perlindungan dari api neraka.
Ia mengampuni keburukan perbuatan di hari pembalasan,
Dialah yang di belakang tabir-Nya terdapat suara doa.
Wahai orang yang lalai, bangunlah dan bergegaslah!
Ambillah bagian dari karunia-Nya dengan limpahan anugerah. Maha Suci Dia yang menentukan zaman dan membedakan musim, yang menenggelamkan akal dan pikiran dalam lautan pengetahuan tentang-Nya, dan menyucikan hati dari segala prasangka agar mencapai makrifat yang benar.
Allah telah mengkhususkan bulan Ramadan dengan ampunan, ridha, dan penerimaan. Dia menjanjikan bahwa puasa di bulan ini akan mencapai tujuan yang diharapkan. Maka beruntunglah orang yang menyambutnya dengan amal saleh, menyucikan anggota tubuh dari keraguan dan keburukan hati.
Maka, wahai orang yang lalai, tinggalkan kelalaian!
Segeralah selagi masih ada waktu sebelum perjalanan umur berakhir. Bulan telah berlalu, maka bangkitlah, wahai orang yang berakal! Ingatlah Tuhan yang tidak akan meninggalkanmu.
Letakkan pipimu di pintu harapan, karena engkau di malam hari tidak berbeda dengan orang yang malas. Bersungguh-sungguhlah dalam puasa bulan ini, mudah-mudahan engkau meraih penerimaan dari Allah. Ikutilah jalan yang benar, dan kobarkan semangatmu dengan petunjuk Rasul. Semoga shalawat senantiasa tercurah kepada Rasul yang terpilih, selama bintang-bintang masih beredar antara timur dan barat.
Segala puji bagi Allah yang telah memilih suatu kaum dengan kelembutan-Nya, dan menyibukkan mereka dengan kecintaan-Nya. Maka ketika mereka mengetahui kehinaan kesibukan dengan selain-Nya, mereka berpuasa dari syahwat, menjauhi kelezatan, serta menjaga maksud dan amal mereka. Mereka membiasakan diri dengan puasa, menegakkannya dalam aturan yang telah ditentukan, dan bangun di malam-malam yang panjang. Mereka mendengar dalam hadits shahih bahwa puasa adalah perisai dari keburukan perbuatan dan kehinaan akhlak.
Maka beruntunglah orang yang diterima amalnya dalam bulan ini, dan sungguh celaka orang yang di bulan ini masih melakukan dosa dan kesia-siaan. Ia tidak menjaga puasanya dari hal-hal yang haram, serta tidak menjaga lisannya dari ucapan yang sia-sia. Dengarkanlah apa yang dikatakan oleh Sya’ban kepada Ramadhan, seakan-akan ia berbicara: "Wahai bulan yang penuh kesungguhan dan ketakwaan, apakah engkau tidak malu kepada-Ku? Engkau datang dengan penuh kesungguhan sementara Aku dilalaikan dengan berbagai kebatilan." Wahai bulan yang penuh keberkahan, di manakah engkau dari bulan yang di dalamnya banyaknya keburukan?
Apa yang ada padamu yang menjadikanmu tentram, dan apa yang ada pada selainmu yang menjadikanmu resah? Apa yang memperbaiki dirimu, wahai sahabat? Hanya sekadar perkataan dan ucapan belaka? Tidakkah engkau merenungkan perjalanan dalam puasa, tidak takut dari tidur yang melalaikan? Maka, berjihadlah di malam hari dan beramal di siang hari. Tetaplah berada di jalan ini dengan istiqamah, sempurnakan puasamu dengan penuh keridhaan, agar Allah meridhaimu dan memperbaiki keadaanmu."
Maha Suci Allah yang membangunkan hamba-hamba-Nya yang tertidur, menyadarkan mereka dari kelalaian yang berkepanjangan, dan mengarahkan mereka kepada kemuliaan ibadah.
Mereka berlomba-lomba dalam menggapai ridha-Nya ketika orang lain sibuk dengan urusan dunia. Mereka berdagang dengan Tuhan mereka dan meninggalkan perniagaan dengan makhluk ketika datang waktu pertimbangan.
Jika mereka diberi ujian, mereka menilainya sebagai bentuk karunia-Nya. Jika mereka diberi nikmat, mereka menyadari bahwa keuntungan dalam hubungan mereka dengan-Nya jauh lebih besar.
Oleh karena itu, mereka mengorbankan dunia untuk akhirat, dan mereka memahami bahwa dalam muamalah dengan Tuhan, mereka tidak akan pernah merugi. Maka jadilah mereka sebagai panji-panji hidayah bagi yang datang sesudahnya.
Maha Suci Allah Yang Maha Lembut, Yang telah mengutus seorang pemimpin bagi umat ini sebagai penyempurna kebaikan-Nya.
Dia mengutuskannya dengan keutamaan-keutamaan yang berlimpah, menjadikannya sebagai lautan kasih sayang dan pengampunan, serta rahmat yang luas bagi seluruh makhluk-Nya.
Aku memuji-Nya atas segala nikmat dan kebaikan-Nya.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Kesaksian ini ringan di lisan tetapi berat di timbangan.
Dan aku bersaksi bahwa junjungan kita, Nabi Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, pemimpin orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah.
Semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, kepada para sahabatnya yang mulia, serta kepada para pengikutnya yang berbuat ihsan.
Allah Ta’ala berfirman:
أَمَّنْ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ ٱلْءَاخِرَةَ وَيَرْجُوا۟ رَحْمَةَ رَبِّهِۦ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ ﴿٩﴾
"(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran." (Az-Zumar: 9)
Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia membaca ayat ini, lalu ia berkata: "Itu adalah Utsman bin Affan."
Ibnu Umar berkata demikian karena banyaknya shalat malam yang dilakukan oleh Amirul Mukminin Utsman bin Affan serta bacaannya (terhadap Al-Qur'an), bahkan sering kali beliau membaca Al-Qur’an dalam satu rakaat.
Dalam perkataan ini terdapat pujian bagi orang yang memiliki sifat tersebut.
Abu Dzar berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: Salat malam manakah yang paling utama?"
Beliau bersabda: "Pada pertengahan malam, tetapi hanya sedikit yang melaksanakannya."
Nabi Dawud berkata: "Wahai Tuhanku, pada waktu manakah aku harus bangun (untuk beribadah)?"
Maka Allah mewahyukan kepadanya: "Wahai Dawud, janganlah engkau salat pada awal malam lalu meninggalkannya, tetapi hendaknya engkau bangun pada pertengahan malam hingga engkau menyendiri bersama-Ku dan Aku mengangkat doamu kepada-Ku."
Maka selayaknya bagi orang yang mendapat taufik, yang mengharap pahala dari Allah dan takut terhadap kedahsyatan akhirat, untuk tidak menyia-nyiakan ibadah ini, khususnya pada malam-malam sepuluh terakhir Ramadan. Karena Ramadan adalah bulan yang di dalamnya puasa merupakan salah satu rukun Islam, dan mendirikan salat malam di dalamnya merupakan sunah yang dikukuhkan.
Rasulullah ﷺ biasa menghidupkan malam dengan salat di bulan Ramadan. Dan beliau ﷺ membuka salat malamnya dengan doa istiftah:
اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيم
"Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan nyata. Engkaulah yang akan menghakimi di antara hamba-hamba-Mu dalam perkara yang mereka perselisihkan. Maka berilah aku petunjuk kepada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus."
Dan Hudzaifah pernah shalat bersamanya pada suatu malam di bulan Ramadan. Beliau membaca (surah) Al-Baqarah, kemudian Ali ‘Imran. Beliau tidak melewati ayat yang mengandung ancaman kecuali berhenti untuk berdoa, dan tidak melewati ayat yang mengandung kabar gembira kecuali berhenti untuk memohon. Beliau tetap berdiri hingga datang Bilal mengumumkan azan untuk shalat.
Ketahuilah bahwa puasa dan qiyam memiliki adab.
Adab puasa mencakup: menjaga anggota tubuh lahiriah dan mengawasi bisikan hati yang tersembunyi.
Seyogianya seseorang menyambut Ramadan dengan niat yang tulus, ketaatan yang jujur, dan tekad yang benar. Tidak boleh tidak, ia harus menjaga lisannya dari perkataan keji dan ghibah. Karena tidaklah seseorang dikatakan berpuasa jika ia masih terus memakan daging manusia (berghibah), dan tidaklah puasa seseorang sempurna jika ia masih membiarkan pandangannya melihat yang haram.
Syair:
Hak bulan puasa itu ada dua bagian, jika engkau termasuk orang yang mengagungkan hak puasa.
Engkau menahan diri dari makan di siang hari yang diberkahi,
Dan engkau menegakkan di kegelapan malam dalam qiyam.
Di antara adab qiyam adalah bahwa seseorang harus mengikhlaskan amalnya pertama kali untuk Allah,
Dan tidak berjalan di atas keuntungan, serta memperpanjang bacaan, rukuk, dan sujud.
Wahai hamba Allah,
Bulan kalian ini tidak ternilai harganya, dan tidak bisa ditebus dengan kelalaian.
Wahai orang yang menyia-nyiakan waktu,
Apa yang telah berlalu dalam kebaikan, maka lanjutkanlah dalam berbuat baik.
Dan wahai jiwa yang buruk, tinggalkanlah kelalaian dan jangan menunda-nunda.
Jika engkau kehilangan (kesempatan) di bulan ini, kapan lagi engkau akan kembali?
Jika engkau lalai dari keuntungan di dalamnya, kapan lagi engkau akan memperoleh manfaat?
Bagaimana bisa seseorang berpuasa namun tidak menegakkan shalat malam?
Jika ia menunggu waktu Isya, maka ia banyak tidur di malam hari.
Jika ia mengantuk, ia tidur dan kehilangan waktu sahur,
Jika ia sahur, ia tidur di siang hari dengan kemalasan.
Apa yang dilihat oleh Ramadhan darimu?
Ia melihatnya sebagai (bukti) pemutusan hubungan yang menyedihkan bagi orang-orang yang lalai.
Seakan-akan mereka kehilangan satu hari dari Ramadhan,
Sementara engkau justru dalam kondisi lalai, malas, dan lalai.
Abu Dzar radhiyallahu anhu berkata kepada orang-orang: "Bagaimana menurut kalian jika salah seorang di antara kalian hendak melakukan perjalanan, bukankah ia akan mengambil bekal yang dapat memperbaikinya dan menyampaikannya ke tujuan?" Mereka menjawab, "Tentu!" Maka ia berkata, "Perjalanan menuju hari Kiamat lebih jauh. Maka ambillah bekal yang dapat memperbaiki kalian."
"Perhatikanlah perkara-perkara besar, berpuasalah pada hari yang sangat panas untuk menghadapi panasnya hari kebangkitan. Shalatlah dua rakaat dalam kegelapan malam sebagai bekal menghadapi gelapnya kubur. Bersedekahlah secara diam-diam sebagai perlindungan dari hari yang sulit."
"Dan semoga Allah memberi taufik, sesungguhnya keutamaan shalat malam dibandingkan shalat siang adalah lebih dekat kepada keikhlasan, lebih kokoh dalam menyatukan hati dan lisan, mengusir penyakit dari tubuh, serta meringankan perhitungan (hisab) di akhirat."
Dikatakan dalam Syair ;
Perpanjanglah puasa dengan shalat malam sebagai ibadah,
Berdirilah dalam sunyi malam dan bacalah Kitab, janganlah engkau tidur.
Sungguh, esok datang berita yang pasti,
Engkau akan dipindahkan dari tempat tidur ke dalam kafan.
Wahai orang yang matanya menangis dalam kerinduan malam,
Karena takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, menangis dengan air mata yang deras.
Maka demi Allah, dosa-dosanya akan diampuni tanpa perhitungan,
Karena setiap malam ia diberi pahala malam Lailatul Qadr.
Mereka akan bertanya: Apakah ada orang yang bertanya tentangnya?
Maka aku akan menjawab: Aku adalah orang yang dekat, aku menjawab seruan mereka.
Abu Hanifah (semoga Allah meridhainya) memiliki wajah yang bercahaya karena seringnya shalat. Ia tidak pernah tidur di malam hari, dan dijuluki "Al-Watad" (tiang) karena seringnya shalat. Ia biasa mengajarkan shalat subuh dari wudhu shalat Isya' berulang kali selama empat puluh tahun.
Sepanjang malam, ia membaca seluruh Al-Qur'an dalam satu rakaat. Ia juga sering menangis karena takut kepada Allah hingga para tetangganya merasa iba kepadanya.
Ia mengkhatamkan Al-Qur'an di tempat dimana beliau wafat sebanyak tujuh ribu kali.
"Diriwayatkan bahwa beliau - Abu Hanifah rahimahullah - mengerjakan salat lima waktu dengan satu wudu.
Malik bin Anas, ketika memasuki rumahnya, kesibukannya adalah mushaf dan membaca Al-Qur’an.
Imam Syafi’i membagi malam menjadi tiga bagian: sepertiga pertama ia menulis, sepertiga kedua ia salat, dan sepertiga terakhir ia tidur.
Ahmad bin Hanbal—semoga Allah merahmatinya—mengerjakan 300 rakaat dalam sehari semalam.
Suatu malam, Abu Ashim menginap di rumahnya. Ketika pagi tiba, Ahmad melihat air wudu yang diletakkan di sisinya masih utuh, lalu ia berkata, 'Subhanallah! Seorang laki-laki yang mencari ilmu, tetapi tidak memiliki wirid di malam hari?!'
Wahai hamba-hamba Allah! Hari-hari kalian adalah perjalanan, dan malam kalian adalah kendaraan. Kalian pasti akan berangkat, sebagaimana orang-orang terdahulu telah pergi. Tempat tujuan kalian adalah kuburan, itulah rumah-rumah sejati. Maka hendaklah orang-orang yang datang belakangan mengambil pelajaran dari yang terdahulu."
"Dengarkanlah, wahai orang yang yakin bahwa tiada keraguan bahwa ia adalah seorang musafir, sedangkan ia tidak memiliki bekal atau perbekalan.
Maka bangunlah, wahai saudaraku, di waktu malam, dalam keadaan penuh kasih sayang kepada orang yang meminta dan menanggapi seruan: 'Adakah orang yang meminta?' Agar kamu mendapatkan anugerah penerimaan, menang dengan mendapatkan yang dimaksud, dan meraih tujuan serta harapan.
Wahai kaum yang berpuasa, waspadalah terhadap segala bentuk kebohongan dan kesalahan. Jagalah puasa kalian demi pahala dan ganjaran, jauhilah caci maki, celaan, dan perkataan dusta. Sebab, orang yang merugi dan tertipu adalah yang beribadah tetapi tidak meninggalkan dusta. Barang siapa berpuasa tetapi tidak meninggalkan dusta, maka ia tidak benar-benar berpuasa. Jika kalian menginginkan kedekatan di surga dan istana (dalamnya), maka bersungguh-sungguhlah dalam beristighfar saat sahur, karena di dalamnya terdapat keberkahan.
Hal ini telah disebutkan dalam hadits yang masyhur. Jauhilah segala bentuk maksiat, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dikatakan bahwa puasa tidak diterima dari seseorang yang tidak meninggalkan kebohongan dalam perkataan dan perbuatannya. Maka, carilah keridhaan Tuhan kalian dalam waktu ini yang penuh kemuliaan."**
Disebutkan dalam syair;
Sungguh beruntung orang-orang yang bangun di malam hari,
Mereka menyeru Tuhan mereka dengan sepenuh hati.
Kaum yang beriman kepada-Nya dengan penuh kesetiaan,
Mereka tinggalkan kelalaian dan nikmat dunia yang fana.
Mereka berdiri untuk memohon cinta yang agung,
Menutup wajah mereka dengan air mata kerinduan.
Wajah mereka bersinar dengan cahaya kebahagiaan,
Dan air mata mereka mengalir di waktu malam.
Lalu pagi pun tersenyum melihat tangisan mereka,
Di siang hari mereka terlihat bersinar bahagia.
Malam menjadi saksi keluhuran jiwa mereka,
Begitu juga siang menyaksikan kemuliaan hati mereka.
Mereka hidup dalam keridhaan Sang Kekasih,
Dan kelak di hari pertemuan, wajah mereka berseri.
Fasal;
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّا سَنُلْقِى عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا ﴿٥
إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيْلِ هِىَ أَشَدُّ وَطْـًٔا وَأَقْوَمُ قِيلًا ﴿٦
"Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan lebih berkesan dalam membaca." (QS. Al-Muzzammil: 5-6)
Para ulama berkata: "Tahajjud tidak terjadi kecuali setelah tidur, sedangkan Qiyamullail tidak terjadi kecuali setelah bangun tidur."
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam."
(Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya.)
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Barang siapa yang mendirikan salat pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
An-Nakha’i berkata:
"Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih utama dari seribu hari lainnya. Tasbih yang dibaca di dalamnya lebih utama dari seribu tasbih, dan satu rakaat di dalamnya lebih utama dari seribu rakaat."
Dalam Syair dikatakan:
"Jagalah kewajiban dengan penuh ketulusan,
Ambillah bagian dalam tahajud di waktu sahur.
Saat kau berdiri di malam hari, berserulah dengan harapan,
Dekatkanlah hatimu dengan munajat yang penuh ketundukan.
Hulurkan tanganmu kepada-Nya dengan kerendahan diri,
Lihatlah, bagaimana air matamu menetes deras."
"Di waktu malam, amal ibadah dan amal orang tidur berbeda,
Siapa yang tidak ikut serta dalam kelezatan ibadah, ia akan rugi.
Tidak aman dari malapetaka mereka yang tenggelam dalam lalai dan malas.
Setiap malam, Allah menurunkan rahmat ke langit dunia,
Berseru: Adakah yang bertaubat agar Aku menerima taubatnya?
Adakah yang memohon ampun agar Aku mengampuninya?
Adakah yang berdoa agar Aku mengabulkan doanya?
Hingga fajar terbit, dan mereka yang menangis di malam hari mendapatkan pahala."
Dalam Syair dikatakan:
"Kami adalah hamba yang apabila ditimpa cobaan, kami memohon karunia-Nya,
Kami bersyukur atas nikmat-Nya dan mengagungkan-Nya.
Kami bertanya saat istighfar: Adakah yang bertaubat?
Wahai para pendiri malam, berlemah lembutlah kepada yang tertidur,
Wahai hati yang hidup, kasihilah mereka yang telah mati."
Ibn al-Sammak, rahimahullah, berkata:
Aku sedang duduk di depan pintu rumahku ketika seorang lelaki dari saudara-saudaraku datang menemuiku. Ia berkata, "Wahai Abu Bakr, aku memiliki seorang anak yang termasuk di antara ahli ibadah dan orang-orang yang ikhlas dalam niatnya. Ia menghidupkan malam dengan salat dan berpuasa di siang hari. Namun, meskipun begitu, ia tidak bisa menahan diri dari menangis."
"Aku telah melarangnya dari perbuatannya itu dengan tanganku sendiri karena aku takut ia akan binasa. Aku ingin ia bersikap lembut terhadap dirinya sendiri, maka aku menyuruhnya untuk tidur di malam hari, meskipun hanya satu kali, agar ia memiliki kekuatan untuk beribadah kepada Allah."
Ibn al-Sammak berkata, "Jika Allah menghendaki, ia akan tidur."
Kemudian tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang pemuda dengan wajah yang bercahaya seperti lentera. Tubuhnya kurus. Orang itu berkata, "Wahai Abu Bakr, inilah anakku."
Aku pun berkata kepadanya, "Kekasihku, sesungguhnya Allah telah mewajibkan ketaatan kepadamu kepada ayahmu dan melarangmu untuk mendurhakainya. Dan engkau telah meminta kepadaku suatu nasihat. "
Ia berkata: "Apa itu, wahai Syaikh?" Aku menjawab: "Engkau berbuka puasa pada hari Jumat dan bangun di malam hari untuk shalat, karena dengan itu engkau menguatkan diri untuk beribadah kepada Allah." Ia berkata: "Demi Allah, engkau telah meminta kepadaku untuk lalai dalam beramal sebelum datangnya ajal."
"Wahai Guru, sesungguhnya aku berjanji dengan saudara-saudaraku untuk berlomba dalam kebaikan, dan aku khawatir amalanku akan diperlihatkan di hadapan amalan mereka, lalu dalam amalanku terdapat kekurangan. Maka sungguh buruk keadaanku jika aku diberitahu bahwa mereka telah mendahuluiku dalam kebaikan!"
"Wahai Abu Bakar, seandainya engkau melihat saudara-saudaraku di malam hari, mereka telah meninggalkan tempat tidur, menunggangi kendaraan di kegelapan, dan menempuh perjalanan malam sementara manusia terlelap dalam tidur. Mereka telah sampai di tempat yang tinggi dengan kesungguhan. Apakah engkau ingin aku bersikap lemah, wahai Syaikh, dengan sikap meremehkan? Demi Allah, aku tidak akan bersikap lemah dan akan bersungguh-sungguh sampai aku menyusul mereka dalam kemenangan!"
Cinta kepada seseorang yang telah menguasai hatiku
Aku tidak akan melanggar perintah orang yang kucintai,
dan aku tidak akan menentang para musuhku dalam mencintainya.
Aku tidak akan menjadikan kesenanganku sebagai tangisan kesedihan,
dan aku tidak akan menyembunyikan rahasia cintaku dalam ketakutan.
Aku tidak akan mengampuni seseorang yang mencelaku karena cintaku,
dan aku tidak akan meninggalkan penderitaanku serta tangisku.
Aku akan menghiasi kelopak mataku dengan air mata kesedihan,
dan aku akan menghitamkan pelupuk mataku dengan kesaksian cintaku.
Namun, mereka tidak mengetahui betapa sakitnya hatiku.
Saudara-saudaraku!
Keuntungan yang berharga tidak boleh disia-siakan dalam hari-hari yang agung ini,
karena tidak ada gantinya dan tidak ada nilainya yang sebanding.
Bergegaslah dalam beramal, karena tergesa-gesa lebih baik sebelum penyesalan datang.
Sebelum orang yang lalai menyesali apa yang telah ia lakukan; sebelum ia meminta kesempatan untuk kembali dan melakukan amal saleh, namun tidak dikabulkan atas apa yang ia minta; sebelum kematian menjadi penghalang antara harapan dan pencapainya; sebelum seseorang berada dalam penyesalan karena apa yang telah ia lakukan.
Al-Bukhari dan al-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya."
Hadis ini memiliki makna seperti yang dikatakan sebagian ulama bahwa niat adalah syarat sah puasa. Dan Allah lebih mengetahui.
Al-Tirmidzi juga meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu yang disebut al-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya. Siapa yang memasukinya, maka ia tidak akan pernah merasa haus selamanya."
Saudara-saudaraku,
Ini adalah bulan kesucian, bulan ketulusan dalam muamalah dan kesetiaan. Beruntunglah orang-orang yang berpuasa dan meninggalkan syahwat, serta menyendiri dalam kesunyian untuk membaca ayat-ayat peringatan dengan penuh kekhusyukan. Mereka mendapatkan pahala berlipat ganda, tempat tinggal mereka di surga dijanjikan dalam istana yang megah dan tinggi. Sabar pun menjadi sedikit dibandingkan dengan besarnya balasan yang mereka terima atas perbuatan baik mereka. Bahkan dosa-dosa mereka diampuni dan kesalahan mereka dihapuskan.
Namun, betapa celakanya orang-orang yang lalai dari amal perbuatan baik! Mereka telah mengharamkan diri dari amal kebaikan, mengabaikan puasa terus-menerus, dan menghabiskan waktu dengan kelalaian dan kesia-siaan.
Wahai orang-orang yang mengabaikan perjanjian dengan Allah!
Bertaubatlah, karena bulan ketulusan telah datang kepada kalian. Bulan ini adalah bulan keridhaan dan ampunan, jangan sampai kalian diharamkan darinya! Demi Allah, dosa-dosa telah dihapuskan dalam bulan ini, karena bulan ini memiliki keutamaan yang tidak dimiliki bulan lainnya.
Maka, manfaatkanlah malam-malamnya yang bercahaya. Berusahalah dengan air mata penyesalan, mohonlah kepada Allah dengan penuh kerendahan hati. Sebab, Dialah yang menghapus dosa dan menerima taubat dengan kelembutan-Nya.
Para salafush shalih senantiasa melazimi shalat malam, terutama pada malam-malam bulan Ramadhan.
Maka seyogianya bagi orang yang shalat untuk menghadirkan hati dengan penuh kesadaran, mengharap pahala dari Allah Ta'ala dalam shalatnya, serta berusaha untuk ikhlas dan khusyuk dalam shalatnya. Sebab, khusyuk adalah inti dari shalat.
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
"Perkara pertama yang akan diangkat dari umat ini adalah khusyuk, hingga engkau tidak lagi melihat seorang pun yang khusyuk."
Ketika hati lalai dari tadabbur (merenungkan) Al-Qur'an, dan tubuh hanya sekadar berdiri di tempat sementara hatinya berada di tempat lain, maka sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan tubuh, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan.
Rabi'ah Al-Adawiyah pernah sakit suatu kali, lalu dia tetap melaksanakan shalat dengan wiridnya di siang hari. Dia terbiasa dengan hal itu dan tidak pernah meninggalkan shalat malam. Pada suatu malam, ia membaca ayat hingga seakan-akan ia melihat dirinya telah sampai ke sebuah taman hijau yang luas, di dalamnya terdapat rumah dengan pintu terbuka. Dari rumah itu terpancar cahaya yang hampir menyilaukannya. Lalu keluarlah dari rumah itu para pemuda dengan wajah bersinar, tangan mereka membawa obor cahaya.
Rabi'ah bertanya kepada mereka: "Siapakah kalian, dan apa yang kalian inginkan?"
Mereka menjawab: "Kami datang untuk menghadiri majelis ilmu di lautan cahaya."
Rabi'ah bertanya: "Apakah kalian mengenal perempuan ini?"
Mereka menjawab: "Ya, perempuan ini memiliki bagian di dalamnya."
Maka Rabi'ah pun tersenyum, lalu ia kembali kepada dirinya, bangkit, dan melanjutkan ibadahnya dengan penuh semangat dan ketenangan.
Kemudian berkata;
Salatmu adalah cahaya, ibadahmu adalah kedekatan, dan tidurmu adalah kebalikan dari salat.
Seorang ulama dahulu sering bangun untuk salat malam, tetapi suatu malam ia tidak melakukannya. Kemudian, ia melihat dalam mimpinya dua orang laki-laki berdiri di hadapannya. Salah satu dari mereka berkata kepada yang lain: "Orang ini termasuk mereka yang memohon ampun di waktu sahur, tetapi ia telah meninggalkannya."
Wahai orang yang hatinya telah berpaling, siapapun yang memiliki waktu bersama Allah tetapi meninggalkannya, maka ia telah kehilangan.
Bangun di waktu sahur akan merasa asing darimu, puasa di siang hari akan menanyakan tentangmu, malam-malam pertemuan telah meninggalkanmu.
Apakah fajar akan menyinarimu? Apakah engkau merindukan pertemuan?
Hijrahmu telah lama bagi kami, maka kembalilah kepada kami dengan penuh kasih, dan jangan mengambil cinta selain cinta kami sebagai agamamu.
Wahai kaum!
Tidakkah kalian menghadap kepada Tuhan Yang Maha Pengasih di bulan ini? Tidakkah kalian menginginkan apa yang telah Allah persiapkan bagi orang-orang yang taat di surga? Tidakkah kalian mencari apa yang diberitakan tentang kenikmatan abadi, meskipun ia bukanlah sesuatu yang dapat dibandingkan dengan kenikmatan dunia?
Syair:
Siapa yang menolak kerajaan surga
dan lebih memilih kegelapan kesengsaraan?
Tidakkah sebaiknya ia beralih menuju cahaya Al-Qur'an
dan berpuasa demi kebahagiaan abadi?
Sungguh, hidup sejati adalah di sisi Allah,
di negeri keamanan dan kedamaian.
Diriwayatkan dari Malik bin Dinar – rahimahullah – bahwa ia berkata:
"Aku memiliki kebiasaan membaca Al-Qur’an setiap malam. Suatu malam aku tertidur dan dalam mimpi, seorang budak perempuan yang sangat cantik datang kepadaku. Di tangannya ada lembaran. Ia bertanya kepadaku, 'Apakah engkau membaca dengan baik?' Aku menjawab, 'Ya.' Lalu ia menyerahkan lembaran itu kepadaku. Ketika aku membacanya, tertulis di dalamnya ;
**"Tinggalkanlah tidur dari mengejar angan-angan dan dari pertemuan yang sia-sia di taman-taman. Engkau hidup dalam kelalaian tanpa mati di dalamnya, dan engkau bermain-main di dalam kemah bersama para pemalas. Bangunlah dari tidurmu! Sungguh, yang terbaik adalah siapa yang sadar!
Wahai yang jauh dari sifat-sifat para pecinta! Wahai yang terlambat dari kebersamaan dengan orang-orang yang benar! Wahai yang lalai dari keadaan ahli keyakinan! Wahai yang kurang dalam meniru para hamba yang tekun! Dengarkanlah sifat-sifat mereka, lalu kenalilah keistimewaan mereka. Mereka adalah kaum yang telah meninggalkan dunia dan meninggalkannya dengan penuh kesadaran, serta mencari akhirat dengan kesungguhan.
Jika siang tiba, mereka menyibukkan diri dengan puasa. Dan jika malam datang, mereka menghidupkannya dengan qiyam (shalat malam). Pandangan mereka tajam dalam melihat aib dunia dan keburukannya. Mereka sadar betapa cepatnya dunia hancur, dan apa yang mereka bangun di dalamnya hanyalah sementara.
Mereka melihat tanda-tanda petunjuk, lalu mereka pun tegak mengikuti petunjuk itu. Mereka mencari keridhaan Tuhan mereka dengan apa yang mereka temukan. Maka ingatlah! Saat malam menjadi gelap, mereka menghadapkan kaki-kaki mereka dalam ibadah dan meluruskan tubuh mereka. Dan jika siang datang, mereka menjalankannya dengan puasa, menjaga diri dari perkara haram, serta menahan diri darinya."**
Diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa dikatakan:
"Kami telah diberitahu bahwa sebuah hidangan akan disiapkan bagi orang-orang yang berpuasa. Mereka akan makan darinya sementara orang-orang lain sedang dalam perhitungan (hisab). Lalu mereka bertanya, 'Wahai Tuhan kami! Kami sedang dihisab, sedangkan mereka ini makan?' Maka dikatakan, 'Mereka tetap berpuasa dan berbuka sepanjang waktu (di dunia).'"
Ketahuilah bahwa kemuliaan ini tidak diberikan kecuali kepada orang yang berpuasa dari segala yang diharamkan Allah, bukan hanya dari makanan dan minuman.
Maka kewajiban bagi orang yang berpuasa dan mengharapkan pahala puasanya adalah pertama-tama menyucikan amalannya untuk Allah Ta’ala, menjaga pendengarannya, menahan pandangannya, menjaga lisannya, anggota tubuhnya, serta seluruh inderanya dari hal-hal yang bertentangan dengan ibadah puasanya.
Saudara-saudaraku! Ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman di dalam ujian:
- Kesabaran dalam menahan syahwat dengan berpuasa,
- Kesabaran dalam ketaatan yang diberikan pahala,
- Barang siapa bersyukur, ia akan mendapatkan tambahan nikmat,
- Barang siapa bersedekah, ia akan memperoleh keutamaan dan kebajikan,
- Barang siapa memperbaiki ibadahnya, ia akan disiapkan kedudukan yang tinggi,
- Barang siapa mengikhlaskan puasanya dan shalatnya, dosanya akan diampuni,
- Barang siapa mengingat Allah dalam dirinya, ia akan mendapati para malaikat menyertainya,
- Dan barang siapa berpegang teguh pada ketakwaan, ia akan meraih kemenangan dan kabar gembira.
Wahai sekalian orang yang berpuasa, bergembiralah dengan kabar bahagia!
Kalian telah dianugerahi bulan yang di dalamnya terdapat pembebasan dan rahmat.
Masjid-masjidnya dipenuhi dengan lantunan shalat,
Dan pada sepuluh malam terakhirnya terdapat Lailatul Qadr.
Beruntunglah bagi kaum yang mendapatkannya dan menyaksikannya,
Mereka pun meraih ampunan dari Tuhan hingga mereka berbahagia.
Telah tersebar cahaya api (kebaikan) dengan sanjungan atas kalian,
Allah telah melimpahkan pahala bagi orang yang berpuasa.
Disebutkan dalam pujian dan dzikir,
Ia (Lailatul Qadr) memiliki kedudukan yang agung sebagaimana ia dipenuhi dengan kebaikan.
Para malaikat turun dengan tanda kebesarannya,
Mereka membawa keharuman yang menyebar dari aromanya yang wangi.
"Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung."
"Ya Allah, teguhkanlah hamba-hamba-Mu yang beriman untuk melaksanakan kewajiban-Mu, janganlah Engkau hinakan mereka dengan buruknya amal perbuatan mereka pada hari pertemuan dengan-Mu. Dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang yang mencintai orang yang bersungguh-sungguh tetapi tidak Engkau ridhai."
"Ya Allah, berikanlah kepada kami malam yang penuh kebaikan untuk orang-orang yang berbuat ihsan, dan jadikanlah akhir hidup kami dalam keyakinan. Kasihilah kami, wahai Tuhan kami, dan janganlah Engkau hinakan kami."
"Ya Allah, siapa pun yang berada di jalan yang lurus dan adil, maka tambahkanlah ia keteguhan dalam jalannya, karena Engkau Maha Mencukupi. Dan siapa pun yang dalam kesesatan dan jauh dari keadilan, maka bimbinglah dia, arahkanlah dia kepada perbuatan dan perkataan yang lebih baik. Dan ampunilah kami semua, dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar