Tentang Keutamaan Bersungguh-sungguh, Terutama di Musim yang Agung Ini
Segala puji bagi Allah Yang Maha Pemurah, Maha Dermawan, Maha Lembut terhadap para hamba-Nya.
Dia yang dengan anugerah-Nya seseorang menjadi mulia, dan siapa yang berpegang teguh pada Kitab-Nya akan diberi petunjuk dan dilindungi dari kesesatan.
Dia adalah Raja yang berkuasa sendiri dalam penciptaan dan keberadaan, yang mengatur urusan para hamba-Nya dengan kebijaksanaan-Nya.
Dia adalah Yang Mahatinggi, Yang Mahaagung, Yang Mengalahkan segala sesuatu, Yang Maha Hidup, Yang Bersemayam di atas Arasy-Nya, Raja yang kekuasaan-Nya tak tertandingi, Yang Maha Mengetahui segala rahasia dan hal yang tersembunyi.
Dia mendengar bisikan dan doa yang lirih, mengetahui segala yang tersimpan dalam hati dan pikiran.
Dia menciptakan makhluk dengan takdir yang telah ditetapkan, setiap hamba pun diarahkan kepada apa yang telah ditentukan baginya.
Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengawasan-Nya, tidak ada suara yang terlalu pelan untuk didengar-Nya, tidak ada gerakan janin dalam kandungan yang tersembunyi dari-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi pandangan-Nya.
Maha Suci Dia yang membuat para pengawas-Nya tunduk pada perintah-Nya, yang membuat unta patuh kepada kehendak-Nya.
Dia yang menciptakan makhluk dengan kebijaksanaan-Nya, mengatur mereka dengan hikmah-Nya.
Dia melihat mereka, mendengar ucapan mereka, mengetahui segala perbuatan mereka, dan membagi mereka menjadi golongan mukmin dan kafir, orang yang berbakti dan durhaka.
Dia membuka hati para ahli tauhid dan menerangi mereka dengan cahaya petunjuk.
Wahai orang yang buta hati!
Wahai orang yang dijauhi dan diputuskan oleh Tuhannya!
Wahai orang yang dihinakan dan direndahkan oleh-Nya!
Wahai orang yang ditinggalkan oleh penolongnya!
Hatinya tidak akan menjadi tenteram kecuali dengan-Nya!
Hamba yang berpaling dari pengabdian kepada-Nya, sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan asal keberadaannya!
Umurnya terbuang dalam sesuatu selain ketaatan kepada-Nya!
Barang siapa yang rela hidup tanpa-Nya, maka ia adalah pengkhianat yang zalim.
Orang yang terusir dari sisi-Nya adalah orang yang rugi.
Orang yang bahagia adalah orang yang mendapatkan rahmat-Nya.
Orang yang celaka adalah orang yang diharamkan dari rahmat-Nya.
Orang yang menyesal adalah orang yang dihinakan-Nya.
Orang yang selamat adalah orang yang ditolong-Nya.
Orang yang menang adalah orang yang dekat dengan-Nya.
Orang yang rugi adalah orang yang jauh dari-Nya.
Aku memuji-Nya atas kebaikan-Nya yang tampak dan ihsan-Nya yang nyata.
Aku bersyukur kepada-Nya atas nikmat-Nya yang bertambah-tambah.
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya.
Kesaksian yang aku simpan untuk hari yang tidak bermanfaat harta dan anak-anak.
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya yang dikuatkan dengan mukjizat dan bukti-bukti nyata.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarganya, dan sahabat-sahabatnya yang mulia.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَٱسْتَغْفِرُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌۢ ﴿٢٠﴾
" Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Q.S.73:20)
Ketika para ahli ibadah mengetahui bahwa pahala mereka akan ditunda untuk diberikan kepada mereka di akhirat, mereka pun mencurahkan usaha mereka dalam beramal, berharap mendapat keuntungan di sisi Tuhan mereka.
Di kalangan salaf yang saleh, jika seseorang mencapai usia empat puluh tahun, ia akan melipat kasurnya dan tidak pernah tidur kecuali dalam keadaan bersujud.
Sebagian murid mengeluhkan banyaknya tidur kepada gurunya. Sang guru berkata: "Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki limpahan rahmat di malam dan siang hari. Rahmat ini hanya mengenai hati yang terjaga dan melewatkan hati yang lalai. Maka, siapkanlah diri kalian untuk menerima rahmat itu!" Murid itu pun berkata kepadanya: "Wahai guru, jika demikian, aku tidak akan tidur malam maupun siang."
Safwan bin Salim telah mencapai puncak kesungguhan dalam ibadah. Jika dikatakan kepadanya bahwa kiamat akan terjadi esok, ia tidak akan mampu menambah apa pun pada amalnya. Ia selalu berdoa: "Ya Allah, aku mencintai perjumpaan dengan-Mu, maka cintailah perjumpaan denganku." Dan ia pun wafat dalam keadaan bersujud. Semoga Allah merahmatinya.
Abdurrahman bin Al-Aswad mengalami luka di salah satu kakinya, sehingga ia tetap berdiri sepanjang malam dengan bertumpu pada satu kaki dan melaksanakan shalat Subuh dengan wudhu yang sama.
Abu Hazm berkata: Aku menjumpai suatu kaum, jika Ramadan tiba, mereka meningkatkan ibadah mereka di malam hari tanpa mengurangi intensitas ibadah mereka di siang hari.
Tsabit Al-Bannani berkata: Aku mendapati para lelaki yang tetap shalat hingga kepala mereka condong ke depan karena mengantuk.
Abu Muslim Al-Khaulani biasa menggantung cambuk di rumahnya sebagai peringatan bagi dirinya agar tetap bangun di malam hari untuk shalat. Setiap kali ia merasa mengantuk, ia memukul dirinya sendiri dan berkata, "Engkau lebih pantas menerima pukulan ini dibanding tidur."
Sebagian dari tabi'in berpuasa terus-menerus hingga tubuh mereka berubah menjadi hijau dan kuning karena lemah. Al-Aswad bin Yazid berpuasa dalam waktu yang sangat lama, hingga ketika ia tidur, ia merasakan kelemahan dalam tubuhnya dan berkata, "Aku ingin tubuh yang kotor ini merasakan penderitaan."
Sebagian dari mereka ada yang terus-menerus berpuasa, dan jika mereka merasa sangat lelah, mereka tetap menolak berbuka. Orang-orang berkata kepadanya, "Berbukalah," namun ia menjawab, "Ini bukanlah waktu berbuka."
Dikatakan kepada yang lain di antara mereka yang sedang sakit, "Berbukalah." Maka ia menjawab, "Bagaimana aku berbuka sedangkan aku seorang tawanan yang tidak tahu apa yang akan dilakukan terhadapku?"
'Amir bin 'Abdullah meninggal dalam keadaan berpuasa dan tidak berbuka.
Diriwayatkan bahwa bagi orang-orang yang berpuasa akan disediakan sebuah hidangan di bawah ‘Arasy, lalu mereka makan darinya, sedangkan manusia lain sedang dalam keadaan perhitungan (hisab).
Dari Anas secara mauquf:
"Sesungguhnya Allah memiliki sebuah hidangan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia. Tidak ada yang duduk di atasnya kecuali orang-orang yang berpuasa."
Sebagian dari ulama salaf berkata:
"Telah sampai kepada kami bahwa bagi orang-orang yang berpuasa akan disediakan sebuah hidangan, dan mereka makan darinya sementara manusia lain dalam keadaan di hisab. Maka mereka berkata: 'Wahai Tuhan kami, kami sedang dihisab sementara mereka sedang makan.' Maka dikatakan kepada mereka ;
"Sesungguhnya mereka selama ini telah berpuasa, berbuka, berdiri (beribadah), dan tidur",
maka Allah Ta'ala berfirman:
"Makan dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu." (QS. Al-Haqqah: 24).
Ketahuilah bahwa orang-orang yang bersabar terbagi menjadi dua golongan:
Golongan pertama adalah mereka yang meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Allah Ta'ala, mengharap pahala di sisi-Nya. Maka, orang ini telah melakukan transaksi dengan Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang beramal dengan baik. Tidak mungkin ada orang yang merugi dalam transaksi ini; justru ia akan mendapatkan keuntungan yang paling besar.
Rasulullah ﷺ pernah berkata kepada seseorang:
"Engkau tidak meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah kecuali Allah akan memberimu sesuatu yang lebih baik darinya." (HR. Ahmad)
Maka, orang yang berpuasa akan diberi di surga apa pun yang ia inginkan dari makanan, minuman, dan lainnya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:
"Makan dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu." (QS. Al-Haqqah: 24).
Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang bersabar (as-shabirun).
Sebagian orang saleh menyeru dengan seruan saat sahur di bulan Ramadan: "Wahai orang-orang yang menginginkan kebaikan, bersegeralah untuk berpuasa!" Mereka menekankan kata-kata ini dan memperbanyak ajakan kepada puasa.
Seorang ahli makrifat melihat dalam mimpinya bahwa dirinya telah masuk surga. Ia mendengar seseorang berkata kepadanya:
"Apakah engkau ingat bahwa engkau pernah berpuasa sehari untuk Allah?"
Ia menjawab: "Ya."
Lalu dikatakan kepadanya: "Maka hari ini, suara api telah menjauh darimu karena (puasamu) itu."
Barang siapa meninggalkan kesenangan dunia seperti makanan, minuman, dan syahwat untuk sementara waktu demi Allah, maka Allah akan menggantinya dengan makanan dan minuman yang tidak akan habis serta pasangan yang tidak akan pernah mati.
Dalam Taurat disebutkan:
"Beruntunglah orang yang merasa lapar di dunia demi hari kelaparan yang lebih besar. Beruntunglah orang yang merasa haus di dunia demi hari kehausan yang lebih besar. Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat sesaat demi perjumpaan dengan Tuhan yang tidak pernah ia lihat. Beruntunglah orang yang meninggalkan makanan di dunia demi negeri yang kenikmatannya kekal selamanya."
Golongan kedua dari orang-orang yang berpuasa adalah mereka yang tidak hanya menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi juga menjaga kepala dan apa yang dikandungnya, menjaga perut dan isinya, mengingat kematian dan kesengsaraan, serta lebih mengutamakan kehidupan akhirat dibanding perhiasan dunia. Bagi mereka, hari berbuka adalah saat bertemu dengan Tuhan mereka, dan kegembiraan mereka adalah ketika melihat-Nya.
Dikatakan dalam Syair:
Ahli khusus dari kalangan orang yang berpuasa, puasa mereka adalah puasa lisan dari kebohongan dan dusta,
Para arifin dan ahli kedekatan dengan Allah, puasa mereka adalah puasa hati dari berbagai makhluk dan rasa bangga diri.
Para arifin tidak akan merasa cukup hanya dengan melihat wali-wali mereka dari kejauhan,
Mereka tidak merasa puas hanya dengan melihat mereka tanpa menyaksikan hakikatnya,
Karena tujuan mereka lebih agung dari itu.
Dikatakan pula;
Kebiasaan lima hal telah membuatku rakus,
Barang siapa yang berpuasa dari segala syahwat, sungguh dia telah meninggalkan kelezatan.
Barang siapa yang berpuasa dari syahwatnya di dunia,
Dia akan mendapatkannya kelak di surga,
Dan barang siapa yang berpuasa dari selain Allah pada hari perjumpaan,
Mereka akan mendapat malam perjumpaan dengan-Nya,
Karena sesungguhnya Allah berfirman;
مَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ ٱللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ ٱللَّهِ لَءَاتٍ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ ﴿٥﴾
"Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (Q.S.29:5)
Dalam lantunan Syair:
Aku telah diam dari segala kenikmatan dunia
Dan aku berpuasa sepanjang hidupku
Lalu aku bermimpi melihat kabar gembira
Maka aku ditanya tentang keadaanku
Aku menjawab: "Dia mengetahui sedikitnya keinginanku terhadap makanan,
Maka Dia menggantikannya dengan memandang-Nya."
Dikatakan oleh sebagian orang saleh: "Aku bertemu seorang pemuda dalam perjalanan menuju Mekah."
Aku bertanya kepadanya: "Wahai anak muda, apakah engkau tidak merasa kesepian dan asing?"
Dia menjawab: "Kebersamaan dengan Allah telah memutusku dari segala kesepian dan keterasingan."
Aku bertanya: "Di mana rumahmu?"
Dia menjawab: "Di akhirat."
Aku bertanya: "Di mana keluargamu?"
Dia menjawab: "Di antara para pecinta yang memandang kepada Allah."
Aku bertanya: "Bagaimana engkau mengetahui hal itu?"
Dia menjawab: "Karena aku telah menundukkan pandanganku dari segala yang haram, lalu aku memohon kepada Allah agar menjadikan kegembiraanku dalam memandang-Nya."
Maka dia pun berteriak keras hingga kedua matanya tertutup.
Dikatakan dalam Syair:
Wahai Kekasih hati, tiada bagiku selain-Mu
Tiada tempat bagiku di surga kecuali bersama-Mu
Kasihanilah tidur orang berdosa yang telah terlena
Karena aku menginginkannya agar ia mendapatkan-Mu.
Wahai orang yang bertobat dengan penyesalan!
Berpuasalah dari hawa nafsu,
Agar kalian mengingat hari raya pertemuan,
Janganlah tertipu oleh makanan yang sempurna,
Karena sebagian besar siang puasa telah berlalu,
Janji pertemuan telah dekat.
Dikatakan pula;
Jika seorang pemilik rumah menjamuku,
Maka hambanya itu adalah hambaku.
Seorang lelaki saleh yang banyak melakukan tahajud dan puasa, pada suatu malam ia salat di masjid, berdoa, lalu tertidur. Dalam tidurnya, ia melihat sekumpulan orang yang tampaknya telah melupakan bahwa mereka berasal dari keturunan manusia. Mereka sedang menikmati hidangan di piring-piring yang dihiasi dengan perhiasan salju putih, di atasnya terdapat mutiara-mutiara besar yang mengalahkan keindahan permata delima.
Orang-orang itu berkata kepadanya, "Makanlah!" Namun, ia menjawab, "Aku sedang berpuasa." Mereka berkata, "Pemilik rumah ini memerintahkanmu untuk makan." Maka ia pun memakannya dan mendapati rasa yang begitu lezat. Lalu ia bertanya, "Apa ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah pahala dari sedekah yang engkau berikan kepada seorang yatim."
Kemudian, mereka berkata, "Kami telah menanamkan pohon untukmu sebagai balasan." Ia bertanya, "Dari apa pohon ini tumbuh?" Mereka menjawab, "Di rumah yang tidak akan runtuh, buahnya tidak akan habis, kerajaan yang tidak akan musnah, pakaian yang tidak akan usang, di dalamnya ada keridhaan dan kemuliaan, serta istri-istri yang selalu merasa puas, tidak cemburu dan tidak bersedih."
Lalu mereka berkata kepadanya, "Beramallah terus hingga engkau berpindah ke sana." Kemudian ia pun terbangun dan merenungkan mimpinya. Ia tidak pernah mengalami kejadian seperti itu kecuali setelah bermimpi melihatnya.
Orang-orang yang hadir dalam tidurnya kemudian membenarkan mimpinya. Ia berkata, "Tidakkah kalian heran dengan pohon yang ditanam untukku di surga?" Salah satu dari mereka bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi?" Ia menjawab, "Jangan bertanya! Tidak ada seorang pun yang dapat memahami keagungan balasan Allah terhadap amalnya, kecuali jika ia telah merasakannya sendiri."
Wahai kaum!
Tidakkah kalian ingin bergegas dalam bulan penuh rahmat ini menuju Tuhan Yang Maha Pengasih?
Tidakkah ada yang merindukan bidadari surga nan cantik?
Tidakkah ada yang menginginkan apa yang Allah telah persiapkan bagi orang-orang yang taat di surga?
Tidakkah ada yang mencari tempat tinggal yang kekal, yang tiada tandingannya?
Dikatakan dalam Syair:
"Barang siapa yang merasakan kesejukan surga, hendaknya ia menjauh dari kelalaian dan kelesuan."
"Hendaklah ia tetap dalam kegelapan malam, beribadah dan berdoa."
"Dan hendaklah ia menjalankan puasanya dengan sungguh-sungguh."
"Sungguh, kehidupan sejati adalah hidup di dekat Allah, bukan di dunia yang penuh kesulitan ini."
Pembahasan;
Tentang Sifat Istri-istri Penghuni Surga
Allah Ta'ala berfirman:
وَعِندَهُمْ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرْفِ عِينٌ ﴿٤٨﴾
كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَّكْنُونٌ ﴿٤٩﴾
"Dan di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah, dan membatasi pandangannya,"
"Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik."(QS. Ash-Shaffat: 48 - 49)
Allah Yang Maha Mulia juga berfirman:
مُتَّكِـِٔينَ عَلَىٰ سُرُرٍ مَّصْفُوفَةٍ ۖ وَزَوَّجْنَٰهُم بِحُورٍ عِينٍ ﴿٢٠﴾
"Mereka bersandar di atas dipan-dipan yang terjalin, dan Kami pasangkan mereka dengan bidadari-bidadari yang bermata indah." (QS. At-Tur: 20)
Makna qashirat ath-tharf adalah:
Mereka membatasi pandangan mereka hanya kepada suami-suami mereka, sehingga mereka tidak menginginkan selain mereka.
Ada pula yang mengatakan:
Mereka menundukkan pandangan mereka dari suami-suami mereka dan tidak meninggalkan mereka, serta kecantikan mereka tidak membuat mereka melihat kepada selain suami mereka.
At-Tabarani meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
Jibril berkata kepadaku: "Seorang lelaki masuk ke dalam surga dan langsung mendatangi bidadari dengan pelukan dan salaman."
Rasulullah ﷺ bersabda: "Jangan kalian abaikan kenikmatan (surga)."
Seandainya sebagian perhiasan bidadari tampak, maka cahaya wajahnya akan mengalahkan cahaya matahari dan bulan. Jika sehelai rambutnya tampak, maka akan memenuhi ruang antara timur dan barat dengan keharuman yang semerbak.
Saat seorang lelaki sedang bersandar di ranjangnya di surga, tiba-tiba cahaya terang menyinarinya dari atas. Ia pun terkejut, lalu menyadari bahwa Allah telah menciptakan seorang bidadari lain untuknya. Maka, bidadari itu berkata kepadanya, "Wahai kekasih Allah, aku termasuk bagian dari kenikmatanmu."
Ia bertanya, "Siapa engkau?"
Bidadari itu menjawab, "Aku adalah tambahan kenikmatan yang diberikan kepadamu."
Allah Ta’ala berfirman: 'Dan kami memiliki tambahan (kenikmatan).'
Maka lelaki itu akan bertambah malu karena keindahan dan kesempurnaan bidadari tersebut, yang jauh lebih indah dari yang pertama.
Kemudian, saat ia bersandar di ranjangnya, tiba-tiba cahaya lain bersinar dari atasnya, dan ternyata ada bidadari lain lagi yang berbicara kepadanya: "Wahai kekasih Allah, aku juga bagian dari kenikmatanmu."
Ia bertanya, "Siapa engkau?"
Bidadari itu menjawab, "Aku adalah tambahan kenikmatan yang diberikan kepadamu."
Allah Ta'ala berfirman: 'Mereka akan memiliki apa yang diinginkan jiwa mereka, dan lebih banyak lagi sebagai tambahan dari sisi Kami.'
Maka, kenikmatan ini akan terus bertambah dan tidak akan ada habisnya. Seorang lelaki di surga tidak akan berhenti mendapatkan pasangan yang baru tanpa menggantikan istrinya yang sudah ada.
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ﴿١٧﴾
"Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan."(Q.S.32:17)
Ahmad dan Abu Ya'la meriwayatkan dengan sanad hasan dari Abu Sa'id Al-Khudri, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
"Sesungguhnya seseorang akan berada di surga selama tujuh puluh tahun sebelum berubah (ke keadaan lain). Lalu istrinya akan datang kepadanya, dan ia akan melihat wajahnya di wajah istrinya yang lebih bersih daripada cermin. Dan sesungguhnya mutiara yang paling rendah (nilainya) di surga akan bersinar menerangi antara timur dan barat.
Kemudian wanita itu memberi salam kepadanya dan bertanya: 'Siapakah engkau?' Ia menjawab: 'Aku adalah tambahan (kenikmatan untukmu).' Dan sesungguhnya ia akan memiliki tujuh puluh pakaian dari nuur (cahaya), sehingga ia dapat melihat sumsum tulangnya dari balik itu semua. Dan sesungguhnya pada dirinya terdapat cahaya yang menerangi antara timur dan barat."
Diceritakan bahwa Dzu al-Nun al-Mishri pernah memberikan nasihat pada suatu hari. Lalu datang seorang wanita kepadanya dan bertanya, "Wahai orang Mesir, gambarkanlah untukku tentang surga dan apa yang telah Allah sediakan di dalamnya untuk para wali-Nya."
Maka Dzu al-Nun menjawab, "Wahai wanita, sesungguhnya dalam surga terdapat sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu seorang alim, tidak dapat digambarkan oleh orang yang mencoba menggambarkan, dan tidak dapat dijelaskan oleh seorang penyair. Namun, aku akan menggambarkan sebagian dari apa yang telah Allah sediakan untuk wali-wali-Nya."
Kemudian ia berkata, "Sesungguhnya di dalam surga terdapat istana dari perak putih, dengan pintu gerbang dari emas merah. Di tengah-tengah istana itu terdapat paviliun dari emas kuning, dan di tengah paviliun itu terdapat ranjang dari batu yakut merah. Di tengah ranjang itu terdapat kasur dari emas dan permata. Dari bawah ranjang itu mengalir empat sungai: sungai dari air yang tidak berubah rasanya, sungai dari susu yang rasanya tidak berubah, sungai dari madu murni, dan sungai dari khamar (minuman surga) yang lezat bagi para peminumnya.
Di atas ranjang itu terdapat kubah dari emas, perak, dan batu yakut, serta di atas bantalnya terdapat gambar seorang pemuda yang tinggi seperti Adam, tampan seperti Yusuf, lemah lembut seperti Isa, dan berakhlak seperti Nabi Muhammad ﷺ. Mereka bersama istri-istri mereka, menikmati keindahan surga, dan di sekeliling mereka terdapat pepohonan yang rindang serta aliran sungai yang jernih.
Ketika wanita itu mendengar penjelasan Dzu al-Nun, ia bertanya, "Wahai orang Mesir, apakah engkau benar-benar yakin dengan apa yang engkau katakan?" Lalu ia menarik napas panjang dan akhirnya meninggal dunia.
Semoga Allah Ta'ala merahmatinya :
"Tidakkah sudah waktunya, wahai sahabat, untuk kau bangun? Dan agar engkau bernapas dengan lega, baik yang dalam maupun yang ringan?"
"Sudah datang ubanmu sebagai peringatan, maka ambillah peringatan itu. Orang-orang telah memasang tempat tidur mereka dan tidur, serta telah mengadakan pesta pernikahan. Namun, panggilan kematian telah datang, menyeru mereka dari atas kubah-kubah."
"Maut terus berputar di atas kepala mereka seperti kuda liar yang melesat atau seperti awan yang bergulung. Maut tidak berhenti mengejar mereka untuk menggiring mereka ke liang lahat satu per satu, hingga para musuh di istana megah pun merasakan sempitnya liang kubur."
"Tidakkah kau ingin melepaskan jiwamu dari tipu daya dunia? Karena kelak kau akan melewati jembatan shirath yang halus dan tajam, di mana hanya orang-orang yang jujur dan setia yang akan selamat."
"Saat kita menangis, itu bukan karena takut, tetapi karena meratap. Kita tidak mendengar di sekeliling kita selain tangisan dan rintihan, yang memutus sendi-sendi tubuh dan otot-otot mereka."
Jembatan Shirath digoncangkan di atas neraka,
Orang-orang jujur melaluinya dengan tenang,
Sedangkan yang berdosa jatuh ke dalamnya.
Jika mereka berpegang teguh, mereka tidak akan tergelincir,
Namun ketakutan mereka membuat mereka menangis.
Minuman mendidih disediakan bagi mereka,
Memotong organ-organ tubuh mereka,
Menyebabkan luka-luka di tubuh mereka.
Mereka yang sombong jatuh ke dalamnya,
Dengan wajah yang tampak mengerikan,
Dan mata yang terbuka lebar karena ketakutan.
Angin kencang meniup debu,
Menyebarkan mereka ke segala arah.
Ya Allah, yang Maha Baik dan Maha Pemurah,
Yang dimohon oleh semua makhluk di langit dan bumi,
Kami memohon kepada-Mu untuk menjaga ketaatan kami,
Dan jangan biarkan kami dalam kelalaian.
Jadikan bulan ini sebagai saksi bagi kami,
Dan bukan sebagai saksi atas kejahatan kami,
Jadikan kami orang-orang yang diterima taubatnya,
Yang mendapat ampunan dan ridha-Mu,
Menikmati surga yang kekal,
Karena Engkau adalah Tuhan yang Maha Pemurah.
Ya Allah, jadikanlah bulan Ramadhan ini sebagai saksi kebaikan bagi kami,
Dan bukan sebagai saksi keburukan terhadap kami.
"Ya Allah, tempatkanlah kami di surga, negeri orang-orang yang didekatkan kepada-Mu. Baikkanlah akhir hidup kami pada hari pembalasan. Janganlah Engkau mempermalukan kami karena perbuatan buruk kami di hadapan manusia. Kami adalah hamba-hamba-Mu yang fakir dan miskin. Kami berharap rahmat-Mu dan takut akan azab-Mu. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh dan wali-wali-Mu yang bertakwa.
Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, dengan rahmat-Mu, wahai Zat yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar