Kamis, 20 Maret 2025

BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM IBADAH



Mengenai Dzikir Sepuluh Malam Terakhir, Mencari Lailatul Qadar, dan Keutamaan Bersungguh-sungguh dalam Amal


Segala puji bagi Allah yang menerangi hati para wali-Nya dengan cahaya kedekatan dan meninggikan derajat para kekasih-Nya. Dia menjadikan mereka sebagai pengingat di alam semesta, menyucikan rahasia orang-orang yang tulus dengan kebeningan cinta, dan mengkhususkan mereka dengan kemuliaan dalam agama dan kesetiaan. Dia memberikan mereka dari kelezatan hubungan dengan-Nya, meminumkan kepada mereka cawan cinta kasih, sehingga mereka datang mencari keridhaan-Nya dengan langkah-langkah para pelopor.

Mereka menanggung kesulitan karena beban kerinduan, hati mereka dipenuhi dengan cahaya perlindungan-Nya, dan Dia mengutus kepada mereka awan kelembutan-Nya. Dia memilih mereka dengan kasih sayang-Nya dan meridhoi mereka dengan penglihatan-Nya. Dia memberikan mereka kebahagiaan pada hari pertemuan, menampakkan keadilan-Nya dalam membinasakan kaum yang menentang, serta menetapkan hukuman atas mereka dengan penderitaan dan kesengsaraan.

Dia menjadikan bagi mereka dari kehinaan sebagai belenggu yang mengikat tangan dan leher mereka. Bagi mereka azab di dunia, dan bagi mereka di akhirat siksa yang lebih pedih, serta mereka tidak memiliki penolong dari Allah.

**"Wahai orang yang terputus dari hisab! Wahai orang yang musibahnya telah menutup wajahnya dari pintu! Wahai orang yang telah ditetapkan baginya siksa dalam kitab yang nyata! Demi Allah, sungguh kehancurannya tidak tertahankan!

Maha Suci Allah yang telah membangunkan para hamba yang tertidur, membangkitkan mereka dari kelalaian, serta mengarahkan perhatian mereka kepada tempat yang kekal. Mereka pun bangkit dengan tekad untuk bersegera dan berlomba-lomba menuju balasan, lalu mereka berdiri teguh di atas pijakan kesungguhan, bersaing dalam perlombaan. Allah Ta'ala telah menetapkan ketentuan-Nya atas orang-orang beriman dan kafir, dan memutuskan urusan kedua golongan itu dengan musibah yang mengguncangkan mereka dari kelalaian duniawi menuju negeri ini (akhirat), dan menjadikan waktu-waktu mereka dipenuhi cinta dan kasih sayang.

Aku memuji-Nya atas karunia-Nya yang melimpah, dan aku bersyukur kepada-Nya dengan syukur orang yang mengakui kelemahan dalam bersyukur. Aku merasa rendah diri di antara keagungan dan kebesaran-Nya.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, kesaksian yang murni, jernih sumbernya, dan aku berharap dengannya keselamatan dari api neraka yang sangat dahsyat, serta terhindar dari kehinaan dan kebinasaan. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang cahayanya menerangi seluruh makhluk dengan kesempurnaan mutlak.

Dengan beliaulah terjadi peristiwa Isra' di atas Buraq, hingga beliau mencapai batas tertinggi. Semoga Allah senantiasa mencurahkan salawat dan salam kepadanya, kepada keluarganya, dan para sahabatnya, yang selalu mengikuti jejak langkahnya, hingga hari kebangkitan nanti."**

Allah Ta'ala berfirman:

۞ لَيْسُوا۟ سَوَآءً ۗ مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ أُمَّةٌ قَآئِمَةٌ يَتْلُونَ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ ﴿١١٣

يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَأُو۟لَٰٓئِكَ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿١١٤

"Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (sholat)".

Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh."  QS. Ali Imran 113-114)

Ayat ini merupakan pujian kepada para pengikut Nabi ﷺ. Di antara para ulama Ahli Kitab, ada yang beriman kepada beliau ﷺ. Mereka adalah umat yang memiliki sifat-sifat tersebut—umat yang tegak dalam menjalankan perintah Allah, tunduk kepada syariat-Nya, dan berpegang teguh kepada-Nya.

Mereka adalah umat yang tegak (قائمة), yang berarti: mereka selalu konsisten dalam membaca ayat-ayat Allah pada waktu malam, sementara mereka bersujud. Maksudnya adalah mereka melaksanakan shalat malam (tahajjud), banyak membaca Al-Qur'an dalam shalat mereka, dan khusyuk dalam ibadah mereka, baik dalam sujud maupun berdiri.

Mereka membaca ayat-ayat Allah dengan penuh kekhusyukan dan tadabbur. Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir. Mereka juga senantiasa mengajak kepada kebaikan (amar ma'ruf), mencegah kemungkaran (nahi munkar), dan bersegera dalam melakukan berbagai kebaikan.

Dalam ayat ini terdapat pujian bagi mereka serta penegasan akan kemuliaan dan kedudukan mereka di sisi Allah.

Dan ketahuilah bahwa para ulama banyak berbeda pendapat mengenai kapan Lailatul Qadr.

Yang benar adalah bahwa ia terjadi di bulan Ramadan dan memiliki keistimewaan serta pahala yang lebih besar dibanding malam-malam lainnya. Namun, terjadi perbedaan pendapat mengenai waktu pastinya.

Dalam hadis sahih dari Ibnu Umar, disebutkan bahwa seorang lelaki dari sahabat Nabi ﷺ melihat Lailatul Qadr dalam mimpi pada tujuh malam terakhir. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Aku melihat bahwa mimpi kalian (tentang Lailatul Qadr) bertepatan pada tujuh malam terakhir. Maka, barang siapa ingin mencarinya, hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir itu."

Dalam Sahih Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Carilah Lailatul Qadr dalam sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang dari kalian lemah atau tidak mampu, maka jangan sampai tertinggal dari tujuh malam terakhir."

Dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah رضي الله عنها, disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"Carilah Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan."

Dalam riwayat al-Bukhari disebutkan: "Ia berada dalam malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan."

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Carilah Lailatul Qadr dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, pada malam ke-9, ke-7, dan ke-5."

Dalam riwayat lain: "Ia ada di malam ke-7 yang tersisa."

Dalam hadis dari Abu Bakrah رضي الله عنه, disebutkan bahwa Lailatul Qadr lebih banyak terjadi pada malam-malam ganjil.

Abdullah bin Anas رضي الله عنه meriwayatkan bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang Lailatul Qadr. Pada malam ke-30 Ramadan, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Carilah malam itu pada malam ke-29."

Jadi, berdasarkan berbagai riwayat, Lailatul Qadr terjadi di sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil.

Seorang laki-laki dari kaum itu berkata, "Wahai Rasulullah, apakah aku harus mencari Lailatul Qadar pada malam pertama?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Bukan malam pertama, tetapi carilah pada tujuh malam terakhir." Namun, beliau tidak memastikan bahwa malam itu pasti terjadi setiap tahun. (Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad).

Abu Said al-Khudri biasa mandi setiap malam pada tanggal dua puluh tiga, dua puluh lima, dan dua puluh tujuh, lalu memakai pakaian baru. Ia mengatakan, "Malam dua puluh empat adalah untuk para pemuda," yang berarti untuk orang-orang yang kuat penglihatannya.

Terdapat riwayat tentang berbagai tanda yang muncul pada malam yang diberkahi ini, yang menunjukkan bahwa Allah menyembunyikannya agar manusia bersemangat dalam beribadah, sebagaimana Allah menyembunyikan waktu mustajab pada hari Jumat.

Menurut mazhab Syafi'i, malam Lailatul Qadar terjadi pada malam dua puluh tujuh Ramadan, dan ini adalah pendapat yang masyhur dalam mazhabnya.

Diriwayatkan dari Ali dan Ibn Mas'ud bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam dua puluh tiga atau dua puluh tujuh.

Imam al-Syafi'i berkata, "Malam Lailatul Qadar terjadi pada malam dua puluh tiga." Ini juga merupakan pendapat penduduk Madinah, berdasarkan sabda Nabi ﷺ, "Hitunglah malam yang kesembilan, kesebelas, dan ketiga belas dalam sepuluh malam terakhir."

Dikatakan juga, "Janganlah merasa aman dari sepuluh malam terakhir." Hal ini digunakan sebagai dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam dua puluh tiga. Namun, malam dua puluh tiga bukanlah yang terakhir dalam sepuluh malam terakhir, sehingga pendapat ini tidak pasti.

Dalam Shahih Muslim, diriwayatkan dari Abdullah bin Unais bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Pada malam Lailatul Qadar, aku bermimpi bahwa aku sujud di tanah yang basah dan berlumpur." Maka, pada pagi hari tanggal dua puluh tiga, beliau melaksanakan shalat Subuh, dan bekas air dan lumpur terlihat di dahinya.

Rasyid bin Sa’id meriwayatkan dari Zuhrah bin Ma’bad, ia berkata:
“Aku mengalami mimpi basah di tanah musuh saat berada di laut pada malam kedua puluh tiga Ramadhan. Lalu aku pergi untuk mandi, tetapi aku jatuh ke dalam air. Namun aku merasa air ini tawar, aku pun memanggil teman-temanku untuk memberi tahu mereka bahwa aku berada di air yang tawar.”

Ibnu Abdul Barr berkata: “Malam ini dikenal sebagai ‘Lailah al-Juhani’ di Madinah,” yakni malam yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Anis al-Juhani.

"Dan telah diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwatta' darinya (yaitu Nabi ﷺ), bahwa beliau bersabda: 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang lelaki yang tinggal di pinggiran kota, maka perintahkanlah aku untuk turun ke sana pada suatu malam.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: 'Turunlah pada malam kedua puluh tiga.' Dan akan datang penjelasan lebih lanjut tentangnya, insya Allah Ta'ala."

Fasal ;

Dikatakan dalam al-Lata’if: Ketika para sahabat mendengar firman Allah Ta’ala:

"Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhan kalian",
Allah Ta’ala berfirman;
"Berlombalah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi",
mereka memahami bahwa maksud dari perintah itu adalah bahwa setiap individu dari mereka harus bersungguh-sungguh dalam beramal sehingga dapat mencapai derajat tinggi tersebut. Maka, salah seorang dari mereka, ketika melihat seseorang melakukan suatu amal yang tidak mampu ia lakukan, ia merasa sedih karena tidak bisa mengamalkannya seperti yang lain. Kesedihannya itu bukanlah karena dunia, tetapi karena kehilangan pahala di akhirat, sebagaimana firman Allah تعالى:
"Itulah keutamaan yang mereka berlomba-lomba untuk mendapatkannya".

Kemudian datang sekelompok orang yang membalikkan keadaan; mereka malah berlomba-lomba dalam urusan dunia dan melupakan akhirat.

Al-Hasan berkata: "Jika engkau melihat seseorang bersaing denganmu dalam urusan dunia, maka bersainglah dengannya dalam urusan akhirat."

Wahb bin al-Ward berkata: "Jika engkau mampu agar tidak ada seorang pun yang lebih taat kepada Allah darimu, maka lakukanlah."

Sebagian ulama salaf berkata: "Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat kepada Allah darinya, maka seharusnya ia merasa sedih karena hal itu."

Yang lain berkata: "Seandainya seseorang mendengar bahwa ada orang lain yang lebih taat kepada Allah darinya, namun ia tidak merasa sedih karena itu, maka ia bukanlah orang yang memiliki kecintaan yang benar kepada Allah."

Seorang lelaki berkata kepada Mālik bin Dīnār: "Aku melihat dalam mimpi seorang penyeru menyeru: 'Wahai manusia, wahai manusia, perjalanan telah dimulai! Namun, aku tidak melihat seorang pun yang menaiki kendaraan kecuali Muḥammad bin Wāsiʿ.' Maka aku berteriak kemudian jatuh pingsan.'

 firman Allah:

وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ ۝ أُو۟لَٰئِكَ ٱلْمُقَرَّبُونَ

"(Dan orang-orang yang terdahulu, merekalah yang terdahulu. Mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Allah))."

Orang yang memiliki tekad tinggi, jiwa yang mulia, dan cahaya syariat yang membara, tidak akan merasa puas dengan hal-hal duniawi yang fana. Sesungguhnya, semangatnya selalu mengarah kepada derajat yang tinggi dan kemuliaan yang abadi. Ia tidak akan berhenti dari pencariannya, sekalipun harus mengorbankan dirinya. Barang siapa yang berada dalam jalan Allah, Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik.

Dikatakan kepada sebagian orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah: "Mengapa tubuh ini tidak merasakan kelelahan?" Dia menjawab: "Aku menginginkan kemuliaan yang abadi."

Jika jiwa-jiwa memiliki ambisi yang besar, maka tubuh akan mampu bertahan meskipun melewati kesulitan.

ʿUmar bin ʿAbd al-ʿAzīz berkata: "Sesungguhnya jiwaku selalu merindukan sesuatu, tetapi ketika ia mendapatkannya, ia menginginkan sesuatu yang lebih tinggi. Ketika ia mencapai kekhilafahan dunia ini, ia merindukan yang lebih tinggi darinya, hingga akhirnya ia mendambakan surga."

Seorang budak datang kepada Umar bin Abdul Aziz dan berkata kepadanya bahwa dia melihat dalam mimpi seolah-olah jembatan shirath telah dibentangkan di atas neraka Jahannam, sementara neraka itu menggelegak dengan para penghuninya. Dia menyebutkan bahwa dia melihat seseorang yang melewatinya, lalu api mengambilnya. Dia berkata, "Aku melihatmu berada di atas shirath, wahai Amirul Mukminin! Maka ia jatuh pingsan di tempat dengan keadaan bergetar." Sambil menangis aku berseru di telinganya, "Aku melihatmu selamat! Demi Allah, engkau telah selamat."

Sebagian ulama salaf (orang-orang terdahulu) yang mendapat rahmat Allah berkata: "Aku melihat seorang pemuda di puncak gunung, dengan bekas sujud di dahinya dan air mata mengalir di pipinya. Aku bertanya kepadanya, 'Siapa kamu, semoga Allah merahmatimu?' Dia menjawab, 'Aku adalah seorang budak yang melarikan diri dari pemilik Nya.' Aku bertanya, 'Apakah engkau mau kembali dan meminta maaf kepada majikan?' Dia menjawab, 'Permintaan maaf memerlukan alasan yang kuat.' 'Bagaimana seorang yang sengaja berbuat salah dapat meminta maaf?' Aku berkata, 'Engkau membutuhkan seseorang yang dapat memberikan syafaat kepadanya.'"

Mereka semua takut padanya. Aku bertanya: "Siapa dia?" Mereka berkata: "Majikan ku yang telah membesarkan ku sejak kecil, tetapi kini setelah aku tua aku durhaka kepada nya." Aku merasa sangat  malu kepadanya ketika melihat kelembutan dan kebaikan perbuatannya dan betapa buruknya perbuatanku. Kemudian dia berteriak dan jatuh mati. Semoga rahmat Allah tercurah kepadanya.

Lalu keluar seorang wanita tua dan berkata: "Siapa yang membantu membunuh orang yang putus asa ini?" Aku berkata: "Aku ingin membantumu mengurus jenazahnya." Dia berkata: "Biarkan jasad orang yang putus asa ini berbaring disini, semoga majikannya melihat  jasad orang ini lalu berbelas kasih dan memaafkan nya ."

Maka demikianlah keadaan kaum itu dalam memperlakukan para wali mereka, sementara kita menggabungkan antara kebaikan dan keburukan. Maka tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah.

Ahmad dan dua Syaikh (Bukhari dan Muslim) meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata:

" Pamanku, Anas bin Nadhar, tidak menyaksikan (perang) pada hari Badar" Maka ia merasa sedih dan berkata: "Perang pertama yang disaksikan oleh Rasulullah ﷺ, aku tidak hadir di dalamnya! Jika Allah memberikanku kesempatan untuk menyaksikan peperangan setelahnya bersama Rasulullah ﷺ, pasti Allah akan melihat apa yang aku lakukan."

Ketika perang Uhud terjadi, ia berkata: "Aku takut untuk mengatakan hal lain selain yang telah kukatakan itu." Maka ia berperang bersama Rasulullah ﷺ .

Sa'ad bin Mu'adz bertemu dengannya dan bertanya: "Ke mana engkau (hendak pergi)?" Ia menjawab: "Demi Allah, aku mencium bau surga di balik Uhud ini!"

Lalu mereka pun bertempur hingga ia terbunuh. Kemudian ia ditemukan dalam keadaan tubuhnya penuh luka, dengan lebih dari delapan puluh bekas tusukan pedang, tombak, dan panah. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudarinya, yang mengenalinya dari jari-jarinya.

Maka turunlah ayat ini:

"Di antara orang-orang mukmin terdapat orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu (giliran), serta mereka tidak sedikit pun mengubah (janjinya)." (QS. Al-Ahzab: 23).

Para sahabat berpendapat bahwa ayat ini turun mengenai dirinya dan para sahabatnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah (ﷺ) bersabda:
"Aroma surga tercium dari jarak perjalanan lima ratus tahun, tetapi tidak akan mendapatinya orang yang mengungkit  ungkit pemberian, orang yang durhaka kepada orang tuanya, dan peminum khamr."
(Diriwayatkan oleh Al-Thabrani dan Abu Nu'aym).

Juga dari Nabi (ﷺ), beliau bersabda:
"Barang siapa membunuh seorang yang memiliki perjanjian (dengan kaum Muslimin), maka ia tidak akan mencium aroma surga, padahal aromanya bisa tercium dari jarak perjalanan tujuh puluh tahun."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya).

Dari Tsauban radhiyallahu anhu, Rasulullah (ﷺ) bersabda:
"Setiap wanita yang meminta cerai dari suaminya tanpa alasan yang dibenarkan, maka haram baginya mencium bau surga."

Ibnu al-Qayyim berkata dalam kitab Ḥādī al-Arwāḥ:

 "Angin surga ada dua jenis: angin yang terdapat di dunia, yang dapat dihirup oleh ruh-ruh, namun terkadang tidak bisa ; dan angin yang dirasakan oleh indra penciuman tubuh, sebagaimana tubuh mencium aroma bunga dan lainnya. Angin ini dapat pula dialami oleh para penghuni surga ketika di akhirat, baik dari jarak dekat maupun jauh.

Adapun di dunia, maka siapa pun yang dikehendaki Allah dari hamba-hamba-Nya dan rasul-Nya bisa merasakan aroma tersebut. Ini seperti yang dialami oleh Anas bin al-Naḍr, yang menemukan wangi surga. Bisa jadi itu termasuk dalam kategori ini, dan Allah-lah yang lebih mengetahui."

Allah Ta’ala telah menjadikan di dunia ini jejak-jejak dari surga, dengan menumbuhkan di dalamnya aroma yang harum, kenikmatan yang menggoda, pemandangan yang indah, buah-buahan yang baik, kebahagiaan, kesenangan, serta ketenangan mata.

Abu Nu'aym meriwayatkan dari hadis al-A'masy dari Abu Sufyan dari Jabir yang berkata:

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Allah berkata kepada surga: 'Engkau perindah dan perindah bagi penghunimu.' Maka surga semakin bertambah baik dan indah. Demikian juga dengan embusan udara dingin yang dirasakan manusia pada waktu sahur, itu berasal darinya. Sebagaimana Allah menjadikan api dunia sebagai peringatan akan api neraka di akhirat."

Allah Ta’ala berfirman:
"Kami jadikan (panas dan dingin) itu sebagai peringatan."

Nabi ﷺ juga mengabarkan bahwa panas dan dingin yang sangat adalah bagian dari hembusan neraka Jahannam. Maka, hendaknya kita menyaksikan tanda-tanda neraka dan mengingatkan diri kita dengannya. Dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Orang-orang yang mengenal Allah merasakan kelezatan dalam kesendirian mereka ketika bermunajat kepada-Nya. Mereka melihat nikmat yang diberikan-Nya sebagai tujuan utama mereka, sedangkan dunia bagi mereka adalah hal yang tidak berarti.

Ibrahim bin Adham berkata:
"Seandainya para raja dan anak-anak raja mengetahui kelezatan yang kami rasakan dalam bermunajat kepada Allah, niscaya mereka akan memerangi kami dengan pedang untuk merebutnya."

Orang lain berkata:
"Orang-orang miskin dari kalangan penduduk dunia, mereka telah pergi dari dunia tanpa merasakan hal yang terbaik di dalamnya."

Lalu ditanya: "Apa yang terbaik di dalamnya?"
Dia menjawab: "Cinta kepada Allah Ta’ala, mengenal-Nya, dan mengingat-Nya."

Dan seseorang berkata: "Sesungguhnya, ada saat-saat bagi hati di mana ia bergembira dengan kebahagiaan."

Orang lain berkata: "Sesungguhnya, ada saat-saat di mana aku berkata: Jika penghuni surga berada dalam keadaan seperti ini, maka sungguh mereka berada dalam kehidupan yang baik."

Syekh al-Islam Ibnu Taimiyyah, semoga Allah mensucikan jiwanya, berkata: "Sesungguhnya di dunia ini ada surga; barang siapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat."

Maha Suci Allah, betapa indahnya surga ibadah-Nya sebelum bertemu dengan-Nya! Pintu-pintunya terbuka bagi mereka di dunia amal. Maka mereka pun menikmatinya bersama pasangan, kerabat, dan teman-teman yang baik, serta mengosongkan pikiran mereka untuk mencarinya dan berlomba menuju ke sana.

Dalam Syair dikatakan;
"Seandainya engkau melihat keadaan orang-orang yang diliputi cinta,
Ketika bintang-bintang bergerak menuju cakrawala,
Sebagian manusia memohon ampun atas dosa mereka,
Sementara yang lain sedang shalat, dan yang ini sedang bersujud."

Dan seharusnya seorang hamba berlomba dalam kebaikan dan bersaing untuk mencapai derajat yang tinggi.

Diriwayatkan bahwa Allah Ta’ala mewahyukan kepada Nabi Dawud alaihisalam: 

"Wahai Dawud, sesungguhnya aku sangat gembira apabila seorang hamba meminta ampun kepada-Ku, dan Aku lebih mengasihinya ketika ia bertobat dari dosanya, dan Aku lebih mencintainya ketika ia kembali kepada-Ku. Wahai Dawud, apakah para pemuda Bani Israil telah kehilangan akal mereka sehingga tidak mau kembali kepada-Ku, padahal Aku begitu rindu kepada mereka? Wahai Dawud, bagaimana ini? Jika saja orang-orang yang berpaling itu mengetahui betapa Aku menanti mereka, betapa Aku rindu agar mereka meninggalkan maksiat dan kembali kepada-Ku, serta betapa Aku mengharapkan mereka dari hamba-hamba-Ku yang mencintai-Ku, niscaya mereka akan mati karena kerinduan kepada-Ku."

Wahai hamba Allah, ketahuilah bahwa Allah adalah Rabb segala sebab, pembuka segala pintu, Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi. Maka, di manakah orang-orang yang berdosa? Hendaklah orang-orang yang takut kepada-Nya merendahkan diri, dan hendaklah air mata para pendosa mengalir dari kedalaman hati yang gelisah. Sesungguhnya Allah memberi dan memuji, menutup dosa dan mengampuni, sementara seorang hamba melakukan dosa dan bersikap melampaui batas, namun Allah tetap mengampuni.

Yang Maha Besar menerima yang sedikit, dan menerima taubat orang yang kembali meskipun ia kurang (sempurna), serta membebaskan tawanan yang terikat. Maka, anugerah Tuhan begitu besar, dan nikmat-Nya begitu luas.

Syair:

Limpahkanlah karunia-Mu kepadaku, wahai Pencipta kebaikan,
Agar Engkau menjauhkanku dari hukuman atas dosaku.

Aku memohon dengan penuh keindahan, karena aku yakin kepada-Mu,
Aku mengingat masa-masa pertemuan di taman keridaan,

Air mataku pun mengalir deras hingga seakan-akan tak berhenti.

Engkaulah tempat perlindunganku, wahai Tuanku dan sandaranku,
Harapanku adalah syafaat-Mu, maka terimalah aku.

Sungguh, ampunan yang indah dari-Mu menenangkanku,
Kekasihku tampak dalam mimpiku, menghampiriku dan membahagiakanku.

Air mataku mengalir deras, namun tak membasahi kelopak mataku.

Ya Allah, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Agung, wahai Pemilik anugerah dan keutamaan, kami kembali kepada-Mu dengan anugerah dan rahmat-Mu.
Teguhkanlah kami untuk kembali kepada-Mu, dan sibukkanlah kami dengan berkhidmat kepada-Mu.

Ya Allah, wahai Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi, wahai Yang Maha Menampakkan segala rahasia, ampunilah dosa-dosa kami yang menyebabkan kebinasaan,
dan tutupilah segala aib kami pada hari perhitungan.

Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat,
dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar