Tentang Keutamaan I'tikaf dan Menetap di Masjid
Segala puji bagi Allah yang telah menjelaskan jalan petunjuk bagi para hamba-Nya dengan ayat-ayat dan tanda-tanda kekuasaan-Nya, serta menggerakkan hati orang-orang yang beribadah menuju taubat yang jujur dan bersungguh-sungguh.
Dia memulai keutamaan-Nya dengan anugerah dan kemurahan, lalu menurunkannya di dalam hukum-hukum yang jelas dan kokoh.
Dia menurunkan dari langit kebaikan dan membuka pintu-pintu ampunan bagi yang mengetuknya dengan munajat dan istighfar yang tulus.
Sesungguhnya Dia Maha Pemurah, mengabulkan doa, mengampuni kesalahan, dan memberikan karunia kepada orang-orang pilihan.
Dia yang menghapus dosa-dosa karena kemurahan-Nya, dan mengganti musibah dengan ganjaran di sisi-Nya yang berlipat ganda.
Dialah yang menganugerahkan keteguhan bagi orang yang taat kepada-Nya, serta membimbing hati orang-orang beriman agar semakin bertambah keyakinan dan ketakwaannya.
Dia adalah Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Dermawan, yang tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi siapa pun yang beramal dengan penuh keikhlasan.
Dia tidak akan berpaling dari seorang hamba yang kembali kepada-Nya dengan taubat yang tulus, karena Dia telah berjanji untuk mengabulkan doa orang-orang yang memohon kepada-Nya.
Atas kebijaksanaan-Nya, Dia menurunkan ujian bagi hamba-hamba-Nya, lalu memberikan ganjaran bagi mereka yang bersabar.
Dia-lah Yang Maha Mengabulkan segala permohonan dan harapan, Pemilik cahaya yang menerangi kegelapan, Pencipta segala pasangan, dan Pembentuk segala rupa makhluk.
Di lautan tak terbatas, perahu-perahu kehidupan berlayar menuju kebesaran dan keagungan-Nya, mengarungi gelombang ketentuan-Nya yang penuh rahasia.
Dialah Yang Maha Esa dengan hakikat keesaan-Nya, Yang Maha Mengetahui segala urusan, serta Yang Maha Menyaksikan segala yang terjadi.
Tiada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, dan segala kunci rahasia berada dalam genggaman-Nya.
Maha Suci Allah yang disucikan dalam segala waktu, siang dan malam, dan di tengah keberkahan serta ketenangan.
Aku memuji-Nya atas kemudahan yang diberikan-Nya dalam segala urusan, dan aku bersyukur kepada-Nya atas penerimaan amal meskipun sedikit, serta atas pahala yang dilipatgandakan dan pujian atas kesabaran dalam menghadapi hal-hal yang tidak disukai serta cobaan.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Kesaksianku ini aku jadikan sebagai perantara untuk mendapatkan cinta-Nya, sebab kesaksian itu adalah kunci bagi yang memiliki kunci.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diutus-Nya dengan petunjuk dan kebaikan.
Semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, kepada keluarganya, serta kepada sahabat-sahabatnya, khususnya kepada Abu Bakr As-Shiddiq, sahabat pilihan yang menemaninya di dalam gua, dialah yang menyerahkan harta dan jiwanya demi Rasulullah.
Juga kepada Umar Al-Faruq, yang keadilannya bersinar seperti matahari di tengah hari, serta yang keutamaannya seperti kunci pembuka pintu kemenangan dan keberhasilan.
Juga kepada Utsman Dzun Nurain, yang pedangnya terhunus di leher orang-orang kafir, dan kepada Ali, suami putri Rasulullah, serta keempat khalifah lainnya yang menjadi saksi kebenaran di negeri keabadian.
Wahai yang mencela para sahabat, sungguh kerugian dan kemurkaan telah menimpamu! Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada seluruh sahabat, dari yang pertama hingga yang terakhir.
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad serta kepada mereka semua.
Allah Ta‘ala berfirman:
فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ ﴿٣٦﴾
رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلْقُلُوبُ وَٱلْأَبْصَٰرُ ﴿٣٧﴾
"(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang,"
"orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat)," (QS. An-Nur: 36-37).
Ayat-ayat ini berisi perintah untuk mengingat masjid-masjid, yaitu tempat-tempat yang paling dicintai Allah di muka bumi. Masjid adalah rumah Allah yang dibangun untuk ibadah kepada-Nya dan mengesakan-Nya. Di dalamnya, Allah memerintahkan untuk memakmurkannya dan membersihkannya dari najis, kotoran, perkataan sia-sia, dan perbuatan yang tidak layak.
Allah memuji orang-orang yang memakmurkan rumah-Nya dengan ibadah dan menyebutkan bahwa Dia telah mengizinkan rumah-rumah itu untuk ditinggikan, dimuliakan, serta disebut nama-Nya di dalamnya.
Ibnu Abbas berkata:
“Meninggikan maksudnya adalah memuliakannya dan menjaganya. Ini juga menjadi isyarat akan keutamaan para sahabat Nabi dan usaha mereka dalam membangun serta memakmurkan masjid.”
Ulama salaf yang shalih berusaha keras dalam memakmurkan masjid. Mereka mendatanginya sejak awal siang, dan mereka mendapatkan pahala dan ganjaran di dalamnya.
Ibnu Abbas berkata:
Yang dimaksud adalah shalat subuh dan asar, mereka datang berduyun-duyun dengan keadaan yang tidak ada di hati mereka sedikit pun niat berdagang atau mencari keuntungan dunia, mereka tidak datang karena takut akan manusia, dan mereka tidak menyibukkan diri dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka datang dengan penuh ketaatan kepada Allah dan mengharap pahala serta rahmat-Nya, serta mendahulukan ketaatan, kecintaan dan perintah Allah daripada kesenangan dan kecintaan terhadap diri mereka sendiri.
Al-Muthar Al-Waraq berkata:
Mereka dahulu berniaga dan berdagang namun ketika terdengar suara panggilan shalat maka mereka meninggalkan perniagaan mereka dan bergegas menuju masjid.
Terdapat beberapa hadis yang menjelaskan keutamaan menjaga masjid, meramaikannya, dan berulang kali mendatanginya. Kami akan menyebutkan sebagian yang bermanfaat.
Dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
- Pemimpin yang adil,
- Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah,
- Seorang laki-laki yang hatinya selalu terkait dengan masjid,
- Dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena Allah,
- Seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, 'Sesungguhnya aku takut kepada Allah,'
- Seorang laki-laki yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya,
- Seorang laki-laki yang mengingat Allah dalam kesunyian lalu ia meneteskan air mata."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
"Jika kalian melihat seorang laki-laki yang senantiasa mendatangi masjid, maka saksikanlah bahwa ia adalah seorang yang beriman."
Kemudian beliau membaca firman Allah: 'Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.'
(HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya)
Dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Barang siapa mencintai masjid, Allah akan mencintainya."
(HR. Ath-Thabarani)
Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa membangun masjid, sekecil apa pun (sesuai dengan kemampuan), maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga."
(HR. Al-Bukhari)
Diriwayatkan oleh Asy-Syaibani dari Utsman bin Affan bahwa ia berkata, "Ketika orang-orang mengatakan (tentang pembangunan masjid): 'Kalian telah memperbanyaknya.' Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barang siapa membangun masjid dengan mengharap wajah Allah, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga.'"
Dari Abu Darda’, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Barang siapa berjalan dalam kegelapan malam menuju masjid, maka ia akan menemui cahaya Allah pada hari kiamat." (Diriwayatkan oleh At-Thabarani).
Ibnu Hibban meriwayatkan dari Buraidah bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya sempurna pada hari kiamat." (Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud).
Diriwayatkan oleh At-Thabarani dari Salman, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Barang siapa berwudu di rumahnya dengan sempurna, lalu pergi ke masjid, maka ia adalah tamu Allah, dan hak bagi yang dikunjungi untuk memuliakan tamunya."
Rasulullah ﷺ bersabda: "Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa dan mengangkat derajat?" Mereka menjawab, "Ya, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Menyempurnakan wudu saat kondisi sulit, banyak melangkah menuju masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, itulah yang disebut ribath (kesungguhan dalam ibadah)." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Qirashah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Mengeluarkan kotoran dari masjid adalah mahar bidadari." (Diriwayatkan oleh at-Tabarani).
Diriwayatkan oleh al-Ashbahani dari Anas dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Membersihkan masjid adalah mahar bidadari."
Ketika Nabi ﷺ melihat dahak di arah kiblat masjid, beliau tampak tidak menyukainya di hadapan orang-orang, lalu beliau menggosoknya.
Perawi berkata: Beliau memanggil saffron (za'faran), lalu meletakkannya di tempat itu, kemudian bersabda:
"Sesungguhnya Allah menghadapi wajah salah seorang dari kalian ketika ia shalat, maka janganlah ia meludah di hadapannya."
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).
Dilarang dalam masjid untuk membuang ludah, ingus dan selebihnya.
Termasuk di antara hal-hal yang dilarang di masjid adalah perkara-perkara yang sia-sia, seperti permainan dadu, catur, dan sejenisnya.
Termasuk pula yang dilarang di masjid adalah jual beli, mengeraskan suara, melantunkan syair-syair yang tidak bermanfaat, serta memasukkan najis dan kotoran.
Juga dilarang berbicara di dalam masjid dengan perkataan yang tidak ada manfaatnya, membicarakan urusan dunia, dan membicarakan keburukan serta aib orang lain. Selain itu, diharamkan menjadikan masjid sebagai tempat mencari penghasilan dalam segala bentuk usaha.
Adab Masuk dan Berada di Masjid
Disunnahkan ketika masuk ke dalam masjid untuk mendahulukan kaki kanan, lalu mengucapkan:
"Bismillah, shalawat dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu."
Tidak boleh duduk sebelum melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, kecuali dalam keadaan tidak memungkinkan untuk shalat, seperti saat masuk di waktu yang dilarang untuk shalat, namun tetap dalam keadaan berwudu.
Disunnahkan untuk menyibukkan diri dengan berzikir, membaca Al-Qur’an, dan shalat. Ketika keluar dari masjid, dianjurkan untuk membaca:
"Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu karunia-Mu."
Di antara orang yang memiliki keutamaan adalah mereka yang senantiasa meramaikan dan berdiam diri di masjid.
Diriwayatkan dari Ali bin Husain dari ayahnya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa beri‘tikaf selama sepuluh hari di bulan Ramadan, maka ia seperti melakukan dua kali haji dan dua kali umrah." (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi).
Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa beri‘tikaf sehari semata-mata mengharap wajah Allah Ta‘ala, maka Allah akan menjauhkan antara dirinya dan neraka sejauh tiga parit, yang setiap parit lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi." (Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan al-Hakim).
Dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim), Aisyah رضي الله عنها berkata:
"Nabi ﷺ beri‘tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan hingga Allah mewafatkan beliau. Setelah itu, istri-istri beliau pun beri‘tikaf setelahnya."
Aisyah رضي الله عنها juga berkata:
"Sunnah bagi orang yang beri‘tikaf adalah tidak menjenguk orang sakit, tidak menyaksikan jenazah, tidak menyentuh wanita, tidak mencampurinya, dan tidak keluar untuk suatu keperluan kecuali yang tidak bisa dihindari. Tidak ada i‘tikaf kecuali dalam keadaan berpuasa. Dan tidak ada i‘tikaf kecuali di masjid jami‘." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan sanadnya kuat).
Dan Nabi ﷺ melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga Allah ﷻ mewafatkan beliau. Kemudian istri-istrinya meneruskannya setelah beliau wafat. Beliau juga pernah beri’tikaf selama sepuluh hari di bulan Syawal. Pernah pula beliau beri’tikaf pada sepuluh hari pertama, kemudian sepuluh hari pertengahan bulan Ramadan, kemudian diberitahukan kepadanya bahwa Lailatul Qadar ada di sepuluh malam terakhir. Maka beliau tetap beri’tikaf hingga wafatnya. Dan beliau memerintahkan agar dipasang tenda di dalam masjid untuk beliau beri’tikaf.
Saudara-saudaraku, orang-orang yang beruntung telah berlalu, mereka telah sampai pada tujuan mereka dan mendapatkan hasilnya. Sedangkan yang lain mengalami kegagalan karena kelalaian mereka dan terperdaya oleh kesalahan-kesalahan mereka. Mereka telah terperangkap dalam jeratan syahwat dan tertahan. Wahai orang yang terlena, sampai kapan engkau akan tenggelam dalam hawa nafsu dan kebodohan ini? Tidakkah engkau sadar bahwa kematian akan datang tiba-tiba, dan bahwa dunia ini tidak akan bertahan lama bagimu?
Apakah engkau mengira bahwa kematian tidak akan menjemputmu? Jika kematian datang, maka tidak ada yang dapat menghalanginya. Ketika ajal tiba, tidak ada penolong dan tidak ada pemberi syafaat. Kematian datang dengan kekuasaannya, dan engkau akan mendapati dirimu di hadapan penguasa yang Maha Adil. Saat itu, tidak ada lagi kesempatan untuk menebus dosa-dosa yang telah lalu, dan segala kesenangan dunia telah berlalu. Yang tersisa hanyalah penyesalan, dan engkau akan merasakan dampak dari amal perbuatanmu. Maka tetaplah dalam keadaan sujud dan rukuk!
Sebagaimana disebutkan dalam syair:
"Wahai orang yang menyeru keadilan dalam kegelapan,
Sesungguhnya engkau telah berdiri dan membaca doa di rumah yang suci, lalu menangis.
Engkau masih hidup, maka bangkitlah dan janganlah lalai,
Apakah engkau memiliki jaminan bahwa engkau tidak akan wafat dalam kesalahan?"
"Wahai yang mulia, yang menunjukkan akhlak dengan kemurahan,
Siapa yang akan membantumu jika engkau tidak kembali dengan taubat?"
Fasal ;
Allah Ta’ala berfirman:
"Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu berada dalam kesibukan yang menyenangkan. Mereka dan pasangan-pasangan mereka berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan. Mereka di dalamnya memperoleh buah-buahan dan apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan:) 'Salam,' sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang." (QS. Yasin: 55-58)
Dan Dia berfirman:
"Di dalamnya mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami ada tambahannya." (QS. Qaf: 35)
Diriwayatkan dari ‘Ikrimah tentang firman-Nya: "Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu berada dalam kesibukan yang menyenangkan." Ia berkata: "Dalam kesenangan bersama para bidadari yang perawan."
Ibnu Mas‘ud berkata: "Kesibukan mereka adalah dalam hubungan suami istri."
Dari Anas, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang beriman akan diberi kekuatan seratus kali lipat dalam hubungan suami istri di surga." (HR. Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: "Seorang laki-laki bertanya: 'Wahai Rasulullah, apakah kita akan berkumpul dengan istri-istri kita di surga?' Rasulullah ﷺ menjawab: 'Sesungguhnya seorang laki-laki akan memiliki seratus keperjakaan dalam satu malam.'" (Diriwayatkan oleh Thabrani dan al-Bazzar dengan sanad sahih)
Diriwayatkan juga dari Rasulullah ﷺ, bahwa seseorang bertanya kepadanya:
"Apakah ada hubungan suami istri di surga?"
Beliau ﷺ menjawab: "Ya, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seseorang akan mendekati istrinya dengan penuh gairah, lalu ketika ia selesai, istrinya akan kembali suci dan perawan seperti semula."
At-Tirmidzi dan lainnya meriwayatkan dari hadits Laits bin 'Amir bahwa ia berkata:
"Wahai Rasulullah, atas dasar apakah kita mengenali penduduk surga?"
Beliau bersabda:
"Di atas sungai-sungai dari madu yang murni, sungai-sungai dari khamar yang lezat bagi peminumnya, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai dari air yang tidak tawar. Buah-buahan yang beraneka ragam, makanan yang tidak basi, dan istri-istri yang suci."
Aku berkata: "Wahai Rasulullah, apakah kita memiliki istri-istri yang kita cintai?"
Beliau bersabda:
"Istri-istri yang salehah bagi orang-orang saleh. Mereka merasa nikmat di dunia dan merasa lebih nikmat bersama kalian kecuali tanpa melahirkan."
At-Tirmidzi juga meriwayatkan dan menghasankannya, serta Al-Baihaqi dan Abu Asy-Syaikh dari Abu Sa'id Al-Khudri, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seorang mukmin, jika menginginkan anak di surga, maka kehamilan dan kelahirannya terjadi dalam satu jam sesuai keinginannya."
Sebagian orang bertanya tentang kehamilan dan kelahiran di surga, dan sebagian memahami bahwa mereka tidak melahirkan.
Ath-Thabarani meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ ditanya:
"Apakah penduduk surga menikah?"
Beliau bersabda:
"Ya, dengan kenikmatan dan syahwat tanpa hamil dan tanpa terputus putus ".
Diriwayatkan dari Tirmidzi bahwa Nabi ﷺ ditanya: "Apakah penghuni surga akan berhubungan badan?" Beliau menjawab: "Tidak ada pengeluaran mani dan tidak ada pemotongan kenikmatan, tetapi hanya kenikmatan yang terus-menerus."
Dikatakan bahwa syahwatnya akan berlangsung dalam dua tubuh selama tujuh puluh tahun tanpa ada kebosanan atau kejenuhan.
Mereka akan bersenang-senang dengannya sebagai bentuk kehormatan dan kebersihan, tanpa adanya kelemahan atau keletihan, tetapi dengan kekuatan dan kepuasan yang sempurna. Tidak ada kotoran atau ketidaksempurnaan dalam wajah mereka. Orang-orang yang paling sempurna di dunia adalah mereka yang menjaga diri dari yang haram. Barang siapa yang menjaga dirinya dari kenikmatan haram di dunia, maka di akhirat ia akan mendapatkannya dalam bentuk yang lebih sempurna. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
"Dan adapun orang-orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan dirinya dari hawa nafsu, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya." (QS. An-Nazi'at: 40-41)
Sa‘īd bin Manṣūr dan lainnya meriwayatkan dari al-Sya‘bī mengenai firman Allah Ta‘ālā:
"Belum pernah mereka disentuh oleh manusia maupun jin."
Ia berkata: "Mereka adalah wanita-wanita penghuni dunia yang Allah ciptakan kembali dalam penciptaan yang lain."
Sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:
"Sungguh, Kami menciptakan mereka dengan penciptaan yang istimewa. Lalu Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya usianya."
Mereka belum tersentuh semenjak penciptaan, baik oleh manusia maupun jin.
Lalu muncul perbedaan pendapat, apakah yang dimaksud adalah wanita dunia atau bidadari surga?
Disebutkan dalam(haadi arwah) berkata: "Zahir Al-Qur’an menunjukkan bahwa mereka ini bukan wanita dunia, melainkan termasuk dari bidadari surga."
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Nabi ﷺ tentang sabdanya:
"Sesungguhnya penghuni surga itu memiliki bidadari-bidadari yang sangat indah," beliau bersabda: "Melihat ke wajahnya lebih menyenangkan daripada melihat ke dunia dan segala isinya. Dan seandainya salah seorang dari mereka menampakkan dirinya di antara timur dan barat, maka cahaya wajahnya akan memenuhi antara keduanya. Dan sesungguhnya mahkota yang berada di atas kepalanya lebih baik daripada dunia dan segala isinya." Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad.
Inilah pasangan bagi penduduk surga. Dan sesungguhnya mereka hanya diciptakan sebagai penghormatan bagi kaum yang mulia, yang telah menghabiskan hidup mereka dalam puasa dan salat malam.
Allah Ta’ala berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)
Allah telah memilih kaum yang menjauhi kenikmatan dunia dan kehinaannya, sehingga mereka menghindar darinya. Jika dunia mengejar mereka, mereka menjauh, dan jika mereka mendatanginya, mereka mengambilnya dengan hati-hati. Maka ketika mereka datang pada hari kiamat, Allah berfirman:
"Sesungguhnya mereka diberi pahala mereka karena kesabaran mereka." (QS. Al-Insan: 12)
Malam bagi mereka adalah tempat berjaga, lembaran dosa mereka telah terkoyak, dan mereka meninggalkan kesenangan sehingga hidup mereka menjadi berkah.
Cintailah Sang Kekasih, agungkanlah Dia, dan bersungguh-sungguhlah dalam mencarinya, lalu berhati-hatilah. Maka perhatikanlah apa yang mereka tuju dalam zikir dan ingatlah firman Allah:
"Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka."
Hati mereka hadir dalam khidmat, rahasia mereka terus bersama kejujuran hingga akhir hayat. Berapa banyak kerinduan di dalam dada mereka yang hancur? Berita mereka menghidupkan hati saat disebarkan. Dikatakan tentang mereka, jika mereka disebut, mereka pun hidup:
"Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka."
Mereka telah pergi, namun masih hidup dalam ingatan yang mencintai. Mereka menjauhi dunia dan meninggalkannya dalam kehancuran. Mereka memulai perjalanan dengan azam yang besar dan tekad yang kuat. Maka dikatakan kepada setiap orang yang menunda-nunda: "Minumlah, wahai orang yang tidak mengerti!" Dan mereka yang menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan, maka hendaknya mereka membaca:
"Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka."
Ketahuilah bahwa dunia hanyalah permainan dan hiburan, serta perhiasan semata. Barang siapa yang menginginkan kebenaran, maka ia akan teguh dalam tujuannya. Janganlah tertipu oleh tipuan dunia dan perhiasannya. Jadilah seperti kapal yang telah mengarungi lautan takwa, mengarunginya dengan bekal dan ibrah:
"Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka."
Berbahagialah mereka!
Malaikat-malaikat menyambut mereka. Mereka takut akan kedahsyatan hari kiamat, lalu mereka pun merasa aman. Mereka datang kepada-Nya dengan penuh harap, maka Allah memberikan mereka minuman yang menyegarkan. Tirai-tirai telah disingkapkan dari hati mereka, sehingga mereka dapat melihat dengan mata kepala mereka sendiri. Para bidadari bermata indah menyambut mereka di surga. Maka berbahagialah mereka, sungguh mereka telah sampai pada kemenangan besar!
Dalam lantunan Syair:
Maka mengapa engkau terusir, sedangkan selainmu mendapatkan tempat?
Apakah engkau memiliki bagian dalam memanfaatkan musim-musim ini,
yang dengannya diperoleh keuntungan bagi orang-orang yang memiliki keutamaan?
Dan engkau berusaha untuk sesuatu yang engkau inginkan, namun tidak tercapai.
Ya Allah, wahai Yang Maha Pemurah, wahai Yang Maha Dermawan, wahai Yang Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya!
Wahai Tuhan yang menepati janji ketika telah berjanji, dan mengampuni ketika telah menimpakan dosa!
Kami memohon kepada-Mu surga dan segala yang mendekatkan kami kepadanya, baik dari amal perbuatan maupun ucapan.
Dan kami memohon perlindungan kepada-Mu dari neraka dan segala yang mendekatkan kami kepadanya, baik dari amal perbuatan maupun ucapan.
Ya Allah, wahai Pemilik Kemuliaan yang Agung dan anugerah yang luas!
Kami memohon kepada-Mu agar Engkau memasukkan kami ke dalam taman-taman surga,
Menganugerahi kami kenikmatan dengan memandang wajah-Mu yang mulia,
Memberikan kami bagian dari keridhaan-Mu,
Menjaga kami dengan keselamatan dan ampunan-Mu,
Serta mengampuni orang tua kami dan seluruh kaum Muslimin, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal,
Dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar