POTRET PARA SALAF
Segala puji bagi Allah yang memilih di antara hamba-hamba-Nya orang-orang yang layak untuk beribadah dan bertakwa, menjadikan mereka sebagai pelayan dan membagi-bagikan bagian mereka serta meninggikan kedudukan mereka.
Dia mengkhususkan mereka dengan kedekatan-Nya, memandang mereka dengan rahmat-Nya, dan mengambil perjanjian atas mereka dengan janji yang kuat dan teguh.
Maka Dia mendekatkan mereka, menghubungkan mereka dengan perjumpaan dan pertemuan dari kedekatan diri mereka ke hadirat kedekatan-Nya.
Dia memberi mereka minum dengan cawan tasbih dan pensucian, minuman yang telah dituangkan sejak dahulu.
Maka setiap orang di antara mereka meneguk seteguk minuman-Nya, nyaman ketika mendengar khitab-Nya, dan terangkat ke hadirat keagungan-Nya serta mencapai tempat yang tinggi. Dia menjadikan mereka sebagai tempat penyimpanan rahasia-rahasia kekasih-Nya.
Ketika mereka berpaling dari selain-Nya, Dia membukakan bagi mereka pintu yang tidak terkunci, lalu terpancarlah hembusannya ke dalam relung-relung hati, sehingga mereka mencium aroma keghaiban yang tersembunyi dan menyebarkan wewangian rahasia-Nya.
Aku memuji-Nya, dan Dia adalah ahlinya pujian, kedermawanan, dan keutamaan. Aku bersyukur kepada-Nya dengan rasa syukur yang lebih tinggi dari tempat tertinggi rahasia-Nya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya. Kesaksian yang dengannya aku berharap memperoleh keselamatan pada hari pertemuan dengan-Nya.
Dan aku bersaksi bahwa junjungan kita, Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepada beliau serta para sahabatnya, yang setelah kepergian beliau, penduduk bumi merasa asing dan rindu.
Imam al-Wa‘izh Abu al-Faraj ‘Abd al-Rahman ibn al-Jawzi—semoga rahmat Allah atasnya—menyebutkan dalam beberapa kitab dan nasihat terkenalnya dari Wahb ibn Munabbih, bahwa ia pernah ditanya oleh sekelompok Khawariyiin (pengikut setia Nabi Isa alaihisalam):
"Wahai Utusan Allah!
Siapakah para wali Allah yang tidak ada rasa takut atas mereka, dan mereka tidak bersedih hati?"
Isa ‘alayhis-salam menjawab:
"Mereka adalah orang-orang yang menatap batin dunia, sedangkan manusia memandang lahirnya. Mereka melihat dunia sebagaimana manusia melihat bangkainya, lalu mereka menjauhinya karena takut akan najisnya.
Mereka mengetahui bahwa dunia akan membinasakan mereka, maka mereka pun membencinya dan meninggalkannya. Mereka menyadari bahwa dunia akan pergi meninggalkan mereka, maka mereka pun menganggapnya rendah dan menghindarinya.
Dunia menimpa mereka sebagai cobaan, namun mereka bersabar; menimpa mereka sebagai musibah, namun mereka berserah diri.
Apa yang datang kepada mereka dari dunia, mereka makan sekadar kebutuhan, dan mereka buang sisanya seperti orang yang takut terhadap racun.
Mereka melihat kemegahan dunia sebagai kehinaan, kebanggaannya sebagai kebodohan, kekayaannya sebagai kefakiran, dan kenikmatannya sebagai duka.
Dunia bukanlah tujuan mereka, bukan pula kebahagiaan yang mereka cari, melainkan mereka jadikan dunia sebagai tempat persinggahan, seperti orang yang mengadakan perjalanan.
Mereka menunda mengingat dunia, dan mendahulukan mengingat kematian. Mereka beriman kepada janji Allah, dan mereka merasakan kebahagiaan dengan janji-Nya, sebagaimana seseorang bergembira dengan berita baik.
Mereka adalah kaum yang membaca kitab-Nya, lalu mengamalkannya. Mereka memperhatikan perintah Tuhan mereka, lalu melaksanakannya.
Mereka berpuasa di siang hari, tidak berharap akan balasan kecuali dari-Nya. Mereka salat di malam hari tanpa rasa takut terhadap siksa-Nya.
Mereka menghindari kebinasaan, mereka mengamalkan kebaikan, dan mereka berada di jalan petunjuk."
Wahai saudara-saudaraku, dengarkanlah sifat-sifat kaum ini!
Mereka menyembunyikan kehormatan, menegakkan malam dengan shalat, menyebarkan kedamaian, memberikan makanan, melazimkan puasa, dan shalat di malam hari ketika manusia sedang tidur.
Mereka menjauhi dosa dan memisahkan diri dari maksiat, serta menyendiri dalam munajat kepada Raja (Allah) dalam kegelapan malam. Mereka menaati Allah, maka Allah menghapus dosa-dosa mereka, mengangkat derajat mereka, membersihkan hati mereka, menutupi aib mereka, mengampuni dosa-dosa mereka, dan ketika mereka dizalimi, mereka memaafkan.
Mereka mengenali Tuhan mereka, maka mereka pun mengenal-Nya. Mereka melihat dunia sebagai ladang untuk beribadah, maka mereka pun berusaha menanam amal. Mereka menemukan keuntungan dalam ketaatan mereka, dan mereka berpegang teguh pada kejujuran serta kesetiaan dalam pergaulan.
Mereka berdoa di waktu sahur, sementara air mata mereka mengalir deras di atas pipi. Wahai, siapakah yang tidak terselimuti oleh kegelapan? Janganlah suara-suara mengganggu kami. Ya Allah, selamatkanlah kami dari kegelapan berbagai bencana.
Wahai Tuhan yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan mengampuni kesalahan mereka, siapakah yang akan kembali kepada-Mu jika Engkau menutup pintu harapan? Dan siapakah yang akan mencapai derajat yang tinggi jika tidak memiliki semangat dalam perjalanan menuju-Mu?
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata:
"Ketika Rasulullah ﷺ bangun pada malam hari untuk tahajjud, beliau berdoa:
'Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Engkaulah Pengatur langit dan bumi serta segala isinya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Pemilik langit dan bumi serta segala isinya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Cahaya langit dan bumi serta segala isinya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Kebenaran, janji-Mu adalah benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, surga adalah benar, neraka adalah benar, para nabi adalah benar, Muhammad ﷺ adalah benar, hari kiamat adalah benar.
Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dengan-Mu aku berargumen, dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah aku atas dosa-dosa yang telah kulakukan dan yang akan kulakukan, yang aku sembunyikan dan yang aku nampakkan. Engkaulah yang Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan. Tiada Tuhan selain Engkau.'"
Diriwayatkan pula dari sebagian ulama rahimahumullah, bahwa ada seorang salih yang menghabiskan malamnya dalam shalat. Setelah selesai, ia bersujud dan menangis dengan tangisan yang sangat dalam.
Lalu ia berkata dalam munajat nya ;
Tuhanku, pintu para raja telah tertutup, tetapi pintu-Mu tetap terbuka bagi mereka yang meminta.
Tuhanku, bintang-bintang telah menghilang, mata telah terpejam, dan Engkaulah Yang Maha Hidup, Maha Tegak, yang tidak pernah mengantuk dan tidak tidur.
Tuhanku, semua orang telah membentangkan tempat tidurnya dan setiap kekasih telah berbaring di samping kekasihnya. Namun, Engkaulah Kekasih para hamba yang bangun di waktu malam dan Penghibur mereka yang merasa kesepian.
Tuhanku, jika Engkau mengusirku dari pintu-Mu, lalu kepada siapa aku harus berlindung? Jika Engkau memutuskan aku dari rahmat-Mu, kepada siapa aku harus mencari perlindungan?
Tuhanku, jika Engkau menyiksaku, maka aku pantas menerima siksa dan hukuman. Namun, jika Engkau mengampuniku, Engkaulah Tuhan yang penuh kemurahan dan kemuliaan.
Kemudian, ia duduk, mengangkat kedua tangannya, menangis, dan berkata:
"Wahai Tuhanku, orang-orang yang mengenal-Mu telah mencapai kesucian, dengan karunia-Mu orang-orang saleh selamat, dan dengan rahmat-Mu orang-orang yang berdosa berani berharap. Wahai Tuhan yang memiliki ampunan yang indah, limpahan rahmat, dan manisnya pengampunan, jika Engkau tidak mengampuni, lalu siapa lagi yang berhak atas ketakwaan dan ampunan?"
Saudara-saudaraku:
Ketahuilah bahwa ini adalah bulan yang diberkahi hari-harinya. Bulan ini adalah sebab untuk menghapus dosa-dosa dan kesalahan. Di dalamnya tersedia pahala dan kebaikan yang berlimpah, dan di akhir bulan ini, Allah memilih dari hamba-hamba-Nya orang-orang yang dibebaskan dari neraka.
Saudara-saudaraku:
Ini adalah bulan puasa. Apakah kalian melihat orang yang menjaga batasan puasanya, menahan diri dari perkataan sia-sia dan dusta di dalamnya, serta mempersiapkan amal saleh untuk hari kebangkitan agar selamat? Berapa banyak puasa yang rusak tetapi tidak menggugurkan kewajibannya, dan berapa banyak orang yang berpuasa tetapi dihinakan oleh hisab (perhitungan) pada hari perhitungan? Berapa banyak orang yang durhaka di bulan ini sehingga bumi mengeluh darinya dan langit bersaksi atasnya?
Maka, siapakah di antara kita yang termasuk golongan yang diterima dan siapa yang termasuk golongan yang ditolak? Siapa yang mendekat dan siapa yang menjauh? Siapa yang bahagia dan siapa yang celaka? Sungguh, urusan ini telah menjadi serius. Demi Allah, betapa banyak orang yang bahagia di bulan ini dengan menjaga hari-harinya dan menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa.
Kebinasaan bagi orang yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.
Sekelompok orang dari kalangan para wali Allah berpuasa dengan sempurna, lalu Allah menolong mereka untuk menegakkan malam dengan salat, sehingga mereka berdiri dalam ibadah sepanjang malam. Mereka mengosongkan tubuh mereka dari segala kesibukan duniawi dan menyibukkan diri mereka hanya dengan ibadah. Keinginan mereka terhadap ibadah begitu besar sehingga mereka tidak memikirkan hal lain.
Orang yang beruntung adalah orang yang sibuk dengan pelayanan kepada Allah, sementara mereka yang lain sibuk dengan urusan duniawi. Mereka merasakan kenikmatan dalam munajat kepada-Nya, sehingga mereka berkata:
"Sungguh luar biasa keutamaan ini, kami menabungnya sebagai bekal untuk perpisahan dengan bulan puasa, dan kami merasa sedih dengan kepergian malam-malam tahajud dan qiyamullail, karena ini adalah musim untuk meraih rahmat dan ampunan."
Sebagian ulama salaf berkata: "Qiyamul lail meringankan panjangnya hari kiamat."
Diriwayatkan bahwa orang-orang yang rajin bangun malam akan memasuki surga dengan hisab yang ringan, dan mereka akan merasa nyaman dari lamanya waktu penantian di Padang Mahsyar.
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bahwa Nabi ﷺ bersabda:
"Waktu yang paling dekat bagi seorang hamba dengan Rabbnya adalah di sepertiga malam terakhir. Jika engkau mampu termasuk di antara orang-orang yang berzikir kepada Allah pada saat itu, maka lakukanlah!"
Dalam Syair dikatakan;
"Barang siapa yang tidak menangisi masa mudanya sebelum uban menghiasi kepalanya dan semangatnya meredup, maka hendaklah ia tetap bersedih dengan penuh penyesalan."
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, hingga susu kembali ke dalam putingnya (yang artinya mustahil terjadi).”
Hasan al-Basri berkata:
"Jika seorang hamba menangis karena takut kepada Allah, maka Allah akan merahmati orang-orang di sekitarnya, meskipun jumlah mereka dua puluh ribu orang."
Kisah-kisah tentang tangisan karena takut kepada Allah:
- Air mata Ibn Abbas mengalir deras bagaikan tali air yang mengalir.
- Sa‘id bin Jubair menangis di malam hari hingga matanya tertutup (membengkak).
- Sebagian orang berkata: "Para penceramah seharusnya lebih banyak menyesali dosa-dosa dan bersegera melakukan kebaikan daripada hanya mengingatkan orang lain."
Ingatlah saat berdirimu di hari kebangkitan dalam keadaan asing,
Api menyala dengan dahsyat karena kemurkaan dan kemarahan Tuhan.
Di tempat di mana Tuhan menampakkan keadilannya,
Dikatakan kepada orang yang berbuat dosa:
"Bacalah kitabmu, wahai hamba-Ku, dengan perlahan.
Ketika engkau membaca kitab yang tidak meninggalkan sedikit pun (dari amal perbuatanmu),
Allah Yang Maha Agung berfirman: 'Ambillah dia, wahai malaikat-Ku!'
Wahai Tuhan, janganlah Engkau membuat kami bersedih pada hari perhitungan.
Lihatlah apa yang ada di dalamnya, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.
Bawalah hamba-Ku menuju timbangan (untuk ditimbang amalnya).
Dosa-dosa kami sungguh besar,
Maka jadikanlah keberkahan-Mu ada dalam diri kami pada hari ini, wahai Penguasa kami."
Maka bayangkanlah dirimu, wahai saudaraku, ketika sakaratul maut telah menimpamu, dan engkau telah turun ke dalam kuburan serta ditinggalkan sendirian di dalamnya.
Kemudian ada seseorang berkata: "Si Fulan telah berwasiat," dan orang lain berkata: "Si Fulan telah meninggal dunia." Namun, lidahnya sudah membisu, ia telah melupakan orang-orang yang dikasihinya, tidak dapat berbicara dengan saudara-saudaranya, tidak mampu menjawab pertanyaan, dan tidak bisa lagi menanggapi ucapan orang lain.
Demikian pula dirimu, engkau akan diambil dari ranjangmu menuju papan jenazahmu, dan orang-orang akan membawa jenazahmu dari rumahmu. Mereka akan memandikanmu, mengafanimu, lalu membawamu ke liang kubur.
Keluarga, sahabat, dan saudara-saudaramu akan menangis karena kepergianmu. Setelah itu, mereka akan meninggalkanmu sendirian, dan engkau pun akan lenyap dari dunia ini tanpa keberadaan dan tanpa perasaan.
Maka bersegeralah dalam melakukan kebaikan selama engkau masih hidup di dunia, dan manfaatkanlah waktu di saat kesempatan masih ada. Hadapkanlah dirimu kepada karunia Allah, karena sungguh ada pintu anugerah yang hanya berada di tangan-Nya, khususnya pada bulan Ramadan.
Betapa banyak orang yang meraih derajat tinggi karena ketaatan, dan mereka menikmati waktu-waktu mereka dalam kesendirian dengan doa dan munajat kepada-Nya.
Dalam Syair dikatakan:
Apabila malam telah menjadi gelap seperti hati mereka,
Rasa takut mengusir tidur mereka, maka mereka pun bangun.
Sementara orang-orang yang merasa aman di dunia terlelap dalam tidur,
Mereka berada dalam kegelapan malam, namun mereka dalam keadaan sujud.
Dari malam itu, dada-dada mereka merasa lapang.
Imam al-Wa‘izh Ibn al-Jawzi menyebutkan dalam sebagian kitabnya, ia berkata:
Yusuf bin Asbath menulis surat kepada Hudzaifah al-Mar‘ashi, semoga Allah merahmati keduanya:
"Adapun setelah itu, maka aku berwasiat kepadamu ;
**"Bertakwalah kepada Allah dan amalkanlah apa yang telah engkau ketahui dari-Nya, serta laksanakanlah kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya. Berhati-hatilah dari sifat riya, karena sesungguhnya tidak ada yang diberkahi selain Allah. Maka, tanggalkanlah dari kepalamu topeng orang-orang lalai, dan sadarilah bahwa engkau berada dalam perjalanan menuju kematian. Bersiaplah untuk perlombaan esok hari, karena dunia ini adalah medan perlombaan bagi para pesaing. Janganlah engkau tertipu oleh orang yang menampakkan keraguan dan menyibukkan diri dengan status serta meninggalkan amal.
Ketahuilah, wahai saudaraku tercinta, bahwa tidak ada pilihan lain bagiku selain berdiri di hadapan Allah Yang Maha Tinggi, yang akan meminta pertanggungjawaban kita atas perkara-perkara yang halus dan tersembunyi, serta dari Tuhan Yang Maha Agung atas segala yang nyata. Aku tidak merasa aman dari ujian-Nya, begitu pula engkau.
Maka, berhati-hatilah dari bisikan-bisikan hati, lirikan mata, dan ketertarikan dalam mendengarkan sesuatu yang tidak baik. Ketahuilah, wahai saudaraku tercinta, bahwa engkau harus memanfaatkan waktu untuk amal saleh pada waktunya, serta meninggalkan perkara-perkara yang dilarang dan mencintai orang-orang miskin, sebagaimana yang telah dianjurkan oleh junjungan kita, pemimpin orang-orang terdahulu dan yang akan datang."**
Dan di antara mereka ada yang berkata:
Apakah engkau terjaga ataukah tidur?
Bagaimana tidur dapat menutup matamu, wahai orang yang terbuai?
Seandainya engkau bangun di pagi hari dengan cemas,
Air matamu akan membanjiri pelupuk mata.
Siang harimu terbuai oleh kelalaian dan permainan,
Malam harimu terlelap dalam tidur dan kesenangan.
Sebagaimana seseorang bermimpi dalam tidurnya,
Demikian pula dunia itu hanyalah ilusi yang berlalu.
Engkau sibuk dengan sesuatu yang akan engkau tinggalkan,
Dan terlena dalam sesuatu yang akan engkau sesali kehilangannya.
Dan disebutkan dalam beberapa kitab bahwa Manshur bin Zadhan biasa mengkhatamkan Al-Qur'an antara waktu Zuhur dan Asar.
Ia mengkhatamkannya kembali antara Maghrib dan Isya'.
Kemudian ia menangis sepanjang malam hingga fajar tiba.
Air matanya membasahi seluruh janggutnya,
Dan tidak berhenti mengalir hingga seluruh janggutnya benar-benar basah.
Lalu ia meremas dan mengeringkan janggutnya di antara kedua tangannya.
Ia terus melakukan demikian hingga dua puluh tahun.
Kemudian dikatakan kepadanya,
"Jika Engkau mati hari atau besok, maka ia tidak mampu lagi untuk menambah amal ibadah nya ( karena sudah sangat banyak)."
Dan Ibnu Mas'ud berkata:
"Sungguh, bagi seorang pembaca Al-Qur'an,
seharusnya ia dikenal di malam hari ketika manusia tidur,
dikenal di siang hari ketika manusia sibuk,
dikenal dengan tangisannya ketika manusia tertawa,
dikenal dengan kesedihannya ketika manusia bergembira,
dikenal dengan ketundukannya ketika manusia sombong,
dikenal dengan diamnya ketika manusia banyak bicara."
Wahb bin al-Ward berkata:
Seseorang pernah bertanya kepadanya, “Tidakkah engkau tidur?” Ia menjawab, “Sesungguhnya keajaiban-keajaiban Al-Qur’an telah menghalangiku untuk tidur.”
Tiada Tuhan selain Allah!
Allah-lah yang telah memperbaiki keadaan orang-orang terdahulu. Kita bukanlah mereka, dan mereka pun bukanlah kita. Jika dunia ini hanya sekadar tanah liat yang dapat digenggam dengan tangan, maka betapa seringnya ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan kepada kita, tetapi hati kita tetap keras, bahkan lebih keras dari batu.
Berapa banyak bulan Ramadan yang telah berlalu atas kita, dan keadaan kita tetap seperti keadaan orang-orang yang lalai? Tidak ada pemuda di antara kita yang menjauhi maksiat, tidak ada orang tua yang menahan diri dari hal yang buruk, dan orang tua yang seharusnya menjadi panutan malah tenggelam dalam kefasikan.
Maka, di manakah kita dibandingkan dengan mereka yang, ketika mendengar seruan Allah, segera memenuhi panggilan-Nya?
Ketika ayat-ayat-Nya dibacakan kepada mereka, hati mereka gemetar, kulit mereka merinding, dan mata mereka menangis. Tetapi kita? Lidah kita membaca Al-Qur’an, tetapi hati kita tidak memahami maknanya, telinga kita mendengar, tetapi tidak meresapi, dan mata kita melihat, tetapi tidak mengambil pelajaran.
Berapa banyak perbedaan antara kita dan orang-orang yang ikhlas?
Berapa banyak jarak antara kita dan orang-orang yang murni dalam keimanan? Setiap kali ucapan kita baik, perbuatan kita buruk.
Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar