Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi
1 Rajab 1432 H — Di antara Amalan Hati: Rasa Takut dan Harapan
Khatib: Syekh Ali bin Abdurrahman Al-Hudzaifi hafizhahullah
Khutbah pertama
Segala puji bagi Allah Yang Mahatinggi lagi Mahamulia. Milik-Nya segala yang ada di langit, segala yang ada di bumi, segala yang ada di antara keduanya, dan segala yang ada di bawah tanah.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى﴾
“Segala yang ada di langit, segala yang ada di bumi, segala yang ada di antara keduanya, dan segala yang ada di bawah tanah adalah milik-Nya. Jika engkau mengeraskan ucapanmu, sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (QS. Thaha: 6–7).
Aku memuji Rabb-ku dan bersyukur kepada-Nya atas segala yang telah Dia karuniakan. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan milik-Nya nama-nama yang paling indah.
Aku juga bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang terpilih.
Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya yang saleh lagi bertakwa.
Amma ba'du.
Bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin, dengan sebenar-benar ketakwaan. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam diri kalian, maka berhati-hatilah terhadap-Nya. Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang tersembunyi dari Allah.
### 1\. Kedudukan amalan hati
Wahai hamba-hamba Allah!
Sesungguhnya amalan-amalan hati merupakan perkara yang paling agung dan paling penting. Pahalanya adalah pahala yang sangat besar, sedangkan hukumannya juga merupakan hukuman yang sangat berat.
Amalan anggota badan mengikuti amalan hati dan dibangun di atasnya. Oleh karena itu, dikatakan, “Hati adalah pemimpin seluruh anggota badan, sedangkan anggota badan lainnya adalah pasukan-pasukannya.”
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
«لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ»
“Iman seorang hamba tidak akan lurus hingga hatinya menjadi lurus.” (HR. Ahmad).
Makna lurusnya hati adalah mentauhidkan Allah Tabaraka wa Ta'ala, mengagungkan-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, mencintai ketaatan kepada-Nya, dan membenci kemaksiatan kepada-Nya.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).
Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata kepada seseorang, “Obatilah hatimu! Sebab, yang Allah kehendaki dari para hamba-Nya adalah kebaikan hati mereka.”
Di antara amalan hati yang mendorong seseorang melakukan amal saleh, membuatnya merindukan negeri akhirat, mencegahnya dari perbuatan buruk, menjadikan dunia terasa tidak berharga, dan mengendalikan gejolak jiwa yang durhaka adalah rasa takut dan harapan: takut kepada Allah dan berharap terhadap apa yang ada di sisi-Nya.
Rasa takut kepada Allah Ta'ala menggiring hati untuk melakukan setiap kebaikan dan menghalanginya dari setiap keburukan. Adapun harapan, ia menuntun seorang hamba menuju keridaan dan pahala Allah, membangkitkan semangatnya untuk melakukan amal saleh yang agung, serta menjauhkannya dari perbuatan yang buruk.
Rasa takut kepada Allah mencegah jiwa mengikuti syahwatnya, menghalanginya dari kesesatan, serta mendorongnya menuju segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan dan keberuntungan baginya.
### 2\. Takut kepada Allah merupakan bagian dari tauhid
Rasa takut kepada Allah merupakan salah satu cabang tauhid yang wajib ditujukan kepada Rabb seluruh alam. Adapun mengalihkan rasa takut kepada selain Allah dalam perkara yang merupakan kekhususan Allah merupakan salah satu bentuk kesyirikan kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala.
Allah Ta'ala memerintahkan kita agar takut kepada-Nya dan melarang kita takut kepada selain-Nya. Allah berfirman:
﴿إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾
“Sesungguhnya mereka itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan para pengikutnya. Karena itu, janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang beriman.” (QS. Ali 'Imran: 175).
Allah juga berfirman:
﴿فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا﴾
“Maka janganlah kalian takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku. Janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah.” (QS. Al-Ma'idah: 44).
Allah berfirman pula:
﴿وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ﴾
“Dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus merasa takut.” (QS. Al-Baqarah: 40).
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyampaikan khutbah kepada kami, lalu bersabda:
«لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا»
‘Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.’
Maka para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menutupi wajah mereka sambil terdengar suara isak tangis dari mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Yang dimaksud dengan rasa takut adalah kegelisahan dan keguncangan hati karena mengkhawatirkan hukuman Allah akibat melakukan sesuatu yang diharamkan, meninggalkan kewajiban, atau kurang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amalan sunah. Termasuk pula rasa khawatir apabila Allah tidak menerima amal saleh seseorang. Dengan demikian, jiwa akan tercegah dari perkara-perkara haram dan bersegera melakukan berbagai kebaikan.
### 3\. Perbedaan antara khauf, khasy-yah, wajal, rahbah, dan haibah
Istilah khasy-yah (rasa takut yang disertai pengagungan), wajal (getaran hati karena takut), rahbah (rasa takut yang mendorong menjauhi sesuatu), dan haibah (rasa gentar yang disertai pengagungan) memiliki makna yang berdekatan. Namun, semuanya tidak sepenuhnya sama dengan istilah khauf (rasa takut) dari setiap sisi.
Khasy-yah lebih khusus daripada khauf. Khasy-yah adalah rasa takut kepada Allah yang disertai pengetahuan tentang sifat-sifat-Nya, Yang Mahamulia lagi Mahatinggi.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾
“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).
Dalam kitab hadis sahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«أَمَا إِنِّي أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ»
“Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian.”
Adapun wajal adalah bergetarnya hati dan seolah-olah terbelah karena mengingat Zat yang ditakuti kekuasaan dan hukuman-Nya.
Rahbah adalah menjauh atau melarikan diri dari sesuatu yang tidak disukai.
Haibah adalah rasa takut yang disertai pengagungan dan pemuliaan.
Allah Tabaraka wa Ta'ala adalah Zat yang paling berhak untuk ditakuti, diagungkan, dan digentari.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Khauf merupakan keadaan yang umum di kalangan kaum mukminin, khasy-yah bagi para ulama yang mengenal Allah, haibah bagi orang-orang yang mencintai-Nya, dan ijlal (pengagungan) bagi orang-orang yang didekatkan kepada-Nya. Tingkat rasa takut dan khasy-yah seseorang kepada Allah sesuai dengan kadar ilmu dan pengetahuannya tentang Allah Ta'ala.”
### 4\. Pahala bagi orang yang takut kepada Allah
Allah telah menjanjikan pahala kepada orang yang takut kepada-Nya, lalu rasa takut tersebut menghalanginya dari mengikuti syahwat dan mendorongnya melakukan ketaatan. Allah menjanjikan kepadanya jenis pahala yang paling utama.
Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:
﴿وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ذَوَاتَا أَفْنَانٍ﴾
“Bagi orang yang takut akan kedudukan Rabb-nya, tersedia dua surga. Maka nikmat Rabb kalian berdua yang manakah yang kalian dustakan? Kedua surga itu mempunyai pepohonan yang rindang dan beraneka ragam.” (QS. Ar-Rahman: 46–48).
Kata afnan berarti cabang-cabang pepohonan yang indah dan segar. Atha' berkata, “Setiap cabang menghimpun berbagai jenis buah.”
Allah juga berfirman:
﴿وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى﴾
“Adapun orang yang takut akan kedudukan Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi'at: 40–41).
Allah Tabaraka wa Ta'ala juga berfirman:
﴿وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ﴾
“Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil saling bertanya. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya dahulu, ketika kami berada di tengah keluarga kami, kami selalu merasa takut dan khawatir terhadap azab Allah. Kemudian Allah menganugerahkan karunia kepada kami dan melindungi kami dari azab neraka yang sangat panas. Sesungguhnya dahulu kami selalu berdoa kepada-Nya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Melimpahkan Kebaikan lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ath-Thur: 25–28).
Allah menjelaskan bahwa orang yang takut kepada-Nya akan diselamatkan dari perkara-perkara yang tidak disukai, dicukupkan kebutuhannya, dan dianugerahi akhir kehidupan yang baik.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdul Aziz—yakni Ibnu Abi Rawwad—bahwa telah sampai kepadanya berita bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membaca ayat berikut:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6).
Saat itu, ada beberapa sahabat di sisi beliau, termasuk seorang lelaki tua. Lelaki itu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah batu-batu neraka Jahanam seperti batu-batu di dunia?”
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya satu batu dari neraka Jahanam lebih besar daripada seluruh gunung di dunia.”
Lelaki tua itu pun jatuh pingsan. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangan beliau di dadanya dan mendapati bahwa ia masih hidup. Beliau kemudian memanggilnya seraya berkata, “Wahai orang tua, ucapkanlah la ilaha illallah.”
Lelaki itu pun mengucapkannya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian memberinya kabar gembira berupa surga.
Sebagian sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kabar gembira itu khusus diberikan kepadanya di antara kami?”
Beliau menjawab, “Ya. Allah Ta'ala berfirman:
﴿ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ﴾
“Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut akan kedudukan-Ku dan takut terhadap ancaman-Ku.” (QS. Ibrahim: 14).”
Catatan: Riwayat kisah ini disebutkan oleh khatib melalui Ibnu Abi Hatim. Saya menerjemahkannya sesuai teks yang disampaikan, tanpa bermaksud menetapkan kesahihan sanadnya.
### 5\. Keteladanan generasi salaf dalam rasa takut kepada Allah
Generasi salaf sangat didominasi oleh rasa takut kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala. Mereka tetap memperbagus amal dan mengharapkan rahmat Allah Azza wa Jalla. Oleh sebab itu, keadaan mereka menjadi baik, kesudahan mereka terpuji, dan amal-amal mereka suci.
Umar radhiyallahu 'anhu pernah berkeliling pada malam hari untuk memeriksa keadaan rakyatnya. Ia mendengar seorang lelaki membaca Surah Ath-Thur. Umar pun turun dari keledainya dan bersandar pada sebuah dinding. Setelah peristiwa itu, ia jatuh sakit selama sebulan, sementara orang-orang yang menjenguknya tidak mengetahui penyebab penyakitnya.
Amirul Mukminin Ali radhiyallahu 'anhu pernah selesai menunaikan salat Subuh dengan wajah murung. Ia membolak-balikkan telapak tangannya, lalu berkata:
“Aku telah melihat para sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi pada hari ini aku tidak melihat sesuatu pun yang menyerupai keadaan mereka. Dahulu, mereka bangun pagi dengan rambut kusut, wajah pucat, dan tubuh berdebu. Di antara kedua mata mereka terdapat bekas seperti lutut kambing karena lamanya sujud.
Mereka menghabiskan malam untuk Allah dengan bersujud dan berdiri salat. Mereka membaca Kitabullah, bergantian antara dahi dan kaki mereka—yakni lama bersujud dan berdiri. Ketika pagi tiba, mereka berzikir kepada Allah, lalu tubuh mereka bergoyang seperti pohon yang bergoyang pada hari berangin kencang. Mata mereka bercucuran air mata hingga membasahi pakaian mereka.”
Sufyan Ats-Tsauri pernah jatuh sakit karena rasa takut kepada Allah.
Ketika Abdullah bin Rawahah berpamitan kepada para sahabatnya sebelum berangkat menuju Perang Mu'tah, ia menangis seraya berkata:
“Demi Allah, aku tidak menangis karena sangat merindukan kalian, dan bukan pula karena takut berpisah dengan dunia. Akan tetapi, aku teringat sebuah ayat dari Kitabullah Azza wa Jalla. Allah Ta'ala berfirman:
﴿وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا﴾
“Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabb-mu merupakan ketetapan yang pasti terlaksana.” (QS. Maryam: 71).
Aku tidak tahu bagaimana keadaanku ketika keluar darinya setelah mendatanginya.”
Kisah-kisah tentang rasa takut para salaf kepada Allah masih sangat banyak dan panjang untuk disebutkan seluruhnya.
### 6\. Rasa takut yang terpuji dan rasa takut yang tercela
Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang mendorong seseorang melakukan amal saleh dan mencegahnya dari perkara-perkara yang diharamkan.
Namun, apabila rasa takut melampaui batas yang terpuji, hingga berubah menjadi keputusasaan dan hilangnya harapan terhadap rahmat Allah, maka hal itu termasuk dosa besar.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
“Batas rasa takut yang wajib adalah rasa takut yang mendorong seseorang menunaikan kewajiban dan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan. Jika rasa takut itu bertambah sehingga mendorong jiwa untuk bersungguh-sungguh mengerjakan amalan sunah, menjauhi perkara makruh yang ringan, dan membatasi diri dalam perkara-perkara mubah yang berlebihan, maka hal itu merupakan tambahan yang terpuji.
Namun, jika rasa takut itu semakin bertambah hingga menyebabkan penyakit, kematian, atau kesedihan yang terus-menerus sampai menghalangi seseorang untuk berusaha dan beraktivitas, maka rasa takut seperti itu tidak lagi terpuji.”
Abu Hafsh berkata, “Rasa takut adalah cambuk Allah yang dengannya Dia meluruskan orang-orang yang menyimpang dari pintu-Nya.”
Ia juga berkata, “Rasa takut adalah pelita di dalam hati.”
Abu Sulaiman berkata, “Tidaklah rasa takut meninggalkan sebuah hati melainkan hati itu akan rusak.”
Seorang muslim hidup di antara dua perkara yang membuatnya khawatir: perkara yang telah berlalu, sementara ia tidak mengetahui apa yang akan Allah tetapkan atasnya, dan perkara yang akan datang, sementara ia tidak mengetahui apa yang akan Allah putuskan baginya.
### 7\. Hakikat harapan kepada Allah
Adapun raja’ (harapan), maka maknanya adalah mengharapkan pahala Allah Tabaraka wa Ta'ala atas amal saleh yang dilakukan.
Syarat harapan adalah mendahuluinya dengan amal yang baik serta meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan atau bertobat darinya. Adapun meninggalkan kewajiban, mengikuti hawa nafsu, kemudian hanya berangan-angan dan berharap kepada Allah, maka sikap seperti itu merupakan merasa aman dari makar Allah, bukan harapan yang benar.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾
“Maka tidak ada yang merasa aman dari makar Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A'raf: 99).
Allah Ta'ala telah menjelaskan bahwa harapan kepada-Nya harus disertai dengan amal saleh terlebih dahulu. Harapan tidaklah benar apabila tidak disertai amal saleh.
Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir: 29).
Allah juga berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218).
Harapan merupakan ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah Ta'ala. Barang siapa menggantungkan harapan ibadahnya kepada selain Allah, maka ia telah melakukan kesyirikan.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾
“Maka barang siapa mengharapkan pertemuan dengan Rabb-nya, hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110).
Harapan juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:
«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي»
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
### 8\. Kewajiban menggabungkan rasa takut, harapan, dan cinta kepada Allah
Kewajiban seorang hamba adalah menggabungkan rasa takut dan harapan. Keadaan seorang hamba yang paling sempurna adalah mencintai Allah Ta'ala, dengan rasa takut dan harapan yang seimbang.
Inilah keadaan para nabi 'alaihimush shalatu was salam dan orang-orang beriman.
Allah Ta'ala berfirman tentang mereka:
﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾
“Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan takut, serta senantiasa khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90).
Allah juga berfirman:
﴿تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴾
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Mereka berdoa kepada Rabb mereka dengan rasa takut dan penuh harap, serta menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16).
Apabila seorang muslim mengetahui betapa luas rahmat Allah, betapa agung kemurahan-Nya, betapa besar ampunan-Nya terhadap dosa-dosa yang besar, betapa luas surga-Nya, dan betapa melimpah pahala-Nya, maka jiwanya akan menjadi lapang dan terdorong untuk berharap serta menginginkan berbagai kebaikan besar yang ada di sisi Allah.
Sebaliknya, apabila ia mengetahui betapa dahsyat hukuman Allah, betapa keras tindakan dan siksa-Nya, betapa berat perhitungan-Nya, betapa mengerikannya keadaan pada hari kiamat, betapa menakutkannya neraka, serta beragamnya azab di dalamnya, maka jiwanya akan tertahan dan terkendali. Ia akan berhati-hati dan takut terhadap hukuman Allah.
Oleh sebab itu, terdapat hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنِطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ»
“Seandainya seorang mukmin mengetahui hukuman yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berani mengharapkan surga-Nya tanpa rasa takut. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berputus asa dari surga-Nya.” (HR. Muslim).
Allah Azza wa Jalla sering kali menggabungkan penyebutan ampunan dan azab di dalam Kitab-Nya.
Di antara firman-Nya adalah:
﴿وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia meskipun mereka berbuat zalim, dan sesungguhnya Rabb-mu sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Ar-Ra'd: 6).
Allah juga berfirman:
﴿اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾
“Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma'idah: 98).
Al-Ghazali rahimahullah menukil perkataan Makhul Ad-Dimasyqi:
“Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan rasa takut, maka ia adalah seorang Haruri. Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan harapan, maka ia adalah seorang Murji'ah. Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan cinta, maka ia adalah seorang zindik. Namun, barang siapa beribadah kepada-Nya dengan rasa takut, harapan, dan cinta, maka ia adalah seorang ahli tauhid yang mengikuti Sunnah.”
Catatan istilah: Haruri merujuk kepada kelompok Khawarij, sedangkan Murji'ah merupakan kelompok yang dikenal dengan pandangan tertentu tentang iman dan amal. Perkataan yang dinukil di atas adalah penilaian dalam konteks pembahasan tersebut, bukan berarti setiap orang yang kuat harapannya otomatis termasuk Murji'ah atau setiap orang yang kuat cintanya otomatis menjadi zindik.
Dalam kitab Madarijus Salikin, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Hati dalam perjalanannya menuju Allah Azza wa Jalla bagaikan seekor burung. Cinta adalah kepalanya, sedangkan rasa takut dan harapan adalah kedua sayapnya. Apabila kepala dan kedua sayapnya selamat, burung itu dapat terbang dengan baik. Namun, apabila kepalanya terputus, burung itu akan mati. Dan apabila kedua sayapnya hilang, burung itu akan menjadi sasaran bagi setiap pemburu dan tidak mampu terbang.”
Para ulama salaf menganjurkan agar ketika seseorang masih sehat, sayap rasa takut lebih kuat daripada sayap harapan. Adapun ketika ia sudah mendekati akhir hayat, sayap harapan hendaknya lebih kuat daripada sayap rasa takut.
Cinta merupakan kendaraan yang membawanya menuju Allah, harapan menjadi penuntunnya, sedangkan rasa takut menjadi pendorongnya. Allah-lah yang menyampaikannya ke tujuan dengan karunia dan kemurahan-Nya.
Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:
﴿نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ﴾
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50).
Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al-Qur'an yang agung, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.
Aku mengucapkan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka, mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
### Khutbah kedua
Segala puji bagi Allah, Pemilik keagungan dan kemuliaan, serta pemilik kekuatan yang tidak dapat ditandingi.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia Mahaperkasa dan memiliki kekuasaan untuk memberikan pembalasan.
Aku juga bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya yang mulia.
Amma ba'du.
Bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin. Berharaplah terhadap pahala-Nya dan takutlah terhadap hukuman-Nya. Dengarkanlah firman Allah Tabaraka wa Ta'ala:
﴿اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾
“Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma'idah: 98).
Karena itu, takutlah terhadap hukuman-Nya dan berharaplah terhadap rahmat serta pahala-Nya.
### 1\. Dahsyatnya azab neraka dan besarnya kenikmatan surga
Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma, ia berkata bahwa dirinya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ يُوضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ، مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا، وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا»
“Sesungguhnya orang yang paling ringan azabnya di antara penghuni neraka pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan dua bara api di bagian bawah kedua telapak kakinya. Karena kedua bara api itu, otaknya mendidih. Ia merasa bahwa tidak ada seorang pun yang azabnya lebih berat daripada dirinya, padahal dialah orang yang paling ringan azabnya di antara mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Imam Muslim juga meriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Nabi Musa 'alaihissalam bertanya kepada Rabb-nya, “Siapakah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya?”
Allah menjawab:
“Dia adalah seorang lelaki yang datang setelah para penghuni surga dimasukkan ke dalam surga. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke surga!’
Lelaki itu berkata, ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana mungkin aku masuk, sementara orang-orang telah menempati kedudukan mereka dan memperoleh bagian mereka?’
Allah berfirman kepadanya, ‘Apakah engkau rela jika engkau memiliki kerajaan seperti kerajaan salah seorang raja di dunia?’
Ia menjawab, ‘Aku rela, wahai Rabb-ku.’
Allah berfirman, ‘Itu untukmu, ditambah yang semisalnya, ditambah yang semisalnya, dan ditambah yang semisalnya lagi.’
Ketika Allah menyebutkan yang kelima kalinya, lelaki itu berkata, ‘Aku rela, wahai Rabb-ku.’
Allah berfirman, ‘Itu semua untukmu, ditambah sepuluh kali lipatnya. Engkau juga memperoleh segala sesuatu yang diinginkan oleh jiwamu dan yang menyenangkan matamu.’
Lelaki itu berkata, ‘Aku rela, wahai Rabb-ku.’”
### 2\. Menguatkan rasa takut di dunia dan harapan menjelang kematian
Rasa takut terhadap azab Allah dan harapan terhadap pahala-Nya merupakan perkara yang tidak dapat dipisahkan dari kelurusan seorang muslim.
Pada zaman ini, ketika kekerasan hati, kelalaian, dan kecintaan terhadap dunia telah mendominasi banyak hati, serta banyak orang semakin berani melakukan dosa dan kemaksiatan, sayap rasa takut perlu diperkuat agar jiwa menjadi lurus dan hati menjadi bersih.
Adapun ketika seseorang telah mendekati akhir hayatnya, hendaknya harapan kepada Allah lebih dikedepankan daripada rasa takut, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
«لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ»
“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Rabb-nya.” (HR. Muslim).
Rasa takut kepada Allah menuntut seseorang menunaikan hak-hak Allah Ta'ala dan menjauhkannya dari sikap meremehkan kewajiban terhadap-Nya.
Rasa takut juga menghalangi seorang hamba dari menzalimi orang lain dan melampaui batas terhadap mereka. Sebaliknya, rasa takut mendorongnya menunaikan hak-hak orang lain, tidak menyia-nyiakannya, dan tidak meremehkannya.
Selain itu, rasa takut mencegah seorang muslim mengikuti hawa nafsu dan melakukan perkara-perkara yang diharamkan. Rasa takut menjadikannya selalu waspada terhadap fitnah, perhiasan, dan tipu daya dunia, serta menumbuhkan kerinduan terhadap akhirat dan kenikmatan yang ada di dalamnya.
Barang siapa mentauhidkan Allah Tabaraka wa Ta'ala dan Allah melindunginya dari menumpahkan darah manusia, merampas harta mereka, serta merusak kehormatan mereka, maka ia telah diselamatkan dari kesengsaraan dunia, kesulitan-kesulitan akhirat, dan azab Allah Tabaraka wa Ta'ala. Ia pun memperoleh kemenangan berupa surga yang kenikmatannya tidak akan berakhir dan tidak akan binasa.
### 3\. Selawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
Wahai hamba-hamba Allah!
Allah Ta'ala berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).
Karena itu, berselawatlah dan ucapkanlah salam kepada pemimpin seluruh manusia dari generasi pertama hingga generasi terakhir serta imam para rasul.
Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia.
Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia. Dan limpahkanlah salam sebanyak-banyaknya kepada beliau.
### 4\. Doa untuk para sahabat dan kaum muslimin
Ya Allah, rida dan rahmatilah seluruh sahabat Nabi, serta para khalifah yang mendapat petunjuk dan para imam yang diberi hidayah: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.
Rida dan rahmatilah seluruh sahabat Nabi-Mu, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Ya Allah, rida dan rahmatilah kami dengan karunia, kemurahan, dan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua yang menyayangi.
Ya Allah, ampunilah orang-orang yang telah meninggal dunia di antara kami dan seluruh kaum muslimin, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, satukanlah hati kaum muslimin dan perbaikilah hubungan di antara mereka.
Ya Allah, menangkanlah agama-Mu, Kitab-Mu, dan Sunnah Nabi-Mu, wahai Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.
Ya Allah, hinakanlah berbagai bid'ah, wahai Rabb seluruh alam, hingga hari kiamat.
Ya Allah, lindungilah darah kaum muslimin. Ya Allah, lindungilah darah kaum muslimin. Ya Allah, cegahlah pertumpahan darah kaum muslimin, dan jagalah kehormatan serta harta mereka, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, cukupkanlah mereka dari keburukan orang-orang yang melampaui batas dan berbuat zalim, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, jagalah kaum muslimin di setiap tempat. Lindungilah mereka dari keburukan orang-orang zalim dan dari tindakan permusuhan mereka, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, padamkanlah fitnah-fitnah yang melanda kaum muslimin, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, padamkanlah fitnah-fitnah itu dengan kemuliaan bagi Islam dan kaum muslimin, dengan segala sesuatu yang Engkau ridai, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua yang menyayangi. Jadikanlah kehinaan bagi musuh-musuh agama. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, berikanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami. Ya Allah, perbaikilah keadaan para pemimpin kami.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada Penjaga Dua Tanah Suci agar melakukan segala sesuatu yang Engkau cintai dan Engkau ridai. Bimbinglah ia menuju petunjuk-Mu dan jadikanlah amalnya sesuai dengan keridaan-Mu.
Bantulah ia dalam melakukan segala sesuatu yang Engkau ridai dan yang mendatangkan kemaslahatan bagi Islam serta kaum muslimin, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada kedua wakilnya untuk melakukan segala sesuatu yang Engkau cintai dan Engkau ridai, serta segala sesuatu yang membawa kemuliaan bagi Islam, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua yang menyayangi.
Ya Allah, turunkanlah pertolongan dan hujan rahmat kepada kami.
Ya Allah, lindungilah kami dari keburukan diri kami sendiri dan dari keburukan amal perbuatan kami. Lindungilah kami dari keburukan setiap makhluk yang memiliki keburukan, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, lindungilah kami dan keturunan kami dari Iblis, keturunannya, bala tentaranya, dan setan-setannya.
Ya Allah, lindungilah seluruh kaum muslimin dari Iblis, keturunannya, dan setan-setannya, wahai Rabb seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).
### 5\. Penutup khutbah
Wahai hamba-hamba Allah!
Allah Ta'ala berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ﴾
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kaum kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.
Penuhilah janji Allah apabila kalian berjanji, dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah setelah meneguhkannya, padahal kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi atas janji kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. An-Nahl: 90–91).
Ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat itu kepada kalian.
Sesungguhnya mengingat Allah adalah perkara yang paling besar. Dan Allah mengetahui segala sesuatu yang kalian kerjakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar