Senin, 26 April 2021

FIKIH MUSIBAH


Makkah : 24 Rabiul Awal 1438 H.  / 23 Desember 2016 M

Khutbah Jum’at, oleh : DR. MAHIR BIN HAMD AL MU’AIQALI hafidhohullah Ta'ala. 

Dalam kesempatan Jum’at kali ini, Syaikh Mahir bin Hamd Al Mu’aiqali menyampaikan khutbah dengan judul “Fikih Musibah”. Dalam khutbahnya, Syaikh Mahir bin Hamd Al Mu’aiqali membahas tentang musibah dan ujian yang merupakan Sunnatullah yang pasti terjadi, sembari menjelaskan bahwa manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian manusia lainnya. Selain menjelaskan bahwa ujian yang diberikan Allah Subhânahû wa Ta’âla tergantung tingkat keimanan hamba, khathib juga memberikan beberapa tips agar kita tidak kehilangan pahala saat diuji dan tertimpa musibah lewat kisah perang Ahzâb yang diabadikan dalam Al Qur`an dan Sunnah. 

Khutbah Pertama :

الْحَمْدُ ِللهِ، الْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ عَظِيْمٌ فِي رُبُوْبِيَّتِهِ وَأُلُوْهِيَّتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ، حَكِيْمٌ فِي مَقَادِيْرِهِ وَأَحْكَامِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ابْتُلِيَ بِالسَّرَّاءِ فَشَكَرَ، وَبِالضَّرَّاءِ فَصَبَرَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ لِقَائِهِ، أَمَّا بَعْدُ:

مَعَاشِرَ الْمُؤْمِنِيْنَ! فَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاسْتَمْسِكُوْا مِنَ الإِسْلاَم بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقََى، ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾

Al Hamdulillâh , Segala puji hanya bagi Allah dengan pujian yang sebanyak-banyaknya, baik lagi berkah sebagaimana yang dicintai dan diridhai Tuhan kita. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, Yang Agung dalam Rububiyyah, Uluhiyyah, Nama dan Sifat-Nya, Yang Maha Bijak dalam takdir dan hukum-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diuji dengan kesenangan lalu beliau bersyukur, dan dengan kesusahan lalu beliau bersabar. Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga Hari Kiamat, Amma ba'd:

Saudara-saudaraku kaum mukminin! 
Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan berpegangteguhlah dengan Islam sekuat-kuatnya. _“Hai orang-orang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan cahaya untukmu yang dengannya kamu dapat berjalan, serta mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Hadîd : 28) 

Saudara-saudaraku kaum muslimin! 
Allah Subhânahû wa Ta’âla tidak menciptakan dunia sebagai tempat keabadian bagi hamba-hamba-Nya dan tempat kenikmatan bagi wali-wali-Nya, tetapi dengan hikmah-Nya Dia menciptakannya untuk menguji mereka, membersihkan jiwa mereka dari dosa dengan bala, dan menyeleksi mereka lewat cobaan.  

Allah Subhânahû wa Ta’âla berfirman :

﴿وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ﴾

 

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Qs. Al Anbiyâ` : 35) 

Setiap hamba yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat pasti diuji, sebagaimana yang diinformasikan Allah Subhânahû wa Ta’âla dalam firman-Nya :

﴿أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ﴾

 

“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (begitu saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta.” (Q.S. Al Ankabût : 2-3) 

Ujian yang diberikan Allah Subhânahû wa Ta’âla sesuai dengan tingkat pengabdian hamba. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallâhu Anhu, dia berkata: 

قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً؟ قَالَ: الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ؛ فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِيْنِهِ رِقَّةً ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ. 

Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, _“Para nabi, kemudian orang yang lebih rendah imannya dari para nabi, lalu yang lebih rendah lagi. Seseorang diuji sesuai tingkat agamanya; jika agamanya kuat maka ujiannya pun berat, dan jika agamanya lemah maka ujiannya pun disesuaikan dengan tingkat agamanya. Ujian senantiasa diberikan kepada hamba sampai dia dibiarkan berjalan di atas bumi tanpa memikul dosa.” (HR. At-Tirmidzi) 

Setelah meriwayatkannya At-Tirmidzi berkomentar, “Hadits ini hasan shahih.”

Oleh karena itu, para nabi Alaihimussalâm adalah manusia yang paling lapang dadanya dan paling tinggi optimismenya lantaran ujian yang mereka terima. Khalîlullâh Ibrahim Alaihissalâm misalnya, ketika dilemparkan ke dalam kobaran api berkata :

﴿حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ﴾

“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Q.S. Âli Imrân : 173) 

Ketika Kalîmullâh Musa Alaihissalâm bersama kaumnya Bani Israil dikepung oleh bala tentara Firaun, para pengikutnya berkata :

﴿إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (61) قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ﴾ 

“Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya Tuhanku besertaku, Dia kelak memberi petunjuk kepadaku.” (Q.S. Asy-Syu’arâ` : 61-62) 

Ketika Nabi Ya’qub Alaihissalâm kehilangan putranya, Yusuf Alaihissalâm, dia berkata dengan penuh optimisme : 

﴿يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلاَ تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لاَ يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾ 

“Hai anak-anakku, pergilah kamu lalu carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya serta jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (Q.S. Yûsuf : 87) 

Nabi Muhammad Shallallâhu Alaihi wa Sallam pun tak luput dari ujian dan cobaan. Beliau disiksa oleh kaumnya dan diusir dari kampung halamannya, bahkan orang-orang kafir Quraisy berkonsipirasi untuk menghabisi nyawa beliau, sebagaimana dikisahkan Allah Subhânahû wa Ta’âla dalam firman-Nya: 

﴿وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (Q.S. Al Anfâl : 30) 

Oleh karena itu, Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling baik tingkat kesabarannya dan paling positif prasangkanya. Ketika terjadi perang Uhud, gigi geraham Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam tanggal, wajah beliau terluka, dan kepala beliau pecah, sampai darah yang suci itu pun mengalir di wajah beliau yang rupawan. Kemudian beliau mengusap darah dari wajahnya sembari berkata :

كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوْا نَبِيَّهُمْ؟! 

“Bagaimana bisa kaum yang melukai Nabi mereka memperoleh keberuntungan?!” (HR. Al Bukhari dan Muslim) 

Hal serupa pun Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam lakukan ketika gigi geraham beliau tanggal. Tidak hanya sampai di situ, Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam bersama para sahabat juga mengalami ujian yang sangat berat saat perang Uhud, orang yang paling dihormati dan paling dekat dengan beliau, Hamzah bin Abdul Muththalib Radhiyallâhu Anhu, terbunuh dalam kondisi perut terkoyak, hidung putus dan anggota tubuhnya dimutilasi. Kemudian jasadnya dikebumikan di kaki bukit bersama 70 orang sahabat lainnya yang wafat sebagai syahid. Sampai-sampai Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam berharap andai saja beliau wafat sebagai syahid bersama mereka dalam perang tersebut. 

Diriwayatkan dengan sanad _hasan,_ bahwa Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda :

أَمَا وَاللهِ، لَوَدِدْتُ أَنِّي غُوْدِرْتُ مَعَ أَصْحَابِي بِحِضْنِ الْجَبَلِ. 

“Demi Allah! Ketahuilah bahwa aku sangat ingin ditinggalkan bersama sahabat-sahabatku (yang wafat) di kaki bukit.” (HR. Ahmad) 

Kendatipun demikian, kepasrahan beliau atas keputusan Allah Subhânahû wa Ta’âla senantiasa hadir menyelubungi kesedihan yang dialami, kembali memeriksa kondisi para sahabat, meringankan penderitaan mereka, serta memperlihatkan sikap menerima atas takdir Allah yang menimpa mereka. 

Diriwayatkan dengan sanad _shahih,_ bahwa setelah mengebumikan jasad para Syuhada Uhud, Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda: 

اسْتَوُوْا حَتَّى أُثْنِيَ عَلَى رَبِّي، فَصَارُوْا خَلْفَه صُفُوْفًا، فَوَقَفَ طَوِيْلاً يُثْنِي عَلَى اللهِ تَعَالَى بِمَا هُوَ أَهْلُهُ.  

“Luruskan barisan kalian sampai aku memuji Tuhanku.”_ Maka, para sahabat pun berbaris dengan rapi di belakang beliau, lalu berdiri dalam waktu yang cukup lama memuji Allah Yang Maha Tinggi dengan pujian yang layak bagi-Nya". (HR. Ahmad) 

Salah satu doa yang beliau panjatkan saat itu adalah :

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ، اللَّهُمَّ لاَ قَابِضَ لِمَا بَسَطْتَ، وَلاَ بَاسِطَ لِمَا قَبَضْتَ، وَلاَ هَادِيَ لِمَنْ أَضْلَلْتَ، وَلاَ مُضِلَّ لِمَنْ هَدَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُقَرِّبَ لِمَا بَاعَدْتَ، وَلاَ مُبَاعِدَ لِمَا قَرَّبْتَ، اللَّهُمَّ ابْسُطْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِكَ وَرَحْمَتِكَ وَفَضْلِكَ وَرِزْقِكَ. 

“Ya Allah, segala puji hanya kepada-Mu. Ya Allah, tak ada yang mampu menahan apa yang Engkau hamparkan, tak ada yang mampu membentangkan apa yang Engkau tahan, tak ada yang mampu memberi petunjuk siapa yang Engkau sesatkan, tak ada yang mampu menyesatkan siapa yang Engkau beri petunjuk, tak ada yang mampu memberi anugerah siapa yang Engkau halangi, tak ada yang mampu menghalangi siapa yang Engkau beri anugerah, tak ada yang mampu mendekatkan siapa yang Engkau jauhkan, dan tak ada yang mampu menjauhkan siapa yang Engkau dekatkan. Ya Allah, bentangkanlah keberkahan, rahmat, karunia, dan rezeki-Mu kepada kami.”

Pada tahun ke-5 Hijriyah, semua kelompok kafir Quraisy bersatu untuk menghabisi nyawa Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam. Lalu mereka datang berbagai penjuru saat Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam dalam kondisi bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah Subhânahû wa Ta’âla di tengah badai ujian dan musibah. 

Diriwayatkan dari Al Bara` bin Azib Radhiyallâhu Anhu, dia berkata: Saat terjadi perang Khandaq, Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam ikut menggali parit hingga perut beliau dikotori tanah, beliau bersabda, 

وَاللهِ لَوْلاَ اللهُ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلاَ تَصَدَّقْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا، فَأَنْزِلَنْ سَكِيْنَةً عَلَيْنَا، وَثَبِّتْ الأَقْدَامَ إِنْ لاَقَيْنَا، إِنَ الأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا، إِذَا أَرَادُوْا فِتْنَةً أَبَيْنَا. وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ: أَبَيْنَا، أَبَيْنَا. 

“Demi Allah! Kalau bukan karena Allah, kita tidak akan memperoleh hidayah, tidak mengeluarkan zakat, dan tidak shalat, maka turunkanlah ketenangan kepada kami dan teguhkan hati kami saat bertemu musuh. Sesungguhnya orang-orang telah memperlakukan kami dengan melampaui batas. Apabila mereka menginginkan fitnah kami pun menolaknya.”_ Sambil mengeraskan suara, beliau berkata, _“Kami menolak. Kami menolak.” (HR. Al Bukhari) 

Setelah setengah bulan menggali parit, para sahabat pun diuji dengan kelaparan dan sulit tidur. Saat sedang menggali parit tersebut, tiba-tiba muncul sebongkah batu besar yang mematahkan cangkul mereka dan menguras energi mereka. Kondisi ini sempat dikisahkan oleh Jabir Radhiyallâhu Anhu, dia berkata, “Dalam perang Khandaq, kami menggali parit hingga terkendala oleh batu cadas yang besar. Lalu para sahabat mendatangi Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Ada batu cadas besar yang menghalangi penggalian parit’. Mendengar laporan tersebut Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam berkata, _‘Aku akan turun’._ Setelah itu bangkit dengan perut lapar dibalut batu lantaran tidak makan selama 3 hari. Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam lalu mengambil cangkul kemudian menghantam batu cadas tersebut hingga pecah berkeping-keping.” (HR. Al Bukhari) 

Ketika semua kelompok musuh yang berjumlah lebih dari 10 ribu pasukan berkumpul di sekitar kota Madinah di malam yang sangat dingin, sementara jumlah sahabat Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam tidak lebih dari 3 ribu orang, tak disangka orang-orang Yahudi Bani Quraizhah mengingkari janji yang mereka buat bersama Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam. Tak ayal hal itu membuat kondisi umat Islam semakin sulit, ujian yang dialami semakin berat, rasa takut muncul berbarengan dengan rasa lapar dan dingin, semua faktor pendukung kemenangan sirna, jumlah dan perbekalan tak ada artinya serta musibah yang mendera tak terperikan. 

Kondisi inilah yang digambarkan Allah Subhânahû wa Ta’âla dalam firman-Nya: 

﴿إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا (10) هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا﴾

 

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, serta ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan sedang kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Disitulah orang-orang mukmin diuji dan (hatinya) digoncangkan dengan goncangan yang sangat.” (Q.S. Al Ahzâb : 10-11) 

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam _As-Sunan Al Kubrâ,_ bahwa ketika ujian yang menimpa Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam dan para sahabat semakin berat, banyak orang yang berubah menjadi munafik dan mengeluarkan pernyataan yang tidak positif. Tatkala melihat ujian dan musibah yang menimpa para sahabatnya begitu berat, Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam pun berusaha membangkitkan semangat mereka dengan berkata :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُفَرَّجَنَّ عَنْكُمْ مَا تَرَوْنَ مِنَ الشِّدَّةِ وَالْبَلاَءِ، فَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَطُوْفَ بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ آمِنًا، وَأَنْ يَدْفَعَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَفَاتِحَ الْكَعْبَةِ، وَلَيُهْلِكَنَّ اللهُ كِسْرَى وَقَيْصَرَ، وَلَتُنْفِقَنَّ كُنُوْزُهُمَا فِي سَبِيْلِ اللهِ.  

“Demi Dzat yang jiwaku yang berada di tangan-Nya! Allah pasti memberikan jalan keluar bagi kalian dari kesulitan dan ujian yang menimpa kalian. Sungguh aku berharap bahwa aku bisa Thawaf di Baitullah dalam kondisi aman, Allah Azza wa Jalla menyerahkan kunci-kunci Ka’bah, Allah membinasakan Kisra dan Kaisar, serta kalian mendermakan harta kekayaan Kisra dan Kaisar di jalan Allah.”

Para hamba Allah! 
Sadarlah bahwa jalan keluar terbaik dari semua ujian dan cobaan yang menimpa umat Islam saat ini adalah, mentauhidkan Allah Subhânahû wa Ta’âla. Buktinya, ketika Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam terkepung oleh musuh, beliau banyak membaca kalimat : 

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، أَعَزَّ جُنْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَغَلَبَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، فَلاَ شَيْءَ بَعْدَهُ.

“Lâ ilâha illallâh wahdah a’azza jundah wa nashara abdah wa ghalabal ahzâba wahdah falâ syai`a ba’dah (tidak ada tuhan yang berhak kecuali Alalh semata, yang memuliakan pasukan-Nya, menolong hamba-Nya, mengalahkan semua kelompok seorang diri, hingga tak ada sesuatu pun setelah-Nya).” (HR. Al Bukhari dan Muslim) 

Kondisi orang-orang munafik yang hatinya sakit kapanpun dan dimanapun tak pernah berubah. Mereka selalu menimbulkan kegaduhan, mengembosi dan melemahkan semangat umat agar rasa takut dan perasaan tak berdaya menghinggapi umat Islam. Contohnya, salah seorang munafik di zaman Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam pernah berkata, “Muhammad menjanjikan harta kekayaan Kisra dan Kaisar kepada kami, sedangkan salah seorang dari kami belum merasa aman untuk pergi memenuhi kebutuhannya!” 

Bahkan ada yang meminta izin dari Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam untuk kembali ke tanah airnya dan berkata :

﴿إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلاَّ فِرَارًا﴾ 

“Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga). Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.” (Q.S. Al Ahzâb : 13) 

﴿وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلاَّ غُرُورًا﴾

 

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya’.” (Q.S. Al Ahzâb : 12) 

Sedangkan umat Islam yang beriman dengan benar tidak pernah memutuskan hubungannya dengan Allah dan kepercayaannya dengan sang Pencipta, seberat apa pun musibah yang menimpa mereka. Para sahabat misalnya, tak pernah berpikiran negatif terhadap Allah Subhânahû wa Ta’âla, bahkan mereka tetap teguh pada pendiriannya dan bertawakal hingga Allah Subhânahû wa Ta’âla memberikan kemenangan untuk mereka. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullâh berkata : “Dalam perang Al Ahzâb, Allah Subhânahû wa Ta’âla memberikan kemenangan kepada hamba-Nya dan memuliakan pasukan-Nya tanpa melalui peperangan tetapi dengan keteguhan hati orang-orang beriman melawan musuh-musuh mereka. 

﴿وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلاَّ إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا﴾ 

"Tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan’.” (Q.S. Al Ahzâb : 22) 

بَارَكََ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيِمْ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.  

Semoga Allah memberkahi aku dan Anda dalam Al Qur`an yang agung, serta memberikan manfaat bagi aku dan Anda lewat ayat dan nasihat yang bijak. Aku cukupkan khutbahku sampai di sini. Aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan Anda dari semua dosa, maka mintalah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Khutbah Kedua :

الْحَمْدُ ِللهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، إِلَهِ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ، وَقَيُّوْمِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرَضِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الأَمِيْنُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ. 

Segala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta alam, Sembahan manusia pertama dan terakhir, serta Pengurus langit dan bumi. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya Yang Maha Menguasai, Maha Benar, lagi Maha Nyata. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang jujur lagi tepercaya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat, tabiin dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga Hari Kiamat. 

Amma ba'd:

Saudara-saudaraku kaum mukmumin! 
Berprasangka baik kepada Allah Subhânahû wa Ta’âla adalah ibadah kalbu yang menyempurnakan keimanan hamba. Inilah salah satu konsekuensi beriman kepada Nama dan Sifat Allah yang baik. Siapapun yang berprasangka baik kepada Allah, maka Dia pasti memenuhi janji kepada hamba tersebut. 

Allah Subhânahû wa Ta’âla berfirman : 

أَنَا عِنْدُ ظَنِّ عَبْدِي بِي. 

“Aku menuruti prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”(HR. Al Bukhari dan Muslim) 

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallâhu Anhu berkata, “Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, tak ada anugerah terbaik yang diberikan kepada seorang hamba melebihi berprasangka baik kepada Allah. Demi Dzat yang tidak ada tuhan selain Dia, ketika seorang hamba berprasangka baik kepada Allah Azza wa Jalla maka Dia pasti mengabulkan prasangka baik hamba tersebut, sebab semua kebaikan berada di tangan-Nya.” 

Jika berprasangka baik kepada Allah adalah sikap yang dibutuhkan dalam semua hal, maka apatah lagi dalam kondisi umat Islam sedang diterpa musibah dan kesusahan. 

Diriwayatkan dari Khabbab bin Al Aratt Radhiyallâhu Anhu, dia berkata: “Kami pernah menyampaikan keluhan kepada Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam saat beliau sedang berbantalkan serban di bawah teduhnya Ka’bah, kami berkata, ‘Tidakkah engkau meminta pertolongan untuk kami?! Tidakkah engkau berdoa untuk kami?!’ Maka beliau menjawab, _‘Dahulu sebelum kalian, ada seorang pria yang disiksa. Kemudian sebuah lubang di tanah dibuatkan untuk menimbun tubuhnya. Lalu gergaji dihadirkan dan diletakkan di atas kepalanya hingga tubuhnya  dibelah menjadi dua. (Tak hanya itu) pria itu pun disisir dan sisir besi dari kulit hinggatulangnya namun semua siksaan itu tak menyurutkan dia dari agamanya. Demi Allah! Allah pasti menyempurnakan agama ini hingga pengendara dari Shan’a berjalan ke Hadhramaut tanpa merasa takut kecuali kepada Allah dan dia pun tidak merasa takut dengan serigala yang menerkam dombanya. Akan tetapi kalian meminta agar doa kalian dikabulkan dengan segera’.” (HR. Al Bukhari) 

Dalam lembaran sejarah umat Islam yang panjang, terukir berbagai peristiwa besar dan realita hidup yang membuktikan bahwa Allah Subhânahû wa Ta’âla benar-benar memberikan jalan keluar dengan bertobat serta kembali kepada ajaran Al Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam. 

Allah Subhânahû wa Ta’âla berfirman :

﴿إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ﴾

 

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia serta pada hari berdirinya saksi-saksi (Hari Kiamat).” (Q.S. Ghâfir : 51)

Para hamba Allah! 
Ketika musibah, ujian, fitnah, kedukaan, dan kesedihan semakin berat dirasakan, orang beriman harus tetap berharap kepada Allah Subhânahû wa Ta’âla, optimis dengan pertolongan -Nya, menanti kemudahan dan kemurahan hati-Nya, serta melakukan semua hal yang mendatangkan kemenangan dan kejayaan sebagaimana yang diperintahkan. 

Semua peristiwa yang mengancam eksistensi negara-negara Islam, menista simbol-simbol kesucian mereka,  dan menimbulkan perpecahan hari ini wajib disikapi dengan tegas dan tegar. Umat Islam saat ini harus bahu-membahu dengan pemimpin mereka, agar persatuan mereka terwujud dan bersama-sama melawan musuh. Oleh karena itu, sudah seharusnya umat Islam tidak bertikai dan berselisih agar kekuatan mereka tidak melemah dan energi terbuang percuma.  

Allah Subhânahû wa Ta’âla berfirman :

﴿وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ﴾

 

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al Anfâl : 46) 

Saudara-saudaraku kaum mukminin! 

ثُمَّ اعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ كَرِيْمٍ ابْتَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، فَقَالَ عزَّ مِنْ قَائٍلٍ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ 

 

Kemudian ketahuilah bahwa Allah telah menitahkan sebuah perintah mulia kepada Anda yang telah dilakukan-Nya terlebih dahulu, lalu Dia yang perkataan-Nya mulia berfirman: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al Ahzâb : 56) 

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكِ اللَّهُمَّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.  

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi kami, Muhammad, dan keluarga Nabi kami, Muhammad, sebagaimana yang Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkahi pula Nabi kami, Muhammad, dan keluarga Nabi Kami, Muhammad, sebagaimana keberkahan yang Engkau berikan Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.    

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمَِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ وَجُوْدِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. 

Ya Allah, ridhailah Khulafaurrasyidin, yaitu Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali. Begitu pula para sahabat, tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga Hari Kiamat. Ridhai pula kami bersama mereka dengan ampunan-Mu, kemuliaan-Mu, dan kedermawanan-Mu, wahai Dzat yang paling mengasihi dari semua yang mengasihi. 

اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ.

Ya Allah, muliakan Islam dan umat Islam. Ya Allah, muliakan Islam dan umat Islam. Ya Allah, muliakan Islam dan umat Islam, jagalah keutuhan agama ini, serta jadikanlah negeri ini aman dan damai, begitu juga seluruh negeri umat Islam. 

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي سُوْرِيَا، وَفِي الْعِرَاقِ، وَفِي الْيَمَنِ، وَفِي فَلِسْطِيْنَ، وَفِي أَرَاكَانَ كُلِّ مَكَانٍ، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ. اللَّهُمَّ فَرِّجْ هَمَّهُمْ، اللَّهُمَّ فَرِّجْ هَمَّهُمْ، وَنَفِّسْ كَرْبَهُمْ، اللَّهُمَّ احْقِنْ دِمَاءَهُمْ، وَاحْفَظْ أَعْرَاضَهُمْ، وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ، وَتَقَبَّلْ شُهَدَاءَهُمْ.  

Ya Allah, perbaikilah kondisi kaum muslimin di Suria, Irak, Yaman, Palestina, Arakan, dan seluruh tempat, wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan. Ya Allah, hilangkanlah kedukaan mereka. Ya Allah, hilangkanlah kedukaan mereka, dan angkatlah musibah yang menimpa mereka. Ya Allah, lindungilah darah mereka, jagalah kehormatan mereka, sembuhkan yang sakit dari mereka, dan terimalah yang meninggal sebagai syahid dari mereka. 

اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِعَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ، اللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُ، وَفَرِّقْ جَمْعَهُ، وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِ بِقُوَّتِكَ وَجَبَرُوْتِكَ، يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

Ya Allah, hukumlah musuh-Mu dan musuh umat Islam, wahai Yang Maha Kuat, wahai Yang Maha Perkasa. Ya Allah, cabik-cabiklah keutuhan mereka, cerai-beraikan persatuan mereka, dan jadikan akhir yang buruk kepadanya dengan kekuatan dan keperkasaan-Mu, wahai Yang Maha Kuat, wahai Yang Maha Mulia, wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan. 
  
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِفَضْلِكَ وَمِنَّتِكَ وَجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ أَنْ تَحْفَظَ بِلاَدَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَمَكْرُوْهِ، اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلاَدَ الْحَرَمَيْنِ، اللَّهُمَّ احْفَظْهَا بِحِفْظِكَ، وَاكْلَأْهَا بِرِعَايَتِكَ وَعِنَايَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اللَّهُمَّ أَدِمْ أَمْنَهَا وَرَخَاءَهَا وَاسْتِقْرَارَهَا، اللَّهُمَّ زِدْهَا خَيْرًا وَنَمَاءً وَبَرَكَةً، بِرَحْمَتِكَ وَفَضْلِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. 

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dengan karunia, anugerah, kedermawanan, dan kemurahan hati-Mu, agar Engkau menjaga negeri kaum muslimin dari segala bentuk keburukan dan hal yang tidak disukai. Ya Allah, jagalah negeri Al Haramain. Ya Allah, jagalah negeri Al Haramain dengan penjagaan-Mu, lindungilah dia dengan pemeliharaan dan pertolongan-Mu, wahai Dzat yang paling mengasihi dari semua yang mengasihi. Ya Allah, langgengkanlah keamanan, ketenangan dan ketentraman padanya. Ya Allah, tambahkanlah kebaikan, kemajuan, dan keberkahan baginya, dengan rahmat dan karunia-Mu wahai Dzat yang paling mengasihi dari semua yang mengasihi. 

اللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ بِلاَدَ الْحَرَمَيْنِ بِسُوْءٍ فَاجْعَلْ تَدْبِيْرَهُ تَدْمِيْرًا عَلَيْهِ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ. 

Ya Allah, siapapun yang menginginkan keburukan bagi negeri Al Haramain, maka jadikanlah rencananya sebagai kehancuran bagi dirinya, wahai Yang Maha Kuat, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan. 

اللَّهُمَّ وَفِّقْ إِمَامَنَا بِتَوْفِيْقِكَ، وَأَيِّدْهُ بِتَأْيِيْدِكَ، وَاجْزِهِ خَيْرَ الْجَزَاءِ عَنْ الإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ يَا رَبّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلاَةِ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ.  

Ya Allah, bimbinglah pemimpin kami dengan taufik-Mu, dukunglah dia dengan sokongan-Mu, serta berilah balasan terbaik baginya untuk Islam dan umat Islam, wahai Tuhan semesta alam. Ya Allah, berilah taufik kepada seluruh pemimpin umat Islam untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan ridhai. 

اللَّهُمَّ انْصُرْ جُنُوْدَنَا الْمُرَابِطِيْنَ عَلَى حُدُوْدِ بِلاَدِنَا، اللَّهُمَّ أَيِّدْهُمْ بِتَأْيِيْدِكَ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، اللَّهُمَّ سَدِّدْ رَمْيَهُمْ، اللَّهُمَّ سَدِّدْ رَمْيَهُمْ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَقَوِّ عَزَائِمَهُمْ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ مُعِيْنًا وَنَصِيْرًا، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ مُعِيْنًا وَنَصِيْرًا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. 

Ya Allah, tolonglah pasukan kami yang berjaga-jaga di wilayah perbatasan negeri kami. Ya Allah, kuatkanlah mereka dengan sokongan-Mu dan lindungilah mereka dengan perlindungan-Mu. Ya Allah, tepatkanlah sasaran mereka. Ya Allah, tepatkanlah sasaran mereka, teguhkanlah pendirian mereka, dan kuatkanlah tekad mereka. Ya Allah, jadilan penolong dan penyelamat mereka. Ya Allah, jadilan penolong dan penyelamat mereka dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang paling mengasihi dari semua yang mengasihi. 

اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ مَرِيْضًا إِلاَّ شَفَيْتَهُ، وَلاَ مُبْتَلًى إِلاَّ عَافَيْتَهُ، وَلاَ ضَالاًّ إِلاَّ هَدَيْتَهُ، وَلاَ مَيِّتًا مِنْ أَمْوَاتِنَا إِلاَّ رَحِمْتَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. 

Ya Allah, janganlah Engkau biarkan dosa apa pun milik kami kecuali Engkau ampuni, yang sakit dari kami kecuali Engkau sembuhkan, yang tertimpa musibah dari kami kecuali Engkau selamatkan, yang tersesat dari kami kecuali Engkau tunjuki jalan, dan yang meninggal dari kami kecuali Engkau rahmati, dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang paling mengasihi dari semua yang mengasihi. 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.  

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan mukminin, baik laki-laki maupun perempuan, yang masih hidup dan yang telah meninggal, wahai Dzat yang paling mengasihi dari semua yang mengasihi.  

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ، اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ، اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، بِرَحْمَتِكَ وَفَضْلِكَ وَجُوْدِكَ وَمِنَّتِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. 

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan jangan jadikan kami orang-orang yang berputus asa. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan jangan jadikan kami orang-orang yang berputus asa. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan jangan jadikan kami orang-orang yang berputus asa. Ya Allah, hujanilah kami. Ya Allah, hujanilah kami. Ya Allah, hujanilah kami, dengan rahmat-Mu, karunia-Mu, kedermawanan-Mu, dan anugerah-Mu, wahai Dzat yang paling mengasihi dari semua yang mengasihi.   

﴿سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ﴾ 

“Maha Suci Tuhanmu, Pemilik kemuliaan dari segala yang manusia sifatkan kepada-Nya. Salam penghormatan kepada para rasul, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Q.S. Ash-Shâffât : 180-182)

📓📓📔📔📔📔📓📓

Selasa, 20 April 2021

MANUSIA DI BULAN RAMADHAN


Alhamdulillah was sholatu was salamu `ala Rosulillah, wa ba` du ;

Jika kita melihat keadaan dan kondisi para manusia di saat datang bulan suci ramadhan maka di sana terdapat sepuluh keadaan yaitu sebagai berikut :

1. Seorang muslim balig yang berakal dalam keadaan mukim lagi memiliki kemampuan menjalankan ibadah puasa dan tidak mendapatkan kendala maupun halangan apapun, maka orang yang semacam ini wajib baginya untuk menjalankan ibadah puasa tepat waktu di bulan yang suci ini, hal ini berdasarkan dalil dalam Al Qur`an, As Sunnah dan Ijma para Ulama. Allah Ta`ala berfirman dalam QS Al-Baqarah: 185, "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu".

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jika kalian melihat hilal ( bulan ramadhan ) maka berpuasalah". (HR Bukhari dan Muslim).

Dan para Ulama telah menjalin Ijma` tentang wajibnya berpuasa bagi orang yang keadaannya seperti diterangkan di atas.
Adapun bagi orang kafir maka tidak sah baginya menjalankan ibadah puasa dan tidak diterima, karena bukan termasuk orang yang pantas menjalankan ibadah, ia dituntut dengan sesuatu yang lebih wajib yaitu bertaubat dari kekufuran dan kemusyrikan yang ada pada dirinya, dan jikalau ia bertaubat dan masuk islam di bulan ramadhan, ia tidak berkewajiban mengganti puasa yang ia tinggalkan, karena dengan taubat dosa-dosanya terhapus, sebagai mana difirmankan dalam QS· Al Anfal: 38, "Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu ".
Dan jikalau ia masuk islam di siang hari bulan ramadhan maka ia wajib untuk ikut serta berpuasa di sisa siang harinya hingga terbenam matahari.

2. Anak kecil yang belum balig maka ia tidak berkewajiban untuk berpuasa, sebagai mana sabda Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, "Di angkat pena dari tiga golongan, Orang yang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia balig, Orang yang gila hingga ia sembuh". (HR Ahmad dan Abu Daud).
Akan tetapi anak kecil hendaknya diajarkan berpuasa agar ia terbiasa dan berlatih melakukan ketaatan dan kebaikan sebagai mana dahulu para salaf mengajarkan kepada anak anak mereka berpuasa dan pergi ke masjid dan diberikan mainan agar menghiburnya.

3. Orang yang gila yaitu tidak berakal, maka baginya tidak wajib berpuasa, karena ia tidak memiliki niat untuk membedakan antara ibadah dan bukan ibadah, sedangkan dalam hadits diriwayatkan, "Sesungguhnya suatu amalan tergantung pada niatnya, dan ia akan mendapatkan sesuatu ganjaran sesuai yang ia niatkan". (HR Bukhari dan Muslim).

Jika seseorang yang gila kemudian di siang hari bulan ramadhan ia sembuh, maka hendaknya ia meneruskan siang itu untuk berpuasa hingga matahari terbenam.

4. Orang tua renta yang tidak lagi memiliki kemampuan fisik dan akal karena telah udzur tidak lagi ingat apa apa, maka baginya tidak wajib berpuasa dan tidak wajib pula membayar fidyah, karena ia tidak lagi mukalaf yang mendapatkan beban menjalankan ibadah.

5· Orang yang lemah dan tidak sanggup berpuasa secara permanen, seperti orang tua (selagi belum pikun) ,orang sakit yang tidak memungkinkan sembuh seperti terkena penyakit kanker, gula, dan semisalnya maka ia tidak berkewajiban untuk berpuasa, akan tetapi ia diwajibkan untuk membayar fidyah yaitu memberikan makanan kepada fakir miskin untuk setiap hari yang ia tidak berpuasa.

» hari ketujuh «

6· Seorang musafir yang tidak meniatkan untuk menyengaja buka puasa, Jika ia menyegaja berbuka puasa maka ini adalah perbuatan yang haram, dan wajib baginya tetap berpuasa. Jikalau tidak memiliki niat untuk menyengaja berbuka puasa maka ia memiliki dua pilihan, antara puasa dan berbuka, baik safar tersebut bersifat sekonyong-konyong karena ada hajat tertentu maupun yang bersifat safar permanen seperti halnya jikalau ia bekerja di  pesawat, kapal, kereta antar pulau, sopir sewaan dan sebagainya, sebagai mana difirmankan dalam QS Al Baqarah: 185, "Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu".

Diriwayatkan di dalam Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas ibnu Malik radhiyallahu`anhu, "Dahulu kita safar bersama Nabi sallallahu alaihi wa sallam, maka tidak seorangpun diantara kita yang mencela satu dengan yang lainnya antara yang berpuasa dan yang berbuka".

Dari sahabat Hamzah ibnu Amrin Al Aslamy radhiyallahu`anhu berkata, "Wahai Rasulullah, aku adalah seorang pemuda yang kuat yang musafir, sekiranya aku menjumpai bulan ramadhan dan berpuasa niscaya lebih ringan bagiku dari pada aku mengakhirkan puasa di luar waktu ramadhan, apakah aku berpuasa lebih baik dari berbuka ya Rasulullah?" Maka Nabi sallallahu alaihi wa sallam menjawab, "Mana yang engkau pandang terbaik menurutmu maka lakukanlah". (HR Abu Daud).

Adapun bagi para sopir sewaan yang berpuasa terasa berat karena bertepatan dengan musim panas misalnya, maka dibolehkan baginya untuk menunda puasa bertepatan dengan musim dingin atau hujan, karena bagi musafir mengerjakan mana yang lebih mudah baginya itu adalah yang paling utama, akan tetapi jika sama antara berpuasa dan berbuka maka lebih utama baginya untuk tetap berpuasa, hal ini sebagai mana yang dilakukan oleh Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam safar-safarnya.

Diriwayatkan oleh Imam muslim, dari Abu Darda` berkata, "Kami beserta Nabi sallallahu alaihi wa sallam safar pada bulan ramadhan di musim panas yang sangat, hingga salah satu di antara kita meletakkan kedua tangan-Nya di atas kepala kita karena cuaca yang amat panas, dan di antara kita tidak ada yang berpuasa kecuali hanya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan Abdullah ibnu Rowahah".

Dan pernah juga Nabi sallallahu alaihi wa sallam berbuka puasa dalam rangka menjaga sikap bersama para sahabat yang bersafar tatkala mereka merasa sangat berat menjalankan ibadah puasa, sebagai mana diriwayatkan dalam sohih Muslim dari sahabat Jabir radhiyallahu`anhu bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam keluar menuju Makkah pada waktu fathu Makkah di saat berpuasa hingga sampai pada suatu tempat pegunungan yang bernama Kurroul Ghomim para sahabat bertanya kepada Nabi mengeluhkan beratnya berpuasa dan meminta pendapat dari Nabi apa yang sebaiknya dilakukan, maka Nabi sallallahu alaihi wa sallam meminta secangkir air dan meminumnya di waktu ashar dan para sahabatpun melihatnya".

Dalam riwayat Abu Said Al Hudriy radhiyallahu`anhu tatkala sampai pada suatu sungai yang menggenang dan Nabi di saat itu mengendarai keledai maka Nabi bersabda, "Wahai para manusia, minumlah, Sesungguhnya aku tidak seperti kalian, aku menunggangi tunggangan". Maka para sahabat enggan untuk minum dan membatalkan puasa mereka, hingga Nabi turun dari keledai dan duduk berjongkok seraya mengambil air dan meminumnya". (HR Ahmad).

Dalam hadits Jabir tatkala Nabi sallallahu alaihi wa sallam membatalkan puasanya karena para sahabat merasa tidak mampu berpuasa dalam safar yang cuacanya sangat panas, dijumpai sebagian sahabat tidak mau berbuka maka Nabi bersabda, "Mereka telah berbuat maksiat...Mereka telah berbuat maksiat....". (HR Muslim).

Di dalam sohih Bukhari dan Muslim, tatkala Nabi sallallahu alaihi wa sallam safar bersama para sahabat, maka Nabi melihat sebagian sahabat telah diberikan payung dan naungan dalam keadaan tertatih tatih, (dalam riwayat lain digendong dan dipandu) maka Nabi bertanya, "Apa ini?" maka di jawab, "Orang ini memaksakan diri untuk tetap berpuasa wahai Rasulullah", maka Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah termasuk berbuat kebaikan, berpuasa disaat bersafar ( berpuasa dan memberatkan diri hingga merepotkan manusia yang lain )".

Jika seseorang bepergian safar di siang hari bulan ramadhan dan merasa berat untuk meneruskan puasa maka boleh baginya berbuka jikalau ia telah keluar dari daerah tempat tinggalnya, sebagai mana dijelaskan dalam hadits hadits di atas. Dan tidak boleh ia tidak berpuasa hanya sekedar rencana bersafar dan belum keluar dari daerah tempat tinggalnya.
Dan jikalau seseorang musafir yang tidak puasa telah kembali dari safarnya pada siang hari ramadhan maka hendaknya ia menahan makan dan minum dan lainnya hingga matahari terbenam dalam rangka menghormati waktu siang  ramadhan, namun demikian ia tetap mengganti puasa di kesempatan lain. Pendapat lain mengatakan boleh baginya untuk makan dan minum dan lainnya, akan tetapi tidak melakukan dengan terang terangan akan tetapi dengan tersembunyi, supaya tidak timbul fitnah dan mengganggu orang berpuasa.

7. Orang yang sedang sakit yang dimungkinkan ia pulih kembali dan sembuh seperti sedia kala, maka golongan ini tidak terlepas dari tiga keadaan:

« Ia tidak merasa berat dan tidak timbul mudharat tatkala melakukan puasa, maka wajib bagi nya untuk tetap berpuasa, karena sakit yang ia alami bukan suatu udzur untuk bolehnya meninggalkan puasa.

« Ia merasa berat untuk melakukan puasa, akan tetapi jikalau ia berpuasa tidak ada mudharat yang menimpanya, maka baginya boleh meninggalkan puasa, sebagai mana masuk dalam keumuman ayat Al Baqarah: 185, "Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu". Dan makruh baginya memaksakan berpuasa sedangkan ia merasa berat.

« Jikalau ia memaksakan berpuasa maka akan menimbulkan mudharat bagi dirinya, maka wajib baginya untuk berbuka puasa dan tidak boleh untuk memaksakan diri untuk tetap berpuasa. Sebagai mana di firman-Nys dalam QS An-Nisā': 29, "Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu".

» hari ke delapan «

8. Wanita yang dalam keadaan haid, maka haram baginya untuk berpuasa dan tidak sah untuk puasa, sebagai mana sabda Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, "Tidaklah aku menjumpai seorang yang terdapat padanya kelemahan akal dan agama yang mampu untuk menggoyahkan jiwa lelaki yang tangguh melainkan seorang wanita, lemah akalnya karena persaksian wanita separuh dari persaksian lelaki, dan lemah agamanya adalah ia telah mengerjakan sholat dan puasa di saat ia haid". (HR Bukhari dan Muslim).

Darah haid adalah darah yang keluar karena kebiasaan yang terjadi pada hari-hari tertentu.

Jikalau seorang wanita keluar darah kebiasaannya pada siang hari ramadhan sebelum matahari terbenam maka batal puasa yang ia kerjakan, dan ia mengganti di lain waktu.

Dan jikalau ia telah selesai dari kebiasaan haid pada malam hari walaupun menjelang fajar maka ia wajib ikut serta berpuasa meski belum sempat mandi kecuali tatkala setelah muncul fajar, karena puasa yang ia lakukan adalah sah, sebagai mana hal ini pernah diriwayatkan oleh `Aisyah radhiyallahu`anha bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam pagi hari dalam keadaan jinabah dan kemudian berpuasa ramadhan". (HR Bukhari dan Muslim).

Hukum nifas sama dengan hukum haid dalam segala keadaan.
Maka wajib bagi wanita yang meninggalkan puasa untuk menganti puasa di lain waktu.

9. Seorang wanita yang sedang hamil atau menyusui bayi yang merasa kawatir terhadap dirinya atau terhadap anaknya maka di boleh baginya untuk berbuka dan tidak berpuasa, sebagai mana di diriwayatkan oleh sahabat Anas ibnu Malik Al Ka`by radhiyallahu`anhu bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menggugurkan sebagian sholat dan puasa pada seorang musafir, wanita hamil dan menyusui". (HR Abu Daud,Tirmidzi, Nasa`i dan Ibu Majah).

Dan wajib baginya untuk menganti puasa di lain kesempatan jikalau rasa kawatir tersebut telah hilang sebagai mana hukum orang yang sedang sakit.

10. Orang yang membutuhkan untuk berbuka puasa dalam rangka menolak mudharat yang lainnya seperti memberikan pertolongan orang yang tenggelam, kebakaran, gempa, dan semisalnya yang tidak mungkin untuk melakukan pertolongan kecuali dengan memperkuat tenaga dengan makan dan minum, maka boleh bagi mereka untuk berbuka, bahkan bisa jadi wajib untuk berbuka dalam rangka menyelamatkan nyawa yang di ambang kematian.

Demikian pula dengan kondisi jihad jikalau membutuhkan untuk menghimpun tenaga dan kekuatan, maka dibolehkan untuk berbuka puasa dan mengganti di lain kesempatan. Seperti halnya jikalau di kepung oleh musuh yang menyerang kaum muslimin.

Dan dianjurkan bagi yang memiliki kesempatan agar bersegera untuk menganti puasa yang ia tinggalkan tatkala udzur dan halangan tersebut hilang.

Dibolehkan untuk mengakhirkan hutang puasa yang ia tinggalkan hingga sebelum bulan ramadhan berikutnya datang.

Di larang untuk menunda pelaksanaan ganti puasa hingga melampaui bulan ramadhan berikutnya dengan tanpa udzur, karena akan mengakibatkan bertumpuknya hutang puasa, dan dikarenakan pula bahwa puasa bulan ramadhan setiap tahunnya terulang .

Akan tetapi jikalau udzur terus menerus ada pada dirinya hingga meninggal dunia maka ia tidak berdosa dan tidak wajib mengganti, tidak dengan fidyah juga tidak dipuasakan oleh walinya.

Jikalau ia memiliki kesempatan akan tetapi tidak digunakan dengan baik hingga wafat, maka walinya berkewajiban untuk melakukan puasa sebagai pengganti, sebagai mana sabda Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, "Barangsiapa yang meninggal dan ia memiliki hutang puasa, maka hendaknya walinya melakukan puasa untuk mengantinya". (HR Bukhari dan Muslim).

Dan jikalau walinya berhalangan maka boleh baginya untuk membayarkan fidyah untuknya sebesar setengah kilo dan sepuluh gram gandum/ kurma/ beras yang baik.

Semoga Allah Ta`ala mengampuni segala dosa dosa kita, dan memaafkan kekurangan kita semua, serta memberikan kepada kita petunjuk cahaya dan hidayah-Nya.

📔📔📚📚📚📘📘

Jumat, 16 April 2021

BULAN RAMADHAN BULAN BERTAQWA

BULAN RAMADHAN BULAN BERTAQWA

As-Syaikh Prof DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullahu Ta'ala.

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala Rosulillah, wa ba'du :

Sesungguhnya Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang telah memerintahkan kepada para hamba agar bertakwa kepada Nya, agar mencapai kebahagiaan dan ketenteraman di dunia dan akhirat serta meraih ridho Nya dan di masukkan ke dalam surga Nya yang kekal abadi dan selamat dari siksa api neraka.

Takwa ini merupakan wasiat Allah Ta'ala kepada orang-orang terdahulu dan terakhir, sebagaimana firman Allah Ta'ala,

وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ

"  Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah ". (Q.S.4 An-Nisaa 131)

Dan Allah Ta'ala mensyari'atkan ibadah puasa memiliki hikmah agar meraih takwa.
Allah Ta'ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

" Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
(Q.S.2 Al-Baqorah :183)

Ibadah puasa merupakan salah satu wasilah atau sarana untuk meraih takwa, dikarenakan didalam nya mengandung pengendalian jiwa dan syahwat untuk ketaatan kepada Allah Ta'ala, dan tidak di syariat kan ibadah di bulan suci ini kecuali untuk merealisasikan takwa, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah,

: (( وللصوم تأثيرٌ عجيب فى حفظ الجوارح الظاهرة والقوى الباطنة وحِميتها عن التخليط الجالب لها المواد الفاسدة التي إذا استولت عليها أفسدتها ، واستفراغ المواد الرديئة المانعة لها من صحتها ؛ فالصومُ يحفظ على القلب والجوارح صحتها ، ويُعيد إليها ما استلبته منها أيدى الشهوات، فهو من أكبر العونِ على التقوى كما قال تعالى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ }

" Didalam ibadah puasa memiliki pengaruh yang sangat luar biasa untuk menjaga anggota badan yang nampak dan yang tersembunyi, yang diantaranya adalah menjaga dari menimbunnya dzat dzat yang berbahaya di dalam tubuh yang  akan merusak anggota tubuh, dan membersihkan dzat bahaya tersebut merupakan bagian untuk menyehatkan nya, maka puasa dapat menjadikan hati dan anggota badan sehat, dan mengendalikan diri dari pengaruh syahwat, dan ini merupakan faktor untuk meraih takwa,  sebagaimana firman Allah Ta'ala, " Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa ".

Berkata Al-Ala'mah As-Sa'di dalam tafsirnya, dalam firman Allah Ta'ala,

لقوله{ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ }: (( فإن الصيام من أكبر أسباب التقوى، لأن فيه امتثال أمر الله واجتناب نهيه ))

" ( Agar kamu bertakwa ) , Sesungguhnya puasa merupakan salah satu sebab terbesar untuk meraih takwa, dikarenakan terkandung dalam nya  melaksanakan perintah dan menjauhi larangan ".

Adapun penjelasan secara rinci bahwa ibadah puasa merupakan sarana meraih ketakwaan, sebagai berikut :

*  Orang yang berpuasa meninggalkan makan, minum, berhubungan pasutri, dan sebagai nya yang nafsu ini condong untuk mengerjakan nya dalam rangka menjaga perintah Allah Ta'ala, mengharapkan pahala di sisi Nya, dan ini merupakan ketakwaan.

* Orang yang berpuasa adalah melatih diri dari muroqobah atau merasa di awasi oleh Allah, di mana ia meninggalkan segala sesuatu yang disukai nafsu, walaupun secara nyata ia mampu melakukan, dan ia meninggalkan karena pengetahuannya bahwasanya Allah Ta'ala melihat dirinya.

* Ibadah puasa dapat mempersempit ruang gerak setan, karena ia berjalan dengan jalan nya darah, dengan puasa melemahkan gerakan nya dan mencegah dari perbuatan maksiat.

* Ibadah puasa secara umum, mengokohkan untuk berbuat ketaatan, sedangkan ketaatan merupakan perangai orang yang bertakwa.

* Orang-orang yang memiliki kecukupan jika merasakan perih nya rasa lapar, akan mendorong dirinya untuk saling berbagi kepada yang miskin, dan ini adalah perbuatan takwa.

Takwa kepada Allah Ta'ala adalah berbuat taat dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan, yaitu menjadikan batasan antara dirinya dengan yang ia takutkan, yaitu dengan menjadikan batasan antara dirinya dengan kemurkaan dan kemarahan Allah Ta'ala dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Allah Ta'ala terkadang memerintahkan kepada para hamba agar bertakwa kepada Nya, dan terkadang memerintahkan agar kita menjaga diri dari siksa api neraka, sebagaimana firman Allah Ta'ala,

:{ فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ }

" Dan berlindung lah dari siksa api neraka yang bahan bakar nya adalah manusia dan bebatuan ".
( Q.S.2 Al-Baqorah : 24 )

Allah Ta'ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

" Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (Q.S.66 At-Tahriim :6)

Dan terkadang Allah Ta'ala memerintahkan diri kita dari siksa hari kiamat, sebagaimana firman Allah Ta'ala,

وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

" Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)."
( Q.S.2 Al-Baqorah : 281)

Rosulillah shallallahu alaihi wa sallam dahulu senantiasa ber wasiat kepada para sahabat radhiyallahu anhum agar mereka bertakwa kepada Allah Ta'ala, demikian pula tatkala mengutus utusan untuk berperang di jalan Allah senantiasa mengingat kan kepada pemimpin nya secara khusus agar bertakwa kepada Allah Ta'ala, dan kepada para pasukan nya, demikian pula tatkala menunaikan haji wada' beliau senantiasa memberikan wasiat agar bertakwa kepada Allah Ta'ala.

Para generasi sahabat juga senantiasa memberikan perhatian yang besar dalam urusan bertakwa kepada Allah Ta'ala, merealisasikan, dan saling ber wasiat diantara mereka serta memberikan penjelasan tentang hakikat takwa, sebagaimana sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata,

الْمُتَّقَونَ : الَّذِينَ يَحْذَرُونَ مِنَ اللهِ عُقُوبَتَهُ فِي تَرْكِ مَا يَعْرِفُونَ مِنَ الْهُدَى ، وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ فِي التَّصْدِيقِ بِمَا جَاءَ بِهِ "

" Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang takut terhadap siksa Allah Ta'ala tatkala  meninggalkan apa yang mereka ketahui dari petunjuk kebenaran, dan mereka senantiasa berharap akan rahmat Nya dengan mengimani tentang apa yang diberitakan kepada nya  ".

Al-Hasan Al-Basry rahimahullah berkata,

" الْمُتَّقُونَ اتَّقَوْا مَا حُرِّمَ عَلَيْهِمْ ، وَأَدَّوْا مَا افْتُرِضَ عَلَيْهِمْ " .

" Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menjauhi apa yang dilarang bagi mereka, dan melaksanakan segala yang di wajibkan kepada mereka ".

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata,

" لَيْسَ تَقْوَى اللهِ بِصِيَامِ النَّهَارِ وَلاَ بِقِيَامِ اللَّيْلِ وَالتَّخْلِيطِ فِيمَا بَيْنَ ذَلِكَ ، وَلَكِنَّ

تَقْوَى اللهِ: تَرْكُ مَا حَرَّمَ اللهُ ، وَأَدَاءُ مَا افْتَرَضَ الله " .

" Takwa bukan sekadar berpuasa di siang hari dan melakukan sholat tarawih di malam hari dan mengerjakan keduanya, akan tetapi takwa adalah meninggalkan segala larangan dan melakukan segala kewajiban ".

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu berkata,

في قوله تعالى{ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ }[آل عمران:102] قال : " أَنْ يُطَاعَ فَلَا

يُعْصَى ، وَيُذْكَرَ فَلَا يُنْسَى ، وَأَنْ يُشْكَرَ فَلَا يُكْفَرَ "

Menafsirkan firman Allah Ta'ala, " Bertakwalah kepada Allah Ta'ala dengan sebenar takwa ", Hendaknya menaati-Nya dan tidak bermaksiat, senantiasa mengingat dan tidak melupakan, serta senantiasa bersyukur dan tidak mengkufuri ".

Tholk ibnu Habib berkata,

" التَّقْوَى أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ تَرْجُو ثَوَابَ اللهِ ، وَأَنْ تَتْرُكَ

مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ تَخَافُ عِقَابَ الله "

" Takwa adalah engkau melakukan ketaatan atas dasar petunjuk dari Allah Ta'ala dan berharap pahala Nya, dan meninggalkan maksiat kepada Allah Ta'ala atas dasar petunjuk dari Allah dan engkau takut akan siksa Nya ".

Tatkala seseorang berkata kepada sahabat Umar bin Khottab radhiyallahu anhu, " Bertakwalah engkau kepada Allah ", maka Umar berkata,

: " لَا خَيْرَ فِيكُمْ إِنْ لَمْ تَقُولُوهَا، وَلَا خَيْرَ فِينَا إِذَا لَمْ نَقْبَلْهَا ".

" Tiada kebajikan pada diri mu jika tidak mengatakan nya, dan tidak ada kebijakan pada diriku jika aku tidak menerima nya ".

Takwa tempatnya di dalam hati, sebagaimana riwayat imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu , bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

(التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ )

" Takwa disini, dan menunjukkan kepada dada beliau  tiga kali ".

Imam Ibnu Rojab rahimahullah berkata,

" وإذا كان أصلُ التَّقوى في القُلوب ، فلا يطَّلعُ أحدٌ على حقيقتها إلا الله عز وجل ، كما قال صلى الله عليه وسلم : ((إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ))

" Jika asal usul takwa didalam hati, maka tidak seorangpun melihat hakikat nya kecuali hanya Allah Ta'ala semata, sebagaimana yang di ungkapkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, " Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak melihat kepada rupa-rupa kalian dan harta kalian akan tetapi melihat kepada hati dan amal kalian ".

- وحينئذٍ فقد يكون كثيرٌ ممن له صورة حسنة أو مال أو جاه أو رياسة في الدنيا قلبه خراباً من التقوى ، ويكون من ليس له شيء من ذلك قلبُه مملوءاً من التقوى، فيكون أكرم عند الله عز وجل ، بل ذلك هو الأكثر وقوعاً "

Dan dari sana, bisa jadi seseorang yang memiliki paras yang elok dan harta melimpah, memiliki kedudukan, pangkat, di dunia akan tetapi hatinya busuk, dan sebaliknya jika seseorang tidak memiliki apapun akan tetapi hatinya dipenuhi oleh takwa, maka ia lebih mulia disisi Allah Ta'ala dan ini biasa yang sering terjadi ".

Takwa memiliki buah dan faedah di dunia dan akhirat, diantaranya :

* Mendapatkan ilmu yang bermanfaat, sebagaimana firman Allah Ta'ala,

: { وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ } [البقرة: 282]،

" Bertakwalah kepadaAllah Ta'ala dan niscaya Dia akan memberikan ilmu kepadamu ".

وقال سبحانه: { إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا } [الأنفال: 29].

" Jika sekiranya engkau bertakwa kepada Allah niscaya akan memberikan kepada mu Furqon ".

* Diantara faedah dari bertakwa adalah mendapatkan kemudahan dan jalan keluar dan limpahan rizki yang tidak disangka sangka.

قال تعالى: { وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا [2] وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ } [الطلاق:2-3] .

" Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan diberikan jalan keluar. Dan diberikan rizki dari sisi yang tidak disangka sangka ".

* Diantara faedah dari bertakwa dalam urusan akhirat adalah mendapatkan keberuntungan dengan masuk ke dalam surga dan tempat yang tinggi di sisi Allah Ta'ala.

قال تعالى: { إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ } [القلم:34] ،

" Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mereka disisi Allah mendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatan ".

* Diantara faedah yang paling agung adalah mendapatkan kesempatan untuk berjumpa dan melihat Allah Ta'ala.

إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى جَنَّٰتٍ وَنَهَرٍ ﴿٥٤﴾  فِى مَقْعَدِ صِدْقٍ عِندَ مَلِيكٍ مُّقْتَدِرٍۭ ﴿٥٥﴾

"  Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai "."Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa." (Q.S.54: Al Qomar : 55)

Marilah kita memohon kepada Allah Ta'ala Dzat Penguasa Arsy Adhim, dimana kita sedang berada di bulan ramadan yang penuh berkah agar kita diberikan ketakwaan dalam hati hati kita yang menjadi bekal bagi kita di dunia ini dan kelak di akhirat. 

📔📔📚📚📓📓