Sabtu, 23 Mei 2020

PENGHUJUNG RAMADHAN

Sungguh hari-hari di bulan nan suci ini dipenuhi dengan amal puasa, dzikir, tilawah. Sedang malam-malamnya senantiasa diisi ketaatan seperti sholat malam dan ibadah. Begitu cepat hari dan malam berlalu penuh kenangan, seolah hanya sekejab dari bagian siang dan malam. Tiada kata yang pantas kita ucapkan melainkan panjatan doa dan harapan agar hari yang terlewat mendatangkan barokah di hari-hari selanjutnya kedepan. Dan agar kita diberi taufiq mampu menyempurnakan bulan ini dengan membawa rahmat, ampunan, magfiroh serta dibebaskan dari neraka. Dan semoga kita diberi kesempatan menjumpai ramadhon berikutnya tahun depan hingga kita dipertemukan dalam iman salamah dan islam.

Allah Ta'ala mensyariatkan di penghujung bulan ini ibadah muliya sehingga menambah iman dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya, diantaranya:

√ Zakat fitri, dimana Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memfardhukan satu sok dari makanan, diriwayatkan dari Abdullah ibnu Umar radhiyallahu'anhu berkata, "Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memfardhukan zakat fitri satu sok dari kurma atau satu sok dari gandum kepada setiap manusia merdeka atau budak, laki atau perempuan, besar atau kecil dari muslimin, dan memerintahkan agar ditunaikan sebelum pergi menuju sholat ('ied)". (HR Bukhary dan Muslim).

Dari Abu said Al Khudriy radhiyallahu'anhu berkata, "Kita di masa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam menunaikan zakat fitri satu sok dari makanan, dan makanan kita adalah gandum, zabib, keju dan kurma". (HR Bukhary dan Muslim).

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu, "Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memfardhukan zakat fitri sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia, perbuatan laghwi dan sebagai persediaan makan bagi orang miskin. Maka barangsiapa yang menunaikannya sebelum sholat maka itu adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah sholat maka itu hanyalah sedekah seperti sedekah yang ada". (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Zakat fitrah wajib ditunaikan seorang muslim untuk dirinya pribadi dan orang-orang yang dibawah naungan nafkahnya seperti anak, istri, dan yang dinafkahi lainnya. Adapun janin di dalam perut tidak wajib dizakati, akan tetapi bila tetap dizakati hukumnya istihab (sunnah).

Dan hendaknya ia menunaikan zakat di tempat ia berada selama sebulan terakhir. Jika ia berada disuatu negeri/ wilayah tertentu, sedang keluarganya di negeri berbeda, maka ia membayarkan zakat untuk dirinya dan keluarganya di tempat ia berada. Dan dibolehkan minta tolong keluarganya agar membayarkan zakat untuk dirinya dan diri mereka di tempat mereka tinggal.

Waktu menunaikan zakat dimulai dari tengelamnya matahari malam 'ied hingga menjelang sholat. Dan dibolehkan ditunaikan sehari atau dua hari sebelum 'ied, yaitu tgl 28, 29 Ramadhon. Adapun sebelumnya lagi maka tidak dibolehkan. Mengakhirkan pembayaran zakat menjelang sholat ini yang paling afdhol, dan jika mengakhirkan hingga setelah sholat tanpa udzur, maka ia berdosa, dan wajib mengqhodho' setelahnya.

Orang yang berhak menerima zakat fitrah adalah orang yang berhak menerima zakat mal pula sama tidak berbeda. Maka dibolehkan memberikannya secara langsung atau diwakilkan ketika menunaikannya. Besaran zakat ini adalah satu sok (±2,5 - 3 kg ) dari gandum, tepung, kurma, zabib, keju, dan semisal dari makanan pokok di suatu daerah yang ia tinggali seperti beras, jagung, sagu, dan semisalnya. Tidak boleh menunaikan dengan diuangkan sebagai ganti dari makanan pokok tersebut, dikarenakan hal ini menyelisihi petunjuk Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan menyelisihi amal para sahabat, yang tidak mengenal pembayaran melalui mata uang, walau di saat itu juga dijumpai mata uang. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa melakukan perbuatan yang bukan dari perintah Kami maka tertolak ". (HR Muslim).

√ Bertakbir menjelang 'ied, disyariatkan mulai terbenamnya matahari pada malam 'ied. Allah Ta'ala berfirman: "Dan agar kalian membesarkan nama Allah atas limpahan hidayah pada kalian dan agar kalian bersyukur". (QS Al Baqoroh: 185).

Disunnahkan agar mengeraskan suara bagi lelaki baik di masjid, pasar, rumah, sebagai pengumandangan pengagungan kepada Allah dan menampakkan ibadah dan syukur. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dahulu pergi menuju sholat 'ied dan bertakbir sampai di tempat dan hingga usai sholat. Jika sholat 'ied telah ditunaikan maka berhenti dari takbirnya". (HR Ibnu Abi Syaibah).

Sifat takbirnya adalah: "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil hamd". Setiap muslim mengucapkan untuk dirinya sendiri. Adapun berjamaah dengan satu suara dari pertama hingga akhir maka ini tdk sesuai sunnah, dan tidak dilakukan para salaf, sedang jalan yang baik adalah mengikuti jejak para salaf sholih. Adapun untuk para wanita hendaknya bertakbir secara pelan, dikarenakan mereka dianjurkan agar merendahkan suara sebagaimana menutup anggota badan.

√ Pelaksanaan sholat 'ied. Disunnahkan agar mandi sebelum melaksanakan sholat ied, dan berpakaian yang paling indah yang ia miliki. Tidak dibolehkan memakai sutra, berpakaian isbal, pakaian ketat dan tipis, berpakaian menyerupai kaum kafir, mencukur jenggot, meniru wanita dan kufar, dan supaya mengikuti petunjuk sunnah. Wanita juga dianjurkan pergi menuju tempat sholat dengan tanpa berhias, tanpa memakai wewangian, jangan sampai ia pergi dalam rangka menjalankan ketaatan akan tetapi kenyataannya bermaksyiat kepada Allah seperti bertabaruj, berhias di hadapan lelaki yang bukan mahromnya.

Dari umi Athiyah radhiyallahu'anha berkata, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kita para wanita agar pergi melaksanakan 'ied fitri dan 'adha, baik yang tidak berhalangan, maupun yang berhalangan haid, termasuk para wanita muda, adapun yang berhalangan haid maka diperintahkan agar memisahkan diri dari sholat dan tetap menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Bertanya ummu Athiyah radhiyallahu'anha, "Bagaimana jika salah satu dari kita tidak memiliki jilbab?" Maka dijawab, "Hendaknya saudari lainnya dari kaum muslimin memberikan jilbab kepadanya". (HR Muslim).

Disunnahkan agar memakan kurma pada waktu 'iedul fitri sebelum berangkat menuju tempat sholat, sebagaimana dilakukan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam. Dan disunnahkan agar berbeda antara jalan ketika berangkat dan ketika pulang, dan tidak ada sholat sunnah apapun sebelum dan sesudah sholat 'ied.

Kita memohon kepada Allah agar memungkasi bulan Ramadhon ini dengan keridhoan-Nya, dari seluruh amal dan ucapan kita , dan mengahiri perbuatan kita dengan khotimah yang baik.

~ disarikan dari tulisan Syaikh Abdurrozaq hafidzahullah di www.al-badr.net ~

Minggu, 17 Mei 2020

PERJALANAN MENUJU ALLAH TA`ALA


As-Saikh Prof.DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullah Ta'ala.

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du;

Sesungguhnya seorang mukmin dalam mengarungi kehidupan dunia ini berjalan menuju suatu tujuan, dan tujuan ini adalah menggapai ketaatan Allah Ta'ala dan meraih keridhoan Dzat Yang Maha Agung serta merealisasikan ubudiyah penghambaan kepada Allah Ta'ala, sehingga ia berjalan didalam kehidupannya untuk mengenal Robb nya, nama dan Sifat-Sifat Nya yang menunjukkan akan kebesaran dan keagungan Tuhan nya dan mengesakan peribadatan murni ditujukan kepada Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala berfirman, " Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan". ( QS Al - An ' am 162-164 ).

Jalan seorang mukmin dalam perjalanan ini memiliki dasar dan tujuan, adapun dasarnya adalah berjalan diatas ketaatan dan ubudiyah setahap demi setahap hingga ajal menjemput nya dalam keadaan istiqomah diatas ketaatan.

Allah Ta'ala berfirman, "  Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat). dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) ". ( QS Al-Hijr 97-99 ).

Adapun tujuan akhir bagi seorang mukmin adalah surga Allah Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman, " Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa ". ( QS Ali-Imran 133 ).

Sesungguhnya surga merupakan tujuan dari cita-cita dan pungkasan akhir, yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang kekal abadi, kesenangan yang hakiki, suatu tempat yang suci, tidak pernah dipandang oleh mata, terdengar di telinga, terpikirkan oleh pikiran.

Jika penduduk surga telah memasuki surga maka Allah Ta'ala berfirman kepada para penduduk nya, sebagaimana diriwayatkan dalam shohih Muslim, " Apakah kalian menghendaki agar Aku menambah kenikmatan?....Mereka mengatakan: " Bukankah Engkau telah menjadikan wajah kami bercahaya dan Engkau telah masukkan kami kedalam surga dan dijauhkan dari neraka. ..?", Maka dibukalah hijab, dan tidak ada kenikmatan yang lebih mereka sukai dari melihat kepada wajah Allah Azza wa Jalla ".
Kita memohon kepada Allah Ta'ala agar merasakan kelezatan melihat wajah Nya, dan rindu bertemu dengan Nya.

Sesungguhnya perjalanan menuju Allah Ta'ala membutuhkan penggerak dan penyemangat, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama bahwa penggerak hati seorang mukmin yang jujur ada tiga perkara yaitu: mahabbah atau rasa cinta, roja' atau berharap, dan khouf atau rasa takut.

Adapun mahabbah, maka sesungguhnya rasa cinta ini yang akan menjadikan seseorang mukminin berjalan di atas shiroth Al mustakim yaitu jalan yang lurus dan senantiasa istiqomah berjuang diatas nya.

Adapun roja' atau berharap merupakan nakhoda bagi seorang mukmin dalam mengarungi suatu perjalanan hidup.

Adapun khouf maka ini merupakan kendali yang akan menahan diri dari terjerumus kedalam jalan yang bengkok.

Tiga perkara ini terkumpul dalam firman Allah Ta'ala, " Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti ". ( QS Al - Isra' 57 ).

Dalam perjalanan menuju Allah Ta'ala disana dibutuhkan amalan yang menjadi tonggak dan pilar utama yaitu fardhu-fardhu dan wajibat yang dijumpai dalam ajaran agama islam serta menjauhi segala larangan dan dosa yang akan mendatangkan kemurkaan Dzat Al-Malik Al- Allam.

Tiada sesuatu yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dari menjalankan perkara fardhu dan kewajiban agama.

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhary dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, bahwa Allah Ta'ala berfirman, " Barang siapa yang memusuhi para wali-Ku, sungguh Aku telah mengumandangkan peperangan terhadap nya, dan tidaklah seseorang hamba mendekatkan diri kepada Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai dari pada melakukan perbuatan wajib yang Aku perintahkan atasnya dan senantiasa hamba Ku mendekatkan diri kepada Ku dengan mengerjakan amalan amalan sunnah hingga Aku mencintai nya, sekiranya Aku mencintai nya niscaya Aku sebagai pendengaran nya tatkala ia mendengar, sebagai penglihatan nya tatkala ia melihat, sebagai tangan nya tatkala ia memegang, sebagai kakinya tatkala ia melangkah, jika ia meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku penuhi, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya akan kuberikan perlindungan kepada nya ". ( HR Bukhary ).

Dalam suatu perjalanan menuju Allah Ta'ala tentu disana dijumpai hambatan yang senantiasa akan menghampiri nya sehingga seseorang sepantasnya memiliki rasa harapan terhadap rahmat Allah Ta'ala dan cemas akan hukuman yang Allah timpakan kepada dirinya.

Secara singkat, bahwa hambatan dan rintangan yang utama ada tiga perkara, yaitu:

Pertama, perbuatan syirik dan menyekutukan Allah Ta'ala, dan agar kita selamat dari nya hendaknya senantiasa Mengikhlaskan diri kepada Allah Ta'ala semata murni agama.

Kedua, adalah perbuatan bid'ah dan perkara yang diada-adakan, dan supaya bisa terhindar darinya adalah senantiasa mengikuti petunjuk Rosulillah Sallallahu alaihi wa sallam.
Ketiga, yaitu perbuatan maksiat dengan aneka ragam nya, jika kita terjebak di dalamnya maka jalan keluar nya adalah bertaubat dari dosa tersebut dan berniat kuat agar menjauhi segala perbuatan yang menjerumuskan kepadanya.

Jalan menuju Allah Ta'ala disana dijumpai banyak penghalang dan aral melintang yang sepatutnya seorang mukmin berhati-hati agar perjalanannya tidak putus ditegah jalan.

Diantara penghalang utama adalah setan yang terkutuk -semoga kita diselamatkan Allah Ta'ala dari godaan nya- sehingga banyak dijumpai ayat dalam Al-Qur'an yang memberikan peringatan akan makar dan tipu daya setan yang menjadi musuh bebuyutan anak cucu Adam yang senantiasa menggoda dari sisi depan, belakang, kanan, kiri, dan berusaha untuk menjerumuskan kedalam kesesatan hingga berpaling dari agama Allah Ta'ala dan menjauh dari jalan yang lurus dan ketaatan.

Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda, " Sesungguhnya setan senantiasa berusaha untuk menjerumuskan anak cucu Adam dengan beraneka ragam cara ".
Yaitu ia berusaha menggoda dan mencegah manusia yang berbuat ketaatan hingga merasa bosan dan meninggalkan ketaatan.

Demikian juga dijumpai bala tentara setan dari jin dan manusia yang sangat banyak sekali tidak terhitung semoga kita diberikan perlindungan Allah Ta'ala dari gangguan mereka.

Untuk menempuh perjalanan menuju jalan Allah Ta'ala tidak sepantasnya kita berlambat lambat, malas, bosan, akan tetapi hendaknya bersemangat dan bersegera dan berlomba didalam ketaatan sehingga akan meraih kemenangan dan keberuntungan yang besar.

Seorang manusia dalam mengarungi kehidupan dunia ini dibatasi dengan ajal, sehingga jika ajal seseorang telah datang maka tidak mungkin untuk ditunda.

Dan orang yang beruntung adalah orang yang senantiasa mempersiapkan diri dengan amal sebelum ajal menjemput nya.
Semoga Allah Ta'ala memberikan kekuatan untuk memperbanyak amal kebajikan hingga kita menggapai ridho Allah Ta'ala dan semoga kita dapat istiqomah diatas jalan yang lurus.

📘📘📔📔📔📘📘

Jumat, 08 Mei 2020

GAMBARAN SETELAH KEMATIAN

Alhamdulilah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du;

Allah Ta'ala menciptakan dunia yang fana ini sebagai ladang beramal dan akhirat merupakan hari pembalasan dan kematian merupakan jembatan untuk menuju ke akhirat.

Jika didunia ini terjadi banyak kesamaran dan ketidak adilan, bisa jadi orang yang benar disalahkan dan orang-orang yang salah dibenarkan, maka pada kehidupan akhirat akan tersisihkan antara orang yang taat berseberangan dengan orang-orang yang maksiat, antara orang yang terdzalimi berseberangan dengan orang-orang yang telah berbuat dzalim, antara orang yang dibunuh berhadapan dengan orang-orang yang telah membunuh tanpa hak, antara orang mukmin berseberangan dengan orang-orang yang kafir.

Allah Ta'ala berfirman,

أَمْ نَجْعَلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَٱلْمُفْسِدِينَ فِى ٱلْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ ٱلْمُتَّقِينَ كَٱلْفُجَّارِ ﴿٢٨﴾

" Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?" (Q.S. Shaad :28)

Pada hari kiamat setiap manusia mendapatkan balasan yang setimpal sesuai amal perbuatannya, jika ia baik maka mendapatkan keberuntungan dan jika ia buruk maka mendapatkan siksaan dari api neraka yang menyala-nyala.

Allah Ta'ala berfirman,

وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ لِيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔوا۟ بِمَا عَمِلُوا۟ وَيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ بِٱلْحُسْنَى ﴿٣١﴾

" Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (Q.S. An-Najm : 31)

Jika kematian telah menghampiri manusia, maka ia segera berpindah menuju gerbang akhirat, dan tatkala ia telah diletakkan di liang kubur, maka alam barzakh merupakan penantian hingga tegak hari kiamat.
Didalam penantian ini, orang-orang mukmin akan mendapatkan kenikmatan, diluaskan kuburnya, diperlihatkan tempat surga nya, dengan dibukakan pintu-pintu surga.
Sedangkan orang-orang yang tidak beriman, ia akan di himpit di kuburnya, diberikan siksaan, dan diperlihatkan tempat neraka nya, dengan dibukakan pintu-pintu neraka.

Allah Ta'ala berfirman,

ٱلنَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدْخِلُوٓا۟ ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ ٱلْعَذَابِ ﴿٤٦﴾

" Kepada mereka (di alam kubur)  dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras". (Q.S. Al-Ghafir : 46)

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدَهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya apabila salah seorang di antara kalian mati maka akan ditampakkan kepadanya calon tempat tinggalnya pada waktu pagi dan sore. Bila dia termasuk calon penghuni surga, maka ditampakkan kepadanya surga. Bila dia termasuk calon penghuni neraka maka ditampakkan kepadanya neraka, dikatakan kepadanya: ‘Ini adalah tempat tinggalmu, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala membangkitkanmu pada hari kiamat". (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيَقُولَانِ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ. ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَاقٍ مِنْ حَدِيدٍ بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ فَيَسْمَعُهَا مَنْ عَلَيْهَا غَيْرُ الثَّقَلَيْنِ

Adapun orang kafir atau munafik, maka kedua malaikat tersebut bertanya kepadanya: “Apa jawabanmu tentang orang ini (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam)?” Dia mengatakan: “Aku tidak tahu. Aku mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.” Maka kedua malaikat itu mengatakan: “Engkau tidak tahu?! Engkau tidak membaca?!” Kemudian ia dipukul dengan palu dari besi, tepat di wajahnya. Dia lalu menjerit dengan jeritan yang sangat keras yang didengar seluruh penduduk bumi, kecuali dua golongan: jin dan manusia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dalam hadits Sahabat Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu yang panjang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang orang kafir setelah mati:

فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا مِنَ النَّارِ؛ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسُمُومِهَا وَيَضِيقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوؤُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ، فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالشَّرِّ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ. فَيَقُولُ: رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ

“Gelarkanlah untuknya alas tidur dari api neraka, dan bukakanlah untuknya sebuah pintu ke neraka. Maka panas dan uap panasnya mengenainya. Lalu disempitkan kuburnya sampai tulang-tulang rusuknya berimpitan. Kemudian datanglah kepadanya seseorang yang jelek wajahnya, jelek pakaiannya, dan busuk baunya. Dia berkata: ‘Bergembiralah engkau dengan perkara yang akan menyiksamu. Inilah hari yang dahulu engkau dijanjikan dengannya (di dunia).’ Maka dia bertanya: ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejelekan.’ Dia menjawab: ‘Aku adalah amalanmu yang jelek.’ Maka dia berkata: ‘Wahai Rabbku, jangan engkau datangkan hari kiamat’.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Dalam hadits Al-Bara’ yang panjang, bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ. قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ. قَالَ: وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ، فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ

“Maka gelarkanlah permadani dari surga, dandanilah ia dengan pakaian dari surga. Bukakanlah baginya sebuah pintu ke surga, maka sampailah kepadanya bau wangi dan keindahannya. Dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang, kemudian datang kepadanya seorang yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya, wangi baunya. Lalu dia berkata: ‘Berbahagialah dengan perkara yang menyenangkanmu. Ini adalah hari yang dahulu kamu dijanjikan.’ Dia pun bertanya: ‘Siapa kamu? Wajahmu adalah wajah orang yang datang membawa kebaikan.’ Dia menjawab: ‘Aku adalah amalanmu yang shalih…” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Diriwayatkan dari sahabat Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلَّا الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ

“Setiap orang yang mati akan diakhiri/diputus amalannya, kecuali orang yang mati dalam keadaan ribath di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amalannya akan dikembangkan sampai datang hari kiamat dan akan diselamatkan dari fitnah kubur.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Diriwayatkan dari sahabat Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دُفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ، وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ

“Orang yang mati syahid akan mendapatkan enam keutamaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala: diampuni dosa-dosanya dari awal tertumpahkan darahnya, akan melihat calon tempat tinggalnya di surga, akan diselamatkan dari adzab kubur, diberi keamanan dari ketakutan yang sangat besar, diberi hiasan dengan hiasan iman, dinikahkan dengan bidadari, dan akan diberi kemampuan untuk memberi syafaat kepada 70 orang kerabatnya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يـَمُوتُ يَوْمَ الْـجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malamnya, kecuali Allah akan melindunginya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad)

Setelah kehidupan di alam barzakh, maka tegak hari kiamat, setelah bunyi sangkakala pertama ditiup, maka kehancuran akan terjadi, kemudian ditiup sangkakala yang kedua maka manusia bangkit dari kuburnya.

Allah Ta'ala berfirman,

إِنَّ يَوْمَ ٱلْفَصْلِ كَانَ مِيقَٰتًا ﴿١٧﴾  يَوْمَ يُنفَخُ فِى ٱلصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا ﴿١٨﴾

" Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan".
" yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok". (Q.S. An-Naba':17-18)

Allah Ta'ala berfirman,

وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا مَن شَآءَ ٱللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ ﴿٦٨﴾

" Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)." (Q.S. Az-Zumar :68)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ نَشَرَ الرَّجُلاَنِ ثَوْبَهُمَا بَيْنَهُمَا ، فَلاَ يَتَبَايَعَانِهِ وَلاَ يَطْوِيَانِهِ ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدِ انْصَرَفَ الرَّجُلُ بِلَبَنِ لِقْحَتِهِ فَلاَ يَطْعَمُهُ ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَهْوَ يُلِيطُ حَوْضَهُ فَلاَ يَسْقِى فِيهِ ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ رَفَعَ أُكْلَتَهُ إِلَى فِيهِ فَلاَ يَطْعَمُهَا

“Kiamat akan terjadi sementara dua orang sedang bertransaksi jual beli baju, keduanya belum sepakat dan belum melipat bajunya. Kiamat akan terjadi sementara orang sedang pulang membawa susu hasil perahan hewannya, namun ia belum sempat meminumnya. Kiamat akan terjadi, sementara ia sedang memperbaiki kolamnya, namun belum sempat digunakan. Kiamat akan terjadi sementara seseorang sedang mengangkat suapannya, namun belum sempat dimakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Sahabat Abdullah bin ‘Amr radhiallahu unhuma berkata:

قَالَ أَعْرَابِيٌّ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الصُّورُ؟ قَالَ: قَرْنٌ يُنْفَخُ فِيهِ

Seorang badui bertanya: “Wahai Rasulullah, apa itu ash-shur?” Beliau  Shallallahu alaihi waktu salam  menjawab: “ Tanduk yang akan ditiup.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Diriwayatkan dari Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu anhu, bahwasanya  Rasulullah salallahu alaihi wa sallam  bersabda:

كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ

“Bagaimana aku akan senang hidup di dunia, sementara pemegang sangkakala telah memasukkannya ke mulutnya. Dia memasang pendengaran untuk diijinkan (meniupnya). Kapanpun dia diperintah meniupnya, dia akan meniupnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Diriwayatkan dari Sahabat Abdullah bin Amr' ibn Ash' radhiyallahu anhuma bahwasanya  Rasulullah Sallallahu alaihi waktu salllam bersabda dalam sebuah hadits yang panjang:

ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا ثُمَّ لَا يَبْقَى أَحَدٌ إِلَّا صَعِقَ ثُمَّ يُنْزِلُ اللهُ مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوْ الظِّلُّ -شَكَّ الراوي- فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Kemudian ditiuplah sangkakala, maka tidak ada seorangpun yang mendengarnya kecuali akan mengarahkan pendengarannya dan menjulurkan lehernya (untuk memerhatikannya). Lalu, tidak tersisa seorangpun kecuali dia mati. Kemudian Allah l menurunkan hujan seperti gerimis atau naungan, maka tumbuhlah jasad-jasad manusia karenanya. Lalu ditiuplah sangkakala untuk kali berikutnya, tiba-tiba mereka bangkit dari kuburnya dalam keadaan menanti apa yang akan terjadi ”. (HR. Muslim)

Jika manusia telah dibangkitkan dari kubur mereka, maka seluruh manusia akan di giring ke padang Mahsyar dalam keadaan tidak berpakaian, tidak beralas kaki dan tidak di khitan.

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma, berkata:

قَامَ فِينَا رَسُولُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم بِمَوْعِظَةٍ، فَقَالَ: إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا {كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ} وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memberi nasihat kepada kami, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, Sesungguhnya kalian akan digiring menghadap Allah Ta’ala pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak dikhitan, sebagaimana firman Allah Ta'ala : “Sebagaimana Kami telah menciptakannya, demikian pula Kami mengembalikannya, sebagai janji atas Kami. Sesungguhnya Kami akan benar-benar melakukannya.’ (Q.S. Al-Anbiya’: 104)

“Ketahuilah, makhluk yang pertama kali akan dikaruniai pakaian pada hari kiamat adalah Ibrahim Alaihissalam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiallahu Anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

يَا رَسُولَ اللهِ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ: الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ

“Wahai Rasullullah, apakah para lelaki dan wanita sebagiannya akan melihat sebagian yang lain?” Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab: “Urusan (pada hari itu) lebih dahsyat daripada mereka memerhatikan hal tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari sahabat  Sahl bin Sa’d Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ كَقُرْصَةِ نَقِيٍّ. قَالَ سَهْلٌ أَوْ غَيْرُهُ: لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ

“Umat manusia akan digiring pada hari kiamat ke mahsyar, yaitu sebuah tempat yang luas. Tanahnya berwarna putih seperti bundaran yang bersih.” Sahl dan selainnya berkata: “Tidak ada di sana tanda tempat keberadaan bagi seorangpun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ . فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِى الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا » .

“ Matahari akan didekatkan dengan makhluk pada hari kiamat sehingga jaraknya satu mil. Ketika itu, manusia berkeringat sesuai dengan amalnya. Di antara mereka ada yang berkeringat sampai ke mata kaki, ada pula yang sampai ke kedua lutut, ada yang sampai ke pinggangnya dan ada yang tenggelam oleh keringatnya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan tangannya ke mulutnya". (HR. Muslim)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata:
1. Imam atau pemimpin yang adil.
2. Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya.
3. Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid.
4.  Dua orang yang saling mencintai karena Allah, dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah.
5. Dan seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik rupawan, lalu ia mengatakan: “Sungguh aku takut kepada Allah.”
6. Seseorang yang bershodaqoh lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.
7.   Dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kemudian waktu penantian di padang mashyar menjadi lama, dan tidak seorangpun berbicara kecuali yang di izinkan Allah Ta'ala, dan keadaan bertambah mencekam, sehingga para manusia mendatangi para Nabi untuk memohon kepada Allah syafaat, akan tetapi setiap Nabi berhalangan untuk memintakan syafaat dihadapan Allah Ta'ala.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال:

أتي رسول الله صلى الله عليه وسلم بلحم، فرفع إليه الذراع، وكانت تعجبه، فنهس منها نهسة ثم قال: (أنا سيد الناس يوم القيامة، وهل تدرون مم ذلك؟ يجمع الله الناس الأولين والآخرين في صعيد واحد، يسمعهم الداعي وينفذهم البصر، وتدنو الشمس، فيبلغ الناس من الغم والكرب ما لا يطيقون ولا يحتملون، فيقول الناس: ألا ترون ما قد بلغكم، ألا تنظرون من يشفع لكم إلى ربكم؟ فيقول بعض الناس لبعض: عليكم بآدم، فيأتون آدم عليه السلام فيقولون له: أنت أبو البشر، خلقك الله بيده، ونفخ فيك من روحه، وأمر الملائكة فسجدوا لك، اشفع لنا إلى ربك، ألا ترى إلى ما نحن فيه، ألا ترى إلى ما قد بلغنا؟ فيقول آدم: إن ربي قد غضب اليوم غضبا لم يغضب قبله مثله، ولن يغضب بعده مثله، وإنه نهاني عن الشجرة فعصيته، نفسي نفسي نفسي، اذهبوا إلى غيري، اذهبوا إلى نوح فيأتون نوحا فيقولون: يا نوح، إنك أنت أول الرسل إلى أهل الأرض، وقد سماك الله عبدا شكورا، اشفع لنا إلى ربك، ألا ترى إلى ما نحن فيه؟ فيقول: إن ربي عز وجل قد غضب اليوم غضبا لم يغضب قبله مثله، ولن يغضب بعده مثله، وإنه قد كانت لي دعوة دعوتها على قومي، نفسي نفسي نفسي، اذهبوا إلى غيري، اذهبوا إلى إبراهيم فيأتون إبراهيم فيقولون: يا إبراهيم، أنت نبي الله وخليله من أهل الأرض، اشفع لنا إلى ربك، ألا ترى إلى ما نحن فيه؟ فيقول لهم: إن ربي قد غضب اليوم غضبا لم يغضب قبله مثله، ولن يغضب بعده مثله، وإني قد كنت كذبت ثلاث كذبات – فذكرهن أبو حيان في الحديث – نفسي نفسي نفسي، اذهبوا إلى غيري، اذهبوا إلى موسى فيأتون موسى فيقولون: يا موسى، أنت رسول الله، فضلك الله برسالته وبكلامه على الناس، اشفع لنا إلى ربك، ألا ترى إلى ما نحن فيه؟ فيقول: إن ربي قد غضب اليوم غضبا لم يغضب قبله مثله، ولن يغضب بعده مثله، وإني قد قتلت نفسا لم أومر بقتلها، نفسي نفسي نفسي، اذهبوا إلى غيري، اذهبوا إلى عيسى فيأتون عيسى فيقولون: يا عيسى، أنت رسول الله، وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه، وكلمت الناس في المهد صبيا، اشفع لنا، ألا ترى إلى ما نحن فيه؟ فيقول عيسى: إن ربي قد غضب اليوم غضبا لم يغضب قبله مثله قط، ولن يغضب بعده مثله – ولم يذكر ذنبا – نفسي نفسي نفسي، اذهبوا إلى غيري، اذهبوا إلى محمد صلى الله عليه وسلم فيأتون محمدا صلى الله عليه وسلم فيقولون: يا محمد أنت رسول الله، وخاتم الأنبياء، وقد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر، اشفع لنا إلى ربك، ألا ترى إلى ما نحن فيه؟ فأنطلق فآتي تحت العرش، فأقع ساجدا لربي عز وجل، ثم يفتح الله علي من محامده وحسن الثناء عليه شيئا لم يفتحه على أحد قبلي، ثم يقال: يا محمد ارفع رأسك، سل تعطه، واشفع تشفع، فأرفع رأسي فأقول: أمتي يا رب، أمتي يا رب، فيقال: يا محمد أدخل من أمتك من لا حساب عليهم من الباب الأيمن من أبواب الجنة، وهم شركاء الناس فيما سوى ذلك من الأبواب، ثم قال: والذي نفسي بيده، إن ما بين المصراعين من مصاريع الجنة كما بين مكة وحمير، أو: كما بين مكة وبصرى

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairoh radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“ Pada suatu hari Rasulullah diberi daging, dengan disuguhkan kepada beliau bagian lengan kambing dan beliau menyukainya. Lalu, beliau menggigitnya dengan ujung giginya. Kemudian beliau bersabda: “Aku adalah pemimpin manusia pada Hari Kiamat. Apakah kamu sekalian mengerti mengapa demikian? Pada Hari Kiamat, Allah mengumpulkan semua manusia, yang dahulu dan yang akhir di suatu tempat. Lalu mereka mendengar suara penyeru. Pandangan pun tiada terhalang, dan matahari pun dekat. Manusia mengalami kesedihan dan kesulitan yang tiada mampu mereka tanggung dan mereka pikul. Maka, sebagian di antara mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Tidakkah kamu tahu apa yang kamu alami? Tidakkah kamu tahu apa yang menimpamu? Tidakkah kamu cari siapa yang dapat memberimu syafa’at kepada Rabb-mu?”
Sebagian yang lain di antara mereka pun menjawab, “Datangilah Adam.”

Kemudian mereka pun mendatangi Adam, dan berkata: “Wahai Adam, engkau adalah bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan Tangan-Nya. Lalu Dia tiupkan kepadamu Ruh-Nya dan memerintahkan para Malaikat agar mereka bersujud kepadamu. Maka mintalah kepada Rabb-mu syafa’at bagi kami. Tidakkah engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang menimpa kami?”.
Nabi Adam menjawab: “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini murka yang tiada pernah Dia marah sebelum dan sesudahnya seperti itu. Rabb-ku pernah melarangku mendekati sebuah pohon di surga dahulu, tetapi aku melanggar larangan itu karena nafsuku. Aku saat ini sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada Nabi lain selainku. Pergilah kalian kepada Nuh.”

Kemudian mereka mendatangi Nabi Nuh, lalu berkata : “Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama di bumi. Allah menyebutmu sebagai hamba yang sangat bersyukur. Maka mintakanlah kepada Rabb-mu syafa’at untuk kami. Tidakkah engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang telah menimpa kami?”.
Nabi Nuh menjawab : “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini murka tiada tara, yang belum pernah Dia murka seperti itu sebelum dan sesudahnya. Sungguh, dahulu aku pernah mendo’akan jelek untuk kaumku. Aku saat ini sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada Ibrahim.”

Kemudian manusia mendatangi Nabi Ibrahim, dan berkata: “Engkau adalah Nabi Allah dan Kekasih-Nya dari penduduk bumi. Mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami. Tidakkah engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang sedang menimpa kami?”.
Kemudian Nabi Ibrahim pun menjawab, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini murka tiada tara, yang belum pernah Dia murka seperti itu sebelum dan sesudahnya.”
Nabi Ibrahim menyebutkan dusta yang telah dialaminya . Nabi Ibrahim berkata, “Aku saat ini sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada Nabi lain selainku. Pergilah kalian kepada Musa.”

Maka mereka pun mendatangi Musa, lalu berkata: “Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah. Allah telah memberimu keutamaan dengan risalah-Nya, dan firman-Nya kepadamu melebihi manusia lain. Maka mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami. Tidakkah engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang telah menimpa kami?”.
Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini murka tiada tara, yang belum pernah Dia murka seperti itu sebelum dan sesudahnya. Sesungguhnya aku pernah membunuh seseorang yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Aku saat ini sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada ‘Isa.” 

Lalu mereka mendatangi Nabi ‘Isa, seraya berkata: “Wahai Isa, engkau adalah utusan Allah. Engkau telah berbicara kepada manusia ketika engkau baru lahir. Engkau terwujud dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dengan tiupan roh dari-Nya. Maka, mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami. Tidakkah engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang sedang menimpa kami?”.
Nabi ‘Isa menjawab: “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini murka tiada tara, yang belum pernah Dia murka seperti itu sebelum dan sesudahnya.”
Nabi ‘Isa tidak menyebutkan dosa yang pernah dialaminya.
Kata Nabi ‘Isa selanjutnya, “Aku saat ini sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada Muhammad.”

Kemudian mereka mendatangiku, dan berkata : “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah, engkau adalah Penutup para Nabi, Allah telah memberikan ampunan atas dosa yang telah engkau lakukan. Maka, mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami. Tidakkah engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang sedang menimpa kami?”.

Maka aku (Nabi Muhammad) pergi dan mendatangi Tahtal ‘Arsy (ke bawah ‘Arsy). Lalu aku bersujud kepada Rabb-ku. Kemudian Allah memberiku pertolongan dan pemberitahuan yang tidak pernah Dia berikan kepada seseorang sebelum aku. Dia berfirman, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, maka engkau akan diberi. Mintalah syafa’at, maka engkau akan diizinkan untuk memberi syafa’at.”
Lalu aku mengangkat kepalaku, dan aku mengatakan : “Ya Allah, tolonglah umatku! Tolonglah umatku!”

Aku dijawab: “Wahai Muhammad, masukkanlah ke surga umatmu yang bebas hisab dari pintu kanan surga, dan selain mereka lewat pintu yang lain lagi.” Demi Allah yang menguasai diri Muhammad, sesungguhnya antara dua daun pintu di surga sebanding antara Mekkah dan Hajar (daerah Palestina), atau antara Mekkah dan Bashra (Iraq ).” (HR. Muslim)

Kemudian setiap manusia dihadapkan kepada Allah Ta'ala untuk di paparkan amal-amal mereka dan di bukakan buku catatan amal mereka.

Allah Ta'ala berfirman,

وَعُرِضُوا۟ عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا لَّقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَٰكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍۭ ۚ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّن نَّجْعَلَ لَكُم مَّوْعِدًا ﴿٤٨﴾  وَوُضِعَ ٱلْكِتَٰبُ فَتَرَى ٱلْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَٰوَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلْكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحْصَىٰهَا ۚ وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا ﴿٤٩﴾

" Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian."
" Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun". (Q.S. Al-Kahfi :48-49)

Allah Ta’ala berfirman,

وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ 

“ Dan pada hari itu kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk melihat buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Jassasah : 28)

Allah Ta'ala berfirman,

اِقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًا

“ Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (Q.S. Al-Isra ’: 13)

Semua telah tercatat tanpa penambahan dan pengurangan sedikit pun, dan jika ia mengingkari dengan lisannya, maka lisannya akan dikunci dan bangkitlah para saksi yang akan memberikan kesaksian atasnya.

Allah Ta’ala berfirman,

اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“ Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Q.S. Yaasiin: 65)

Seorang mukmin akan diberikan bukunya dari arah depan dan ia terima dengan tangan kanannya. Ia dihisab dengan mudah dan kembali kepada kaumnya yang sama-sama beriman di Surga dengan gembira.

Allah Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أُوْتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِيْنِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيْرًا (8) وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُوْرًا (9)

“ Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (Q.S. Al-Insyiqaaq: 7-9)

Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, mereka akan menerima kitabnya dengan tangan kirinya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُوْلُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوْتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29)

“ Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang pula kekuasaanku daripadaku.” (Q.S. Al-Haqqoh: 25-29)

Kitab catatan amal mereka diberikan dari arah belakang punggung mereka.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْره    فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُوْرًا

“ Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku.” (Q.S. Al-Insyiqaaq: 10)

Kemudian Allah Ta'ala menetapkan timbangan yang penuh keadilan.

Allah Ta'ala berfirman,

وَنَضَعُ ٱلْمَوَٰزِينَ ٱلْقِسْطَ لِيَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا ۖ وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ

" Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan." (Q.S. Al-Anbiya ' :47)

Kemudian setiap amalan akan ditimbang, maka barangsiapa yang berat timbangan nya ia akan selamat dan masuk surga, dan sebaliknya, jika ringan, maka ia akan terjerumus ke dalam neraka.

Allah Ta'ala berfirman,

فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ    وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ     تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ

“ Barangsiapa yang berat timbangan kebaikan nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahannam. Wajah mereka dibakar api Neraka dan mereka di Neraka itu dalam keadaan cacat.” ( Q.S. Al-Mu’minuun: 102-104)

Dan setiap Nabi memiliki al-haudh,  makna al-haudh adalah telaga air yang turun dari sungai Surga pada hari Kiamat yang diperuntukkan bagi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Diriwayatkan dari sahabat Sahl ibnu Sa'ad radhiyallahu anhu bahwasanya  Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، مَنْ مَرَّ عَلَيَّ شَرِبَ وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا، وَلَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ، فَأَقُولُ: إِنَّهُمْ مِنِّي. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ. فَأَقُولُ: سُحْقًا، سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي

" Sesungguhnya aku akan mendahului kalian di telaga itu. Barang siapa yang melewatiku, dia akan minum di telaga itu, dan barang siapa yang berhasil minum darinya, niscaya dia tidak akan merasa haus selamanya. Sungguh, beberapa kaum akan berusaha melewatiku. Aku mengenal mereka dan mereka mengenaliku. Kemudian dipisahkan antara aku dengan mereka.” Nabi n berkata, “Aku katakan, ‘Sesungguhnya mereka dari golonganku!’ Dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu!’ Aku katakan, ‘Amat jauh telagaku bagi orang yang mengubah agamaku sepeninggalku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari sahabat Samurah radhiyallahu anhu, bahwasanya Rosulillah Sallallahu alaihiwa sallam bersabda :

إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا، وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً، وَإِنِّيْ أَرْجُوْ أَنْ أَكُوْنَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً.

“ Sesungguhnya setiap Nabi memiliki al-haudh (telaga), mereka membanggakan diri, siapa di antara mereka yang paling banyak peminumnya (pengikutnya). Dan aku berharap, akulah yang paling banyak pengikutnya.” ( HR. At-Tirmidzi )

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah  radhiyallahu anhu,  Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ حَوْضِي أَبْعَدُ مِنْ أَيْلَةَ مِنْ عَدَنٍ لَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ الثَّلْجِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ بِاللَّبَنِ وَلَآنِيَتُهُ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ النُّجُومِ، وَإِنِّي لَأَصُدُّ النَّاسَ عَنْهُ كَمَا يَصُدُّ الرَّجُلُ إِبِلَ النَّاسِ عَنْ حَوْضِهِ. قَالُوا: يَا ر َسُولَ اللهِ، أَتَعْرِفُنَا يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، لَكُمْ سِيمَا لَيْسَتْ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ، تَرِدُونَ عَلَيَّ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ

" Sesungguhnya telagaku lebarnya lebih jauh daripada jarak Ailah1 ke Aden. Sungguh warna airnya lebih putih daripada salju, lebih manis daripada madu dicampur susu, dan bejana-bejana untuk meminumnya jumlahnya lebih banyak daripada jumlah bintang-bintang di langit. Sungguh aku akan menghalangi orang-orang darinya (orang yang tidak berhak meminumnya), sebagaimana seorang penggembala unta menghalangi unta orang lain dari telaganya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau akan mengenali kami pada saat itu?” Beliau n menjawab, “Tentu, kalian memiliki tanda-tanda yang tidak dimiliki oleh seorang pun dari umat-umat terdahulu. Kalian akan mendatangiku dalam keadaan wajah, tangan, dan kaki kalian putih bersinar karena wudhu.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amrin radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ، وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا

" Telagaku lebar dan panjangnya sejauh perjalanan satu bulan. Airnya lebih putih daripada perak, baunya lebih harum daripada misik, dan bejana-bejananya sejumlah bintang-bintang di langit. Barang siapa yang meminumnya, niscaya dia tidak akan merasa haus selamanya.” (HR. Muslim)

Kemudian dibentangkan As-Shiroth yaitu  jembatan yang dibentangkan di atas Neraka Jahannam yang akan dilewati ummat manusia menuju Surga sesuai dengan amal perbuatan mereka.

Allah Ta'ala berfirman,

وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا ﴿٧١﴾ ثُمَّ نُنَجِّى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوا۟ وَّنَذَرُ ٱلظَّٰلِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا ﴿٧٢﴾

" Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan."
" Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut." (Q.S. Maryam :71-72)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ، فَأَكُونُ أَنَا وَأُمَّتِي أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُهَا، وَلاَ يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ إِلَّا الرُّسُلُ، وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ: اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ، وَفِي جَهَنَّمَ كَلاَلِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ،

" Dan dibentangkanlah shiroth di atas permukaan neraka jahannarn. Maka aku dan umatku menjadi orang yang pertama kali melewatinya. Dan tiada yang berbicara pada saat itu kecuali para rasul. Dan doa para rasul pada saat itu : “Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah, Pada shiroth itu, terdapat pengait-pengait seperti duri pohon Sa’dan”.  (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
.
ويوضع الصراط مثل حد الموسى، فتقول الملائكة: من تجيز على هذا؟ فيقول: من شئت من خلقي، فيقولون: سبحانك ماعبدناك حق عبادتك ".

“Di letakkanlah jembatan Shiroth di atas neraka setipis Silet, Lalu malaikat saat itu bertanya: (Wahai Robb), Siapakah yang akan melewati jembatan ini, Maka Allah menjawab:  yang akan melewati jembatan ini adalah siapa saja dari hamba-hambaku. Maka Malaikatpun berkata: ““Maha suci Engkau Ya Robb, tidaklah kami dapat beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya.” (HR. Al-Hakim)

Diriwayatkan dari sahabat Abu Said Al-Khudzri radhiyallahu Anhu  berkata:

قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: بَلَغَنِي أَنَّ الْجِسْرَ أَدَقُّ مِنَ الشَّعْرَةِ، وَأَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ،

“Sampai kepadaku kabar bahwa shiroth itu lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang”. (HR.Muslim)

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
.
….وَتُرْسَلُ الْأَمَانَةُ وَالرَّحِمُ، فَتَقُومَانِ جَنَبَتَيِ الصِّرَاطِ يَمِينًا وَشِمَالًا، فَيَمُرُّ أَوَّلُكُمْ كَالْبَرْقِ " قَالَ: قُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَيُّ شَيْءٍ كَمَرِّ الْبَرْقِ؟ قَالَ: " أَلَمْ تَرَوْا إِلَى الْبَرْقِ كَيْفَ يَمُرُّ وَيَرْجِعُ فِي طَرْفَةِ عَيْنٍ؟ ثُمَّ كَمَرِّ الرِّيحِ، ثُمَّ كَمَرِّ الطَّيْرِ، وَشَدِّ الرِّجَالِ، تَجْرِي بِهِمْ أَعْمَالُهُمْ وَنَبِيُّكُمْ قَائِمٌ عَلَى الصِّرَاطِ يَقُولُ: رَبِّ سَلِّمْ سَلِّمْ، حَتَّى تَعْجِزَ أَعْمَالُ الْعِبَادِ، حَتَّى يَجِيءَ الرَّجُلُ فَلَا يَسْتَطِيعُ السَّيْرَ إِلَّا زَحْفًا "، قَالَ: «وَفِي حَافَتَيِ الصِّرَاطِ كَلَالِيبُ مُعَلَّقَةٌ مَأْمُورَةٌ بِأَخْذِ مَنِ اُمِرَتْ بِهِ، فَمَخْدُوشٌ نَاجٍ، وَمَكْدُوسٌ فِي النَّارِ…

“Lalu diutuslah amanah dan rahim (tali persaudaraan) keduanya berdiri di samping kiri-kanan shirath tersebut. Orang yang pertama lewat seperti kilat”. Aku bertanya: “Dengan bapak dan ibuku (aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?” Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

“Tidakkah kalian pernah melihat kilat bagaimana ia lewat dalam sekejap mata? Kemudian ada yang melewatinya seperti angin, kemudian seperti burung dan seperti kuda yang berlari kencang.

Mereka berjalan sesuai dengan amalan-amalan mereka. Nabi kalian waktu itu berdiri di atas shirath sambil berkata: “Ya Allah selamatkanlah! selamatkanlah! Sampai para hamba yang lemah amalannya, sehingga datang seseorang lalu ia tidak bisa melewati kecuali dengan merangkak secara pelan-pelan”.

Beliau menuturkan (lagi) : “Pada kedua sisi shirath terdapat besi pengait yang bergantung untuk menyambar siapa saja yang diperintahkan untuk disambar. Maka ada yang terpeleset namun selamat dan ada pula yang terjungkir ke dalam neraka”. (HR. Muslim)

Kemudian penghuni surga akan memasuki surga dan orang-orang kafir akan terjerumus ke dalam neraka, dan akan dikatakan kepada seluruh penduduk surga dan penduduk neraka bahwasanya mereka kekal dan tidak akan mati.

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحٍ فَيُنَادِي بِهِ مُنَادٍ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ ! فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقًُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ, وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ, ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَهْلَ النَّارِ فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ وَكُلُّهْمْ قَدْ رَآهُ فَيُذْبَحُ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يَقُوْلُ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ, وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ, ثُمَّ قَرَأَ (وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الأَمْرُ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ وَهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ) وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الدُّنْيَا

Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  bersabda: “Kematian didatangkan pada bentuk kambing berkulit hitam putih, lalu seorang penyeru memanggil: Wahai penduduk surga! Mereka

menengok dan melihat, penyeru itu berkata: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, mereka semua telah melihatnya. Kemudian penyeru memanggil: Wahai penduduk neraka! Mereka menengok dan melihat, penyeru itu berkata: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, mereka semua telah melihatnya, lalu disembelih diantara surga dan neraka, lalu berkata: Wahai penduduk surga, kekekalan tiada kematian setelahnya, dan hai penduduk neraka, kekekalan dan tiada kematian setelahnya, lalu beliau membaca (Dan berilah mereka peringatan tatkala ditetapkan perkara sedangkan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman). Dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke dunia". (HR. Al-Bukhari dan Muslim dan Ahmad)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يُؤْتَى بِالْمَوْتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُوْقَفُ عَلىَ الصَّرَاطِ فَيُقَالُ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ ! فَيَطَلَّعُوْنَ خَائِفِيْنَ وَجِلِيْنَ أَنْ يَخْرُجُوْا مِنْ مَكاَنِهِمْ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ, ثُمَّ يُقَالُ : يَا أَهْلَ النَّارِ فَيَطَلَّعُوْنَ مُسْتَبْشِرِيْنَ فَرِحِيْنَ أَنْ يَخْرُجٌوْا مِنْ مَكَانِهِمْ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ, فَيُقَالُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ قَالُوْا : نَعَمْ,  هَذَا الْمَوْتُ, قَالَ : فَيُؤْمَرُ بِهِ فَيُذْبَحُ عَلَى الصِّرَاطِ ثُمَّ يُقَالُ لِلْفَرِيْقَيْنِ كِلاَهُمَا : خُلُوْدٌ فِيْمَا يَجِدُوْنَ لاَ مَوْتَ فِيْهَا أَبَدًا

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: " Kematian didatangkan pada hari kiamat lalu diletakkan di atas shirat (jembatan) lalu diserukan: Wahai penduduk surga! Mereka mengintip ketakutan untuk keluar dari tempat mereka. Kemudian dikatakan: Wahai penduduk neraka! Mereka mengintip penuh gembira dengan harapan keluar dari tempat mereka, lalu dikatakan: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, kemudian diperintahkan untuk disembelih di atas shirat dan dikatakan kepada kedua golongan tersebut: Kekekalan apa yang kalian dapati, tiada kematian di dalamnya selama-lamnya". (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يُؤْتَى بِالْمَوْتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُوْقَفُ عَلىَ الصَّرَاطِ فَيُقَالُ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ ! فَيَطَلَّعُوْنَ خَائِفِيْنَ وَجِلِيْنَ أَنْ يَخْرُجُوْا مِنْ مَكاَنِهِمْ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ, ثُمَّ يُقَالُ : يَا أَهْلَ النَّارِ فَيَطَلَّعُوْنَ مُسْتَبْشِرِيْنَ فَرِحِيْنَ أَنْ يَخْرُجٌوْا مِنْ مَكَانِهِمْ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ, فَيُقَالُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ قَالُوْا : نَعَمْ,  هَذَا الْمَوْتُ, قَالَ : فَيُؤْمَرُ بِهِ فَيُذْبَحُ عَلَى الصِّرَاطِ ثُمَّ يُقَالُ لِلْفَرِيْقَيْنِ كِلاَهُمَا : خُلُوْدٌ فِيْمَا يَجِدُوْنَ لاَ مَوْتَ فِيْهَا أَبَدًا

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu,  bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  bersabda: " Kematian didatangkan pada hari kiamat lalu diletakkan di atas shirat (jembatan) lalu diserukan: Wahai penduduk surga! Mereka mengintip ketakutan untuk keluar dari tempat mereka. Kemudian dikatakan: Wahai penduduk neraka! Mereka mengintip penuh gembira dengan harapan keluar dari tempat mereka, lalu dikatakan: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, kemudian diperintahkan untuk disembelih di atas shirat dan dikatakan kepada kedua golongan tersebut: Kekekalan apa yang kalian dapati, tiada kematian di dalamnya selama-lamnya". (HR. At-Thobrony dan Abu Ya'la)

📗📗📕📕📕📕📗📗