Minggu, 24 April 2022

BULAN RAMADHAN ADALAH BULAN AL-QUR`AN


Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du; 

Bulan Ramadhan merupakan bulan Al-Qur'an yang mana didalam nya diturunkan ayat ayat Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah Ta'ala : 

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ  ﴿١٨٥﴾

" (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).  (Q.S. Al-Baqorah :185)

Para Salafus-Sholih rahimahumullah  sangat bersemangat untuk memperbanyak membaca Al-Qur'an pada saat bulan Ramadhan. 

Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakh'i rahimahullah berkata : " Dahulu Al-Aswad ibnu Yazid senantiasa mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an pada bulan Ramadhan setiap dua hari sekali, dan ia hanya tidur antara magrib dan isya' . Adapun diluar bulan Ramadhan ia mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an setiap enam hari sekali ".

Diriwayatkan dari Abdul Malik ibnu Abi Sulaiman rahimahullah berkata, dari Said ibnu Jubair, bahwasanya ia senantiasa mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an setiap dua hari sekali ".

وقيل: كان الخليفة الوليد بن عبد الملك يختم في كل ثلاثٍ، وختم في رمضان سبع عشرة ختمة

Dikatakan : " Dahulu Kholifah Al-Walid ibnu Abdul Malik senantiasa mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an setiap tiga hari sekali, dan mengkhatamkan pada saat bulan Ramadhan sebanyak tujuh belas kali khatam ". 

وقال مسبِّح بن سعيد: "كان محمد بن إسماعيل البخاري يختم في رمضان في النهار كل يوم ختمة، ويقوم بعد التراويح كل ثلاث ليالٍ بختمة".

Dan berkata Musabbih ibnu Said : " Dahulu Muhammad ibnu Ismail Al-Bukhari selalu mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an setiap siang hari bulan Ramadhan sekali khatam, dan kemudian setiap tiga malam setelah tarawih juga mengkhatamkan ".

Sesungguhnya kesempatan pada bulan Ramadhan tidak akan terulang, dan bulan ini adalah bulan Al-Qur'an, maka sepantas nya seorang muslim untuk memperbanyak tilawah Al-Qur'an Al-Karim, sebagaimana keadaan para Salafus-Sholih terdahulu yang sangat besar sekali perhatian terhadap Kitab Allah Ta'ala, sebagaimana pula Malaikat Jibril mengajarkan Al-Qur'an kepada Nabi Sallallahu alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan, dan Sahabat Utsman ibn Affan senantiasa mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an setiap hari sekali, dan sebahagian Salaf setiap tiga malam mengkhatam kan,  ada pula yang mengkhatamkan setiap tuju hari, sebahagian mengkhatamkan setiap sepuluh hari dan membaca Al-Qur'an pada waktu sholat dan diluar sholat. 

كذلك كان للشافعي في رمضان ستون ختمة، يقرؤها في غير الصلاة.

 وكان قتادة يختم في كل سبع دائمًا، وفي رمضان في كل 

 ثلاث، وفي العشر الأواخر في كل ليلة.

 وكان الزهريُّ إذا دخل رمضان يفرُّ من قراءة الحديث، ومجالسة أهل العلم، ويُقبِل على تلاوة القرآن من المصحف.

 وكان سفيان الثوري إذا دخل رمضان ترك جميع العبادة وأقبل على قراءة القرآن

Demikian pula Al-Imam As-Syafi'i senantiasa mengkhatam kan bacaan Al-Qur'an pada bulan Ramadhan sebanyak enam puluh kali khatam, membaca nya diluar waktu sholat. 

Al-Imam Qotadah rahimahullah mengkhatamkan setiap tujuh hari sekali, dan dalam bulan Ramadhan mengkhatamkan setiap tiga hari sekali, dan jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ia mengkhatamkan setiap malam sekali. 

Al-Imam Az-Zuhry rahimahullah jika telah datang bulan Ramadhan berhenti dari mengajarkan ilmu Hadits, dan menghentikan majlis ilmu, dan hanya fokus tilawah Al-Qur'an dari Mushaf .

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah jika telah datang bulan Ramadhan maka menghentikan segala bentuk ibadah, dan hanya fokus untuk membaca Al-Qur'an. 

قال ابن رجب الحنبلي: "إنما ورد النهي عن قراءة القرآن في أقل من ثلاثٍ على المداومة على ذلك، فأما في الأوقات المفضَّلة كشهر رمضان، والأماكن المفضلة كمكة لمن دخلها من غير أهلها، فيستحبُّ الإكثار فيها من تلاوة القرآن؛ اغتنامًا لفضيلة الزمان والمكان، وهو قول أحمد وإسحاق وغيرهما من الأئمة، وعليه يدل عمل غيرهم، كما سبق"

Al-Imam Ibnu Rojab Al-Hambali rahimahullah berkata : " Adapun larangan untuk mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari tiga hari, hal ini jika dilakukan terus menerus, adapun jika bertepatan dengan waktu yang memiliki kehususan seperti bulan Ramadhan, dan tempat-tempat khusus seperti Makkah, bagi orang-orang yang bukan penduduknya, maka dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur'an, dalam rangka menggunakan kesempatan berada di tempat dan waktu yang utama, dan ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan Ishaq dan para Imam selainnya, dan sesuai dengan praktik amalan mereka sebagai mana terdahulu ".

رمضان شهر الذكر والعبادة وقراءة القرآن

كان الإمام أحمد يُغلِق الكتب ويقول: هذا شهر القرآن.

 وكان الإمام مالك بن أنس لا يفتي ولا يدرِّس في رمضان، ويقول: هذا شهر القرآن.

Bulan Ramadhan merupakan bulan untuk berdzikir dan ibadah serta membaca Al-Qur'an. 

Imam Ahmad dahulu  (jika memasuki bulan ramadan) maka menutup semua kitab kitab  (yang ia ajarkan kepada para murid murid) dan seraya berkata : " Ini merupakan bulan khusus Al-Qur'an".

Dahulu Imam Ma'lik ibnu Anas tidak memberikan fatwa dan tidak mengajarkan  (ilmu) jika telah memasuki bulan Ramadhan, seraya berkata  (kepada para murid-murid nya) : " Ini adalah bulan khusus untuk Al-Qur'an ".

وقد احتضر أحد السلف، فجلس أبناؤه يبكون، فقال لهم: لا تبكوا؛ فوالله لقد كنتُ أختم في رمضان في هذا المسجد عند كل سارية 10 مرات.

Sebahagian dari Salaf menjumpai sakaratul maut, dan ditunggu oleh para putra putra nya dengan menangis, maka ia pun berkata kepada para putra nya : " Janganlah kalian menangis, demi Allah, aku telah mengkhatamkan Al-Qur'an di masjid ini pada setiap tiang yang berdiri sebanyak sepuluh khataman pada bulan Ramadhan ".

Dan dalam masjid tersebut terdapat empat tiang penyangga, sehingga ia telah membaca dengan khatam sebanyak empat puluh kali pada bulan Ramadhan. 

     📕📕📕📗📗📕📕📕

SEPULUH HARI TERAKHIR BULAN RAMADHAN

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala Rosulillah, wa ba'du :

Sesungguhnya merupakan petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam di sepuluh hari  terakhir bulan ramadan adalah bersungguh sungguh dalam beribadah tidak seperti hari hari sebelumnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari hadist Ummul Mukminin  A'isyah radhiyallahu anhuma berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد في العشر الأواخر من رمضان ما

لا يجتهد في غيره 

" Dahulu Rosulillah shallallahu alaihi wa sallam bersungguh sungguh dalam sepuluh hari terakhir bulan ramadan tidak seperti pada hari-hari sebelum nya ".

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhary dan Muslim dalam shohih mereka dari Ummul Mukminin A'isyah radhiyallahu anhuma berkata,

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دخل العشر – أي العشر الأخير من

رمضان –أحيا الليل و جد و شد مئزره وأيقظ أهله .

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki sepuluh terakhir Ramadhan, beliau bersungguh sungguh dan mengencangkan tali sarungnya (yakni meningkat amaliah ibadah beliau), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.” Muttafaqun ‘alaihi

Dalam hadist ini maksud dari menghidupkan malam-malamnya yaitu dengan menggunakan sholat malam, berdzikir, ber do'a, dan maksud membangunkan istri-istrinya adalah membangunkan dari tidur nya agar bersungguh sungguh dalam beribadah seperti menunaikan sholat, berdzikir, ber munajat kepada Allah Ta'ala , dan amalan sunnah seperti ini jarang sekali yang mengerjakan nya diantara kaum muslimin.

Allah Ta'ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا

مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

" Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
(Q.S.66 At-Tahriim : 6)

Adapun maksud dari mengencangkan tali sarungnya sebagaimana dikatakan oleh kebanyakan Ahli Ilmu adalah kinayah dari menjauhi istrinya guna bersungguh sungguh dalam ibadah , oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan ibadah i'tikaf didalam masjid dan memutuskan dari segala urusan dunia dan menyendiri menghadapkan diri kepada Allah Ta'ala untuk berdzikir, ber do'a, ber munajat.

I'tikaf merupakan suatu ibadah yang paling bermanfaat bagi diri guna memperbaiki jiwa dan hatinya serta berlepas diri dari segala bentuk kekurangan, dan barangsiapa yang mencobanya niscaya akan merasakan nya.

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhary dan Muslim dalam shohih mereka, dari Ummul Mukminin A'isyah radhiyallahu anhuma berkata,

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف في العشر الأواخر من رمضان

حتى توفاه الله ، ثم اعتكف أزواجه من بعده

" Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam dahulu melakukan ibadah i'tikaf didalam sepuluh terakhir bulan ramadan hingga beliau wafat, kemudian istri istri beliau melakukan ibadah i'tikaf sepeninggal beliau ".

Jika seseorang bertanya, apakah hikmah dibalik Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersungguh sungguh dalam beribadah di sepuluh terakhir bulan ramadan tidak seperti sebelumnya?

Maka jawabannya adalah bahwasanya dalam sepuluh hari terakhir bulan ramadan terdapat malam lailatul Qodar.

Di antara nikmat dan karunia Allah subhanahu wa ta’ala terhadap umat Islam, dianugerahkannya kepada mereka satu malam yang mulia dan mempunyai banyak keutamaan. Suatu keutamaan yang tidak pernah didapati pada malam-malam selainnya. Tahukah anda, malam apakah itu? Dia adalah malam “Lailatul Qadr”. Suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana firman Allah Ta'ala ,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ

شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِيَ حَتَّى

مَطْلَعِ الْفَجْرِ *

“ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan (Lailatul Qadr) itu? Malam kemuliaan itu (Lailatul Qadr) lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar ”. (Al-Qadr: 1-5)

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Bahwasanya (pahala) amalan pada malam yang barakah itu setara dengan pahala amalan yang dikerjakan selama seribu bulan yang tidak ada padanya Lailatul Qadr. Seribu bulan itu sama dengan delapan puluh tiga tahun lebih. Itulah di antara keutamaan malam yang mulia tersebut. Maka dari itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk meraihnya, dan beliau bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِإِيْمَاناًوَاحْتِسَاباً،غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمُ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr atas dorongan iman dan mengharap balasan (dari Allah), diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR Al Bukhari, An-Nasa’i dan Ahmad)

Demikian pula Allah subhanahu wa ta’ala beritakan bahwa pada malam tersebut para malaikat dan malaikat Jibril turun. Hal ini menunjukkan betapa mulia dan pentingnya malam tersebut, karena tidaklah para malaikat itu turun kecuali karena perkara yang besar. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mensifati malam tersebut dengan firman-Nya:

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar

Allah subhanahu wa ta’ala mensifati bahwa di malam itu penuh kesejahteraan, dan ini merupakan bukti tentang kemuliaan, kebaikan, dan barakahnya. Barangsiapa terhalangi dari kebaikan yang ada padanya, maka ia telah terhalangi dari kebaikan yang besar”.

Wahai hamba-hamba Allah, adakah hati yang tergugah untuk menghidupkan malam tersebut dengan ibadah …?!, adakah hati yang terketuk untuk meraih malam yang lebih baik dari seribu bulan ini …?! Betapa meruginya orang-orang yang menghabiskan malamnya dengan perbuatan yang sia-sia, apalagi dengan kemaksiatan kepada Allah.

Mengapa Disebut Malam “Lailatul Qadr”?

Para ulama menyebutkan beberapa sebab penamaan Lailatul Qadr, di antaranya:

1. Pada malam tersebut Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan secara rinci takdir segala sesuatu selama 1 tahun (dari Lailatul Qadr tahun tersebut hingga Lailatul Qadr tahun yang akan datang), sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ *

“Sesungguhnya Kami telah menurukan Al-Qur`an pada malam penuh barakah (yakni Lailatul Qadr). Pada malam itu dirinci segala urusan (takdir) yang penuh hikmah”. (Ad Dukhan: 4)

2. Karena besarnya kedudukan dan kemuliaan malam tersebut di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

3. Ketaatan pada malam tersebut mempunyai kedudukan yang besar dan pahala yang banyak lagi mengalir.

Kapan Terjadinya Lailatul Qadr?

Malam “Lailatul Qadr” terjadi pada bulan Ramadhan.

Pada tanggal berapakah? Dia terjadi pada salah satu dari malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadr itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan)”. (HR Al Bukhari)

Lailatul Qadr terjadi pada setiap tahun. Ia berpindah-pindah di antara malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) tersebut sesuai dengan kehendak Allah Yang  Maha Kuasa.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Lailatul Qadr itu (dapat) berpindah-pindah. Terkadang terjadi pada malam ke-27, dan terkadang terjadi pada malam selainnya, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits yang banyak jumlahnya tentang masalah ini. Sungguh telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Bahwa beliau pada suatu tahun diperlihatkan Lailatul Qadr, dan ternyata ia terjadi pada malam ke-21″.

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dan Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud rahimahumallahu berkata: “Adapun pengkhususan (memastikan) malam tertentu dari bulan Ramadhan sebagai Lailatul Qadr, maka butuh terhadap dalil. Akan tetapi pada malam-malam ganjil dari 10 hari terakhir Ramadhan itulah dimungkinkan terjadinya Lailatul Qadr, dan lebih dimungkinkan lagi terjadi pada malam ke-27 karena telah ada hadits-hadits yang menunjukkannya”.

Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan ,

عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ إِذَا قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: لَيْلَةُ سَبْع وَعِشْرِيْنَ

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya apabila beliau menjelaskan tentang Lailatul Qadr maka beliau mengatakan : “(Dia adalah) Malam ke-27″. (HR Abu Dawud)

Kemungkinan paling besar adalah pada malam ke-27 Ramadhan. Hal ini didukung penegasan shahabat Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu :

عن أبي بن كعب قال : قال أبي في ليلة القدر : والله إني لأعلمها وأكثر

علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي

ليلة سبع وعشرين

Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadr) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27. (HR. Muslim)

Tanda-tanda Lailatul Qadr

Pagi harinya matahari terbit dalam keadaan tidak menyilaukan, seperti halnya bejana (yang terbuat dari kuningan). (HR Muslim)

Lailatul Qadr adalah malam yang tenang dan sejuk (tidak panas dan tidak dingin) serta sinar matahari di pagi harinya tidak menyilaukan. (HR Ibnu Khuzaimah dan Al Bazzar)

Dengan apakah menghidupkan sepuluh  terakhir Ramadhan dan Lailatul Qadr?

Asy-Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz dan Asy Syaikh Abdullah bin Qu’ud rahimahumallahu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk mengerjakan shalat (malam), membaca Al-Qur’an, dan berdo’a daripada malam-malam selainnya”.

Demikianlah hendaknya seorang muslim dan muslimah, menghidupkan malam-malamnya pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan dengan meningkatkan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala; shalat tarawih dengan penuh iman dan harapan pahala dari Allah Ta'ala semata, membaca Al-Qur’an dengan berusaha memahami maknanya, bersedekah, ber munajat,  membaca buku-buku yang bermanfaat, dan bersungguh-sungguh dalam berdo’a serta memperbanyak dzikrullah.

Di antara bacaan do’a atau dzikir yang paling afdhal untuk dibaca pada malam (yang diperkirakan sebagai Lailatul Qadr) adalah sebagaimana yang ditanyakan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah jika aku mendapati Lailatul Qadr, do’a apakah yang aku baca pada malam tersebut?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bacalah:

اللهم إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi Maaf, Engkau suka pemberian maaf, maka maafkanlah aku”. (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Maka hendaknya pada malam tersebut memperbanyak do’a, dzikir, dan istighfar.

Apakah pahala Lailatul Qadr dapat diraih oleh seseorang yang tidak mengetahuinya?

Ada dua pendapat dalam masalah ini:

Pendapat Pertama: Bahwa pahala tersebut khusus bagi yang mengetahuinya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ini adalah pendapat kebanyakan para ulama. Yang menunjukkan hal ini adalah riwayat yang terdapat pada Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan lafazh:

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِفَيُوَافِقُهَا

“Barangsiapa yang menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr dan menepatinya.”

kalimat  فيوافقها di sini diartikan: " mengetahuinya "

Menurut pandanganku pendapat inilah yang benar, walaupun aku tidak mengingkari adanya pahala yang tercurahkan kepada seseorang yang mendirikan shalat pada malam Lailatul Qadr dalam rangka mencari Lailatul Qadr dalam keadaan ia tidak mengetahui bahwa itu adalah malam Lailatul Qadr”.

Pendapat Kedua: Didapatkannya pahala (yang dijanjikan) tersebut walaupun dalam keadaan tidak mengetahuinya. Ini merupakan pendapat Ath-Thabari, Al-Muhallab, Ibnul ‘Arabi, dan sejumlah dari ulama.

Asy-Syaikh Al -‘Utsaimin rahimahullah merajihkan pendapat ini, sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya Asy-Syarhul Mumti’:

“Adapun pendapat sebagian ulama bahwa tidak didapatinya pahala Lailatul Qadr kecuali bagi yang mengetahuinya, maka itu adalah pendapat yang lemah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِإِيْمَاناًوَاحْتِسَاباً،غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr dalam keadaan iman dan mengharap balasan dari Allah Ta'ala  diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR Al Bukhari)

Rasulullah tidak mengatakan: “Dalam keadaan mengetahui Lailatul Qadr”. Jika hal itu merupakan syarat untuk mendapatkan pahala tersebut, niscaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan pada umatnya. Adapun pendalilan mereka dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِفَيُوَافِقُهَا

“Barangsiapa yang menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr dan menepatinya.”

Maka makna   فيوافقها   di sini adalah: bertepatan dengan terjadinya Lailatul Qadr tersebut, walaupun ia tidak mengetahuinya”.

Semoga anugerah Lailatul Qadr ini dapat kita raih bersama, sehingga mendapatkan keutamaan pahala yang setara (bahkan) melebihi amalan seribu  bulan.

Semoga Allah Ta'ala memberikan taufik dan inayah kepada kita semua sehingga di hari hari terakhir bulan ramadan ini kita dapat mendulang amalan ibadah dan ampunan dari segala dosa dosa kita dan dapat menggapai surga Allah Ta'ala dan di bebaskan dari siksa api neraka.

📔📔📔📗📓📔📔📔

KEUTAMAAN MALAM LAILATUL QODAR

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du : 

Sesungguhnya malam lailatul qodar merupakan malam yang mulia, dimana Allah Ta'ala menurunkan kitab suci Al-Qur'an dan malam tersebut merupakan malam yang penuh barokah yang memiliki keutamaan lebih baik dari seribu bulan. 

Allah Ta'ala berfirman : 

حمٓ ﴿١﴾  وَٱلْكِتَٰبِ ٱلْمُبِينِ ﴿٢﴾  إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ﴿٣﴾  فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ﴿٤﴾ أَمْرًا مِّنْ عِندِنَآ ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴿٥﴾  رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ ﴿٦﴾

"Haa miim."
"Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan,"

"sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan."
"Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,"

"(yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul,"

"sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
(Q.S. Ad-Dhukhaan :1-6)

Allah Ta'ala berfirman : 

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ ﴿١﴾  وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾   تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾  سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ ﴿٥﴾

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan."
"Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?"
"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."
"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan."
  "Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Q.S. Al-Qodr :1-5)

Sebagaimana telah sah riwayat dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :  

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه 

 " Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qodar dengan penuh iman dan semata-mata mencari pahala niscaya ia akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu ". ( HR. Al-Bukhari dan Muslim ) 

Menghidupkan malam lailatul qodar dengan cara mengerjakan sholat malam, tilawah Al-Qur'an, berdzikir dan berdoa dan semisalnya dari amalan yang baik dan berdasarkan firman Allah Ta'ala diatas menunjukkan bahwa beramal pada malam tersebut lebih utama dari seribu bulan dibandingkan malam lainnya, dan hal ini merupakan keutamaan yang agung yang Allah Ta'ala limpahkanlah kepada umat ini, sehingga sepantasnya setiap muslim agar memaksimalkan ibadah di waktu sepuluh hari terakhir bulan suci ini dan hari hari ganjil lebih diharapkan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam : 

 
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.

“Carilah lailatul Qadr pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” ( HR. Al-Bukhari ) 

Dan telah sah riwayat dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa malam lailatul qodar berpindah pindah di sepuluh terakhir bulan ramadan dan tidak menetap dalam satu waktu, sehingga bisa kemungkinan terjadi pada malam keduapuluh satu atau duapuluh tiga atau duapuluh lima atau duapuluh tujuh dan ini kemungkinan yang terbesar atau mungkin pada malam duapuluh sembilan, bahkan bisa terjadi pula pada malam malam genap, maka barangsiapa yang bersungguh sungguh pada sepuluh terakhir bulan ini niscaya ia akan mendapatkan keutamaan malam lailatul qodar, sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersungguh-sungguh ketika memasuki sepuluh terakhir bulan suci ini. 

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ummul Mukminin A'isyah radhiyallahu anha : 

 كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

" Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  ketika memasuki sepuluh terakhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim ) 

Yang dimaksud dengan beliau mengencangkan sarungnya adalah meninggalkan istri-istri beliau karena ingin konsentrasi untuk ibadah di akhir-akhir Ramadhan.  

Demikian pula telah sah riwayat  bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ber i'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan ramadan. 

Telah diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha, (dia) berkata : “Aku bertanya, “Ya Rasulullah ! Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan ?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah :

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku". ( HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah ) 

Dan telah sah riwayat dari para sahabat serta para Salafus-Sholih menghidupkan malam sepuluh terakhir bulan ramadan dan bersungguh-sungguh dalam beribadah serta mengagungkan waktu mulia ini. 

Maka seyogyanya setiap muslim agar meneladani jejak-jejak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengikuti jalan para sahabat dan generasi Salafus-Sholih untuk senantiasa menghidupkan malam malam terakhir bulan ramadan ini untuk beribadah dengan maksimal, mengerjakan sholat malam, ber dzikir, berdoa, tilawah Al-Qur'an, yang dilandasi oleh imam dan semata-mata mencari pahala Allah Ta'ala, sehingga mendapatkan ganjaran yang berupa diberikan ampunan dosa-dosa yang terdahulu dan dibebaskan dari neraka dan tergolong menjadi penghuni surga. 

Allah Ta'ala menjelaskan bahwa keutamaan diatas diraih bagi mereka yang menjauhi dosa-dosa besar, sebagaimana firman Allah Ta'ala : 

إِن تَجْتَنِبُوا۟ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلًا كَرِيمًا ﴿٣١﴾

"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." (Q.S. An-Nisaa :31)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Antara shalat lima waktu, antara Jumat yang satu dan Jumat lainnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim ) 

Sesungguhnya puasa merupakan ibadah yang sangat agung, terlebih puasa di bulan suci ramadan, maka sepantasnya setiap muslim mengagungkan ibadah mulia ini dengan dasar niat yang sholih dan berjuang guna menjaga ibadah ini dan bersegera dalam berbuat ketaatan dan bertaubat dari segala bentuk dosa dan kemaksiatan. 

Dan hendaklah senantiasa menjauhi segala larangan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, dan tetap istiqomah diatas kebaikan di bulan ramadan atau diluar ramadan, dan saling menasihati dalam kebajikan dan kesabaran serta amar makruf nahi mungkar agar dapat menggapai keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat hingga menuju surga Allah Ta'ala yang kekal abadi , dan semoga sholawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.