Jumat, 12 Agustus 2022

AKIDAH SALAF DALAM NAMA & SIFAT ALLAH

*FAWAID – DARI KITAB SABIIL AR-RASYAAD FI TAQRIIR MASAAILIL I’TIQOOD*
#Faidah-DAURAH_SYAR’IYYAH_21_STAI_ALI_BIN_ABI_THALIB_1444H
#Syaikh_Prof_Dr_Ibrahim_bin-Amir_ar-Ruhaily_hafizhahullah

BAGIAN KEEMPAT:

ثالثا: إثبات أسماء الله تعالى.

*KETIGA: PENETAPAN ASMA ALLAH TA’ALA*

* ويتضمن أصلين عليهما مدار إثبات الأسماء عند أهل السنة:
Mengandung dua prinsip atas keduanya adalah poros penetapan Asma menurut Ahlus Sunnah:

الأصل الأول: تقرير القواعد العامة الواجب اعتقادها في أسماء الله تعالى:
PRINSIP PERTAMA:
Ketetapan Kaidah Umum Yang Wajib diyakini dari Nama-Nama Allah Ta’ala

القاعدة الأولى: أسماء الله تعالى كلها حسنى.
أي: بالغة الغاية في الحسن والكمال، فهي أحسن الأسماء وأكملها، فليس في الأسماء أحسن منها، ولا يقوم غيرها مقامها، ولا يؤدي معناها، وتفسير الاسم منها بغيره ليس تفسيرا بمرادف محض، بل هو على سبيل التقريب والتفهيم .

KAEDAH PERTAMA:
Semua nama-nama Allah adalah HUSNA –( kebaikan yang paling tinggi)
yaitu: sampai kepada tingkatan tertinggi dalam keindahan dan kesempurnaan, jadi itu adalah nama-nama yang terbaik dan terlengkap. Tidak ada nama yang lebih baik dari nama-nama Allah, dan nama lainnya tidak dapat menggantikan posisi darinya dan tidak dapat dijangkau akal keindahan maknanya. Tafsir nama dari nama-nama Allah dengan nama selainnya adalah bukan tafsiran dengan tafsir sinonim murni, melainkan dalam rangka mudah dalam cara pendekatan dan pemahaman. (Lihat Badai’ al-Fafawaid 1/168)

قال الله تعالى: وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ [سورة الأعراف :180] .

Allah Ta’ala berfirman:

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ 

Dan Allah memiliki Asma'ul-husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma'ul-husna itu (QS. Al-A’roof: 180)

* ووجه كونها حسنى من وجهين:
Sudut pandang dinilai sebagai suatu HUSNA (kebaikan yang paling baik) bisa diukur dengan dua sudut pandang:

الأول: لدلالتها على أحسن وأعظم وأجل وأشرف مسمى وهـو الله تبارك
وتعالى.
PERTAMA: Dengan Dalil-Dalilnya  bahwa Nama dan Sifat Allah adalah yang paling bagus, paling agung dan paling tinggi serta paling mulia sesuai dengan penamaan yang dinisbatkan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

الثاني: لأنها متضمنة لأحسن وأكمل صفات الكمال التي لا نقص فيها بوجـه من الوجوه
KEDUA: Karena Nama dan sifat Allah mengandung apa yang paling baik dan paling sempurna dari sifat-sifat kesempurnaan yang tidak ada kekurangan di dalamnya dari seluruh sudut pandang. (Lihat Minhajus Sunnah 5/409, Badaiul Fawaid 1/163, dan Mukhtashor Al-Asilah wal Ajwibah al-Ushuliyah hal 56).

القاعدة الثانية: أسماء الله مشتقة من صفاته وهي ليست جامدة، وكـل اسـم يتضمن الصفة التي اشتق منها.
KAIDAH KEDUA:
Nama-nama Allah bentuk turunan dari sifat-sifat-Nya, dan nama-nama itu bukan bentuk tunggal (berdiri sendiri), dan setiap nama Allah mencakup sifat bentukannya.

فالله يتضمن صفة الألوهية، و الرحمن يتضمن صفة الرحمة، والعليم يتضمن صفة العلم، والقدير يتضمن صفة القدرة

Maka bagi nama Allah mengandung sifat Al-Uluhiyah, dan ar-Rahman itu mengandung sifat rahmat (kasih sayang),  al-‘Aliim mengandung sifat ilmu (mengetahui), al-Qodir mengandung sifat Qudrah (kuasa). (Lihat Madarijus Salikin 1/60).

(Tambahan dari Syaikh hafizhahullah)
Nama nama Allah itu bisa berasal dari beberapa sifat. Namun beberapa sifat itu  tidak berasal dari beberapa nama.

القاعدة الثالثة: أسماء الله عز وجل أعلام وأوصاف، والوصف بهـا لا ينافي العلمية، بخلاف أوصاف العباد فإنها تنافي علميتهم؛ لأن أوصافهم مشتركة، فنافتها العلمية المختصة، بخلاف أوصافه تعالى

KAIDAH KETIGA:
Nama nama Allah Azza Wa Jalla adalah nama dan sifat, dan sifat tidak meniadakan nama, berbeda dengan sifat-sifat hamba maka itu meniadakan nama mereka. Karena sifat-sifat mereka bisa dikatakan musytarakah – dipakai bersama-sama, maka ini meniadakan nama secara pengkhususannya, berbeda dengan sifat-sifat Allah Ta’ala. (lihat Badai’ul Fawaid 1/162)

القاعدة الرابعة: أسماء الله الحسنى لها اعتباران: اعتبـار مـن حيـث الـذات، واعتبار من حيث الصفات، فهـي بالاعتبار الأول مترادفة، وبالاعتبـار الثـاني متباينة

KAIDAH KEEMPAT:
Nama-nama Rabb memiliki dua pertimbangan: pertimbangan (pertama) dalam hal dzat, dan pertimbangan (kedua) dalam hal sifat, dalam pertimbangan pertama adalah adanya faktor identic (faktor kesamaan nama), dan dalam pertimbangan kedua berbeda (adanya faktor perbedaan tidak setiap sifat Allah bisa langsung diambil sebagai nama Allah). (lihat Badai’ul Fawaid 1/162)

(Tambahan Nama Al-Hayyu الحَيُّ  (Yang Maha Hidup) mengandung sifat الحياةُ (Al-Hayaatu – Hidup) dan  tidak katakan nama Allah حَيي hayiya (fi’il dari masdhar الحياة )

القاعدة الخامسة: أن الاسـم مـن أسمائه لـه دلالات: دلالـة علـى الـذات والصفة بالمطابقة، ودلالة على أحدهما بالتضمن، ودلالة على الصفة الأخرى باللزوم.
مثال ذلك: (الخالق) يدل على ذات الله، وعلى صفة الخلق بالمطابقة، ويدل على الذات وحدها وعلى صفة الخلق وحدها بالتضمن، ويدل علـى صـفتي العلم والقدرة بالالتزام.

KAIDAH KELIMA:
Nama dari Nama-Nama Allah itu menunjukkan beberapa dalalah, Dalalah atas dzat dan sifat dengan dalalah al-Muthobaqoh, dan dalalah atas salah satu dari keduanya dengan dalalah at-tadhomun, dan dalalah atas sifat lainnya dengan dalalah al-luzum.
Contoh yang demikian adalah:
Nama (الخالق ) ini
menunjukkan kepada Dzat Allah, dan menunjukkan kepada sifat penciptaan dengan dalalah muthobaqoh (Tanda-tanda keselarasan).
dan menunjukkan kepada dzat Allah saja dan menunjukkan kepada sifat penciptaan  saja dengan dalalah at-Tadhommun (Tanda-Tanda Penyertaan).
Dan menunjukkan kepada dua sifat al-Ilmu (Mengetahui) dan Al-Qudroh (kekuasaan) dengan dalalah iltizam. (Tanda-Tanda Iltizam (Komitmen)) (lihat Bada’iul Fawaid 1/162) dan al-Qowaidul Mutsla hal 11)

(tambahan penjelasan)
فأما دلالة المطابقة: فهي دلالة اللفظ على تمام وكمال معناه الذي وضع له، مثل: دلالة البيت على الجدران والسقف، فإذا قلنا: بيت فإنه يدل على وجود الجدران والسقف.

Adapun Dalalah al-Muthobaqoh atau Tanda-tanda keselarasan: itu adalah makna kata untuk kelengkapan dan kesempurnaan makna yang ditetapkan untuk-Nya, seperti: Tanda rumah di dinding dan langit-langit, jika kita mengatakan: rumah, itu menunjukkan adanya dinding dan langit-langit. (bisa dikatakan Dalalah al-Muthobaqoh adalah Informasi dari lafadh penuh utuh sesuai dengan yang ditetapkan.)

ودلالة التضمن: هو دلالة اللفظ على جزء معناه الذي وضع له، كما لو قلنا: البيت وأردنا السقف فقط، أو قلنا: البيت وأردنا الجدار فقط، فإذا أردنا واحداً منهما فهذا يسمونه المتضمن، يعني: فرداً واحداً من أفراد المعنى الآخر.

Dan Dalalah At-Tadhommun atau Tanda-Tanda Penyertaan: itu adalah tanda-tanda lafazh pada bagian maknanya yang diletakkan untuk itu, seolah-olah kita mengatakan: rumah dan kami hanya menginginkan atapnya saja, atau kami berkata: rumah dan kami menginginkannya dindingnya saja, dan jika kita menginginkan salah satunya, maka mereka menyebutnya tersirat, artinya: salah satu individu dari makna lainnya. (bisa dikatakan Dalalah At-Tadhommun adalah Informasi dari lafadh tidak utuh, hanya sebagian dari makna yang ditetapkan.)

ودلالة الالتزام: هي دلالة اللفظ على معنى خارج اللفظ يلزم منه هذا اللفظ.

Dan Dalalah Iltizam atau Tanda-Tanda Iltizam (Komitmen): itu adalah tanda-tanda lafazh terhadap makna yang diluar lafazh tersebut yang harus diikutkan dalam lafazh ini. (bisa dikatakan Dalalah Iltizam adalah Informasi dari lafadh tidak sesuai dengan yang ditetapkan akan tetapi makna yang diinformasikan melekat erat dalam pemikiran dengan makna yang ditetapkan Informasi dari lafadh tidak sesuai dengan yang ditetapkan akan tetapi makna yang diinformasikan melekat erat dalam pemikiran dengan makna yang ditetapkan)

فإذا قلنا: كلمة السقف مثلاً، فالسقف لا يدخل فيه الحائط فإن الحائط شيء والسقف شيء آخر، لكنه يلزم منه؛ لأنه يتصور وجود سقف لا حائط له يحمله، فهذه هي دلالة الالتزام أو اللزوم.

Jika kita mengatakan: kata langit-langit, misalnya, langit-langit tidak termasuk dinding, karena dinding adalah satu hal dan langit-langit adalah hal lain, tetapi itu dibutuhkan untuk diharuskan bersamanya; Karena ia membayangkan adanya langit-langit tanpa dinding untuk menopangnya, ini adalah tanda komitmen atau keharusan.

القاعدة السادسة: أسماء الله تعالى غير محصورة في عدد معين، فمن أسمائه ما أنزله في كتبه وعلمه رسله، ومن أسمائه ما استأثر بعلمه ولم يطلع عليـه أحـدا من خلقه.
KAIDAH KEENAM:
Nama-nama Allah Ta’ala tidak terbatas dengan jumlah tertentu, (karena) ada nama-nama Allah yang Allah turunkan pada kitab-kitabnya dan Allah ajarkan kepada para rasul-Nya serta nama-nama Allah yang Allah khususkan dengan ilmu-Nya dan tidak ada yang mengetahui seorang pun dari makhluk-Nya

ويشهد لهذا ما جاء عن النبي ﷺ من حـديث عبـد الله بن مسعود في دعـاء (الكرب) وفيه: ( ه: «أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك، أو أنزلته في كتابك، أو علمته أحدا من خلقك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك»

Sebagai bukti pendalilannya adalah dari hadits Nabi ﷺ dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu dalam doa al-Karb (doa gundah gulana), dan didalam doa tersebut ada lafazh:

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، 

Aku memohon dengan seluruh nama-nama-Mu, yang engkau namai diri-Mu, atau nama yang engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau telah engkau ajarkan kepada seseorang dari hamba-Mu, atau nama yang masih Engkau simpan di sisi-Mu, (HR. Ahmad, hadist no. 4318, Shohih lihat Silsilah Ahadits as-Shohihah no. 199).

وأما قوله ﷺ: «إن لله تسعة وتسعين اسما من أحصاها دخل الجنة» ، فـلا يدل على حصر الأسماء في هذا العدد والمعنى له أسماء بهذا العدد من شأنها أن من أحصاها دخل الجنة، وهذا لا ينفي أن يكون له أسماء غيرهـا، وقـد نقـل الإمام النووي الله اتفاق العلماء على أن هـذا الـحـديث لا يدل على حصـر
أسمائه سبحانه.
Sedangkan sabda Rasulullah ﷺ,  Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama (100 kurang satu )  barangsiapa yang menghafalkannya, menjaganya, mengamalkannya, mengimaninya masuk surga. (HR. Al-Bukhori no. 2736).

Ini tidak menunjukkan pembatasan nama-nama Allah dengan jumlah tertentu. Dan makna bahwa nama-nama dengan jumlah ini (99) bagi barangsiapa saja yang menghafalkannya, menjaganya, mengamalkannya dan mengimaninya akan masuk surga, ini bukan meniadakan bahwa Allah tidak mempunyai nama selain 99 nama. (lihat Badaiul Fawaid 1/167)

Dan telah dinukilkan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah tentang kesepakatan ulama atas hadits 99 nama ini tidak lah menunjukkan kepada pembatasan nama-nama Allah Subhanahu.
(lihat Syarah an-Nawawi 5/17)

Bersambung
Zaki Rakhmawan Abu Usaid

Kamis, 11 Agustus 2022

MANHAJ BERIMAN TERHADAP NAMA & SIFAT ALLAH TA`ALA

*FAWAID – DARI KITAB SABIIL AR-RASYAAD FI TAQRIIR MASAAILIL I’TIQOOD*
#Faidah-DAURAH_SYAR’IYYAH_21_STAI_ALI_BIN_ABI_THALIB_1444H
#Syaikh_Prof_Dr_Ibrahim_bin-Amir_ar-Ruhaily_hafizhahullah

BAGIAN KETIGA:

4 - موقفهم مما لم يرد نفيه ولا إثباته:
4. Posisi Ahlus Sunnah pada apa yang tidak ditiadakan  atau ditetapkan:

طريقتهم فيما لم يرد نفيه، ولا إثباته مما تنازع الناس فيه: يتوقفون في لفظه إثباتا ونفيا، وأما معناه فيستفصلون عنه: فإن أريد به باطل ينزه الله عنه ردوه، وإن أريد به حق قبلوه، مع التوجيه للتعبير عنه باللفظ الشرعي. كلفظ (الجهة): يتوقف في إطلاق لفظه نفيا وإثباتا، وأما معناه فيستفصل فيه: فإن أريد به جهة سفل أو جهة علو تحيط به رد، وإن أريد به جهة علو لا تحيط به، فلا يُنْفَى هذا عن الله لكن يوجه للتعبير عنه بالألفاظ الشرعية كالعلو، والفوقية، والاستواء على العرش.
Metode Ahlus Sunnah
Jalan mereka tentang apa yang tidak dimaksudkan untuk disangkal, atau untuk dibuktikan, yang diperdebatkan orang: mereka berhenti mencukupkan dengan dalil dari Al-Qur’an dan as-Sunnah  dalam lafazhnya, baik sebagai penetapan ataupun peniadaan lalu baru diperinci lagi, jika mereka inginkan adalah untuk kebatilah maka hendaknya mereka dibantah dan harusnya mensucikan Allah. Kalau yang diinginkan adalah kebenaran maka harus diterima dengan disertai untuk mengarahkannya dengan ungkapan lafazh yang sesuai syar’i. Seperti lafah al-Jihah (arah) dia harus berhenti dalam memutlakkan lafazhnya baik secara peniadaan ataupun  penetapan, sedangkan maknanya maka bisa diperinci lagi, jika yang diinginkan adalaha arah bawah atau arah tinggi yang bisa meliputi-Nya maka itu harus dibantah, dan jika yang diinginkan dari lafazh itu adalah arah tinggi yang tidak bisa meliputi Allah, maka itu jangan ditiadakan dari Allah namun hendaknya diarahkan untuk menggunakan ungkapan dengan lafazh-lafazh syar’I yaitu seperti al-‘Uluw, al-Fauqiyyah ataupun al-Istiwa’ diatas arsy-Nya.

وكذلك لفظ (المتَحَيز) يتوقف في لفظه، وأما معناه فإن أريد به أن الله تحوزه المخلوقات فهذا معنى باطل، فالله أكبر وأعظم مـن أن تحيط بـه المخلوقات، وإن أريد به أنه مُنْحاز عن المخلوقات، أي مباين لها، منفصل عنهـا لـيـس حـالا فيها فهذا حق ثابت لله عز وجل، كما قال أئمة السـنة: هـو فـوق سموات على عرشه بائن من خلقه)(۱).

Begitu juga istilah Al-Mutahayyiz (membutuhkan ruang dan waktu) itu juga membutuhkan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah dalam lafazhnya, sedangkan mengenai maknanya, jika dimaksudkan bahwa Allah membutuhkan ruang dan waktu terhadap makhluknya maka ini adalah makna bathil. Allah maha besar dan Maha Agung dari dilingkupi oleh makhluknya, dan yaitu jauh dari makhluk-Nya, (ini adalah makna yang salah) dan Allah terpisah dari makhluknya dan ini adalah hak yang pasti dari ketetapan bagi Allah, sebagaimana Para Imam telah berkata, Allah diatas Langit diatas arsynya jauh dari makhluk-Nya (Lihat rujukan sebelumnya).

5 - منهجهم في ألفاظها:
يثبتون ألفاظ أسماء الله وصفاته كما جاءت في النصوص ويتمسكون بألفاظها
كما وردت ولا يتعرضون لها بالتحريف والتغيير.
5. Manhaj Ahlus Sunnah dalam lafazh-lafazh Al-Asma’ dan as-Sifat
Mereka menetapkan lafazh-lafazh Nama-nama Allah dan Sifat-Sifat Allah sebagaimana yang ada dalam nash dalil dari Al-Qur’an dan as-Sunnah dan berpegang teguh dengan lafazh-lafazhnya sebagaimana asli dalilnya, tidak menyelewengkannya maupun menggantinya.

6 - منهجهم في معانيها:
6. Manhaj Ahlus Sunnah dalam berbagai makna nama-nama dan sifat-sifat Allah.

يجرون معاني الأسماء والصفات على ظاهرها المراد الله منها، وما تدل عليه ألفاظها من المعاني، الصحيحة لها.. ولا يتعرضون لها بالتأويل أو التفويض أو التشبيه.

Ahlus Sunnah menuliskan berbagai makna nama-nama dan sifat-sifat Allah berdasarkan makna dhohirnya sebagaimana yang diinginkan Allah darinya dan apa yang menunjukkan berbagai lafazh-lafazh dari maknanya berdasarkan dalil yang shohih dan tidak perlu dibenturkan hal tersebut dengan takwil penyelewengan makna, tafwidh (penyerahan makna – pasrah bongkokan kepada Allah saja), ataupun tasybih (penyerupamaan).

۷- موقفهم من كيفية الصفات:
7. Sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari “Kaifiyatis Sifaat – Bagaimana Sifat-Sifat Allah”

يثبتون كيفية صفات الله تبارك وتعالى، وأن لها كيفية عظيمة يعلمها الله، ولا ينفون حقيقة كيفياتها وإنما ينفون علمهم بها ويفوضون كيفيـة علمهـا الله، وهـذا هو مقصود السلف: مالك، وسفيان بن عيينة، وعبد الله بن المبارك بقـولـهـم فـي أحاديث الصفات: «أمروها بلا كيف»، وقول الإمـام مـالـك: «الكيـف مجهول»

Menetapkan Kaifiyat Sifat-Sifat Allah Tabaraka wa Ta’ala, dan bagi sifat-sifat Allah itu ada kaifiyat yang begitu agung yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. Dan Ahlus Sunnah itu tidak meniadakan Kaifiyat bagaimana sifat-sifat Allah, namun mereka meniadakan ilmu mereka karena tidak bisa menjangkau ilmunya Allah, dan ini adalah apa yang dimaksudkan oleh generasi Salaf, baik Imam Malik, Sufyan bin ‘Uyainah, Abdullah bin al-Mubarak mereka mengatakan dalam hadits-hadits yang berkaitan dengan Sifat-Sifat Allah, ““Perlakukanlah (maknanya) sebagaimana adanya tanpa menanyakan bagaimananya”¹ (HR. At-Tirmidzi 3/42 no. 662) dan Imam Malik mengatakan, “Al-Kaifa Bagaimana (tentang Sifat dan Nama Allah) itu tidak diketahui.”  (Al-Baihaqy dalam al-Asma was Shifaat 2/306)

قال شيخ الإسلام ابن تيمية: «ولـم يـقـل مـالـك الكيـف معـدوم وإنمـا قـال الكيف مجهول»، يشير رحمه الله إلى أن الذي نفاه مالك هو العلم بالكيفية لا إنكارها من أصلها.
وقال الإمام ابن القيم: «معنى قول السـلـف بـلا كـيـف أي: بـلا كـيـف يعقله البشر»

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Imam Malik tidak mengatakan “Kaif itu ditiadakan, namun beliau mengatakan bahwa Kaif (pertanyaan tentang bagaimana Istiwa Allah) adalah majhul (tidak diketahui bagaimananya oleh manusia.” (Majmu al-Fatawa: 13/309)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan isyarat kepada apa yang dinafikan oleh Imam Malik adalah ilmu tentang kaifiyah (pembagaimanaan) bukan pengingkaran terhadap kaifiyat Istiwa secara hukum asalnya.

Imam Ibnul Qoyyim berkata, “makna perkataan salaf BILA KAIF adalah dengan tidak membagaimanakan dengan pemikiran manusia.” (Madarijus Saalikin 3/335).

(Tambahan dari Syaikh hafizhahullah)
Bila Kaif -maksudnya adalah menetapkan Allah dengan sifat-sifat-Nya sesuai kaifiyat-Nya yang selayaknya dengan Keagungan Allah dan tidak masuk kepada pertanyaan bagaimananya sifat-sifat Allah.
Menafikan sesuatu tidak berarti bahwa sesuatu itu tidak ada.
Perkataan tidak tahu itu adalah disandarkan kepada orang yang ‘alim yang faham dengan dalil-dalilnya. Bukan dipasrahkan begitu saja yang tahu hanya Allah itulah yang difahami oleh orang-orang yang melakukan tafwidh – pasrah bongkokan. Namun yang benar adalah kita tidak tahu maknanya maka bertanyalah kepada orang yang faham tentang makna tersebut sesuai dengan dalil-dalil yang shohih dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.)

۸ - منهجهم في ظاهرها:
8. Manhaj Ahlus Sunnah dalam Dhohir dalil tentang al-Asma was Sifat Allah.

يعتقدون أن نصوص الصفات على ظاهرها، وقد نقل غير واحد من العلماء إجماع السلف: على أنها تُجرى على ظاهرها مع نفي التشبيه عنها(3).

Mereka berkeyakinan bahwa dalil-dalil Sifat-sifat Allah adalah sesuai dengan dhohirnya (apa yang tampak jelas dari dalil-dalil tersebut). Dan telah dinukilkan lebih dari seorang ulama tentang ijma salaf, “Bahwa dibawah kepada apa yang menjadi makna secara dhohirnya (yang Nampak jelas) disertai dengan meniadakan penyerupamaan dari dali-dalil tentang sifat-sifat Allah.

(Tambahan penjelasan dari Syaikh hafizhahullah, Dhohir adalah makna yang tampak dari dalil-dalil yang shohih.
Dhohir adalah makna yang tampak pada bahasa, jadi kalau difahami dengan pemahaman lainnya dari bentuk tasybih (penyerupamaan) maka itu tidak dibolehkan dan bukan jalan yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.)

إلا أن لفظ الظاهر فيه إجمال: فإن أريد به ما يليق بجلال الله وعظمته فهذا حق، والظاهر هنا مراد، وهو الذي فهمه السلف.
Kecuali bahwa lafazh dhohirnya didalamnya ada secara umum, sesungguhnya yang diinginkan dengan lafazh dhohir adalah apa yang selayaknya dengan ke maha agungan Allah dan maha besar-Nya maka ini adalah yang haq (benar), dan dhohir disini adalah apa yang diinginkan sesuai syar’i, dan ini lah yang difahami oleh generasi salaf.

وإن أريد به مشابهتها لصفات المخلوقين كفـهـم المشبهة لمعـاني الـصـفات فالظاهر هنا غير مراد، لكن ينبه أن هذا ليس هو ظاهرها الحقيقي، فإنه لا يجـوز أن يعتقد أن ظواهر النصوص تدل على التشبيه

Dan jika diinginkan disini adalah penyerupamaan kepada sifat-sifat makhluk-Nya maka cukuplah penyerupaan dalam makna sifat-sifat-Nya. Maka dhohir disini adalah bukan itu yang dimaksudkan namun itu bukanlah makna dhohir secara hakikinya, tidak boleh diyakini bahwa dhohir nash-nash tersebut menunjukkan pada makna penyerupamaan. (lihat Majmu’ al-Fatawa: 5/108, 6/355)

(Tambahan dari Syaikh  hafizhahullah)
Qodr Mustarak, seperti nama yang juga dipakai oleh makhluk dan kholiq, misalnya manusia punya tangan, begitupun Allah mempunyai Tangan, Tapi Tangan Allah tidak akan sama dengan tangan manusia meskipun penamaannya adalah sama. Hal itu hanya penamaan yang difahami oleh otak manusia karena itu tidak akan sama dengan apa yang seharusnya diperuntukkan kepada Allah karena:
ليس كمثله شيء
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah . (QS. Asy-Syuuro: 11) – selesai tambahan.

Bersambung
Zaki Rakhmawan Abu Usaid

IMAN TERHADAP NAMA & SIFAT ALLAH TA`ALA

*FAWAID – DARI KITAB SABIIL AR-RASYAAD FI TAQRIIR MASAAILIL I’TIQOOD*
#Faidah-DAURAH_SYAR’IYYAH_21_STAI_ALI_BIN_ABI_THALIB_1444H
#Syaikh_Prof_Dr_Ibrahim_bin-Amir_ar-Ruhaily_hafizhahullah

*BAGIAN KEDUA:*

النوع الثاني: توحيد الأسماء والصفات:

MACAM KEDUA: TAUHID AL-ASMA WAS SHIFAT:

ويمكن بيان معتقد أهل السنة في توحيد الأسماء والصفات من خلال الوجوه
التالية:

Penjelasan tentang keyakinan Ahlus Sunnah dalam Tauhid al-Asma was Sifaat dapat dijelaskan melalui beberapa sudut pandang berikut ini:

أولا: تعريفه:هو الإيمان بما ورد في الكتاب والسنة الله مـن الأسماء والصفات، وإثبات معانيها الصحيحة، ولوازمها  وآثارهـا وتنزيهـه تعـالى عـمـا نـفـتـه عنـه النصـوص مـن النقائص ومشابهة المخلوقات.

PERTAMA: Definisinya
Tauhid Al-Asma was Sifat adalah iman dengan apa yang ada di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dari berbagai nama dan sifat Allah, penetapan berbagai makna yang shohih darinya dan berbagai kelazimannyanya..* dan efeknya ** dan upaya mengarahkan tujuan hidup manusia agar bisa hidup secara bermakna. dari apa yang telah disangkal oleh teks dari berbagai kekurangan dan kemiripannya dengan makhluk.

*اللازم: " ما يمتنع انفكاكه عن الشيء" انظر التعريفات (1/ 190) ومنه أخذت دلالة الالتزام. ودلالة التزام: هي دلالة اللفظ على أمر خارج عن معناه، لكنه لازم لـه لا يفارقه، كدلالة السقف على الحائط، فالسقف ليس جزءا من الحائط، لكنه لا يعقل أن يوجد سقف بدون حائط تحتـه " وهـي من أنواع الدلالات العقلية غير اللفظية. انظر روضة الناظر (۱/ ۷۱). آداب البحث والمناظرة 1 / 14 وتسهيل المنطق للشيخ عبد الكريم مراد (ص: ۱۱). وقد نبه بعض العلماء المحققين على دلالات الأسماء والصفات على بعض الصفات الأخرى من طريق اللزوم وأن هذه الدلالة من أنواع الدلالات الصحيحة في هذا الباب. يقول شيخ الإسلام ابن تيمية " فالاسم يدل على الذات والصفة المعينة بالمطابقة ويدل على أحدهما بطريق التضمن وكل اسم يدل على الصفة التي دل عليهـا بـالالتزام" مجمـوع الفتـاوى .(۳۸۳ /۱۳)

Makna al-Lazim adalah “apa yang mencegah sesuatu menjadi terlepas.” (LIhat at-Ta’rifaat 1/190) dan darinya diambil “Dilalatul Iltizam atau tanda komitmen: itu adalah indikasi kata dari sesuatu di luar maknanya, tetapi diperlukan untuk itu dan tidak terpisah darinya, seperti tanda langit-langit di dinding, langit-langit bukan bagian dari dinding, tetapi tidak dapat dibayangkan bahwa ada langit-langit tanpa dinding di bawahnya, dan itu adalah salah satu jenis indikasi  akal yang bukan indikasi verbal perkataan.” (Lihat Raudhatun Naadzhir 1/71). Adabul Bahtsi wal Munaadzoroh 1/14, Tashiil Mantiq oleh Syaikh Abdul Karim Murod (hal 11), Beberapa ulama telah memperingatkan tentang indikasi berbagai Nama dan Sifat atas beberapa Sifat lainnya dari jalan yang harus dipegang komitmennya dari berbagai dalil yang shahih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Isim itu menunjukkan kepada dzat dan Sifat yang tertentu itu berkesesuaian dan menunjukkan kepada salah satu dari  keduanya yaitu Nama dan Sifat Allah, dengan jalan penyertaan yang menunjukkan kepada setiap nama itu bisa menunjukkan kepada sifat yang mengharuskan adanya suatu komitmen.” Majmu' Al-Fatawa (13/ 383)

ويقول ابن القيم: "الأصل الثاني: أن الاسم من أسمائه تبارك وتعالى كما يدل على الذات والصفة التي اشتق منها بالمطابقة، فإنه يدل عليه دلالتين أخريين بالتضمن واللزوم "مدارج السالكين (1/ 54)، وانظر بدائع الفوائد (1/ 162).

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Prinsip kedua: bahwa Nama dari Nama-Nama Allah Tabaraka wa Ta’ala sebagaimana menunjukkan kepada Dzat dan Sifat yang diturunkan sesuai dengan korelasi/keselarasan, maka ini menunjukkan kepada dua dalil lainnya dengan pendalilan penyertaan dan al-Luzum (komitmen).” (lihat Madarijus Salikin 1/54 – lihat Badail Fawaid 1/162).

(tambahan penjelasan)
فأما دلالة المطابقة: فهي دلالة اللفظ على تمام وكمال معناه الذي وضع له، مثل: دلالة البيت على الجدران والسقف، فإذا قلنا: بيت فإنه يدل على وجود الجدران والسقف.

Adapun Dalalah al-Muthobaqoh atau Tanda-tanda keselarasan: itu adalah makna kata untuk kelengkapan dan kesempurnaan makna yang ditetapkan untuk-Nya, seperti: Tanda rumah di dinding dan langit-langit, jika kita mengatakan: rumah, itu menunjukkan adanya dinding dan langit-langit. (bisa dikatakan Dalalah al-Muthobaqoh adalah Informasi dari lafadh penuh utuh sesuai dengan yang ditetapkan.)

ودلالة التضمن: هو دلالة اللفظ على جزء معناه الذي وضع له، كما لو قلنا: البيت وأردنا السقف فقط، أو قلنا: البيت وأردنا الجدار فقط، فإذا أردنا واحداً منهما فهذا يسمونه المتضمن، يعني: فرداً واحداً من أفراد المعنى الآخر.

Dan Dalalah At-Tadhommun atau Tanda-Tanda Penyertaan: itu adalah tanda-tanda lafazh pada bagian maknanya yang diletakkan untuk itu, seolah-olah kita mengatakan: rumah dan kami hanya menginginkan atapnya saja, atau kami berkata: rumah dan kami menginginkannya dindingnya saja, dan jika kita menginginkan salah satunya, maka mereka menyebutnya tersirat, artinya: salah satu individu dari makna lainnya. (bisa dikatakan Dalalah At-Tadhommun adalah Informasi dari lafadh tidak utuh, hanya sebagian dari makna yang ditetapkan.)

ودلالة الالتزام: هي دلالة اللفظ على معنى خارج اللفظ يلزم منه هذا اللفظ.

Dan Dalalah Iltizam atau Tanda-Tanda Iltizam (Komitmen): itu adalah tanda-tanda lafazh terhadap makna yang diluar lafazh tersebut yang harus diikutkan dalam lafazh ini. (bisa dikatakan Dalalah Iltizam adalah Informasi dari lafadh tidak sesuai dengan yang ditetapkan akan tetapi makna yang diinformasikan melekat erat dalam pemikiran dengan makna yang ditetapkan Informasi dari lafadh tidak sesuai dengan yang ditetapkan akan tetapi makna yang diinformasikan melekat erat dalam pemikiran dengan makna yang ditetapkan)

فإذا قلنا: كلمة السقف مثلاً، فالسقف لا يدخل فيه الحائط فإن الحائط شيء والسقف شيء آخر، لكنه يلزم منه؛ لأنه يتصور وجود سقف لا حائط له يحمله، فهذه هي دلالة الالتزام أو اللزوم.

Jika kita mengatakan: kata langit-langit, misalnya, langit-langit tidak termasuk dinding, karena dinding adalah satu hal dan langit-langit adalah hal lain, tetapi itu dibutuhkan untuk diharuskan bersamanya; Karena ia membayangkan adanya langit-langit tanpa dinding untuk menopangnya, ini adalah tanda komitmen atau keharusan.

وقال منبها على أثر معرفة لوازم الأسماء والصفات في إثبات صفات الكمال وخفاء ذلك على من
لا يعرف دلالة اللزوم: "فإن مـن عـلـم أن الفعـل الاختياري لازم للحياة، الكاملة، وأن السمع
والبصر لازم للحياة الكاملة، وأن سائر الكمال من لوازم الحياة الكاملة أثبـت مـن أسـمـاء الـرب
وصفاته وأفعاله ما ينكره من لم يعرف لزوم ذلك، ولا عرف حقيقة الحياة ولوازمها، وكذلك سائر
صفاته فإن اسم العظيم له لوازم ينكرها من لم يعرف عظمة الله ولوازمها.." مدارج السالكين بين
منازل إياك نعبد وإياك نستعين (1/ 55).

Ibnul Qoyyim rahimahullah juga memberikan peringatan atas atsar pengetahuan yang menjadi komitmen al-Asma’ dan Sifat Allah dalam penetapan Sifat Kesempurnaa dan hal ini tersembunyi dari orang-orang yang tidak mengetahui tanda-tanda al-Luzum (komitmen/keharusan),  “Orang yang mengetahui bahwa perbuatan yang ada pilihannya adalah suatu keharusan dalam kehidupan yang sempurna, dan sesungguhnya pendengaran dan penglihatan adalah suatu keharusan bagi kehidupan yang sempurna, dan keseluruhan aspek kesempurnaan itu adalah bagian dari bentuk komitmen hidup yang sempurna inipun sama dengan menetapkan  dari Nama-nama Allah  dan sifat-sifat-Nya serta Perbuatan-perbuatan-Nya Apa yang diingkari oleh seseorang yang tidak mengetahui pentingnya keharusan hal itu, juga tidak mengetahui realitas kehidupan  dan keharusannya, begitu pula berlaku untuk sifat-sifat Allah, maka Isim Al-Adzim Allah Dzat Yang Maha Agung itu harus ada komitmennya yaitu pasti ada orang yang mengingkarinya karena tidak mengetahui keagungan Allah dan komitmen dari keagungan Allah tersebut.” (LIhat Madaarijus Salikin Baina Manazil Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. 1/55)

(۱) دلالة آثار الصفات من الأدلة المشهورة عند أهل العلم يقول الإمام ابن القيم في حديثـه عـن آثـار
صفة الرحمة: "فانظر إلى ما في الوجود من آثار رحمته الخاصـة والعامة، فبرحمته أرسـل إلينـا
رسوله ﷺ وأنزل علينا كتابه وعصمنا من الجهالة وهدانا من الضلالة وبصرنا من العمى وأرشـدنا
من الغي، وبرحمته عرفنا من أسمائه وصفته وأفعاله ما عرفنا به أنه ربنا ومولانا، وبرحمته علمنا مـا
لم نكن نعلم، وأرشدنا لمصالح ديننا ودنيانا" انظر مختصر الصواعق (ص: 368).

Dalil-dalil atsar tentang Sifat-Sifat Allah adalah termasuk dalil-dalil yang masyhur di kalangan ahli ilmu. Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata tentang atsar sifat ar-Rahman: “
Maka lihatlah efek dari kasih sayang Allah  secara khusus dan umum yang ada, karena dengan rahmat-Nya Rasulullah ﷺ diutus kepada kita. dan Allah menurunkan kepada kita Kitab-Nya, dan kita dilindungi dari kebodohan, dan Allah membimbing kita dari kesesatan, dan penglihatan kita dari kebutaan, dan membimbing kita dari ketergelinciran. Dengan rahmat-Nya kita mengetahui dari Nama-nama-Nya, Sifat-sifat-Nya dan Perbuatan-Nya apa yang kita ketahui tentang-Nya bahwa Dia adalah Rabb kami dan Pelindung kita, dan dengan rahmat-Nya Dia mengajari kita apa yang kita tidak tahu, dan Dia menunjukki kita kepada kebaikan agama kita dan dunia kita.” (Lihat Mukhtasar al-Shawa’iq (hal.: 368)).

ثانيا: منهج أهل السنة والجماعة في تقرير أسماء الله وصفاته: * يتلخص منهج أهل السنة والجماعة في إثبات أسماء الله وصفاته في الأمور التالية:

KEDUA: MANHAJ AHLUS-SUNNAH WAL-JAMA`AH DALAM PENETAPAN NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH:

Manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jama`ah dalam menegaskan nama-nama dan sifat-sifat Allah terangkum dalam hal-hal berikut:

۱ - منهجهم في الاستدلال لها:

1. Manhajnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam pengambilan dalil terhadap Tauhid Asma wa Shifat

يعتقدون أن أسماء الله تعالى وصفاته توقيفية، لا يجوز إطلاق شيء منهـا على الله في الإثبات أو النفي إلا عن طريق الشرع. قال الإمام أحمد رحمه الله تعالى: «لا يوصف الله إلا بما وصف به نفسه، أو وصفه به رسوله ﷺ، لا يتجاوز القرآن والحديث».

Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa nama-nama dan sifat-sifat Rabb Yang Maha Esa adalah Tauqifiyyah (Eksklusif dari dalil al-Qur’an dan as-Sunnah), dan tidak satu pun dari nama-nama dan sifat-sifat tersebut dapat dikaitkan dengan Rabb dalam Penetapan atau Peniadaan kecuali melalui metode syar’I (sesuai dengan syari’at yang dibawa oleh Nabi ﷺ). Imam Ahmad rahimahullah, mengatakan: "Allah tidak dijelaskan sifat-Nya kecuali dengan apa yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya, atau yang sesuai dengan apa yang Rasul-Nya ﷺ, sifatkan tentang-Nya,  dan tidak melampaui Al-Qur'an. Dan al-hadits. (lihat Majmu’ al-Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 16/472)

-۲ - منهجهم في الإثبات :
يثبتون كل ما أثبته الله – عز وجل – لنفسه، وما أثبته له رسوله ﷺ من الأسماء والصفات، على الوجه اللائق بالله إثباتا مفصلا كما في قوله سبحانه:
وهو السميع البصير ﴾ [سورة الشورى:11]

2. Manhajnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam penetapan Asma dan Sifat Allah.

Mereka menetapkan  segala sesuatu yang telah ditetapkan Allah – Azza wa Jalla - untuk diri-Nya sendiri, dan apa yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya, dalam hal Asma dan Sifat Allah, dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allah, dengan bukti rinci sebagai dalam firman-Nya Subhanahu: “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Syura:11) (Lihat At-Tadmuriyyah hal 57 dan Syarah at-Thohawiyah Libni Abil ‘Iz 1/68)

3- منهجهم في النفي:

3. Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam Peniadaan Asma dan Sifat Allah:

ينفون عن الله ما نفاه عن نفسه أو نفاه عنه رسوله ﷺ نفيا مجملا كما في قوله تعالى:
«ليس كمثله شيء * [سورة الشورى:11] مع اعتقاد إثبات كمال ضد المنفي، كنفي (الظلم) في قوله تعالى: «ولا يظلم ربك أحدا ﴾ [سورة الكهف:49] لإثبات كمال عدله. ونفي (اللغوب)
في قوله تعالى: ﴿وما مشتا من لغوب ﴾ [سورة ق:38]، لإثبات كمال قدرته

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meniadakan dari Allah apa yang Allah tiadakan untuk diri-Nya sendiri  atau apa yang ditiadakan oleh Rasul-Nya ﷺ, secara umum, seperti dalam firman Allah Ta’ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. As-Syuraa: 11)
dengan disertai keyakinan penetapan kesempurnaan sebagai kebalikan dari peniadaan, seperti peniadaan kedholiman sebagaimana firman Allah:

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا

“Dan Rabbmu tidak mendzalimi seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

Karena penetapan kesempurnaa Allah dalam Maha Keadilan-Nya.
Allah meniadakan al-Lughub – ta’ab – capek, sebagaimana firman Allah:

وَّمَا مَسَّنَا مِنْ لُّغُوْبٍ

“dan Kami tidak merasa letih sedikit pun. “ (QS. Qof: 38)

Karena penetapan tentang kesempurnaan Kekuasaan-Nya.

(Tambahan dari Syaikh hafizhahullah - Apa saja dari Sifat Allah yang berkaitan dengan sifat yang menunjukkan kekurangan maka ditiadakan dan menetapkan kebalikannya sebagai kesempurnaan dari sifat-sifat Allah Ta’ala).

BERSAMBUNG
Zaki Rakhmawan Abu Usaid

Rabu, 10 Agustus 2022

IMAN KEPADA ALLAH TA`ALA

*FAWAID – DARI KITAB SABIIL AR-RASYAAD FI TAQRIIR MASAAILIL I’TIQOOD*
*#Faidah-DAURAH_SYAR’IYYAH_21_STAI_ALI_BIN_ABI_THALIB_1444H*
*#Syaikh_Prof_Dr_Ibrahim_bin-Amir_ar-Ruhaily_hafizhahullah*

الفصل الثاني

PASAL KEDUA

الإيمان بالله
Iman kepada Allah

وهو الإيمان بوجوده، وتوحيده في ربوبيته، وأسمائه وصفاته. وإلهيته.

Iman terhadap keberadaan Allah, mentauhidkan Allah dalam Rububiyahnya, Nama-Nama dan Sifatnya dan Ibadah hanya kepada-Nya.

* و يتضمن أصلين:
الأصل الأول: الإيمان بوجوده . وقد دل على وجوده - تعالى -: الفطرة، والعقل، والشرع، والحس.

Ini mengandung dua PRINSIP:
PRINSIP YANG PERTAMA:  Iman kepada keberadaan Allah, dan ini ditunjukkan dengan didasarkan secara FITRAH, AKAL, SYAR’I (dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah), PANCA INDERA.

1- أما دلالة الفطرة: فإن كل مخلوق قد فطر على الإيمان بخالقه، ضرورة من غير تعلم، أو تعليم، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: «ما من مولود إلا يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه »

Dalil secara fitrah (naluri) adalah, setiap makhluk telah diciptakan dengan dasar Iman kepada Kholiq-nya, nalurinya ada secara otomatis tidak perlu pembelajaran atau pengajaran, sebagaimana hadits Nabi ﷺ:
"Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhori no. 1358 dan Muslim no. 2658).

۲- أما دلالة العقل: فلأن هذه المخلوقات سابقها ولاحقها لابد لها من خالق أوجدها، إذ لا يمكن أن توجد نفسها بنفسها، ولا يمكن أن توجد من غير موجد.
وقد ذكر الله تعالى هذا الدليل العقلي في قوله: (أَمْ خُلِقُوا۟ مِنْ غَيْرِ شَىْءٍ أَمْ هُمُ ٱلْخَٰلِقُونَ) [سورة الطور:35].

2. Sedangkan dalil akal:
Karena makhluk-makhluk ini pasti ada yang mendahului mereka dan mengikuti mereka, mereka harus memiliki Pencipta yang menciptakan mereka, karena mereka tidak dapat ada dengan sendirinya, juga tidak dapat ada tanpa Pencipta. Allah Azza wa Jalla menyebutkan dalil akal ini dengan firman-Nya:

اَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ اَمْ هُمُ الْخٰلِقُوْنَۗ

“ Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? “ (QS. At-Tuur: 35)

ولهذا لما سمع جبير بن مطعم رضي الله عنه رسول الله ﷺ  يقرأ هذه الآية وكان - يومئذ مشركا - قال: «گاد قلبي أن يطير»، رواه البخاري

Oleh karena itu ketika shahabat Jubair bin Muth’im radhiallahu’anhu mendengar Rasulullah ﷺ membacakan ayat ini – ketika beliau masih dalam keadaan musyrik- beliau berkata: “'Hatiku hampir saja akan terbang.” (HR. Al-Bukhori no. 4854)

2- وأما دلالة الشرع: فلأن الكتب السماوية لها تنطق بذلك، وما جاءت به من الأحكام العادلة المتضمنة لمصالح الخلق؛ دليل على أنها من رب حکیم عليم بمصالح خلقه.

3. Sedangkan dalil syar’i,
Karena kitab-kitab samawiyah menyebutkan tentang hal tersebut, dan apa yang terkandung dari berbagai macam hukum-hukum yang adil yang mencakup kepentingan ciptaan-Nya; Bukti bahwa itu dari Rabb yang Maha bijaksana, Maha mengetahui kepentingan ciptaan-Nya.

4- وأما دلالة الحس: على وجود الله؛ فمن وجهين :
الأول: أننا نسمع ونشاهد من إجابة الداعين، وغوث المكروبين، ما يـدلُ دلالة قاطعة على وجوده تعالى.
الثاني: أن آيات الأنبياء التي تسمى (المعجزات) ويشاهدها الناس، أو يسمعون بها، برهان قاطع على وجود مرسلهم

4. Sedangkan dalil panca indera atas keberadaan Allah bisa dilihat dari dua sudut pandang:
Pertama: Kita mendengar dan kita menyaksikan dari pengabulan orang-orang yang berdoa, kelapangan/ kelegaan dari orang-orang yang terdepresi, yang menunjukkan bukti secara konklusif tentang keberadaan Allah Ta’ala.
Kedua: Bahwa ayat-ayat para Nabi yang disebut sebagai Mukjizat dan bisa disaksikan oleh manusia ataupun bisa didengar oleh manusia adalah bukti nyata tentang keberadaan Dzat yang mengirimkannya. (lihat Syarah Tsalatsah Ushul Libni ‘Utsaimin hal 80-83)

الأصل الثاني: الإيمان بتوحيده. وهو يتضمن أنواع التوحيد الثلاثة، وها هي ذي مفصلة.

PRINSIP YANG KEDUA:
Iman dengan mentauhidkan Allah, dan ini mengandung 3 macam tauhid, berikut ini tentang detailnya:

النوع الأول: توحيد الربوبية:
MACAM YANG PERTAMA: TAUHID AR-RUBUBIYAH

* وبیان توحيد الربوبية يكون من خلال الوجوه التالية:
Penjelasan Tauhid ar-Rububiyah bisa dilakukan dnegan beberapa sudut pandang berikut ini:

أولا: تعريفه:
وهو توحيد الله بأفعاله: من الخلق والإيجاد، والرزق والإمداد، وغيرها من أفعاله التي هي مقتضى ربوبيته وتدبير شؤون خلقه.

YANG PERTAMA: definisi nya (Definisi Tauhid ar-Rububiyah)
Yaitu mentauhidkan Allah dengan perbuatan Allah, baik mencipta dan mengadakan, memberikan rezki, dan yang membentangkannya, dan selainnya dari perbuatan Allah yang itu termasuk dari konsekuensi rububiyahnya Allah, Sifat Pengaturan Allah terhadap makhluk ciptaan-Nya.


ثانيا: الأدلة على تقريره:
YANG KEDUA: Dalil-Dalil atas Pengakuan Tauhid ar-Rububiyah:

دل على تقريره كثير من الأدلة من كتاب الله منها:
Dalil yang menunjukkan pengakuan terhadap Tauhid ar-Rububiyah sangat banyak sekali, yang termasuk dalil dari al-Qur’an :

1- قوله تعالى:.
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً ۖوَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ [سورة البقرة:21 - 22]

“  Wahai manusia! Sembahlah Rabbmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 21-22)

2- وقوله تعالى:
2. Dan firman Allah Ta’ala:
اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًاۙ وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍۢ بِاَمْرِهٖٓ ۙاَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

“  Sungguh, Rabbmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-A’raaf: 54)

3- وقوله تعالى:
3. Firman Allah Ta’ala:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا

“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu.” (QS. Al-Baqarah: 29)

4- وقوله تعالى: إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58) [سورة الذاريات:58].
فدلت هذه الآيات على ربوبيته وخلقه ورزقه وتسخيره هذه المخلوقات العظيمة لنفع الخلق، ثم نهى العباد عن اتخاذ الأنداد في عبادته بعد أن علموا تفرده بالخلق والرزق.

4. Firman Allah Ta’ala:

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

“ Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58)

Ayat ini menunjukkan kepada sifat Rububiyah nya Allah, Maha Pencipta, Maha Pemberi rezki dan penaklukan Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Demi kemaslahatan ciptaan-Nya, kemudian Allah  melarang hamba-hamba-Nya dari mengambil tandingan-tandingan dalam beribadah kepada Allah setelah mereka mengetahui keesaan Allah dalam Maha Pencipta dan Maha Pemberi Rezki


قال ابن كثير في بيان معنى آية البقرة: {ومضمونه: أنه الخالق الرازق مالك الدار، وساكنيها، ورازقهم، فبهذا يستحق أن يعبد وحده ولا يشرك به غيره؛ ولهذا قال: فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (22)[سورة البقرة:5]}(1).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam menjelaskan makna dari ayat Al-Baqarah: {Dan isinya: Dia adalah Pencipta, Pemelihara, pemilik rumah, dan penghuninya, dan Pemelihara mereka. Itulah sebabnya dia berkata: “Janganlah kamu mengadakan tandingan bagi Allah, sedangkan kamu mengetahui (22) [Surat Al-Baqarah: 5]}” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/194)

ثالثا: بيان عموم الإقرار به:
الإقرار بالربوبية من حيث الجملة عام في البشر "وما ادعى أحد من الكفار أن هذا العالم له خالقان متماثلان

KETIGA:   Pernyataan pengakuan umum tentang hal itu:
Pengakuan Rububiyah Allah dalam hal kalimat adalah umum pada manusia “dan tidak ada orang kafir yang mengklaim bahwa dunia ini memiliki dua pencipta yang identik.” (Lihat Majmu’ al-Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 7/75)

وقد كان مشركو العرب مقرين بأن الله هو الخالق لهم وللسموات والأرض والشمس والقمر، وأنه هو المتفرد بالرزق والتدبير، كما أخبر الله عنهم بذلك في غير آية، كقوله تعالى:

Dan orang-orang musyrik Arab mengakui bahwa Allah adalah Pencipta bagi mereka dan untuk langit dan bumi, matahari dan bulan, dan bahwa Dialah satu-satunya dalam memberikan rezeki dan pengelolaan, seperti yang Allah katakan kepada mereka tentang hal itu dalam selain sebuah ayat, seperti firman Allah Ta’ala:

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ فَاَنّٰى يُؤْفَكُوْنَۙ

Dan jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, “Allah,” jadi bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah),” (QS. Az-Zukhruf: 87)

وقوله تعالى:

Firman Allah Ta’ala:

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ ۗفَاَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ

Dan jika engkau bertanya kepada mereka, ”Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Pasti mereka akan menjawab, ”Allah.” Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran). (QS. Al-Ankabut: 61)

وقوله تعالى:

Firman Allah Ta’ala:

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ مِنْۢ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ ۙقُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ۗبَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ ࣖ

Dan jika kamu bertanya kepada mereka, ”Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu dengan (air) itu dihidupkannya bumi yang sudah mati?” Pasti mereka akan menjawab, ”Allah.” Katakanlah, ”Segala puji bagi Allah,” tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti. (QS. Al-Ankabut: 63)

قُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ قُلْ مَنْۢ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ يُجِيْرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗقُلْ فَاَنّٰى تُسْحَرُوْنَ

Katakanlah, “Siapakah Tuhan yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki ‘Arsy yang agung?” Mereka akan menjawab, “(Milik) Allah.” Katakanlah, “Maka mengapa kamu tidak bertakwa?” Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan segala sesuatu. Dia melindungi, dan tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab-Nya), jika kamu mengetahui?”   Mereka akan menjawab, “(Milik) Allah.” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka bagaimana kamu sampai tertipu?” (QS. Al-Mukminun: 86-89)

رابعا: بيان عدم كفايته في تحقيق الإسلام.

KEEMPAT: Penjelasan bahwa tidak cukup dengan Tauhid Rububiyah dalam penetapan Islam.

وهذا التوحيد لا يكفي العبد في حصول الإسلام، بل لا بد أن يأتي مع ذلك بلازمه من توحيد الإلهية؛ لأن الله تعالى حكى عن المشركين أنهم مقرون بهذا التوحيد لله وحده وأخبر عن شركهم، قال تعالى: وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ ]سورة يوسف : 106].

Ini adalah tauhid ar-Rububiyah yang   tidak akan mencukupi bagi seorang hamba untuk mendapatkan Islam, namun dia harus membawa konsekuensi dari tauhid ar-Rububiyah untuk bisa mengimani tauhid Ilahiyah (tauhid Ibadah – mentauhidkan Allah dalam beribadah kepada-Nya).
Hal ini karena Allah menceritakan tentang orang-orang musyrikin bahwa mereka itu mengakui dan mentauhidkan Allah dalam perbuatan Allah dan Allah mengabarkan tentang kesyirikan yang mereka lakukan, Allah berfirman:

وَمَا يُؤْمِنُ اَكْثَرُهُمْ بِاللّٰهِ اِلَّا وَهُمْ مُّشْرِكُوْنَ

“Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka mempersekutukan-Nya.(QS. Yusuf; 106)”

قال ابن عباس رضي الله عنه : «(وما يؤمن أكثرهم بالله)، قال: من إيمانهم، إذا قيل لهم: من خلق السماء؟ ومن خلق الأرض؟ ومن خلق الجبال؟ قالوا: الله. وهم مشرکون».

Ibnu Abbas radhiallahu’anhu berkata, (Tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah), dia berkata, termasuk iman mereka adalah, jika dikatakan kepada mereka, siapa yang menciptakan langit? Dan siapa yang menciptakan bumi? Dan siapa yang menciptakan gunung? Mereka menjawab, “Allah, sedangkan mereka orang-orang yang menyekutukan Allah.”
(lihat Tafsir al-Aziz al-Hamid hal 17)

وعن مجاهد: «إيمانهم قولهم: الله خالقنا ويرزقنا ويميتنا، فهذا إيمان مع شرك عبادتهم غيره» .

Dari Mujahid, “Imannya mereka adalah perkataan mereka, Dialah yang memberikan rezki kepada kita, yang mematikan kita, maka ini adalah iman yang disertai kesyirikan ibadah mereka kepada selain Allah.” (Lihat Tafsir ath-Thobari 16/286-287)

وكذا قال عطاء وعكرمة، والشعبي، وقتادة،

Dan demikian pula perkataan Atho’, Ikrimah, as-Sya’biy dan Qotadah. (Lihat Tafsir at-Thobari 16/286-287, Tafsir Ibnu Katsir 4/418)

خامسا: مظاهر الانحراف فيه:
* مظاهر الانحرافات في توحيد الربوبية لا يمكن حصرها، ومن أبرزها:

KELIMA: Bukti Nyata penyimpangan dalam Tauhid Rububiyah:
  * Bukti nyata penyimpangan dalam Tauhid ar-Rububiyah tidak dapat dibatasi (saking banyaknya), dan yang paling menonjol adalah:

1- إنكار وجوده سبحانه، أو ربوبيته كما يعتقد ذلك الملاحدة الذين يسندون إيجاد هذه المخلوقات إلى الطبيعة، أو الدهر، قال تعالى: ﴿ وقالوا ماهي إلا حياتنا الثنيانموث وتحيا ومايهلكا إلا الدهر ومالهم بذلك من علي إن هم إلايظنون ﴾ [سورة الجاثية: ٢٤].

Mengingkari keberadaan-Nya, Maha Suci Allah, atau Sifat Rububiyah-Nya, seperti yang diyakini oleh para atheis yang mengaitkan penciptaan makhluk-makhluk ini dengan faktor alam atau waktu. Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ

“  Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiyah: 24)

۲- جحد بعض خصائص الرب سبحانه وإنكار بعض معاني ربوبيته، كمن ينفي قدرة الله على إماتته أو إحيائه بعد موته.

Mengingkari sebagian sifat-sifat Rabb, kemuliaan bagi-Nya, dan mengingkari sebagian makna Rububiyah-Nya, seperti mengingkari kemampuan Allah untuk mematikan makhluk-Nya atau menghidupkannya kembali setelah kematiannya.

2- إعطاء شيء من خصائص الربوبية لغير الله سبحانه، كاعتقاد وجـود متصرف مع الله عز وجل في تدبير الكون أو غير ذلك من معاني الربوبية.

Memberikan sesuatu dari apa yang termasuk kekhususan Rububiyahnya Allah kepada selain Allah Dzat Yang Maha Suci. Seperti kepercayaan adanya Dzat lainnya Yang Maha Kuasa dalam pengaturan alam semesta atau pengertian lain dari makna Rububiyah Allah (Tauhid dalam Sifat Perbuatan-Perbuatan Allah.)

Bersambung….
Zaki Rakhmawan Abu Usaid
#