Sabtu, 18 November 2023

KHUTBAH JUM'AT MASJIDIL HARAM

Khutbah Jumat Masjidil Haram, 03 Jamadal Ula 1445 H

Oleh: Ma'aly Syaikh Dr. Abdurrahman as-Sudais

"Jika Kalian Menolong Allah, Maka Allah Akan Menolong Kalian”

 

Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah. Kami memujiMu, wahai Tuhan kami. Kami memohon pertolonganMu, meminta ampunanMu dan bertobat kepadaMu. Maha Suci Allah, Dialah yang Maha Memulai lagi Maha Mengulangi, yang Maha Melakukan segala apa yang Dia kehendaki. BagiNya limpahan kesyukuran dan pujian yang berterusan. Dia menjanjikan kepada wali-waliNya kemenangan dan sokongan, jika mereka memenuhi sebab-sebabnya dan mereka merealisasikan kesatuan dan tauhid.

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata. Tiada sekutu bagiNya. Dia memiliki 'Arasy yang mulia. Dan aku bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Beliau adalah Nabi terbaik dan hamba yang paling mulia. Semoga shalawat, salam dan keberkahan senantiasa tercurah bagi beliau beserta keluarga dan sahabat beliau, juga para tabi'in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga hari kiamat.

Amma ba'du..

Sebaik-baik pesan di awal dan di akhir segala urusan adalah takwa kepada Allah SWT dalam semua kesempatan, terlebih saat dalam derita dan nestapa, dalam ujian dan cobaan. Sebab ketakwaan kepada Allah akan menyingkap kesusahan dan kegundahan, serta akan mendatangkan kemenangan dan kegemilangan. Allah berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ 

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (QS. ath-Thalaq: 2-3)

Umat Islam sekalian…

Dalam suasana nestapa yang berat, derita yang kelam dan kemelut yang mencekam, jiwa-jiwa itu bangkit menyingkirkan sebab-sebab kelemahan dan keterpecahan, serta bersegera memenuhi faktor-faktor kemuliaan dan kemenangan. Seluruh jiwa bergegas meraih semerbak rahmat dan segala jalan keluar, serta merajut segala sesuatu yang dapat menghadirkan kesabaran. Demikian itu menjadi lebih diperlukan dan menjadi suatu kemestian di saat genting ini, ketika kita berada dalam potongan sejarah yang membara ini. Penggalan sejarah saat umat yang mulia ini diselimuti kesedihan dari segala penjuru dan dikungkung cobaan dari berbagai sisinya. Allah berfirman,

وَاللّٰهُ غَالِبٌ عَلٰٓى اَمْرِهٖ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti." (QS. Yusuf: 21)

Kaum mukminin sekalian…

Sesungguhnya di antara sunnatullah (ketetapan Allah) adalah bahwa Dia menjadikan segala sesuatu memiliki sebab, hasil, tujuan dan tata cara. Allah memerintahkan hambaNya untuk mencari sebab untuk mencapai tujuan yang paling luhur, yaitu tampuk kemuliaan dan kejayaan.

Sesungguhnya kewajiban orang yang beriman, yang memiliki tauhid yang kokoh, serta senantiasa mengharap sokongan dari Allah yang Maha Kuat lagi Maha Pemberi adalah membentengi diri dengan sebab-sebab kemenangan, kemuliaan dan kejayaan, serta membawanya di setiap tempat dan waktu.

Di antara karunia Allah SWT kepada segenap hambaNya yang beriman adalah bahwa Dia menunjukkan dan menuntun mereka meraih sebab-sebab ini. Allah menjelaskannya di dalam kitabNya yang mulia (al-Qur'an) dan sunnah Nabi yang suci.

Saudara seakidah..

Sebab kemenangan yang paling utama dan pertama adalah tauhid dan keikhlasan. Sesungguhnya perkara yang paling utama yang diperintahkan oleh Allah adalah tauhid (mengesakan Allah) dan ikhlas untukNya semata. Tauhid dan ikhlas dalam beramal adalah sebab kemenangan yang paling agung. Allah berfirman, seraya berpesan kepada generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat radhiyallahu 'anhum,

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَّرِئَاۤءَ النَّاسِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (ria) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah." (QS. al-Anfal: 47)

Di dalam ash-Shahihain, dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah saw ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberanian, berperang karena golongan (fanatisme) dan berperang karena riya, siapakah dari mereka yang disebut berada di jalan Allah? maka Rasulullah saw menjawab, "Siapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, niscaya dialah yang berada di jalan Allah."

Sebab kemenangan yang kedua adalah iman dan amal saleh. Allah berfirman,

وَكَانَ حَقًّاۖ عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ

"Dan merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman." (QS. ar-Rum: 47)

Allah juga berfirman,

اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُۙ

"Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat)" (QS. Ghafir: 51)

Allah juga berfirman,

اِنَّ اللّٰهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ

”Sesungguhnya Allah membela orang yang beriman." (QS. al-Hajj: 38)

Sebab ketiga adalah menolong agama Allah. Allah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)

Allah juga berfirman,

وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ (40) اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ (41)

"Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. al-Hajj: 40-41)

Di antara sebab kemenangan yang paling utama adalah menegakkan agama Allah, menyeru manusia kepada Allah, menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah berbuat kemungkaran, serta menolong orang-orang lemah di muka bumi.

Sebab keempat adalah kesatuan barisan di atas kebenaran, memperbaiki hubungan, serta tidak mudah berselisih dan berpecah belah. Allah berfirman,

 

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai". (QS. Ali Imran: 103)

Allah juga berfirman,

فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَصْلِحُوْا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ

"Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu." (QS. al-Anfal: 1)

Jalan yang pertama, yang mesti ditempuh untuk meraih kejayaan bagi umat ini adalah takwa kepada Allah dan memperbaiki hubungan. Allah berfirman,

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ

"Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang." (QS. al-Anfal: 46)

Maksudnya, kemenangan dan kekuatan kalian.

Wahai kaum muslimin di timur dan barat dunia, sebab kemenangan yang kelima adalah menyiapkan semampunya dari kekuatan yang dimiliki. Kekuatan bagi kaum mukminin yang melakukan perlawanan untuk membela agama dan umatnya adalah tuntutan syariat. Sebab Islam adalah agama kekuatan dan kemuliaan. Tonggak-tonggaknya tegak dengan Kitabullah yang memberi petunjuk dan senjata yang menolong. Allah berfirman,

وَأَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ اَللّٰهُ يَعْلَمُهُمْۗ 

"Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya." (QS. al-Anfal: 60)

Wahai sekalian hadirin yang mulia, sebab keenam dari sebab-sebab kemenangan adalah tawakkal (berserah diri) kepada Allah. Allah berfirman,

اِنْ يَّنْصُرْكُمُ اللّٰهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۚ وَاِنْ يَّخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَنْصُرُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِهٖ ۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

"Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal." (QS. Ali Imran: 160)

Allah juga berfirman,

وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

"Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.” (QS. al-Maidah: 23)

Tawakkal kepada Allah yang Maha Kuat lagi Maha Kokoh, merupakan sebab syar'i yang paling utama untuk meraih kemenangan dan kejayaan. Allah berfirman,

وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِۙ

" Dan tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Ali Imran: 126)

Saudara-saudara yang mulia, sebab yang ketujuh adalah kesabaran dan keteguhan. Allah berfirman,

وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـًٔا ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ

"Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan." (QS. Ali Imran: 120)

Allah juga berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung." (QS. al-Anfal: 45)

Nabi saw juga bersabda, "Ketahuilah bahwa kemenangan itu diraih dengan kesabaran, kelapangan itu datang bersama kesusahan, dan bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan." (HR. Tirmidzi)

Wahai orang-orang yang bertauhid yang memiliki semangat, sebab kedelapan dari sebab-sebab kemenangan adalah menegakkan shalat dan memperbanyak zikir, beristighfar kepada Allah, berdoa dan memohon pertolongan dariNya, serta kembali kepadaNya. Allah berfirman,

حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ (238) فَاِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا اَوْ رُكْبَانًا ۚ فَاِذَآ اَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ (239)

"Peliharalah semua shalat dan shalat wustha. Dan laksanakanlah (shalat) karena Allah dengan khusyuk. Jika kamu takut (ada bahaya), shalatlah sambil berjalan kaki atau berkendaraan. Kemudian apabila telah aman, maka ingatlah Allah (shalatlah), sebagaimana Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang tidak kamu ketahui." (QS. al-Baqarah: 238-239)

Sebab kesembilan adalah menghindari jalan orang-orang sesat dan cara orang-orang sombong dan riya. Allah berfirman,

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَّرِئَاۤءَ النَّاسِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ بِمَايَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (ria) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan." (QS. al-Anfal: 47)

Sebab kesepuluh adalah doa dan doa. Sesungguhnya di antara hak saudara-saudara kalian di tanah yang suci terhadap diri kalian adalah kalian membantu mereka dengan doa secara khusyu' kepada Allah, meminta dan memohon dengan menghinakan diri kepadaNya. Mohonlah kepadaNya kemenangan yang segera dan keteguhan, serta kejayaan.

Saudara seiman, perhatikanlah saudara-saudara kalian dengan sebaik-baik perhatian. Curahkanlah doa dan doa tiada henti.

Umat pemenang nan berjaya..

Itulah sepuluh poin dari nilai-nilai cemerlang yang dapat dipetik dari sebab-sebab utama meraih kemenangan, kemuliaan dan kejayaan. Demikian itu, sebagai pembangkit semangat dan pendorong untuk mencapai puncak kemuliaan, demi melindungi simbol tempat suci umat, yaitu masjid al-Aqsha yang diberkahi, kiblat pertama dan tempat Isra' Mi'raj nabi Muhammad saw, penghulu segenap jin dan manusia, di masa krisis ini dan di saat yang berdarah ini. Kondisi yang dilalui oleh umat Islam saat ini, di bawah bayangan kejahatan Zionis yang brutal dan serangan yang meluluhlantakkan, di bawah kepongahan dan kesombongan, keangkuhan dan makar yang jahat, serta penindasan atas orang-orang lemah dari kalangan sipil yang tak bersalah, anak-anak, orang lanjut usia, orang sakit dan orang-orang lemah. Mereka tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak memiliki arah yang menuntun mereka. Itulah kekejaman yang dirasakan oleh saudara-saudara klita di Palestina yang mulia. Para penjajah itu telah menghancurkan negeri mereka dan memusnahkan anak-anak dan segenap penduduk dengan cara yang paling keji dan kejahatan yang paling kejam. Mereka menggunakan senjata yang paling memusnahkan dalam sejarah krisis kemanusiaan yang keji.

Ya Allah, rahmatMu kami selalu harapkan. Cukuplah Allah menjadi sebaik-baik pelindung dan pemelihara.

Wahai saudara-saudara kami di Palestina, bersabarlah, dan kuatkan kesabaran. Teguhlah, dan kuatkan keteguhan. Semua kita berharap, optimis dan menanti kabar gembira. Sungguh pertolongan dan kemenangan dari Allah itu dekat.

Saudara-saudara yang mulia..

Ikatan persaudaraan kita yang kuat dan akidah kita yang agung memanggil kita untuk membantu dan menyokong keluarga kita di Palestina yang mulia, agar tercipta bagi mereka keamanan dan kemenangan, terhenti pertumpahan darah, terealisasi stabilitas, terbuka blokade, terhenti kekerasan dan pengusiran, serta agar bantuan kemanusiaan sampai dan pertolongan Allah segera datang dengan izinNya. Allah berfirman,

فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْاۗ وَكَانَ حَقًّاۖ عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ

"lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman." (QS ar-Rum: 47)

Allah juga berfirman,

حَتّٰٓى اِذَا اسْتَيْـَٔسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوْا جَاۤءَهُمْ نَصْرُنَاۙ فَنُجِّيَ مَنْ نَّشَاۤءُ ۗوَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ

"Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka (para rasul) itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang yang Kami kehendaki. Dan siksa Kami tidak dapat ditolak dari orang yang berdosa." (QS Yusuf: 110)

Bertakwalah wahai segenap hamba Allah. Penuhilah sebab-sebab kemenangan yang nyata, niscaya akan terealisasi bagi kalian kemenangan dan kejayaan.     

 

Aku berlindung kepada Allah dari setan terkutuk. Allah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ (45) وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ (46)

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung. Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar. (QS. al-Anfal: 45-46)

Semoga Allah memberkahi kita semua dengan kitabNya yang jelas dan sunnah penghulu para Rasul. Semoga Allah melindungi al-Aqsha milik kaum muslimin dari tipu daya orang-orang yang dengki dan keburukan para penjajah. Semoga Allah menempatkan para syuhada di tempat yang tinggi nan mulia. Sungguh, Dia Maha Penolong lagi Maha Pelindung. Demikian yang saya sampaikan. Saya memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung lagi Maha Mulia. Mohonlah ampun dan bertobatlah kepadaNya. Sungguh, Dia Maha Pengampun.

 

 

 Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah, Penolong orang-orang bertakwa. Aku memujiNya dan bersyukur kepadaNya dengan pujian yang tiada berkesudahan dan tidak melemah. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata. Tiada sekutu bagiNya. Dia telah menetapkan kemuliaan bagi hambaNya yang beriman. Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita, Muhammad adalah hamba dan utusan Allah yang suci dan terpercaya. Semoga shalawat, salam dan keberkahan tercurah kepada beliau beserta keluarganya yang suci nan mulia, juga kepada para sahabatnya yang telah mencapai puncak kejayaan dengan kesabaran, serta para tabi'in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga hari kiamat.

Amma ba'du..

Bertakwalah kepada Allah, wahai hamba Allah, dan yakinlah bahwa pertolongan Allah datang bersama keteguhan dan kesabaran. Kemenangan itu ada saat senantiasa berpegang teguh dengan Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.

Saudara-saudara seiman..

Di antara hal yang dapat menyejukkan dada-dada kaum mukminin di saat ini adalah sikap yang gemilang dari negeri Dua Tanah Suci, baik pada skala pemerintah maupun rakyat, yang langsung dipelopori oleh Pelayan Dua Tanah Suci dan Putra Mahkotanya, semoga Allah senantiasa menyokong mereka, terhadap situasi yang memilukan dan kondisi yang menyedihkan di Palestina. Yang mulia memberikan himbauan untuk menggalang bantuan nasional yang besar dari seluruh rakyat untuk menolong saudara-saudara kita di Gaza dan seluruh wilayah Palestina, memberikan kontribusi dalam upaya mengangkat penderitaan dari warga sipil, berusaha sekuat tenaga untuk meringankan cobaan yang pedih yang dihadapi oleh penduduk Jalur Gaza dan selainnya, serta dengan menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Negara-negara Arab dan Islam (OKI) / (OIC) dengan rekomendasi yang tegas.

Sesungguhnya sikap mulia dan kepedulian terhadap masalah Palestina yang mulia ini adalah merupakan mata rantai sikap Kerajaan yang tercatat dalam sejarah dalam mendukung bangsa Palestina di dalam berbagai cobaan dan krisis yang mereka hadapi.

Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan 'Arasy yang agung lagi mulia. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan 'Arasy yang agung. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan 'Arasy yang mulia. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan 'Arasy yang mulia.

Tuhan kami.. Betapa besar penderitaan dan nestapa yang dihadapi oleh saudara-saudara kami di Palestina. Ya Allah, tolonglah mereka dan segerakan kemenangan bagi mereka, wahai Tuhan yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Ya Allah, bantulah saudara-saudara kami yang lemah di Gaza. Ya Allah, peliharalah mereka dari arah hadapan, belakang, kanan, kiri, atas mereka, serta kami memohon perlindungan dariMu buat mereka dari keburukan dari arah bawah mereka. Ya Allah kasihilah orang tua renta yang sudah bungkuk dan anak-anak kecil yang masih dalam penyusuan. Turunkanlah ketenangan ke atas mereka, dan bantulah mereka menghadapi orang yang menzalimi mereka, wahai yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, wahai sebaik-baik Penolong, wahai yang Maha Mengabulkan doa orang yang teraniaya. Ya Allah, sesungguhnya mereka dizalimi, bantulah mereka. Wahai Tuhan kami, Engkau adalah sandaran mereka, kepada Engkau kami mengadu kelemahan mereka dan sempitnya jalan mereka, jadilah penolong dan pelindung bagi mereka, penyokong dan pendukung bagi mereka.

Ya Allah, duhai yang menurunkan kitab, yang menggerakkan awan, yang mengalahkan tentera Ahzab, kalahkan Zionis yang jahat. Bantulah saudara-saudara kami menghadapi mereka. Wahai Allah yang menurunkan kitab, yang cepat hisabNya, hancurkanlah mereka.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrikin. Jadikanlah negeri ini negeri yang aman, tenteram dan sejahtera, serta seluruh negeri-negeri muslimin. Ya Allah, kurniakanlah keamanan buat negeri kami. Berikanlah kebaikan kepada pemimpin dan pemerintah kami. Sokonglah pemimpin kami, Pelayan Dua Tanah Suci dengan kebenaran. Jadikan segala usahanya diridai olehMu, serta karuniakanlah baginya penasihat yang baik, yang sentiasa mengajak kepada kebenaran dan senantiasa membantunya.

Ya Allah, jagalah Putera Mahkotanya, serta bimbinglah beliau ke arah yang Engkau cintai dan ridai untuk kebaikan negeri ini dan penduduknya. Ya Allah, siapa yang menghendaki  kejahatan atas negeri kami dan negeri-negeri kaum muslimin, maka sibukkanlah mereka dengan urusan mereka sendiri, kembalikanlah tipu daya mereka kepada mereka dan gagalkanlah seluruh rencana mereka. Ya Allah yang Maha Mendengar doa,  peliharalah negeri kami dan negeri kaum muslimin dari kejahatan orang-orang jahat, tipu daya mereka dan keburukan yang muncul pada siang dan malam.

Ya Allah, tolonglah tentera-tentera kami yang berjaga-jaga di perbatasan negeri kami. Ya Allah, berikan taufik kepada petugas keamanan kami, terimalah syuhada' mereka, sembuhkanlah yang sakit di kalangan mereka, obatilah yang luka dikalangan mereka, tepatkanlah sasaran mereka dan pandangan mereka, serta bantulah mereka menghadapi musuhMu dan musuh mereka.

Ya Allah, bagiMu segala pujian atas segala nikmat dan kurniaan. Ya Allah, tambahkanlah darinya dan jadikanlah ia penuh kebaikan dan keberkatan buat negeri-negeri kaum muslimin dan penduduknya.

Ya Allah, penuhilah hati-hati kami dengan keimanan, limpahkanlah buat negeri kami kebaikan, hujan dan kurniaan yang melimpah ruah. Ya Allah, anugerahkan kepada pemuda pemudi kami hidayah dan kebaikan, serta karuniakanlah kesuksesan dalam menghadapi ujian sekolah mereka.

Wahai Tuhan kami, kurniakanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di hari akhirat serta lindungilah kami dari azab api neraka. Ya Allah, terimalah permohonan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha mengetahui. Terimalah tobat kami sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Ya Allah, ampunilah kami, ibu bapak kami, ibu bapak mereka, serta seluruh kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, wahai yang Maha Mendengar, Maha Dekat, Maha Mengabulkan permohonan doa.

Wahai hamba Allah, ucapkanlah shalawat dan salam –semoga Allah merahmati kalian- untuk penghulu seluruh manusia, teladan orang-orang Islam, yang  sabar di atas segala ujian dengan tawakkal kepada Allah dan selalu berpegang teguh kepadaNya. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian agar bershalawat untuk beliau di dalam al-Quran. Allah SWT berfirman,

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS al-Ahzab: 56)

Di dalam Jami' al-Tirmizi dari Ubai bin Ka'ab radhiyallahu anhu , ia berkata, "Aku bertanya, Wahai Rasulullah, berapa banyakkah aku mesti bershalawat ke atas dirimu?" Baginda bersabda, " Sekehendakmu" Aku pun berkata "Aku akan jadikan seluruh shalawatku untukmu" Baginda bersabda, " Dengan itu, kesusahanmu akan hilang dan dosamu akan diampuni."

Ya Allah sampaikanlah shalawat untuk nabi Muhammad beserta keluarganya sebagaimana Engkau sampaikan shalawat kepada Nabi Ibrahim beserta keluarganya. Sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah berkatilah Nabi Muhammad beserta keluarganya sebagaimana Engkau berkati Nabi Ibrahim beserta keluarganya. Sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ridailah keempat Khulafa' Rasyidin, Abu Bakar, Umar, Uthman dan Ali, beserta segenap para sahabat dan tabi'in, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, wahai Tuhan sebaik-baik yang memaafkan dan mengampuni.

سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَۚ(180)  وَسَلٰمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَۚ(181)  وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ(182)

”Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang Mahaperkasa dari sifat yang mereka katakan. Dan selamat sejahtera bagi para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam" QS as-Shaffat: 180-182)

Kamis, 02 Februari 2023

DAMPAK DOSA DAN MAKSIAT

DAMPAK DOSA DAN MAKSIAT 


Alhamdulillah, Was Sholatu was Salamu ala Rosulillah, wa ba'du;


Bertakwalah kalian kepada Allah Ta'ala dengan sebenar ketakwaan, sesungguhnya ketakwaan merupakan sebaik-baik kemuliaan yang kalian simpan dan kemuliaan yang agung dari apa yang kalian nampakkan, dan sebaik-baik pakaian yang dikenakan. 


Sesungguhnya kehidupan adalah hidupnya hati, seorang mukmin ia hidup dengan keimanan nya, sedangkan orang kafir adalah mayit walaupun ia hidup dikarenakan ia berpaling dari syariat Allah Ta'ala. 


Allah Ta'ala berfirman; 


أَمْوَٰتٌ غَيْرُ أَحْيَآءٍ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ ﴿٢١﴾


"(Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui kapankah (penyembahnya) dibangkitkan." (Q.S.16:21)


Umur manusia berguna jika dimakmurkan dengan ketaatan kepada Allah Ta'ala, jika tidak maka tidak bermanfaat Umur panjang baginya. 


Seorang hamba jika berpaling dari ketaatan kepada Allah Ta'ala maka ia terjatuh didalam kemaksiatan dan ia akan kehilangan hari-hari dunianya dan yang tersisa adalah penyesalan yang tidak berguna. 


Allah Ta'ala berfirman; 


يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى قَدَّمْتُ لِحَيَاتِى ﴿٢٤﴾


"Dia berkata, "Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini." (Q.S.89:24)


Sesungguhnya dosa dan maksiat sangat berbahaya bagi manusia dan hatinya, dampaknya sangat buruk bagi negeri dan kehidupan masyarakat yang akan mendatangkan keburukan dan bencana dan musibah yang besar, nikmat akan berganti menjadi adzab dan mengundang petaka dan kehancuran yang silih berganti, dengan kemaksiatan menjadikan segala urusan dan perkara terbelenggu dan terkunci kemudahan berganti dengan kesulitan, diharamkan rizki dari langit dan bumi, terangkatnya keberkahan, berubahnya kebaikan menjadi keburukan, pujian berganti dengan celaan dan cercaan pahala berganti menjadi dosa.


Sesungguhnya ketaatan kepada Allah Ta'ala merupakan benteng yang kokoh barangsiapa yang memasukinya ia mendapatkan jaminan rasa aman dan ketentraman, dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah Ta'ala akan menganti keamanan dengan ketakutan kerendahan dan kehinaan. 


Kemuliaan hanya diraih dan dicapai dengan keimanan dan ketaatan.


Allah Ta'ala berfirman; 


مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ  ﴿١٠﴾


"Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. " (Q.S.35:10)


Jiwa manusia akan mulia dan berderajat tinggi dengan ketaatan kepada Allah Ta'ala dan kemaksiatan mendatangkan kerendahan dan kehinaan, pelaku maksiat akan tertunduk dan terhina walaupun ia berpangkat dan berderajat. 


Allah Ta'ala berfirman; 


إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ٱلْأَذَلِّينَ ﴿٢٠﴾


"Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. "

(Q.S.58:20)


Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda;


 وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي.....


" Dan dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi orang yang menyelisihi perintahku ".(HR. Ahmad)


Al Imam Al Hasan Al Basry rahimahullah berkata: " Allah Ta'ala enggan untuk memberikan kepada orang-orang yang bermaksiat kecuali kehinaan ".


Sesungguhnya dosa merupakan penyakit yang menjalar, kapan penyakit tersebut menguasai hati maka niscaya akan menjadikan dirinya binasa, dan merebaknya maksiat niscaya akan mendatangkan kebinasaan dan kehancuran bagi negri dan masyarakat. 


Sahabat mulia Abdullah Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu berkata; " Jika merebak perbuatan zina dan riba pada suatu negeri niscaya Allah Ta'ala mengumandangkan kehancuran dan petaka bagi mereka ".

 (HR. Ahmad)


Tiada keburukan dan kehancuran didunia yang lebih mengerikan yang disebabkan karena dosa dan maksiat. 


Allah Ta'ala berfirman; 


وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ ﴿٣٠﴾


"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)."

(Q.S.42:30)


Keburukan maksiat senantiasa menghantui dan mengikuti pelakunya sepanjang masa, sebagaimana iblis yang senantiasa terlaknat dan terbelenggu oleh dosa masa lalu. 


Allah Ta'ala berfirman; 


وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِىٓ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ ﴿٧٨﴾


"Dan sungguh, kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan." (Q.S.38:78)



Sebahagian orang mengira jika dosa tidak mendatangkan bencana secara seketika maka ia tidak menganggap nya sebagai dosa, ia lalai dan tertipu bahwa hukuman Allah Ta'ala akan datang secara tidak terkira walau pada masa akan datang tanpa kesadaran nya. 


Allah Ta'ala berfirman; 


 ۗ مَن يَعْمَلْ سُوٓءًا يُجْزَ بِهِۦ وَلَا يَجِدْ لَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا ﴿١٢٣﴾


" Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah." (Q.S.4:123)


Iblis dilaknat dan direndahkan derajat nya oleh Allah Ta'ala dikenakan enggan taat terhadap perintah Nya, Adam alaihi salam tersingkap aurat nya dan diturunkan ke bumi karena menerjang larangan Allah Ta'ala, seorang wanita yang rajin puasa dan sholat malam dicampakkan ke neraka dikarenakan memenjarakan tanpa makan dan minum pada seekor kucing peliharaan nya, dan seseorang yang sedang sombong akan derajat dan hartanya tiba-tiba Allah Ta'ala tenggelamkan dan benamkan kedalam bumi sepanjang masa ia merintih kesakitan dan merana. 


Maka takutlah dari melakukan dosa dan jangan pernah merasa aman dari hukuman Allah Ta'ala yang tertunda, dikarenakan merendahkan dosa dan menganggap kecil suatu kemaksiatan merupakan tanda kebinasaan dan kehancuran, setiap dosa yang diremehkan maka ketahuilah bahwa maksiat tersebut sangat besar dihadapan Allah Ta'ala Yang Maha Kuasa. 


Allah Ta'ala berfirman; 


 وَتَحْسَبُونَهُۥ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ ﴿١٥﴾


"Dan kamu menganggapnya sesuatu yang remeh, padahal dalam pandangan Allah itu suatu yang sangat besar." (Q.S.24:15)



Diriwayatkan dari sahabat mulia Sahal bin Sa’ad radiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:


 إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ.


“Berhati-hatilah dari dosa-dosa yang dianggap remeh, karena permisalan dosa-dosa yang dianggap remeh ibarat sekelompok rombongan yang bersafar yang bermalam di suatu lembah, setiap orang mengumpulkan sebuah  kayu bakar, ini dengan kayu nya, itu dengan kayu nya, hingga mereka dapat memasak roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa yang dianggap remeh jika terhitung  keseluruhan nya dapat membinasakan pelakunya ” (HR. Ahmad)



Diriwayatkan oleh sahabat mulia Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan; 


إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ


“Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar.” (HR. Al-Bukhari)


Al Imam Muhammad bin Munkadir rahimahullah tatkala ajal menjemputnya beliau menangis, maka dikatakan kepada nya, apa yang menjadikan dirinya menangis? Maka ia berkata: " Aku tidak sedang menangisi dosa yang aku sadar melakukan nya, namun aku sedang menangis karena dosa yang aku tidak sadar melakukan nya sedangkan aku mengira itu dosa yang kecil namun ternyata dihadapan Allah Ta'ala itu merupakan dosa yang sangat besar ". 


Sesungguhnya jika suatu dosa dilakukan secara sembunyi dan tidak nampak dihadapan banyak orang, maka tidak akan mendatangkan keburukan kecuali hanya kepada pelakunya, namun jika dosa tersebut dilakukan secara terbuka terang-terangan dihadapan khalayak umum dan tidak ada upaya pengingkaran maka sungguh akan mendatangkan kehancuran dan petaka secara umum. 


Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda;


ما من قومٍ يُعملُ فيهم بالمعاصي ، هم أعزُّ و أكثرُ ممن يعملُه ، ثم لم يغيِّروه ، إلا عمَّهم اللهُ تعالى منه بعقابٍ


“Tidaklah suatu kaum berbuat maksiat, sementara di tengah-tengah mereka ada seorang yang lebih kuat dari mereka dan lebih disegani, namun orang yang lebih kuat dan disegani itu bersikap diam dan tidak mau mengubah kemaksiatan orang-orang tersebut, kecuali Allah akan meratakan siksa-Nya kepada mereka semua ". (HR. Ahmad)



Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda;


ما ظهرَ في قومٍ الزِّنا والرِّبا ؛ إلَّا أحلُّوا بأنفسِهِم عذابَ اللهِ .

Apabila perbuatan zina dan riba sudah terang-terangan di suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah rela terhadap datangnya adzab Allah untuk diri mereka,“ (HR. Al Hakim)


Dosa akan menjadi besar dan berbahaya jika pelakunya menerjang dengan terang-terangan atau menganggap remeh atau berbangga atau menyebar luaskan dosa dan maksiat tersebut. 


Sebahagian manusia dengan sengaja mendatangkan kotak hitam(tv)  dirumahnya yang dapat merusak akidah muslim dan menyaksikan kemunkaran dan kemaksiatan dengan leluasa. 


Sebahagian manusia menebar benih-benih riba ke segala penjuru bahkan ke daerah pelosok yang penduduknya sangat jarang dengan menawarkan pinjaman dengan mengembalikan lebih banyak dari yang dipinjamkan, bahkan praktik riba telah masuk hingga dalam segala jenis transaksi di kota maupun desa. 


Sebahagian manusia menyebar luaskan praktik sihir dan perdukunan dengan menawarkan pengobatan, melariskan perdagangan, dan aneka ragam ramalan rizki, perjodohan, kesehatan, dan kesuksesan. 


Sebahagian manusia menjadi penggerak kemunkaran dengan membuka pintu ikhtilat, mensejajarkan antara pria dan wanita, menggalakkan lepas dari hijab, berdandan, bersolek, menampilkan aurat dengan dalih explorer seni dan budaya. 


Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata; " Dan jenis manusia semacam ini mereka tidak diampuni dosa-dosanya dan akan menutup pintu taubat dan menempuh jalan yang buntu ". 


Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda; 


كُلُّ أُمَّتِـي مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْـمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُولُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا؛ وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ


“Seluruh umatku akan dimaafkan oleh Allah, kecuali orang-orang yang berbuat (maksiat) secara terang-terangan.

Di antara bentuk menampakkan maksiat adalah ketika seseorang melakukan dosa di malam hari, dan Allah telah menutupinya. Namun, pagi harinya ia berkata kepada para manusia, "Wahai Fulan! Semalam aku telah melakukan dosa ini dan itu". 

Sungguh, pada malam itu Rabbnya telah menutupi aibnya, namun di pagi hari ia justru membeberkan sendiri apa yang telah Allah subhanahu wa ta’ala tutupi.” (HR. Al-Bukhari)


Sesungguhnya dosa bukan sebatas menerjang larangan saja, namun ketika seseorang meninggalkan kewajiban yang telah dibebankan, maka perbuatan tersebut adalah dosa. 


Seperti meninggalkan kewajiban sholat, puasa, zakat, haji dan sebagainya, demikian juga meninggalkan berdakwah dan amar ma'ruf dan nahi mungkar seperti seorang ayah yang tidak peduli dengan kehidupan anak dan istri nya secara nafkah, pendidikan, ibadah dan tarbiyah. 


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menerangkan, " Dan sungguh kebanyakan orang-orang yang bodoh mengira bahwa ber-istigfar hanya dilakukan oleh hamba tatkala menerjang larangan muharrom saja, bukan tatkala meninggalkan suatu kewajiban ". 


Sebagaimana dikatakan, barang siapa yang tidak mengerjakan dan melangkah menuju kewajiban atau ketaatan maka niscaya ia mundur dan terjatuh dalam dosa dan keburukan. 


Allah Ta'ala berfirman; 


لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ ﴿٣٧﴾


"(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang ingin maju atau mundur." (Q.S.74:37)



Jika suatu negeri dipenuhi pelaku dosa dan maksiat serta kedholiman, maka saat itulah adzab dari Allah Ta'ala segera turun. 


Allah Ta'ala berfirman; 


وَكَمْ قَصَمْنَا مِن قَرْيَةٍ كَانَتْ ظَالِمَةً وَأَنشَأْنَا بَعْدَهَا قَوْمًا ءَاخَرِينَ ﴿١١﴾  فَلَمَّآ أَحَسُّوا۟ بَأْسَنَآ إِذَا هُم مِّنْهَا يَرْكُضُونَ ﴿١٢﴾  لَا تَرْكُضُوا۟ وَٱرْجِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَآ أُتْرِفْتُمْ فِيهِ وَمَسَٰكِنِكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْـَٔلُونَ ﴿١٣﴾  قَالُوا۟ يَٰوَيْلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿١٤﴾ فَمَا زَالَت تِّلْكَ دَعْوَىٰهُمْ حَتَّىٰ جَعَلْنَٰهُمْ حَصِيدًا خَٰمِدِينَ ﴿١٥﴾



"Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang zalim yang telah Kami binasakan, dan Kami jadikan generasi yang lain setelah mereka itu (sebagai penggantinya)."

" Maka ketika mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari (negerinya) itu."

"Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada kesenangan hidupmu dan tempat-tempat kediamanmu (yang baik), agar kamu dapat ditanya."

" Mereka berkata, "Betapa celaka kami, sungguh, kami orang-orang yang zalim."

" Maka demikianlah keluhan mereka berkepanjangan, sehingga mereka Kami jadikan sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi." (Q.S.21:11-15)


Allah Ta'ala berfirman; 


وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلْقُرَىٰ وَهِىَ ظَٰلِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُۥٓ أَلِيمٌ شَدِيدٌ ﴿١٠٢﴾


"Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat." (Q.S.11:102)



وعَنِ أَبِى قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِىٍّ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ : مُسْتَرِيحٌ ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ: الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ


Dari Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshâri radhiyallahuanhu, dia menceritakan bahwa ada jenazah yang dipikul melewati Rasûlullâh Shallallahu alaihiwasallam, maka beliau bersabda, “Orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya”. 

Mereka para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah maksud orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya?”

Beliau menjawab, “Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allâh. Sedangkan hamba yang fajir yang jahat berlumuran dosa maka seluruh manusia, bumi, pepohonan, dan binatang, beristirahat dari keburukan nya”. (HR. Al Bukhari dan Muslim)


Allah Ta'ala berfirman;


وَذَرُوا۟ ظَٰهِرَ ٱلْإِثْمِ وَبَاطِنَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْسِبُونَ ٱلْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا۟ يَقْتَرِفُونَ ﴿١٢٠﴾


"Dan tinggalkanlah dosa yang terlihat ataupun yang tersembunyi. Sungguh, orang-orang yang mengerjakan (perbuatan) dosa kelak akan diberi balasan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan."

(Q.S.6:120)




Sesungguhnya bentuk tertipunya seorang hamba adalah terus menerus bergelimang dengan dosa dan maksiat dengan berbesar harapan atas ampunan Allah Ta'ala tanpa ada penyesalan dan berhenti dari dosa, ia merasa dekat dengan Allah Ta'ala walaupun menerjang banyak dosa, mengharapkan buah surga dengan menanam perbuatan kemaksiatan dan keburukan di neraka. 


Ketahuilah bahwa berusaha sekuat tenaga menghindari dosa dan maksiat merupakan bentuk pengagungan terhadap larangan, namun sebagian manusia bersandar dengan rahmat dan ampunan Allah Ta'ala tanpa melakukan amal, ia menelanartarkan perintah perintah Nya dan lupa bahwa Ia adalah Dzat Yang Maha Keras Siksa-Nya dan adzab Nya tidak akan jauh dari pelaku pelaku dosa. 


Maka hendaklah orang-orang yang sentiasa bermaksiat sadar sebelum melakukan kemaksiatan bahwa bersabar menahan kemaksiatan lebih ringan dan mudah daripada bersabar atas dampak buruk dari suatu kemaksiatan, dikarenakan dosa memiliki dampak buruk yang berupa adzab dan siksaan, atau menghilangkan suatu nikmat yang sangat berharga, atau tercabut nya karunia dan limpahan rahmat yang lebih besar daripada sekadar syahwat yang ia dapatkan. 


Maka berlarilah menggengam agama dan  menjauh dari fitnah, pegang eratlah dengan Al Qur'an dan As Sunnah dan bergabunglah bersama orang-orang yang saleh dan hindari teman buruk dan pelaku maksiat, jangan pernah terlena dengan dosa dan harapan kosong, bangkit dan lawanlah godaan dan tipudaya syetan yang terkutuk, dan berusahalah untuk senantiasa memperbaiki keluarga dan masyarakat sekitar dengan mengajak kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran dan jangan berputus asa tatkala mereka bergelimang dengan dosa, sesungguhnya fitrah suatu jiwa mencintai kebaikan dan benci keburukan, dan sabar dan bersabar dalam berdakwah dan membimbing manusia menuju jalan kebenaran. 


Allah Ta'ala berfirman; 


وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ ﴿١١٧﴾وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً وَٰحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ ﴿١١٨﴾  إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ ﴿١١٩﴾



"Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan."

"Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat),"

"kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, "Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya." (Q.S.11:117-119)

📓📓📘📘📔📔

Jumat, 27 Januari 2023

HUKUM AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR

Alhamdulillah, Was Sholatu was Salamu ala Rosulillah, wa ba'du; 



Keempat :  HUKUM AMAR MA'RUF DAN NAHI MUNGKAR 



Amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban yang sangat agung dari kewajiban kewajiban yang dijumpai dalam syariat, sebagaimana telah dijelaskan di dalam Al Kitab dan As Sunnah dan Al Ijma'. 


Allah Ta'ala berfirman : 


وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿١٠٤﴾


"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Q.S.3:104)


Para ahli ilmu berdalih dengan ayat ini tentang wajibnya menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar. 


Al Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata: " Para Imam ahli agama seluruh nya telah sepakat tentang wajibnya amar ma'ruf dan nahi mungkar tanpa dijumpai perbedaan, berdasarkan ayat, " Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar ". (Ahkamul Qur'an : 2/34)


Adapun dalil dari As Sunnah: 


عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

[رواه مسلم]


Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (Riwayat Muslim)


Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan agar merubah kemunkaran sesuai kadar kemampuan, dan perintah dalam hadits ini memiliki hukum wajib sebagaimana yang telah ditetapkan oleh jama’ah dari ahli ilmu. 


Al Imam An Nawawy rahimahullah menerangkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, " Maka rubahlah ", ini merupakan perintah kewajiban sebagaimana Ijma' / Kesepakatan umat ". (Syarah An Nawawy: 2/22)


Al Imam Al Qurthuby rahimahullah berkata: " Perintah dalam hadits diatas memiliki hukum wajib, dikarenakan menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan perkara yang wajib dalam keimanan serta tonggak agama islam yang ditetapkan dalam Al Kitab dan As Sunnah dan Al Ijma'". (Al Mufhim: 1/233)


Al Imam As Suyhuthy rahimahullah berkata: " Barangsiapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah ", " Ini merupakan perintah yang wajib kepada umat ". (Syarah As Suyhuthy: 1/65)


Dan dalil lain didalam As Sunnah diantaranya:


Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 


وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْـمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْـمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ.


Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Hendaklah kalian menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, atau kalau tidak, hampir saja Allâh menurunkan adzab-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdo’a kepada-Nya, namun do’a kalian tidak dikabulkan". (HR. Ahmad dan At Tirmidzi)


Dalam hadits diatas menunjukkan atas ancaman dari Allah Ta'ala kepada orang-orang yang meninggalkan amar ma'ruf dan nahi mungkar, sehingga dari sini sangat terang atas wajibnya menegakkan perkara tersebut dikarenakan tidak akan dijatuhkan suatu hukuman kecuali terhadap orang yang meninggalkan kewajiban atau menerjang perkara yang diharamkan. 


Adapun dalil dari Al Ijma' , maka jama’ah dari kalangan para ulama telah menyatakan kesepakatan nya. 


Al Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata: "Umat seluruhnya telah sepakat tentang wajibnya amar ma'ruf dan nahi mungkar tanpa dijumpai perbedaan dari salah seorang dari mereka ". (Fasl fiil milal wal ahwa' : 4/132)


Al Imam An Nawawy rahimahullah berkata: " Dan telah disepakati atas wajibnya amar ma'ruf dan nahi mungkar berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah dan Ijma' nya para umat dan ini juga termasuk bagian dari nasehat yang merupakan bagian agama dan tidak dijumpai orang-orang yang menyelisihi kesepakatan tersebut kecuali kelompok syiah rofidhoh yang tidak diterima perbedaan tersebut ". (Syarah An Nawawy ala' Muslim: 2/22)


Al Imam Ibnul Qotthon Al Faashy rahimahullah berkata: " Dan telah disepakati atas wajibnya amar ma'ruf dan nahi mungkar dengan menggunakan tangan dan lisan jika sekiranya mampu atas hal tersebut, jika tidak mampu maka dengan hatinya ". (Al Iqna' fi masailil Ijma' : 1/62)


Jika telah ditetapkan tentang wajibnya amar ma'ruf dan nahi mungkar sesuai dalil dari Al Kitab dan As Sunnah dan Ijma' para ulama, maka disini ada dua permasalahan yang berkaitan dengan masalah diatas, yaitu: 



@. Pertama:  Apakah wajibnya amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban yang aini/dibebankan kepada setiap individu dari umat ini atau sebatas wajib kifayah?


Ada dua pendapat dari kalangan para ulama: 


1). Amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban aini/individual bagi  setiap muslim sesuai kadar kemampuan masing-masing, hal ini berdasarkan ayat yang dalam lafadz "  من  "  dalam firman Allah Ta'ala  :  


وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿١٠٤﴾


Memiliki tafsir arti: " Untuk menjelaskan tentang jenis ". 


Yang berarti: " Hendaklah setiap dari kalian seluruhnya menjadi umat yang sentiasa menyeru kepada kebajikan dan menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, bukan hanya sebahagian dari golongan kalian ".


Hal ini seperti dalam firman Allah Ta'ala: 


 ۖ فَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلرِّجْسَ مِنَ ٱلْأَوْثَٰنِ وَٱجْتَنِبُوا۟ قَوْلَ ٱلزُّورِ ﴿٣٠﴾


" maka jauhilah olehmu (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan dusta." (Q.S.22:30)


Yang artinya: " Menjauhi seluruh bentuk penyembahan berhala-berhala seluruhnya dan menjauhi seluruh bentuk perkataan yang dusta , bukan hanya sebahagian nya saja ". (Tafsir As Sam'a'niy : 1/347)


Dan dalil tentang wajibnya keseluruhan umat untuk melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar adalah firman Allah Ta'ala: 


كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ ﴿١١٠﴾


"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik."  (Q.S.3:110)


Dan yang berpendapat demikian ini diantaranya Al Imam Az Zajjaz dan Al Imam As Sam'a'niy dan Al Imam Al Baghowy dan Al Imam Ibnu Katsir dan As Syaikh Rosyid Ridho.  (Ma'anil Qur'an: 1/457 , Tafsir As Sam'a'niy: 1/347 , Tafsir Ibnu Katsir: 2/94 , Tafsir Al Manar: 4/23)



2. Amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban kifayah yang tidak dibebankan kepada setiap individu muslim, namun jika sebahagian muslimin ada yang menegakkan maka gugur hukumnya bagi yang lainnya seperti halnya perkara jihad fi sabilillah.

Dan pendapat ini berhujjah dengan firman Allah Ta'ala dalam surat Ali Imron diatas bahwa lafadz, "  من  "  dari ayat : 


وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْر


Memiliki arti: Sebahagian dari kalian, sehingga makna ayat tersebut adalah: 

" Dan hendaklah di antara kamu ada sebahagian/segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah kemungkaran ".


Dikatakan, dikarenakan menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar bukan kewajiban bagi setiap individu muslim akan tetapi hanya bagi para ulama, sedangkan keumuman manusia bukanlah ulama, sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah Ta'ala secara tegas dalam firman Nya: 


ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّٰهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ أَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُوا۟ بِٱلْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا۟ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلْأُمُورِ ﴿٤١﴾


"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (Q.S.22:41)


Dan tidak setiap muslim diberikan kekuasaan sebagaimana ayat diatas. 


Dan ini merupakan pendapat kebanyakan para ulama dan ini yang dikatakan orang Al Imam Ibnul Araby dan Al Imam Al Qurthuby dan Al Imam An Nawawy dan Al Imam Ibnu Daqiq dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Al Imam Ibnul Qoyyim dan Al Imam Ibnun Nakhaas dan Al Imam As Safaariniy dan Al Imam As Syaukani dan Al Imam Al Alusyi dan Al Imam As Sa'diy dan As Syaikh Muhammad Al Amin As Syangqithy rahimahumullah dan selainnya. 


Didalam firman Allah Ta'ala:  وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْر  merupakan dalil bahwa amar ma'ruf dan nahi mungkar hukumnya adalah Fardhu yang dilakukan oleh kaum muslimin walaupun tidak memiliki sifat adil, berbeda dengan apa yang disyaratkan oleh sekelompok ahli bid'ah yang harus mensyarstkan sifat adil dalam amar ma'ruf dan nahi mungkar. 


Dan telah kita terangkan didalam Kitab-kitab ushul bahwa syarat ketaatan tidak boleh ditetapkan kecuali jika ada dalil-dalil nya, dan setiap individu memiliki kewajiban didalam dirinya menunaikan ketaatan, dan yang fardhu untuk dirinya didalam agama nya adalah memperingatkan kepada orang lain yang ia jahil dan tidak mengerti tentang ketaatan atau kemaksiatan dan menasihati nya dalam dosa yang ia terjatuh didalam nya.  


Dan telah Kami jelaskan pada ayat pertama pada sebelumnya. 


Dan ini adalah pendapat yang benar yang sesuai ketentuan dalil-dalil secara keseluruhan. 


Akan tetapi akan dijumpai nanti rincian yang akan berpengaruh terhadap hukum dari sisi derajat yang diperintahkan dan yang dilarang pada dirinya, dan dari sisi derajat manusia dalam kemampuan pada perkara tersebut, dan dari sisi martabat pengingkaran dan keterkaitan nya dengan tangan atau lisan atau hati. 


Adapun dari sudut pandang keragaman yang diperintahkan dan yang dilarang,  maka telah disebutkan sebelumnya bahwa perkara ma'ruf masuk didalam nya perkara wajib dan perkara mustahab atau yang dianjurkan, sedangkan perkara mungkar masuk didalam nya keumuman perkara yang haram dan perkara yang makruh atau di benci, maka dari itu hendaknya amar ma'ruf dan nahi mungkar selayaknya mengikuti pada hukum asal yang disyariatkan secara wajib atau sunnah.


Maka dengan ini terdapat dua martabat: 

Wajib, yaitu mengajak kepada kebajikan yang bersifat wajib dan mencegah mungkar yang bersifat muharrom/yang diharamkan. 


Dan mustahab/sunnah, yaitu mengajak kepada kebajikan yang bersifat sunnah dan mencegah kemungkaran yang bersifat makruh/dibenci. 


Dan ini yang sesuai pondasi syariat, yaitu sesuatu yang disyariatkan Allah Ta'ala secara sunnah dan sesuatu yang dilarang secara makruh maka Allah tidak akan mewajibkan nya kepada umat, maka demikian pula dengan perintah yang sunnah dan larangan yang makruh bagi yang berkedudukan menegakkan hisbah/amar ma'ruf hendaknya didudukkan kedudukan hukum asalnya. 


Sebagai mana telah dinyatakan secara gamblang oleh para ulama. 


Al Imam Ibnu Bathol rahimahullah Ta'ala: " Berkata sebahagian ulama: " Amar ma'ruf terdapat dua bagian, diantaranya fardhu dan diantaranya sunnah, maka setiap sesuatu yang wajib dikerjakan maka wajib untuk diperintahkan nya seperti menjaga kesempurnaan bersuci dan kesempurnaan rukuk dan sujud ketika sholat, dan mengeluarkan zakat dan yang semisalnya, dan sesuatu dari perkara yang sunnah maka memerintahkan nya pun juga sunnah dan engkau tidak berdosa bila meninggalkannya kecuali ketika dalam keadaan mempertanyakan nya, dikarenakan wajibnya memberikan nasihat yang merupakan fardhu bagi seluruh kaum mukminin". (Syarah sohih Al Bukhari: 9/294)


Adapun yang di sandarkan pada keberagaman manusia dalam kemampuan  pada amar ma'ruf dan nahi mungkar, maka sesungguhnya sebagaimana diketahui seksama bahwa tidak setiap manusia memiliki kemampuan yang sama.


Sebagaimana diterangkan dalam hadits sahabat mulia Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ،...رواه مسلم


 "Barang siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, .....(HR. Muslim)


Dari sini, maka sesungguhnya menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar walaupun merupakan perkara yang fardhu kifayah sebagaimana terdahulu penjelasannya, maka sesungguhnya bagi yang tidak mampu maka tidak berkewajiban melakukan nya bahkan tidak disyariatkan bagi nya, sebagaimana keumuman dalil dalil tentang tidak terbebaninya bagi mereka yang tidak mampu. 


Allah Ta'ala berfirman: 


فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ .... ﴿١٦﴾


"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu ". (Q.S.64:16)


Allah Ta'ala berfirman: 


لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ .... ﴿٢٨٦﴾


"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". (Q.S.2:286)


Dikarenakan orang-orang yang tidak mampu gugur pada mereka perkara yang fardhu aini bagaimana dengan fardhu kifayah?


Maka dari sini menjadi kewajiban bagi mereka yang mampu dari umat ini tanpa mereka yang lemah, sehingga memiliki hukum fardhu kifayah bagi orang-orang yang mampu meskipun hanya tersisa pada satu orang saja maka baginya berubah menjadi fardhu aini dalam masalah ini. 


Al Imam An Nawawy rahimahullah berkata; "Kemudian terkadang menjadi fardhu aini bagi seseorang jika tidak mengetahui tempat kemunkaran kecuali hanya dia seseorang atau tidak dapat menghilangkan kemungkaran kecuali dia seperti seorang suami yang melihat kemunkaran atau meninggalkan suatu kewajiban pada istrinya atau anaknya  atau budaknya (dalam rumah) ( Syarah An Nawawy: 2/23)


Al Imam Al Qorofy rahimahullah berkata: "Dan jika tidak dapati (seseorang yang dapat merubah kemunkaran atau menjalankan suatu kewajiban) kecuali hanya seseorang saja, maka ia menjadi wajib aini baginya untuk melakukan hal tersebut dikarenakan terbatasnya kemampuan yang kompeten dari para manusia, seperti ibarat akhir waktu bagi mengerjakan shalat ". (Al Furuuq: 2/93)


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam perkara amar ma'ruf dan nahi mungkar: " Dan ini merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang diberikan kemampuan, dan hukumnya adalah fardhu kifayah, dan bisa berubah menjadi fardhu aini bagi seseorang yang hanya dia yang mampu sedangkan yang lainnya tidak berkemampuan " (Majmu Al Fatawa: 28/65)



Adapun yang berkaitan dengan derajat mengingkari kemungkaran yang berkaitan dengan menggunakan tangan atau lisan atau hati : 


Maka dalil-dalil secara dhohir menunjukkan bahwa merubah kemunkaran dengan hati adalah perkara yang wajib dilakukan, adapun merubah kemunkaran dengan menggunakan tangan dan lisan maka dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu terdahulu dan yang semakna dengan nya dalam hadits hadits yang lainnya, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengaitkan kemampuan dalam merubah kemunkaran dengan tangan dan lisan, adapun merubah kemunkaran dengan hati maka tidak dikatakan setelah nya, : " Jika tidak mampu ", disebutkan bahwa perkara tersebut merupakan selemah-lemahnya iman. 


Diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Abi Syaibah rahimahullah dengan sanad yang sah dari Thorik Ibnu Syihab berkata, seseorang berkata kepada Abdullah Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu: " Binasalah orang-orang yang tidak melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar ". Maka dijelaskan oleh Abdullah Ibnu Mas'ud : "Akan tetapi Binasalah orang-orang yang tidak mengetahui perkara ma'ruf didalam hati nya dan mengingkari kemungkaran dengan hatinya ". (Mushonaf: 7/504, Al Baihaqy: 10/71)


Al Imam Ibnu Rojab rahimahullah berkata memberikan catatan dalam perkataan sahabat Abdullah Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu: " Memberikan isyarat bahwa mengetahui dan mengenal perbuatan ma'ruf dan mungkar dengan hati merupakan amalan yang fardhu tidak gugur hukumnya bagi siapapun, maka barangsiapa yang tidak mengetahui ia termasuk golongan yang akan Binasa, adapun merubah kemunkaran dengan menggunakan tangan dan lisan maka wajib bagi yang memiliki kemampuan ". (Jami'ul Ulum wal hikam: 2/245)


Al Imam As Safaariniy rahimahullah berkata: " Dalam perkara ini terdapat banyak hadist dan seluruhnya menunjukkan bahwa merubah kemunkaran sesuai kadar kemampuan namun mengingkari kemungkaran dengan hati merupakan keharusan ". (Lawamiul Anwar Al Bahiyah: 3/713) 


Maka bisa disimpulkan disini: Bahwa amar ma'ruf dan nahi mungkar dari tinjauan hukum asal merupakan fardhu kifayah, akan tetapi disana terdapat keadaan keadaan tertentu yang keluar dari hukum asal sebagaimana penjelasan terdahulu, wa Allahu A'lam. 

📔📔📘📘📓📓

  

Selasa, 17 Januari 2023

KEDUDUKAN AMAR MA'RUF DAN NAHI MUNGKAR


Ketiga : KEDUDUKAN AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR DALAM AGAMA 


Amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan pondasi yang agung dari pokok agama dan menjadi bagian yang agung dalam cabang keimanan serta sebagai syiar yang luhur dalam syiar syiar agama islam.  

Memungkinkan bagi kita menguraikan kedudukannya dalam agama seperti berikut : 


1. Allah Ta'ala memberikan sifat kepada nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai teladan dalam amar ma'ruf dan nahi mungkar yang menunjukkan betapa agung nya kedudukan perkara ini yang Allah Ta'ala memuji nya dihadapan seluruh para rasul dan penutup dari para nabi Nya. 

Allah Ta'ala berfirman : 

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِىَّ ٱلْأُمِّىَّ ٱلَّذِى يَجِدُونَهُۥ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِى ٱلتَّوْرَاةِ وَٱلْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ ٱلْخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَٱلْأَغْلَٰلَ ٱلَّتِى كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ۙ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿١٥٧﴾

"(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang beruntung." (Q.S.7:157)


2. Amar ma'ruf dan nahi mungkar jika disertai keimanan kepada Allah Ta'ala merupakan puncak kebajikan yang diraih oleh umat ini diatas seluruh umat yang lain. 

Allah Ta'ala berfirman : 

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ  ﴿١١٠﴾

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (Q.S.3:110)

Sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata tentang tafsir ayat ini : " Kalian wahai para sahabat merupakan manusia yang terbaik yang diperuntukkan bagi para manusia, kalian didatangkan kepada orang orang-orang yang musyrik dalam keadaan terbelenggu dan kalian menjadikan mereka masuk dalam ajaran agama islam ". (Tafsir At Thobary : 5/673)

Diriwayatkan dari Al Imam Mujaahid rahimahullah menafsirkan, " Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia", " Dengan syarat ini hendaknya kalian beramar ma'ruf dan nahi mungkar serta beriman kepada Allah Ta'ala". (Tafsir At Thobary :5/674)

Syaikhul Islam Ahmad Ibnu Abdul Halim rahimahullah berkata, " Maka Allah Ta'ala menerangkan bahwa umat ini merupakan umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, mereka merupakan umat manusia yang paling membawa manfaat bagi manusia dan yang paling berjasa dengan berbuat ihsan untuk para manusia, dikarenakan mereka menyempurnakan para manusia dengan mengajak berbuat ma'ruf dan mencegah dari mungkar dari segala sudut perbuatan dan takdir, dimana mereka memerintahkan segala bentuk kema'rufan dan mencegah dari segala kemungkaran kepada setiap individu dan menegakkan perkara tersebut dengan berjihad fi sabilillah dengan nyawa dan harta-harta mereka, maka dengan ini menjadi kesempurnaan manfaat bagi manusia ". (Al Amru bil ma'ruf wan Nahi anil mungkar : 7)


3. Perintah Allah Ta'ala agar menjalankan amar ma'ruf dan nahi mungkar yang disebutkan dalam Al Qur'an dan Allah Ta'ala mengkhabarkan tentang keberuntungan bagi orang-orang yang menegakkan nya. 

Allah Ta'ala berfirman : 

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿١٠٤﴾

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Q.S.3:104)


4. Allah Ta'ala mengkhabarkan tentang orang-orang yang beriman yang sentiasa setia menjalankan amar ma'ruf dan nahi mungkar dan pujian Allah Ta'ala kepada mereka. 

Allah Ta'ala berfirman : 

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿٧١﴾

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (Q.S.9:71)


5. Allah Ta'ala memberikan pujian dan sanjungan kepada orang-orang yang diberikan kekuasaan dan kemenangan dari para penguasa dan pemimpin yang sentiasa menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar. 

Allah Ta'ala berfirman : 

ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّٰهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ أَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُوا۟ بِٱلْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا۟ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلْأُمُورِ ﴿٤١﴾

"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (Q.S.22:41)


6. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kepada umat nya agar mengingkari kemungkaran sesuai dengan kemampuan dan tidak memberikan udzur untuk meninggalkan nya betapa pun kondisi nya, bahkan dihubungkan antara mencegah kemungkaran dengan keimanan dan diterangkan bahwa paling rendah derajat nahi mungkar adalah derajat keimanan yang paling rendah. 


عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

( رواه مسلم )


Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubah dengan tangannya. Bila tidak mampu, maka hendaklah dia rubah dengan lisannya. Bila tidak mampu, maka hendaklah dia rubah dengan hatinya. Dan hal itu merupakan selemah-lemahnya iman.”(HR.  Muslim.)


7. Umat akan terpapar mendapatkan hukuman secara merata jikalau mereka meninggalkan mencegah kemungkaran secara total. 

Allah Ta'ala berfirman : 

وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ ﴿٢٥﴾

"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya." (Q.S.8:25)

Sahabat mulia Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata tentang tafsir ayat ini, " Allah Ta'ala memerintahkan kepada kaum Mukminin agar tidak mendiamkan kemungkaran dihadapan mereka sehingga Allah Ta'ala akan menimpakan adzab kepada mereka semuanya ". (Tafsir At Thobary : 11/115)

As Syaikh Muhammad Al Amin As Syangqithy rahimahullah berkata, : " Dan arti yang benar bahwasanya maksud dari fitnah/adzab yang Allah Ta'ala timpakan secara umum kepada mereka yaitu jika para manusia menyaksikan suatu kemungkaran dan tidak berusaha merubah nya maka akan Allah Ta'ala turunkan adzab kepada orang-orang yang baik dan buruk secara menyeluruh, dan demikian yang telah ditafsirkan oleh segolongan ahli ilmu dan banyak hadist yang shohih menguatkan pendapat tersebut ". (Adwa'ul bayan : 1/461-462)


8. Allah Ta'ala memberitahukan tentang kelompok ahli kitab yang menegakkan nahi mungkar serta sanjungan kepada mereka. 

Allah Ta'ala berfirman : 

۞ لَيْسُوا۟ سَوَآءً ۗ مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ أُمَّةٌ قَآئِمَةٌ يَتْلُونَ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ ﴿١١٣﴾

يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَأُو۟لَٰٓئِكَ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿١١٤﴾

"Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat)."

"Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh." (Q.S.3:113-114)


9. Wasiat orang-orang yang memiliki hikmah dan orang-orang sholih agar menjalankan nahi mungkar dan perkara tersebut merupakan perkara yang sangat penting. 

Allah Ta'ala berfirman : 

يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ ﴿١٧﴾

"Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting." (Q.S.31:17)


10. Allah Ta'ala memberikan celaan kepada orang-orang kafir dari bani Israel melalui lisan para nabi dikarenakan kekufuran dan meninggalkan perbuatan nahi mungkar. 

Allah Ta'ala berfirman : 

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ ﴿٧٨﴾

كَانُوا۟ لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ ﴿٧٩﴾

"Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas."

Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat." (Q.S.5:78-79)


📔📔📗📘📕📕



Senin, 16 Januari 2023

MANHAJ AHLUS SUNNAH DALAM AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR


MANHAJ AHLUS SUNNAH DALAM AMAR MA'RUF DAN NAHI MUNGKAR

Oleh : Prof. DR. Ibrahim ibnu A'mir Ar-Ruhaili hafidhohullahu Ta'ala. 

Amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan washilah/sarana yang agung yang banyak terjadi perselisihan dan perpecahan diantara kaum muslimin, dan memunculkan penyelewengan didalam nya kebid'ahan, kesesatan, kedholiman dan melampaui batas yang tidak bisa dikalkulasikan kecuali oleh Allah Ta'ala, hingga hal ini disebutkan oleh sebahagian ulama dari bagian usul/pokok agama. 

Ibnul Araby rahimahullah berkata disela menyebutkan firman Allah Ta'ala: 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿١٠٥﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
(Q.S.5:105)

" Ayat ini merupakan pokok dan pondasi di dalam amar ma'ruf dan nahi mungkar yang menjadi landasan agama dan kekhilafahan kaum muslimin dan telah disebutkan oleh para ulama kita tentang pembahasan pembahasan nya dan masalah masalah nya didalam pokok agama dan itu adalah bagian dari cabang cabang nya ".


PENJELASAN TENTANG KEYAKINAN DAN MANHAJ AHLI SUNNAH DALAM AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR 

Terdiri dari beberapa sudut, 


Pertama : ARTI MA'RUF DAN MUNGKAR 


1. ARTI MA'RUF 

Ma'ruf secara bahasa diambil dari lafadz (AROFA) yang menunjukkan atas dua arti, 

Pertama memiliki arti : Berturut-turut nya sesuatu bersambung menjadi satu, sebagaimana ungkapan: "Datang kucing satu demi satu", yang artinya antara satu dengan lainnya berurutan di belakang nya.

Kedua yang memiliki arti ketenangan dan ketentraman, dari sini diambil kata ( al ma'rifah dan Al irfan ), seperti perkataan seseorang, "Ini adalah perkara yang ma'ruf", dikarenakan hati merasa tenang dan nyaman dengan perkara tersebut, sebagaimana hal ini diungkapkan oleh Ibnu faaris dalam kitab maqoyisul lughoh : 4/281.

Dari sini ketentuan Al ma'ruf secara bahasa adalah segala sesuatu yang jiwa merasa tenang dan nyaman dan diterima oleh hati nya. 

Ibnu Faaris berkata, "Dan dinamakan ma'ruf dengan hal tersebut dikarenakan jiwa merasakan kenyamanan dan ketentraman. 

Sedangkan arti ma'ruf secara syara adalah segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala atau dianjurkan untuk dikerjakan dari amalan amalan kebajikan dan kebaikan. 

Al Imam At Thobary rahimahullah berkata, "Sesungguhnya ketaatan kepada Allah Ta'ala dinamakan sebagai perbuatan ma'ruf dikarenakan perkara tersebut diketahui oleh orang orang yang beriman dan tidak di ingkari perbuatan tersebut".(Tafsir At Thobary : 7/481)




2. ARTI MUNGKAR 

Mungkar secara bahasa diambil dari lafadz (NAKARO) yang menunjukkan satu makna yang bertentangan dengan Al ma'rifah yang jiwa merasa tenang dan nyaman. 

Dikatakan dalam suatu ungkapan: " Sesuatu yang mungkar dan di ingkari, apabila tidak diterima oleh hati dan tidak diakui oleh lisan nya ". (Maqoyisul lughoh: 5/476)

Sehingga ketentuan arti mungkar secara bahasa adalah segala sesuatu yang hati manusia merasa gusar dan tidak nyaman dan tertolak dalam jiwa. 

Dan dinamakan sebagai mungkar dikarenakan seseorang yang mengingkari nya merasakan gusar dan tidak merasakan kenyamanan. (Maqoyisul lughoh: 4/281)

Arti mungkar secara syara adalah segala sesuatu yang dicela oleh Allah Ta'ala atau segala sesuatu yang dilarang oleh Allah Ta'ala dengan larangan yang tegas haramnya atau sekedar makruh atau di benci dari segala maksiat dan makruh. (Nihayah fi ghoribil hadist : 5/115)

Al Imam At Thobary rahimahullah berkata: " Dinamakan maksiat kepada Allah Ta'ala sebagai perbuatan mungkar dikarenakan orang-orang dari ahli iman kepada Allah Ta'ala senantiasa mengingkari perbuatan nya dan menganggapnya sebagai pelanggan yang berat " (Tafsir At Thobary: 5/676)



Kedua : KETENTUAN DAN BATASAN MA'RUF DAN MUNGKAR 

Perbuatan ma'ruf dan mungkar memiliki ketentuan dan batasan yang sangat teliti, yaitu sebagai berikut: 

# Pertama: Segala perkara yang diperintahkan (dalam syariat) maka termasuk perkara ma'ruf dan sebaliknya, segala sesuatu yang yang dilarang (dalam syariat) merupakan perkara yang mungkar. 

Syaikhul Islam Ahmad Ibnu Abdul Halim Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: " Termasuk didalam lafadz ma'ruf adalah segala sesuatu yang diperintahkan (dalam syariat) dan dalam perkara yang mungkar adalah segala sesuatu yang telah dilarang (dalam syariat) ". (Majmu' Al Fatawa : 18/275)


# Kedua: Segala sesuatu yang mustahab / dianjurkan (dalam syariat) adalah termasuk perkara yang ma'ruf dan segala sesuatu yang makruh / dibenci (dalam syariat) adalah termasuk perkara yang mungkar. 

Syaikhul Islam Ahmad Ibnu Abdul Halim rahimahullah berkata: " Maka termasuk dalam perkara yang mungkar adalah segala sesuatu yang dimakruhkan / dibenci oleh Allah Ta'ala sebagaimana termasuk dalam kategori ma'ruf adalah segala sesuatu yang dicintai dan dianjurkan oleh Allah Ta'ala (dalam syariat Nya) ". (Mukhtashor Al Fatawa Al Misriyyah 135) 


# Ketiga: Segala kebajikan adalah termasuk dari perbuatan ma'ruf dan segala keburukan adalah termasuk dari perbuatan mungkar. 

Syaikhul Islam rahimahullah berkata: " Termasuk dari amalan yang ma'ruf adalah seluruh bentuk bentuk kebajikan, dan  termasuk dalam perkara yang mungkar adalah segala perbuatan keburukan ". (Majmu Al Fatawa: 7/162)



# Keempat: Segala kebaikan adalah termasuk dalam bagian ma'ruf dan segala sesuatu yang buruk dan menjijikkan adalah termasuk perkara yang mungkar. 

Allah Ta'ala berfirman: 

 يَأْمُرُهُم بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَىٰهُمْ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ ٱلْخَبَٰٓئِثَ  ﴿١٥٧﴾

"(Yaitu) orang-orang yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka." (Q.S.7:157)

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, " Dan diharamkannya segala perkara yang buruk dan keji dikarenakan termasuk dalam nahi mungkar (perkara yang dilarang dan mungkar), sebagaimana dihalalkan nya kebaikan kebaikan dikarenakan termasuk dalam kategori amar ma'ruf (perkara yang ma'ruf yang diperintahkan)". (Al Amru bil ma'ruf wan Nahi anil mungkar : 6 )

🌍🌎🏕🏕🌏🌏

Minggu, 15 Januari 2023

SEBAB KEAMANAN & KETENTRAMAN NEGRA

*🔰RINGKASAN KAJIAN*

SEBAB-SEBAB KETENTRAMAN & KEAMANAN  NEGARA

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi


Setelah memuji Allah ﷻ dan bersholawat kepada Rasulullah ﷺ, beliau mengingatkan agar semua kita bertaqwa kepada Allah. 
Kemudian mengucapkan terima kasih kepada negeri ini yang merupakan kesempatan pertama, dan semoga bukan yang terakhir.

Beliau memulai menjelaskan tentang Keamanan sebagaimana yang disebutkan dalam Al Quran dan Sunnah Rasulullah.
Dalam Al Quran, Allah menyebutkan tentang pentingnya keamanan :

 لِإِیلَـٰفِ قُرَیۡشٍ (1) إِۦلَـٰفِهِمۡ رِحۡلَةَ ٱلشِّتَاۤءِ وَٱلصَّیۡفِ (2) فَلۡیَعۡبُدُوا۟ رَبَّ هَـٰذَا ٱلۡبَیۡتِ (3) ٱلَّذِیۤ أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعࣲ وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۭ (4) 
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, Yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.
Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka`bah),
[Surah Quraysh: 1-4]

Poin penting pada ayat di atas adalah bahwa Allah lah yang memberikan keamanan bagi manusia. Oleh karenanya, Allah memerintahkan orang-orang Quraisy beribadah kepada Allah, Dzat yang memberikan keamanan.

Juga dalam ayat lainnya, Allah berfirman :
وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَ ٰ⁠هِـۧمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَـٰذَا بَلَدًا ءَامِنࣰا وَٱرۡزُقۡ أَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِ مَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُم بِٱللَّهِ وَٱلۡیَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِۚ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِیلࣰا ثُمَّ أَضۡطَرُّهُۥۤ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِیرُ 
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, "Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,” Dia (Allah) berfirman, "Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."
[Surah Al-Baqarah: 126]

Allah ﷻ juga berfirman . 
 أَمَّنۡ هَـٰذَا ٱلَّذِی هُوَ جُندࣱ لَّكُمۡ یَنصُرُكُم مِّن دُونِ ٱلرَّحۡمَـٰنِۚ إِنِ ٱلۡكَـٰفِرُونَ إِلَّا فِی غُرُورٍ 
أَمَّنۡ هَـٰذَا ٱلَّذِی یَرۡزُقُكُمۡ إِنۡ أَمۡسَكَ رِزۡقَهُۥۚ بَل لَّجُّوا۟ فِی عُتُوࣲّ وَنُفُورٍ
Atau siapakah yang akan menjadi bala tentara bagimu yang dapat membelamu selain (Allah) Yang Maha Pengasih? Orang-orang kafir itu hanyalah dalam (keadaan) tertipu. Atau siapakah yang dapat memberi rezeki jika Dia menahan rezeki-Nya? Bahkan mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri (dari kebenaran).
[Surah Al-Mulk: 20]

Pada ayat ini, Allah menyebut sebab keamanan diantaranya adalah kekuatan yang biasanya identik dengan tentara, sehingga Allah menyebutnya dengan kata "tentara". Ayat berikutnya Allah menyebutkan tentang rizqi.

Ayat lain yang semakna dengan ayat di atas adalah :

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِینُ 
Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.
[Surah Adh-Dhâriyât: 58]

Allah juga memberi contoh tentang negara yang aman dalam Al Quran, sebagaimana dalam ayat :

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلࣰا قَرۡیَةࣰ كَانَتۡ ءَامِنَةࣰ مُّطۡمَىِٕنَّةࣰ یَأۡتِیهَا رِزۡقُهَا رَغَدࣰا مِّن كُلِّ مَكَانࣲ فَكَفَرَتۡ بِأَنۡعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَ ٰ⁠قَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلۡجُوعِ وَٱلۡخَوۡفِ بِمَا كَانُوا۟ یَصۡنَعُونَ 
Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan,disebabkan apa yang mereka perbuat.
[Surah An-Nahl: 112]

Perhatikan tentang tentang keadaan manusia yang sejatinya sudah diberi keamanan, namun mereka ada kecenderungan untuk ingkar dan tidak mensyukuri keamanan tersebut. 

Dari kelima ayat tersebut, Allah mengumpulkan 2 hal yang merupakan kebutuhan darurat bagi manusia yakni tercukupnya rizqi dan keamanan. Maksudnya, bahwa rizki dan keamanan adalah 2 hal yang bisa menyebabkan  beribadah kepada Allah.

Sebagaimana pelajaran yang disampaikan guru-guru beliau ketika melihat praktek sholat tarawih di masjid-masjid,   sebagian yang lain berjaga-jaga di luar masjid

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda,

 مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا 
"Barang siapa di antara kalian di pagi hari aman ditengah-tengah keluarganya, sehat jasmaninya, memiliki kebutuhan pokok untuk sehari-harinya, maka seakan akan dunia telah dikumpulkan untuknya." (HR Tirmidzi dengan derajat yang hasan)

Dalam hadits ini, Rasulullah kembali menyebutkan 2 hal, yakni keamanan serta rizki yang berkecukupan adalah kebutuhan yang penting bagi setiap manusia

Berikutnya terkait dengan sebab-sebab terwujudnya keamanan, maka hal ini bukan terkait dengan petugas-petugas seperti polisi, tentara dsb. Namun tentang sebab-sebab yang sering kali dilalaikan manusia. Yakni sebagaimana disebutkan dalam ayat Allah di surat Quraisy. 
Oleh karenanya, sebab utama terwujudnya keamanan sebuah negara adalah agar manusia (rakyat) hendaknya beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya. 

Dalam surat Ad Dzariyat, ketika Allah menjelaskan tujuan manusia diciptakan, maka kita wajib menjaga tujuan tersebut yakni untuk beribadah kepada Allah. Jika manusia telah mewujudkan tujuan tersebut, maka Allah yang akan memberikan jaminan limpahan keamanan tersebut.

Sementara ayat-ayat yang lain terkait dengan janji Allah ini begitu banyak, diantaranya : 

 وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمۡ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَیُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِینَهُمُ ٱلَّذِی ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَیُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنࣰاۚ یَعۡبُدُونَنِی لَا یُشۡرِكُونَ بِی شَیۡـࣰٔاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَ ٰ⁠لِكَ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ 
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai bagi mereka, dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
[Surah An-Nûr: 55]

Ayat yang lainnya :
 ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ 
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.
[Surah Al-An`âm: 82]

Maka yang harus diketahui adalah bahwa penduduk suatu negeri sesuai dengan kadar keimanan mereka dalam menauhidkan Allah serta tidak mempersekutukanNya dengan apapun dan kemudian kadar amal yang mereka kerjakan, maka dengan inilah Allah akan wujudkan keamanan ditengah negeri mereka.

Di ayat lainnya, Allah menjelaskan tentang panduan dalam menyembahNya. 

Allah berfirman :

فَٱدۡعُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَـٰفِرُونَ 
Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).
[Surah Ghâfir: 14]

Orang mukmin pasti sangat mencintai wali-wali Allah, akan tetapi mereka tidaklah menyembahnya, melainkan orang mukmin baik dalam meminta dan berdoa, mereka hanya berdoa dan meminta kepada Allah semata dengan tidak menjadikan perantara dari para wali-walinya.

Allah berfirman :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِی عَنِّی فَإِنِّی قَرِیبٌۖ أُجِیبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡیَسۡتَجِیبُوا۟ لِی وَلۡیُؤۡمِنُوا۟ بِی لَعَلَّهُمۡ یَرۡشُدُونَ 
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.
[Surah Al-Baqarah: 186]

Sebagaimana para sahabat Nabi adalah orang-orang yang sangat mencintai Rasulullah, namun mereka tidak meminta-minta kepada Nabi di kuburan beliau.

Allah juga berfirman :
 وَلَا یَأۡمُرَكُمۡ أَن تَتَّخِذُوا۟ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةَ وَٱلنَّبِیِّـۧنَ أَرۡبَابًاۗ أَیَأۡمُرُكُم بِٱلۡكُفۡرِ بَعۡدَ إِذۡ أَنتُم مُّسۡلِمُونَ 
Dan tidak (mungkin pula baginya) menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu menjadi muslim?
[Surah Âl-`Imrân: 80]

Demikianlah diantara bentuk kesyirikan yang tersebar pada sebagian umat ini dikarenakan ketidakpahaman mereka terhadap agama, yaitu keharusan beribadah hanya kepada Allah dengan tidak menyekutukanNya.

Oleh karenanya, Allah akan menghilangkan keamanan di hati orang-orang musyrik.
Sebagaimana firman Allah :
{ سَنُلۡقِی فِی قُلُوبِ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ٱلرُّعۡبَ بِمَاۤ أَشۡرَكُوا۟ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ یُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَـٰنࣰاۖ وَمَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُۖ وَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلظَّـٰلِمِینَ 
Akan Kami masukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu. Dan tempat kembali mereka ialah neraka. Dan (itulah) seburuk-buruk tempat tinggal (bagi) orang-orang zalim.
[Surah Âl-`Imrân: 151]

Rasulullah juga bersabda :
 نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا وَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْغَنَائِمُ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ
Aku ditolong melawan musuhku dengan ketakutan mereka sepanjang sebulan perjalanan, bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan suci; Maka dimana saja seseorang dari umatku mendapati waktu salat, hendaklah ia salat. Kemudian dihalalkan harta rampasan untukku. Dan para nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia, dan aku diberikan (hak) untuk memberikan syafaat". (HR Bukhari)

Disebutkan dalam Bukhari , kisah ketika Rasulullah melewati tempat yang di sana memliki banyak pohon. Kemudian Beliau tidur dengan nyenyak sambil menggantungkan senjata beliau di pohon tersebut. Maka datang seorang musyrikin bertanya kepada Beliau dan bertanya "Siapakah yang bisa menyelamatkanmu dari senjataku", maka Beliau menjawab "Allah, Allah, Allah". Maka seketika itu, jatuhlah senjata yang digenggam musyrikin tersebut.

Kisah ini menegaskan bahwa kokohnya tauhid kepada Allah adalah sebab terjadinya keamanan bagi manusia.
Beliau juga menyebutkan sebuah kisah dalam sejarah Islam tentang kemuliaan kaum muslimin ketika berpegang dengan tauhid, yakni kisah ketika umat Islam dipimpin oleh Muawiyyah. 
Ketika beliau mengutus para pendakwah ke negeri Cina, dan dihalangi oleh tentara Cina. Mendengar hal tsb, Muawiyah bersumpah untuk mendatangi negeri Cina. Dan hal ini didengar oleh raja negeri Cina, kemudian ia pun meminta bantuan dari rakyat-rakyatnya. Namun rakyatnya menolak ajakan tersebut, karena mereka mengetahui bahwa kaum muslimin selalu memenangi peperangan. 
Maka kemudian, raja itu pun mengutus utusannya kepada Muawiyah agar tidak perlu menginjakkan kakinya ke Cina, namun mempersilahkan bliau untuk mengirim utusan-utusannya dalam menyebarkan dakwah ke negeri Cina.
Maka sebab pertama dalam mewujudkan keamanan adalah merealisasikan tauhid. 

Adapun sebab kedua adalah, hendaknya setiap muslim saling menjaga dalam hal darah, harta dan kehormatan. 

Rasulullah bersabda :
وَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ قَالُوا نَعَمْ قَالَ اللَّهُمَّ اشْهَدْ

Ketahuilah, bahwa darah dan harta kalian adalah haram bagi kalian sebagaimana kehormatan hari kalian ini, di bulan kalian ini dan di negeri kalian ini. Ketahuilah, apakah aku telah menyampaikan?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Ya Allah, saksikanlah." (HR Ibnu Majah)

Disebutkan dalam sebuah kisah, tentang sekelompok orang yang datang kepada Abdullah bin Umar yang mengajak beliau memerangi pemerintah yang dholim, maka beliau menolaknya. 
Beliau menyebutkan bahwa yang ditumpahkan darahnya adalah kaum muslimin, dan hal tersebut adalah perkara yang haram.
Inilah yang terjadi di sebagian negeri yang hendak mengingkari kedholiman pemimpinnya, namun dengan cara yang dilarang agama.

Sebab keamanan yang ketiga, berusaha mendahulukan maslahat (kepentingan) umum dibandingkan dengan kepentingan pribadi. 
Yakni dengan mempertimbangkan dampak yang bisa ditimpa kaum muslimin lainnya, bukan sekadar hanya ingin mengambil hak pribadinya semata. 
Dalil tentang hal ini adalah apa yang dilakukan Rasulullah pada perjanjian (sulh) Hudaibiyah.
perjanjian ini terjadi ketika orang-orang kafir tidak mengizinkan kaum muslimin melaksankan umroh. Dan perjanjian tersebut sepintas berisi tentang hal-hal yang memadharatkan kaum muslimin. Seperti ketika Ali bin Abi Thalib yang hendak menulis kalimat "bismillahirrahmanirrahim" dan juga "Muhammad Rasulullah" namun ditolak oleh orang kafir tersebut. Tentu hal tersebut merugikan kaum muslimin, namun Beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tepa menulisnya. Dan juga syarat-syarat lainnya yang merugikan kaum muslimin, namun Rasulullah menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk tetap menulisnya.
Maka dari kisah ini dapat disimpulkan, bahwa Islam menolak berbagai cara yang diatasnamakan mengingkari kedholiman pemimpin namun ternyata merugikan kaum muslimin lainnya. 

Maka subhanallah, dengan perjanjian ini nampaklah kemaslahatan besar bagi kaum muslimin hanya selama waktu yang kurang dari 2 tahun. Diantaranya disaat Allah bukakan hati sekitar 10 ribu orang musyrikin yang masuk Islam dan menerima dakwah Rasulullah. 
Maka hal ini menegaskan bahwa keamanan menjadi sebab besar datangnya maslahat bagi kaum muslimin serta agama Islam, tidak sebagaimana sebagian kaum yang hanya bermodal semangat dalam kebaikan, namun tidak menghiraukan keselamatan dan kemaslahatan agama Islam. 
Demikianlah bagaimana Rasulullah memberi contoh dalam mendahulukan kepentingan umum. Seperti yang terjadi pada masa Khalifah Utsman bin Affan, yang digelari Dzu Nurain. Beliau didatangi oleh pemberontak yang tidak pantas dilakukan kepada seorang sahabat yang memiliki banyak kebaikan, bahkan dipuji oleh Malaikat. 
Beliau pun tidak ingin menumpahkan darah kaum muslimin dan mengabaikan kepentingan pribadinya serta lebih mendahulukan kepentingan kaum muslimin. 

Disini akan terlihat bagaimana perbedaan antara siasat  manusia dengan siasat Rasulullah. 
Dimana sebagian orang suka membuat kekacauan ditengah kaum muslimin, sementara Rasulullah senantiasa mendahulukan kemaslahatan kaum muslimin meskipun berhubungan dengan menolak kedholiman. Disaat kaum muslimin mengalami kedholiman ditengah mereka oleh sebagian penguasa mereka, Rasulullah tetap memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh dengan imam (pemimpin) mereka dalam rangka mendahulukan kemaslahatan umum serta mencegah terjadinya pertumpahan darah dan mencegah sebab-sebab hilangnya keamanan di tengah kaum muslimin.

Adapun ciri-ciri penguasa yang seorang muslim wajib berpegang teguh kepada mereka, adalah penguasa yang muslim.
Sebagaimana ketika kaum muslimin berbaiat kepada Rasulullah, maka beliau melarang umat Islam memberontak dari pemimpin muslim, kecuali nampak dengan jelas kekafiran mereka.
Disebutkan dalam hadits :
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ قَالَ قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al Qaththan, telah menceritakan kepada kami Al A'masy, telah menceritakan kepada kami Zaid bin Wahab aku mendengar Abdullah mengatakan; Rasulullah ﷺ bersabda kepada kami, "Kalian akan menyaksikan sikap-sikap egois sepeninggalku, dan beberapa perkara yang kalian ingkari." Para sahabat bertanya, 'Lantas bagaimana Anda menyuruh kami ya Rasulullah!' Nabi menjawab, "Tunaikanlah hak mereka dan mintalah kepada Allah hakmu!" (HR Bukhari)

Dalam hadits lainnya, disebutkan :
عَنْ يَزِيدَ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ عَنْ رُزَيْقِ بْنِ حَيَّانَ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ قَرَظَةَ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

Dari 'Auf bin Malik dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, "Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka." Beliau ditanya, "Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?" maka beliau bersabda, "Tidak, selagi mereka mendirikan salat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka." (HR Muslim)
Juga disebutkan dalam sebuah atsar, ketika ada seorang sahabat yang datang kepada Ibnu Abbas dan bertanya tentang bagaimana bermualah dengan penguasa yang dholim. Beliau kemudian memberikan perumpamaan bahwa sekadar memakan garam bersama kaum muslimin itu lebih baik daripada terjadinya kerusakan ditengah kaum muslimin.
Hal ini menunjukkan bahwa terwujudnya keamanan lebih penting daripada kebutuhan rizki.

Maka keamanan sebuah negeri tidak akan terwujud apabila masih ada sekelompok kaum muslimin yang suka berbuat keonaran atau menyemangati manusia untuk berbuat kerusakan meskipun dengan dalih ingin menolak kedholiman.

والله ولي التوفيق