Mengambil Pelajaran dari Ayat Isra dan Mi‘raj
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
Tanggal terbit: 11 Oktober 2022 M / 15 Rabi‘ul Awwal 1444 H
Tema Khutbah
Pemuliaan Rasul ﷺ dengan mukjizat Isra dan Mi‘raj
Pentingnya mukjizat Isra dan Mi‘raj dan sebagian hikmahnya
Peringatan dari berbagai kejahatan dan bentuk-bentuknya
Mengambil pelajaran dari peristiwa Isra dan Mi‘raj serta larangan merayakannya (bid‘ah)
Kewajiban beriman dan membenarkan peristiwa Isra dan Mi‘raj
Khutbah Pertama
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, atas karunia dan kebaikan-Nya, dengan pujian yang baik dan banyak.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Mahasuci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zalim dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang Allah perjalankan pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu Dia naikkan ke langit yang tinggi, sehingga beliau memperoleh keutamaan yang besar dan kebaikan yang melimpah.
Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepadanya, kepada keluarga dan para sahabatnya dengan salam yang banyak.
Amma ba‘du:
Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan bersyukurlah atas nikmat-Nya kepada kalian.
Dan di antara nikmat-Nya yang paling agung adalah diutusnya Rasul ﷺ kepada kalian.
Dan di antara keistimewaan besar serta kemuliaan tinggi yang Allah berikan kepada beliau adalah mukjizat Isra ke Masjidil Aqsha dan Mi‘raj ke langit.
Sesungguhnya Isra dan Mi‘raj termasuk nikmat terbesar bagi umat ini.
Allah telah menyebutkannya dalam Kitab-Nya dan menjelaskan hikmahnya dalam Surah Al-Isra dan Surah An-Najm.
Dalam peristiwa itu Allah memuliakan Nabi-Nya dan memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya, serta mewajibkan kepada umatnya shalat lima waktu, yang merupakan rukun Islam paling utama setelah dua kalimat syahadat.
Awalnya diwajibkan lima puluh shalat dalam sehari semalam, kemudian diringankan menjadi lima shalat dalam pelaksanaan, namun tetap bernilai lima puluh dalam pahala.
Dalam perjalanan yang penuh berkah itu, Rasulullah ﷺ melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang sangat agung, yang menenangkan hatinya dan menguatkan keyakinannya.
Maka peristiwa Isra ini menjadi salah satu mukjizat beliau yang terbesar dan tanda-tanda kerasulan beliau yang paling agung.
Orang-orang beriman bergembira dengannya, sedangkan orang-orang kafir dan zalim menjadi murka dan dengki, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
“Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu itu melainkan sebagai ujian bagi manusia.”
(QS. Al-Isra: 60)
Dengan peristiwa ini, Allah menegakkan hujah, menjelaskan jalan kebenaran, sehingga orang yang beriman bertambah yakin, dan orang yang kafir semakin nyata kekafirannya setelah hujah ditegakkan atas mereka.
Maka kewajiban kaum muslimin di setiap zaman adalah mensyukuri nikmat ini dengan melaksanakan shalat lima waktu pada waktunya, di masjid-masjid Allah dan secara berjamaah, serta menjauhi dosa-dosa yang Nabi ﷺ lihat pelakunya disiksa dengan azab yang sangat pedih pada malam tersebut.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau melihat sekelompok orang yang kepala mereka dihancurkan dengan batu, setiap kali dihancurkan kembali seperti semula tanpa henti.
Beliau bertanya: “Siapakah mereka wahai Jibril?”
Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang berat kepala mereka untuk melaksanakan shalat wajib.”
Beliau juga melihat sekelompok orang yang di depan dan belakang mereka ada kain-kain penutup, mereka digiring seperti unta dan ternak, memakan tumbuhan berduri, zaqqum, dan batu panas dari neraka.
Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menunaikan zakat hartanya.”
Beliau melihat pula orang-orang yang di hadapan mereka ada daging matang yang baik, dan daging mentah yang busuk, namun mereka memakan yang busuk dan meninggalkan yang baik.
Jibril menjelaskan: “Itu adalah laki-laki yang memiliki istri halal yang baik, namun ia mendatangi wanita yang keji.”
Beliau juga melihat seorang laki-laki yang mengumpulkan beban besar yang tidak mampu ia pikul, namun masih menambahkannya.
Jibril berkata: “Itu adalah orang yang memikul amanah manusia namun tidak mampu menunaikannya, dan masih ingin menambah beban.”
Beliau melihat pula orang-orang yang lidah dan bibir mereka digunting dengan gunting besi, setiap kali digunting kembali seperti semula.
Jibril berkata: “Mereka adalah para pengobar fitnah.”
Beliau juga melihat batu kecil keluar darinya seekor sapi besar, lalu sapi itu ingin kembali ke tempat keluarnya namun tidak mampu.
Jibril menjelaskan: “Itu adalah orang yang mengucapkan kata besar, lalu menyesalinya, namun tidak mampu menariknya kembali.”
Dan beliau melihat orang-orang yang perut mereka seperti rumah, di dalamnya terdapat ular-ular yang tampak dari luar.
Jibril berkata: “Mereka adalah para pemakan riba.”
(Hadis diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Wahai hamba Allah,.. Rasulullah ﷺ menyaksikan mereka disiksa karena kejahatan-kejahatan tersebut sebagai peringatan keras bagi umatnya agar tidak terjerumus ke dalam dosa-dosa besar itu.
Di antaranya adalah melalaikan shalat,
menahan zakat,
berzina,
mengkhianati amanah, menyulut fitnah dengan lisan, berkata dusta dan keji,
serta memakan riba.
Semua ini semakin banyak terjadi di zaman kita, sehingga wajib bagi kita untuk takut kepada Allah dan kembali kepada syariat-Nya.
Janganlah bagian kita dari peristiwa Isra dan Mi‘raj hanya sekadar mengadakan perayaan bid‘ah yang tidak pernah disyariatkan Allah dan Rasul-Nya.
Sebagian orang hanya mengenal Isra dan Mi‘raj sebagai satu malam tertentu yang dirayakan setiap tahun, seolah-olah nikmat ini hanya berlaku pada satu malam saja, padahal hikmahnya terus berlangsung selama shalat lima waktu ditegakkan.
Ini adalah tradisi tercela yang menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani.
Maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah, ambillah pelajaran dari sirah Nabi kalian, hidupkan sunnah, dan jauhilah bid‘ah.
Inilah jalan keselamatan.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.”
(QS. Al-Hasyr: 7)
Khutbah Kedua
Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam, yang berfirman:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami.”
(QS. Al-Isra: 1)
Wahai manusia, ...
bertakwalah kepada Allah dan renungkanlah peristiwa agung ini.
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dialah yang memperjalankan Rasul-Nya dalam satu malam, lalu mengembalikannya, sebagai ujian keimanan bagi manusia.
Orang yang beriman akan membenarkan tanpa ragu, sedangkan orang yang hatinya sakit akan mengingkarinya.
Sebagaimana sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, yang berkata:
“Jika ia mengatakannya, maka sungguh ia telah berkata benar.”
Inilah iman yang kokoh dan keyakinan yang jujur.
Maka kaidah besar dalam akidah adalah:
Apabila suatu berita telah sah dari Rasulullah ﷺ, maka wajib kita membenarkannya tanpa ragu, karena beliau tidak berbicara dari hawa nafsu.
Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada yang mustahil bagi-Nya.