Senin, 14 April 2014

MENGHADAPI HARI UJIAN

Oleh : Asy Syaikh Abdurrozak Al-Badr hafidzahullah

Sesungguhnya anak-anak kita pada hari-hari ini menghadapi ujian dalam rangka urusan duniawi, agar menyelesaikan tahun pelajaran yang mereka tempuh, mereka akan diuji atas apa yang selama ini mereka pelajari, diberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat wawasan, pengetahuan, yang mana ujian tersebut sangatlah berpengaaruh terhadap rasa takut bagi anak bahkan juga bagi para orang tua, maka alangkah indahnya jika para ayah dan ibu menyambut para anak mereka dengan aneka nasehat dan arahan untuk memberikan bimbingan belajar, dan alangkah semangatnya para orang tua memberikan dukungan agar mereka berhasil dan lulus, dan seharusnya demikian pula perhatian dan pendampingan orang tua kepada anak di dalam menghadapi ujian terbesar pada hari kiamat tatkala berdiri di hadapan Allah Ta’ala yang akan menanyakan terhadap apa saja yang telah mereka lakukan tatkala hidup di dunia ini.

Dan tidak ada celaan untuk mengharapkan keberhasilan nilai anak-anak mereka di dunia, karena ini merupakan kesempurnaan dukungan tarbiyah dan pendidikan, akan tetapi yang menjadi celaan adalah jika ujian dunia ini dijadikan tujuan akhir semata tanpa menghiraukan apa yang akan mereka hadapi tatkala di hari kiamat di hadapan Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam  doanya, “Ya Allah Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan dunia ini menjadi tujuan terbesar kami dan puncak pengetahuan kami“. Dalam doa ini tidak dicela jika seandainya kita perhatian terhadap urusan dunia kita, akan tetapi yang tercela dan sangat dicela jika menjadikan dunia sebagai puncak tujuan terbesar dan akhir dari pengetahuan kita.

Dan sebaiknya bertepatan dengan hari-hari ujian ini para pelajar diingatkan juga tentang persiapan ujian hari kiamat kelak, sepantasnya merasakan besok ia akan diuji, dan hal itu membutuhkan persiapan. Dan dalam ujian ada pertanyaan dan jawaban, dimana sejauh kesiapan dirinya akan berpengaruh terhadap keberhasilan, demikian juga yang akan dihadapi tatkala di alam kubur dan pertanyaana Allah dihari kiamat disaat bertemu dengan Allah Ta’ala. Jika engkau melakukan persiapan dari ujian pembelajaran tahunan, maka jadikanlah hal ini sebagai pintu masuk agar kalian mempersiapkan menghadapi ujian hari kiamat.

Dikisahkan dari Fudhail ibnu Iyadh rahimahullah, ia bertanya kepada seseorang, “Berapa umur yang telah engkau lalui?” Maka dijawab,  “60 tahun”, maka berkata Fudhail, ”Semenjak 60 tahun ini engkau berjalan menuju Allah, sebentar lagi engkau hampir sampai“, maka orang tersebut berkata, wahai Abu Aly, sesungguhnya kita milik Allah dan kita akan dikembalikan kepada-Nya”, berkata Fudhail, “Tahukan apa yang engkau katakan? Tahukah dirimu maksud tafsirnya?” Maka orang tersebut berkata kepada Fudhail, “Tolong tafsirkan kepadaku!” Maka dijawab, “Perkataanmu ‘kita adalah milik Allah’ artinya adalah kita adalah milik Allah dan hamba Allah dan akan kembali kepada Allah. Jika kita sadar bahwa kita adalah hamba milik Allah, dan akan kembali, maka kita akan bertanggung jawab, dan kita akan ditanya tentang pertanggung-jawaban, jika kita sadar akan hal ini, tentunya kita melakukan persiapan untuk memberikan jawaban”. Maka orang tersebut bertanya, “Apa solusi kita?” Maka dijawab, “Mudah sekali”, dikatakan, “Apa itu?” Maka dijawab, “Engkau perbaiki amal pada umur yang tersisa, niscaya akan terampuni apa yang telah lewat dan tersisa, dan sebaliknya jika engkau berbuat buruk di umur kamu yang tersisa, niscaya akan tercatat keburukan di masa lalu dan yang akan datang“.

Diriwayatkan dari Tirmidzy dan selainnya, dari hadist Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya lima perkara, tentang umurnya dihabiskan untuk apa, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan,  tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ia gunakan, dan tentang ilmunya sejauh mana ia mengamalkan“.

Kita telah mengetahui bahwa kita akan ditanya pada hari kiamat, diberikan ujian dan pertanggung jawaban, dan kita juga mengetahui materi pertanyaan tersebut, maka sepantasnya kita memberikan perhatian terhadap lima pertanyaan ini dibenak pikiran kita, selagi kita masih berada di medan amal, kelima tersebut adalah umur, masa muda, harta dan ilmu. Kita akan menjumpai pertanyaan hak ini dan kita akan dimintai pertanggungjawaban akan lima hal ini secara hak, maka sepantasnya kita persiapkan dengan baik jawaban pertanyaan tersebut.

Yang menjadi kewajiban para penuntut ilmu dan para pelajar, hendaknya memberikan perhatian  terhadap buku-buku dan lembaran kertas yang tercantum di sana ayat-ayat Allah dan hadist-hadist Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, agar menghormatinya dan mengagungkannya, dikarenakan sejauh ia menghormati dan menghargai kitab-kitab Ilmu maka sejauh itu pula ia mendapat taufik dan alamat keberuntungan dirinya, hal ini kita katakan dikarenakan sering dijumpai  pada masa-masa ujian, banyak diantara pelajar yang tidak peduli pada buku-buku yang mereka miliki seolah-olah tidak merasa butuh dan dilemparkan ke tanah, bahkan terkadang dilemparkan dari depan pintu, dan semisal ini tidak pantas dilakukan para penuntut ilmu. Jika ia merasa tidak membutuhkanya kembali cukup ia menaruhnya pada tempat yang terkhususkan dalam rangka menghormatinya.

Kewajiban berikutnya hendaknya menjauhi perangkap setan yang diharamkan Allah Ta’ala jangan sampai ujian menjadikan sebab terjerumus dalam larangan, melampaui batas seperti berbuat curang sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Barang siapa yang berbuat curang maka bukan dari golongan kami“.

Curang dalam urusan ilmu lebih jahat dan mudhorot dari berbuat curang dalam urusan makanan dan minuman, dikarenakan kedudukan ilmu lebih utama dan muliya. Oleh karenanya setiap pelajar berhati-hati dalam hal ini dan hendaknya bertakwa kepada Allah Ta’ala, dan janganlah pandangannya hanya sebatas diawasi para petugas jaga ujian saja akan tetapi hendaknya melihat bahwa Allah Ta’ala memberikan pengawasan dari atas langit, yang tiada sesuatu yang samar bagi-Nya di langit dan di bumi, oleh karenanya hendaknya menjauhi cara dan sikap buruk seperti tidak jujur, manipulasi dan berbuat makar.

Jika kita merenung, kita dapati pada hari-hari ujian ini terdapat semangat dan kemauan keras yang mengherankan dalam upaya belajar, muroja’ah, menghafal, serta munculnya kemampuan yang dahsyat yang sepantasnya disyukuri karena ini adalah pemberian Allah yang sebenarnya kita memiliki kemampuan tersebut, akan tetapi kita menyia-nyiakannya, tidak memaksimalkannya dalam sehari-hari!! Sekiranya kita setiap hari menggunakan kemampuan ini dalam jangka satu tahun penuh, niscaya ia memperoleh banyak ilmu.

Dan sepantasnya di waktu seperti ini, hendaknya banyak berdoa dan bersimpuh memohon di hadapan Allah Ta’ala, semoga segenap putra-putri kita diberikan taufik keberhasilan di dunia dan akhirat, dikarenakan keberhasilan dan taufik berada di genggaman Allah semata. Maka alangkah indahnya bagi para orang tua yang telah berusaha memberikan arahan dan bimbingan yang disertai kejujuran dalam memohon di hadapan Allah hingga mengapai keberhasilan dan keberuntungan.

Hari-hari ini hendaknya mengingatkan kita akan amanah yang akan ditanyakan kelak, terhadap segala amanat dalam setiap sendi kehidupan kita baik tauhid, ibadah, muamalah, hubungan sesama, terkandung juga di dalamnya amanah seorang pelajar terhadap ujian yang dihadapinya.

Dan tidak lupa kita katakan, bahwa banyak tersebar doa dan wirid tertentu, seperti wirid ketika hendak belajar, ketika hendak masuk ruangan, ketika  menjawab ujian, ketika selasai mengerjakan, dan do’a-doa tertentu semisal ini tidaklah pernah Allah turunkan hujjah dan sulthon, dan ini tergolong berbicara agama tanpa ilmu, sebagaimana ungkapan para ulama, ”Barang siapa menganggap baik suatu perkara, maka ia tergolong membikin syariat baru tertentu“.

Oleh karenanya sepantasnya kita memberikan peringatan kepada masyarakat akan keberadaan doa dan wirid semacam ini adalah bukan bagian agama, akan tetapi cukup ia memanjatka doa agar diberikan taufik dan keberhasilan, tanpa memberikan ritual dan ketentuan-ketentuan khusus yang tidak ada dalilnya dan contohnya dalam Al-Kitab dan As-Sunnah.


Dengan ini kita tutup ulasan ini dengan memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala melalui Nama-Nama-Nya Yang Husna dan Sifat-Sifat-Nya Yang Ulya, agar menuliskan bagi kita semua keberhasilan dan kesuksesan di dunia dan akhirat dengan mengapai ridho Allah Ta’ala dan dijauhkan dari segala murka-Nya, sesungguhnya Dia Dzat Yang Maha Mendengar, hasbunallahu wa nikmal Wakil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar