Minggu, 28 Desember 2025

TUHAN KALIAN TUHAN YANG ESA



“Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa”

Multaqa Al-Khuthaba – Tim Ilmiah

Tanggal Publikasi: 12 Oktober 2022 / 16 Rabi‘ul Awwal 1444 H

Kategori: Iman – Tauhid

Pokok-pokok Khutbah

Nama Allah Al-Wāḥid (Yang Maha Esa) dalam Al-Qur’an dan Sunnah
Makna-makna nama Allah Al-Wāḥid
Dalil-dalil akal tentang keesaan Rabb seluruh makhluk
Bagian dan pengamalan orang beriman terhadap nama Allah Al-Wāḥid
Dampak iman kepada keesaan Allah
Bagaimana beribadah kepada Allah dengan nama-Nya Al-Wāḥid

Kutipan

Ketika seorang hamba berserah diri kepada Allah ﷻ dan merasakan kemuliaan dalam keesaan-Nya, serta kekuatan dalam keyakinan bahwa Rabb-nya adalah satu, Maha Esa, Maha Tunggal, Maha Bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak memiliki sekutu dan tidak memiliki anak; Maha Suci dari tandingan dan keserupaan; Allah tidak mengambil anak dan tidak ada tuhan lain bersama-Nya—maka ia merasakan kebanggaan dan kemuliaan. 
Sebab ia tidak berada di bawah tuhan-tuhan yang saling berselisih, tetapi ia sepenuhnya tunduk kepada satu Rabb dan satu Penguasa. 
Tidak ada yang memerintahnya selain Dia, tidak ada yang menguasainya selain Dia, dan tidak ada yang mengatur urusan selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal ﷻ.


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal, Maha Bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan-Nya. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, Maha Mulia lagi Maha Pengampun, yang menggulung siang atas malam dan malam atas siang. 

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, pemimpin para rasul dan imam orang-orang saleh.

 Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya yang suci.

Wahai hamba-hamba Allah,

 bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, agungkanlah Dia dengan sebenar-benar pengagungan.

 Bersamalah kalian dengan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal, taatilah Rabb kalian, Dia Yang Maha Tunggal lagi Maha Bergantung kepada-Nya segala sesuatu; Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan-Nya. Maha Suci Dia, menciptakan lalu menyempurnakan, menentukan lalu memberi petunjuk, mengeluarkan rerumputan lalu menjadikannya kering kehitam-hitaman.

 Dia membangun langit dan menegakkan gunung-gunung, menghamparkan bumi, mengeluarkan darinya air dan tumbuh-tumbuhan. 

Dia melapangkan rezeki dan melimpahkan karunia, serta mengirimkan berbagai nikmat-Nya ﷻ.
Ketahuilah bahwa Dia adalah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal; 
setiap hari Dia dalam urusan: mengampuni dosa, melepaskan kesusahan, mengangkat sebagian kaum dan merendahkan yang lain, menghidupkan yang mati dan mematikan yang hidup, mengabulkan doa orang yang berdoa, 
menyembuhkan orang sakit, memuliakan siapa yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki, menguatkan yang lemah, mencukupkan yang miskin, mengajarkan yang bodoh, memberi petunjuk yang tersesat, 
membimbing yang bingung, menolong yang meminta pertolongan, 
membebaskan tawanan, mengenyangkan yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, 
menyembuhkan yang sakit, memberi keselamatan kepada yang tertimpa musibah, menerima taubat, 
membalas orang yang berbuat baik, 
menolong yang terzalimi, membinasakan yang sombong, menutup aib, 
dan memberi rasa aman. 
Maha Suci Dia; 
Dia yang membuat tertawa dan menangis, mematikan dan menghidupkan, membahagiakan dan menyengsarakan, menciptakan dan membinasakan, meninggikan dan merendahkan, 
memuliakan dan menghinakan, memberi dan menahan—semua itu Dia lakukan sendiri tanpa sekutu.

Bertaubatlah kepada-Nya dan yakinlah bahwa siapa yang mendatangi-Nya, 
Allah akan menyambutnya dari kejauhan; 
siapa yang berpaling dari-Nya, Allah memanggilnya dari dekat; siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, 
Allah akan memberinya lebih dari yang ia tinggalkan; 
siapa yang menginginkan keridaan-Nya, 
Allah akan mengarahkan kehendaknya; 
siapa yang beramal dengan kekuatan dan pertolongan Allah, 
Allah akan melunakkan baginya besi. 
Ahli zikir adalah ahli kedekatan dengan-Nya, 
ahli syukur adalah ahli tambahan nikmat-Nya, 
ahli ketaatan adalah ahli kemuliaan-Nya. 
Ahli maksiat tidak Allah putuskan dari rahmat-Nya; 
jika mereka bertaubat, Dia mencintai mereka; 
jika tidak, Dia tetap menyayangi mereka. 
Dia menguji dengan musibah untuk menyucikan dari aib, mensyukuri amal yang sedikit, dan mengampuni kesalahan yang banyak.

Wahai hamba-hamba Allah,

 ketika seorang hamba berserah diri kepada Allah dan merasakan kemuliaan dalam keesaan-Nya serta kekuatan dalam keyakinan bahwa Rabb-nya adalah satu, 
Maha Esa, 
Maha Tunggal, 
Maha Bergantung kepada-Nya segala sesuatu—tidak memiliki sekutu dan tidak memiliki anak—maka ia merasakan kebanggaan dan kemuliaan. 
Ia tidak berada di bawah tuhan-tuhan yang saling berselisih, tetapi sepenuhnya tunduk kepada satu Rabb dan satu Penguasa.

Wahai orang-orang beriman,

 ketahuilah bahwa di dalam hati ada keterpecahan yang tidak dapat disatukan kecuali dengan kembali kepada Allah; ada kesepian yang tidak hilang kecuali dengan merasa dekat dengan-Nya dalam kesendirian; ada kesedihan yang tidak sirna kecuali dengan kegembiraan karena mengenal-Nya dan jujur dalam berinteraksi dengan-Nya; ada kegelisahan yang tidak tenang kecuali dengan berkumpul kepada-Nya dan lari dari selain-Nya menuju-Nya; ada api penyesalan yang tidak padam kecuali dengan ridha terhadap perintah, larangan, dan ketetapan-Nya serta bersabar hingga bertemu dengan-Nya; dan ada kebutuhan mendalam yang tidak dapat dipenuhi kecuali dengan mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, terus berdzikir kepada-Nya, dan ikhlas kepada-Nya.
 Seandainya dunia dan segala isinya diberikan, tetap tidak akan menutup kebutuhan itu selamanya.

Wahai kaum muslimin, 

Kitab Allah yang agung sangat memperhatikan masalah tauhid. 

Ayat-ayatnya beragam: penetapan, 
penguatan, 
dialog, 
bantahan, 
kisah, 
dan berita. 

Hampir sebagian besar Al-Qur’an berbicara tentang tauhid Allah dan penanaman nama Allah Yang Maha Esa dan Maha Tunggal dalam hati sebelum sampai ke telinga.

Allah berfirman:

“Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 163)

“Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Ar-Ra‘d: 16)

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.” (Al-Ikhlas: 1)

“Apakah tuhan-tuhan yang beraneka ragam itu lebih baik ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (Yusuf: 39)

“Pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan langit-langit pun demikian, dan mereka menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Ibrahim: 48)

Nabi Muhammad ﷺ juga memuji Rabb-nya dengan sifat keesaan. 

Di antaranya hadits tentang seorang sahabat yang berdoa dengan menyebut Allah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Maha Bergantung kepada-Nya segala sesuatu, maka Nabi ﷺ bersabda: 
“Sungguh telah diampuni dosanya.”

Dalam hadits lain Allah berfirman bahwa siapa yang menisbatkan anak kepada-Nya berarti telah mencela-Nya. 
Dan pada hari kiamat kelak akan dikumandangkan:

 “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Dijawab: “Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal, yang menyendiri dengan kesempurnaan sifat, dan Maha Suci dari segala kekurangan dan keserupaan. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Wahai kaum muslimin,

 bertakwalah kepada Allah dan cintailah Dia. 

Agungkanlah Dia dan ikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya. Ketahuilah bahwa kalimat Lā ilāha illallāh mengandung makna nama Allah Al-Wāḥid.

 Barang siapa membacanya seratus kali dalam sehari, maka ia mendapat pahala besar, dihapuskan dosanya, dan dilindungi dari setan.

Betapa bodohnya orang yang menyembah selain Allah yang tidak dapat mendengar, melihat, dan memberi manfaat, sementara ia meninggalkan Allah yang menciptakan, mengatur, memberi rezeki, dan menguasai segala sesuatu.

Termasuk dampak iman kepada keesaan Allah adalah mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada-Nya, tidak berdoa, menyembelih, bernazar, bertawakal, berharap, dan takut kecuali kepada Allah. 

Barang siapa menyekutukan Allah, maka akibatnya sangat buruk di dunia dan akhirat.

Seorang mukmin yang bertauhid akan tampak dalam perilakunya: 
ia hanya bergantung kepada Allah, hanya meminta kepada-Nya, dan hanya bersandar kepada-Nya. Ia kokoh di atas kebenaran, tidak takut celaan siapa pun karena yakin semua urusan kembali kepada Allah semata.

Penutupnya, dengarkan firman Allah:

“Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan, dan Dia tidak memerlukan pelindung karena kelemahan. Dan agungkanlah Dia dengan sebenar-benar pengagungan.” (Al-Isra’: 111)

Tidak ada ketenangan bagi hati kecuali dengan mentauhidkan-Nya, tidak ada kebahagiaan kecuali dengan mengingat-Nya, dan tidak ada keselamatan kecuali dengan berserah diri kepada-Nya.

Ya Allah, karuniakan kepada kami iman yang jujur, kepercayaan dan tawakal yang baik kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang berbahagia.

Dan akhir doa kami: 
segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan para sahabatnya seluruhnya.


TAUHID KUNCI KESUKSESAN


TAUHID KUNCI KESUKSESAN 

Tauhid adalah dasar agama dan bentengnya yang kokoh. Kepadanyalah para nabi menyeru, dengannya Kitab dan Sunnah berseru, dan kebutuhan manusia terhadapnya sangat besar. 
Oleh karena itu, pembahasan tentang tauhid menjadi keharusan, termasuk penjelasan tentang hal-hal yang merusaknya dan yang membatalkannya. Dalam khutbah ini dijelaskan pentingnya tauhid, peringatan terhadap pengabaian terhadapnya, serta penjelasan alasan-alasan yang melatarbelakangi rasa takut akan rusaknya tauhid tersebut.
Di akhir khutbah dijelaskan kondisi nyata manusia dalam menghadapi perusak-perusak tauhid, baik dari sisi pengetahuan teoritis maupun praktik kehidupan.

Pentingnya Tauhid

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kita untuk beribadah dan mentauhidkan-Nya, yang telah menganugerahkan kepada kita karunia untuk bertasbih, memuliakan, dan memuji-Nya. Aku memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya, Dia telah menjanjikan tambahan nikmat bagi orang-orang yang bersyukur. 
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. 
Dan aku bersaksi bahwa junjungan dan nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, sebaik-baik rasul dan semulia-mulia hamba-Nya. Semoga shalawat, salam, dan keberkahan tercurah kepadanya, kepada keluarga beliau yang suci, kepada istri-istri beliau—para ibu kaum mukminin—kepada seluruh sahabat, para tabi‘in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

 (Amma ba‘du):

Aku wasiatkan kepada kalian wahai manusia, dan juga kepada diriku sendiri, agar bertakwa kepada Allah عز وجل. Bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian, dan mintalah pertolongan untuk menaati-Nya dengan apa yang telah Dia karuniakan kepada kalian. 

Sesungguhnya Tuhan kalian—Mahabijaksana—tidak menciptakan kalian dengan sia-sia, dan tidak pula membiarkan urusan kalian di dunia ini tanpa tujuan.
 Akan tetapi Dia menciptakan hidup dan mati untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.
Kebutuhan Manusia terhadap Agama Allah

Wahai kaum muslimin,

 sesungguhnya ketika manusia menyimpang dari jalan Allah, mereka akan terombang-ambing dalam kekacauan beragama dan tenggelam dalam berbagai bentuk kesyirikan serta lumpur-lumpur jahiliyah:

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,
(yaitu) orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan; tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
(QS. Ar-Rūm: 31–32)

Dan Allah berfirman:

“Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”
(QS. An-Nisā’: 116)

Akal manusia terbatas untuk dapat mengetahui jalan kebaikan dengan sendirinya atau menemukan jalan petunjuk tanpa bimbingan wahyu. Ia tidak mampu mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri dan tidak pula mampu menolak bahaya darinya.

Tidak akan terangkat kesengsaraan dari jiwa, tidak akan hilang kegoncangan dari akal, dan tidak akan lenyap kegelisahan serta kesempitan dari dada, kecuali ketika mata hati telah yakin dan akal telah tunduk bahwa Dia سبحانه adalah Allah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Maha Bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Maha Perkasa lagi Maha Besar. Milik-Nya seluruh kerajaan, di tangan-Nya seluruh urusan, dan kepada-Nya segala perkara dikembalikan.

“Tidak demikian; barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
(QS. Al-Baqarah: 112)

Dan firman-Nya:

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus?”
(QS. An-Nisā’: 125)

Wahai saudara-saudaraku,

 sesungguhnya penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya akan mengangkat derajat seorang mukmin dalam akhlak dan pemikirannya.

 Ia menyelamatkannya dari penyimpangan hati, kesesatan hawa nafsu, kegelapan kebodohan, dan khayalan-khayalan takhayul. 

Tauhid menyelamatkan manusia dari para penipu, dukun, pendeta jahat, dan ulama sesat yang menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah. 

Tauhid yang murni dan ikhlas menjaga manusia dari kebebasan tanpa kendali dan tanpa aturan.

Kedudukan Tauhid dalam Agama Islam

Wahai saudara-saudaraku,

 mentauhidkan Allah adalah bentuk penghambaan yang sempurna kepada-Nya, sebagai realisasi kalimat kebenaran:
“Lā ilāha illallāh, Muhammadur Rasūlullāh.”
Realisasi kalimat ini baik secara lafaz maupun makna, serta pengamalan konsekuensinya dalam kehidupan. 

Seorang muslim menegakkan hidupnya di atas tauhid: shalatnya, ibadahnya, hidup dan matinya.
Tauhid dalam keyakinan, tauhid dalam ibadah, dan tauhid dalam penetapan hukum.

Tauhid yang menyucikan hati dan nurani dari keyakinan adanya sesembahan selain Allah.

Tauhid yang menyucikan anggota badan dan syiar-syiar ibadah dari dipersembahkan kepada selain Allah.

Tauhid yang menyucikan hukum dan syariat dari menerima aturan dari selain Allah عز وجل.

Tauhid adalah awal dan akhir agama, lahir dan batinnya, poros perputarannya, dan puncak ketinggiannya. Atas dasar tauhidlah dalil-dalil ditegakkan, bukti-bukti diserukan, ayat-ayat dijelaskan, dan hujjah-hujjah ditegaskan. 

Karena tauhid kiblat ditegakkan, agama didirikan, perjanjian (dzimmah) diwajibkan, jiwa-jiwa dilindungi, negeri Islam terpisah dari negeri kekafiran, dan manusia pun terklasifikasi karenanya, sebagian sengsara dalam neraka dan siksa dan sebagian bahagia sukses dalam surga. 

TAUHID KEPADA ALLAH



Gambaran Umum Tauhid kepada Allah Ta‘ala yang Dengannya Diciptakan Dua Makhluk Berat (Jin dan Manusia)

Abdullah bin Hasan Al-Qa‘ūd
Tanggal terbit: 10 Oktober 2022 M / 14 Rabi‘ul Awwal 1444 H

Kategori: Tauhid

Pokok-Pokok Khutbah

Tujuan penciptaan jin dan manusia
Hakikat tauhid yang diserukan oleh para rasul
Berlepas diri dari kaum musyrik sebagai konsekuensi tauhid uluhiyyah
Dua rukun kalimat ikhlas (لا إله إلا الله)
Penjelasan tauhid asma’ dan sifat

Tujuan Khutbah

Menjelaskan apa yang diserukan oleh para rasul berupa tauhid kepada Allah
Menjelaskan hikmah penciptaan manusia dan jin
Mendorong keikhlasan dalam beribadah hanya kepada Allah Ta‘ala. 

Kutipan

“Tauhid kepada Allah — Mahasuci dan Mahatinggi — dengan apa yang menjadi hak-Nya dan sesuai dengan keagungan-Nya, dalam bentuk yang paling sempurna dan sifat yang paling sempurna, adalah tujuan penciptaan jin dan manusia, dan untuk tujuan itulah para rasul diutus, kitab-kitab diturunkan, surga dan neraka disiapkan, pedang-pedang dihunus dan panji-panji dikibarkan, serta ditegakkan loyalitas dan permusuhan di antara keluarga-keluarga, sejak agama ini ada hingga Allah mewarisi bumi dan segala isinya…”


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi, yang tidak mengambil anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan, dan Dia menciptakan segala sesuatu lalu menentukannya dengan ketentuan yang sempurna.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Maha Bergantung kepada-Nya segala sesuatu; Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kami Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya —

 semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, kepada para nabi dan rasul saudaranya, kepada keluarga dan para sahabatnya, serta kepada setiap orang yang bersaksi akan keesaan Allah dan kerasulan Nabi-Nya hingga hari kiamat.

 (Adapun selanjutnya):

Wahai saudara-saudaraku kaum mukminin, sungguh Allah telah menciptakan dua makhluk berat, yaitu jin dan manusia, untuk suatu tujuan yang sangat agung dan sasaran yang paling mulia, yaitu mentauhidkan Allah سبحانه وتعالى, 
sebagaimana firman-Nya:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Yakni: agar mereka mentauhidkan-Ku.
Tauhid kepada Allah سبحانه وتعالى dengan apa yang menjadi hak-Nya dan sesuai dengan keagungan-Nya, dalam bentuk yang paling sempurna dan sifat yang paling lengkap, itulah tujuan penciptaan jin dan manusia.

 Karena tauhid itulah para rasul diutus, kitab-kitab diturunkan, surga dan neraka disiapkan, pedang-pedang dihunus dan panji-panji dikibarkan, serta ditegakkan loyalitas dan permusuhan di antara manusia, sejak agama ini ada hingga Allah mewarisi bumi dan segala isinya, dan Dia adalah sebaik-baik Pewaris.

Allah berfirman:

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiya’: 25)

Dan firman-Nya:

“Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah; kami ingkari kalian, dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian selamanya, sampai kalian beriman kepada Allah semata.’”
(QS. Al-Mumtahanah: 4)

Tauhid ini adalah pengakuan dan pembenaran akan kewajiban mengesakan Allah سبحانه وتعالى dalam apa yang menjadi hak-Nya, dan dalam tauhid rububiyyah-Nya, tanpa menyekutukan-Nya dengan seorang pun dari makhluk-Nya.

 Pengakuan ini mengikat makhluk dengan Sang Pencipta dalam tawakal, rasa takut, harap, perlindungan, permohonan pertolongan, ibadah, perilaku, dan muamalah, baik dalam kesempitan maupun kelapangan, dalam kesendirian maupun keramaian.

Sebagaimana kisah Nabi Ibrahim عليه السلام yang Allah ceritakan:

“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. 
Ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: ‘Apa yang kalian sembah?’ 
Mereka menjawab: ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami tetap tekun menyembahnya.’ 
Ibrahim berkata: ‘Apakah mereka mendengar doa kalian ketika kalian berdoa? 
Atau memberi manfaat atau mudarat?’ 
Mereka menjawab: ‘Kami mendapati nenek moyang kami melakukan demikian.’ 
Ibrahim berkata: ‘Apakah kalian memperhatikan apa yang kalian sembah, kalian dan nenek moyang kalian yang terdahulu? 
Sesungguhnya mereka adalah musuh bagiku kecuali Rabb seluruh alam. 
Yang menciptakanku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku. 
Dan yang memberi aku makan dan minum. 
Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku. 
Dan yang mematikanku kemudian menghidupkanku kembali. 
Dan yang aku harapkan akan mengampuni dosaku pada hari pembalasan.’”
(QS. Asy-Syu‘ara’: 69–82)

Tauhid juga merupakan pengakuan dan pembenaran akan kewajiban mengesakan Allah سبحانه وتعالى dalam uluhiyyah dan ibadah, tanpa selain-Nya. 

Pengakuan yang mengikat hamba dengan sesembahannya dan penyembah dengan yang disembah, sehingga ia mengarahkan seluruh ibadahnya — termasuk doa dalam perkara yang tidak mampu kecuali Allah — dengan arah yang merealisasikan dua rukun kalimat ikhlas: 
penafian dan penetapan, yang diucapkan dalam kalimat La ilaha illallah.

“Tidak ada sesembahan” adalah penafian terhadap segala yang disembah,
“kecuali Allah” adalah pembatasan ibadah hanya kepada Allah semata.

Sebagaimana ucapan Nabi Ibrahim عليه السلام:

“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali dari Allah yang telah menciptakanku.”
(QS. Az-Zukhruf: 26–27)

Dan firman Allah:

“Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, yang tidak dapat mengabulkannya hingga hari kiamat, dan mereka lalai dari doa-doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan, mereka menjadi musuh bagi para penyembahnya dan mengingkari ibadah mereka.”
(QS. Al-Ahqaf: 5–6)

Dan firman-Nya:

“Barang siapa berdoa bersama Allah kepada sesembahan lain, tanpa bukti baginya, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sungguh orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.”
(QS. Al-Mu’minun: 117)

Tauhid juga berarti menetapkan apa yang Allah kabarkan tentang diri-Nya dan apa yang Rasul-Nya kabarkan tentang-Nya, serta menetapkan sifat-sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dan yang Rasul-Nya tetapkan, tanpa distorsi (tahrif), tanpa penakwilan, tanpa menanyakan bagaimana (takyif), dan tanpa meniadakan (ta‘thil). 

Sebagaimana firman Allah:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Asy-Syura: 11)

Seorang hamba menetapkan bagi Allah apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, dan meniadakan dari Allah apa yang Allah tiadakan dari diri-Nya, dengan mengikuti ucapan sebagian salaf yang terkenal:

“Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang datang dari Allah sesuai dengan maksud Allah, dan kami beriman kepada Rasulullah dan kepada apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan maksud Rasulullah.”

Dalam makna ini pula perkataan Imam Malik yang masyhur ketika ditanya tentang bagaimana istiwa’ Allah:

“Istiwa’ itu maknanya diketahui, bagaimana caranya tidak diketahui, beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid‘ah.”

Inilah secara ringkas tauhid kepada Allah yang karenanya Allah menciptakan jin dan manusia, mengutus rasul-rasul-Nya, dan menurunkan kitab-kitab-Nya.

Maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah, dan wujudkanlah tauhid kalian dengan mentauhidkan Allah سبحانه وتعالى dengan seluruh sifat dan makna tauhid secara murni, sesuai dengan keagungan Allah. 
Karena sesungguhnya hasilnya hanyalah dua: tauhid yang murni dari syirik, bid‘ah, dan maksiat, yang balasannya adalah surga; atau kebalikannya, yaitu neraka.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan baginya surga, dan tempatnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.”
(QS. Al-Ma’idah: 72)

Dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. 
Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Rabu, 24 Desember 2025

HARI RAYA NASRANI


 Hari Raya Nasrani (Natal/Krismas)

Dr. Faiz bin Musā‘id Al-Ḥarbī

Tema: Al-Walā’ wal-Barā’ –

 Mimbar Jumat
Tanggal: 06/02/2019

Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang tidak mengambil anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan, dan tidak pula Dia memiliki pelindung karena kehinaan.
(QS. Al-Isrā’: 111)

Dialah Pencipta segala sesuatu, dan Dia Maha Esa lagi Maha Perkasa.
(QS. Ar-Ra‘d: 16)

Seluruh makhluk adalah ciptaan-Nya, dan segala urusan adalah ketetapan-Nya.
Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
(QS. Luqmān: 26)

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa dalam rubūbiyyah, ulūhiyyah, serta nama dan sifat-Nya.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, manusia pilihan dari makhluk-Nya dan orang yang dipercaya membawa wahyu-Nya.
Beliau bersabda:
“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebih-lebihan memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Amma ba‘du:

Aku wasiatkan kepada diriku dan kepada kalian semua untuk bertakwa kepada Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan melipatgandakan pahala baginya.”
(QS. Ath-Thalāq: 5)

Wahai hamba-hamba Allah,
Allah menciptakan manusia, di antara mereka ada yang beriman dan ada yang kafir.
“Dialah yang menciptakan kalian, maka di antara kalian ada yang kafir dan ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.”
(QS. At-Taghābun: 2)

Iman tidak akan diterima kecuali dari orang yang masuk ke dalam agama Islam.

“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Āli ‘Imrān: 85)

Di antara rukun iman adalah beriman kepada para rasul secara umum dan terperinci.
Dan di antara para rasul Allah adalah Nabi Isa ‘alaihis salām.

“…Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti yang nyata dan Kami kuatkan dia dengan Ruhul Qudus.”
(QS. Al-Baqarah: 253)

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, serta bahwa surga dan neraka itu benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai hamba-hamba Allah,
Kaum Nasrani telah tersesat dan melampaui batas terhadap Isa ‘alaihis salām. Mereka mengangkatnya hingga mengklaim bahwa ia adalah anak Allah — Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan.
Dengan keyakinan itu mereka kafir, tidak boleh dicintai dan tidak boleh dijadikan wali (loyalitas agama). Allah telah melarang mereka dari keyakinan kufur tersebut, namun mereka tidak mau berhenti.

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian dan jangan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar…”
(QS. An-Nisā’: 171)

Allah Ta‘ālā juga berfirman:
“Sungguh kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam.’”
(QS. Al-Mā’idah: 72)

Dan firman-Nya:
“Sungguh kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Allah adalah salah satu dari yang tiga.’”
(QS. Al-Mā’idah: 73)

Di antara kesesatan kaum Nasrani adalah merayakan kelahiran Isa yang mereka sebut Natal atau Krismas.
Mereka berdusta atas nama Allah dengan mengklaim bahwa Isa adalah anak Allah dan menjadikannya sesembahan selain Allah — Maha Tinggi Allah dari itu semua.

Termasuk kemungkaran besar adalah sebagian kaum Muslimin ikut merayakan atau mengucapkan selamat kepada mereka atas hari raya tersebut.
Bagaimana mungkin seorang Muslim yang bertauhid rela memberi selamat atas hari raya yang dibangun di atas syirik besar, yakni menisbatkan anak kepada Allah?

Allah berfirman:
“Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pengasih mengambil anak.’
Sungguh kalian telah mendatangkan perkara yang sangat mungkar…”
(QS. Maryam: 88–95)

Bagaimana mungkin seorang Muslim yang membaca:
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa…”
(QS. Al-Ikhlāsh)

lalu ikut serta atau memberi ucapan selamat atas hari raya tersebut?

Bagaimana kita memberi selamat atas hari raya yang diada-adakan, sementara dalam setiap shalat kita memohon agar dijauhkan dari jalan mereka:

“…bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.”
(QS. Al-Fātiḥah)

Orang-orang yang sesat adalah kaum Nasrani dan siapa saja yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu.

Wahai Muslim,

Bagaimana engkau menghadiri atau mengucapkan selamat atas hari raya kufur mereka, padahal sifat hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah:

“Dan mereka tidak menghadiri kesaksian palsu.”
(QS. Al-Furqān: 72)

Sebagian tabi‘in menafsirkan “kesaksian palsu” dengan hari raya orang-orang musyrik.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“Jika Allah memuji orang yang tidak menghadirinya, padahal hanya sekadar hadir, maka bagaimana dengan orang yang menyetujui dan ikut serta?”

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
“Memberi ucapan selamat atas syiar-syiar kekufuran adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama…”

Waspadalah pula dari menonton perayaan dan ritual mereka melalui media, karena itu termasuk menyaksikan kemungkaran.

Jangan pula berdalih demi menyenangkan anak-anak.

Imam Adz-Dzahabi berkata:
“Orang terburuk adalah yang meridhai keluarganya dengan perkara yang dimurkai Allah.”

Dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله menjelaskan bahwa tidak boleh membalas ucapan selamat Natal, karena itu bentuk persetujuan terhadap keyakinan mereka.



Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah yang memuliakan kita dengan Islam.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Wahai hamba-hamba Allah,
Akidah al-walā’ wal-barā’ menurut Ahlus Sunnah adalah pertengahan:
bukan sikap longgar yang membolehkan ucapan selamat Natal,
dan bukan pula sikap ekstrem yang melanggar perjanjian dan berbuat zalim.

Perlu dibedakan antara memberi selamat hari raya (haram) dan ta‘ziyah kepada orang kafir (diperselisihkan ulama dan boleh bila ada maslahat, tanpa mendoakan ampunan bagi mayit).

Bershalawatlah kepada Nabi Muhammad ﷺ.
(Doa-doa penutup khutbah ...

HUKUM BERPARTISIPASI DALAM HARI RAYA ORANG KAFIR



Hukum Berpartisipasi dalam Hari Raya Orang Kafir

Syaikh: Muhammad bin Shalih al-Munajjid


Di antara bid‘ah dan kesesatan yang paling besar adalah menyerupai orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani, dan termasuk yang paling besar darinya adalah menyerupai serta ikut serta dalam perayaan hari raya mereka, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Dalam khutbah ini dijelaskan secara rinci hal-hal yang wajib dijauhi oleh kaum Muslimin berupa perbuatan dan sikap pada hari-hari raya orang kafir, karena hal-hal tersebut merupakan tanda penyerupaan dan partisipasi, yang dapat menumbuhkan rasa saling mengenal dan saling akrab, serta menghapus hakikat loyalitas kepada kaum Muslimin dan bara’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir dan musyrik.

Dorongan Syariat untuk Mengikuti (Sunnah) dan Menjauhi Penyerupaan terhadap Orang Kafir


Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya.

 Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. 

Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, dan dari jiwa itu Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia mengembangbiakkan banyak laki-laki dan perempuan. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian.”
(QS. an-Nisā’: 1)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah meraih kemenangan yang besar.”
(QS. al-Ahzāb: 70–71)

Amma ba‘du:

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap bid‘ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Di antara bid‘ah dan kesesatan terbesar yang mengantarkan ke neraka adalah menyerupai orang-orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan selain mereka.

Di antara tujuan utama syariat Islam adalah membedakan kepribadian seorang Muslim dari segala bentuk percampuran dengan simbol-simbol dan syiar orang-orang kafir, agar kepribadian tersebut tetap murni dan khas, berbeda dari kepribadian penduduk bumi lainnya.

Termasuk tujuan agama ini adalah mengangkat derajat Islam, membersihkannya dari noda-noda kesyirikan, menampakkan keistimewaan dan kekhususannya dibandingkan seluruh agama dan kepercayaan lainnya.

Oleh karena itu, salah satu ciri paling khusus agama ini adalah mengikuti sunnah dan menjauhi penyerupaan terhadap orang-orang kafir, dalam perkara kecil maupun besar.

Karena itulah kita dapati Allah ﷻ menurunkan ayat-ayat yang menunjukkan pembedaan agama Islam dan pemeluknya dari agama-agama lain, 
di antaranya firman Allah:
“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan menyimpang dari kebenaran yang telah datang kepadamu.”
(QS. al-Mā’idah: 48)

Dan firman-Nya:
“Untuk masing-masing di antara kalian Kami jadikan syariat dan jalan hidup.”
(QS. al-Mā’idah: 48)

Maka syariat kalian berbeda dengan syariat mereka, dan manhaj kalian berbeda dengan manhaj mereka.

“Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah… Untuk kalian agama kalian, dan untukku agamaku.”
(QS. al-Kāfirūn: 5–6)

Agama kalian berbeda dengan agama mereka. Agama hanif ini datang menghapus seluruh agama sebelumnya, lebih tinggi dan menguasainya. Islam—dengan karunia Allah—menjadi agama Allah yang lurus, yang menguasai seluruh agama sebelumnya.

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ telah menjelaskan melalui sabdanya:
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”

Ini adalah kaidah pokok dalam agama ini tentang haramnya menyerupai orang-orang kafir.

Dan beliau ﷺ juga bersabda dalam banyak kesempatan:
“Berbedalah kalian dengan orang-orang musyrik.”
Ketika engkau membaca Surah al-Fatihah dalam shalat, di dalamnya terdapat firman Allah:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”
(QS. al-Fātiḥah: 6–7)

Yakni bukan jalan Yahudi dan bukan pula jalan Nasrani, tetapi jalan kebenaran yang tidak menyerupai jalan Yahudi, Nasrani, maupun seluruh orang kafir.

Karena itulah dalam syariat kita terdapat perintah untuk menyelisihi orang-orang kafir dalam banyak perkara, di antaranya:

menyegerakan berbuka puasa,
mengakhirkan sahur,
shalat dengan memakai alas kaki apabila tempatnya memungkinkan,
menghadapkannya kubur kaum Muslimin ke arah Ka‘bah, berbeda dengan kubur orang kafir,
dan masih banyak lagi perkara lain yang diperintahkan agar kita menyelisihi dan tidak menyerupai mereka.
Bahkan dalam puasa hari ‘Āsyūrā’, kita dianjurkan berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya sebagai bentuk penyelisihan, padahal kita lebih berhak terhadap Nabi Musa daripada mereka, dan hari itu adalah hari Allah menyelamatkan Musa عليه السلام. Namun demikian, syariat tetap menekankan penyelisihan.
Sampai-sampai orang-orang Yahudi merasa sangat terganggu dan berkata:
“Tidaklah sahabat kalian (Muhammad) meninggalkan suatu perkara kecuali ia menyelisihi kami dalam perkara itu.”


MENYERUPAI ORANG KAFIR



Peringatan dari Menyerupai Orang Kafir dalam Hari Raya dan Ibadah Mereka
(Idul Valentine dan Yoga)


Disampaikan oleh:
Syaikh Dr. Khalid bin Dhahwi azh-Zhufairi – حفظه الله تعالى
Tempat:
Masjid As-Sa‘di, Al-Jahra

Waktu:
Jumat, 10 Rajab 1443 H
Februari 2022

(Kategori: Akidah)

Khutbah Pertama

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. 
Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. 
Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kita dan dari keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. 
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)

Amma ba‘du:

Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah memuliakan kita dengan Islam dan menjadikan kita sebagai pengikut penghulu seluruh manusia ﷺ. 

Barang siapa mengikuti petunjuk Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya, meninggikan sebutannya, dan memuliakan kedudukannya.

 Dan barang siapa mencari kemuliaan dengan selain Islam, niscaya Allah akan menghinakannya di dunia dan di akhirat.

“Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.”
(QS. Al-Munafiqun: 8)

Dan Allah Ta‘ala berfirman:
“Janganlah kalian merasa lemah dan jangan bersedih hati, padahal kalian paling tinggi (derajatnya) jika kalian beriman.”
(QS. Ali ‘Imran: 139)

Seorang hamba tidak membutuhkan dalam lahir dan batinnya untuk menoleh kepada selain agama ini, agama yang sempurna dalam akidah, akhlak, muamalah, dan ibadahnya.

“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka kemuliaan itu seluruhnya milik Allah.”
(QS. Fathir: 10)

Dan Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه berkata:
“Dahulu kita adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan kita dengan Islam. Maka kapan pun kita mencari kemuliaan dengan selain apa yang Allah muliakan kita dengannya, niscaya Allah akan menghinakan kita.”
(Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan dishahihkan olehnya)

Wahai hamba-hamba Allah:

Di antara bentuk kemuliaan Islam dan keistimewaannya dibanding agama-agama lain adalah meninggalkan sikap menyerupai musuh-musuh agama, dari kalangan orang-orang kafir, musyrik, dan penyembah berhala, dalam hal-hal yang menjadi kekhususan mereka, baik dalam keyakinan, perbuatan, penampilan, akhlak, maupun ucapan.

Karena itu, menyelisihi orang-orang musyrik adalah kewajiban besar atas kaum Muslimin. 
Namun banyak kaum Muslimin yang lalai dari hal ini, ketika mereka terfitnah oleh adat kebiasaan orang kafir yang bertentangan dengan Islam, oleh pakaian mereka, dan oleh penampilan mereka yang tidak ada kaitannya dengan ciri kaum Muslimin. 
Akhirnya, hal itu menyeret mereka untuk meniru sebagian akidah kekufuran, akhlak yang rendah, serta hari raya dan perayaan yang merupakan bagian dari agama dan keyakinan kufur mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
“Penyerupaan dan kesamaan dalam perkara-perkara lahiriah akan menimbulkan penyerupaan dan kesamaan dalam perkara-perkara batiniah, secara perlahan dan tersembunyi.”

Wahai hamba-hamba Allah:

Ketika seorang Muslim tidak memahami kesempurnaan agama yang ia anut, serta keindahan dan kemuliaan yang terkandung di dalamnya—dalam akidah, akhlak, dan amal—maka ia akan kalah dan terpesona dengan apa yang dibawa oleh Barat: 
adat, akhlak, dan prinsip yang sarat dengan kekufuran, pelecehan terhadap Allah Ta‘ala, dan seruan kepada kerusakan serta akhlak yang hina.
Ketika seorang Muslim tidak mengenal hakikat kebiasaan-kebiasaan tersebut dan keyakinan yang terkandung di dalamnya, ia mengira itu hanyalah gerakan, perayaan, atau tradisi biasa. 
Padahal hakikatnya, ia telah menyerupai mereka dalam kekufuran dan ritualnya, serta menyetujui perbuatan dan tata cara mereka.

Maka seorang Muslim wajib waspada, memahami perkara secara lahir dan batin, agar agamanya tetap selamat. 
Tidak ada sesuatu yang lebih berharga bagi seorang Muslim daripada keselamatan agamanya dari hal-hal yang dimurkai Allah Ta‘ala.

Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa perkara ini akan terjadi pada umat ini, sehingga semakin menuntut rasa takut dan kewaspadaan dari penyerupaan terhadap orang-orang kafir.

Dari Abu Sa‘id Al-Khudri رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai-sampai jika mereka masuk ke lubang biawak pun kalian akan mengikutinya.”
Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka Yahudi dan Nasrani?”
Beliau menjawab: “Lalu siapa lagi?”
(Muttafaq ‘alaih)

Wahai hamba-hamba Allah:

Kita melihat dan mendengar sebagian dari fenomena ini yang dilakukan oleh orang-orang lalai dan jahil. 

Di antaranya adalah apa yang akan terjadi beberapa hari lagi, yang disebut sebagai Hari Valentine pada pertengahan bulan Februari.

Mereka menamakannya hari cinta, padahal hakikatnya adalah hari maksiat, perzinaan, dan kehinaan. 
Mereka menyebarkan kerusakan dengan pakaian kebajikan.
Hakikat hari raya Nasrani-pagan ini adalah: 
Kaisar Claudius II melarang para tentara untuk menikah. Seorang rahib Nasrani bernama Valentine menentang keputusan ini dan menikahkan mereka secara sembunyi-sembunyi. 
Ketika perbuatannya terbongkar, ia dijatuhi hukuman mati.
Di penjara, ia jatuh cinta kepada putri sipir penjara, secara rahasia, karena ajaran Nasrani melarang para pendeta dan rahib menikah dan menjalin hubungan cinta. Namun karena keteguhannya pada agama Nasrani yang telah diselewengkan, kaisar menawarkan pengampunan dengan syarat ia meninggalkan Nasrani dan menyembah dewa-dewa Romawi, bahkan akan dijadikan kerabat istana. Namun ia menolak, sehingga dieksekusi pada 14 Februari tahun 270 M.
Sejak itu ia disebut Santo Valentine, dan hari tersebut diperingati sebagai Hari Santo Valentine. 
Inilah hari yang dirayakan oleh orang-orang yang menyerupai Nasrani tanpa mereka sadari. Maka betapa buruknya menyerupai orang Nasrani ini, dan betapa buruknya menghidupkan kenangannya oleh sebagian kaum Muslimin.
Di mana kecemburuanmu terhadap agamamu?

Di mana kemuliaanmu dengan akhlak, kesucian, dan kehormatanmu?

Aku ucapkan apa yang kalian dengar, dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untukku dan untuk kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya.

Amma ba‘du:

Aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah. 

Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjaganya, menolongnya, dan mencukupinya.

Wahai hamba-hamba Allah:

Allah Ta‘ala telah melarang kita menyerupai seluruh musuh Islam, terutama dalam perkara yang merupakan inti dari akidah dan ritual ibadah mereka. Di antaranya adalah yoga.

Sebagian orang jahil mencoba menampilkannya sebagai sekadar gerakan dan meditasi.

 Padahal hakikatnya, yoga adalah ibadah Hindu, yang bertujuan mengakhiri perjalanan ruh dan menyatukannya dengan Tuhan menurut keyakinan mereka.

 Yoga dibangun di atas pengingkaran kebangkitan dan hari pembalasan, serta keyakinan reinkarnasi ruh ke jasad lain setelah kematian.

Kalian mengetahui kebencian orang-orang Hindu terhadap kaum Muslimin, pembunuhan dan penyiksaan yang mereka lakukan. 

Namun ironisnya, sebagian dari kaum Muslimin justru menyerupai mereka dalam ritual-ritual tersebut.
Barang siapa menyerupai mereka, maka perbuatannya berada antara haram jika tidak bermaksud ibadah (karena termasuk tasyabbuh), dan kufur jika ia melakukannya dengan niat ibadah sesuai agama Hindu.

Wahai hamba-hamba Allah:

Hari raya kita sudah ada, agama kita adalah agama cinta, kasih sayang, dan rahmat.

 Olahraga yang mubah pun banyak. 
Maka janganlah kita merendahkan agama kita dan merelakan diri pada sesuatu yang dimurkai Rabb kita.

Waspadalah terhadap makar musuh-musuh agama dan usaha mereka menyebarkan pemikiran kaum ateis serta akhlak orang-orang rusak.

Ya Allah, tetapkanlah kami di atas agama-Mu, dan jauhkan kami dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi....

SIKAP MUSLIM TERHADAP PERAYAAN KUFFAR



Hari Raya Orang Kafir dan Sikap Seorang Muslim Terhadapnya

Penulis: Ibrahim bin Muhammad Al-Huqail

Dipublikasikan: 20 April 2025

Sesungguhnya banyak kaum Muslimin ikut berpartisipasi dalam perayaan-perayaan tersebut dengan anggapan bahwa itu adalah perayaan global yang menyangkut seluruh penduduk bumi.

 Mereka tidak menyadari bahwa merayakannya berarti merayakan syiar agama Nasrani yang telah diselewengkan.

Pertarungan antara Kebenaran dan Kebatilan
Pertarungan antara kebenaran dan kebatilan akan terus berlangsung selama dunia masih ada.

 Sebagian kelompok dari umat Muhammad ﷺ akan mengikuti ahli kebatilan dalam kebatilan mereka, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, Majusi, penyembah berhala, dan selain mereka. 

Di sisi lain, akan tetap ada segolongan umat yang teguh di atas kebenaran meskipun menghadapi tekanan dan gangguan.

Semua ini merupakan sunnatullah yang telah ditetapkan dan ditulis. Namun hal tersebut tidak berarti menyerah dan menempuh jalan orang-orang sesat. 

Karena Zat yang mengabarkan bahwa hal itu pasti terjadi, juga telah memperingatkan kita dari jalan tersebut, serta memerintahkan kita untuk tetap teguh di atas agama walaupun orang-orang yang menyimpang semakin banyak dan para pelaku penyimpangan semakin kuat.

Beliau ﷺ mengabarkan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang tetap istiqamah di atas kebenaran walaupun banyak penghalang, dan bahwa pada suatu masa orang yang beramal akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang yang beramal seperti para sahabat رضي الله عنهم, 
sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Tsa‘labah Al-Khusyani رضي الله عنه.¹
Akan ada dari umat Muhammad ﷺ orang-orang yang menyimpang dari kebenaran menuju kebatilan, melakukan perubahan dan penggantian. 
Hukuman mereka adalah dihalangi dari telaga (Al-Haudh) ketika orang-orang yang istiqamah mendatanginya dan meminum darinya. 

Nabi ﷺ bersabda:
“Aku adalah pendahulu kalian di telaga. 
Akan diangkat kepadaku beberapa orang dari kalian. Ketika aku hendak memberi mereka minum, mereka dijauhkan dariku. 
Aku berkata: ‘Wahai Rabbku, mereka adalah sahabatku!’ Maka dikatakan: ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan setelahmu.’”

Dalam riwayat lain: *“Celakalah orang-orang yang mengubah (ajaran) setelahku.”*²

Mengikuti Musuh Allah dalam Syiar Mereka
Di antara bentuk terbesar dari perubahan dan pengkhianatan terhadap agama Muhammad ﷺ adalah mengikuti musuh-musuh Allah dalam setiap perkara besar maupun kecil, dengan dalih kemajuan, peradaban, modernitas, serta slogan-slogan seperti toleransi, persaudaraan kemanusiaan, tatanan dunia baru, globalisasi, dan istilah-istilah indah yang menipu.

Seorang Muslim yang memiliki kecemburuan agama akan melihat penyakit berbahaya ini menyebar luas di tengah umat, kecuali yang dirahmati Allah.

 Mereka meniru kaum kafir bahkan dalam syiar agama mereka, khususnya hari raya, yang merupakan bagian dari syariat dan manhaj suatu agama.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dari kebenaran yang telah datang kepadamu. 
Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan syariat dan jalan.” (QS. Al-Ma’idah: 48)

Dan firman-Nya:

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan ibadah (hari raya) yang mereka lakukan.” (QS. Al-Hajj: 67)

Yakni, hari raya khusus bagi mereka.
Perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi
Banyak kaum Muslimin tertipu oleh kemegahan musuh-musuh Allah, khususnya kaum Nasrani, dalam perayaan besar mereka seperti hari kelahiran Al-Masih عليه السلام (Natal) dan Tahun Baru Masehi. 

Mereka menghadiri perayaan tersebut di negeri-negeri Nasrani, bahkan sebagian memindahkannya ke negeri-negeri Muslim—na‘udzubillah.

Banyak Muslim menganggapnya sebagai perayaan universal yang menyangkut seluruh penduduk bumi, padahal merayakannya berarti ikut serta dalam syiar agama Nasrani yang telah diselewengkan dan terkutuk, serta bergembira dengan syiar kekufuran dan keunggulannya. Hal ini sangat berbahaya bagi akidah dan iman seorang Muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda:

*“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”*³

Bagaimana lagi dengan orang yang ikut serta dalam syiar agama mereka?

Hal ini mewajibkan kita mengetahui hukum merayakan kedua hari raya tersebut, sikap yang seharusnya diambil oleh seorang Muslim, serta mengenal asal-usul dan ritualnya agar bisa dihindari dan diperingatkan darinya.

Natal (Christmas)
Hari Natal diperingati pada 25 Desember oleh mayoritas Nasrani, dan pada 29 Kihak menurut kalender Koptik. Perayaan ini telah dikenal sejak lama.

Al-Maqrizi berkata:

“Kami menjumpai perayaan Natal di Kairo dan seluruh wilayah Mesir sebagai perayaan besar, dijual lilin-lilin berhias yang mereka sebut lentera.”⁴

Pada hari itu, kehidupan hampir berhenti total: kantor, rumah sakit, toko, transportasi umum ditutup. 
Namun bar dan tempat minum khamr justru ramai, hingga banyak orang kehilangan akal dan kendali diri.
Perayaan ini bertujuan memperingati kelahiran Al-Masih menurut keyakinan mereka, disertai ibadah dan doa di gereja. 

Perayaan pertama kali dilakukan tahun 336 M, terpengaruh ritual pagan Romawi.
Tokoh Saint Nicholas lalu digantikan oleh Santa Claus (Papa Noel) sebagai simbol pemberi hadiah, khususnya bagi anak-anak.⁵

Banyak Muslim ikut terpengaruh, bahkan menjual dan membeli atribut Santa Claus, sehingga anak-anak Muslim mengenalnya—tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Mitos Santa Claus
Santa Claus digambarkan tinggal di Kutub Utara, mengendarai kereta luncur yang ditarik rusa, masuk rumah melalui cerobong asap, dan meletakkan hadiah di kaus kaki anak-anak. 
Orang tua sengaja memperkuat kebohongan ini agar anak-anak mempercayainya. (Al-Ahram, 3/1/1987)

Pohon Natal
Asal pohon Natal berasal dari peradaban pagan: Mesir kuno, Cina, dan bangsa Ibrani sebagai simbol keabadian. Kaum Eropa pagan menyembahnya, lalu tetap mempertahankannya setelah masuk Kristen. 
(Ensiklopedia Britannica, jilid 3 hlm. 284)

Apakah Isa عليه السلام Lahir pada Tanggal Itu?

Para sejarawan dan ensiklopedia menyatakan bahwa Isa tidak lahir pada tanggal tersebut. 
Tanggal 25 Desember sejatinya adalah hari raya pagan Romawi: *“Hari kelahiran matahari yang tak terkalahkan.”*⁶

Tahun Baru Masehi
Perayaannya sangat diagungkan, bahkan di sebagian negeri Muslim.

 Banyak Muslim bepergian ke negeri kafir untuk menikmatinya, terjerumus dalam syiar kekufuran dan kemaksiatan.

Malam Tahun Baru dipenuhi khurafat, seperti keyakinan bahwa minum gelas terakhir khamr membawa keberuntungan, atau membersihkan rumah akan membuang rezeki, dan lainnya.⁷

Hukum Menyerupai Orang Kafir dalam Hari Raya Mereka

Termasuk prinsip agung Islam adalah al-wala’ wal-bara’: loyal kepada Islam dan berlepas diri dari kekufuran.

Allah berfirman:

“Dan barang siapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai wali, maka ia termasuk golongan mereka.” (QS. Al-Ma’idah: 51)

Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

“Penyerupaan melahirkan kecintaan dan loyalitas dalam batin, sebagaimana kecintaan batin melahirkan penyerupaan lahiriah.”⁸

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

*“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”*¹⁰

Bentuk-Bentuk Tasyabbuh (Menyerupai kaum kufar)

Menghadiri perayaan mereka
Memindahkan perayaan mereka ke negeri Muslim
Meniru pakaian, makanan, dekorasi, hadiah
Memberi hadiah atau membantu perayaan mereka
Mengucapkan selamat hari raya
Menggunakan istilah dan simbol ritual mereka

Ibnu Qayyim رحمه الله berkata:

“Mengucapkan selamat atas syiar kekufuran adalah haram berdasarkan ijma‘, bahkan lebih besar dosanya daripada mengucapkan selamat atas minum khamr.”³⁰

Kesimpulan
Hari raya orang kafir adalah syiar agama mereka, dan haram bagi Muslim untuk ikut serta, meniru, membantu, atau mengagungkannya dalam bentuk apa pun. Sikap seorang Muslim adalah menjadikan hari-hari tersebut seperti hari biasa, tanpa perayaan, kegembiraan khusus, atau pengkhususan ibadah.

Sumber
Disadur dari: Islam Today (الإسلام اليوم)





PERAYAAN NON ISLAM




 Hari Raya Orang Kafir dan Menyerupai Kaum Homoseksual

Khalid Asy-Syāyi‘

25 Jumadal Ula 1443 H / 29 Desember 2021 M – 06.06 AM

Khutbah Pertama

(Hari Raya Orang Kafir dan Peringatan terhadap Kaum Homoseksual)
20/5/1443 H

Amma ba‘du, wahai sekalian manusia:

Sungguh Allah telah menganugerahkan karunia yang sangat besar kepada kaum Muslimin dengan menjadikan mereka sebaik-baik umat seluruhnya. 

Semua manusia selain mereka berada dalam kesesatan jalan, terombang-ambing dalam gelapnya kebodohan dan kekafiran, kecuali kaum Muslimin. 

Tidak ada satu nikmat pun yang lebih besar atas makhluk daripada nikmat mendapat hidayah kepada Islam.

Apabila seorang Muslim menoleh ke sekelilingnya, ia tidak akan mendapati kecuali: seorang Yahudi yang dimurkai, atau Nasrani yang sesat, atau penyembah berhala yang bodoh, atau ateis yang tersesat. 

Sementara seorang Muslim hidup dalam nikmat akal dan hidayah menuju fitrah yang lurus dan agama yang benar.

Akal orang-orang yang berakal pun tidak berhenti merasa heran ketika mereka melihat sebagian kaum Muslimin—atau orang-orang yang mengaku Islam—meniru orang-orang sesat yang telah disebutkan tadi, menyerupai mereka dan meneladani mereka dalam setiap perkara kecil maupun besar.

 Maka apa yang sebenarnya mereka cari?

“Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi mereka?

 Padahal sesungguhnya kemuliaan itu seluruhnya milik Allah.”

Namun apabila seorang Muslim mengetahui kabar dari Nabi ﷺ bahwa hal tersebut memang akan terjadi pada sebagian umat di akhir zaman, maka hilanglah rasa herannya.

 Lalu bagaimana mungkin seorang Muslim rela dirinya menjadi orang yang dimaksud dalam hadits tersebut?

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak pun, niscaya kalian akan mengikutinya.”
Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka Yahudi dan Nasrani?”
Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?”

Yang dimaksud dengan sunan adalah kebiasaan, tradisi, jalan hidup, dan cara menjalani kehidupan.

Sungguh sebagian kaum Muslimin telah menjadi pengekor Barat kafir, meniru mereka dalam segala hal, tanpa peduli apakah perkara itu haram menurut syariat dan dilarang, atau makruh dan lebih utama ditinggalkan, atau bahkan perkara remeh yang tidak layak untuk dikejar dengan segala upaya. 
Seakan-akan Rasulullah ﷺ hidup di tengah-tengah kita, menggambarkan kondisi umat dengan gambaran yang sangat tepat dan jelas.

Wahai hamba-hamba Allah:

Jelas sekali bahwa yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah mengikuti secara tercela. 

Keindahan bahasa Nabi ﷺ ketika menyebut lubang biawak adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. 
Lubang biawak dikenal sangat kotor dan hanya memiliki satu lubang, tidak seperti hewan lain yang membuat banyak lubang untuk mengelabui musuh dan melarikan diri darinya. 
Lubang biawak adalah kebinasaan yang pasti bila musuh mengepungnya.
Maka lubang biawak mengandung dua sifat: kekotoran yang nyata dan kebinasaan yang pasti. 
Namun demikian, kaum Muslimin akan tetap mengikuti Yahudi dan Nasrani dalam segala hal, bahkan dalam perkara yang kotor dan membinasakan. 
Demi Allah, inilah musibah yang telah meluas di tengah umat.

Wahai kaum Muslimin:

Barang siapa memperhatikan kondisi pada tingkat negara dan kelompok, niscaya ia akan melihat ketergantungan dan peniruan. 
Bahkan pada tingkat individu pun hal itu tampak jelas.

 Misalnya, ketika seorang aktor Yahudi atau Nasrani memanjangkan jenggotnya, maka sebagian pemuda Muslim ikut-ikutan memanjangkan jenggotnya hanya karena menirunya. 

Jika ia memotong rambutnya dengan model tertentu, mereka pun segera meniru model rambut tersebut.

Bahkan di antara pemuda Muslim ada yang meniru orang Yahudi dan Nasrani dalam warna pakaian dan model jahitannya. 

Demikian pula kaum wanita—bahkan mereka lebih fanatik—dalam mengikuti wanita-wanita kafir dalam mode pakaian, membuka aurat, dan tarian, padahal semua itu telah jelas keharamannya.

Wahai hamba-hamba Allah:

Menyerupai orang-orang kafir dalam pakaian, gerakan, ucapan, kebiasaan, dan hari raya mereka sangat berbahaya bagi akidah seorang Muslim.

 Orang yang menyerupai mereka dikhawatirkan akan termasuk bagian dari mereka.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”

Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

 “Paling ringan dari konsekuensinya adalah haram, jika orang yang menyerupai itu selamat dari kekafiran—na‘udzubillah.”

Maka marilah kita berpegang teguh pada agama dan nilai-nilainya serta merasa bangga dengannya. 

Tidak ada agama di dunia ini yang sebanding dengan agama kita. Waspadalah dari tergelincir ke dalam jurang kelemahan dan peniruan, karena hal itu adalah pelepasan diri dari agama secara bertahap.

Sungguh telah banyak nash syar‘i yang memperingatkan dari bahaya tergelincir ini, karena dampaknya yang sangat besar terhadap akidah seorang Muslim. 

Jika engkau memahami hal ini, engkau akan mengetahui rahasia mengapa Allah سبحانه وتعالى memberikan peringatan keras dari mengikuti dan menyerupai Yahudi, Nasrani, dan selain mereka. 

Allah memerintahkan agar menyelisihi dan menjauhi mereka sejauh-jauhnya, serta meneladani hamba-hamba-Nya yang saleh dalam lahiriah dan akhlak mulia, agar hati dan jiwa kita tercelup dalam kebaikan tersebut sehingga kita menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk dan beruntung.

Kita memohon kepada Allah agar memberi hidayah kepada kaum Muslimin—laki-laki dan perempuan, anak-anak lelaki dan perempuan—serta menjauhkan kita dari segala fitnah, yang tampak maupun yang tersembunyi.

Aku berkata demikian, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian.



Khutbah Kedua

Amma ba‘du, wahai sekalian manusia:

Di antara kejahatan yang berulang setiap tahun menimpa kaum Muslimin adalah merayakan hari raya orang-orang kafir dan mengucapkan selamat kepada mereka. 

Hal ini haram secara syariat, merupakan kekurangan dalam akidah, dan cela terhadap Rabb سبحانه وتعالى.

 Mereka merayakan keyakinan bahwa Allah mempunyai anak—Mahasuci Allah dari perkataan mereka setinggi-tingginya. Maka waspadalah wahai saudaraku Muslim dari terjerumus dalam perbuatan tersebut.

Di antara keburukan lain yang telah sampai kepada kaum Muslimin adalah fenomena yang disebut kaum homoseksual, yaitu orang-orang yang menyelisihi fitrah: laki-laki menyetubuhi laki-laki, dan perempuan menyetubuhi perempuan. 
Sangat disayangkan, terdapat kampanye besar-besaran untuk menyebarkan perilaku ini, bahkan pada tingkat internasional.

Negeri kita—semoga Allah menjaganya—telah menunjukkan sikap yang terpuji dengan menolak prinsip dan pemikiran ini karena bertentangan dengan fitrah.

 Namun yang patut diperhatikan adalah tersebarnya bendera kaum homoseksual yang menyerupai warna-warna apa yang mereka sebut sebagai “pelangi”, demikian pula pada pakaian dan mainan anak-anak.

Maka waspadalah wahai saudaraku Muslim dari terjerumus dalam hal ini. Bertakwalah kepada Allah wahai para pedagang, janganlah kalian mendatangkan kebatilan-kebatilan ini, dan jangan menjadi orang yang menjual agamanya dengan kenikmatan dunia yang sedikit.

Wahai manusia:

Bagaimana seorang hamba dapat menjaga diri agar tidak terjatuh dalam meniru orang-orang kafir dan mengikuti jalan mereka?

Jawabannya mudah, namun mengamalkannya itulah yang berat.

 Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain yang mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu Dia wasiatkan kepadamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-An‘am: 153)

Dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Jami‘-nya dari Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Rasulullah ﷺ memberi kami nasihat setelah shalat Subuh, nasihat yang sangat menyentuh hingga membuat mata berlinang dan hati bergetar. 
Lalu seseorang berkata: “Wahai Rasulullah, ini seperti nasihat perpisahan, maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami?”
Beliau ﷺ bersabda:

“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyi. Sesungguhnya barang siapa hidup setelahku akan melihat banyak perselisihan. 
Maka jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama), karena sesungguhnya itu adalah kesesatan. 
Barang siapa menjumpai hal tersebut, maka wajib baginya berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.”

Ya Allah, ilhamkan kepada kami petunjuk-Mu dan lindungilah kami dari keburukan diri kami sendiri, wahai Rabb seluruh alam.


BAHAYA MENYERUPAI ORANG KAFIR


 Bahaya Menyerupai Orang Kafir dan Berpartisipasi dalam Hari Raya Mereka

Oleh: Abdurrahman as-Suhaim

15 Jumadal Akhirah 1445 H / 28 Desember 2023 M


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah dengan pujian orang-orang yang bersyukur, dan kami memuji-Nya dengan pujian orang-orang yang memuji. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagai persaksian orang yang mengharapkan keridaan-Nya di dunia dan akhirat. 

Dan aku bersaksi bahwa Nabi dan junjungan kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, pilihan dan kekasih-Nya, manusia paling mulia dalam berdzikir dan paling jujur dalam bersyukur. 

Semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, kepada keluarga dan para sahabatnya, yang tidaklah bertambah dunia terbuka bagi mereka dan nikmat bertubi-tubi kecuali semakin menambah rasa syukur kepada Sang Pemberi nikmat.

Amma ba‘du,

Bertakwalah kalian kepada Allah Ta‘ala dan taatilah Dia, istiqamahlah di atas perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya. Sesungguhnya dunia, betapapun indah bagi para pencintanya, betapapun menghias diri bagi para pengejarnya, dan betapapun besar di mata para pemujanya, pasti akan lenyap. 

Mereka akan meninggalkannya dengan kematian, dan akan menemui amal-amal mereka:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihatnya.”

Wahai hamba-hamba Allah,

 sungguh Allah telah menyempurnakan agama ini dan meridai Islam sebagai agama, serta menyempurnakan nikmat-Nya atas kaum muslimin:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.”

Maka umat ini menjadi umat terbaik karena Islam. 

Dan telah maklum secara pasti bahwa kebaikan ini bersumber dari kesempurnaan agamanya, kemurnian akidahnya, dan keadilan syariatnya. 

Tidak ada kemuliaan kecuali dengannya, tidak akan tercapai keluhuran kecuali dengannya, bahkan tidak ada keselamatan dunia dan akhirat kecuali melalui jalannya. 

Manusia sangat membutuhkan agama ini melebihi kebutuhan mereka terhadap makanan dan udara.

Allah سبحانه وتعالى telah mencukupkan kaum muslimin dengan syariat yang sempurna, mencakup seluruh kemaslahatan agama dan dunia. 

Allah menggantungkan kebahagiaan dunia dan akhirat pada pengamalan dan keteguhan berpegang padanya.

 Allah berfirman:

“Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”

Dan firman-Nya:

“Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih.”

Syariat ini adalah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. 

Adapun yang menyelisihinya adalah jalan orang-orang yang dimurkai dan sesat, dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrikin.

Setiap rakaat shalat kita memohon kepada Allah agar diberi petunjuk ke jalan yang lurus dan dijauhkan dari jalan orang-orang yang dimurkai dan sesat. 

Maka hendaklah kita renungkan doa ini, tujuan dan buahnya. 

Allah berfirman:

“Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain yang mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.”

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Sesungguhnya kita adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka jika kita mencari kemuliaan dengan selainnya, Allah akan menghinakan kita.”

Wahai saudara-saudara seiman,..

Orang yang menelaah nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah akan mendapati larangan yang sangat jelas dan tegas terhadap menyerupai orang-orang kafir dalam hal apa pun yang menjadi ciri khas mereka, baik dalam ibadah, muamalah, akhlak, kebiasaan, pakaian, gaya rambut, maupun penampilan. 

Naskah syariat tentang hal ini sangat banyak.

Allah berfirman:

“Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan (agama), maka ikutilah ia dan jangan ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”

Dan firman-Nya:

“Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah sesat sebelumnya, menyesatkan banyak orang, dan menyimpang dari jalan yang lurus.”

Rasulullah ﷺ sering bersabda:

“Selisihilah kaum musyrikin,” “Selisihilah kaum Majusi,” “Selisihilah kaum Yahudi,” “Selisihilah Ahli Kitab.”

Beliau ﷺ senantiasa bermaksud menyelisihi mereka dalam segala keadaan.

Bahkan orang-orang Yahudi menyadari hal ini hingga mereka berkata:

“Orang ini tidak ingin meninggalkan satu pun urusan kami kecuali dia menyelisihinya.” (HR. Muslim)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Syaikhul Islam berkata:

“Hadis ini minimal menunjukkan keharaman menyerupai mereka, bahkan zhahirnya menunjukkan kekufuran orang yang menyerupai mereka, sebagaimana firman Allah:

 ‘Barang siapa menjadikan mereka sebagai wali, maka ia termasuk golongan mereka.’”

Banyaknya larangan ini menunjukkan bahaya besar, sebab dikhawatirkan ritual dan simbol kekufuran merembes ke dalam kehidupan kaum muslimin hingga menjadi kebiasaan atau bahkan ibadah.

 Persamaan dalam kebiasaan akan menuntun pada persamaan dalam syiar, dan kelonggaran dalam perkara kecil akan menyeret kepada perkara besar, hingga seorang muslim terlepas dari agamanya tanpa ia sadari, terutama jika disertai kekaguman terhadap peradaban mereka.

Menyerupai mereka dalam hal yang khas akan melahirkan rasa cinta, kedekatan, dan loyalitas kepada musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya. 

Syaikhul Islam berkata:

“Keserupaan dalam penampilan lahiriah akan melahirkan keserupaan batin dalam akhlak dan perbuatan, dan ini perkara yang nyata.”

Di zaman ini terlihat jelas upaya musuh-musuh Islam untuk memadamkan cahaya agama dan memutus hubungan kaum muslimin dengan agamanya, agar seorang muslim hanya tinggal namanya saja. 

Allah berfirman:

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, namun Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya.”

Dan Allah memperingatkan dari loyalitas kepada mereka:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai wali.”

Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa umat ini akan mengikuti jejak umat-umat sebelumnya sejengkal demi sejengkal.

 Hal itu telah nyata terjadi, muncul generasi yang hina, terjajah, gemar meniru orang kafir hingga membawa pada kehancuran moral, kebebasan tanpa batas, pergaulan bebas, membuka aurat, laki-laki memakai perhiasan wanita, memelihara anjing, dan berbagai bentuk ketundukan buta lainnya.

Mereka lupa bahwa kemuliaan sejati hanya dengan Islam.

 Allah berfirman:

“Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.”

Aku berkata sebagaimana yang kalian dengar, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan kalian.



Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan penuh berkah. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. 

Sesungguhnya semakin tampak penyerupaan dengan orang kafir, semakin besar bahayanya bagi agama. 
Dan berpartisipasi dalam hari raya orang kafir adalah puncak penyerupaan dan bentuk paling berbahaya, karena hari raya adalah syiar agama paling nyata.

Di akhir tahun Masehi, kaum Nasrani merayakan berbagai hari raya, di antaranya Natal, yang mereka yakini sebagai kelahiran Nabi Isa ‘alaihis salam. 

Bagaimana mungkin seorang muslim merusak akidah tauhidnya dengan ikut merayakan atau mengucapkan selamat atas keyakinan bahwa Allah memiliki anak?!

Hari raya adalah perkara agama dan akidah, bukan adat duniawi. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.”

Para sahabat tidak pernah ikut merayakan hari raya Yahudi, Nasrani, maupun Majusi, meskipun hidup berdampingan dengan mereka. 

Ini menunjukkan ijma‘ ulama tentang haramnya berpartisipasi, meniru, menampakkan kegembiraan, atau mengucapkan selamat atas hari raya orang kafir.

Ibnu Qayyim رحمه الله berkata:

“Memberi ucapan selamat atas syiar kekufuran adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama, seperti mengucapkan selamat atas hari raya mereka. Jika pelakunya selamat dari kekufuran, maka itu tetap termasuk dosa besar.”

Namun perlu dibedakan antara larangan menyerupai mereka dalam akidah dan ibadah, dengan bolehnya mengambil ilmu dan teknologi yang bermanfaat. 
Hikmah adalah barang hilang milik orang beriman.

Adapun berbuat baik, adil, dan bermuamalah dengan non-muslim yang tidak memerangi kaum muslimin bukan termasuk loyalitas terlarang,

 sebagaimana firman Allah:

“Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam agama.”

Tetapi tidak ada seorang ulama pun yang membolehkan ucapan selamat atas hari raya agama mereka.

Bershalawatlah atas Nabi kalian....

Ya Allah, muliakan Islam dan kaum muslimin, tolonglah saudara-saudara kami di Gaza dan di seluruh penjuru dunia...