فأول ما ينبغي أن يعرف هذا الأصل، وإن كان من حيث الترتيب عند كثير من أهل العلم يذكر القدر متأخراً عن التوحيد، وعن الإيمان بالله واليوم الآخر، والإيمان بالكتب والرسل والملائكة، لأنه جاء في حديث جبريل أن النبي صلى الله عليه وسلم ذكره آخر أركان الإيمان. تقديمه باعتبار أنه متقدم من حيث الزمن، فإن الله قدر مقادير الصلاة قبل وجود الخلائق وقبل أن يشرع لهم التشريع. ولا مشاحة في الاصطلاح، سواء قدم القدر أو غيره، فلا تسريب في ذلك ولا يشدد في هذا.
Hal pertama yang harus diketahui adalah pokok ini, meskipun dari segi urutan menurut banyak ulama disebutkan takdir setelah tauhid, dan iman kepada Allah dan hari akhir, dan iman kepada kitab-kitab, rasul-rasul, dan malaikat, karena dalam hadits Jibril bahwa Nabi Muhammad ﷺ menyebutkannya sebagai rukun iman yang terakhir. Diajukan dengan pertimbangan bahwa itu lebih awal dari segi waktu, karena Allah telah menetapkan takdir shalat sebelum adanya makhluk dan sebelum Dia mensyariatkan hukum untuk mereka. Tidak ada masalah dalam istilah, apakah takdir disebutkan terlebih dahulu atau yang lainnya, tidak ada celaan dalam hal ini dan tidak perlu terlalu keras.
قال: "أن يؤمن الرجل بالقدر خيره وشره". هذا الأول، وهو أن يؤمن الرجل، وقوله: "الرجل" هنا على سبيل التغليب، وإلا فالأمة كلها مخاطبة من الرجال والنساء، من الإنس والجن، من العرب والعجم، كلهم مخاطبون بهذا الدين. "أن يؤمن الرجل بالقدر خيره وشره".
Dikatakan: "bahwa seseorang beriman kepada takdir, baik dan buruknya." Ini yang pertama, yaitu bahwa seseorang beriman, dan kata "seseorang" di sini digunakan secara umum, karena seluruh umat baik laki-laki dan perempuan, manusia dan jin, Arab dan non-Arab, semuanya ditujukan dengan agama ini. "bahwa seseorang beriman kepada takdir, baik dan buruknya."
القدر هو ما قدره الله بناء على علمه السابق من مقادير الخلائق قبل خلق المخلوقات وقبل وجود الكائنات. كما جاء في الحديث: "أن الله لما خلق القلم قال له: اكتب. قال: ما أكتب؟ قال: اكتب ما هو كائن إلى قيام الساعة". فجرى بالمقادير.
Takdir adalah apa yang Allah tetapkan berdasarkan ilmu-Nya yang sebelumnya mengenai takdir makhluk sebelum penciptaan makhluk dan sebelum adanya keberadaan. Sebagaimana dalam hadits: "Ketika Allah menciptakan pena, Dia berkata kepadanya: tulislah. Pena berkata: Apa yang harus saya tulis? Allah berkata: tulislah apa yang akan terjadi sampai hari kiamat." "Maka semuanya berjalan sesuai dengan takdir.
من أصول السنة الإيمان بالقدر، والقدر يُذكر منفرداً عن القضاء ويُذكر مقترناً بالقضاء. فيقال: الإيمان بالقضاء والقدر، ويقال: الإيمان بالقدر. وهذا على سبيل الانفراد، ويقال أيضاً على سبيل الانفراد: الإيمان بالقضاء. والفرق بين القضاء والقدر أن القدر هو تقدير الله السابق لمقادير المخلوقات قبل وجودها وقبل برئها. وأما القضاء فهو تنفيذ التقدير بظهوره من التقدير إلى الوجود. ولهذا فالقضاء هو خلق الله وإيجاده لما قدره في الأزل من الذوات والأفعال.
Salah satu prinsip as-sunnah adalah iman kepada takdir, dan takdir disebutkan secara terpisah dari qadha dan juga disebutkan bersama dengan qadha. Maka dikatakan: iman kepada qadha dan takdir, dan dikatakan: iman kepada takdir. Ini secara terpisah, dan juga dikatakan secara terpisah: iman kepada qadha. Perbedaan antara qadha dan takdir adalah bahwa takdir adalah ketetapan Allah sebelumnya mengenai takdir makhluk sebelum adanya dan sebelum penciptaannya. Sedangkan qadha adalah pelaksanaan ketetapan dengan munculnya dari takdir menjadi kenyataan. Oleh karena itu, qadha adalah penciptaan yang dilakukan oleh Allah dan perwujudannya terhadap apa yang telah Dia tetapkan sejak azali (yang abadi tanpa ada awalnya) dari dzat dan perbuatan. (bisa dikatakan maknanya:
• Takdir (القدر) adalah ketetapan Allah yang sudah ditentukan sejak awal mengenai segala sesuatu yang akan terjadi pada makhluk sebelum mereka diciptakan dan sebelum adanya alam semesta.
• Qadha (القضاء) adalah pelaksanaan atau realisasi dari ketetapan tersebut, yaitu ketika ketetapan itu muncul menjadi kenyataan dalam bentuk penciptaan dan kejadian di alam nyata)
فإذا قدر الله في الأزل أن هذا الرجل يولد له هذا الابن، فهذا موجود في القدر قبل أن يوجد هذا الرجل وقبل أن توجد الزوجة وقبل أن يتزوج.
Maka jika Allah menetapkan sejak azali bahwa seseorang akan memiliki anak ini, maka ini sudah ada dalam takdir sebelum keberadaan orang tersebut dan sebelum adanya istri dan sebelum dia menikah.
فهذا وجود في التقدير، أن هذا يُقدر له أن يكون له من الولد كذا وكذا. فإذا قضى الله بذلك وتزوج وولد الولد الأول، فهذا قضاء بالتقدير بخلق الابن الأول، وهكذا الثاني والثالث. فالقضاء هو خلق الله للمخلوقات وإيجاده للأفعال. لأن القضاء ليس هو فقط للذوات، بل حتى للأفعال.
Maka ini ada dalam takdir, bahwa seseorang ditetapkan memiliki anak sekian dan sekian. Jika Allah memutuskan qadha’ hal tersebut dan orang itu menikah lalu melahirkan anak pertama, maka ini adalah qadha dengan taqdir penciptaan anak pertama, dan begitu seterusnya dengan anak kedua dan ketiga. Maka qadha adalah penciptaan yang dilakukan oleh Allah terhadap makhluk dan perwujudannya terhadap perbuatan. Karena qadha bukan hanya untuk berlaku dzat, tetapi juga untuk perbuatan.
ولهذا نقول فيما يقع من الأمور: هذا قضاء الله، يعني أن الله قضى به وقدره. فهذا كل من القضاء والقدر، لكن إذا ذُكر القدر منفرداً دخل فيه القضاء، وإذا ذُكر القضاء منفرداً دخل فيه القدر. الكلمات التي يقول فيها العلماء: "إذا اجتمعت افترقت، وإذا افترقت اجتمعت"، كالإسلام والإيمان، والفقير والمسكين، ومنها القضاء والقدر.
Oleh karena itu, kami mengatakan dalam hal-hal yang telah terjadi: ini adalah qadha Allah, artinya Allah memutuskan qadha’ dan mentaqdirkannya. Maka ini semua adalah qadha dan takdir, tetapi jika takdir disebutkan secara terpisah, qadha juga termasuk di dalamnya, dan jika qadha disebutkan secara terpisah, takdir juga termasuk di dalamnya. Kata-kata yang dikatakan para ulama: "Jika keduanya disebut bersama, maka keduanya memiliki makna yang berbeda; namun jika disebut secara terpisah, maka keduanya mencakup makna yang sama." , seperti penyebutan Islam dan iman, fakir dan miskin, dan termasuk hal tersebut adalah qadha dan takdir. (bisa dikatakan dua istilah dapat memiliki makna yang lebih spesifik ketika disebut bersama-sama, namun mencakup makna satu sama lain ketika disebut secara terpisah.)
قوله: "بالقدر خيره وشره" أي بما قدره الله عز وجل ووجد من الخير والشر، مما يحب ويكره، مما يسر ويحزن، كل ذلك بقدر الله. قدر النعم وما يفرح به الناس من الأرزاق، وقدر المصائب والبلاء وما يحزن له الناس من مر القضاء، كل ذلك مقدر بناء على علم الله السابق. فيجب الإيمان بهذا كله.
Kata-katanya: "dengan takdir baik dan buruknya" yaitu dengan apa yang Allah tetapkan dan terjadi dari kebaikan dan keburukan, dari apa yang disukai dan dibenci, dari apa yang menyenangkan dan menyedihkan, semuanya adalah takdir Allah. Dia menetapkan nikmat dan apa yang membuat orang bahagia dari rezeki, dan menetapkan musibah dan cobaan serta apa yang membuat orang sedih dari ketentuan Allah, semuanya ditetapkan berdasarkan ilmu Allah yang sebelumnya. Maka wajib beriman kepada semuanya ini.
وقد انحرفت في هذا الباب بعض الطوائف، القدرية والجبرية. القدرية قالوا إن الله يقدر الخير، ولكنه لا يقدر الشر، ولا يقدر المعاصي، لأنه لو قدرها وعاقب عليها لكان هذا ظلماً. وقالوا: إن نقول إن الله لا يقدر الذنوب، ولو قدرها لكان هذا معارضاً للشرع. فكيف يأمر بالطاعات وينهى عن المعاصي ثم يقدر المعاصي؟ فعارضوا بين الشرع والقدر.
Beberapa golongan telah menyimpang dalam hal ini, yaitu Qadariyah dan Jabariyah. Qadariyah mengatakan bahwa Allah menetapkan kebaikan, tetapi tidak menetapkan keburukan, dan tidak menetapkan maksiat, karena jika Dia menetapkannya dan menghukum atasnya maka ini adalah ketidakadilan. Mereka mengatakan: kita mengatakan bahwa Allah tidak menetapkan dosa, jika Dia menetapkannya maka ini bertentangan dengan syariat. Bagaimana Dia memerintahkan ketaatan dan melarang maksiat kemudian menetapkan maksiat? Mereka mempertentangkan antara syariat dan takdir.
ويقابلهم الجبرية، قالوا إن كل ما يقع هو بتقدير الله، فكما أن أولئك غلوا في الشرع وعارضوا به القدر وعطلوا القدر، فهؤلاء غلوا في القدر وأبطلوا به الشرع، فقالوا: كل ما يقع من الشرور والآثام والبلاء كله من الله، وأنكروا أن يكون العبد هو فاعل الشر، أو أن العبد هو العاصي. قالوا: بل إن الناس مجبورون على أفعالهم. قالوا: وعندما نقول: فلان فعل، فهو من قبيل قولنا: سال الوادي. فالوادي لم يحصل منه فعل، ولكن لجريان الماء فيه قلنا: سال الوادي. فكذلك الإنسان ليس له فعل، بل لكون الله خلق هذا الفعل فيه قلنا: فعل. وإلا هو ليس فاعلاً، مثلما نقول: أمطرت السماء، السماء لم تمطر، ولكن أنزل الله المطر منها، والوادي لم يفعل ولكن جرى الماء فيه.
Sebaliknya Jabariyah mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah dengan ketetapan Allah, sebagaimana golongan tersebut berlebihan dalam syariat dan menentang takdir serta menolak takdir, maka golongan ini berlebihan dalam takdir dan menolak syariat, mereka mengatakan: semua yang terjadi dari keburukan dan dosa serta cobaan semuanya dari Allah, mereka menyangkal bahwa hamba adalah pelaku keburukan atau hamba adalah yang berbuat dosa. Mereka mengatakan: manusia terpaksa atas perbuatan mereka. Mereka mengatakan: ketika kita mengatakan: seseorang melakukan, ini seperti kita mengatakan: sungai mengalir. Sungai tidak melakukan apa-apa, tetapi karena air mengalir di dalamnya maka kita mengatakan: sungai mengalir. Begitu juga manusia tidak memiliki perbuatan, tetapi karena Allah menciptakan perbuatan tersebut di dalamnya maka kita mengatakan: melakukan. Sebenarnya dia tidak melakukan, seperti kita mengatakan: langit menurunkan hujan, langit tidak menurunkan hujan, tetapi Allah menurunkan hujan dari langit, sungai tidak melakukan apa-apa tetapi air mengalir di dalamnya.
وهذا ضلال، كما أن مسلك القدرية ضلال. والذي عليه أهل السنة أن الله قدر كل شيء، فقدر الخير والشر، وقدر الطاعات والمعاصي، والعبد هو الفاعل للخير والشر. وقالوا: نحن لا نعارض بين القدر والشرع. فالله مقدر لكل ما يقع في الوجود، ولكن من حكمته أنه لما أمر الناس بالدين أعطاهم القدرة على أن يطيعوا أو يعصوا. فمن أراد الطاعة يسرها له، ومن أراد المعصية يسرها له، كما جاء في الحديث: " كلٌّ مُيَسَّرٌ لِما خُلِقَ لهُ ".
Ini adalah kesesatan, sebagaimana jalan Qadariyah adalah kesesatan. Yang dipegang oleh Ahlus Sunnah adalah bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu, baik dan buruk, ketaatan dan maksiat, dan hamba adalah pelaku kebaikan dan keburukan. Mereka mengatakan: kita tidak mempertentangkan antara takdir dan syariat. Allah menetapkan segala yang terjadi di alam semesta, tetapi dari hikmah-Nya bahwa ketika Dia memerintahkan manusia dengan agama, Dia memberi mereka kemampuan untuk taat atau maksiat. Barangsiapa yang menginginkan ketaatan, Allah memudahkan baginya, dan barangsiapa yang menginginkan maksiat, Allah memudahkan baginya, sebagaimana dalam hadits: " Setiap orang dimudahkan beramal sesuai dengan tujuan diciptakannya." " (HR. Al-Bukhari no. 7551 dan Muslim no. 2649)
ولا نقول إن الله هو الفاعل للخير والشر الذي قام في الإنسان، فالإنسان هو الفاعل في الصلاة، هو المصلي، ولا نقول الله هو المصلي. والعبد هو الصائم والعبد هو الذاكر، والله هو الذي خلق هذا الفعل فيه. وكذلك نقول: العبد هو الفاعل للمعاصي، ولا يقال إن الله تعالى عن ذلك فعل هذه الذنوب، لكنه قدّرها وأعطى العبد القدرة عليها.
Kita tidak mengatakan bahwa Allah adalah pelaku kebaikan dan keburukan yang ada pada manusia, manusia adalah pelaku dalam shalat, dia yang shalat, dan kita tidak mengatakan Allah yang shalat. Hamba yang berpuasa dan hamba yang berdzikir, dan Allah yang menciptakan perbuatan ini di dalamnya. Begitu juga kita mengatakan: hamba adalah pelaku maksiat, dan tidak dikatakan bahwa Allah yang melakukan dosa-dosa ini, tetapi Dia telah menetapkannya dan memberi hamba kemampuan untuk melakukannya.
شرح أصول السنة
للإمام الحميدي رحمه الله
مع فضيلة الشيخ الأستاذ الدكتور إبراهيم بن عامر الرحيلي حفظه الله تعالى
فلا قدرة لأحد من الناس على الطاعة والمعصية إلا بمشيئة الله، كما قال الله عز وجل: " لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ". فأهل السنة وسط بين القدرية والجبرية. يقولون إن الله عز وجل قدر المقادير.
Tidak ada seorang pun dari manusia yang memiliki kemampuan untuk taat dan maksiat kecuali dengan kehendak Allah, seperti firman Allah Azza wa Jalla: "Bagi siapa di antara kalian yang menghendaki untuk beristiqamah. Dan kalian tidak dapat menghendaki (kehendak itu) kecuali bila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (QS. At-Takwir: 28-29) Maka, Ahlus Sunnah berada di tengah-tengah antara Qadariyyah dan Jabariyyah. Mereka mengatakan bahwa Allah Azza wa Jalla telah menetapkan takdir.
وهنا مسألة، فإن قيل: إن الله قدر الشر. نقول: الشر في القدر جاء على إحدى ثلاث طرائق، كما ذكر شيخ الإسلام ابن تيمية.
إما أن يُضاف إضافة عامة لله تبارك وتعالى فيُقال: اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ.، ودخل في عموم شيء هنا كل الأفعال من الطاعات والمعاصي، والخير والشر.
وإما أن يُضاف لما لم يُسمّ فاعله، كما قالت الجن: "وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا".
وإما أن يُضاف إلى الإنسان الذي فعل الشر، كما في قوله تعالى: " مِن شَرِّ مَا خَلَقَ "، أي من شر المخلوق الذي خلق.
Ada sebuah pertanyaan di sini, jika dikatakan bahwa Allah menetapkan kejahatan. Kita katakan bahwa kejahatan dalam takdir terjadi dengan salah satu dari tiga cara, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat 728 H).
Pertama, ditambahkan secara umum kepada Allah Azza wa Jalla, dikatakan: Allah pencipta segala sesuatu. (QS. Az-Zumar: 62), dan masuk dalam kategori segala sesuatu di sini adalah semua perbuatan, baik ketaatan maupun kemaksiatan, kebaikan maupun kejahatan.
Kedua, ditambahkan kepada sesuatu yang tidak disebutkan pelakunya, seperti yang dikatakan oleh jin: "Dan kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang-orang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki bagi mereka petunjuk." (QS. Al-Jinn: 10)
Ketiga, ditambahkan kepada manusia yang melakukan kejahatan, seperti dalam firman Allah: "Dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan," (QS. Al-Falaq: 2) yaitu dari kejahatan makhluk yang diciptakan.
ومن ذلك قول النبي صلى الله عليه وسلم: " أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ؛ ". فالشر هنا أضيف للإنسان، شر النفس، شر الشيطان. ولا يُضاف الشر إلى الله على سبيل الاستقلال والانفراد، ولذا قال النبي صلى الله عليه وسلم: " وَالْخَيْرُ كُلُّهُ في يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ ليسَ إلَيْكَ ".
Begitu pula dengan sabda Nabi ﷺ: "Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, dan dari kejahatan syaitan serta tipu dayanya." (HR. Al-Bukhari dalam Shohih al Adabul Mufrad no. 913, Abu Dawud no. 5067, at-Tirmidzi no. 3392, an-Nasai no. 7699 dan Ahmad no. 7961). Jadi, kejahatan di sini ditambahkan kepada manusia, kejahatan diri, kejahatan syaitan. Kejahatan tidak ditambahkan kepada Allah secara independen dan eksklusif, oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: "Dan seluruh kebaikan ada di tangan-Mu, dan kejahatan bukan dari-Mu" (HR. Muslim no. 771) (tambahan maknanya: semua kebaikan berasal dari Allah, dan kejahatan tidak disandarkan kepada-Nya secara mutlak. Allah adalah sumber dari segala kebaikan, dan segala sesuatu yang baik ada di bawah kehendak-Nya. Sementara itu, kejahatan tidak disandarkan kepada Allah secara langsung karena Allah tidak menciptakan kejahatan murni. Kejahatan yang terjadi di dunia adalah bagian dari ujian dan cobaan yang memiliki hikmah di baliknya. Segala sesuatu yang terjadi memiliki tujuan dan alasan yang bijaksana, meskipun kita sebagai manusia mungkin tidak selalu bisa memahaminya.)
فالشر لا يُضاف لله عز وجل على سبيل الانفراد. قال العلماء: لماذا لا يُضاف الشر إلى الله على سبيل الانفراد مع أن القدر متضمناً للشر؟ لأن الشر الذي هو موجود في القدر ليس هو الشر المحض، وإنما هو الشر الجزئي. لو نظرنا إلى القسمة في الأشياء باعتبار الخير والشر: إما أن تكون من الخير المحض، أو من الشر المحض، أو من الخير الجزئي الذي هو باعتبار شر جزئي.
Maka, kejahatan tidak ditambahkan kepada Allah Ta’ala secara independen. Para ulama berkata: Mengapa kejahatan tidak ditambahkan kepada Allah secara independen meskipun takdir mengandung kejahatan? Karena kejahatan yang ada dalam takdir bukanlah kejahatan murni, melainkan kejahatan sebagian. Jika kita melihat pembagian dalam hal-hal berdasarkan kebaikan dan kejahatan: bisa berupa kebaikan murni, atau kejahatan murni, atau kebaikan sebagian yang dalam pertimbangan sebagian kejahatan.
فالقسمة الثلاثية: ما هو خير محض كخلق الملائكة وللأنبياء والرسل الذين قاموا بتبليغ رسالات الله بأمر الله، فهذا خير محض. وأما الجزئي هو باعتبار وباعتظام شخص، كخلق الله لإبليس. خلق الله لإبليس ليس شراً محضاً، لأن الله خلقه لمقاصد عظيمة، وهو قيام الامتحان والابتلاء. ولهذا قال العلماء: بوجود إبليس وجد الجهاد، وعرف أولوا العزم من الرسل، تبين المجاهد في سبيل الله، تبين الصابر على دينه من ضعيف الإيمان. فخلق إبليس ليس شراً محضاً. ومن باب أولى أن يقال في خلق غيره إنه ليس شراً محضاً.
Pembagian tiga: apa yang merupakan kebaikan murni seperti penciptaan malaikat dan nabi serta rasul yang menyampaikan risalah Allah dengan perintah Allah, ini adalah kebaikan murni. Adapun sebagian adalah dalam pertimbangan dan pertimbangan seseorang, seperti penciptaan Iblis oleh Allah. Penciptaan Iblis oleh Allah bukanlah kejahatan murni, karena Allah menciptakannya untuk tujuan yang agung, yaitu ujian dan cobaan. Oleh karena itu para ulama berkata: dengan adanya Iblis ada jihad, dan diketahui ulul azmi dari para rasul, terlihat pejuang di jalan Allah, terlihat yang sabar dalam agamanya dari yang lemah iman. Jadi penciptaan Iblis bukanlah kejahatan murni. Apalagi jika dikatakan penciptaan selainnya bukanlah kejahatan murni.
فالله يخلق الخير، ويخلق الشيء الذي هو باعتبار خير وباعتبار شر. وأما الشر المحض فإن الله لا يخلقه، ولهذا قال ابن القيم: "الشر لا يُضاف إلى الله لا في ذاته، ولا في أسمائه، ولا في صفاته، ولا في أفعاله". وهذا كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: "الشر ليس إليك". فالله لا يخلق شراً محضاً، ولا يقدر شراً محضاً. حتى الآن ما نعده من الشرور هو باعتبار شيء.
Maka Allah menciptakan kebaikan, dan menciptakan sesuatu yang dalam pertimbangan kebaikan dan pertimbangan kejahatan. Adapun kejahatan murni, Allah tidak menciptakannya, oleh karena itu Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Kejahatan tidak ditambahkan kepada Allah, tidak dalam Dzat-Nya, tidak dalam Nama-Nya, tidak dalam Sifat-Nya, dan tidak dalam Perbuatan-Nya." Ini sebagaimana Nabi ﷺ bersabda: "Kejahatan bukan dari-Mu." Jadi Allah tidak menciptakan kejahatan murni, dan tidak menetapkan kejahatan murni. Hingga sekarang apa yang kita anggap sebagai kejahatan adalah dalam pertimbangan sesuatu.
موت الأبناء والأقارب الأحبة قد يقول بعض الناس هو شر. لكن باعتبار أن الله يأجر المبتلى على فقد من يحب فهو خير. وهكذا بقية الأمور التي يقدرها الله، كم لله من حكمة خفية فيما يُظن أنه شر وبلية. مثال ذلك، لو قال بعض الناس: هذه الذنوب التي نفعلها هي شر محض. نقول: لا، هي باعتبار تقدير الله فيها حكمة.
Kematian anak-anak dan kerabat tercinta mungkin dianggap oleh beberapa orang sebagai kejahatan. Tetapi dalam pertimbangan bahwa Allah memberikan pahala kepada yang diuji atas kehilangan orang yang dicintai, itu adalah kebaikan. Demikian pula hal-hal lain yang ditetapkan oleh Allah, betapa banyak hikmah tersembunyi dari Allah dalam apa yang dianggap sebagai kejahatan dan musibah. Contohnya, jika seseorang berkata: dosa-dosa yang kita lakukan adalah kejahatan murni. Kita katakan: tidak, dalam pertimbangan takdir Allah ada hikmah.
وأما باعتبار فعلنا للمعاصي فهذا يُذم الفاعل. لكن كون الله يُقدر على بعض الصالحين المستقيمين الوقوع في المعاصي، لا يُقال هذا خذلان من الله لهم، بل كم لله من حكمة خفية فيما يقدر من هذه الأمور التي يُصيب بها بعض الناس. ومن ذلك أن بعض من رزقه الله الاستقامة قد يبقى عشرين أو ثلاثين أو أربعين سنة ولربما لو تذكر يقول: "أنا لم أعص الله". فإذا قال: "لم أعص الله" سيوجد في نفسه شيء من العُجب ولربما قوى هذا الشيطان حتى لربما يقول: "أنا خير الناس". ولربما وسوس إليه الشيطان أنك تستحق دخول الجنة بغير منة من الله عليك.
Adapun dalam pertimbangan perbuatan maksiat kita, maka ini mencela pelaku. Namun, ketika Allah menetapkan kepada beberapa orang saleh yang lurus untuk jatuh dalam maksiat, tidak dikatakan bahwa ini adalah pengabaian dari Allah terhadap mereka, melainkan betapa banyak hikmah tersembunyi dari Allah dalam apa yang ditetapkan-Nya dalam hal-hal yang menimpa beberapa orang. Di antaranya adalah bahwa beberapa orang yang diberi oleh Allah keteguhan mungkin tetap lurus selama dua puluh, tiga puluh, atau empat puluh tahun dan mungkin jika dia ingat, dia berkata: "Saya tidak pernah berbuat dosa kepada Allah." Jika dia berkata: "Saya tidak pernah berbuat dosa kepada Allah," akan timbul dalam dirinya rasa bangga dan mungkin syaitan memperkuatnya sehingga mungkin dia berkata: "Saya adalah orang terbaik." Mungkin juga syaitan membisikkan kepadanya bahwa dia pantas masuk surga tanpa karunia dari Allah.
وكم يستهوي الشيطان المطيعين ببعض الوساوس والخطرات التي هي مهلكة. فيريد الله الحكيم العليم أن يكسر هذا العُجب، فيُقدر عليه المعصية ليعلم أنه ضعيف وتدمع عينه ويستغفر ربه، ويقول: " أبُوءُ لكَ بنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وأَبُوءُ لكَ بذَنْبِي". وهذه رتبة النبي صلى الله عليه وسلم، الذي قال: " أبُوءُ لكَ بنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وأَبُوءُ لكَ بذَنْبِي ". فعند ذلك يذهب العُجب وتذهب تلك الخطرات، وتستقيم حال العبد.
Betapa sering syaitan menggoda orang-orang yang taat dengan bisikan dan godaan yang merusak. Maka, Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui ingin menghancurkan kebanggaan ini, sehingga Dia menetapkan maksiat kepadanya agar dia mengetahui bahwa dia lemah, matanya menangis, dan dia beristighfar kepada Rabbnya, dan berkata: "Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku." Ini adalah tingkatan Nabi ﷺ, yang berkata: "Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku." (HR. Al-Bukhari no. 6323). Pada saat itu, rasa bangga hilang dan godaan-godaan itu hilang, dan keadaan hamba menjadi lurus.
ولهذا قال بعض السلف: كم من حسنة أدخلت صاحبها النار، وكم من سيئة أدخلت صاحبها الجنة. كيف هذا؟ الحسنة التي تدخل النار هي أن يفعل الحسنة ويعجب بها ويستكبر ويتألى على الله ويقول: "أنا مستحق لدخول الجنة بعملي"، فعند ذلك يدخل النار بالعُجب وبهذه الخطرات السيئة وسبب هذا تلك الحسنة. والسيئة التي تدخل صاحبها الجنة هي السيئة التي يندم عليها ويبكي فتذرف دمعة وينكسر قلبه ويتوجه إلى ربه توجه الذليل المنكسر الفقير المعدم، لا يزال يتضرع إلى الله حتى يدخله الجنة بسبب ماذا؟ بسبب الذنوب.
Oleh karena itu, beberapa salaf berkata: Betapa banyak kebaikan yang memasukkan pelakunya ke dalam neraka, dan betapa banyak kejahatan yang memasukkan pelakunya ke dalam surga. Bagaimana ini? Kebaikan yang memasukkan ke dalam neraka adalah ketika seseorang melakukan kebaikan dan merasa bangga dengannya, sombong, dan merasa lebih baik dari Allah, dan berkata: "Saya pantas masuk surga karena amal saya," maka pada saat itu dia masuk neraka karena rasa bangga dan godaan-godaan buruk ini, dan penyebabnya adalah kebaikan tersebut. Kejahatan yang memasukkan pelakunya ke dalam surga adalah kejahatan yang dia sesali, menangis karenanya sehingga air matanya mengalir, hatinya hancur, dan dia menghadap kepada Rabbnya dengan kerendahan hati, tidak henti-hentinya memohon kepada Allah sampai Allah memasukkannya ke surga karena apa? Karena dosa-dosa.
ما بكت العيون إلا من المعاصي. الذين يخشون الله، الذين يتقون الله، يُرجى في حديث السبعة الذين يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله، "رجل ذكر الله ففاضت عيناه" خشية من الله وندم على التقصير تعظيمًا لحق الله عز وجل.
Mata tidak menangis kecuali karena dosa. Orang-orang yang takut kepada Allah, orang-orang yang bertakwa kepada Allah, diharapkan dalam hadis tujuh orang yang akan dinaungi Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, "Seorang pria yang mengingat Allah lalu air matanya mengalir" karena takut kepada Allah dan menyesali kekurangannya dalam mengagungkan hak Allah Azza wa Jalla.
فإذا المؤمن يستقيم على عبادة الله عز وجل ويعلم أن الله عز وجل لم يُقدر شرًا محضًا، حتى الذنوب التي يقدرها الله كم لله فيها من حكمة. وبهذا يتبين أن الشر لا يُضاف إلى الله ولكن باعتبار الشر في الجزئي والخير في الجزئي.
Maka seorang mukmin tetap teguh dalam ibadah kepada Allah Azza wa Jalla dan mengetahui bahwa Allah Azza wa Jalla tidak menetapkan kejahatan murni, bahkan dosa-dosa yang Allah tetapkan betapa banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, terlihat bahwa kejahatan tidak ditambahkan kepada Allah tetapi dalam pertimbangan kejahatan sebagian dan kebaikan sebagian.
وهذا هو المقصود بقول النبي صلى الله عليه وسلم: "وأن تؤمن بالقدر خيره وشره". فالشر الجزئي والخير الجزئي إذا كان الشيء فيه اعتبار خير واعتبار شر، فإنه لا يصلح أن ينتزع من هذا الشيء الذي هو نسبي خيره وشره ويقال إن الله قدر الشر أو إن الله قدر الخير.
Inilah yang dimaksud oleh sabda Nabi ﷺ: "Dan kamu harus beriman kepada takdir, baik dan buruknya." (HR. Muslim no. 8). Jadi kejahatan sebagian dan kebaikan sebagian, jika suatu hal memiliki pertimbangan kebaikan dan pertimbangan kejahatan, maka tidak tepat untuk mengambil dari hal ini yang relatif kebaikan dan kejahatannya dan mengatakan bahwa Allah mentaqdirkan kejahatan atau bahwa Allah mentaqdirkan kebaikan.
Bersambung============
شرح أصول السنة
للإمام الحميدي رحمه الله
مع فضيلة الشيخ الأستاذ الدكتور إبراهيم بن عامر الرحيلي حفظه الله تعالى
قالوا: وهذا مثل أن يكون في الرعية للإمام من هو مطيع وعاصي، وفيها خير وشر. فلو قال قائل للإمام: "يا أمير العصاة، يا أمير المبتدعة، يا أمير الزناة، يا شراب الخمر" لكان هذا يستحق التأديب، مع أن الرعية فيها من هو كذلك. لكن لو قال: "يا أمير المؤمنين" لأصبح ممدوحًا.
ولهذا العلماء عندما يمدحون يُقال: "هذا شيخ فلان"، وتذكر أبرز تلاميذه. وكما ذكرنا في الحميدي، نذكر عبر علماء وابرز من روى عنه، وقد يروي عن هؤلاء الأئمة بعض الضعاف والوضاعين فلا تُقال رويت عنه القاطع الفلاني الفلاني. فهذا هو الحكم في أن الشر الذي يكون في القدر لا يُضاف إلى الله باعتبارين: باعتبار أن الله لا يُضاف إليه إلا ما هو حسن، فإذا قدر الشيء وفيه خير يُضاف إليه الخير، والأمر الآخر أن الله في قول النبي صلى الله عليه وسلم: "والشر ليس إليك"، الشر المحض ليس إلى الله ولا يخلقه الله.
Mereka berkata: “Ini seperti memiliki dalam rakyat seorang imam yang taat dan durhaka, dan ada kebaikan dan kejahatan. Jika seseorang berkata kepada imam: "Wahai pemimpin orang-orang durhaka, wahai pemimpin para ahli bid'ah, wahai pemimpin para pezina, wahai peminum minuman keras," maka ini pantas mendapat hukuman, meskipun dalam rakyat ada yang seperti itu. Namun jika dia berkata: "Wahai pemimpin orang-orang beriman," maka dia menjadi terpuji. Oleh karena itu, para ulama ketika memuji disebutkan: "Ini adalah guru si fulan," dan disebutkan murid-murid terkemuka. Seperti yang disebutkan dalam kasus Al-Humaidy rahimahullah, kami menyebutkan para ulama dan perawi terkemuka yang meriwayatkan darinya, dan mungkin ada yang meriwayatkan dari para imam ini beberapa perawi lemah dan pemalsu sehingga tidak disebutkan. Jadi ini adalah hukum bahwa kejahatan dalam takdir tidak ditambahkan kepada Allah dalam dua pertimbangan: bahwa Allah hanya ditambahkan dengan apa yang baik, jika sesuatu ditetapkan dan ada kebaikan, kebaikan ditambahkan kepadanya, dan yang lainnya adalah bahwa Allah dalam sabda Nabi ﷺ: "Dan kejahatan bukan dari-Mu," (HR.Muslim no. 771). kejahatan murni, kejahatan murni bukan dari Allah dan tidak diciptakan oleh Allah.
قال: "أن يؤمن الرجل بالقدر خيره وشره، حلوه ومره". الحلاوة والمرارة هنا ليست هي الحسية كحلاوة الطعام وحلاوة ما يؤكل من الأشياء الحلوة، والمرارة من الأشياء المرة، ولكن المقصود بهذا كل القضاء ومر القضاء. كما قال بعض أهل العلم: يعبر بالحلاوة عما يسر، وبالمرارة عما يحزن. والمقصود أن المؤمن يجب عليه أن يؤمن بالقدر خيره وشره، حلوه ومره، ما يسره وما يحزنه، الطاعات والمعاصي، كلها يؤمن بأنها مقدرة من الله عز وجل.
Beliau berkata: "Seorang pria harus beriman kepada takdir, baik dan buruknya, manis dan pahitnya." Manis dan pahit di sini bukanlah yang bersifat fisik seperti manisnya makanan dan manisnya apa yang dimakan dari benda-benda manis, dan pahitnya dari benda-benda pahit, tetapi yang dimaksudkan adalah semua ketetapan dan kepahitan ketetapan. Seperti yang dikatakan oleh beberapa ulama: manis digunakan untuk menggambarkan apa yang menyenangkan, dan pahit digunakan untuk menggambarkan apa yang menyedihkan. Yang dimaksudkan adalah seorang mukmin harus beriman kepada takdir, baik dan buruknya, manis dan pahitnya, apa yang menyenangkan dan apa yang menyedihkan, ketaatan dan kemaksiatan, semuanya beriman bahwa itu adalah ketetapan dari Allah Azza wa Jalla.
وأن يعلم أن ما أصابه لم يكن ليخطئه، وما أخطأه لم يكن ليصيبه، كما جاء في الحديث. إن ما أصابه من الأمور المقدرة لم يكن ليخطئه لأنه بقدر، وما أخطأه ليس المقصود بالخطأ هنا الخطأ في الاختلاف وهو عدم موافقة الإصابة، ولكن المقصود ما أخطأه يعني لم يُقدر أن يصيبه. يعني ما قدر أن يُصيبه لم يكن ليُصيبه. وإذا حقق المؤمن هذه الرتبة فإنه لن يندم على شيء، وسيكون مطمئن القلب، يرضى بقدر الله، ويبذل الأسباب في توقي الشرور والاستقامة على طاعة الله. لكن إذا قُدر له الخير رضي وشكر، وإذا قُدر عليه البلاء صبر، وعلم أن الله عز وجل قدر لحكمة.
Dan dia harus tahu bahwa apa yang menimpanya tidak akan melewatinya, dan apa yang melewatinya tidak akan menimpanya, seperti yang disebutkan dalam hadis. Apa yang menimpanya dari hal-hal yang ditetapkan tidak akan melewatinya karena itu adalah takdir, dan apa yang melewatkannya, maksudnya di sini bukan kesalahan dalam perbedaan yang tidak sesuai dengan ketepatan, tetapi yang dimaksud adalah apa yang melewatkannya berarti tidak ditetapkan untuk menimpanya. Maksudnya apa yang ditetapkan untuk menimpanya tidak akan melewatinya. Jika seorang mukmin mencapai tingkat ini, maka dia tidak akan menyesali apa pun, dan hatinya akan tenang, ridha dengan takdir Allah, dan melakukan upaya untuk menghindari kejahatan dan tetap teguh dalam ketaatan kepada Allah. Namun, jika dia ditakdirkan mendapat kebaikan, dia ridha dan bersyukur, dan jika dia ditakdirkan mendapat musibah, dia bersabar, dan mengetahui bahwa Allah Azza wa Jalla menetapkan dengan hikmah.
وهل يُرضى عن المصائب؟ هذا فيه تفصيل. إذا كانت هذه المصائب مما يصيب الإنسان من الأمور المقدرة المحزنة كموت الأقارب والأبناء وذهاب الأموال، فإنه يجب أن يرضى عن الله لما قدر وأن يعلم أن هذا لحكمة. وأما ما يقدره الله عليه من الذنوب فيجب عليه أن لا يرضى عن نفسه بفعل المعصية، ويرضى عن ربه بما قدر عليه لأنه يعلم أن الله حكيم عليم. كما قلنا قد يقدر الله عليك الذنب ليعظك وتستغفر، ولأن الندم والحزن الذي يصيب التائبين لا يوجد لغيرهم، فيريد الله أن يجعلك من هؤلاء، والتوبة لا تكون إلا بعد ذنب فيُقدر الله الذنب بما يترتب عليه من الخير لك.
Apakah harus ridha terhadap musibah? Ini ada rinciannya. Jika musibah tersebut adalah sesuatu yang menimpa manusia dari hal-hal yang ditetapkan yang menyedihkan seperti kematian kerabat dan anak-anak, hilangnya harta benda, maka dia harus ridha kepada Allah atas apa yang ditetapkan dan mengetahui bahwa itu adalah hikmah. Adapun dosa-dosa yang ditetapkan Allah atas dirinya, dia tidak boleh ridha pada dirinya sendiri karena melakukan dosa, tetapi ridha pada Rabbnya atas apa yang ditetapkan karena dia tahu bahwa Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Seperti yang kita katakan, Allah mungkin menetapkan dosa atasmu untuk memberi pelajaran dan agar kamu beristighfar, karena penyesalan dan kesedihan yang menimpa orang-orang yang bertaubat tidak ada pada orang lain, Allah ingin menjadikanmu salah satu dari mereka, dan taubat tidak ada kecuali setelah dosa sehingga Allah menetapkan dosa dengan apa yang dihasilkan dari kebaikan untukmu.
وأن ذلك كله من قضاء الله عز وجل. إن كل ذلك من قضاء الله عز وجل. ما أصابك أصابك بقضاء الله، وما لم يصبك فلم يصبك بقضاء الله. وهذا يثمر أن لا ينسب الإنسان ما حصل له من الخير لنفسه بل يقول الحمد لله على ما أعطى، وإذا أُصيب بمصيبة يرضى عن الله عز وجل فيما قدر ويصبر.
Dan semua itu adalah dari ketetapan Allah Azza Jalla. Semua itu adalah dari ketetapan Allah Azza Jalla. Apa yang menimpamu, menimpamu dengan ketetapan Allah, dan apa yang tidak menimpamu tidak akan menimpamu dengan ketetapan Allah. Ini menghasilkan bahwa seseorang tidak menyandarkan apa yang diperolehnya dari kebaikan kepada dirinya sendiri tetapi berkata Alhamdulillah atas apa yang diberikan, dan jika dia ditimpa musibah, dia ridha kepada Allah Azza wa Jalla dalam apa yang ditetapkan dan bersabar.
جاء في بعض الأثار: "إن المؤمن لا يزال بخير ما إذا أعطي شكر، وإذا ابتُلي صبر، وإذا أذنب استغفر". وقد جاء في بعض الأثار أن هذه عنوان السعادة: إذا أعطي شكر، وإذا ابتُلي صبر، وإذا أذنب استغفر.
Disebutkan dalam beberapa atsar: "Seorang mukmin akan selalu dalam kebaikan selama dia bersyukur jika diberi, bersabar jika diuji, dan beristighfar jika berdosa.". Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa ini adalah tanda kebahagiaan: jika diberi bersyukur, jika diuji bersabar, jika berdosa beristighfar.”
والإيمان بالقدر شأنه عظيم، وهو ميزان الحياة. وكلما تأملت هذا الباب لا أجد بعد التوحيد نفعًا للإنسان في حياته وبعد مماته من الإيمان بالقدر، وليس هذا في عشير إذا قارن هذا بالتوحيد، لأنه كما قال ابن عباس: "القدر نظام التوحيد". فمن وحَّد الله وآمن بالقدر تم توحيده، ومن وحَّد الله وكذَّب بالقدر نقض تكذيبه توحيده.
Keimanan kepada takdir memiliki kedudukan yang agung, dan merupakan timbangan kehidupan. Semakin saya merenungi bab ini, saya tidak menemukan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi manusia dalam hidupnya dan setelah kematiannya selain keimanan kepada takdir, tidak dalam persentase kecil jika dibandingkan dengan tauhid, karena seperti yang dikatakan oleh Ibn Abbas radhiallahu’anhuma: "Takdir adalah sistem tauhid." Maka siapa yang mengesakan Allah dan beriman kepada takdir, sempurnalah tauhidnya, dan siapa yang mengesakan Allah dan mendustakan takdir, dia merusak tauhidnya.
القدر نظام التوحيد، وهذا له شأن عظيم. القدر من ثماره أنك لا تتكبر إذا أُعطيت، فتعلم أن الله هو الذي منَّ عليك وهو الذي أعطى. القدر يثمر أن لا تسخر من المبتلى، لأن الذي عصمك هو الذي ابتلاه، فلست بأفضل منه، لكن الله منَّ عليك وابتلاه. القدر يحمل على الاستقامة، لأن الإنسان إذا زاغ في جوارحه أزاغ الله قلبه، كما قال: " فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ". فيخشى العاصي أن يُقدر الله عليه بهذا الذنب، وإذا وقلبها يمكن ترتجي.
Takdir adalah sistem tauhid, dan ini memiliki kedudukan yang agung. Salah satu buah dari takdir adalah bahwa kamu tidak akan sombong jika diberi, karena kamu tahu bahwa Allah yang telah memberimu dan yang memberi. Takdir menghasilkan bahwa kamu tidak mengejek orang yang diuji, karena yang melindungimu adalah yang mengujinya, jadi kamu tidak lebih baik darinya, tetapi Allah yang memberimu dan mengujinya. Takdir mendorong pada keteguhan, karena jika manusia menyimpang dalam anggota tubuhnya, Allah akan menyimpangkan hatinya, seperti firman-Nya: "Ketika mereka menyimpang, Allah menyimpangkan hati mereka." (QS. As-Shaff: 5). Jadi, orang yang berdosa takut bahwa Allah akan menetapkan dosa ini atasnya, dan jika terbalik, dia dapat berharap.
ولهذا القدر هو أعظم فاجر. كنا نتعجب من بعض أهل البدع الذين يعبدون غير الله، يدعونهم من دون الله. كيف وصلوا إلى هذا الحد؟ حتى رأينا في هذه العصور وبعضهم ينتسب إلى أهل السنة والجماعة يقول أقوالًا يخلد رجلًا في دين الله، يقدم قوله على كلام الله، يواليه وقد أبعده الله، يقربه وقد أبعده الله، يواليه والله عز وجل أمر عادات من العقول، العقول لا تنفع. وكما جاء في الحديث: "ولا ينفع ذا الجد منك الجد" إلا بتوفيق الله.
Oleh karena itu, takdir adalah pemutus yang terbesar. Kami heran dengan beberapa ahli bid'ah yang menyembah selain Allah, memanggil mereka selain Allah. Bagaimana mereka sampai pada titik ini? Hingga kami melihat di zaman ini dan beberapa dari mereka yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengatakan kata-kata yang mengabadikan seseorang dalam agama Allah, mengutamakan perkataannya di atas firman Allah, mendukungnya padahal Allah menjauhkannya, mendekatkannya padahal Allah menjauhkannya, mendukungnya padahal Allah memerintahkan kebiasaan dari akal, akal tidak berguna. Seperti yang disebutkan dalam hadis: " "Dan tidak akan berguna kekayaan (atau usaha) seseorang di hadapan-Mu (tanpa izin dan rahmat-Mu)." (HR. Al-Bukhari no. 6615) kecuali dengan taufik Allah."
القدر شأنه عظيم، ومتى ما حققه المؤمن أثمر ثمارًا عظيمة. حتى إن الإنسان ليستشعر أن كل ما به من نعمة فهي من الله عز وجل، ليس له، بل كلما ازداد فضله ازداد تواضعًا لله لأنه يعلم أنه منعم عليه. وهكذا كان النبي صلى الله عليه وسلم هو أعظم الناس تواضعًا مع أن الله بلغه رتبة لم يبلغها أحد من بني آدم لا آدم ولا بنيه منذ أن خلق الله آدم.
Takdir memiliki kedudukan yang agung, dan ketika seorang mukmin mewujudkannya, ia akan menghasilkan buah yang agung. Hingga seseorang merasakan bahwa semua nikmat yang ada padanya adalah dari Allah Azza wa Jalla, bukan dari dirinya sendiri, bahkan semakin bertambah keutamaannya, semakin rendah hatinya kepada Allah karena dia tahu bahwa dia diberi nikmat. Demikianlah Nabi ﷺ adalah orang yang paling rendah hati meskipun Allah memberinya kedudukan yang tidak pernah dicapai oleh siapa pun dari Bani Adam, baik Adam maupun keturunannya sejak Allah menciptakan Adam.
وخلق ذريته إلى أن تقوم الساعة. والله، ما مشى على الأرض وما وطئت قدم هذه البسيطة أعظم وأشرف وأعظم منزلة عند الله من هذا النبي الكريم عليه الصلاة والسلام. ومع هذا، كان متواضعًا، يجالس أصحابه ويمازحهم، يُسلم على الصبيان، يأتيه الأعرابي ويجذبه ويقول: "إنكم يا بني عبد المطلب أصحابُ مَطْلٍ "، فيلتفت إليه النبي ويبتسم ويقول: "إِنَّ لِصَاحِبِ الحَقِّ مَقَالًا ".
dan keturunannya hingga hari kiamat. Demi Allah, tidak ada yang berjalan di bumi ini dan tidak ada yang menginjakkan kaki di tanah ini yang lebih agung, lebih mulia, dan lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah daripada Nabi yang mulia ini, ﷺ. Meskipun demikian, beliau ﷺ adalah orang yang rendah hati, duduk bersama sahabat-sahabatnya, bercanda dengan mereka, menyapa anak-anak, didatangi oleh seorang Badui yang menariknya dan berkata: "Sesungguhnya kalian, Bani Abdul Muttalib, adalah orang-orang yang menunda pembayaran," maka Nabi ﷺ menoleh kepadanya, tersenyum, dan berkata: "Orang yang berhak memiliki hak untuk berbicara." (HR. Al-Bukhari no. 2609)
هذا هو الرسول الكريم، في تحقيقه للإيمان بالله وتعظيمه، والإيمان بالقدر. لم يُبتلَ أحد كما ابتُلي هذا النبي الكريم عليه الصلاة والسلام. مات أبوه وهو جنين في بطن أمه، ثم ماتت أمه، ثم مات جده عبد المطلب، ثم ماتت زوجته خديجة رضي الله عنها، وأوذي ووضع سلى الجزور على ظهره وهو نبي الله، وهو خيرة خلق الله، وأُخرج من بلده، ومات الكثير من أبنائه، ومات ابنه إبراهيم، ابنه الوحيد بعد موت القاسم.
Inilah Rasul yang mulia, dalam mewujudkan keimanan kepada Allah dan mengagungkan-Nya, dan keimanan kepada takdir. Tidak ada yang diuji seperti yang dialami Nabi yang mulia ini, ﷺ. Ayahnya meninggal ketika beliau ﷺ masih dalam kandungan ibunya, kemudian ibunya meninggal, kemudian kakeknya Abdul Muttalib meninggal, kemudian istrinya Khadijah radhiallahu’anha meninggal, dan beliau ﷺ disakiti dan diletakkan isi perut unta di punggungnya dan beliau ﷺ adalah Nabi Allah, orang pilihan dari makhluk Allah, dan beliau ﷺ diusir dari kotanya, dan banyak anak-anaknya meninggal, dan anaknya Ibrahim meninggal, satu-satunya anaknya setelah Qasim meninggal.
ومع هذا، صبر، ولقي الله، وكان بيته في الشهر والشهرين لا يوقد فيه نار لطهي الطعام عليه الصلاة والسلام، وكان يربط على بطنه من شدة الجوع. وكان بيده أن يملك الدنيا وما فيها، لأنه لو سأل الله أن يعطيه القصور لأعطاه الله، بل كان لا يبقي شيئًا من الغنائم، بل يقسمها على المسلمين.
Meskipun demikian, beliau bersabar, dan bertemu dengan Allah, dan pernah rumahnya selama sebulan atau dua bulan tidak bisa dinyalakan api untuk memasak makanannya ﷺ, dan beliau ﷺ mengikat perutnya karena kelaparan yang parah. Beliau ﷺ bisa memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya, karena jika beliau ﷺ meminta Allah untuk memberinya istana, Allah akan memberinya, tetapi beliau ﷺ tidak menyimpan apa pun dari rampasan perang, tetapi membaginya kepada umat Islam.
ومع ذلك، نتوقف عند هذا، والله أعلم، وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Dengan demikian, kita berhenti di sini, dan Allahu A’lam (Allah lebih mengetahui), semoga shalawat dan salam serta berkah Allah tercurah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad ﷺ, dan kepada keluarga serta sahabatnya semuanya.
=---bersambung=