Minggu, 15 April 2018

KEWAJIBAN DAN KEUTAMAAN MENGIKUTI NABI SALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Oleh : As-Saikh Prof.DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullah Ta'ala. 

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du : 

Kebutuhan para penduduk bumi terhadap para Rasul  alaihimus sholaatu wa sallam, bukan hanya sekedar ibarat kebutuhan makhluk terhadap sinar matahari atau bulan, atau kebutuhan mereka terhadap hembusan angin atau curahan hujan, bahkan tidak sekadar seperti butuh nya manusia terhadap kehidupan mereka, ataupun butuh nya mata terhadap sinar atau butuh nya tubuh akan makanan dan minuman, namun jauh lebih besar dari itu semua dan sangat sangat membutuhkan dari segala apa yang diperkirakan atau  dibayangkan.

Para Rasul alaihimus sholaatu wa sallam merupakan perantara diantara Allah Ta'ala dan para makhluk Nya dalam menyampaikan perintah dan larangan Nya, dan mereka adalah para utusan dari Allah Ta'ala, menyeru manusia kepada agama Allah Ta'ala dan menyampaikan risalah dan menunjukkan kepada jalan yang lurus. 

Dan Nabi Muhammad bin Abdillah merupakan penutup dari para Rasul dan merupakan Rasul yang paling mulia dan utama telah bersabda : 

 ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ))

" Wahai para manusia, sesungguhnya aku adalah suatu rahmat yang di hadiahkan bagi kalian ". (HR. Al-Hakim)

Allah Ta'ala berfirman : 

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ ﴿١٠٧﴾

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (Q.S. Al-Anbiya :107)

Dalam ayat yang mulia ini dijelaskan bahwa Allah Ta'ala mengutus Nabi Sallallahu alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi semesta alam dan sekaligus sebagai teladan bagi para pengikutnya dan sebagai hujjah bagi seluruh makhluk, dan telah diwajibkan untuk para hamba agar taat, mencintai, mengagungkan, memuliakan, dan menegakkan kewajiban terhadap beliau Shallallahu alaihi wa sallam. 

Dan segala pintu telah ditutup rapat, hingga tidak ada jalan yang layak disusuri kecuali jalan nya shallallahu alaihi wa sallam dan berjanji dan perpegang erat  agar beriman kepadanya serta mengikuti nya atas seluruh Nabi dan Rasul dan  menganjurkan agar menempuhnya dari kalangan orang-orang yang mengikuti nya dari kaum mukminin. 

Allah Ta'ala telah mengutus Nabi Sallallahu alaihi wa sallam hingga menjelang kiamat dengan petunjuk dan agama yang lurus dengan membawa kabar gembira dan peringatan dan sekaligus sebagai penyeru ke jalan Allah Ta'ala dengan penuh sinar dan cahaya, dan dengan nya Allah Ta'ala menutup risalah para Rasul, dan dengan nya menujuki hidayah dari jalan-jalan kesesatan, dan dengan nya mengentaskan dari segala bentuk kebodohan, sehingga dengan risalah nya telah membuka hati, mata dan telinga yang mati, buta dan tuli, dan bumi mulai bersinar setelah tercengkram kegelapan, dan hati-hati manusia menjadi satu setelah bercerai berai, dan menegakkan agama yang lurus, dan menjelaskan hujjah hujjah yang se putih bersih, dan Allah Ta'ala menjadikan hatinya lapang, dan menghapus segala beban beban yang memberatkan, dan meninggikan nama nya, dan Allah Ta'ala menimpakan kehinaan serta kekerdilan bagi siapa saja yang menyelisihi perintah nya shallallahu alaihi wa sallam. 

Allah Ta'ala mengutus Nabi Sallallahu alaihi wa sallam pada masa fatroh atau kekosongan dari Rasul dan penurunan kitab - kitab, sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

 

 ((إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ))

"Sesungguhnya Allah Ta'ala melihat kepada penduduk bumi, maka Allah Ta'ala murka kepada mereka baik orang-orang Arab atau selain Arab, kecuali mereka mereka yang tersisa dari kalangan Ahli Kitab ". (HR. Muslim)

Allah Ta'ala mengutus Nabi Sallallahu alaihi wa sallam tatkala kitab kitab-kitab  terdahulu telah di rubah, dan syariat-syariat telah di palsukan, dan setiap kaum berhukum dengan pemikiran mereka yang keji, mereka berkata atas Allah Ta'ala dan atas para makhluk Nya  dengan hawa nafsu dan ucapan yang tidak bermoral. 

Kemudian Allah Ta'ala melalui Nabi Nya menurunkan hidayah kepada para manusia dan menunjukkan kepada  jalan  yang selamat, serta mengentaskan mereka dari kegelapan menuju cahaya.

Allah Ta'ala berfirman : 

 قَدْ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا ﴿١٠﴾  رَّسُولًا يَتْلُوا۟ عَلَيْكُمْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ مُبَيِّنَٰتٍ لِّيُخْرِجَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ وَيَعْمَلْ صَٰلِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ قَدْ أَحْسَنَ ٱللَّهُ لَهُۥ رِزْقًا ﴿١١﴾

" Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu".

"(Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya." (Q.S. At-Tholak :10-11)

Allah Ta'ala menurunkan Nabi Nya bertujuan untuk memberikan pencerahan kepada mereka yang buta, menerangi mereka yang tersesat, menunjukkan mana jalan menuju surga dan neraka, menjelaskan jalan kebaikan dan keburukan, dan menjanjikan hidayah serta keberuntungan bagi mereka yang mengikuti dan mematuhi dan sebaliknya, memberikan ancaman kesesatan serta kebinasaan bagi mereka yang bermaksiat dan menentang nya. 

Allah Ta'ala menurunkan ujian kepada para makhluk tatkala berada dalam alam kubur dengan Nabi Nya Shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana dinyatakan dalam hadist Sahabat Anas Radhiyallahu anhu berkata, Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda  :

 ((الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَيَقُولُ : أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ، فَيُقَالُ : انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ . قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا ، وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ ، فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ . ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ)) 

“Sesungguhnya seorang hamba jika diletakkan di dalam kuburnya dan ditinggalkan oleh pengantarnya -dan dia mendengar suara sandal mereka- ia didatangi oleh dua malaikat dan didudukkan, lalu keduanya menanyai: “Apa yang kamu ketahui tentang perihal orang ini, maksudnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam", maka orang mukmin akan menjawab: "Saya bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya". Lalu dikatakan: “Lihatlah kepada tempat dudukmu dari neraka, Allah telah menggantikannya untukmu tempat duduk surga", lalu ia melihat kepada keduanya sekaligus”.
“Adapun orang munafik dan orang kafir maka mereka menjawab: "Saya tidak tahu, saya dulu menirukan ucapan orang-orang". Maka dikatakan : "Kamu tidak tahu, dan kamu tidak mau baca (al-Qur’an) ”, kemudian dia dipukul sekali dengan palu godam yang terbuat dari besi, maka ia menjerit dengan jeritan yang bisa didengar oleh seluruh mahluk yang ada di sekitarnya selain manusia dan jin”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim) 

Dan diriwayatkan pula oleh Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : 

 ((إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالْآخَرُ النَّكِيرُ فَيَقُولَانِ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ هُوَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، فَيَقُولَانِ قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَذَا ، ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ ، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ نَمْ ، فَيَقُولُ أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِي فَأُخْبِرُهُمْ ؟ فَيَقُولَانِ نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوسِ الَّذِي لَا يُوقِظُهُ إِلَّا أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ ، حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ . وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ : سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ فَقُلْتُ مِثْلَهُ لَا أَدْرِي ، فَيَقُولَانِ: قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ ، فَيُقَالُ لِلْأَرْضِ الْتَئِمِي عَلَيْهِ ، فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ فَتَخْتَلِفُ فِيهَا أَضْلَاعُهُ ، فَلَا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ))

 

" Apabila meninggal seorang hamba maka datanglah dua orang malaikat yang kehitaman dan kebiruan, salah satunya bernama Munkar, dan yang lainnya bernama Nakir. Kedua malaikat itu bertanya: "Apa yang dapat engkau katakan mengenai Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam?". Apabila yang ditanya adalah orang mu’min, ia akan menjawab: "Beliau adalah hamba dan rasul Allah". "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah rasul-Nya". Malaikat tersebut berkata: "Sungguh  kami telah mengerti akan apa yang engkau katakan". Setelah itu, dilapangkanlah kuburnya seluas tujuh puluh hasta dan diterangi dengan cahaya. Dikatakan kepadanya: "Sekarang tidurlah engkau. Orang  tersebut memohon: "kembalikan aku  pada keluargaku untuk mengabarkan kesenangan ini". Sang malaikat menjawab: " Tidurlah laksana tidurnya para pengantin, yang tidak dibangun kan kecuali oleh keluarganya yang ia paling cintai". Hingga Allah bangkitkan dari pembaringan kubur nya . Adapun orang munafik, jika ia ditanya demikian ia menjawab: "Aku tak tahu. Aku hanya mendengar orang lain mengatakan sesuatu tentang dia (Muhammad), lantas aku katakan pula apa yang orang katakan tentangnya itu". Malaikat berkata: "Sungguh kami telah mengerti tentang apa yang akan kamu katakan". Setelah itu sang malaikat berkata pada bumi: "Jepitlah manusia ini olehmu!", Lantas dijepitnya hingga berserakan tulang rusuknya. Dan ia senantiasa diazab, disiksa sampai Allah bangkitkan dari pembaringan kuburnya .” ( HR. At-Tirmidzi ) 

Allah Ta'ala telah memerintahkan kepada kita agar taat kepada Rasul Nya dan telah tercantum lebih dari tiga puluh tempat dalam ayat-ayat Al-Qur'an, bahkan telah disandingkan antara taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana juga digabungkan antara nama Allah Ta'ala dan Rasul-Nya.

Sahabat Abdullah ibnu Abbas radhiyallohu anhuma tatkala menafsirkan firman Allah Ta'ala : 

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ ﴿٤﴾

"Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu". (Q.S. As-Syarah :4)

" Dimana tidaklah nama Allah Ta'ala disebut kecuali disana disebut pula nama Nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam ".

Demikian juga tercantum dalam lafadz Tasyahud, khutbah, mengumandangkan adzan, demikian pula dalam kesaksian ikrar syahadat tatkala masuk agama islam, dimana bersaksi : 

 أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمداً عبده ورسوله 

" Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah Ta'ala dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya ".

Tidak akan sah islam nya seseorang kecuali dengan bersaksi atas Nabi-Nya yang mengemban risalah, dan tidak sah pula kumandang adzan seseorang hingga bersaksi tentang risalah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan demikian sholat seseorang kecuali dengan mengucapkan Tasyahud kesaksian risalah beliau Shallallahu alaihi wa sallam. 

Bahkan Allah Ta'ala berfirman memberikan ancaman keras bagi siapa saja yang menyelisihi perintah Nabi-Nya : 

 فَلْيَحْذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٦٣﴾

"maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (Q.S. An-Nuur :63)

Demikian pula Allah Ta'ala akan timpakan bagi orang-orang yang senantiasa menyelisihi perintah Nabi-Nya dengan kehinaan dan kerendahan. 

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : 

((بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي ، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي ، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ )) 

"Aku diutus (menyampaikan risalah islam) dibawah naungan pedang, hingga Allah Ta'ala saja yang diibadahi tanpa sekutu bagi-Nya, dan dijadikan rizki-ku pada naungan tombak (jihad fi sabilillah) dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi perintah-ku, dan barangsiapa yang meniru suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka ". (HR. Ahmad)

Sebagaimana pula orang-orang yang menyelisihi, menentang dan memusuhi Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, maka ia tergolong binasa dan celaka, demikian juga orang-orang yang berpaling dari nya dan syariat nya, terlebih ridho dan nyaman dengan jalan lain nya bahkan dijadikan sebagai ganti atau syariat yang menandingi, maka ia termasuk golongan orang-orang yang celaka.

Maka sesungguhnya kebinasaan dan kesengsaraan terjadi tatkala berpaling dan mendustakan Nabi nya, dan petunjuk serta kebahagiaan terjadi tatkala mengikuti dan patuh terhadap Nabi nya, dan mendahulukan atas selainnya. 

Maka, bisa kita simpulkan keadaan manusia terhadap Nabi Sallallahu alaihi wa sallam :

● Orang yang beriman, yaitu dengan mengikuti nya, mencintai nya serta mengutamakan nya atas selainnya. 

● Orang-orang yang memusuhi nya dan membangkang perintah nya.  

● Orang-orang yang berpaling dari syariat nya. 

Yang pertama adalah kelompok yang beruntung dan menggapai kebahagiaan. 

Dan dua yang terakhir adalah kelompok orang-orang yang binasa. ( مجموع الفتاوى لابن تيمية (19/100 - 105)

Sesungguhnya mempelajari sejarah Nabi Sallallahu alaihi wa sallam dan keutamaan-keutamaan nya, serta perangai dan kehususan-kehususan nya merupakan perkara yang dapat melembutkan hati dan jiwa seorang mukmin dan akan menumbuhkan rasa cinta yang jujur, dan menghiasi majlis majlis orang-orang salih, ....Bagaimana tidak. ......!!

Dikarenakan Beliau Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam merupakan sayyid anak cucu Adam, dan beliau merupakan pemimpin seluruh manusia, dan makhluk yang paling Allah Ta'ala cintai, dan dia adalah utusan yang terpilih dan menjadi kekasih Allah Ta'ala. 

Dan sungguh generasi mulia yang pertama dari umat ini yaitu para Sahabat radhiyallahu anhum ajmaiin telah menjumpai dan mendapatkan keutamaan Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, dan mereka para sahabat rela berjuang dan mendahulukan atas diri mereka bahkan ayah ibu mereka, dan senantiasa mengedepankan kecintaan Nabi yang mulia atas jiwa dan raga mereka, dan berkorban harta, jiwa dan waktu untuk membela Shallallahu Alaihi wa Sallam dan senantiasa memuliakan, mengagungkan dan menegakkan hak-hak Nabi Sallallahu alaihi wa sallam secara sempurna, dan merekalah manusia utama yang paling pantas dan  berhak untuk mendampingi dan paling kokoh dalam meniti dan berpegang erat dengan jalan Nabi Sallallahu alaihi wa sallam. 

Sahabat Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata : 

(( من كان مستناً فليستنَّ بمن قد مات ، أولئك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ، كانوا خير هذه الأمة ، أبرَّها قلوباً وأعمقها علماً وأقلها تكلفاً ، قوماً اختارهم الله لصحبة نبيه صلى الله عليه وسلم ونقل دينه ؛ فتشبهوا بأخلاقهم وطرائقهم ، فهم أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم كانوا على الهدى المستقيم ، واللهِ ورب الكعبة )) .

" Barangsiapa diantara kalian hendak mencari teladan, maka carilah teladan dari mereka-mereka yang telah meninggal dunia, (karena orang-orang yang masih hidup, tidak akan pernah terhindar dari fitnah) , maka, ikutilah mereka para Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, mereka adalah umat yang terbaik dari umat ini, hati mereka paling baik, ilmu mereka paling dalam, dan paling jauh dari sikap ceroboh, mereka suatu generasi yang Allah Ta'ala pilih untuk mendampingi Nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan risalah agama ini, maka, ikutilah akhlak dan jalan mereka, sungguh mereka adalah pendamping-pendamping Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang senantiasa berada di atas petunjuk jalan yang lurus, Demi Allah, Demi Robb Ka'bah ".

Dan di tengah-tengah keterasingan agama dan minim nya pengetahuan terhadap petunjuk Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, tumbuh dan berkembang di lapisan masyarakat kaum muslimin perkara-perkara yang aneh dan ritual-ritual yang diluar nalar, yang muncul dari keinginan untuk berusaha  mencintai Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, sehingga tidak jarang diantara mereka menjadikan hari kelahiran Nabi Sallallahu alaihi wa sallam sebagai perayaan, dan hari hijrah nya ke kota Madinah sebagai momen khusus yang di peringati, dan malam Isra ' dan mi'raj sebagai musim perayaan, dan hari-hari tertentu semisalnya, yang mereka berkumpul untuk melantunkan kasidah-kasidah dan membacakan puji-pujian serta lantunan syair-syair.

Dan mereka sekiranya melakukan hal-hal tersebut berlandaskan niat cinta kepada Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, dan sebenarnya ini merupakan niat yang baik, namun, sesungguhnya kecintaan terhadap Nabi Sallallahu alaihi wa sallam tidak akan sah dan menjadi benar kecuali dengan cara ber-Ittiba' (mengikuti sunnah beliau) dan mengikuti jejak dan jalan yang telah di contohkan kepada kita, sehingga dari sini kita tidak akan pernah menjumpai seorang Sahabat pun atau generasi setelah nya dari para Tabi’in yang melakukan perbuatan baru semisal yang mereka lakukan. 

Dan sesungguhnya orang-orang yang diberikan taufik hakikat nya mereka orang-orang yang senantiasa mengikuti jalan sahabat dan berpegang erat dengan cara beragama mereka, karena merekalah umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang paling utama dan mulia yang berada dalam jalan petunjuk Nabi Nya, paling istiqomah jalan nya, jalan yang paling utama, semoga kita dipertemukan Allah Ta'ala bersama mereka dan kita berharap kepada Allah Ta'ala agar diberikan kekuatan untuk senantiasa mengikuti langkah mereka dan di golongkan sebagai hamba yang bertakwa. 

ونسأله سبحانه أن يجعلنا من المتبعين له المؤمنين به ، وأن يحيينا على سنته ويتوفانا عليها ، وأن يحشرنا يوم القيامة في زمرته وتحت لوائه ، وأن يمنَّ علينا بشفاعته ، وأن يغفر لنا خطأنا وتقصيرنا ؛ إنه سبحانه سميع الدعاء وأهل الرجاء وهو حسبنا ونعم الوكيل .

Kita memohon kepada Allah Subhanâhû wa Ta’âla agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa mengikuti jalan Nabi-Nya, beriman kepadanya, dan menghidupkan kita diatas sunnah sunnah nya dan mewafatkan kita diatas nya, dan mengumpulkan kita semua pada hari kiamat dalam golongan nya dan di bawah panjinya, dan memberikan limpahan syafa’at nya dan menghapus segala dosa dan kesalahan kita, sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Mendengar Do'a , dan Dia lah tempat kita bergantung, dan Dia Dzat Yang Memberikan Kecukupan bagi kita dan Dia Dzat Yang Memberikan Pertolongan. 

                              *******

Minggu, 04 Maret 2018

MENYANYI MENUMBUHKAN KEMUNAFIKAN

الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النَّفاق 



Oleh : As-Saikh Prof.DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullah Ta'ala. 

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du : 

قال عبد الله ابن مسعود رضي الله عنه: «الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ» سنن أبي داود (4927). 

Diriwayatkan oleh Sahabat Abdullah ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu berkata :  " Menyanyi akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati ". ( HR. Abu Dawud 4927 )

وجه إنباته للنفاق في القلب ما يلي ملخصا من "إغاثة اللهفان" لابن القيم:

Didalam kitab " Igootsatul lahfaan " karya Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah diterangkan secara ringkas, tentang bentuk kemunafikan yang tumbuh dalam hati, sebagai berikut : 

1 ـ أنه يلهي القلب ويصده عن فهم القرآن وتدبره والعمل بما 

فيه.

● Bahwasanya nyanyian tersebut dapat melalaikan hati dan menghalangi seseorang dari memahami dan mentadaburi Al Qur'an serta mengamalkan nya. 

2ـ أن الإيمان قول وعمل : قول بالحق وعمل بالطاعة وهذا ينبت على الذكر وتلاوة القرآن والنفاق قول الباطل وعمل البغى وهذا ينبت على الغناء.

● Bahwasanya Iman terdiri dari perkataan dan perbuatan, yaitu berkata dengan kebenaran dan beramal ketaatan, dan semacam ini menumbuhkan amal kebajikan seperti berdzikir dan membaca Al Qur'an, dan sebaliknya, suatu kemunafikan terdiri dari ucapan ucapan yang bathil dan amalan yang melampaui batas, dan ini tidak lain terlahir dari nyanyian. 

3 ـ أن من علامات النفاق : قلة ذكر الله والكسل عند القيام إلى الصلاة ونقر الصلاة وقل أن تجد مفتونا بالغناء إلا وهذا وصفه.

● Diantara tanda kemunafikan adalah : sedikit upaya untuk berdzikir kepada Allah Ta'ala, dan malas tatkala mengerjakan sholat dan terburu-buru dalam menunaikannya, dan tidak sedikit orang orang-orang yang tergoda dengan nyanyian, kecuali seperti ini keadaan mereka. 

4 ـ أن النفاق مؤسس على الكذب والغناء من أكذب الشعر فإنه يحسن القبيح ويزينه ويأمر به ويقبح الحسن ويزهد فيه وذلك عين النفاق.

● Bahwasanya kemunafikan dibangun di atas kedustaan, sedangkan nyanyian merupakan bentuk senandung yang paling dominan dengan kedustaan, sebagaimana isi kandungan nya memuji yang buruk, menghiasi dan mengajak keburukan, dan sebaliknya, mencela kebaikan dan mengkerdilkan nya, dan semacam ini adalah bentuk kemunafikan. 

5 ـ أن النفاق غش ومكر وخداع والغناء مؤسس على ذلك.

● Bahwasanya kemunafikan adalah tersusun dari perbuatan curang, rekayasa dan penipuan, dan nyanyian di bangun diatas itu semua. 

6 ـ أن المنافق يفسد من حيث يظن أنه يصلح كما أخبر الله سبحانه بذلك عن المنافقين وصاحب السماع يفسد قلبه وحاله من حيث يظن أنه يصلحه.

● Bahwasanya orang-orang munafik mereka berbuat kerusakan, namun banyak yang menyangka telah berbuat kebajikan, sebagaimana yang telah dikabarkan Allah Ta'ala, tentang orang-orang munafik, dan orang-orang yang mendengarkan nyanyian merusak hati dan keadaannya, dan mereka menyangka telah berbuat baik. 

7 ـ أن الغناء يفسد القلب وإذا فسد القلب هاج فيه النفاق.

● Sesungguhnya nyanyian dapat merusak hati dan jika hati telah rusak, maka niscaya muncul kemunafikan. 

Sabtu, 16 Desember 2017

MUSIBAH GEMPA BUMI


Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du : 

☝ Gempa Bumi Merupakan Peringatan dari Allah Kepada Hamba-Nya :

Di antara bentuk peringatan yang Allah Ta'ala berikan kepada hamba-Nya, Allah Ta'ala wujudkan dalam bentuk musibah dan bencana alam. Terkadang dalam bentuk angin kencang yang memporak-porandakan berbagai bangunan, terkadang dalam bentuk gelombang pasang, hujan besar yang menyebabkan banjir, gempa bumi, termasuk peperangan di antara umat manusia. Semuanya bisa menjadi potensi untuk mengingatkan manusia agar mereka takut dan berharap kepada Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala berfirman : 

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ

Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain...” (QS. Al-An’am: 65)

☝ Semua Musibah, Sebabnya Adalah Maksiat :

Gempa bumi, musibah yang saat ini menggelayuti perasaan takut banyak manusia bisa jadi merupakan hukuman dari Al-Jabbar (Dzat Yang Maha Perkasa), disebabkan sikap manusia yang meninggalkan aturan Allah, yang bergelimang dengan maksiat dan dosa. Manusia bemaksiat kepada Allah Ta'ala, mereka melakukannya secara terang-terangan di hadapan Allah Ta'ala, tanpa ada rasa malu kepada Allah. Selanjutnya Allah Ta'ala perintahkan bumi untuk berguncang, terjadilah gempa bumi, agar manusia mau kembali betaubat, dan memohon ampunan kepada-Nya.

 Allah Ta'ala  berfirman :

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

“Tidaklah kami mengirim tanda-tanda kekuasaan itu (berupa musibah dan sejenisnya), selain dalam rangka menakut-nakuti mereka.” (QS. Al-Isra’: 59)

Untuk lebih menguatkan hal ini, mari kita perhatikan ayat berikut

Allah Ta'ala berfirman : 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Allah Ta'ala menyebut maksiat manusia sebagai makar, dan adzab bisa jadi akan turun secara tiba-tiba tanpa aba-aba.

Allah Ta'ala berfirman : 

أَفَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لا يَشْعُرُونَ * أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُمْ بِمُعْجِزِين

“Maka apakah orang-orang yang membuat makar dengan melakukan maksiat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. Atau Allah mengazab mereka di waktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu).” (QS. An-Nahl: 45 – 46)

Allah Ta'ala juga mengingatkan, bisa jadi balasan makar Allah Ta'ala untuk hamba-Nya yang membangkang, datang ketika mereka sedang tidur.

Allah Ta'ala berfirman : 

أفأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا بياتاً وهم نائمون

“Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?” (QS. Al-A’raf: 97)

☝ Hukuman Allah Mengenai Semuanya :

Sesungguhnya adzab Allah Ta'ala, ketika menimpa sekelompok masyarakat maka adzab ini mencakup orang baik dan orang bejat, orang dewasa dan anak-anak, laki-laki dan perempuan. Semuanya sama-sama mendapatkan hukuman. Bahkan termasuk makhluk yang tidak memiliki dosa dan kesalahan, semacam anak-anak dan binatang sekalipun, mereka turut merasakannya.

Hal ini sebagaimana yang ditegaskan dalam hadis, dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا ظهرت المعاصي في أمتي عمهم الله بعذاب من عنده ، فقلت يا رسول الله ، أما فيهم يومئذ أناس صالحون ؟ قال : بلى ، قلت : كيف يصنع بأولئك ؟ قال : يصيبهم ما أصاب الناس ، ثم يصيرون إلى مغفرة من الله ورضوان

“Apabila perbuatan maksiat dilakukan secara terang-terangan pada umatku, maka Allah akan menimpakan adzab-Nya secara merata.” Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah di antara mereka saat itu ada orang-orang saleh? Beliau bersabda, “Benar.” Ummu Salamah kembali bertanya, “Lalu apa yang akan diterima oleh orang ini? Beliau menjawab, “Mereka mendapatkan adzab sebagaimana yang dirasakan masyarakat, kemudian mereka menuju ampunan Allah dan ridha-Nya.” (HR. Ahmad)

Dalam Alquran, Allah Ta'ala menegaskan bahwa setiap musibah yang menimpa manusia, disebabkan perbuatan maksiat yang pernah mereka lakukan.

 Allah Ta'ala berfirman :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Setiap musibah yang menimpa kalian, disebabkan perbuatan tangan kalian, dan Allah memberi ampunan terhadap banyak dosa.” (QS. As-Syuro: 30)

Allah Ta'ala juga menceritakan keadaan umat sebelum kita.

Allah Ta'ala berfirman : 

فَكُلّاً أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِباً وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Masing-masing Kami adzab disebabkan dosa mereka. Di antara mereka ada yang kami kirimi angin kencang, di antara meraka ada yang dimusnahkan dengan teriakan yang sangat pekak, ada yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidaklah menzalimi mereka, namun mereka yang bersikap zalim pada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ankabut: 40)

Ibnul Qoyim rahimahullah menjalaskan,
Terkadang Allah Ta'ala memerintahkan bumi untuk begetar, sehingga terjadilah gempa bumi yang besar. Sehingga manusia pada takut, resah, kembali bertaubat, meninggalkan maksiat, dan tunduk dan menyesal kepada Allah Ta'ala. Sebagaimana yang ditegaskan sebagian sahabat, ketika terjadi gempa bumi, beliau menyatakan :

إن ربكم يستعتبكم

“Sesungguhnya Tuhan kalian menegur kalian.”

Disebutkan oleh Imam Ahmad rahimahullah, dari Ummul Mukminin Shafiyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan :

زلزلت المدينة على عهد عمر فقال : أيها الناس ، ما هذا ؟ ما أسرع ما أحدثتم . لئن عادت لا تجدوني فيها

Pernah terjadi gempa di kota Madinah, di zaman Umar bin Khatab. Maka Umar berceramah, “Wahai manusia, apa yang kalian lakukan? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan. Jika terjadi gempa bumi lagi, kalian tidak akan menemuiku lagi di Madinah.” (HR. Ahmad)

Diceritakan oleh Ibn Abi Dunya rahimahullah dari Sahabat  Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwa beliau bersama seorang lelaki lainnya pernah menemui Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu anha. Lelaki ini bertanya : “Wahai Ummul Mukminin, jelaskan kepada kami tentang fenomena gempa bumi!” Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu anhu anha menjawab :

إذا استباحوا الزنا ، وشربوا الخمور ، وضربوا بالمعازف ، غار الله عز وجل في سمائه ، فقال للأرض : تزلزلي بهم ، فإن تابوا ونزعوا ، وإلا أهدمها عليهم

“Jika mereka sudah membiarkan zina, minum khamar, bermain musik, maka Allah yang ada di atas akan cemburu. Kemudian Allah perintahkan kepada bumi: ‘Berguncanglah, jika mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat, berhentilah. Jika tidak, hancurkan mereka’.”

Orang ini bertanya lagi, “Wahai Ummul Mukminin, apakah itu siksa untuk mereka?”

Beliau menjawab :

بل موعظة ورحمة للمؤمنين ، ونكالاً وعذاباً وسخطاً على الكافرين ..

“Itu adalah peringatan dan rahmat bagi kaum mukminin, serta hukuman, adzab, dan murka untuk orang kafir.”  (Al-Jawab Al-Kafi)

Dari pernyataan Kholifah Umar radhiyallahu anhu , beliau memahami bahwa penyebab terjadinya gempa di Madinah adalah perbuatan maksiat yang dilakukan masyarakat yang tinggal di Madinah. Pernyataan ini disampaikan kepada para sahabat dan mereka tidak mengingkarinya. Ini menunjukkan bahwa mereka sepakat dengan pemahaman Kholifah Umar radhiallahu ‘anhu.

Hal yang semisal juga telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau bersabda : 

إذا اتخذ الفيء دولا ، والأمانة مغنما ، والزكاة مغرما ، وتعلم لغير الدين ، وأطاع الرجل امرأته ، وعق أمه ، وأدنى صديقه ، وأقصى أباه ، وظهرت الأصوات في المساجد ، وساد القبيلة فاسقهم ، وكان زعيم القوم أرذلهم ، وأكرم الرجل مخافة شره ، وظهرت القينات والمعازف ، وشربت الخمور ، ولعن آخر هذه الأمة أولها فليرتقبوا عند ذلك ريحا حمراء وزلزلة وخسفا ومسخا وقذفا وآيات تتابع كنظام بال قطع سلكه فتتابع

“Jika harta rampasan perang dijadikan kas negara (tidak lagi diberikan kepada orang yang ikut perang), amanah dijadikan rebutan, jatah zakat dikurangi, selain ilmu agama banyak dipelajari, lelaki taat kepada wanita dan memperbudak ibunya, orang lebih dekat kepada temannya dan menjauh dari ayahnya, banyak teriakan di masjid, yang memimpin kabilah adalah orang yang bejat (fasik), yang memimpin masyarakat orang yang rendah (agamanya), orang dimuliakan karena ditakuti pengaruh buruknya, para penyanyi wanita tampil di permukaan, khamr diminum, dan generasi terakhir melaknat generasi pertama (sahabat), maka bersiaplah ketika itu dengan adanya angin merah, gempa bumi, manusia ditenggelamkan, manusia diganti wajahnya, dilempari batu dari atas, dan berbagai tanda kekuasaan Allah (musibah) yang terus-menerus, seperti ikatan biji tasbih yang putus talinya, maka biji ini akan lepas satu-persatu.” (HR. At-Turmudzi)

☝ Gempa Bumi Termasuk di Antara Tanda Dekatnya Kiamat :

Di antara tanda dekatnya kiamat adalah seringnya terjadi gempa bumi. Disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا تقوم الساعة حتى يقبض العلم ويتقارب الزمان وتكثر الزلازل ، وتظهر الفتن ، ويكثر الهرج ” قيل وما الهرج يا رسول الله ؟ قال : القتل القتل

“Tidak akan terjadi kiamat, sampai ilmu itu diangkat, waktu semakin pendek, banyak gempa bumi, fitnah meraja lela, dan banyak terjadi al-haraj.” Sahabat bertanya, apa itu al-haraj? Beliau menjawab: “Pembunuhan, pembunuhan”. (HR. Al-Bukhari)

☝ Bukan Hanya Fenomena Alam!! :

Sebagian orang tidak menerima pernyataan gempa sebagai peringatan dari Allah Ta'ala. Mereka beranggapan bahwa gempa sama sekali tidak memiliki kaitan dengan perbuatan dan maksiat manusia. Kejadian gempa itu murni fenomena alam, bukan hukuman tuhan. Beristigfar, bukanlah solusi yang tepat dalam hal ini.

Jawaban pernyataan ini, sesungguhnya Allah Ta'ala telah menjelaskan bahwa gempa bumi, statusnya sama dengan fenomena alam yang lain. Allah Ta'ala  ciptakan fenomena semacam ini untuk memberikan peringatan para hamba-Nya, agar merka meninggalkan dosa dan kembali kepada Penciptanya.

Pengetahuan kita tentang sebab gempa tidaklah menihilkan bahwa itu merupakan bagian takdir Allah Ta'ala untuk hamba-Nya disebabkan dosa mereka. Sehingga maksiat inilah yang menjadi pemicu sebab. Ketika Allah Ta'ala menghendaki sesuatu, Allah Ta'ala ciptakan sebabnya dan Allah Ta'ala wujudkan akibatnya. 

Allah Ta'ala  berfirman : 

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً

“Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra: 16)

☝ Solusi Ketika Terjadi Bencana :

Karena itu, bertaqwalah kepada Allah Ta'ala, takutlah kepada Allah Ta'ala, mintalah ampunan kepada Allah Ta'ala. 

Allah Ta'ala berfirman : 

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآياتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ * وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ * لِكُلِّ نَبَأٍ مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: “Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu”.  Untuk setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.” (QS. Al-An’am: 65 – 67)

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah mengirim surat ke berbagai negara bagian.

 Isinya:

أما بعد فإن هذا الرجف شيء يعاتب الله عز وجل به العباد ، وقد كتبت إلى سائر الأمصار أن يخرجوا في يوم كذا ، فمن كان عنده شيء فليتصدق به فإن الله عز وجل قال : (قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى* وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى) وقولوا كما قال آدم : (( قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ) وقولوا كما قال نوح : (( وإلا تغفر لي وترحمني أكن من الخاسرين )) وقولوا كما قال يونس : (( لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين ))

Amma ba’du, sesungguhnya gempa yang terjadi ini merupakan teguran dari Allah kepada hamba-Nya. Saya telah mengirim surat ke berbagai daerah untuk keluar pada hari tertentu. Siapa yang memiliki sesuatu, hendaknya dia sedekahkan.

 

 Allah berfirman : 

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى* وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

“Sungguh beruntung orang yang mengeluarkan zakat. Dia mengingat nama Tuhannya kemudian shalat.” (Q.S  Al -A'la 14-15)

Dan aku perintahkan mereka untuk mengatakan sebagaimana yang diucapkan Adam alaihi salam :

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Allah, kami telah menzalimi diri kami, jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, tentu kami akan menjaid orang yang rugi.” ( Q.S Al A'raf : 23)

Aku juga perintahkan agar mereka mengucapkan sebagaimana yang dikatakan Yunus Alaihi salam :

لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين

"Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim". (Q.S  Al-Anbiya : 87) 

            ☆☆☆☆●●●☆☆☆☆

《 Disadur dengan berbagai perubahan dari artikel :  الزلزال عبر وعضة لفضيلة الشيخ محمد بن عبدالله الحبدان  

Diterjemahkan oleh ustadz Ammi Nur Baits 》