Senin, 22 Juni 2020

ROJA` BERHARAP KEPADA ALLAH TA`ALA


Alhamdulillah was sholatu was salamu ala` Rosulillah wa ba`du ;

Roja` adalah berharap, berangan dan bercita-cita.

Yang dimaksud disini adalah berharapnya seorang hamba kepada Allah Ta`ala terhadap karunia, rahmat dan ampunan Nya.

Roja` merupakan bentuk ibadah yang sangat agung kepada Allah Ta`ala, bahkan menjadi salah satu rukun ibadah yang harus di ikhlaskan semata kepada Allah Ta`ala.

Allah Ta`ala berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٢١٨﴾

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S.2:218)

Berharap kepada Allah Ta`ala terdapat tiga bentuk :

1) Harapan yang benar sesui syariat.
Yaitu seorang hamba berharap kepada Allah Ta`ala bersamaan dengan mengambil sebab musabab yang menghantarkan kepada kesuksesan.

seperti :
Mengharapkan pahala kepada Allah dari orang orang yang berbuat ketaatan.

Mengharapkan ampunan dan rahmat Allah Ta`ala dari orang orang yang bertaubat dari melakukan dosa.

Mengharapkan karunia dan rizki Allah Ta`ala dari orang orang yang telah bekerja dan berusaha secara maksimal.

Allah Ta`ala berfirman :

ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا ﴿١١٠﴾

" Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (Q.S.18:110)

Allah Ta`ala berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَٰرَةً لَّن تَبُورَ ﴿٢٩﴾

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,"
(Q.S.35:29)

2) Harapan palsu yang menyelisihi syariat

Yaitu mengharapkan karunia Allah tanpa beramal dan berusaha,
seperti :
Seseorang yang bergelimang dosa dan maksiat dan terus menerus terjebak pada dosa mengharapkan akan rahmat dan ampunan Allah Ta`ala.
orang yang demikian keadaannya adalah orang yang tertipu dalam harapan semu yang palsu.

Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata : `` Perbedaan antara berharap kepada Allah Ta`ala dan harapan palsu dan semu adalah kemalasan dan engan beramal serta tidak berjalan di jalan kesungguhan dan ketekunan.

sedangkan berharap kepada Allah Ta`ala seseorang beramal dan bersungguh sungguh yang disertai rasa tawakal kepada Allah Ta`ala.

Seperti keadaan orang yang berharap memiliki ladang, kebun dan memetik hasil perkebunannya tanpa ada usaha menebar benih dan berdiam diri berpangku tangan.

sedangkan yang satu ia mencangkul ladang, menebar benih, menjaga serta merawat tanaman dengan baik dan mengharapkan hasil panen yang melimpah.

oleh karena ini seluruh orang yang berakal sepakat bahwa harapan yang benar adalah bilamana disertai amal dan usaha``.(Madarijusalikin 2/37)

3) Harapan yang mensekutukan Allah Ta`ala.

Yaitu berharap kepada selain Allah Ta`ala yang menjadi kehususan Allah Ta`ala semata, dan ini tergolong syirik besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama islam.

Contoh :

~ Berharapnya kaum musyrikin terhadap berhala mereka dalam mendatangkan manfaat dan menghindarkan madhorot.

~ Berharapnya orang orang pengagung kubur terhadap kubur para wali agar dosa mereka dihapuskan atau berharap untuk mendapatkan keselamatan petaka dan musibah di dunia ataupun akhirat.

KEWAJIBAN MENGGABUNGKAN ANTARA KHOUF (rasa takut) DAN ROJA` (rasa berharap)

Kewajiban bagi seorang mukmin untuk menggabungkan antara rasa takut kepada Allah Ta`ala dan berharap akan rahmat Nya, sehingga menggapai derajat yang tengah antara khouf dan roja` , hingga tidak berat pada rasa takut yang mengakibatkan putus asa dari rahmat Allah Ta`ala ataupun berat pada sisi berharap yang berlebihan hingga menimbulkan rasa aman dari siksa Allah Ta`ala.

Allah Ta`ala berfirman :

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا ﴿٥٧﴾

"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti." (Q.S.17:57)

Terdapat beberapa riwayat dari para salaf yang menetapkan manhaj ini, diantaranya :

* Umar bin Khottob radhiyallahu anhu berkata : Jika sekiranya dijumpai pangilan dari langit : Wahai para manusia, kalian semuanya akan masuk surga kecuali satu diantara kalian, niscaya aku merasa takut dan khawatir jika satu itu adalah diriku, ataupun jika terdengar dari langit : Wahai para manusia kalian semua akan masuk neraka kecuali satu orang, niscaya aku berharap satu itu adalah diriku .(Hilyah Abu Nuaim 1/53)

* Abu Aly Rudzaba`ry rahimahullah berkata : Kouf dan Roja` keduanya seperti dua sayap seekor burung, jika sejajar maka burung tersebut terbang dengan lurus dan mendatar, jika tidak berimbang salah satunya maka akan condong kearahnya, jika kehilangan kedua sayapnya maka ia diambang kematian.
Sehingga dikatakan : Sekiranya diukur rasa berharap nya seorang mukmin dan rasa takut nya niscaya akan berimbang satu dengan lainnya. (Al Baihaqi dalam Syuabul Iman 2/12 {1027})

* Muthorrif bin Abdillah berkata : Jika sekiranya diukur antara berharap nya seorang mukmin dan rasa takut nya niscaya didapati akan imbang . (Al Baihaqi 2/12 dan Hilyah 2/208 )

📔📔📓📓📓📓📓📔📔

Sabtu, 23 Mei 2020

PENGHUJUNG RAMADHAN

Sungguh hari-hari di bulan nan suci ini dipenuhi dengan amal puasa, dzikir, tilawah. Sedang malam-malamnya senantiasa diisi ketaatan seperti sholat malam dan ibadah. Begitu cepat hari dan malam berlalu penuh kenangan, seolah hanya sekejab dari bagian siang dan malam. Tiada kata yang pantas kita ucapkan melainkan panjatan doa dan harapan agar hari yang terlewat mendatangkan barokah di hari-hari selanjutnya kedepan. Dan agar kita diberi taufiq mampu menyempurnakan bulan ini dengan membawa rahmat, ampunan, magfiroh serta dibebaskan dari neraka. Dan semoga kita diberi kesempatan menjumpai ramadhon berikutnya tahun depan hingga kita dipertemukan dalam iman salamah dan islam.

Allah Ta'ala mensyariatkan di penghujung bulan ini ibadah muliya sehingga menambah iman dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya, diantaranya:

√ Zakat fitri, dimana Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memfardhukan satu sok dari makanan, diriwayatkan dari Abdullah ibnu Umar radhiyallahu'anhu berkata, "Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memfardhukan zakat fitri satu sok dari kurma atau satu sok dari gandum kepada setiap manusia merdeka atau budak, laki atau perempuan, besar atau kecil dari muslimin, dan memerintahkan agar ditunaikan sebelum pergi menuju sholat ('ied)". (HR Bukhary dan Muslim).

Dari Abu said Al Khudriy radhiyallahu'anhu berkata, "Kita di masa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam menunaikan zakat fitri satu sok dari makanan, dan makanan kita adalah gandum, zabib, keju dan kurma". (HR Bukhary dan Muslim).

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu, "Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memfardhukan zakat fitri sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia, perbuatan laghwi dan sebagai persediaan makan bagi orang miskin. Maka barangsiapa yang menunaikannya sebelum sholat maka itu adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah sholat maka itu hanyalah sedekah seperti sedekah yang ada". (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Zakat fitrah wajib ditunaikan seorang muslim untuk dirinya pribadi dan orang-orang yang dibawah naungan nafkahnya seperti anak, istri, dan yang dinafkahi lainnya. Adapun janin di dalam perut tidak wajib dizakati, akan tetapi bila tetap dizakati hukumnya istihab (sunnah).

Dan hendaknya ia menunaikan zakat di tempat ia berada selama sebulan terakhir. Jika ia berada disuatu negeri/ wilayah tertentu, sedang keluarganya di negeri berbeda, maka ia membayarkan zakat untuk dirinya dan keluarganya di tempat ia berada. Dan dibolehkan minta tolong keluarganya agar membayarkan zakat untuk dirinya dan diri mereka di tempat mereka tinggal.

Waktu menunaikan zakat dimulai dari tengelamnya matahari malam 'ied hingga menjelang sholat. Dan dibolehkan ditunaikan sehari atau dua hari sebelum 'ied, yaitu tgl 28, 29 Ramadhon. Adapun sebelumnya lagi maka tidak dibolehkan. Mengakhirkan pembayaran zakat menjelang sholat ini yang paling afdhol, dan jika mengakhirkan hingga setelah sholat tanpa udzur, maka ia berdosa, dan wajib mengqhodho' setelahnya.

Orang yang berhak menerima zakat fitrah adalah orang yang berhak menerima zakat mal pula sama tidak berbeda. Maka dibolehkan memberikannya secara langsung atau diwakilkan ketika menunaikannya. Besaran zakat ini adalah satu sok (±2,5 - 3 kg ) dari gandum, tepung, kurma, zabib, keju, dan semisal dari makanan pokok di suatu daerah yang ia tinggali seperti beras, jagung, sagu, dan semisalnya. Tidak boleh menunaikan dengan diuangkan sebagai ganti dari makanan pokok tersebut, dikarenakan hal ini menyelisihi petunjuk Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan menyelisihi amal para sahabat, yang tidak mengenal pembayaran melalui mata uang, walau di saat itu juga dijumpai mata uang. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa melakukan perbuatan yang bukan dari perintah Kami maka tertolak ". (HR Muslim).

√ Bertakbir menjelang 'ied, disyariatkan mulai terbenamnya matahari pada malam 'ied. Allah Ta'ala berfirman: "Dan agar kalian membesarkan nama Allah atas limpahan hidayah pada kalian dan agar kalian bersyukur". (QS Al Baqoroh: 185).

Disunnahkan agar mengeraskan suara bagi lelaki baik di masjid, pasar, rumah, sebagai pengumandangan pengagungan kepada Allah dan menampakkan ibadah dan syukur. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dahulu pergi menuju sholat 'ied dan bertakbir sampai di tempat dan hingga usai sholat. Jika sholat 'ied telah ditunaikan maka berhenti dari takbirnya". (HR Ibnu Abi Syaibah).

Sifat takbirnya adalah: "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil hamd". Setiap muslim mengucapkan untuk dirinya sendiri. Adapun berjamaah dengan satu suara dari pertama hingga akhir maka ini tdk sesuai sunnah, dan tidak dilakukan para salaf, sedang jalan yang baik adalah mengikuti jejak para salaf sholih. Adapun untuk para wanita hendaknya bertakbir secara pelan, dikarenakan mereka dianjurkan agar merendahkan suara sebagaimana menutup anggota badan.

√ Pelaksanaan sholat 'ied. Disunnahkan agar mandi sebelum melaksanakan sholat ied, dan berpakaian yang paling indah yang ia miliki. Tidak dibolehkan memakai sutra, berpakaian isbal, pakaian ketat dan tipis, berpakaian menyerupai kaum kafir, mencukur jenggot, meniru wanita dan kufar, dan supaya mengikuti petunjuk sunnah. Wanita juga dianjurkan pergi menuju tempat sholat dengan tanpa berhias, tanpa memakai wewangian, jangan sampai ia pergi dalam rangka menjalankan ketaatan akan tetapi kenyataannya bermaksyiat kepada Allah seperti bertabaruj, berhias di hadapan lelaki yang bukan mahromnya.

Dari umi Athiyah radhiyallahu'anha berkata, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kita para wanita agar pergi melaksanakan 'ied fitri dan 'adha, baik yang tidak berhalangan, maupun yang berhalangan haid, termasuk para wanita muda, adapun yang berhalangan haid maka diperintahkan agar memisahkan diri dari sholat dan tetap menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Bertanya ummu Athiyah radhiyallahu'anha, "Bagaimana jika salah satu dari kita tidak memiliki jilbab?" Maka dijawab, "Hendaknya saudari lainnya dari kaum muslimin memberikan jilbab kepadanya". (HR Muslim).

Disunnahkan agar memakan kurma pada waktu 'iedul fitri sebelum berangkat menuju tempat sholat, sebagaimana dilakukan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam. Dan disunnahkan agar berbeda antara jalan ketika berangkat dan ketika pulang, dan tidak ada sholat sunnah apapun sebelum dan sesudah sholat 'ied.

Kita memohon kepada Allah agar memungkasi bulan Ramadhon ini dengan keridhoan-Nya, dari seluruh amal dan ucapan kita , dan mengahiri perbuatan kita dengan khotimah yang baik.

~ disarikan dari tulisan Syaikh Abdurrozaq hafidzahullah di www.al-badr.net ~

Minggu, 17 Mei 2020

PERJALANAN MENUJU ALLAH TA`ALA


As-Saikh Prof.DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullah Ta'ala.

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du;

Sesungguhnya seorang mukmin dalam mengarungi kehidupan dunia ini berjalan menuju suatu tujuan, dan tujuan ini adalah menggapai ketaatan Allah Ta'ala dan meraih keridhoan Dzat Yang Maha Agung serta merealisasikan ubudiyah penghambaan kepada Allah Ta'ala, sehingga ia berjalan didalam kehidupannya untuk mengenal Robb nya, nama dan Sifat-Sifat Nya yang menunjukkan akan kebesaran dan keagungan Tuhan nya dan mengesakan peribadatan murni ditujukan kepada Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala berfirman, " Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan". ( QS Al - An ' am 162-164 ).

Jalan seorang mukmin dalam perjalanan ini memiliki dasar dan tujuan, adapun dasarnya adalah berjalan diatas ketaatan dan ubudiyah setahap demi setahap hingga ajal menjemput nya dalam keadaan istiqomah diatas ketaatan.

Allah Ta'ala berfirman, "  Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat). dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) ". ( QS Al-Hijr 97-99 ).

Adapun tujuan akhir bagi seorang mukmin adalah surga Allah Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman, " Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa ". ( QS Ali-Imran 133 ).

Sesungguhnya surga merupakan tujuan dari cita-cita dan pungkasan akhir, yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang kekal abadi, kesenangan yang hakiki, suatu tempat yang suci, tidak pernah dipandang oleh mata, terdengar di telinga, terpikirkan oleh pikiran.

Jika penduduk surga telah memasuki surga maka Allah Ta'ala berfirman kepada para penduduk nya, sebagaimana diriwayatkan dalam shohih Muslim, " Apakah kalian menghendaki agar Aku menambah kenikmatan?....Mereka mengatakan: " Bukankah Engkau telah menjadikan wajah kami bercahaya dan Engkau telah masukkan kami kedalam surga dan dijauhkan dari neraka. ..?", Maka dibukalah hijab, dan tidak ada kenikmatan yang lebih mereka sukai dari melihat kepada wajah Allah Azza wa Jalla ".
Kita memohon kepada Allah Ta'ala agar merasakan kelezatan melihat wajah Nya, dan rindu bertemu dengan Nya.

Sesungguhnya perjalanan menuju Allah Ta'ala membutuhkan penggerak dan penyemangat, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama bahwa penggerak hati seorang mukmin yang jujur ada tiga perkara yaitu: mahabbah atau rasa cinta, roja' atau berharap, dan khouf atau rasa takut.

Adapun mahabbah, maka sesungguhnya rasa cinta ini yang akan menjadikan seseorang mukminin berjalan di atas shiroth Al mustakim yaitu jalan yang lurus dan senantiasa istiqomah berjuang diatas nya.

Adapun roja' atau berharap merupakan nakhoda bagi seorang mukmin dalam mengarungi suatu perjalanan hidup.

Adapun khouf maka ini merupakan kendali yang akan menahan diri dari terjerumus kedalam jalan yang bengkok.

Tiga perkara ini terkumpul dalam firman Allah Ta'ala, " Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti ". ( QS Al - Isra' 57 ).

Dalam perjalanan menuju Allah Ta'ala disana dibutuhkan amalan yang menjadi tonggak dan pilar utama yaitu fardhu-fardhu dan wajibat yang dijumpai dalam ajaran agama islam serta menjauhi segala larangan dan dosa yang akan mendatangkan kemurkaan Dzat Al-Malik Al- Allam.

Tiada sesuatu yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dari menjalankan perkara fardhu dan kewajiban agama.

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhary dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, bahwa Allah Ta'ala berfirman, " Barang siapa yang memusuhi para wali-Ku, sungguh Aku telah mengumandangkan peperangan terhadap nya, dan tidaklah seseorang hamba mendekatkan diri kepada Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai dari pada melakukan perbuatan wajib yang Aku perintahkan atasnya dan senantiasa hamba Ku mendekatkan diri kepada Ku dengan mengerjakan amalan amalan sunnah hingga Aku mencintai nya, sekiranya Aku mencintai nya niscaya Aku sebagai pendengaran nya tatkala ia mendengar, sebagai penglihatan nya tatkala ia melihat, sebagai tangan nya tatkala ia memegang, sebagai kakinya tatkala ia melangkah, jika ia meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku penuhi, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya akan kuberikan perlindungan kepada nya ". ( HR Bukhary ).

Dalam suatu perjalanan menuju Allah Ta'ala tentu disana dijumpai hambatan yang senantiasa akan menghampiri nya sehingga seseorang sepantasnya memiliki rasa harapan terhadap rahmat Allah Ta'ala dan cemas akan hukuman yang Allah timpakan kepada dirinya.

Secara singkat, bahwa hambatan dan rintangan yang utama ada tiga perkara, yaitu:

Pertama, perbuatan syirik dan menyekutukan Allah Ta'ala, dan agar kita selamat dari nya hendaknya senantiasa Mengikhlaskan diri kepada Allah Ta'ala semata murni agama.

Kedua, adalah perbuatan bid'ah dan perkara yang diada-adakan, dan supaya bisa terhindar darinya adalah senantiasa mengikuti petunjuk Rosulillah Sallallahu alaihi wa sallam.
Ketiga, yaitu perbuatan maksiat dengan aneka ragam nya, jika kita terjebak di dalamnya maka jalan keluar nya adalah bertaubat dari dosa tersebut dan berniat kuat agar menjauhi segala perbuatan yang menjerumuskan kepadanya.

Jalan menuju Allah Ta'ala disana dijumpai banyak penghalang dan aral melintang yang sepatutnya seorang mukmin berhati-hati agar perjalanannya tidak putus ditegah jalan.

Diantara penghalang utama adalah setan yang terkutuk -semoga kita diselamatkan Allah Ta'ala dari godaan nya- sehingga banyak dijumpai ayat dalam Al-Qur'an yang memberikan peringatan akan makar dan tipu daya setan yang menjadi musuh bebuyutan anak cucu Adam yang senantiasa menggoda dari sisi depan, belakang, kanan, kiri, dan berusaha untuk menjerumuskan kedalam kesesatan hingga berpaling dari agama Allah Ta'ala dan menjauh dari jalan yang lurus dan ketaatan.

Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda, " Sesungguhnya setan senantiasa berusaha untuk menjerumuskan anak cucu Adam dengan beraneka ragam cara ".
Yaitu ia berusaha menggoda dan mencegah manusia yang berbuat ketaatan hingga merasa bosan dan meninggalkan ketaatan.

Demikian juga dijumpai bala tentara setan dari jin dan manusia yang sangat banyak sekali tidak terhitung semoga kita diberikan perlindungan Allah Ta'ala dari gangguan mereka.

Untuk menempuh perjalanan menuju jalan Allah Ta'ala tidak sepantasnya kita berlambat lambat, malas, bosan, akan tetapi hendaknya bersemangat dan bersegera dan berlomba didalam ketaatan sehingga akan meraih kemenangan dan keberuntungan yang besar.

Seorang manusia dalam mengarungi kehidupan dunia ini dibatasi dengan ajal, sehingga jika ajal seseorang telah datang maka tidak mungkin untuk ditunda.

Dan orang yang beruntung adalah orang yang senantiasa mempersiapkan diri dengan amal sebelum ajal menjemput nya.
Semoga Allah Ta'ala memberikan kekuatan untuk memperbanyak amal kebajikan hingga kita menggapai ridho Allah Ta'ala dan semoga kita dapat istiqomah diatas jalan yang lurus.

📘📘📔📔📔📘📘