Senin, 13 Juni 2022

TAKUT KEPADA ALLAH TA`ALA MERUPAKAN IBADAH




Alhamdulilah, Was Sholatu was Salamu ala' Rosulillah,  wa ba' du ;

Sesungguhnya amalan hati merupakan amalan yang sangat agung, pahala nya merupakan pahala yang sangat besar, sedangkan amalan lahiriyah mengikuti amal hati manusia dan berkedudukan sebagai penjelas dari amalan amalan hati, sehingga dikatakan: '' Hati adalah raja seluruh badan manusia, anggota tubuh merupakan prajurit nya ''. 

Diriwayatkan dari sahabat Anas radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:  

«لا يستقيمُ إيمانُ عبدٍ حتى يستقيمَ قلبُه»؛ رواه أحمد.

Tidak akan pernah lurus iman seseorang hamba sehingga lurus hati nya ". (HR Ahmad)

Arti dari lurus nya hati seorang hamba adalah mentauhidkan Allah Ta'ala didalam hati nya, mengagungkan, mencintai, berharap dan takut kepada Allah Ta'ala, gemar melakukan ibadah ketaatan dan membenci kemaksiatan. 

Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam shohih nya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

«إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم، ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم».

" Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak melihat kepada rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah Ta'ala melihat kepada hati-hati dan amal-amal kalian ". (HR Muslim).

وقال الحسن لرجلٍ: "داوِ قلبك؛ فإن حاجة الله إلى العباد صلاحُ قلوبهم".

Dan Al Imam Al Hasan rahimahullah berkata kepada seseorang: " Perbaiki lah hati mu, sesungguhnya apa yang diperlukan Allah Ta'ala kepada seorang hamba adalah baiknya hati hati mereka ".

Sesungguhnya diantara amalan hati yang dapat membangkitkan berbuat amalan ketaatan kepada Allah Ta'ala dan menghidupkan rasa gemar berbuat untuk kampung akhirat serta membentengi diri dari kemaksiatan dan zuhud untuk dunia dan pengekang jiwa dari nafsu adalah rasa takut kepada Allah Ta'ala. 

Rasa takut kepada Allah Ta'ala merupakan pengendali hati manusia untuk selalu berbuat baik dan ketaatan kepada Allah Ta'ala serta sebagai benteng diri dari berbuat maksiat dan durhaka dan menggiring kepada kebaikan dan perbaikan jiwa manusia. 

Rasa takut kepada Allah Ta'ala merupakan salah satu cabang dari cabang cabang keimanan, yang hendaklah ditujukan hanya kepada Allah Ta'ala semata, jikalau sekiranya diselewengkan kepada selain Nya maka ini merupakan bentuk kesyirikan. 

Dan sungguh Allah Ta'ala memerintahkan kepada para hamba agar hanya takut kepada Allah Ta'ala dan melarang dari takut kepada selain Nya. 

Allah Ta'ala berfirman: 

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿١٧٥﴾

"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (Q.S.3:175)

Allah Ta'ala berfirman:  

 ۚ فَلَا تَخْشَوُا۟ ٱلنَّاسَ   

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku(Q.S.5:44)

Allah Ta'ala berfirman: 

 وَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ ﴿٤٠﴾

"dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)." (Q.S.2:40)

وعن أنس - رضي الله عنه - قال: خطبَنا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقال: «لو تعلمون ما أعلم لضحِكتم قليلاً، ولبكيتُم كثيرًا»، فغطَّى أصحاب رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وجوهَهم ولهم خَنين - أي: لهم صوتٌ من البكاء -؛ رواه البخاري ومسلم.

Diriwayatkan oleh sahabat Anas radhiyallahu anhu berkata: " Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah dihadapan kami seraya bersabda: " Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis ".

Maka para sahabat menutupi wajah wajah mereka dan terdengar suara isak tangis ".

(HR Al Bukhari dan Muslim)

Rasa takut yang dimaksudkan adalah bergetar nya hati dan khawatir dari tertimpa nya petaka dan adzab Allah Ta'ala ketika meninggalkan kewajiban atau menerjang suatu larangan atau melalaikan suatu mustahab atau bergelimang dengan makruhat atau takut sekiranya amal amal nya tidak diterima oleh Allah Ta'ala sehingga ia berusaha sekuat tenaga melakukan kebajikan dan menjauhi seluruh keburukan. 

Sesungguhnya rasa khosyah, wajal, Rohbah, Haibah, merupakan lafadz yang maknanya berdekatan, namun bukan satu arti dengan khouf yang berarti rasa takut, karena sesungguhnya arti dari khosyah adalah rasa takut kepada Allah Ta'ala yang lebih khusus, karena  dibarengi dengan mengilmui terhadap sifat sifat Allah Ta'ala. 

Allah Ta'ala berfirman: 

 ۗ إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ﴿٢٨﴾

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Q.S.35:28)


Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:  

«أمَا إني أخشاكم لله وأتقاكم لله».

" Adapun aku merupakan seseorang yang paling khosyah (takut kepada Allah Ta'ala) diantara kalian dan aku adalah seseorang yang paling bertakwa kepada Allah diantara kalian ".

Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: " al khouf merupakan rasa takut yang menimpa kaum muslimin secara umum dan sedangkan al Khosyah merupakan rasa takut yang dimiliki para ulama yang mengetahui ilmu. 

Dan Allah Ta’ala telah memberikan janji kepada orang-orang yang takut kepada Nya, hingga rasa takut tersebut membentengi diri dari segala pintu keburukan syahwat dan menggiring kepada kebaikan dan ketaatan, hingga Allah Ta'ala berikan imbalan yang sangat agung sebagaimana firman Nya: 

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِ ﴿٤٦﴾

"Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga." (Q.S.55:46)

Allah Ta'ala berfirman:  

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ ﴿٤٠﴾  فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ ﴿٤١﴾

"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,"

"maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)."
(Q.S.79:40-41)

Allah Ta'ala berfirman: 

قَالُوٓا۟ إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِىٓ أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ ﴿٢٦﴾  فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ ﴿٢٧﴾

"Mereka berkata: "Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)"."

"Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka." (Q.S.52:26-27)

روى ابن أبي حاتم عن عبد العزيز - يعني: ابن أبي رواد -قال: بلغني أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - تلا هذه الآية: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ [التحريم: 6] وعنده بعض أصحابه، وفيهم شيخٌ، فقال الشيخ: يا رسول الله! حجارةُ جهنَّم كحجارة الدنيا؟ فقال النبي - صلى الله عليه وسلم -: «والذي نفسي بيده؛ لصخرةٌ من جهنم أعظمُ من جبال الدنيا كلها»، قال: فوقع الشيخُ مغشيًّا عليه، ووضع النبي - صلى الله عليه وسلم - يدَه على فؤاده فإذا هو حيٌّ، فناداه قال: «يا شيخُ! قل: لا إله إلا الله»، فقالها، فبشَّره النبي - صلى الله عليه وسلم - بالجنة، فقال بعض أصحابه: يا رسول الله! أمن بيننا؟ قال: «نعم، يقول الله تعالى: ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ [إبراهيم: 14]».

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim rahimahullah dari Abdul Aziz ibnu Abi Rowwad rahimahullah berkata telah sampai dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau membaca firman Allah Ta'ala:  

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ .... ﴿٦﴾

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; .....  (Q.S.66:6)

Dan disekeliling Nabi Shallallahu alaihi wa sallam terdapat banyak sahabat dan diantara nya seseorang yang sudah berumur, dan bertanya, wahai Rasulullah, bebatuan neraka jahanam apakah seperti bebatuan didunia? ....

Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: " Demi yang jiwaku berada dalam genggaman Nya , sungguh bebatuan di neraka jahanam lebih besar daripada seluruh gunung gunung di dunia ". 

Maka orang tua tersebut terjatuh pingsan, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam memeriksa nya dan meletakkan tangan nya di dada orang tersebut dan ternyata ia masih hidup, dan Nabi pun berkata kepada nya, wahai orang tua, ucapkan LA ILAHA ILLALLAHU , Maka dia pun mengucapkan nya hingga Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memberikan kabar gembira bahwa ia masuk surga. 

Maka sebagian para sahabat bertanya, wahai Rasulullah, apakah hal tersebut juga berlaku bagi kita semua?

Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ya benar. 

Allah Ta'ala berfirman; 

 ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِى وَخَافَ وَعِيدِ ﴿١٤﴾

"Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku"." (Q.S.14:14)

Dahulu para generasi salaf terdominasi perasaan mereka takut kepada Allah Ta'ala hingga mereka tekun dalam beramal ibadah dan rajin berharap kepada Allah Ta'ala hingga keadaan mereka menjadi baik dan akhir kehidupan mereka harum. 

وقال أمير المؤمنين علي - رضي الله عنه - وقد سلَّم من صلاة الفجر وقد علاه كآبة، وهو يُقلِّبُ يدَه -: "لقد رأيتُ أصحاب محمدٍ - صلى الله عليه وسلم - فلم أر اليوم شيئًا يُشبِههم، لقد كانوا يُصبِحون شُعثًا صُفرًا غُبرًا، بين أعينهم أمثالُ رُكَب المِعزَى، قد باتوا لله سُجَّدًا وقيامًا، يتلون كتابَ الله، يُراوِحون بين جِباههم وأقدامهم، فإذا أصبَحوا ذكروا الله فمادُوا كما يميدُ الشجر في يوم الريح، وهمَلت أعينهم بالدموع حتى تبُلّ ثيابهم".

Amirul mukmin Aly radhiyallahu anhu telah salam dari Sholat subuh dan sakitnya telah memuncak, dan membalikkan tangan beliau seraya berkata: " Aku dahulu melihat para sahabat sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam namun sekarang ia tidak lagi melihat orang orang yang serupa dengan mereka, dahulu mereka para sahabat diwaktu subuh wajah wajah mereka layu mengurus dan menguning dan dihadapan mereka seolah rombongan perang padahal semalam suntuk mereka berdiri dan sujud membaca ayat ayat Allah Ta'ala, mereka bersandar dengan kaki kaki mereka dan kening kening mereka(sujud), dan apabila diwaktu pagi mereka banyak berdzikir kepada Allah Ta'ala tegak penuh khusyuk bak layaknya sebuah pohon yang teguh menjulang tatkala diterpa angin dan mata mata mereka berkaca kaca mengalirkan tetesan hingga membasahi baju baju mereka ".

ففي الحديث القدسي: "وعزتي وجلالي لا أجمع على عبدي أمنين، ولا أجمع عليه خوفين؛ إن أمنني في الدنيا أخفته في الآخرة، وإن خافني في الدنيا أمنته يوم القيامة".

Disebutkan dalam hadits Qudsi, Allah Ta'ala berfirman: " Demi keagungan Ku dan kemuliaan Ku , tidak akan Aku kumpulkan  pada seseorang hamba dua rasa aman dan dua rasa takut,  jika seseorang hamba mendapatkan rasa aman tatkala ia didunia maka sungguh aku akan beri ketakutan ketika di akhirat , dan sekiranya ia merasa takut Kepada Ku didunia maka niscaya Aku akan berikan rasa aman ketika di akhirat ". 

قال أبو حفص عمر بن مسلمة الحداد النيسابوري: الخوف سراج في القلب، به يبصر ما فيه من الخير والشر، وكل أحد إذا خفته هربت منه، إلا الله عز وجل فإنك إذا خفته هربت إليه. فالخائف من ربه هارب إليه.

وقال أبو سليمان: ما فارق الخوف قلباً إلا خرب

وقال إبراهيم بن سفيان: إذا سكن الخوف القلوب أحرق مواضع الشهوات منها، وطرد الدنيا عنه

وقال ذو النون: الناس على الطريق ما لم يَزُلْ عنهم الخوف؛ فإذا زال الخوف ضلّوا الطريق.

Abu Hafs Umar ibnu Salamah Al Haddad An Naisabury rahimahullah berkata: " rasa takut kepada Allah Ta'ala merupakan pelita dan cahaya di dalam hati manusia,  dengan nya seseorang dapat melihat dan membedakan antara kebaikan dan keburukan, dan seseorang apabila merasa takut niscaya ia akan lari menjauh darinya kecuali takut kepada Allah engkau akan lari mendekat Nya, maka seseorang yang takut kepada Tuhannya ia akan mendekat Nya ". 

Berkata Abu Sulaiman rahimahullah: " Tidaklah rasa takut yang meninggalkan dari hati manusia kecuali akan merusak hati tersebut ". 

Ibrahim  ibnu Sufyan rahimahullah berkata: " Jika sekiranya rasa takut kepada Allah Ta'ala berada dalam hati manusia maka niscaya akan menyingkirkan syahwat dalam hati nya dan akan mengusir cinta dunia dalam hati nya ".

Dzun Nun rahimahullah berkata: " Sesungguhnya para manusia senantiasa berada pada jalan yang lurus selagi memiliki rasa takut kepada Allah Ta'ala, jika sekiranya tercabut rasa takut tersebut niscaya akan tersesat dari jalan yang benar ".

📓📓📓📗📓📓📓








 






 

Minggu, 24 April 2022

BULAN RAMADHAN ADALAH BULAN AL-QUR`AN


Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du; 

Bulan Ramadhan merupakan bulan Al-Qur'an yang mana didalam nya diturunkan ayat ayat Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah Ta'ala : 

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ  ﴿١٨٥﴾

" (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).  (Q.S. Al-Baqorah :185)

Para Salafus-Sholih rahimahumullah  sangat bersemangat untuk memperbanyak membaca Al-Qur'an pada saat bulan Ramadhan. 

Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakh'i rahimahullah berkata : " Dahulu Al-Aswad ibnu Yazid senantiasa mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an pada bulan Ramadhan setiap dua hari sekali, dan ia hanya tidur antara magrib dan isya' . Adapun diluar bulan Ramadhan ia mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an setiap enam hari sekali ".

Diriwayatkan dari Abdul Malik ibnu Abi Sulaiman rahimahullah berkata, dari Said ibnu Jubair, bahwasanya ia senantiasa mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an setiap dua hari sekali ".

وقيل: كان الخليفة الوليد بن عبد الملك يختم في كل ثلاثٍ، وختم في رمضان سبع عشرة ختمة

Dikatakan : " Dahulu Kholifah Al-Walid ibnu Abdul Malik senantiasa mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an setiap tiga hari sekali, dan mengkhatamkan pada saat bulan Ramadhan sebanyak tujuh belas kali khatam ". 

وقال مسبِّح بن سعيد: "كان محمد بن إسماعيل البخاري يختم في رمضان في النهار كل يوم ختمة، ويقوم بعد التراويح كل ثلاث ليالٍ بختمة".

Dan berkata Musabbih ibnu Said : " Dahulu Muhammad ibnu Ismail Al-Bukhari selalu mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an setiap siang hari bulan Ramadhan sekali khatam, dan kemudian setiap tiga malam setelah tarawih juga mengkhatamkan ".

Sesungguhnya kesempatan pada bulan Ramadhan tidak akan terulang, dan bulan ini adalah bulan Al-Qur'an, maka sepantas nya seorang muslim untuk memperbanyak tilawah Al-Qur'an Al-Karim, sebagaimana keadaan para Salafus-Sholih terdahulu yang sangat besar sekali perhatian terhadap Kitab Allah Ta'ala, sebagaimana pula Malaikat Jibril mengajarkan Al-Qur'an kepada Nabi Sallallahu alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan, dan Sahabat Utsman ibn Affan senantiasa mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an setiap hari sekali, dan sebahagian Salaf setiap tiga malam mengkhatam kan,  ada pula yang mengkhatamkan setiap tuju hari, sebahagian mengkhatamkan setiap sepuluh hari dan membaca Al-Qur'an pada waktu sholat dan diluar sholat. 

كذلك كان للشافعي في رمضان ستون ختمة، يقرؤها في غير الصلاة.

 وكان قتادة يختم في كل سبع دائمًا، وفي رمضان في كل 

 ثلاث، وفي العشر الأواخر في كل ليلة.

 وكان الزهريُّ إذا دخل رمضان يفرُّ من قراءة الحديث، ومجالسة أهل العلم، ويُقبِل على تلاوة القرآن من المصحف.

 وكان سفيان الثوري إذا دخل رمضان ترك جميع العبادة وأقبل على قراءة القرآن

Demikian pula Al-Imam As-Syafi'i senantiasa mengkhatam kan bacaan Al-Qur'an pada bulan Ramadhan sebanyak enam puluh kali khatam, membaca nya diluar waktu sholat. 

Al-Imam Qotadah rahimahullah mengkhatamkan setiap tujuh hari sekali, dan dalam bulan Ramadhan mengkhatamkan setiap tiga hari sekali, dan jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ia mengkhatamkan setiap malam sekali. 

Al-Imam Az-Zuhry rahimahullah jika telah datang bulan Ramadhan berhenti dari mengajarkan ilmu Hadits, dan menghentikan majlis ilmu, dan hanya fokus tilawah Al-Qur'an dari Mushaf .

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah jika telah datang bulan Ramadhan maka menghentikan segala bentuk ibadah, dan hanya fokus untuk membaca Al-Qur'an. 

قال ابن رجب الحنبلي: "إنما ورد النهي عن قراءة القرآن في أقل من ثلاثٍ على المداومة على ذلك، فأما في الأوقات المفضَّلة كشهر رمضان، والأماكن المفضلة كمكة لمن دخلها من غير أهلها، فيستحبُّ الإكثار فيها من تلاوة القرآن؛ اغتنامًا لفضيلة الزمان والمكان، وهو قول أحمد وإسحاق وغيرهما من الأئمة، وعليه يدل عمل غيرهم، كما سبق"

Al-Imam Ibnu Rojab Al-Hambali rahimahullah berkata : " Adapun larangan untuk mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari tiga hari, hal ini jika dilakukan terus menerus, adapun jika bertepatan dengan waktu yang memiliki kehususan seperti bulan Ramadhan, dan tempat-tempat khusus seperti Makkah, bagi orang-orang yang bukan penduduknya, maka dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur'an, dalam rangka menggunakan kesempatan berada di tempat dan waktu yang utama, dan ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan Ishaq dan para Imam selainnya, dan sesuai dengan praktik amalan mereka sebagai mana terdahulu ".

رمضان شهر الذكر والعبادة وقراءة القرآن

كان الإمام أحمد يُغلِق الكتب ويقول: هذا شهر القرآن.

 وكان الإمام مالك بن أنس لا يفتي ولا يدرِّس في رمضان، ويقول: هذا شهر القرآن.

Bulan Ramadhan merupakan bulan untuk berdzikir dan ibadah serta membaca Al-Qur'an. 

Imam Ahmad dahulu  (jika memasuki bulan ramadan) maka menutup semua kitab kitab  (yang ia ajarkan kepada para murid murid) dan seraya berkata : " Ini merupakan bulan khusus Al-Qur'an".

Dahulu Imam Ma'lik ibnu Anas tidak memberikan fatwa dan tidak mengajarkan  (ilmu) jika telah memasuki bulan Ramadhan, seraya berkata  (kepada para murid-murid nya) : " Ini adalah bulan khusus untuk Al-Qur'an ".

وقد احتضر أحد السلف، فجلس أبناؤه يبكون، فقال لهم: لا تبكوا؛ فوالله لقد كنتُ أختم في رمضان في هذا المسجد عند كل سارية 10 مرات.

Sebahagian dari Salaf menjumpai sakaratul maut, dan ditunggu oleh para putra putra nya dengan menangis, maka ia pun berkata kepada para putra nya : " Janganlah kalian menangis, demi Allah, aku telah mengkhatamkan Al-Qur'an di masjid ini pada setiap tiang yang berdiri sebanyak sepuluh khataman pada bulan Ramadhan ".

Dan dalam masjid tersebut terdapat empat tiang penyangga, sehingga ia telah membaca dengan khatam sebanyak empat puluh kali pada bulan Ramadhan. 

     📕📕📕📗📗📕📕📕

SEPULUH HARI TERAKHIR BULAN RAMADHAN

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala Rosulillah, wa ba'du :

Sesungguhnya merupakan petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam di sepuluh hari  terakhir bulan ramadan adalah bersungguh sungguh dalam beribadah tidak seperti hari hari sebelumnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari hadist Ummul Mukminin  A'isyah radhiyallahu anhuma berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد في العشر الأواخر من رمضان ما

لا يجتهد في غيره 

" Dahulu Rosulillah shallallahu alaihi wa sallam bersungguh sungguh dalam sepuluh hari terakhir bulan ramadan tidak seperti pada hari-hari sebelum nya ".

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhary dan Muslim dalam shohih mereka dari Ummul Mukminin A'isyah radhiyallahu anhuma berkata,

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دخل العشر – أي العشر الأخير من

رمضان –أحيا الليل و جد و شد مئزره وأيقظ أهله .

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki sepuluh terakhir Ramadhan, beliau bersungguh sungguh dan mengencangkan tali sarungnya (yakni meningkat amaliah ibadah beliau), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.” Muttafaqun ‘alaihi

Dalam hadist ini maksud dari menghidupkan malam-malamnya yaitu dengan menggunakan sholat malam, berdzikir, ber do'a, dan maksud membangunkan istri-istrinya adalah membangunkan dari tidur nya agar bersungguh sungguh dalam beribadah seperti menunaikan sholat, berdzikir, ber munajat kepada Allah Ta'ala , dan amalan sunnah seperti ini jarang sekali yang mengerjakan nya diantara kaum muslimin.

Allah Ta'ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا

مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

" Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
(Q.S.66 At-Tahriim : 6)

Adapun maksud dari mengencangkan tali sarungnya sebagaimana dikatakan oleh kebanyakan Ahli Ilmu adalah kinayah dari menjauhi istrinya guna bersungguh sungguh dalam ibadah , oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan ibadah i'tikaf didalam masjid dan memutuskan dari segala urusan dunia dan menyendiri menghadapkan diri kepada Allah Ta'ala untuk berdzikir, ber do'a, ber munajat.

I'tikaf merupakan suatu ibadah yang paling bermanfaat bagi diri guna memperbaiki jiwa dan hatinya serta berlepas diri dari segala bentuk kekurangan, dan barangsiapa yang mencobanya niscaya akan merasakan nya.

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhary dan Muslim dalam shohih mereka, dari Ummul Mukminin A'isyah radhiyallahu anhuma berkata,

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف في العشر الأواخر من رمضان

حتى توفاه الله ، ثم اعتكف أزواجه من بعده

" Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam dahulu melakukan ibadah i'tikaf didalam sepuluh terakhir bulan ramadan hingga beliau wafat, kemudian istri istri beliau melakukan ibadah i'tikaf sepeninggal beliau ".

Jika seseorang bertanya, apakah hikmah dibalik Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersungguh sungguh dalam beribadah di sepuluh terakhir bulan ramadan tidak seperti sebelumnya?

Maka jawabannya adalah bahwasanya dalam sepuluh hari terakhir bulan ramadan terdapat malam lailatul Qodar.

Di antara nikmat dan karunia Allah subhanahu wa ta’ala terhadap umat Islam, dianugerahkannya kepada mereka satu malam yang mulia dan mempunyai banyak keutamaan. Suatu keutamaan yang tidak pernah didapati pada malam-malam selainnya. Tahukah anda, malam apakah itu? Dia adalah malam “Lailatul Qadr”. Suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana firman Allah Ta'ala ,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ

شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِيَ حَتَّى

مَطْلَعِ الْفَجْرِ *

“ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan (Lailatul Qadr) itu? Malam kemuliaan itu (Lailatul Qadr) lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar ”. (Al-Qadr: 1-5)

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Bahwasanya (pahala) amalan pada malam yang barakah itu setara dengan pahala amalan yang dikerjakan selama seribu bulan yang tidak ada padanya Lailatul Qadr. Seribu bulan itu sama dengan delapan puluh tiga tahun lebih. Itulah di antara keutamaan malam yang mulia tersebut. Maka dari itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk meraihnya, dan beliau bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِإِيْمَاناًوَاحْتِسَاباً،غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمُ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr atas dorongan iman dan mengharap balasan (dari Allah), diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR Al Bukhari, An-Nasa’i dan Ahmad)

Demikian pula Allah subhanahu wa ta’ala beritakan bahwa pada malam tersebut para malaikat dan malaikat Jibril turun. Hal ini menunjukkan betapa mulia dan pentingnya malam tersebut, karena tidaklah para malaikat itu turun kecuali karena perkara yang besar. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mensifati malam tersebut dengan firman-Nya:

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar

Allah subhanahu wa ta’ala mensifati bahwa di malam itu penuh kesejahteraan, dan ini merupakan bukti tentang kemuliaan, kebaikan, dan barakahnya. Barangsiapa terhalangi dari kebaikan yang ada padanya, maka ia telah terhalangi dari kebaikan yang besar”.

Wahai hamba-hamba Allah, adakah hati yang tergugah untuk menghidupkan malam tersebut dengan ibadah …?!, adakah hati yang terketuk untuk meraih malam yang lebih baik dari seribu bulan ini …?! Betapa meruginya orang-orang yang menghabiskan malamnya dengan perbuatan yang sia-sia, apalagi dengan kemaksiatan kepada Allah.

Mengapa Disebut Malam “Lailatul Qadr”?

Para ulama menyebutkan beberapa sebab penamaan Lailatul Qadr, di antaranya:

1. Pada malam tersebut Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan secara rinci takdir segala sesuatu selama 1 tahun (dari Lailatul Qadr tahun tersebut hingga Lailatul Qadr tahun yang akan datang), sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ *

“Sesungguhnya Kami telah menurukan Al-Qur`an pada malam penuh barakah (yakni Lailatul Qadr). Pada malam itu dirinci segala urusan (takdir) yang penuh hikmah”. (Ad Dukhan: 4)

2. Karena besarnya kedudukan dan kemuliaan malam tersebut di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

3. Ketaatan pada malam tersebut mempunyai kedudukan yang besar dan pahala yang banyak lagi mengalir.

Kapan Terjadinya Lailatul Qadr?

Malam “Lailatul Qadr” terjadi pada bulan Ramadhan.

Pada tanggal berapakah? Dia terjadi pada salah satu dari malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadr itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan)”. (HR Al Bukhari)

Lailatul Qadr terjadi pada setiap tahun. Ia berpindah-pindah di antara malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) tersebut sesuai dengan kehendak Allah Yang  Maha Kuasa.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Lailatul Qadr itu (dapat) berpindah-pindah. Terkadang terjadi pada malam ke-27, dan terkadang terjadi pada malam selainnya, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits yang banyak jumlahnya tentang masalah ini. Sungguh telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Bahwa beliau pada suatu tahun diperlihatkan Lailatul Qadr, dan ternyata ia terjadi pada malam ke-21″.

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dan Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud rahimahumallahu berkata: “Adapun pengkhususan (memastikan) malam tertentu dari bulan Ramadhan sebagai Lailatul Qadr, maka butuh terhadap dalil. Akan tetapi pada malam-malam ganjil dari 10 hari terakhir Ramadhan itulah dimungkinkan terjadinya Lailatul Qadr, dan lebih dimungkinkan lagi terjadi pada malam ke-27 karena telah ada hadits-hadits yang menunjukkannya”.

Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan ,

عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ إِذَا قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: لَيْلَةُ سَبْع وَعِشْرِيْنَ

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya apabila beliau menjelaskan tentang Lailatul Qadr maka beliau mengatakan : “(Dia adalah) Malam ke-27″. (HR Abu Dawud)

Kemungkinan paling besar adalah pada malam ke-27 Ramadhan. Hal ini didukung penegasan shahabat Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu :

عن أبي بن كعب قال : قال أبي في ليلة القدر : والله إني لأعلمها وأكثر

علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي

ليلة سبع وعشرين

Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadr) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27. (HR. Muslim)

Tanda-tanda Lailatul Qadr

Pagi harinya matahari terbit dalam keadaan tidak menyilaukan, seperti halnya bejana (yang terbuat dari kuningan). (HR Muslim)

Lailatul Qadr adalah malam yang tenang dan sejuk (tidak panas dan tidak dingin) serta sinar matahari di pagi harinya tidak menyilaukan. (HR Ibnu Khuzaimah dan Al Bazzar)

Dengan apakah menghidupkan sepuluh  terakhir Ramadhan dan Lailatul Qadr?

Asy-Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz dan Asy Syaikh Abdullah bin Qu’ud rahimahumallahu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk mengerjakan shalat (malam), membaca Al-Qur’an, dan berdo’a daripada malam-malam selainnya”.

Demikianlah hendaknya seorang muslim dan muslimah, menghidupkan malam-malamnya pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan dengan meningkatkan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala; shalat tarawih dengan penuh iman dan harapan pahala dari Allah Ta'ala semata, membaca Al-Qur’an dengan berusaha memahami maknanya, bersedekah, ber munajat,  membaca buku-buku yang bermanfaat, dan bersungguh-sungguh dalam berdo’a serta memperbanyak dzikrullah.

Di antara bacaan do’a atau dzikir yang paling afdhal untuk dibaca pada malam (yang diperkirakan sebagai Lailatul Qadr) adalah sebagaimana yang ditanyakan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah jika aku mendapati Lailatul Qadr, do’a apakah yang aku baca pada malam tersebut?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bacalah:

اللهم إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi Maaf, Engkau suka pemberian maaf, maka maafkanlah aku”. (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Maka hendaknya pada malam tersebut memperbanyak do’a, dzikir, dan istighfar.

Apakah pahala Lailatul Qadr dapat diraih oleh seseorang yang tidak mengetahuinya?

Ada dua pendapat dalam masalah ini:

Pendapat Pertama: Bahwa pahala tersebut khusus bagi yang mengetahuinya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ini adalah pendapat kebanyakan para ulama. Yang menunjukkan hal ini adalah riwayat yang terdapat pada Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan lafazh:

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِفَيُوَافِقُهَا

“Barangsiapa yang menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr dan menepatinya.”

kalimat  فيوافقها di sini diartikan: " mengetahuinya "

Menurut pandanganku pendapat inilah yang benar, walaupun aku tidak mengingkari adanya pahala yang tercurahkan kepada seseorang yang mendirikan shalat pada malam Lailatul Qadr dalam rangka mencari Lailatul Qadr dalam keadaan ia tidak mengetahui bahwa itu adalah malam Lailatul Qadr”.

Pendapat Kedua: Didapatkannya pahala (yang dijanjikan) tersebut walaupun dalam keadaan tidak mengetahuinya. Ini merupakan pendapat Ath-Thabari, Al-Muhallab, Ibnul ‘Arabi, dan sejumlah dari ulama.

Asy-Syaikh Al -‘Utsaimin rahimahullah merajihkan pendapat ini, sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya Asy-Syarhul Mumti’:

“Adapun pendapat sebagian ulama bahwa tidak didapatinya pahala Lailatul Qadr kecuali bagi yang mengetahuinya, maka itu adalah pendapat yang lemah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِإِيْمَاناًوَاحْتِسَاباً،غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr dalam keadaan iman dan mengharap balasan dari Allah Ta'ala  diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR Al Bukhari)

Rasulullah tidak mengatakan: “Dalam keadaan mengetahui Lailatul Qadr”. Jika hal itu merupakan syarat untuk mendapatkan pahala tersebut, niscaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan pada umatnya. Adapun pendalilan mereka dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِفَيُوَافِقُهَا

“Barangsiapa yang menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr dan menepatinya.”

Maka makna   فيوافقها   di sini adalah: bertepatan dengan terjadinya Lailatul Qadr tersebut, walaupun ia tidak mengetahuinya”.

Semoga anugerah Lailatul Qadr ini dapat kita raih bersama, sehingga mendapatkan keutamaan pahala yang setara (bahkan) melebihi amalan seribu  bulan.

Semoga Allah Ta'ala memberikan taufik dan inayah kepada kita semua sehingga di hari hari terakhir bulan ramadan ini kita dapat mendulang amalan ibadah dan ampunan dari segala dosa dosa kita dan dapat menggapai surga Allah Ta'ala dan di bebaskan dari siksa api neraka.

📔📔📔📗📓📔📔📔