Jumat, 16 Januari 2026

PELAJARAN DARI PERISTIWA ISRA DAN MI‘RAJ



Mengambil Pelajaran dari Ayat Isra dan Mi‘raj

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Tanggal terbit: 11 Oktober 2022 M / 15 Rabi‘ul Awwal 1444 H

Tema Khutbah
Pemuliaan Rasul ﷺ dengan mukjizat Isra dan Mi‘raj
Pentingnya mukjizat Isra dan Mi‘raj dan sebagian hikmahnya
Peringatan dari berbagai kejahatan dan bentuk-bentuknya
Mengambil pelajaran dari peristiwa Isra dan Mi‘raj serta larangan merayakannya (bid‘ah)
Kewajiban beriman dan membenarkan peristiwa Isra dan Mi‘raj


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, atas karunia dan kebaikan-Nya, dengan pujian yang baik dan banyak.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Mahasuci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zalim dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang Allah perjalankan pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu Dia naikkan ke langit yang tinggi, sehingga beliau memperoleh keutamaan yang besar dan kebaikan yang melimpah. 

Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepadanya, kepada keluarga dan para sahabatnya dengan salam yang banyak.

Amma ba‘du:

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan bersyukurlah atas nikmat-Nya kepada kalian.

Dan di antara nikmat-Nya yang paling agung adalah diutusnya Rasul ﷺ kepada kalian.

Dan di antara keistimewaan besar serta kemuliaan tinggi yang Allah berikan kepada beliau adalah mukjizat Isra ke Masjidil Aqsha dan Mi‘raj ke langit.

Sesungguhnya Isra dan Mi‘raj termasuk nikmat terbesar bagi umat ini. 

Allah telah menyebutkannya dalam Kitab-Nya dan menjelaskan hikmahnya dalam Surah Al-Isra dan Surah An-Najm.

Dalam peristiwa itu Allah memuliakan Nabi-Nya dan memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya, serta mewajibkan kepada umatnya shalat lima waktu, yang merupakan rukun Islam paling utama setelah dua kalimat syahadat.

Awalnya diwajibkan lima puluh shalat dalam sehari semalam, kemudian diringankan menjadi lima shalat dalam pelaksanaan, namun tetap bernilai lima puluh dalam pahala.

Dalam perjalanan yang penuh berkah itu, Rasulullah ﷺ melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang sangat agung, yang menenangkan hatinya dan menguatkan keyakinannya.

 Maka peristiwa Isra ini menjadi salah satu mukjizat beliau yang terbesar dan tanda-tanda kerasulan beliau yang paling agung.

Orang-orang beriman bergembira dengannya, sedangkan orang-orang kafir dan zalim menjadi murka dan dengki, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

“Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu itu melainkan sebagai ujian bagi manusia.”
(QS. Al-Isra: 60)

Dengan peristiwa ini, Allah menegakkan hujah, menjelaskan jalan kebenaran, sehingga orang yang beriman bertambah yakin, dan orang yang kafir semakin nyata kekafirannya setelah hujah ditegakkan atas mereka.

Maka kewajiban kaum muslimin di setiap zaman adalah mensyukuri nikmat ini dengan melaksanakan shalat lima waktu pada waktunya, di masjid-masjid Allah dan secara berjamaah, serta menjauhi dosa-dosa yang Nabi ﷺ lihat pelakunya disiksa dengan azab yang sangat pedih pada malam tersebut.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau melihat sekelompok orang yang kepala mereka dihancurkan dengan batu, setiap kali dihancurkan kembali seperti semula tanpa henti.

Beliau bertanya: “Siapakah mereka wahai Jibril?”

Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang berat kepala mereka untuk melaksanakan shalat wajib.”

Beliau juga melihat sekelompok orang yang di depan dan belakang mereka ada kain-kain penutup, mereka digiring seperti unta dan ternak, memakan tumbuhan berduri, zaqqum, dan batu panas dari neraka.

Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menunaikan zakat hartanya.”

Beliau melihat pula orang-orang yang di hadapan mereka ada daging matang yang baik, dan daging mentah yang busuk, namun mereka memakan yang busuk dan meninggalkan yang baik.

Jibril menjelaskan: “Itu adalah laki-laki yang memiliki istri halal yang baik, namun ia mendatangi wanita yang keji.”

Beliau juga melihat seorang laki-laki yang mengumpulkan beban besar yang tidak mampu ia pikul, namun masih menambahkannya.

Jibril berkata: “Itu adalah orang yang memikul amanah manusia namun tidak mampu menunaikannya, dan masih ingin menambah beban.”

Beliau melihat pula orang-orang yang lidah dan bibir mereka digunting dengan gunting besi, setiap kali digunting kembali seperti semula.

Jibril berkata: “Mereka adalah para pengobar fitnah.”

Beliau juga melihat batu kecil keluar darinya seekor sapi besar, lalu sapi itu ingin kembali ke tempat keluarnya namun tidak mampu.

Jibril menjelaskan: “Itu adalah orang yang mengucapkan kata besar, lalu menyesalinya, namun tidak mampu menariknya kembali.”

Dan beliau melihat orang-orang yang perut mereka seperti rumah, di dalamnya terdapat ular-ular yang tampak dari luar.

Jibril berkata: “Mereka adalah para pemakan riba.”

(Hadis diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Wahai hamba Allah,.. Rasulullah ﷺ menyaksikan mereka disiksa karena kejahatan-kejahatan tersebut sebagai peringatan keras bagi umatnya agar tidak terjerumus ke dalam dosa-dosa besar itu.

Di antaranya adalah melalaikan shalat, 
menahan zakat, 
berzina, 
mengkhianati amanah, menyulut fitnah dengan lisan, berkata dusta dan keji, 
serta memakan riba.

Semua ini semakin banyak terjadi di zaman kita, sehingga wajib bagi kita untuk takut kepada Allah dan kembali kepada syariat-Nya.

Janganlah bagian kita dari peristiwa Isra dan Mi‘raj hanya sekadar mengadakan perayaan bid‘ah yang tidak pernah disyariatkan Allah dan Rasul-Nya.

Sebagian orang hanya mengenal Isra dan Mi‘raj sebagai satu malam tertentu yang dirayakan setiap tahun, seolah-olah nikmat ini hanya berlaku pada satu malam saja, padahal hikmahnya terus berlangsung selama shalat lima waktu ditegakkan.

Ini adalah tradisi tercela yang menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani.

Maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah, ambillah pelajaran dari sirah Nabi kalian, hidupkan sunnah, dan jauhilah bid‘ah. 
Inilah jalan keselamatan.

Allah Ta‘ala berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.”
(QS. Al-Hasyr: 7)


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam, yang berfirman:

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami.”
(QS. Al-Isra: 1)

Wahai manusia, ...
bertakwalah kepada Allah dan renungkanlah peristiwa agung ini.

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. 
Dialah yang memperjalankan Rasul-Nya dalam satu malam, lalu mengembalikannya, sebagai ujian keimanan bagi manusia.

Orang yang beriman akan membenarkan tanpa ragu, sedangkan orang yang hatinya sakit akan mengingkarinya.

Sebagaimana sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, yang berkata:
“Jika ia mengatakannya, maka sungguh ia telah berkata benar.”

Inilah iman yang kokoh dan keyakinan yang jujur.

Maka kaidah besar dalam akidah adalah:
Apabila suatu berita telah sah dari Rasulullah ﷺ, maka wajib kita membenarkannya tanpa ragu, karena beliau tidak berbicara dari hawa nafsu.

Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada yang mustahil bagi-Nya.

ISRA DAN MI‘RAJ



Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Khutbah tanggal 26 Rajab 1447 H

bertepatan dengan 16 Januari 2026 M



“Peringatan Isra dan Mi‘raj serta Pelajaran-Pelajaran Terpentingnya”

Segala puji bagi Allah Yang Maha Berkehendak dan Maha Memilih, Maha Kuasa atas segala sesuatu tanpa sebab dan tanpa paksaan.

Kita memuji-Nya dengan pujian orang-orang yang mengakui keutamaan-Nya dan mengakui keadilan-Nya.

Dan kita bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Dan kita bersaksi bahwa junjungan kita Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang dikuatkan dengan mukjizat Isra dan Mi‘raj yang kekal, serta dimenangkan dengan iman dan amal saleh.

Semoga shalawat dan salam yang sempurna tercurah kepadanya, sesuai dengan kesempurnaan makna dan keindahan kedudukannya, juga kepada keluarga beliau yang suci dan terpilih, para sahabat beliau yang lurus dan mulia, serta kepada para pengikut mereka yang meneladani sirah beliau yang harum dan suci.

Amma ba‘du,..

wahai kaum mukminin dan mukminat:

Allah Ta‘ala berfirman dalam ayat-ayat-Nya yang kokoh:

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Al-Isra: 1)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah Yang Maha Benar mensucikan diri-Nya dari segala kebutuhan dan keterpaksaan, serta menegaskan bahwa Dia Maha Kuasa berbuat dengan kehendak dan pilihan-Nya.

Dan di antara perbuatan-Nya yang menunjukkan keagungan-Nya dan kebenaran Nabi-Nya Muhammad ﷺ adalah mukjizat Isra dan Mi‘raj, yang dengannya Allah menguatkan Rasul-Nya, memuliakannya, serta memuliakan umatnya, karena di dalam peristiwa itu diwajibkan shalat lima waktu dalam sehari semalam.

Di dalamnya terdapat banyak pelajaran dan hikmah.

Wahai hamba-hamba Allah...

Hikmah Allah Ta‘ala menghendaki agar mukjizat ini datang untuk membuktikan kebenaran Nabi ﷺ dalam kondisi yang paling sulit dan berat.

Paman beliau Abu Thalib wafat—yang selama ini membela beliau.

Istri beliau Ummul Mukminin Khadijah رضي الله عنها wafat—yang penuh kasih sayang dan menjadi penopang utama dakwah beliau dengan segala daya dan kemampuan.

Maka Makkah terasa sempit bagi beliau meskipun luas, lalu beliau menuju Thaif, berharap mendapatkan perlindungan dari para pemuka Tsaqif agar dapat menyampaikan risalah Tuhannya.

Namun penduduk Tsaqif membalas beliau dengan penolakan paling buruk dan memaksa beliau berlindung di kebun milik ‘Utbah bin Rabi‘ah.

Di sanalah Nabi ﷺ memanjatkan doa orang yang terdesak, doa Thaif yang terkenal:

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, 
sedikitnya dayaku, 
dan hinanya diriku di hadapan manusia. 
Wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi, Engkaulah Tuhan orang-orang yang tertindas, 
dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkanku? 
Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku? Atau kepada musuh yang Engkau kuasakan urusanku kepadanya? 
Selama Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli. Namun keselamatan dari-Mu lebih luas bagiku. 
Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat, dari turunnya murka-Mu kepadaku atau menimpanya kemurkaan-Mu. 
Kepada-Mu aku kembali hingga Engkau ridha, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu.”

Setelah doa-doa kenabian yang penuh berkah ini, datanglah berbagai bentuk jawaban dari Allah.

Di antaranya: sekelompok jin mendengar Nabi ﷺ membaca Al-Qur’an lalu beriman, seraya berkata:
“Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, maka kami beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami.”
(QS. Al-Jinn: 1–2)

Di antaranya pula: al-Muth‘im bin ‘Adi menerima Nabi ﷺ masuk ke Makkah dalam perlindungannya.

Dan di antaranya: masuk Islamnya sekelompok penduduk Madinah yang beriman kepada Rasulullah ﷺ.

Namun jawaban terbesar adalah perjalanan Isra dan Mi‘raj, yang seakan berkata dengan bahasa keadaan:

“Aku tidak menyerahkanmu wahai Rasul-Ku kepada seorang pun dari makhluk-Ku, melainkan kepada diri-Ku, penjagaan-Ku, dan perlindungan-Ku.”

Maka Nabi ﷺ diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu dimi‘rajkan ke langit yang tinggi hingga mencapai Sidratul Muntaha, tempat berakhirnya perjalanan para malaikat.

Kemudian beliau sampai ke tempat di mana beliau mendengar bunyi pena-pena yang digunakan malaikat untuk menuliskan takdir makhluk.

Allah mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang Dia kehendaki, termasuk kewajiban shalat lima waktu, yang awalnya diwajibkan lima puluh shalat, lalu diringankan dengan rahmat Allah hingga menjadi lima dalam pelaksanaan dan lima puluh dalam pahala.

Kemudian Nabi ﷺ kembali pada pagi harinya dan menceritakan peristiwa itu kepada kaum Quraisy dengan penuh keyakinan dan kejujuran.

Beliau menggambarkan Baitul Maqdis secara rinci, batu demi batu, serta mengabarkan tentang kafilah mereka yang sedang dalam perjalanan—kapan datang dan bagaimana kedatangannya.

Maka orang-orang beriman bertambah imannya, dan orang-orang kafir semakin bertambah kekafiran dan kesombongannya.

Itulah wahai hamba Allah, sebagian isyarat dan pelajaran dari mukjizat yang agung ini, yang waktu tidak cukup untuk menguraikannya seluruhnya.

Dan hal itu sudah cukup menjadi peringatan bagi siapa yang memiliki hati atau mau mendengarkan dengan penuh kesadaran.

Semoga Allah memberi manfaat kepada kita semua dengan Al-Qur’an-Nya yang mulia dan dengan sabda Nabi penghulu manusia terdahulu dan terakhir.

Dan akhir doa kami adalah segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam.


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang Allah muliakan dengan diperlihatkan kepadanya tanda-tanda besar Tuhannya, junjungan kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya semuanya.

Wahai hamba-hamba Allah..

Peringatan Isra dan Mi‘raj mengajak kita untuk mengambil sejumlah pelajaran dan hikmah, di antaranya:

Allah Ta‘ala adalah Penolong hamba-hamba-Nya yang beriman, dengan cara dan kehendak yang Dia kehendaki.

Bersama kesulitan ada kemudahan; 
ketika keadaan sempit, 
Allah melapangkan; 
ketika ujian berat, 
datang anugerah. 
Allah menepati janji-Nya dan menolong hamba-Nya.

Islam adalah agama yang menghilangkan kesulitan dan beban, dan ini termasuk inti risalah Rasulullah ﷺ serta tugas para pewaris dakwah beliau: memudahkan dan tidak mempersulit.

Shalat memiliki keistimewaan khusus dibandingkan ibadah lainnya, karena diwajibkan dari atas tujuh langit tanpa perantara, sebab ia adalah hubungan langsung antara hamba dan Tuhannya. 

Ia adalah mi‘rajnya orang-orang beriman. 

Dalam shalat, mereka mengucapkan “At-tahiyyatu lillah…” 
yang dahulu diucapkan Nabi ﷺ ketika berada pada jarak “dua busur panah atau lebih dekat”.

Maka seorang mukmin mengulang peristiwa itu dengan lafaz tasyahud dalam setiap shalat, baik wajib maupun sunnah.

Shalat dan doa adalah tempat berlindung saat kesulitan dan musibah, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

Dan Nabi ﷺ, apabila menghadapi suatu urusan yang berat, beliau melaksanakan shalat.

Masih banyak lagi pelajaran dan hikmah yang dapat dipetik dari mukjizat Isra dan Mi‘raj.

Seluruh sirah Nabi ﷺ adalah petunjuk, 
pelajaran, 
cahaya, 
nasihat, 
hukum, 
dan rahasia.

Dan kita—segala puji bagi Allah—berada dalam tahun perhatian terhadap sirah Nabi, baik dengan keterikatan, peneladanan akhlak, 
maupun pengamalan nilai-nilainya.

Maka ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada pemilik sirah dan sunnah yang suci, 
akhlak yang harum, 
dan kepribadian yang bercahaya, 
junjungan kami Muhammad ﷺ, 
yang mencapai derajat Mi‘raj yang tidak dicapai seorang pun sebelum dan sesudahnya.

Ridailah ya Allah para khalifahnya yang lurus
—Abu Bakar, 
Umar, 
Utsman, 
dan Ali—
yang membenarkannya ketika orang-orang mendustakannya, serta seluruh sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan para pengikut mereka hingga hari kiamat.


Ya Allah, berilah kami petunjuk dengan Al-Qur’an, muliakan kami dengan Al-Qur’an, hiasi kami dengan kemuliaan Al-Qur’an, terangilah hati kami dengan cahaya Al-Qur’an, dan jadikan kami orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk.

Ya Allah, rahmatilah kami, kedua orang tua kami, ibu-ibu kami, dan seluruh kaum muslimin yang telah wafat.

“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, dan siapkanlah bagi kami petunjuk dalam urusan kami.”

Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Perkasa dari apa yang mereka sifatkan.

Salam sejahtera atas para rasul.

Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam.

Minggu, 28 Desember 2025

TUHAN KALIAN TUHAN YANG ESA



“Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa”

Multaqa Al-Khuthaba – Tim Ilmiah

Tanggal Publikasi: 12 Oktober 2022 / 16 Rabi‘ul Awwal 1444 H

Kategori: Iman – Tauhid

Pokok-pokok Khutbah

Nama Allah Al-Wāḥid (Yang Maha Esa) dalam Al-Qur’an dan Sunnah
Makna-makna nama Allah Al-Wāḥid
Dalil-dalil akal tentang keesaan Rabb seluruh makhluk
Bagian dan pengamalan orang beriman terhadap nama Allah Al-Wāḥid
Dampak iman kepada keesaan Allah
Bagaimana beribadah kepada Allah dengan nama-Nya Al-Wāḥid

Kutipan

Ketika seorang hamba berserah diri kepada Allah ﷻ dan merasakan kemuliaan dalam keesaan-Nya, serta kekuatan dalam keyakinan bahwa Rabb-nya adalah satu, Maha Esa, Maha Tunggal, Maha Bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak memiliki sekutu dan tidak memiliki anak; Maha Suci dari tandingan dan keserupaan; Allah tidak mengambil anak dan tidak ada tuhan lain bersama-Nya—maka ia merasakan kebanggaan dan kemuliaan. 
Sebab ia tidak berada di bawah tuhan-tuhan yang saling berselisih, tetapi ia sepenuhnya tunduk kepada satu Rabb dan satu Penguasa. 
Tidak ada yang memerintahnya selain Dia, tidak ada yang menguasainya selain Dia, dan tidak ada yang mengatur urusan selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal ﷻ.


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal, Maha Bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan-Nya. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, Maha Mulia lagi Maha Pengampun, yang menggulung siang atas malam dan malam atas siang. 

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, pemimpin para rasul dan imam orang-orang saleh.

 Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya yang suci.

Wahai hamba-hamba Allah,

 bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, agungkanlah Dia dengan sebenar-benar pengagungan.

 Bersamalah kalian dengan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal, taatilah Rabb kalian, Dia Yang Maha Tunggal lagi Maha Bergantung kepada-Nya segala sesuatu; Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan-Nya. Maha Suci Dia, menciptakan lalu menyempurnakan, menentukan lalu memberi petunjuk, mengeluarkan rerumputan lalu menjadikannya kering kehitam-hitaman.

 Dia membangun langit dan menegakkan gunung-gunung, menghamparkan bumi, mengeluarkan darinya air dan tumbuh-tumbuhan. 

Dia melapangkan rezeki dan melimpahkan karunia, serta mengirimkan berbagai nikmat-Nya ﷻ.
Ketahuilah bahwa Dia adalah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal; 
setiap hari Dia dalam urusan: mengampuni dosa, melepaskan kesusahan, mengangkat sebagian kaum dan merendahkan yang lain, menghidupkan yang mati dan mematikan yang hidup, mengabulkan doa orang yang berdoa, 
menyembuhkan orang sakit, memuliakan siapa yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki, menguatkan yang lemah, mencukupkan yang miskin, mengajarkan yang bodoh, memberi petunjuk yang tersesat, 
membimbing yang bingung, menolong yang meminta pertolongan, 
membebaskan tawanan, mengenyangkan yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, 
menyembuhkan yang sakit, memberi keselamatan kepada yang tertimpa musibah, menerima taubat, 
membalas orang yang berbuat baik, 
menolong yang terzalimi, membinasakan yang sombong, menutup aib, 
dan memberi rasa aman. 
Maha Suci Dia; 
Dia yang membuat tertawa dan menangis, mematikan dan menghidupkan, membahagiakan dan menyengsarakan, menciptakan dan membinasakan, meninggikan dan merendahkan, 
memuliakan dan menghinakan, memberi dan menahan—semua itu Dia lakukan sendiri tanpa sekutu.

Bertaubatlah kepada-Nya dan yakinlah bahwa siapa yang mendatangi-Nya, 
Allah akan menyambutnya dari kejauhan; 
siapa yang berpaling dari-Nya, Allah memanggilnya dari dekat; siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, 
Allah akan memberinya lebih dari yang ia tinggalkan; 
siapa yang menginginkan keridaan-Nya, 
Allah akan mengarahkan kehendaknya; 
siapa yang beramal dengan kekuatan dan pertolongan Allah, 
Allah akan melunakkan baginya besi. 
Ahli zikir adalah ahli kedekatan dengan-Nya, 
ahli syukur adalah ahli tambahan nikmat-Nya, 
ahli ketaatan adalah ahli kemuliaan-Nya. 
Ahli maksiat tidak Allah putuskan dari rahmat-Nya; 
jika mereka bertaubat, Dia mencintai mereka; 
jika tidak, Dia tetap menyayangi mereka. 
Dia menguji dengan musibah untuk menyucikan dari aib, mensyukuri amal yang sedikit, dan mengampuni kesalahan yang banyak.

Wahai hamba-hamba Allah,

 ketika seorang hamba berserah diri kepada Allah dan merasakan kemuliaan dalam keesaan-Nya serta kekuatan dalam keyakinan bahwa Rabb-nya adalah satu, 
Maha Esa, 
Maha Tunggal, 
Maha Bergantung kepada-Nya segala sesuatu—tidak memiliki sekutu dan tidak memiliki anak—maka ia merasakan kebanggaan dan kemuliaan. 
Ia tidak berada di bawah tuhan-tuhan yang saling berselisih, tetapi sepenuhnya tunduk kepada satu Rabb dan satu Penguasa.

Wahai orang-orang beriman,

 ketahuilah bahwa di dalam hati ada keterpecahan yang tidak dapat disatukan kecuali dengan kembali kepada Allah; ada kesepian yang tidak hilang kecuali dengan merasa dekat dengan-Nya dalam kesendirian; ada kesedihan yang tidak sirna kecuali dengan kegembiraan karena mengenal-Nya dan jujur dalam berinteraksi dengan-Nya; ada kegelisahan yang tidak tenang kecuali dengan berkumpul kepada-Nya dan lari dari selain-Nya menuju-Nya; ada api penyesalan yang tidak padam kecuali dengan ridha terhadap perintah, larangan, dan ketetapan-Nya serta bersabar hingga bertemu dengan-Nya; dan ada kebutuhan mendalam yang tidak dapat dipenuhi kecuali dengan mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, terus berdzikir kepada-Nya, dan ikhlas kepada-Nya.
 Seandainya dunia dan segala isinya diberikan, tetap tidak akan menutup kebutuhan itu selamanya.

Wahai kaum muslimin, 

Kitab Allah yang agung sangat memperhatikan masalah tauhid. 

Ayat-ayatnya beragam: penetapan, 
penguatan, 
dialog, 
bantahan, 
kisah, 
dan berita. 

Hampir sebagian besar Al-Qur’an berbicara tentang tauhid Allah dan penanaman nama Allah Yang Maha Esa dan Maha Tunggal dalam hati sebelum sampai ke telinga.

Allah berfirman:

“Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 163)

“Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Ar-Ra‘d: 16)

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.” (Al-Ikhlas: 1)

“Apakah tuhan-tuhan yang beraneka ragam itu lebih baik ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (Yusuf: 39)

“Pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan langit-langit pun demikian, dan mereka menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Ibrahim: 48)

Nabi Muhammad ﷺ juga memuji Rabb-nya dengan sifat keesaan. 

Di antaranya hadits tentang seorang sahabat yang berdoa dengan menyebut Allah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Maha Bergantung kepada-Nya segala sesuatu, maka Nabi ﷺ bersabda: 
“Sungguh telah diampuni dosanya.”

Dalam hadits lain Allah berfirman bahwa siapa yang menisbatkan anak kepada-Nya berarti telah mencela-Nya. 
Dan pada hari kiamat kelak akan dikumandangkan:

 “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Dijawab: “Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal, yang menyendiri dengan kesempurnaan sifat, dan Maha Suci dari segala kekurangan dan keserupaan. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Wahai kaum muslimin,

 bertakwalah kepada Allah dan cintailah Dia. 

Agungkanlah Dia dan ikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya. Ketahuilah bahwa kalimat Lā ilāha illallāh mengandung makna nama Allah Al-Wāḥid.

 Barang siapa membacanya seratus kali dalam sehari, maka ia mendapat pahala besar, dihapuskan dosanya, dan dilindungi dari setan.

Betapa bodohnya orang yang menyembah selain Allah yang tidak dapat mendengar, melihat, dan memberi manfaat, sementara ia meninggalkan Allah yang menciptakan, mengatur, memberi rezeki, dan menguasai segala sesuatu.

Termasuk dampak iman kepada keesaan Allah adalah mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada-Nya, tidak berdoa, menyembelih, bernazar, bertawakal, berharap, dan takut kecuali kepada Allah. 

Barang siapa menyekutukan Allah, maka akibatnya sangat buruk di dunia dan akhirat.

Seorang mukmin yang bertauhid akan tampak dalam perilakunya: 
ia hanya bergantung kepada Allah, hanya meminta kepada-Nya, dan hanya bersandar kepada-Nya. Ia kokoh di atas kebenaran, tidak takut celaan siapa pun karena yakin semua urusan kembali kepada Allah semata.

Penutupnya, dengarkan firman Allah:

“Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan, dan Dia tidak memerlukan pelindung karena kelemahan. Dan agungkanlah Dia dengan sebenar-benar pengagungan.” (Al-Isra’: 111)

Tidak ada ketenangan bagi hati kecuali dengan mentauhidkan-Nya, tidak ada kebahagiaan kecuali dengan mengingat-Nya, dan tidak ada keselamatan kecuali dengan berserah diri kepada-Nya.

Ya Allah, karuniakan kepada kami iman yang jujur, kepercayaan dan tawakal yang baik kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang berbahagia.

Dan akhir doa kami: 
segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan para sahabatnya seluruhnya.