Kamis, 18 Juni 2015

IKHLAS

الحمد لله الحكم العدل اللطيف الخبير ، وأشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له ، المنعم على عباده ، ذو المن والطول العظيم ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ، أرسله الله رحمة للعالمين ، اللهم صل وسلم على عبدك ورسوله محمد ، وعلى آله وصحبه.
        

Sesungguhnya diantara pondasi agama islam yang paling agung adalah merealisasikan ikhlas kepada Allah Ta'ala dalam segala amalan, yaitu engkau tidak mencari saksi dalam perbuatan amalmu kecuali hanya Allah Ta'ala semata, dan tidak mencari balasan kecuali hanya kepada Nya.

Abu Utsman Saiid An-Nisabury berkata, kejujuran suatu keikhlasan adalah melupakan pandangan makhluk dan semata melihat kepada pandangan Allah Ta'ala.

Adapun ikhlas adalah engkau meniatkan dalam hati, perbuatan dan amalmu untuk mencari ridho Allah Ta'ala dan khawatir atas kemurkaan Nya, seolah olah dengan amalmu tersebut Allah Ta'ala melihatmu, sehingga menghilangkan rasa riya' dihatimu, dan ingatlah akan limpahan karunia Allah Ta'ala terhadap dirimu tatkala engkau mampu menyelesaikan amalan tersebut, sehingga menghilangkan rasa ujub dalam hatimu, dan lakukan amalan tersebut dengan kelembutan sehingga tidak terjerumus dalam sikap terburu - buru, sebagaimana telah diingatkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya,

ما جعل الرفق في شيء إلا زانه  وما نزع في شيء إلا شانه

" Tidaklah suatu kelembutan terdapat dalam sesuatu kecuali ia akan menjadikan nya indah, dan ketika terhalangi dari sesuatu kecuali akan menjadikan nya  keburukan ". ( HR. Muslim )

Sifat terburu - buru merupakan upaya mengikuti hawa nafsu, dan kelemah lembutan adalah upaya untuk mengikuti sunnah.
Jika anda telah menyelesaikan amalan tersebut sepantasnya engkau merasa takut dan khawatir sekiranya amalmu tertolak dan tidak diterima Allah Ta'ala,

وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ

" Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka," (Q.S.23: Al-Mukminun : 60)

Dengan terpenuhinya empat perkara tersebut diatas, niscaya ia tergolong menjadi seorang yang ikhlas.

Sesungguhnya ikhlas merupakan inti dari ajaran agama islam dan merupakan kunci dakwah dari para Rasul shallallahu alaihi wa sallam.

Allah Ta'ala berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

" Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (Q.S.98: Al-Bayyinah : 5)

Allah Ta'ala berfirman,

قُلِ ٱللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُۥ دِينِى

" Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku". (Q.S.39: Azzumar : 14)

Allah Ta'ala berfirman,

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

" Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun ". (Q.S.67: Al-Mulk : 2)

Al-Fudhail berkata, maksud dari ayat ini,   أحسن عملا  ،  yaitu,   اخلصه  و ا صوبه ،  yaitu yang paling ikhlas dan benar, dikarenakan suatu amalan jika ia ikhlas akan tetapi tidak benar sesuai sunnah, maka tidak akan diterima. Dan suatu amalan jika ia benar sesuai sunnah akan tetapi tidak ikhlas, tidak akan diterima, sehingga menjadi amal yang ikhlas dan benar sesuai sunnah. Ikhlas adalah jika diniatkan hanya karena Allah Ta'ala, dan benar adalah jika sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Allah Ta'ala berfirman,

۞ شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًا وَٱلَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى ٱلْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ ٱللَّهُ يَجْتَبِىٓ إِلَيْهِ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِىٓ إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

" Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)." (Q.S.42: Asy-Syura : 13)

Abul A'liyah berkata, " Didalam ayat ini, kita diperintahkan untuk berbuat ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta'ala, dan ikhlas merupakan amalan hati yang paling agung.

Imam Ibnul Qoyyim berkata, " Barangsiapa yang merenungkan syariat maka ia akan memahami bahwasanya terdapat hubungan erat antara amalan lahiriah dan hati, dan amalan lahiriah tidak memiliki nilai jika tanpa amalan hati (niat), dan bahwasanya amalan hati lebih jeli,  pelik dan mendasar dari amalan lahiriah, bukankah terbedakan nya seorang mukmin dengan munafik melainkan dari amalan hatinya. ? ....

Beliu berkata pula, " Sekiranya ilmu bermanfaat jika tanpa amalan, maka tidaklah Allah Ta'ala mencela para pendeta ahli kitab, dan sekitarnya amalan bermanfaat tanpa niat dan amalan hati, tidaklah Allah Ta'ala mencela orang orang-orang munafikin".

Ikhlas merupakan salah satu syarat untuk diterimanya suatu amalan, dikarenakan syarat diterimanya amal ada dua perkara, pertama, hendaklah amalan tersebut sesuai syariat yang terdapat dalam Al-Qur'an dan  As-Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam .

Diriwayatkan oleh Ummul Mukminin A'isyah radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,  

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

" Barangsiapa yang mengada-adakan suatu amalan yang bukan dari perintah kami, maka ia tertolak ". ( HR Al-Bukhary )

Yang kedua, hendaknya amalan tersebut ikhlas mencari wajah Allah Ta'ala, sebagaimana diriwayatkan ,

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. ( HR Al-Bukhary dan Muslim )

Allah Ta'ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

" Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (Q.S.18: Al-Kahfi :110)

Ikhlas merupakan kunci terkabulkanya do'a, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,

فَٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْكَٰفِرُونَ

" Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (Q.S.40: Ghaafir :14)

Tatkala ikhlas telah lenyap dari amalan seorang hamba , akan mendatangkan bahaya yang amat dahsyat, sebagaimana telah diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. رواه مسلم (1905) وغيره

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : 'Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab : 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: 'Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.' Allah berkata : 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari' (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : 'Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab : 'Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”

Tatkala Sahabat Muawiyah radhiyallahu anhuma mendengar hadist ini maka beliau menangis dan membaca firman Allah Ta'ala, 

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِيهَا وَبَٰطِلٌ مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ﴿١٦﴾

"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan."
"Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Q.S.11: Huud : 16)

Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhary dan Muslim dari sahabat Abi Musa Al-Asy'Ary radhiyallahu anhu berkata, seseorang bertanya kepada Rosulillah shallallahu alaihi wa sallam tentang orang yang berperang untuk mencari harta rampasan perang, atau orang yang berperang agar dikatakan gagah berani, atau orang yang berperang agar dilihat kedudukannya, siapakah diantara orang tersebut yang berada di jalan Allah? , maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda," 
من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله

" Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah tegak dan kokoh, maka ia di jalan Allah ".

Dikatakan kepada Sahl Al-Tustury , amalan apakah yang terasa sangat berat bagimu? , maka dijawab, "  Ikhlas ".

Sufyan At-Tsaury berkata, " Tidaklah suatu perkara yang paling sulit untuk dikendalikan dari para urusan niat, sesungguhnya hati manusia berbolak - balik  ".

Sulaiman Ad-Dha'rany berkata, "  Jika seseorang mampu berbuat ikhlas, sungguh ia akan mudah menanggulangi riya ' dan wiswas ".

Selasa, 16 Juni 2015

KELEMBUTAN SEBUAH HATI

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala' Rosulillah, wa ba'du :

Sesungguhnya lembut dan khusyuknya sebuah hati serta tunduknya dihadapan Al-Ka'liq Subhaanahu Wa Ta'ala merupakan karunia dan semata-mata anugrah dari Allah Ta'ala, yang membuahkan ampunan dan magfiroh sekaligus menjadikan perisai dan benteng dari berbuat tugyan dan kemaksiyatan.

Tidaklah seseorang yang lembut hatinya dan tunduk kepada Allah Ta'ala melainkan ia tergolong orang-orang yang bersegera dalam berbuat kebajikan, senantiasa meraih ketaatan dan keridhoan dan bersemangat untuk mengerjakan perbuatan taat dan perkara yang mendatangkan kecintaan Allah Ta'ala, ketika ia diingatkan, maka ia segera ingat dan kembali, tatkala ditunjukkan kebenaran, ia segera sadar dan mengikuti, hatinya selalu tenang mengingat Allah Ta'ala, lisannya senantiasa memuji dan mensyukuri, jauh dari perbuatan maksiat dan durhaka.

Hati yang lembut adalah hati yang tunduk kepada Allah Ta'ala, merasa takut dan khawatir atas keagungan dan keperkasaan Dzat Yang Maha Kuasa, para penyeru setan tidaklah berhenti dari menyerukan jalanya kecuali dikarenakan rasa takut kepada Allah Ta'ala, demikian pula seorang penyeru kesesatan dan hawa nafsu berhenti dari jalan yang mereka tempuh kecuali karena takut kepada Allah Ta'ala.

Maka seseorang yang memiliki hati yang lembut mereka merupakan teman setia, kawan yang baik hati, akan tetapi perlu diingat, siapakah yang menjadikan seseorang memiliki hati yang lembut, memiliki hati yang bersih, siapakah yang menjadikan hatinya takut kepada Tuhan nya, siapakah yang melembutkan hatinya tatkala ia menyebut Robb nya, khusyuk terhadap ayat ayat Tuhan nya. ..? Tidak lain adalah Allah Ta'ala tiada Ilah melainkan hanya Dia Maha Suci dari segala sekutu dan tandingan.

Tatkala engkau menjumpai seseorang yang memiliki hati yang sangat keras dan kaku, akan tetapi Allah Ta'ala memberikan limpahan karunia dan hidayah Nya, sehingga dalam waktu sekejap, ia berubah menjadi hati yang lembut, sehingga menumbuhkan iman yang kokoh, dan Allah Ta'ala memilih diantara para hamba Nya, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, membolak balikkan hati dari yang sebelumnya memiliki hati yang keras dan keruh menjadi hati yang lembut dan bersih, dari hati yang kelam dan mati menjadi hati yang bersinar dan bercahaya, dari yang sebelumnya tidak mengenal makruf dan mengetahui mungkar, kecuali hanya mengikuti hawa nafsunya, tiba-tiba ia mengharapkan diri kepada Allah Ta'ala secara lahir dan batin.

Ikhwati fillah, sesungguhnya ini merupakan suatu nikmat yang tiada bandingnya di muka bumi ini, yang lebih besar dan agung dari nikmat kelembutan hati, ber - inabah kepada Allah Ta'ala, dikarenakan Allah Ta'ala telah memberikan kabar bahwasanya seseorang yang tidak memiliki sifat kelembutan hati, ia terancam oleh adzab dan siksa yaitu neraka .

Allah Ta'ala berfirman, " 

أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِۦ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Artinya, "  Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (Q.S.39: Azzumar : 22)

Yaitu, siksa dan neraka bagi mereka yang hatinya membatu, keras, tidak tersentuh iman, tidak memiliki rasa takut dan khawatir atas keperkasaan Allah Ta'ala, dan dahsyatnya adzab hari kiamat, dan sebaliknya, berbahagialah orang orang yang senantiasa jiwa dan hatinya lembut, tunduk dan patuh kepada syariah Allah Ta'ala, sehingga tidak menerjang batasan dan larangan yang telah digariskan.

Oleh karena itu, sepantasnya seorang mukmin yang benar-benar memiliki iman, ia berusaha maksimal untuk mendapatkan nikmat yang agung ini, berupaya untuk meraih kelembutan hati, sehingga dirinya menjadi kekasih dari kekasih-kekasih Allah Ta'ala, meraih ridho Allah Ta'ala, sehingga ia tidak kenal lelah, letih, sunyi, gembira, kecuali jika menggapai kecintaan dan ketaatan kepada Allah Ta'ala, karena ia sadar dan yakin, bahwasanya jika ia terhalangi dari nikmat ini, maka ia terharamkan kebaikan yang tiada tara, sehingga betapa banyak orang-orang saleh masa dahulu, mereka membutuhkan waktu sejenak untuk berupaya melembutkan hatinya, karena hati merupakan sesuatu yang sangat mengherankan, di waktu tertentu ia lembut dan ringan melakukan kebajikan, sekiranya diminta untuk menginfakkan seluruh hartanya karena Allah Ta'ala , ia segera menunaikan, sekiranya ia berjuang dan berperang di jalan Allah Ta'ala, niscaya ia bersedia mengorbankan nyawanya karena Allah Ta'ala, waktu-waktu tertentu, hatinya tertanam untuk mengerjakan ketaatan, dan lain waktu, hatinya jauh dari Allah Ta'ala, keras, bahkan membatu, dan kita berlindung kepada Allah Ta'ala dari segala keburukan. 

Diantara sebab yang dapat melembutkan dan mengkhusukkan hati  kepada Allah Ta'ala adalah memperbanyak ingat terhadap negri dan kampung akhirat, yaitu bahwasanya seorang hamba akan kembali ke hadapan Allah Ta'ala kelak untuk mempertanggungjawabkan amalnya, dan bahwasanya setelah kematian tiada tempat selain surga dan neraka, sehingga tatkala manusia sadar bahwa dunia adalah fana, dan akan sirna, kebahagiaan nya akan pudar, kesenangannya akan berakhir, maka Allah Ta'ala menyeru kepada para hamba agar senantiasa menghadapkan diri hanya kepada Nya, kembali diatas jalan Nya, dengan sepenuh hati dan kejujuran, niscaya disana ia akan mendapat kelembutan hati, ketenteraman jiwa.

Demikian juga jika seseorang yang melihat kubur dan mengingat para penghuninya, niscaya hatinya akan lembut dan khusyuk, dan ia akan terhindar dari sifat takabur dan lupa daratan.

Oleh karena nya, tidak akan engkau jumpai orang yang rajin ziarah kubur, yang disertai dengan tadabur, tafakur, ia ingat ayah, ibu, saudara, kerabat, tetangga, kawan dan teman yang telah mendahului dirinya ke alam kubur, dan ia sadar bahwasanya dirinya akan segera menyusul, ia merenung bahwa disana hanya terdapat dua keadaan, kesengsaraan dan kebahagiaan, dan antara keduanya semisal langit dan bumi, tidaklah seseorang melakukan hal ini, kecuali ia akan mendapatkan kelembutan hati , niscaya hatinya akan bergetar karena takut kepada Allah Ta'ala, iman nya akan membumbung tinggi , ia akan menghadap dan kembali ke jalan Robb Subhaanahu Wa Ta'ala.

Diantara sebab yang dapat melembutkan dan membersihkan hati adalah memperbanyak melihat Ayat dalam Al-Qur'an.

Allah Ta'ala berfirman,

الٓر ۚ كِتَٰبٌ أُحْكِمَتْ ءَايَٰتُهُۥ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

Artinya, "  Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu".  (Q.S.11 Huud :1)

Tidaklah seseorang hamba membaca ayat suci Al-Qur'an dengan penuh tadabur, tafakur dan menghayati kandungan maknanya kecuali hatinya akan bertambah khusyuk, jiwanya akan terasa tenang.

Allah Ta'ala berfirman,

ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ كِتَٰبًا مُّتَشَٰبِهًا مَّثَانِىَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنْ هَادٍ

Artinya, " Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun." (Q.S.39 Azzumar : 23)

Sungguh , Al-Qur'an memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dahsyatnya, betapa banyak dari para sahabat yang tadinya menganut keyakinan musyrikin, tatkala mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an, sehingga gemetar hatinya dan dengan waktu sekejap berubah menjadi seorang muwahid yang beriman kepada Allah Ta'ala dan Rasul Nya.

Al-Qur'an adalah wahyu kalam Ilahi, mengandung nasihat dan mauidhzoh hasanah, tidaklah seorang hamba membaca dan mendengarkan lantunan ayat suci , melainkan dimudahkan baginya hidayah dan petunjuk.

Allah Ta'ala berfirman,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

Artinya, " Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (Q.S.54 Al Qomar :17)

Adakah diantara kita yang menghendaki untuk mengambil pelajaran. ...? Adakah diantara kita yang sanggup menjadikan Al-Qur'an sebagai pelajaran sepenuh hati nya. ....?

Sungguh, barangsiapa yang menghafalkan Al-Qur'an, atau membaca nya sepanjang siang dan malam dengan sepenuh hati, niscaya hatinya akan menjadi lebih lembut dan bercahaya, khusyuk kepada Allah Ta'ala.

Diantara sebab menjadikan lembutnya hati seseorang adalah dengan menguatkan iman kepada Allah Ta'ala serta Asma' dan sifat - sifat Nya.

Tidaklah seseorang yang memiliki iman yang kokoh melainkan ia senantiasa menjaga batasan batasan yang telah digariskan, ia tidak mendengar satu ayat maupun satu hadist, melainkan terucapkan "   سمعنا و اطعنا غفرانك وإليك المصير   ".

Maka seseorang hamba yang telah mengenal Robb nya, mengenal Asma ' dan Sifat - sifat Nya, dan mengetahui keagungan Dzat Yang Maha Kuasa , kecuali ia tergolong orang-orang yang bersegera dalam kebijakan dan menjauhi segala kemaksiyatan, senantiasa menyebut dan melantunkan dzikir sepanjang pagi dan petang, dan dijumpai didalam hatinya merupakan hati yang lembut, dan sebaliknya, jika seseorang memiliki hati yang keras, kaku, membatu, niscaya engkau mendapatinya sebagai orang yang tidak kenal Robb nya, tidak mengenal Asma ' dan sifat - sifat Nya, lalai dengan urusan dunia, tidak mengenal dzikir, syukur, ibadah kepada Allah Ta'ala.

Bahkan tidak sedikit dijumpai dari para pelaku maksiat, mereka putus asa terhadap rahmat Tuhannya, pesimis terhadap ampunan Robb nya, sepanjang siang dan malam bermaksiat kepada Allah Ta'ala, tidak lain dan bukan, dikarenakan ia jahil dan bodohnya dirinya dari kebesaran dan keagungan Allah Ta'ala.

Sepantasnya seorang hamba hendaknya ia banyak banyak berfikir, merenung, melihat, mentadaburi, tanda tanda akan keagungan dan keperkasaan Allah Allah Ta'ala, sehingga akan menumbuhkan iman yang selanjutnya membuahkan rasa takut dan kelembutan hati. 

MENYAMBUT KEDATANGAN BULAN RAMADHAN

As-Syaikh Prof. DR. Abdurrozak Al-Badr  hafidhohullahu Ta'ala.

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala Rosulillah, wa ba'du :

Sesungguhnya umat islam di seluruh penjuru dunia, pada hari-hari akan datang akan menyambut tamu mulia yang sangat ditunggu tunggu dan di rindukan kedatangannya, tamu yang dinanti, dimuliakan, diharapkan, diagungkan di hati kaum mukminin, semua berharap agar dapat menyambut nya, saling berucap selamat diantara mereka, berlomba lomba untuk mendapatkan barokah dan kebaikan di dalam nya , tamu tersebut adalah bulan ramadan yang penuh berkah dan kemuliaan, bulan ketaatan dan ibadah, bulan puasa dan sholat malam, bulan tilawah, dzikir, istigfar, do'a, dan munajat, bulan kemuliaan, kedermawanan, kasih, sayang, saling memberi dan berbuat ihsan, bulan yang didalam nya dipenuhi aneka kebajikan aneka keberkahan, dan mendulang kesuksesan serta keberuntungan, yaitu syahru saum yang Allah Ta'ala telah berikan kekhususan dan keutamaan yang agung dan besar terbedakan dengan bulan-bulan lainnya.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam tatkala menjumpai kedatangan bulan ramadan beliau senantiasa memberikan kabar gembira kepada segenap para sahabat radhiyallahu anhum , serta memberikan penjelasan tentang keutamaan dan kemuliaan bulan ini, serta memberikan semangat agar mereka berijtihad dalam beribadah dan taqorrub kepada Allah Ta'ala untuk menggapai keridhoan Nya.

Sebagaimana telah tetap dalam musnad imam Ahmad, dari sahabat Anas radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, " Ini bulan ramadan telah datang kepada kalian, dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka dan para setan telah diikat ".

Diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzy dan lain nya, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, " Jika datang permulaan bulan ramadan maka para setan dan para jin yang jahat diikat, dan ditutup pintu-pintu neraka, dan tidak dibuka salah satu dari nya, dan dibuka pintu-pintu surga dan tidak akan tertutup salah satu dari nya, serta datang seseorang yang menyeru dengan lantang, " Wahai pelaku kebajikan, berlomba-lombalah, dan wahai para pelaku kejahatan, berhentilah , dan setiap malam Allah Ta'ala membebaskan orang-orang dari neraka ".

Hadist - hadist yang mejelaskan tentang keutamaan bulan ramadan disisi Allah Ta'ala dan keagungan nya sangat banyak tidak terhitung , maka sepantasnya kita bergembira dan berbahagia dengan kehadiran bulan mulia ini, menjaga keutamaan nya, bersungguh sungguh dalam menyambut nya, menegakkan hak haknya,  sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya, " Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (Q.S.10 Yunus : 58)

Sesungguhnya bergembira dengan kehadiran tamu agung dan mulia ini, bersemangat untuk berlomba-lomba dalam kebijakan serta tidak menyia nyiakan kesempatan berharga ini hanya berlaku kepada mereka yang mengagungkan syariah Allah Ta'ala, adapun orang yang bodoh terhadap syariat, niscaya ia akan lalai, masa bodoh, dan terlewatkan dengan acuh.
Sekiranya ia sadar dengan keagungan bulan ini serta mengilmui dengan sepenuh keilmuan niscaya ia akan bersemangat, bersiap siap, berijtihad dalam beribadah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala serta menggapai ridho Nya.

Pertanyaan yang sepatutnya dilontarkan dimasa sekarang ini, Apa persiapan untuk menyambut kedatangan bulan suci ini ? , Apa yang hendak kita lakukan dan persiapkan ? , Apa bekal kita siapkan untuk musim yang penuh barokah ini  ? .

Menyambut kedatangan bulan ramadan bukan dengan kita menyiapkan karangan bunga yang indah, atau melantunkan nasyid dan aneka syiir penyemangat, atau menyambut dengan aneka pertunjukan dan kesenian budaya, atau dengan menyiapkan aneka makanan dan hidangan yang lezat serta minuman yang beraneka ragam.
Akan tetapi menyambut kehadiran bulan suci ini dengan mempersiapkan diri untuk berbuat ketaatan, beribadah kepada Allah Ta'ala, menghadapkan diri dan menyiapkan mental untuk kembali ke jalan Allah Ta'ala, dan bertaubat nasuha dengan sepenuh hati dari segala kesalahan dan dosa.

Sesungguhnya bulan suci ramadan merupakan kesempatan emas dan momen yang tepat untuk kembali ke jalan yang lurus dan bertaubat dari kejelekan , sebagaimana kita jika merenung - dan ini pasti ada pada setiap diri kita - sesungguhnya banyak terdapat kekurangan dalam menuaikan dan menjalankan kewajiban serta hak-hak Allah Ta'ala .
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

كل بني آدم خطأ وخير الخطاءين التوابون 

" Setiap anak cucu Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik baik orang yang bersalah adalah bertaubat ".

Jika kita bermuhasabah, niscaya kita jumpai kesalahan diri kita banyak, kekurangan pasti ada, dan dihadapan kita suatu musim yang penuh barokah untuk bertaubat dan kembali ke jalan Allah Ta'ala.

Jika pada kesempatan emas ini kita tidak melakukan taubat, menyesal, memperbaiki diri, menghapus dosa, kapan kita akan lakukan. .....!!
Telah tetap dalam suatu hadist dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

َ «رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ» رواه الترمذي

" Sungguh celaka bagi seseorang yang ia berjumpa bulan ramadan dan lewat bulan tersebut sedangkan dosa-dosa nya belum terampuni  ". ( HR. At-Tirmidzy )

Bulan Ini merupakan bulan yang suci, bulan ampunan, bulan yang agung, setiap hati niscaya tergerak untuk bertaubat dan memperbaiki diri, ber inabah kepada Allah Ta'ala dan beribadah kepada Nya.

Diantara upaya untuk menyambut kedatangan bulan suci ini, melantunkan do'a sepenuh hati dan bersimpu memohon kepada Allah Ta'ala agar diberikan kekuatan dan taufik untuk menjalankan perintah perintah Nya, beribadah dengan baik, dimasa bulan suci ini, dikarenakan seorang hamba lemah dan tidak berdaya dengan kekuatan nya, tidak akan mampu melakukan ibadah, sebagaimana dikatakan,

« لَوْلَا اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا صُمْنَا وَلَا صَلَّيْنَا »

"Sekiranya bukan karena Allah Ta'ala, niscaya kita tidak mendapatkan hidayah, tidak mampu menegakkan sholat tidak bisa mengerjakan puasa ".

Sepantasnya bagi setiap hamba hendaknya ber do'a ber munajat, memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala agar diberikan taufik dan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa ramadan ini, diberikan kekuatan untuk menegakkan sholat malam, dimudahkan baginya untuk mengerjakan aneka ibadah dan ketaatan, dan dituliskan disisi Allah Ta'ala sebagai amal saleh dan di golongkan sebagai hamba hamba yang dibebaskan dari api neraka , sesungguhnya tidak ada daya dan kekuatan kecuali semata-mata datang dari Allah Ta'ala, apa yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi.

Diantara upaya untuk menyambut kedatangan bulan suci ramadan, sepantasnya seorang muslim untuk merenungkan tentang keutamaan dan kekhususan dan kelebihan bulan ramadan yang penuh berkah ini, serta mengetahui apa yang sepatutnya dikerjakan oleh setiap muslim dari ibadah puasa dan sholat malam, dan pelajaran pelajaran penting yang dapat dipetik di bulan ramadan, diantaranya disebutkan dalam shohih imam Al-Bukhary dan Muslim, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »

" Barangsiapa yang berpuasa bulan ramadan dengan penuh keimanan dan semata-mata mencari pahala kepada Allah Ta'ala, niscaya dosa-dosa nya yang terdahulu akan diampuni ".

Diantara upaya untuk menyambut kedatangan bulan suci ramadan adalah seyogyanya seorang muslim berusaha untuk membersihkan hati dan jiwanya dari perbuatan keji dan kotor seperti iri, dengki, hasad, permusuhan, dan semisalnya. 
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ يُذْهِبْنَ وَحَرَ الصَّدْرِ »

" Berpuasa dibulan kesabaran  (puasa ramadan) dan puasa tiga hari setiap bulan, akan menghilangkan penyakit di hati ".

Sesungguhnya setiap hati manusia memiliki penyakit dan keburukan yang tersimpan di dalam dadanya, seperti hasad, iri, dengki, kemurkaan, kemarahan, dan apabila telah datang bulan ramadan maka ini merupakan kesempatan untuk menghilangkan penyakit penyakit hati tersebut.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

« لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا »

" Janganlah kalian saling hasad, berbuat curang, bermusuhan, berselisih, dan membeli suatu barang atas belian saudaranya yang lain, dan menjadilah hamba hamba Allah yang saling bersaudara ".

Bulan suci ramadan merupakan kesempatan dan momen untuk membersihkan hati dan jiwa dan menyatukan kalimat diatas jalan Allah Ta'ala , menjalankan ibadah bersatu padu menghadapkan diri kepada Allah Ta'ala, hingga meraih ridho Nya dan terhindar dari murka Nya.

أسأل الله جلّ وعلا أن يبلِّغنا أجمعين شهر رمضان ، وأن يعيننا فيه على الصيام والقيام ، وأن يصلح ذات بيننا ، وأن يؤلف بين قلوبنا ، وأن يهدينا سبل السلام ، وأن يخرجنا من الظلمات إلى النور ، وأن يجعلنا من عباده المتقين وأوليائه المقربين الذين لا خوف عليهم ولا هم يحزنون . 

Kita memohon kepada Allah Ta'ala agar menjumpai bulan ramadan dan diberikan kekuatan untuk melaksanakan puasa dan sholat malam, dan semoga Allah Ta'ala memperbaiki urusan kita dan menyatukan hati hati kita serta menunjukkan jalan keselamatan dan menyelamatkan dari kegelapan menuju cahaya, dan menjadikan kita sebagai orang yang bertakwa dan kekasih Nya yang dekat yang senantiasa tidak merasa takut dan khawatir.