Selasa, 20 November 2018

PERAYAAN MAULID


| هل أَحتفلُ بالمولد النبوي ؟ |

APAKAH AKU AKAN MERAYAKAN HARI KELAHIRAN NABI shallallahu alaihi wa sallam  ??

بسم الله الرحمن الرحيم

سأكون أول من يحتفل بالمولد النبوي لو ظفرت بحديث فيه حث منه صلى الله عليه وسلم على تخصيص يوم الثاني عشر من ربيع الأول بميزة عن غيره.

Aku akan menjadi orang yang pertama kali merayakan kelahiran nabi shallallahu alaihi wa sallam jika aku mendapatkan satu hadist yang nabi menganjurkan untuk melakukan perayaan secara khusus pada tanggal 12 robiul awal yang menjadi perbedaan dengan hari hari lainnya.

سأكون أول من يحتفل بالمولد النبوي لو وجدت عنه صلى الله عليه وسلم حضا على الاحتفال به أو بشارة، ولو تلميحا.

Aku akan menjadi orang yang pertama kali yang merayakan hari kelahiran nabi shallallahu alaihi wa sallam jika terdapat anjuran atau kabar gembira walaupun secara tersirat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

سأكون أول من يحتفل بالمولد النبوي لو كنت لا أعتقد أنه بلغ البلاغ المبين، وأنه يمكن أن يكون ثمة خير لم يحضنا عليه.

Aku akan menjadi orang yang pertama merayakan hari maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam jika aku tidak meyakini bahwa beliau menyampaikan secara nyata dan disana terdapat kemungkinan kebaikan yang tidak beliau sampaikan.

سأكون أول من يحتفل بالمولد النبوي لو ظفرت بأثر عن أبي بكر رضي الله عنه أنه أقام وليمة ليلة المولد.

Aku akan menjadi orang yang pertama merayakan maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam jika aku menjumpai atsar dari sahabat dan Kholifah Abu Bakar radhiyallahu anhu bahwa beliau mengadakan perayaan malam kelahiran nabi shallallahu alaihi wa sallam.

أو أن عمر رضي الله عنه جعل هذا اليوم يوم عطلة ولعب.

Atau atsar dari sahabat dan Kholifah Umar radhiyallahu anhu yang menjadikan hari kelahiran menjadi hari libur atau perayaan.

أو عن عثمان رضي الله عنه أنه حث في ذاك اليوم على الصدقة أو الصوم.

Atau terdapat atsar dari sahabat dan Kholifah Utsman radhiyallahu anhu yang menganjurkan pada hari maulid untuk melakukan sedekah atau berpuasa.

أو عن علي رضي الله عنه أنه أقام حلقة لمدارسة السيرة.

Atau medapati dari Kholifah dan keponakan Nabi yaitu sahabat Ali radhiyallahu anhu mengadakan halakoh pengajian untuk membaca siroh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

سأكون أول من يحتفل بالمولد النبوي لو علمت أن بلالا أو ابن عباس أو أي أحد من الصحابة -رضي الله عنهم- خصوا يوم المولد بأي شيء؛ ديني أو دنيوي.

Aku akan menjadi orang yang pertama merayakan kelahiran nabi shallallahu alaihi wa sallam jika aku mengetahui bahwa sahabat dan muadzin Nabi  Bilal radhiyallahu anhu atau sahabat dan keponakan Nabi, Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma atau siapa saja dari sahabat radhiyallahu anhum ajmaiin memberikan pengkhususan pada hari maulid perayaan apa pun yang berbasis agama atau duniawi.

سأكون أول من يحتفل بالمولد النبوي لو كنت لا أعتقد أن الصحابة أشد مني تعظيما ومحبة له -عليه الصلاة والسلام- وأعلم مني بقدره العلي.

Aku akan menjadi orang yang pertama merayakan hari kelahiran nabi shallallahu alaihi wa sallam jika aku tidak yakin bahwa para sahabat lebih mengagungkan dan lebih cinta kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam daripada diriku sendiri, dan lebih tau tentang kedudukan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang sangat tinggi.

سأكون أول من يحتفل بالمولد النبوي لو ظفرت بأثر عن أحد من التابعين -من آل البيت أو غيرهم- فيه الحض على قراءة المدائح النبوية يوم المولد.

Aku akan menjadi orang yang pertama kali merayakan hari kelahiran nabi shallallahu alaihi wa sallam jika aku mengetahui atsar dari salah satu Tabi’in atau Ahlil Bait Nabi shallallahu alaihi wa sallam atau pun siapa saja  (dari para Salafus-Sholih) yang menganjurkan untuk membaca puji-pujian untuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika hari maulid.

سأكون أول من يحتفل بالمولد النبوي لو ظفرت بكلمة عن واحد من الأئمة الأربعة في الحث على الاحتفاء بيوم المولد.

Aku akan menjadi orang yang pertama kali merayakan hari maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam jika aku mendapatkan salah satu dari imam empat madzhab  (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad) untuk melakukan perayaan maulid pada hari kelahiran Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

أو خبرٍ عن واحد منهم أنه اجتمع ليلته مع مجتمعين؛ فأنشدوا وتمايلوا!

Atau terdapat berita dari salah satu dari imam empat madzhab untuk berkumpul  bersama masyarakat pada malam kelahiran kemudian melantunkan nasyid sambil ber joget ria. 

سأكون أول من يحتفل بالمولد النبوي لو كنت أعتقد أن هؤلاء الأئمة ومن سبقهم جفاة غلاظ لا يعرفون قدر نبيهم صلى الله عليه وسلم وحرمته ولا رفيع منزلته.

Aku akan menjadi orang yang pertama kali megadakan maulid jika aku yakin bahwa mereka para imam empat madzhab dan pendahulunya adalah orang-orang yang kaku, keras, tidak mengetahui kedudukan Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga tidak kenal keagungan dan kemuliaan shallallahu alaihi wa sallam.

سأكون أول من يحتفل بـالمولد النبوي لو كنت أعتقد أن الأمة لم تكن تعرف كيف تعبر عن حبها لنبيها صلى الله عليه وسلم أكثر من ثلاثمائة عام -من نشأنها-؛ حيث لم يقم خلالها مولد واحد!

Aku akan menjadi orang yang pertama merayakan hari kelahiran nabi shallallahu alaihi wa sallam jika aku meyakini bahwa para imam imam terdahulu tidak mengetahui bagaimana cara mengungkapkan rasa cinta terhadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang telah berlangsung lebih dari tiga ratus tahun dari lahir nya Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan tidak satu pun dari mereka merayakan walaupun sekali saja !

أخيرا .. سأكون أول من يحتفل بـالمولد النبوي لو كنت أعتقد أن السبيل الأهدى: ابتداع المتأخرين، لا اتباع الأسلاف الصالحين.

Terakhir. .....aku akan menjadi orang yang pertama kali merayakan maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam jika aku meyakini bahwa jalan yang paling  benar adalah : " MENGIKUTI BID'AH ORANG-ORANG AKHIR ZAMAN  dan TIDAK MENGIKUTI ORANG-ORANG TERDAHULU DARI SALAFUS SHOLIH.

والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على عبده ورسوله وخليله نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

ا--------------------------ا

📌وكتبه: أ.د. صالح بن عبد العزيز سندي

http://www.salehs.net/mk28.htm

ا═•═📚═•═ا
قناة فوائد الشيخ أ.د.صالح سندي.
t.me/Drsalehs

TAFSIR SURAT AL - ZALZALAH


TAFSIR SURAT AL-ZALZALAH  

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

Artinya:

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan (yang dahsyat).
Dan bumi Telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.
Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”.
Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.
Karena Sesungguhnya Tuhanmu Telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.
Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan perbuatan mereka.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasan nya.
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasan nya pula.

Surat ini tergolong surat Makkiyah menurut pendapat Sahabat Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma dan Mujahid dan Atho' rahimahullah. 

Adapun Qotadah dan Muqotil rahimahullah berpendapat bahwa surat ini tergolong surat Madaniyah. 

Surat ini terdiri dari delapan ayat yang memiliki kandungan makna bahwa pada hari kiamat seluruh amalan manusia akan di ungkap dan dinampakkan, hingga mereka menjadi dua golongan yaitu kelompok  menjumpai balasan kebaikan dan kelompok menerima balasan keburukan.

Tatkala disebutkan dalam surat Al-Bayyinah golongan orang-orang ahli kitab dan musyrikin mereka penghuni neraka dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh sebagai penghuni surga, dan menyisakan pertanyaan : "kapan hal itu terjadi. ..? ", maka dalam surat ini dijelaskan tentang kejadian tersebut akan berlangsung ketika hari kiamat tatkala bumi di goncang dengan goncangan yang dahsyat saat sangkakala ditiup oleh malaikat. 

Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah, dari sahabat Anas radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : " Barangsiapa yang membaca " Idzaa' zulzilat. ..." maka mengimbangi membaca setengah Al-Qur'an ". ( HR. At-Tirmidzi ) 

Hadits ini lemah sebagai mana di ungkapkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi : "Hadits ini ghoriib (lemah), kami tidak mengetahui tentang hadist ini kecuali dari perowi : Al-Hasan ibnu salmin ibnu sholih Al-Ijliy ", dan Al-Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentang Al Hasan ibnu Salmin adalah perowi yang majhul tidak diketahui kestiqohan nya. 

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bazzaar rahimahullah melalui jalur yang sama yaitu Al-Hasan ibnu Salmin ibnu sholih Al-Ijliy, dari sahabat Anas radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : "  Kul Huwallahu Ahad mengimbangi sepertiga Al-Qur'an dan Idzaa' Zulzilatil mengimbangi seperempat Al-Qur'an ". ( HR. Al-Bazzaar ). 

Diriwayatkan dari Sahabat Abdullah ibnu Amrin radhiyallahu anhuma berkata : " Tatkala turun surat  Zalzalah, maka Abu Bakar As-Siddik radhiyallahu anhu menangis, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : " Sekiranya kalian tidak berbuat salah dan dosa hingga Allah Ta'ala memberikan ampunan, niscaya Allah Ta'ala akan menciptakan umat yang akan berbuat salah dan dosa kemudian memberikan ampunan kepada mereka, karena Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Mengampuni lagi Maha Penyayang ". ( HR. At-Thobrony )

Allah Ta’ala berfirman : 

 إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا

"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat)". 

Al-Imam Al-Alusy rahimahumullah berkata : "Yaitu, digoncangkan karena terjadi gempa yang sangat kuat secara terus-menerus tidak berhenti, puncak gempa yang maha dahsyat yang dikehendaki Allah Ta'ala, yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan jika dibandingkan dengan kejadian gempa lainnya maka selainnya seolah tidak terasa seperti terjadi gempa, karena sungguh sangat luar biasa,  tidak ada yang sanggup mengukur nya kecuali hanya Dzat Yang Maha Kuasa ".

Al-Imam Ibrahim ibnu Umar Al-Biqo'iy rahimahullah berkata : " Bumi bergerak secara merata keseluh penjuru dengan gempa yang dahsyat untuk hari kebangkitan tatkala ditiupkan sangkakala kedua dimana gempa tersebut terjadi di seluruh belahan bumi, tidak seperti sebelumnya yang terjadi di sebahagian tanpa sebahagian lainnya, dan gempa ini membangkitkan seluruh manusia yang telah mati hingga berlarian keluar dari kubur ketempat padang mahsyar ".

Allah Ta'ala berfirman : 

يَوْمَ تَرْجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿٦﴾ تَتْبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿٧﴾ قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ ﴿٨﴾ أَبْصَٰرُهَا خَٰشِعَةٌ ﴿٩﴾ يَقُولُونَ أَءِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِى ٱلْحَافِرَةِ ﴿١٠﴾ أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمًا نَّخِرَةً ﴿١١﴾ قَالُوا۟ تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ ﴿١٢﴾ فَإِذَا هُم بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿١٤﴾

"(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam,"
"tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua."

"Hati manusia pada waktu itu sangat takut,"

"Pandangannya tunduk."

"(Orang-orang kafir) berkata: "Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?"

"Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?""
"Mereka berkata: "Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan"."
"maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi."
(Q.S. An-Naaziat : 6-14)

Allah Ta'ala berfirman : 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ ٱلسَّاعَةِ شَىْءٌ عَظِيمٌ ﴿١﴾ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى ٱلنَّاسَ سُكَٰرَىٰ وَمَا هُم بِسُكَٰرَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ ٱللَّهِ شَدِيدٌ ﴿٢﴾

"Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat)."
"(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya." (Q.S. Al-Hajj : 1-2)

Allah Ta'ala berfirman : 

وَيَوْمَ يُنفَخُ فِى ٱلصُّورِ فَفَزِعَ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا مَن شَآءَ ٱللَّهُ ۚ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَٰخِرِينَ ﴿٨٧﴾وَتَرَى ٱلْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِىَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِ ۚ صُنْعَ ٱللَّهِ ٱلَّذِىٓ أَتْقَنَ كُلَّ شَىْءٍ ۚ إِنَّهُۥ خَبِيرٌۢ بِمَا تَفْعَلُونَ ﴿٨٨﴾

"Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri."
"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(Q.S. An-Naml : 87-88)

 

Allah Ta'ala berfirman : 

 وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا

" Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya ".

Al-Imam Burhanuddin Abul Hasan Ibrahim Al-Biqo'iy rahimahullah berkata : " Tatkala terjadi gempa yang sangat dahsyat maka mengakibatkan tersingkap nya apa yang tersembunyi di dalam perut bumi yang terkubur di dalam nya dari orang-orang yang telah mati dan termasuk perbendaharaan bumi dari segala perhiasannya yang urusan tersebut merupakan suatu beban berat bagi setiap manusia, dan kejadian ini berlangsung ketika mereka dibangkitkan merupakan efek dari gempa dahsyat sebagaimana perumpamaan efek tembikar tatkala dihempaskan hingga keluar segala kotoran dan debu dan sebagainya, dan segala yang terkandung dalam bumi merupakan beban-beban berat dan Allah Ta'ala berikan kemampuan bagi bumi untuk memuntahkan segala isinya sebagaimana diberikan kemampuan untuk menumbuhkan segala biji yang bertaburan diatas nya, membelah menjadi dua dan menumbuhkan batang, ranting, dedaunan dan buah yang semua itu terjadi karena kehendak Allah Ta'ala. 

Dan yang mampu melakukan demikian adalah Allah Ta'ala, juga mampu mengembalikan orang-orang yang telah mati menjadi tulang belulang dan tanah untuk kembali hidup ".

Al-Imam Syihabuddin As-Sayyid Mahmud Al-Alusy rahimahullah berkata: " Diriwayatkan dari para ahli tafsir, bahwa keluarnya perbendaharaan bumi dari harta karun ini menurut pemahaman ayat diatas  bukanlah harta karun yang keluar di saat munculnya dajjal sebagaimana yang terdapat dalam banyak hadist, dan sebagian berpendapat bahwa akan keluar sebahagian nya di kemunculan dajjal dan sebahagian nya tatkala hari kebangkitan, dan tidaklah mustahil jika setelah kemunculan dajjal terdapat harta karun dan akan keluar pula apa yang tersisa sebelumnya, dan menurut pendapat yang lain mengatakan, bahwa ini terjadi ketika tiupan sangkakala yang pertama, dan keluar nya apa yang tersimpan di dalam perut bumi dari segala perhiasannya dan makhluk yang terkubur didalam nya dan kejadian ini terus berlangsung hingga tiupan sangkakala yang kedua, dan sebahagian juga mengatakan bahwa dikeluarkan nya seluruh manusia yang terkubur terjadi sebagaimana dikeluarkan nya perut bumi dari segala perhiasannya pada tiupan sangkakala yang pertama. 

Dan keluarnya segala perbendaharaan bumi dari perhiasannya pada saat hari kiamat agar dinampakkan kepada orang-orang yang bangkit dari kubur hingga menjadikan pelaku maksiat melihat kepada nya dan timbul penyesalan yang sangat besar, sebagaimana terdapat dalam hadits :

 عَنْ أَبِي هُرَيرة قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "تَقيء الْأَرْضُ أَفْلَاذَ كَبِدِهَا أَمْثَالَ الْأُسْطُوَانِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، فَيَجِيءُ الْقَاتِلُ فَيَقُولُ: فِي هَذَا قَتَلْتُ، وَيَجِيءُ الْقَاطِعُ فَيَقُولُ: فِي هَذَا قَطَعتُ رَحِمِي، وَيَجِيءُ السَّارِقُ فَيَقُولُ: فِي هَذَا قُطِعت يَدِي، ثُمَّ يَدَعُونه فَلَا يَأْخُذُونَ مِنْهُ شَيْئًا"

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : " Bumi mengeluarkan semua isi perutnya seperti bejana-bejana emas dan perak. Maka datanglah pembunuh, lalu ia mengatakan, "Karena inilah aku membunuh.” Dan datanglah orang yang memutuskan persaudaraan, lalu ia berkata, "Karena inilah aku memutuskan hubungan persaudaraan.” Dan datanglah pencuri, lalu berkata, "Karena inilah tanganku terpotong.” Kemudian mereka membiarkannya dan tidak mengambil sesuatu pun darinya ". ( HR. Muslim ) 

Allah Ta’ala berfirman : 

وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا

"Dan manusia bertanya, “Mengapa bumi (menjadi begini) ?”

Yaitu setiap manusia merasa sangat terkejut dan panik menyaksikan dahsyat nya gempa yang memporak-porandakan bumi seolah-olah bumi berganti dengan bumi yang lainnya dan dimuntahkan nya seluruh isi bumi sertagunung-gunung yang berhamburan terbang ibarat kapas yang sangat ringan.

Al-Imam Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah berkata : " Maksud ayat ini adalah bahwasannya orang-orang menjadi heran dengan keadaan ini, dikarenakan kondisi bumi sebelumnya dalam keadaan tidak bergerak, tenang, dan kokoh, dan mereka tinggal dengan tenang di atas permukaannya. Namun secara tiba-tiba keadaan bumi menjadi berubah, saat itu bumi bergerak dan mengalami gempa yang maha dahsyat. Telah datang perintah Allah Ta'ala yang telah ditakdirkan untuk nya agar  berguncang dengan hebatnya, yang berupa gempa yang dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kemudian bumi mengeluarkan semua orang-orang pertama hingga terakhir yang mati  terkubur yang  terkandung di dalam perutnya. Saat itulah manusia merasa heran dengan keadaan bumi, karena bumi telah diganti dengan bumi yang lain, begitu pula langitnya; lalu mereka digiring untuk menghadap kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa ".

Allah Ta'ala berfirman : 

يَوْمَ تُبَدَّلُ ٱلْأَرْضُ غَيْرَ ٱلْأَرْضِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ ۖ وَبَرَزُوا۟ لِلَّهِ ٱلْوَٰحِدِ ٱلْقَهَّارِ ﴿٤٨﴾ 

"(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan meraka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa." ( Q.S. Ibrahim : 48 )

Allah Ta'ala berfirman : 

وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَإِذَا هُم مِّنَ ٱلْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنسِلُونَ ﴿٥١﴾  
قَالُوا۟ يَٰوَيْلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ ٱلرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ ٱلْمُرْسَلُونَ ﴿٥٢﴾ إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَٰحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُونَ ﴿٥٣﴾ فَٱلْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿٥٤﴾

"Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka."
"Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?". Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya)."
"Tidaklah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami."

"Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan." (Q.S. Yasiin : 51-54)

 Allah Ta'ala berfirman : 

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا

" Pada hari itu bumi menceritakan beritanya ".

Al-Imam Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah berkata : "Yaitu menceritakan tentang semua apa yang telah diperbuat oleh orang-orang yang menghuni permukaannya".

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: {يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا} قَالَ: "أَتَدْرُونَ مَا أَخْبَارُهَا؟ ". قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: "فَإِنَّ أَخْبَارَهَا أَنَّ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ وَأَمَةٍ بِمَا عَمِل عَلَى ظَهْرِهَا، أَنْ تَقُولَ: عَمِلَ كَذَا وَكَذَا، يَوْمَ كَذَا وَكَذَا، فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا"

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  membaca ayat : "Pada hari itu bumi menceritakan beritanya". Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bertanya : "Tahukah kamu apakah yang dimaksud dengan beritanya?" Mereka menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : "Sesungguhnya berita bumi ialah bila ia mengemukakan persaksian terhadap setiap hamba laki-laki dan perempuan tentang apa yang telah dikerjakannya di atas permukaannya. Bumi mengatakan bahwa Fulan telah mengerjakan ini dan itu di hari ini dan ini. Demikianlah yang dimaksud dengan beritanya". (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "تَحَفَّظُوا مِنَ الْأَرْضِ، فَإِنَّهَا أُمُّكُمْ، وَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ عَامِلٌ عَلَيْهَا خَيْرًا أَوْ شَرًّا، إِلَّا وَهِيَ مُخبرة"

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : "Hati-hatilah kalian terhadap bumi, karena sesungguhnya bumi adalah ibu kalian, dan sesungguhnya tiada seorang manusia pun yang melakukan suatu perbuatan di atasnya, apakah amal baik atau amal jahat, melainkan ia pasti akan menceritakannya". ( HR. At-Thobrony, dan Al-Imam Al-Hafiz Al-Haitsamy : Didalam perowi hadist ini terdapat Ibnu Lahiah dan ia lemah) 

Al-Imam Al-Alusy rahimahumullah berkata : " Pada hari itu menceritakan berita-beritanya, yaitu bumi, dan maksud dari " hari itu ", adalah yaitu hari kiamat yang terjadi gempa maha dahsyat dan bumi memutahkan segala isinya dan para manusia yang kafir terkejut bertanya-tanya apa yang terjadi saat itu, dikarenakan bumi menjadi hidup hakiki yang mampu berbicara dan bersaksi atas amal perbuatan manusia dari ketaatan dan kemaksiatan, sebagaimana yang diterangkan oleh sahabat mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu dan Al-Imam Ats-Tsauri rahimahullah ".

Allah Ta'ala berfirman : 

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ 

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan perbuatan mereka.

Al-Imam Al-Alusy rahimahumullah berkata : " Yaitu pada hari bangkit nya para manusia dari kubur mereka menuju tempat hisab yaitu padang mahsyar dalam bentuk keadaan yang beragam sesuai derajat iman mereka, ada yang bermuka bersinar dengan keadaan yang tenang dan ada pula yang berwajah hitam dalam keadaan ketakutan, dan ada yang berkendara, ada pula yang berjalan bahkan ada yang terborgol, ada yang bahagia bahkan sangat bahagia dan ada pula yang sengsara bahkan sangat sengsara, orang-orang yang beriman dalam satu kelompok dan orang-orang yang kafir dalam kelompok lainnya, dan diperlihatkan balasan-balasan amal mereka yang baik maupun buruk ".

Al-Imam Al-Qurthuby rahimahullah berkata : " Yaitu para manusia berkelompok di sebelah kanan arah surga dan kelompok di sebelah kiri arah neraka sebagaimana firman Allah Ta'ala : 

وَيَوْمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَتَفَرَّقُونَ ﴿١٤﴾

"Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolong-golongan." (Q.S. Ar-Ruum :14)

Allah Ta'ala berfirman : 

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ ٱلْقَيِّمِ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ يَوْمٌ لَّا مَرَدَّ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ ۖ يَوْمَئِذٍ يَصَّدَّعُونَ ﴿٤٣﴾

"Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah." (Q.S. Ar-Ruum :43)

Allah Ta’ala berfirman : 

 فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ   وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya".
"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula".

 Al-Imam Al-Qurthuby rahimahullah berkata : " Didalam ayat ini sahabat mulia Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma menafsirkan : " Orang-orang kafir jika mereka beramal kebaikan walaupun sekecil biji sawi, maka ia akan melihat balasannya ketika di dunia dan tidak mendapatkan pahala (balasan) di akhirat  (karena mereka tidak beriman tentang kehidupan akhirat), dan barangsiapa jika orang-orang kafir tersebut berbuat keburukan walaupun sekecil biji sawi, maka ia akan mendapat siksa di akhirat bersama dosa syirik mereka. 

Dan orang-orang yang beriman jika berbuat keburukan walaupun seberat dzarroh atau sekecil biji sawi, maka ia akan melihat balasannya di dunia dan tidak di siksa ketika di akhirat jika ia mati, dan bisa jadi dosa nya diampuni, dan jika orang-orang yang beriman berbuat kebajikan walaupun seberat dzarroh atau sekecil biji sawi, maka kebaikan nya diterima dan dilipat gandakan di akhirat ".

Dan para ahli bahasa mengatakan : " Arti dari dzarroh adalah  jika seseorang menyentuhkan telapak tangan nya ke tanah kemudian ia mengangkat kembali telapak tangan tersebut, maka apa yang tersisa dari tanah yang menempel telapak tersebut adalah dzarroh ".

Al-Imam Muhammad ibnu Ka'ab Al-Qurodziy rahimahullah berkata : " Barangsiapa yang beramal walaupun sekecil dzarroh kebaikan dari orang-orang yang kafir, maka ia akan melihat balasannya ketika didunia, yang kembali kepada dirinya atau hartanya atau keluarga nya atau anak-anak nya, hingga ia keluar dari dunia dan ia tidak memiliki disisi Allah balasan kebaikan. 

Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan dari orang-orang yang beriman, maka ia akan mendapat hukumannya di dunia, menimpa dirinya, hartanya, anak nya dan keluarganya, hingga ia keluar dari dunia dalam keadaan tidak lagi memiliki dosa keburukan ".

Diriwayatkan oleh sahabat Anas radhiyallahu anhu, bahwasanya ayat ini turun kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan Abu Bakar sedang makan kemudian berhenti seraya berkata : "Wahai Rasulullah, apakah kita akan diperlihatkan tentang amal kebaikan dan keburukan yang telah kita lakukan?, Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : " Apa yang kalian jumpai dari sesuatu yang tidak menyenangkan, maka itu merupakan balasan dari amalan keburukan dan akan disimpan pahala kebajikan sekecil apapun hingga diberikan ketika hari kiamat ". ( HR. At-Thobrony dengan sanad yang lemah )

Al-Imam Al-Alusy rahimahullah berkata:" Kalimat : " Barangsiapa " dalam ayat diatas secara dhohir umum berlaku kepada setiap mukmin dan kafir, dan menetapkan bagi orang-orang kafir mendapatkan balasan kebaikan di akhirat, sedangkan hakikat nya amalan mereka gugur tidak berbekas. 

Sebagaimana firman Allah Ta'ala : 

وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا ﴿٢٣﴾

"Dan kami datangkan segala amal yang mereka (orang-orang yang kafir)  kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan."
(Q.S. Al-Furqon :23)

Allah Ta'ala berfirman : 

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾  أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِيهَا وَبَٰطِلٌ مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ﴿١٦﴾

"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan."
"Itulah orang-orang (yang kafir) yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Q.S.  Huud :15-16)

Allah Ta'ala berfirman : 

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمَٰلُهُمْ كَرَمَادٍ ٱشْتَدَّتْ بِهِ ٱلرِّيحُ فِى يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَّا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا۟ عَلَىٰ شَىْءٍ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلضَّلَٰلُ ٱلْبَعِيدُ ﴿١٨﴾

"Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh." (Q.S. Ibrahim :18)

Al-Imam Muhammad Jamaluddin Al-Qo'simiy rahimahullah berkata : berkata Al-Imam : " Sesungguhnya barangsiapa yang beramal kebajikan sekecil apapun maka ia pasti akan mendapatkan balasannya, tidak ada perbedaan antara mukmin dan kafir, namun pada akhirnya, bahwasannya kebaikan - kebaikan  orang kafir yang menentang (Allah Ta'ala) tidak bisa membawa manfaat  lagi menyelamatkan diri dari adzab kekufuran, dikarenakan mereka kekal didalam kebinasaan siksa neraka. 

Sebagaimana banyak dijumpai ayat - ayat yang menerangkan tentang tidak berbekas nya amalan mereka dan tidak mememberikan manfaat, dalam kata lain seluruh amal kebaikan mereka tidak berimbang dengan adzab dosa kekufuran, jikalau sekiranya mereka mendapatkan keringanan adzab atas sebagian dosa yang mereka lakukan, namun adzab dari dosa kekufuran tidak akan mendapat keringanan sedikit pun".

Allah Ta'ala berfirman : 

وَنَضَعُ ٱلْمَوَٰزِينَ ٱلْقِسْطَ لِيَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا ۖ وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ ﴿٤٧﴾

"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan."
(Q.S. Al-Anbiya : 47)

Didalam dua ayat ini terkandung targib atau penyemangat melakukan kebajikan sedikit ataupun banyak dan demikian pula terkandung tahdzir atau peringatan dari melakukan keburukan sekecil apapun atau sebesar apapun.

Diriwayatkan oleh Al-Imam Abdurrozak rahimahullah bahwasannya Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata : "  Ayat ini merupakan ayat yang paling ahkam (menegakkan keadilan) didalam ayat - ayat Al-Qur'an ".

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhary dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menamakan ayat ini dengan ayat al-ja'miah al-fa'dzah  (Yang meliput segala kebaikan Yang membawa manfaat)

Sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Abi Ha'tim rahimahullah dari Sahabat Said ibnu Jubair radhiyallahu anhuma, tatkala turun ayat : 

وَيُطْعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ﴿٨﴾

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan."
(Q.S. Al - Insan  :8)

Dahulu kaum muslimin tidak saling berbagi pada sesuatu yang sedikit dan sederhana, karena mereka beranggapan bahwa pahala didapatkan jika memberi sesuatu yang banyak lagi mereka sukai. Sehingga suatu hari datang seorang miskin mendatangi rumah mereka meminta sebutir kurma atau sesuap makan namun mereka menolak memberikan nya seraya berkata : Ini sangat sederhana dan tidak berarti, jika kami memberi sesuatu, pasti memberikan sesuatu yang berharga lagi layak dan yang kami senangi agar kami mendapatkan pahala.

Dan lainnya memiliki kebiasaan menganggap remeh suatu dosa seperti ucapan kebohongan yang sederhana atau ucapan gibah dan semisalnya, dan meyakini bahwa dosa yang mendatangkan siksa adalah dosa-dosa besar saja. Hingga diturunkan ayat ini sebagai pendorong melakukan Kebaikan sederhana walaupun sekecil apapun dan peringatan agar menjauhi keburukan sekecil mungkin karena hakikat nya mereka akan mendapatkan balasan nya.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

  اِتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَة طيبة 

“Berlindunglah kalian dari api neraka walaupun dengan separuh kurma. Barangsiapa tidak memilikinya maka hendaklah dengan kata-kata yang baik” ( HR. Al-Bukhari dan Muslim ) 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  bersabda :

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانُ. فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ، وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ،  وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلَا يَرَى إِلاَّ النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ، فَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Setiap kalian pasti akan diajak bicara oleh Allah Ta'ala di akhirat kelak, dimana tidak ada penterjemah antara dia dengan Allah Ta'ala . Lalu dia melihat ke sebelah kanannya, dan yang terlihat hanyalah apa yang telah dikerjakannya dahulu di dunia. Dia pun melihat ke sebelah kiri, dan yang terlihat hanyalah apa yang telah dikerjakannya dahulu di dunia. Lalu dia melihat ke depan, dan yang ia lihat hanya ada neraka di hadapannya. Karena itu, berlindunglah kalian dari api neraka walaupun dengan separuh kurma, barang siapa yang tidak mampu  maka hendaklah berucap dengan kata-kata yang baik”. ( HR. Al-Bukhari dan Muslim ) 


Selasa, 23 Oktober 2018

TAFSIR SURAT AL A'DIYAAT

TAFSIR SURAT AL- A'DIYAAT 

(Kuda perang yang berlari kencang)

Surat Al-A'diyaat, surat Makkiyah, terdiri dari 11 ayat. 

Allah Ta'ala berfirman : 

بسم الله الرحمن الرحيم 

وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا (1) فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا (2) فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا (3) فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا (4) فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا (5) إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ (6) وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ (7) وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (8) أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ (9) وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ (10) إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ (11)

Artinya :

1) Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah. 2) Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (telapak kakinya). 3) Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi. 4) Maka ia menerbangkan debu. 5) Dan menyerbu di tengah-tengah kumpulan musuh. 6) Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. 7) Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. 8) Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. 9) Maka apakah diat tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur. 10) Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada. 11) Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.

Al-Imam Burhanuddin Al-Biqo'i rahimahullah berkata : " Maksud diturunkan surat ini adalah menjelaskan bahwasannya kebanyakan manusia yang binasa tatkala terjadinya huru-hara hari kiamat, mereka adalah orang-orang yang mendahulukan kehidupan yang fana seperti cinta harta dan tahta, dari pada kehidupan yang kekal abadi disisi Dzat Yang Maha Mulia. 

Tatkala surat sebelumnya yaitu surat Al-Zalzalah ditutup dengan penjelasan tentang balasan di hari kiamat bagi mereka yang beramal keburukan, maka dalam surat ini menjelaskan tentang faktor-faktor yang menyebabkan terjerumusnya para manusia dari perbuatan keburukan yang tidak lain karena ingkar terhadap karunia Allah Ta'ala dan mengutamakan dunia daripada akhirat. 

Sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Qurthuby dan Al-Alusy rahimahumullah  melalui riwayat Al Bazar, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Ha'tim, Ad-Daaruquthni dan Ibnu Murdawaih rahimahumullah, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam mengutus pasukan berkuda kepada sekelompok manusia dari bangsa bani kinanah, dan dalam beberapa waktu tidak terdengar kabar tentang berita mereka. Pasukan tersebut dipimpin oleh Al-Mundzir  ibnu Amrin Al-Anshari radhiyallahu anhu yang termasuk salah satu dari panglimanya. Kemudian orang-orang Munafik menyebarkan isu bahwa mereka terbunuh semuanya, maka turunlah ayat ini untuk memberitahukan kepada Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bahwa pasukan kaum muslimin dalam keadaan selamat dan sedang menyerang musuh yang ditujunya. 

Firman Allah Ta'ala :

وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا

“Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah. “

Kata ( al-A'diyaat )  yaitu hewan yang berlari dengan sangat amat kencang, yaitu seekor kuda yang dikendarai dengan penuh izzah, yang dapat mendatangkan pahala Jika dikendarai untuk berjuang di jalan Allah Ta'ala, berjaga atau ribath fi sabilillah dan digunakan untuk menolong orang lain membawakan beban mereka dan semisalnya. 

Namun dapat pula mendatangkan dosa seperti halnya jika mengendarainya untuk kesombongan serta berbangga-bangga, mencari pujian manusia .

Allah Ta'ala bersumpah dengan nya dikarenakan keutamaan hewan tersebut dan berbeda dengan hewan yang lain seperti kerbau atau keledai.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْخَيْلُ لِثَلَاثَةٍ لِرَجُلٍ أَجْرٌ وَلِرَجُلٍ سِتْرٌ وَعَلَى رَجُلٍ وِزْرٌ فَأَمَّا الَّذِي لَهُ أَجْرٌ فَرَجُلٌ رَبَطَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَأَطَالَ فِي مَرْجٍ أَوْ رَوْضَةٍ فَمَا أَصَابَتْ فِي طِيَلِهَا ذَلِكَ مِنْ الْمَرْجِ أَوْ الرَّوْضَةِ كَانَتْ لَهُ حَسَنَاتٍ وَلَوْ أَنَّهَا قَطَعَتْ طِيَلَهَا فَاسْتَنَّتْ شَرَفًا أَوْ شَرَفَيْنِ كَانَتْ أَرْوَاثُهَا وَآثَارُهَا حَسَنَاتٍ لَهُ وَلَوْ أَنَّهَا مَرَّتْ بِنَهَرٍ فَشَرِبَتْ مِنْهُ وَلَمْ يُرِدْ أَنْ يَسْقِيَهَا كَانَ ذَلِكَ حَسَنَاتٍ لَهُ وهي لذالك الرجل أجر  ورجل ربطها تغنيا وتعرف ولم ينسى حق الله في رقابهم ولا ظهورها فهي له ستر  ورَجُلٌ رَبَطَهَا فَخْرًا وَرِئَاءً وَنِوَاءً  فَهِيَ عَلَى ذَلِكَ وزر

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Kuda itu ada tiga jenis. Yang pertama kuda yang bagi seorang pemiliknya menjadi pahala, yang kedua menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan dan yang ketiga mendatangkan dosa.

Adapun orang yang mendapatkan pahala adalah orang yang menambatkan kudanya untuk kepentingan di jalan Allah dimana dia mengikatnya di ladang hijau penuh rerumputan atau taman. Apa saja yang didapatkan kuda itu selama berada dalam pengembalaan di ladang penuh rerumputan hijau atau taman maka semua akan menjadi kebaikan bagi orang itu. Seandainya talinya putus lalu kuda itu berlari sekali atau dua kali maka jejak-jejak dan kotorannya akan menjadi kebaikan bagi pemiliknya. Dan seandainya kuda itu melewati sungai lalu minum darinya sedangkan dia tidak hendak memberinya minum maka semua itu baginya adalah kebaikan. Yang kedua adalah kuda yang ditambatkan guna mencukupi kebutuhan dan menjaga diri dari meminta minta orang lain, sedangkan ia tidak lalai hak Allah aras kepemilikannya dan tunggangan nya, maka ia sebagai penutup kebutuhan bagi nya. Dan seseorang yang menambatkan kudanya dengan kesombongan, pamer dan permusuhan terhadap Kaum Muslimin maka baginya adalah dosa ". ( HR. Al-Bukhari ) 

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ : « إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُدْخِلُ بِالسَّهْمِ الْوَاحِدِ ثَلاَثَةَ نَفَرٍ الْجَنَّةَ : صَانِعَهُ يَحْتَسِبُ فِى صَنْعَتِهِ الْخَيْرَ وَالرَّامِىَ بِهِ وَمُنْبِلَهُ وَارْمُوا وَارْكَبُوا وَأَنْ تَرْمُوا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا لَيْسَ مِنَ اللَّهْوِ إِلاَّ ثَلاَثٌ : تَأْدِيبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ وَمُلاَعَبَتُهُ أَهْلَهُ وَرَمْيُهُ بِقَوْسِهِ وَنَبْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ الرَّمْىَ بَعْدَ مَا عَلِمَهُ رَغْبَةً عَنْهُ فَإِنَّهَا نِعْمَةٌ تَرَكَهَا ». أَوْ قَالَ : « كَفَرَهَا ».

Diriwayatkan dari sahabat  Uqbah ibni Amrin radhiyallahu anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :  "Sesungguhnya Allah Ta'ala akan memasukan tiga kelompok manusia ke dalam Surga karena sebab satu panah, yaitu pembuat panah yang mengharapkan kebaikan dari panah buatannya, pemanah dan pelontar anak panah, maka memanahlah dan tunggangi kuda kalian semuanya, adapaun memanah lebih aku sukai dari pada menunggang kuda. 

Tidak termasuk perbuatan sia-sia yang tidak berpahala dalam tiga perkara ini :  "Seorang yang melatih kudanya (agar bisa ditunggangi), bersendau gurau bersama istrinya dan permainan busur dan anak panahnya, dan barang siapa meninggalkan olahraga panah setelah mempelajarinya karena benci maka ketahuilah bahwa sesungguhnya hal tersebut merupakan suatu nikmat yang telah ia tinggalkan ", atau  " yang telah ia kufuri.’ (HR. Abu Dawud )

 

عَنْ عُرْوَة الْبَارِقِيُّ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " الْخَيْلُ مَعْقُودٌ فِي نَوَاصِيهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ الْأَجْرُ وَالْمَغْنَمُ "

Diriwayatkan dari sahabat Urwah Al-Baariqiy, bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Kebaikan terikat pada ubun-ubun kuda hingga hari kiamat, yaitu : adanya pahala kelak di akhirat dan ‎ghanimah atau harta rampasan perang”.  ( HR. Al-Bukhari, Muslim dan At-Tirmidzi ) 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنِ احْتَبَسَ فَرَسًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِيمَانًا بِاللَّهِ، وَتَصْدِيقًا بِوَعْدِهِ فَإِنَّ شِبَعَهُ وَرِيَّهُ، وَرَوْثَهُ، وَبَوْلَهُ فِي مِيزَانِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ "‎

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radiyallahu anhu, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang memiliki  seekor kuda yang digunakan untuk jihad di jalan Allah Ta'ala dengan keimanan dan membenarkan janji-Nya, maka kenyangnya kuda itu, kotorannya, dan air kencingnya akan ada di dalam timbangan kebaikannya kelak di hari kiamat”. ( HR Ahmad, Al Bukhari dan An-Nasa'i ) 

Adapun makna ( Dhobha ) adalah suara yang keluar dari kuda di saat dia sedang berlari kencang. Sehingga diartikan " Demi kuda yang berlari kencang dengan terengah-engah ", atau dengan suara meringkik, karena kuda ketika berlari kencang dia kadang meringkik.

Al-Imam Al-Qurthuby rahimahullah berkata : " Diriwayatkan dari sahabat Aly radhiyallahu anhu bahwa "A'diyaat " adalah kendaraan unta yang dikendarai dari Arofah menuju Muzdalifah, dan dari Muzdalifah kembali ke Mina tatkala haji, sungguh kami menyaksikan perang Badar dan semua para sahabat mengendarai unta, kecuali kuda yang ditunggangi oleh sahabat Miqdat dan kuda yang ditunggangi oleh sahabat Martsad ibnu Abi Martsad radhiyallahu anhuma ".

Allah Ta'ala berfirman :

 

فَالْمُورِيَاتِ قَدْحا

"Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (telapak kakinya)".

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata : " ini adalah unta yang menginjak bebatuan sehingga memercikkan api ".

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata : " Dan perbedaan pendapat tentang maksud ayat diatas adalah kuda atau unta dalam ayat ini terjadi seperti dalam ayat sebelumnya, dan pendapat yang kuat adalah kuda sebagaimana hal ini dikuatkan oleh jumhur ulama ".

Allah Ta'ala berfirman : 

فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا

" Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi ".

Yaitu mengadakan serangan di waktu pagi hari, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Beliau mengadakan perjalanan malam hari menuju tempat musuh dan melakukan serangan di waktu subuh; maka apabila beliau mendengar suara azan di kabilah yang akan diperanginya, beliau mengurungkan niatnya. Dan apabila beliau Shallallahu alaihi wa sallam tidak mendengar suara azan di kabilah tersebut, maka diperangilah kaum tersebut. 

Sahabat Ibnu Mas’ud dan Aly radhiyallahu anhuma berkata : " Yaitu unta yang bergerak di pagi hari Nahr atau hari penyembelihan yaitu tanggal 10 Dzul Hijjah, dari Minna menuju tempat pelemparan jumroh dan sunnah nya tidak melakukan nya kecuali di pagi hari. 

Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata : 

قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا يَعْدِلُ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ؟ قَالَ : « لَا تَسْتَطِيْعُوْنَهُ ». قَالَ : فَأَعَادُوْا عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا . كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ : « لَا تَسْتَطِيْعُوْنَهُ ». وَقَالَ فِيْ الثَّالِثَةِ : « مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللهِ . لَا يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى » .

Dikatakan kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam: "Amalan apa yang setara dengan jihad fii sabiilillah?", Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata: “Kalian tidak bisa mengerjakan amalan yang setara dengan jihad.” Para shahabat mengulangi pertanyaan tersebut dua kali atau tiga kali, dan Nabi tetap menjawab: “Kalian tidak bisa mengerjakan amalan yang setara dengan jihad.” Kemudian Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda pada kali yang ketiga: “Perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah itu seperti orang yang berpuasa, sholat, dan khusyu’ dengan membaca ayat-ayat Allah. Dia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya sampai orang yang berjihad di jalan Allah Ta’ala itu kembali.” ( HR. Muslim ) 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : 

… رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْـجِهَادُ فِـي سَبِيْلِ اللهِ.

“… Pokoknya perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fii sabiilillaah.” ( HR Ahmad dan At-Tirmidzi ) 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : 

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِيْ كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ.

“Orang yang menjaga di tapal batas dalam jihad sehari semalam lebih baik dari puasa dan shalat malam selama sebulan. Dan jika ia mati, maka mengalirlah pahala amal yang biasa ia kerjakan, diberikan rizkinya, dan dia dilindungi dari siksa kubur dan fitnahnya.” ( HR. Muslim ) 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : 

عَلَيْكُمْ بِالْجِهَادِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ –تَبَارَكَ وَتَعَالَى-، فَإِنَّ الْـجِهَادَ فِـيْ سَبِيْلِ اللهِ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْـجَنَّةِ ، يُذْهِبُ اللهُ بِهِ مِنَ الْهَمِّ وَالْغَمِّ.

“Wajib atas kalian berjihad di jalan Allah Tabaaraka wa Ta’ala, karena sesungguhnya jihad di jalan Allah itu merupakan salah satu pintu dari pintu-pintu Surga, Allah akan menghilangkan dengannya dari kesedihan dan kesusahan.” ( HR. Al-Hakim ) 

Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata :

إِنَّ أَفْضَلَ الْعَمَلِ بَعْدَ الصَّلَاةِ اَلْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى.

“Sesungguhnya seutama-utama amal sesudah shalat adalah jihad di jalan Allah Ta’ala.” ( HR Ahmad ) 

Allah Ta'ala berfirman : 

فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا

" Maka ia menerbangkan debu ".

Maksudnya, debu di tempat kuda-kuda mereka sedang beraksi di kancah peperangan.

Allah Ta'ala berfirman : 

فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا

"Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh".

Yakni kuda-kuda tersebut berada di tengah-tengah kancah peperangan mecerai beraikan barisan musuh.

Allah Ta'ala berfirman : 

إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

"Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya".

Inilah jawaban dari sumpah sumpah diatas, dengan pengertian bahwa sesungguhnya manusia itu benar-benar mengingkari nikmat-nikmat Tuhannya.

Maksud " Manusia " dalam ayat ini adalah manusia secara umum, mereka memiliki tabiat kufur terhadap nikmat dan karunia Allah Ta'ala, kecuali mereka yang diselamatkan oleh Allah Ta'ala. 

Sebagian Ahli Tafsir mengatakan bahwa maksud " Manusia " dalam ayat ini adalah mereka orang-orang kafir tertentu, sebagaimana diriwayatkan oleh Sahabat Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma bahwa ayat ini turun kepada Qurth ibnu Abdillah ibnu Amrin ibnu Naufal Al-Qurosy, sebagaimana tercantum ayat berikutnya : 

أَفَلا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ

"Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur? ".

Bahwa hal semacam ini tidak pantas terjadi kecuali kepada orang kafir. 

Al-Imam Al-Hasan Al-Basyri rahimahullah mengatakan bahwa al-kanud artinya orang yang mengingat-ingat musibah dan melupakan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya.

Al-Imam Abu Bakar Al-Wa'shity rahimahullah berkata : " Arti al-kanud adalah menggunakan nikmat nikmat Allah Ta'ala untuk kemaksiatan ".

Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah berkata : " al-kanud adalah orang-orang yang hanya sekedar melihat kenikmatan namun melupakan kepada Dzat Yang Memberikan Nikmat ".

Al-Imam Abu Ja'far ibnu Al-Zubair rahimahullah berkata : " Allah Ta'ala bersumpah tentang keadaan manusia bahwa manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya, yaitu  sangat bakhil terhadap apa yang mereka miliki dari harta, seakan-akan tidak akan dihisab harta mereka, dari mana ia dapat dan digunakan untuk apa , seperti tidak pernah mendengar firman Allah Ta'ala : 

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ ﴿٧﴾  وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ ﴿٨﴾

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula."
(Q.S. Al-Zalzalah : 7-8 ) 

Allah Ta'ala berfirman : 

وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ

"Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya".

Al-Imam Burhanuddin Al-Biqo'i rahimahullah berkata : " Tatkala para manusia melakukan kezaliman merupakan suatu perkara yang mengherankan, namun ketika waktu yang sama mereka bersaksi atas perbuatan zalim tersebut, maka ini merupakan sesuatu yang lebih mengherankan lagi.

Yaitu, mereka bersaksi dan menetapkan bahwa seluruh kenikmatan dan kebaikan adalah datang dari Allah Ta'ala semata, dan mereka bersaksi bahwa Tuhan mereka melarang dari perbuatan kufur serta tidak pernah ada perintah dari Tuhannya untuk melakukan kekufuran, sehingga tidak pantas bagi orang yang berakal untuk melakukan sesuatu yang mendatangkan murka dan siksa Tuhannya " .

Allah Ta'ala berfirman : 

ٱلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰٓ أَفْوَٰهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ ﴿٦٥﴾

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." (Q.S. Yaasiin :65)

Allah Ta'ala berfirman : 

حَتَّىٰٓ إِذَا مَا جَآءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَٰرُهُمْ وَجُلُودُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ﴿٢٠﴾  وَقَالُوا۟ لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوٓا۟ أَنطَقَنَا ٱللَّهُ ٱلَّذِىٓ أَنطَقَ كُلَّ شَىْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ﴿٢١﴾  
وَمَا كُنتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَن يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَآ أَبْصَٰرُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَٰكِن ظَنَنتُمْ أَنَّ ٱللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِّمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٢٢﴾

"Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan."
"Dan mereka berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan"."

"Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Fushilat : 20-22)

Al-Imam Al-Qurthuby rahimahullah berkata : " Sesungguhnya Allah Ta'ala terhadap segala perbuatan anak cucu Adam Maha Mengetahui dan Menyaksikan ", sebagaimana hal ini diriwayatkan dari Al-Imam Mujahid dari Sahabat Abdullah ibnu Abbas radhiyallohu anhuma. 

Allah Ta'ala berfirman : 

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

"Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta".

Al-Imam Burhanuddin Al-Biqo'i rahimahullah berkata : " Dalam ayat ini disebutkan sebab dan alasan yang menjadikan para manusia ingkar tidak berterimakasih kepada Tuhannya, serta bakhil atas limpahan nikmat karunia  yaitu kecintaan yang sangat besar terhadap harta yang merupakan kesenangan dunia yang sementara lagi  fana yang berakibat melalaikan dari ber khidmat kepada Allah Ta'ala, dimana seyogyanya seorang hamba tatkala diberikan limpahan karunia dan harta membawanya untuk bersyukur dan meningkatkan penghambaan diri kepada Allah Ta'ala hingga mendatangkan ridho ilahi dan kenikmatan tersebut akan selalu bertambah ".

Allah Ta'ala berfirman : 

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ ﴿١٤﴾  ۞ قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَٰجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَٰنٌ مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِٱلْعِبَادِ ﴿١٥﴾

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."
"Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya."
(Q.S. Ali-Imran :14-15)

Tatkala harta merupakan kesenangan yang menipu, sehingga orang-orang yang berakal seyogyanya tidak bergantung hatinya kepada nya, terlebih mengutamakan cinta harta yang mengakibatkan berkorban akhirat yang kekal abadi, maka dalam ayat berikut nya diberikan ancaman yang keras dalam Firman-Nya : 

أَفَلا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ

"Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur? ".

Maksudnya, dikeluarkan orang-orang yang telah mati dari dalam kuburnya.

Allah Ta'ala berfirman : 

وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَإِذَا هُم مِّنَ ٱلْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنسِلُونَ ﴿٥١﴾قَالُوا۟ يَٰوَيْلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ ٱلرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ ٱلْمُرْسَلُونَ ﴿٥٢﴾

"Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka."
"Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?". Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya)." (Q.S. Yasiin : 51-52)

Allah Ta'ala berfirman : 

وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا مَن شَآءَ ٱللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ ﴿٦٨﴾

"Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)." (Q.S. Az-Zumar :68)

Allah Ta'ala berfirman : 

مَّا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَٰحِدَةٍ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌۢ بَصِيرٌ ﴿٢٨﴾

"Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(Q.S. Luqman :28)

Allah Ta'ala berfirman : 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مِّنَ ٱلْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِى ٱلْأَرْحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوٓا۟ أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرْذَلِ ٱلْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔا ۚ وَتَرَى ٱلْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَآ أَنزَلْنَا عَلَيْهَا ٱلْمَآءَ ٱهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنۢبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍۭ بَهِيجٍ ﴿٥﴾  ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ وَأَنَّهُۥ يُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَأَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ ﴿٦﴾  
وَأَنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ ٱللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِى ٱلْقُبُورِ ﴿٧﴾

"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah."
"Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,"
"Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur." (Q.S. Al-Hajj : 5-7)

Tatkala urusan cinta harta tersembunyi di dalam dada, tidak seorangpun mengetahuinya kecuali Dzat Yang Maha Mengetahui Rahasia, dan hari kebangkitan termasuk perkara rahasia yang hanya Allah Ta'ala semata yang mengetahui kapan terjadinya, maka dalam ayat selanjutnya Allah Ta'ala mengabarkan di hari tersebut akan di ungkap segala rahasia yang terpendamdalam hati para manusia untuk di hisab dan di timbang amalan mereka sehingga mendapatkan balasan yang setimpal.  

Allah Ta'ala berfirman : 

وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ

"Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada".

Yaitu dari perkara kebaikan dan keburukan yang tersembunyi dalam niat manusia, sehingga dalam ayat ini menunjukkan bahwa niat tersembunyi  manusia akan di hisab sebagaimana amalan lahirlah yang nampak oleh pandangan manusia yang tercatat rapi oleh para malaikat. 

Dalam ayat diatas disebutkan khusus apa yang terkandung dalam dada dari amalan hati, dikarenakan amalan lahirlah senantiasa mengikuti amalan hati dan jika bukan karena gerakan dan kehendak hati, niscaya tidak akan muncul suatu amalan.

Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hafsin Umar bin Al-Khattab radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Allah Ta'ala berfirman : 

إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ

"Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka".

Yaitu Allah Ta'ala merupakan Dzat Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui lagi Maha Meliputi para makhluk Nya, segala yang nampak atau tersembunyi, yang dhohir atau bathin, yang baik atau buruk, dan Allah Ta'ala akan memberikan balasan dari setiap perbuatan, hingga akhirnya para manusia mendapatkan surga atau neraka.