Sabtu, 23 November 2024

KASIH SAYANG ALLAH


SIAPA YANG DILINDUNGI ALLAH DARI DUNIA, MAKA DIA MENGHENDAKI KEBAIKAN BAGINYA.



Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan salawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, penghulu para nabi dan rasul, serta keluarga dan sahabatnya sekalian. Amma ba'du:

Kehidupan dunia dipenuhi dengan berbagai jenis kenikmatan dan syahwat, seperti wanita, harta, anak-anak, ternak, dan tanaman. Allah Ta’ala berfirman:
“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah ada tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14).

Allah menghiasi dunia ini untuk manusia sebagai ujian, apakah mereka mendahulukan cinta kepada dunia dibandingkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Orang yang kuat imannya tidak akan mendahulukan apa pun dari dunia dibandingkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Adapun orang yang lemah imannya, ia menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan puncak ilmunya. Akibatnya, ia terhanyut tanpa menyadari bahaya yang mengintainya.



Perhiasan dunia: Keindahannya yang fana dan sementara


Orang yang tidak memahami hakikat dunia akan terperdaya oleh perhiasannya. Ia bermain-main dengannya dengan hatinya, sibuk bersaing dalam mengumpulkan dunia, dan membanggakannya kepada orang lain. Namun akhirnya, ia akan meninggalkan dunia itu. Allah menggambarkan kehidupan dunia ini seperti hujan yang turun ke bumi, lalu menumbuhkan tanaman hingga menghijau. Tanaman itu membuat para petani kagum, tetapi kemudian datanglah ketetapan Allah yang merusaknya sehingga menjadi seakan-akan tidak pernah ada. Allah Ta’ala berfirman:
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam harta serta anak-anak, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu mengering hingga kamu melihat warnanya kuning, lalu menjadi hancur. Di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Al-Hadid: 20).

Inilah hakikat dunia yang fana dan sementara.



Kekhawatiran Nabi ﷺ terhadap umatnya dari keindahan dunia


Rasulullah ﷺ sangat khawatir terhadap umatnya terperdaya oleh dunia. Dari Amr bin Auf radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Tetapi aku khawatir jika dunia dilapangkan untuk kalian sebagaimana telah dilapangkan bagi orang-orang sebelum kalian." (Muttafaq ‘alaih).

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah apa yang Allah keluarkan untuk kalian berupa keberkahan dunia.” Para sahabat bertanya: “Apa itu keberkahan dunia?” Beliau menjawab: “Keindahan dunia.” (Muttafaq ‘alaih).

Kekhawatiran beliau ini disebabkan manusia yang diberi kenikmatan dunia akan bersaing untuk mendapatkannya. Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
“Demi Allah, aku tidak khawatir kalian akan menyekutukan Allah setelahku, tetapi aku khawatir kalian akan saling berlomba dalam dunia.” (Muttafaq ‘alaih).

Jika mereka saling bersaing dalam dunia, hal itu akan menghancurkan mereka. Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
“Apakah kalian khawatir terhadap kemiskinan? Ataukah kalian mengkhawatirkan dunia? Sungguh Allah akan membukakan untuk kalian negeri-negeri Persia dan Romawi, dan dunia akan dicurahkan kepada kalian hingga melimpah. Hanya saja aku khawatir kalian disesatkan olehnya.” (HR. Ahmad).



Bahaya persaingan terhadap dunia


Persaingan atas dunia telah menghancurkan banyak orang, baik secara fisik maupun moral. Nabi ﷺ memperingatkan bahwa di akhir zaman, manusia akan saling membunuh demi memperebutkan dunia, meskipun itu hanya berupa gunung emas. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
“Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga Sungai Eufrat mengering, lalu menampakkan gunung emas. Manusia saling membunuh untuk mendapatkannya. Dari setiap seratus orang, hanya satu yang selamat. Setiap orang berkata, ‘Mungkin aku yang akan selamat.’” (HR. Muslim).

Di zaman kita, persaingan atas dunia telah membinasakan banyak orang, baik secara jasmani maupun rohani.

Semoga Allah melindungi kita dari fitnah dunia dan menjadikan kita lebih mencintai-Nya serta Rasul-Nya ﷺ di atas segalanya.



Siapa yang memahami hakikat dunia tidak akan bersaing dengan orang lain untuknya.


Orang yang memahami hakikat dunia ini tidak akan berlomba-lomba dengan orang lain untuk mengejarnya. Dunia ini tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk di sisi Allah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Apa urusanku dengan dunia? Demi Allah, perumpamaanku dengan dunia hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon pada siang hari yang panas, lalu pergi meninggalkannya." (HR. At-Tirmidzi).

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah seperti sayap seekor nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberikan seteguk air pun kepada orang kafir." (HR. At-Tirmidzi).

Imam Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan: “Maknanya, jika dunia ini memiliki nilai sekecil apa pun, Allah tidak akan memberi orang kafir seteguk air darinya, sebab orang kafir adalah musuh Allah, dan musuh tidak diberi sesuatu yang bernilai oleh pemberinya.”

Segala bentuk keindahan dunia tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan akhirat. Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Demi Allah, dunia dibandingkan dengan akhirat hanyalah seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut, lalu lihatlah apa yang tersisa pada jarinya." (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Makna hadis ini adalah bahwa dunia dibandingkan dengan akhirat sangat kecil dan fana kenikmatannya, sedangkan akhirat itu kekal dan kenikmatannya terus-menerus.”



Orang yang memahami dunia menjauh darinya agar tidak terfitnah


Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Janganlah kalian terlalu sibuk dengan pertanian sehingga cenderung kepada dunia." (HR. At-Tirmidzi).

Imam Al-Mubarakfuri menjelaskan: “Maksudnya adalah larangan untuk sibuk dengan urusan dunia seperti pertanian yang dapat menghalangi seseorang dari beribadah kepada Allah dan mempersiapkan akhirat.”

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: "Kami memiliki kain penutup yang bergambar burung. Setiap kali seseorang masuk rumah, ia akan melihat kain itu. Rasulullah ﷺ berkata kepadaku: 'Singkirkanlah kain ini, karena setiap kali aku masuk dan melihatnya, aku teringat dunia.'” (HR. Muslim).

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Hal ini menunjukkan bahwa seseorang hendaknya menjauhkan diri dari apa pun yang dapat membuat hatinya terikat pada dunia agar tidak terfitnah olehnya.” Rasulullah ﷺ ketika melihat sesuatu yang menarik dari dunia, beliau berkata:
"Labbaik, sesungguhnya kehidupan yang sejati adalah kehidupan akhirat."



Orang yang Allah kehendaki kebaikan baginya akan memahami dunia dan bersaing untuk akhirat


Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Al-Qur’an penuh dengan peringatan untuk menjauhi dunia dan menggambarkan kehinaannya, serta ajakan untuk meraih akhirat. Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Dia akan menanamkan dalam hatinya pemahaman tentang hakikat dunia dan akhirat, sehingga ia memilih apa yang lebih layak untuk diprioritaskan.”

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Jika engkau melihat seseorang bersaing denganmu dalam urusan dunia, maka bersainglah dengannya dalam urusan akhirat." Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata: "Jika engkau mampu agar tidak ada seorang pun yang mendahuluimu menuju Allah, maka lakukanlah."



Kebodohan manusia adalah mengira bahwa kesempitan rezeki adalah kehinaan


Allah berfirman:
"Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, 'Rabbku telah memuliakanku.' Tetapi apabila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, 'Rabbku telah menghinaku.' Sekali-kali tidak demikian." (QS. Al-Fajr: 15-17).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Bukan seperti yang mereka kira, bahwa kelapangan rezeki adalah penghormatan dan kesempitan rezeki adalah penghinaan. Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, baik Dia cintai maupun tidak.”



Allah melindungi hamba-Nya yang beriman dari dunia karena cinta-Nya


Dari Mahmud bin Labid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah melindungi hamba-Nya yang beriman dari dunia sebagaimana kalian melindungi makanan dan minuman dari orang sakit karena khawatir itu membahayakannya." (HR. Ahmad).

Ketika Allah menjauhkan hamba-Nya dari dunia yang dapat membahayakan akhiratnya, itu karena Dia mencintainya. Dari Qatadah bin Nu’man radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan melindunginya dari dunia sebagaimana salah seorang dari kalian melindungi orang sakitnya dari air." (HR. At-Tirmidzi).

Inilah nikmat terbesar bagi seorang mukmin, yakni ketika Allah melindunginya dari dunia karena kasih sayang-Nya. Hendaknya seorang hamba bersyukur atas perlindungan ini agar ia tidak terlalaikan oleh dunia dan tetap fokus pada akhiratnya. Berapa banyak orang yang terperdaya oleh dunia hingga binasa!

WASIAT DAN PERINGATAN


WASIAT DAN PERINGATAN 


Oleh: As Syaikh Ali Abdul Rahman Al-Hudhaifi hafizhahullah Ta'ala. 

Disampaikan pada: 13 September 2024 - 10 Rabi'ul Awwal 1446
Diterbitkan pada: 14 September 2024 - 11 Rabi'ul Awwal 1446

Poin-Poin Khutbah:

1. Wasiat untuk mengikuti petunjuk para rasul.


2. Kewajiban menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.


3. Empat pertanyaan bagi manusia di akhirat.


4. Peringatan dari bid’ah maulid.



Kutipan:

Sesungguhnya hisab (perhitungan) itu sangat berat, dan Sang Maha Pengamat (Allah) Maha Tahu, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya dan Dia Maha Mengetahui isi hati. Tidak akan bergerak dua kaki seorang hamba di hari kiamat, tidak akan melintasi sirat yang dibentangkan di atas Jahannam menuju surga sampai dia ditanya tentang empat hal...

Khutbah Pertama:

Segala puji bagi Allah, Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu dan menentukannya dengan takaran yang sempurna, serta meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu-Nya; "Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun" (Faathir: 41). 

Saya memuji Tuhan saya dan bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat-Nya yang tampak dan yang tersembunyi, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui, pujian yang banyak. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, satu-satunya tanpa sekutu bagi-Nya, dengan sifat-sifat-Nya yang tinggi dan nama-nama-Nya yang indah. 

Aku juga bersaksi bahwa Nabi dan junjungan kami, Muhammad, adalah hamba dan rasul-Nya yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta, pembawa kabar gembira dan peringatan, penyeru kepada Allah dengan izin-Nya dan pelita yang terang. 

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan rasul-Mu, Muhammad, serta kepada keluarga dan sahabatnya, dengan shalawat dan salam yang banyak.

Amma ba’du: 

Bertakwalah kepada Allah dengan mencari keridhaan-Nya dan menjauhi apa yang diharamkan-Nya. 

Dia akan menulis ridha-Nya untuk kalian dan memasukkan kalian ke dalam derajat-derajat tertinggi di surga-Nya. 

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang yang datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka baginya neraka Jahannam; dia tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup. Sedangkan orang yang datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah mengerjakan amal saleh, maka mereka memperoleh derajat yang tinggi, yaitu surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang membersihkan diri” (Thaahaa: 74-76).

Wahai manusia,...
Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak cucu Adam, jika datang kepada kalian rasul-rasul dari kalangan kalian sendiri yang membacakan kepada kalian ayat-ayat-Ku, maka barang siapa yang bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati” (Al-A’raaf: 35).

 Wahai anak cucu Adam, ....
Allah telah menciptakan kalian untuk suatu urusan yang agung dan tanggung jawab yang besar, yang langit dan bumi enggan untuk memikulnya dan merasa takut untuk melakukannya karena takut tidak mampu dan mendapat azab atau tidak sempurna dalam menjalankannya sehingga mendapat celaan. 

Sesungguhnya tanggung jawab yang besar ini adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan ihsan dan memperbaiki bumi dengan syariat-Nya, serta menjauhi segala bentuk kedzaliman dan kemaksiatan. 

Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa yang beramal saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri, dan Tuhanmu tidak menzalimi hamba-hamba-Nya” (Fushshilat: 46).

Wahai anak manusia,....
 renungkanlah awal dan akhir urusanmu, serta kondisi-kondisi yang kamu alami di antara keduanya. 

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam susah payah” (Al-Balad: 4). 

Para mufassir menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia untuk menghadapi kesulitan dunia dan akhirat, dan setelah itu ada kenikmatan bagi orang-orang yang sabar dan bertakwa, serta azab bagi yang mengikuti hawa nafsu yang haram. 

Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang zalim mengikuti kenikmatan yang melalaikan yang mereka peroleh, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa” (Hud: 116).

Wahai manusia,....
 hasbunallah wa ni’mal wakil adalah ucapan yang disiapkan oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk menghadapi segala kesulitan, krisis, dan ujian besar. 

Beliau menganjurkan para sahabat untuk mengucapkannya. 
Kalimat ini juga diucapkan oleh Nabi Ibrahim -‘alaihis salam- ketika dilemparkan ke dalam api. 
Allahu Akbar, betapa besar hal-hal yang akan dihadapi manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat. 

Dari Abu Dzar -radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat dan mendengar apa yang tidak kalian dengar. Langit berderak (berat) dan layak baginya untuk berderak. Tidak ada tempat sejengkal pun kecuali ada malaikat yang bersujud kepada Allah. Demi Allah, andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan tertawa sedikit dan menangis banyak, tidak akan menikmati para istri di atas tempat tidur, dan akan keluar ke dataran tinggi berseru kepada Allah. Aku berharap aku hanya pohon yang ditebang” (HR. Tirmidzi).

Setelah kehidupan dunia, akan datang pertanyaan di kubur bagi setiap manusia.

 Dari Anas -radhiyallahu ‘anhu-, Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Ketika jenazah diletakkan di dalam kuburnya dan para sahabatnya berpaling meninggalkannya, maka dia mendengar suara langkah kaki mereka. 
Lalu datanglah dua malaikat yang mendudukkannya dan bertanya, ‘Apa yang kamu katakan tentang lelaki ini?’ yakni Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. 
Maka orang beriman akan menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan rasul-Nya.’ 
Lalu dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah tempatmu di neraka, yang telah diganti oleh Allah dengan tempat di surga,’ maka ia melihat keduanya. 
Adapun orang kafir dan munafik, dia akan berkata, ‘Aku tidak tahu, aku hanya mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Tidak tahu dan tidak mengikuti (kebenaran).’ 
Lalu dipukullah dia dengan palu besi di antara telinganya, dia menjerit dengan suara yang bisa didengar oleh selain manusia dan jin” (HR. Bukhari dan Muslim).

 Allah mengokohkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang kokoh, dan menyesatkan orang-orang kafir dan munafik. 
Kesaksian di dunia tidak akan berguna bagi mereka. 
Kemudian Allah Ta’ala akan melanjutkan pertanyaan kepada para nabi ‘alaihimussalam: ‘Apakah kalian telah menyampaikan kepada umat-umat kalian?’ dari Nabi Nuh -‘alaihis salam- sampai penutup para nabi, penghulu umat manusia, Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. 

Allah Ta’ala berfirman: “Bagaimana jika Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat dan mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka. Pada hari itu orang-orang yang kafir dan mendurhakai rasul berharap andai mereka ditelan bumi, dan mereka tidak dapat menyembunyikan sesuatu pun dari Allah” (An-Nisa’: 41-42). 

Allah Ta’ala juga berfirman: “Tahanlah mereka, sesungguhnya mereka akan ditanya: Mengapa kalian tidak saling menolong?” (Ash-Shaffat: 24-25).

Allah Ta’ala berfirman: "Maka Kami pasti akan menanyai orang-orang yang diutus kepada mereka dan Kami akan menanyai para rasul. Maka Kami pasti akan menceritakan kepada mereka dengan ilmu (Kami), dan Kami tidak jauh (dari mereka)." (Al-A'raf: 6-7).

Kemudian Allah akan bertanya kepada setiap manusia tentang diri mereka sendiri.

 Diriwayatkan dari Abu Barzah Al-Aslami -semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda: "Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada Hari Kiamat, hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan." (HR. At-Tirmidzi, beliau mengatakan hadits ini hasan sahih).

Penghisaban itu sulit, dan Allah Maha Teliti, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada Hari Kiamat, dan tidak akan pindah dari tempatnya untuk menyeberangi shirath yang terbentang di atas Jahannam menuju surga, 
hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, hari demi hari, malam demi malam. 
Jika ia menjawab Tuhannya dengan jujur dan menghabiskan usianya dalam ketaatan, maka berbahagialah orang-orang yang taat. 

Allah Ta'ala berfirman: "Inilah hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang jujur kejujuran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung." (Al-Maidah: 119).

Dan tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, ini adalah pertanyaan yang sulit, berdiri di hadapan pertanyaan ini merupakan kesusahan, tentang jalan masuk dan keluar harta, serta cara membelanjakannya. 
Harta yang halal akan membawa orang saleh ke surga tertinggi, sementara harta yang haram membuat pemiliknya sengsara dalam hidupnya, dan menjadi kesengsaraan bagi ahli warisnya setelah ia wafat. 

Diriwayatkan dari Khawlah Al-Anshariyyah -semoga Allah meridhainya- ia berkata: Aku mendengar Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda: "Sesungguhnya ada orang-orang yang mengurus harta Allah dengan cara yang tidak benar, maka bagi mereka neraka pada Hari Kiamat." (HR. Al-Bukhari).

Betapa besarnya tanggung jawab atas harta, dan betapa banyak kejahatan serta kerusakannya bagi orang yang menghabiskannya untuk hawa nafsu, dan menghalangi orang yang berhak atasnya. Dan tentang ilmunya, apa yang ia amalkan dengannya, mengamalkan ilmu adalah mengajarkannya kepada orang yang membutuhkannya, serta mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan. 
Maka, sebaik-baik kebaikan adalah membimbing manusia kepada hal yang bermanfaat, dan menjauhkannya dari hal yang berbahaya, mengajak kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar.



Khutbah Kedua:

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik Hari Pembalasan. 
Aku memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya atas karunia-Nya yang jelas, 
dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, 
Yang Maha Kuat dan Maha Kokoh. 
Dan aku bersaksi bahwa Nabi dan junjungan kami, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang terpercaya. 
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, juga kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

Amma ba’du: 

bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan berpegang teguhlah pada tali Islam yang kuat. 
Barang siapa berpegang teguh dengan takwa, maka ia akan meraih kebaikan dan selamat dari keburukan dan kehancuran.

 Allah Ta'ala berfirman: "Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengutus seorang rasul di tengah mereka dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (sunnah), padahal sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata." (Ali Imran: 164).

Allah mengutus Nabi Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam- sebagai rahmat bagi alam semesta, tidak ada kebaikan yang diperoleh oleh seorang Muslim di dunia dan akhirat kecuali Allah memberikannya melalui tangan beliau. 

Hak Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- setelah hak Allah adalah mencintainya, mendahulukan cintanya atas segala sesuatu, menaati perintahnya, menjauhi larangannya, membenarkan berita-beritanya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syariatnya.

 Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda: "Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Anas -semoga Allah meridhainya-).

Ya Allah, kuatkan kami dalam agama-Mu, angkatlah kesulitan dan penderitaan dari kaum Muslimin, hilangkanlah bencana, kesulitan, dan cobaan dari penduduk Palestina, serta jatuhkanlah kehancuran atas musuh-musuh mereka. Ya Allah, janganlah biarkan orang-orang Zionis menguasai Masjid Al-Aqsa, jagalah dalam perlindungan dan penjagaan-Mu, wahai Tuhan semesta alam, selalu.

Ya Allah, lindungi negeri ini dengan batas-batasnya, lindungi negeri ini dengan tentara-tentaranya, jagalah dari kejahatan orang-orang kafir dan tipu muslihat mereka.

"Ya Allah, berilah petunjuk kepada Pelayan Dua Tanah Suci agar ia melakukan apa yang Engkau cintai dan ridhai, serta apa yang mendatangkan kebaikan bagi negara dan rakyatnya. Ya Allah, berilah petunjuk kepada Putra Mahkotanya agar ia melakukan apa yang Engkau cintai dan ridhai, serta apa yang membawa kebaikan dan perbaikan. Bantulah dia dalam segala kebaikan."

“Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka.” (Surah Al-Baqarah, Ayat 201)

Wahai hamba Allah, Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuknya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Surah Al-Ahzab, Ayat 56) 

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad, keluarganya, istri-istrinya, dan keturunannya. 
Ridhailah Ya Allah, para khalifah yang lurus; Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Ridhailah juga seluruh sahabat, para tabi'in, serta ridhailah kami bersama mereka dengan anugerah dan kemurahan-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kaum kerabat, dan melarang perbuatan keji, kemungkaran, serta permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Surah An-Nahl, Ayat 90)

Ingatlah Allah yang Maha Agung, niscaya Dia akan mengingatmu, dan bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah (nikmat-Nya) kepadamu. "Dan mengingat Allah (shalat) lebih besar (keutamaannya dibanding ibadah lainnya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Surah Al-Ankabut, Ayat 45)


PEMBELAAN KAUM YANG TERTINDAS



SERUAN UNTUK KEBAIKAN DAN PERBAIKAN SERTA MEMBELA KAUM TERTINDAS 


Oleh: Ali Abdulrahman Al-Hudhaifi

Tanggal Penyampaian: 24 November 2023 / 10 Rabiul Akhir 1445

Tanggal Publikasi: 25 November 2023 / 11 Rabiul Akhir 1445

Kategori: Dakwah dan Pendidikan



Poin-poin Khutbah

1. Perbaikan dunia melalui iman, kerusakannya melalui kezaliman dan tirani.


2. Dorongan untuk menolong kaum tertindas dan membantu mereka.


3. Kewajiban mendukung kaum beriman dan memusuhi musuh-musuh agama.


4. Seruan untuk persatuan dan kesepakatan, serta menjauhi perpecahan dan perselisihan.



Kutipan

"Perbaikan seluruh dunia bergantung pada iman, ilmu yang bermanfaat, amal saleh, dan keadilan. Sedangkan kerusakan dunia berasal dari kefasikan, kemaksiatan, dan kezaliman manusia terhadap manusia lainnya. Untuk memperbaiki manusia dan melindunginya dari kezaliman yang merusak kehidupan, Allah telah menetapkan syariat, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram..."


---

Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah, Yang Maha Agung dan Mulia, Raja yang Suci dan Maha Pemberi Keselamatan. Aku memuji-Nya atas segala nikmat-Nya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.

 Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, satu-satunya, tanpa sekutu, Dia adalah Pemilik segala karunia dan kebaikan. 

Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita, junjungan kita, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diutus dengan syariat dan hukum yang paling sempurna.

 Ya Allah, limpahkanlah salawat, salam, dan berkah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya yang mulia.

Amma ba’du: 

Bertakwalah kepada Allah dengan menunaikan hak-hak-Nya, dan bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan hak-hak sesama makhluk-Nya. 
Sungguh, orang yang bertakwa akan meraih kemenangan, sementara orang yang mengabaikan hak-hak, berlaku zalim, dan melampaui batas akan merugi. 

Allah Ta’ala berfirman:

 “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).



Dan Allah juga berfirman:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 5).



Serta firman-Nya:

 “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya neraka adalah tempat tinggalnya. Sedangkan orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 37-41).



Kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat, bergantung pada pelaksanaan hak-hak Allah dan hak-hak sesama makhluk. 
Sebaliknya, kehancuran, kerugian, dan kebinasaan seseorang, bahkan kekalnya di neraka, adalah akibat dari mengabaikan hak-hak Allah dan hak-hak makhluk serta menzalimi mereka. 

Allah Ta’ala berfirman:

 “Dan negeri-negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu untuk kebinasaan mereka.” (QS. Al-Kahfi: 59).



Perbaikan dunia bergantung pada iman, ilmu yang bermanfaat, amal saleh, dan keadilan. 
Sedangkan kerusakan dunia adalah akibat kefasikan, kemaksiatan, dan kezaliman manusia terhadap manusia lainnya. 

Untuk memperbaiki manusia dan melindungi mereka dari kezaliman yang merusak kehidupan, Allah menetapkan syariat, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram.


Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab suci. 

Allah berfirman:

 "Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat berlaku adil. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan Rasul-Rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. Al-Hadid: 25)



Allah juga berfirman:

 "Dan barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Ali Imran: 85)



Wahai manusia, Allah telah memerintahkan keadilan dan melarang kezaliman. 
Allah mewajibkan kita untuk menolong kaum tertindas dan memberikan hak mereka. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 "Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi." Para sahabat bertanya: 'Wahai Rasulullah, kami menolongnya jika ia dizalimi, tetapi bagaimana cara menolongnya jika ia yang berbuat zalim?' Beliau menjawab: 'Cegahlah dia dari melakukan kezaliman, itulah bentuk pertolonganmu kepadanya.'" (HR. Bukhari dan Muslim)



Salah satu bentuk keadilan terbesar adalah menegakkan hak-hak kaum tertindas, mendukung mereka, dan membantu mereka mendapatkan kembali hak mereka.

 Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 "Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya." (HR. Muslim)



Wahai kaum Muslimin, kita juga diwajibkan untuk mendukung kaum beriman dan memusuhi musuh-musuh agama ini. 

Allah Ta’ala berfirman:

 "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)


Dan firman-Nya:

 "Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, serta mereka tunduk (kepada Allah)." (QS. Al-Maidah: 55)



Kaum Muslimin adalah satu tubuh; jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya. Kita wajib bersatu dan menjauhi perselisihan serta perpecahan. 

Allah Ta’ala berfirman:

 "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara." (QS. Ali Imran: 103)



Wahai kaum Muslimin, ketahuilah bahwa di antara bentuk ketaatan terbesar adalah berdakwah di jalan Allah, menyeru kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran.

 Allah Ta'ala berfirman:

 "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104)


Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

 "Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman." (HR. Muslim)



Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya dunia ini adalah tempat ujian dan cobaan. Kehidupan ini penuh dengan liku-liku, kebahagiaan, dan kesedihan. 

Allah Ta’ala berfirman:

 "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)


Allah juga berfirman:

 "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2)



Bersabarlah dalam menghadapi cobaan, karena sesungguhnya kesabaran itu membawa kemenangan, dan ujian adalah sarana untuk meningkatkan derajat di sisi Allah. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 "Sungguh luar biasa perkara seorang mukmin! Seluruh perkaranya adalah baik, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, maka itu pun baik baginya." (HR. Muslim)



Wahai kaum Muslimin, ketahuilah bahwa kehidupan ini adalah ladang amal untuk akhirat. 
Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba selain amal saleh yang ia kerjakan di dunia. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 "Gunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim)



Berusahalah untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan-Nya. Janganlah terperdaya oleh dunia dan godaannya. 

Allah Ta'ala berfirman:

 "Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, lalu hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu." (QS. Al-Hadid: 20)



Wahai kaum Muslimin, berbekallah dengan takwa, karena ia adalah sebaik-baik bekal.

 Allah Ta'ala berfirman:

 "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal." (QS. Al-Baqarah: 197)



Dan jangan lupa untuk banyak mengingat kematian, karena ia adalah pemutus segala kenikmatan. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 "Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian." (HR. Tirmidzi)



Wahai hamba-hamba Allah, perbaikilah hubungan kalian dengan Allah dan dengan sesama manusia. 
Tunaikanlah hak-hak Allah dan hak-hak makhluk. 
Jadilah umat yang saling mencintai, saling menolong, dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzhaliminya, tidak menyerahkannya (kepada musuh), dan tidak merendahkannya. Takwa itu di sini," beliau menunjuk ke dadanya tiga kali." (HR. Muslim)



Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yang diberikan keberkahan di dunia dan di akhirat.









Segala puji bagi Allah yang disebut dalam sejarah, yang disyukuri atas kepemimpinannya terhadap kerajaan ini, khususnya dalam mengadakan KTT Arab-Islam yang menghasilkan keputusan untuk mengutuk agresi Zionis terhadap Gaza, serta perang pembantaian terhadap anak-anak, wanita, dan orang tua. KTT ini juga menuntut masyarakat internasional untuk segera menghentikan perang zalim ini atas Gaza dan bagian-bagian Palestina lainnya.

Negara ini juga dikenal dan disyukuri atas inisiatifnya dalam membuka pintu bantuan dan sumbangan kemanusiaan yang diserukan dalam KTT tersebut kepada semua negara, demi mendukung perjuangan Palestina, bersolidaritas dengan rakyat Palestina dalam perjuangan mereka yang adil, dan berdiri bersama orang-orang yang tertindas.

Jika Allah, Tuhan kita yang Maha Tinggi, telah berfirman:

  "Dan orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar." (QS. Al-Anfal: 73)



Maka, saudara-saudara kita di Palestina tidak memiliki siapa pun kecuali Allah, kemudian umat Islam. Tidak ada yang menjaga hak-hak umat Islam dari kezaliman diri mereka sendiri kecuali ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla dan keimanan kepada-Nya. 

Allah Ta’ala berfirman:

 "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. An-Nahl: 128)



Dan barang siapa yang Allah bersamanya, maka ia tidak perlu merasa takut. Tidak ada yang menjaga mereka dari kejahatan musuh kecuali kesabaran dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. 

Allah yang Maha Suci berfirman:

"Dan jika kamu bersabar dan bertakwa, maka tipu daya mereka sedikit pun tidak akan membahayakan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan." (QS. Ali Imran: 120)



Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur'an yang agung, memberikan manfaat kepada kita semua dari ayat-ayat dan hikmah-Nya, serta memberikan manfaat dari petunjuk Rasul yang mulia dan ucapannya yang lurus. Aku sampaikan apa yang kalian dengar, dan aku memohon ampun kepada Allah, maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


---

Khutbah Kedua:

Segala puji bagi Allah, yang menurunkan kitab, menjalankan awan, dan menghancurkan golongan-golongan yang memusuhi Islam. Aku memuji-Nya atas karunia dan nikmat-Nya yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, satu-satunya, tanpa sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, yang akan memberikan syafaat di Hari Perhitungan.

Wahai kaum Muslimin! Bertakwalah kepada Allah dengan ikhlas dalam amal perbuatan hanya untuk-Nya, maka Allah akan menyucikan amal perbuatan kalian, melipatgandakan pahala kalian, dan memudahkan segala urusan kalian.

Berpeganglah teguh kepada Allah dan jangan bercerai-berai. Ambillah pelajaran dari kejadian-kejadian yang telah berlalu. Hindarilah perselisihan dan perpecahan, karena itu adalah kelemahan dan bahaya bagi agama serta bangsa. Sebaliknya, persatuan adalah kekuatan dan kemuliaan.

Allah berfirman:

 "Katakanlah: Sesungguhnya segala urusan itu milik Allah." (QS. Ali Imran: 154)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 "Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)


Allah Ta’ala juga berfirman:

 "Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali Imran: 200)



Penutup dan Doa:

Allah memerintahkan kita untuk bershalawat kepada Nabi-Nya:

 "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56)



Maka marilah kita bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. 
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.

Ya Allah, tolonglah Islam dan kaum Muslimin, hinakanlah kekufuran dan kaum kafir. Ya Allah, jagalah Masjid Al-Aqsa dari tangan-tangan penjajah Zionis, dan tolonglah saudara-saudara kami di Gaza.

Ya Allah, berikanlah kemenangan kepada umat Islam, persatukan hati mereka, dan jadikanlah mereka umat yang saling mendukung dalam kebenaran dan keadilan. Kabulkanlah doa-doa kami, ya Rabbal 'Alamin. Aamiin.