Minggu, 19 Maret 2017

PILAR - PILAR AQIDAH ISLAM

Ma'aliy As-Saikh DR. Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafidhohullah Ta'ala.

Alhamdulilla, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du : 

Kaum muslimin, semoga Allah Ta'ala senantiasa memberikan taufiq kepada kita semua, perlu diketahui bahwasanya pilar-pilar aqidah islam yaitu aqidah kelompok yang selamat, ahli sunnah wal Jama’ah adalah : Iman kepada Allah Ta'ala, malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab Nya, para Rasul Nya, hari akhir dan iman kepada takdir yang baik dan yang buruk. 

Pokok keimanan ini berdasarkan dalil dari Al-Qur'an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyah, demikian juga para Ulama sepakat dalam perkara ini. 

Allah Ta'ala berfirman : 

 ۞ لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّ

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi... (Q.S. Al-Baqorah :177)

Allah Ta'ala berfirman : 

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ ﴿٢٨٥﴾

" Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali ". (Q.S. Al-Baqorah :285)

Allah Ta'ala berfirman : 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا ﴿١٣٦﴾

" Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (Q.S. An-Nisaa :136)

Allah Ta'ala berfirman : 

إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَٰهُ بِقَدَرٍ ﴿٤٩﴾

"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran."
(Q.S. Al-Qomar :49)

Dalam hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : 

 الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وان تؤمن بالقدر خيره وشره

" Iman adalah engkau beriman kepada Allah Ta'ala dan malaikat-malaikat-Nya dan kitab-kitab Nya dan para Rasul Nya dan hari akhir serta engkau beriman terhadap takdir yang baik dan yang buruk ".  ( HR. Muslim ) 

Pondasi keimanan yang agung ini dinamakan sebagai rukun-rukun Iman yang dimana seluruh Rasul dan syariat yang mereka emban adalah sama, demikian juga kitab kitab suci yang mereka sampaikan memiliki misi yang sama, dan tidak seorangpun yang mengingkari nya kecuali ia telah keluar dari iman dan tergolong menjadi orang kafir. 

Allah Ta'ala berfirman : 

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا۟ بَيْنَ ٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا۟ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا ﴿١٥٠﴾ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰفِرُونَ حَقًّا ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَٰفِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا ﴿١٥١﴾  وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَلَمْ يُفَرِّقُوا۟ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ أُو۟لَٰٓئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴿١٥٢﴾

" Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir)".
"merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan."

"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. An-Nisaa :150-152)

  IMAN KEPADA ALLAH

Iman kepada Allah Ta'ala merupakan pondasi dan pokok aqidah, yaitu berkeyakinan kuat bahwasanya Allah Ta'ala adalah Robb semesta alam, yang menciptakan, memiliki, merajai, mengatur segala makhluk-Nya dan yang berhak untuk di ibadahi tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya segala yang disembah selain Allah Ta'ala adalah bathil. 

Allah Ta'ala berfirman : 

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلْبَٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ ﴿٦٢﴾

"62. (Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar."
(Q.S. Al-Hajj :62)

Dan Allah Ta'ala memiliki sifat sifat  yang sempurna dan Maha Suci dari sifat sifat yang mengandung aib dan tidak sempurna. 

Dalam pokok Iman ini terkandung tiga macam Tauhid, yaitu Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma dan Sifat. 

TAUHID RUBUBIYAH 

Tauhid Rububiyah adalah : Menetapkan bahwasanya Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Pencipta, Dzat Yang Maha Mengatur, Dzat Yang Menghidupkan dan Mematikan, Dzat Yang Maha Memberi Rizki lagi Dzat Yang Maha Kuat dan Agung. 

Menetapkan tauhid ini adalah sejalan dengan fitrah dan hampir tidak ada yang menentang dari umat-umat zaman dahulu. 

Allah Ta'ala berfirman : 

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ ﴿٨٧﴾

"87. Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?,"
(Q.S. Az-Zukhruf :87)

Allah Ta'ala berfirman : 

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ ٱلْعَزِيزُ ٱلْعَلِيمُ ﴿٩﴾

"9. Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui"."
(Q.S. Az-Zukhruf :9)

Allah Ta'ala berfirman : 

قُلْ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ٱلسَّبْعِ وَرَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ ﴿٨٦﴾  سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ 

"86. Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?"
87. Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah". Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?"

(Q.S. Al - Mukminun :86)

Dan ayat - ayat didalam Al-Qur'an yang serupa dengan ini sangat banyak, bahwasanya Allah Ta'ala mengisahkan tentang kaum musyrikin bahwa mereka mengakui Rububiyah Allah Ta'ala Yang Maha Esa dalam menciptakan para makhluk Nya, dalam memberikan rizki, dalam menghidupkan dan mematikan. 

Tidak ada yang menyeleweng dari kalangan manusia tentang Tauhid Rububiyah kecuali mereka adalah orang-orang yang kelainan, menampakkan sikap ingkar namun hati-hati mereka mengakui dan menetapkan, hanya sifat kesombongan dan congkak menguasai jiwa mereka,  sebagaimana yang terjadi pada Firaun, Allah Ta'ala berfirman : 

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرِى فَأَوْقِدْ لِى يَٰهَٰمَٰنُ عَلَى ٱلطِّينِ فَٱجْعَل لِّى صَرْحًا لَّعَلِّىٓ أَطَّلِعُ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّى لَأَظُنُّهُۥ مِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ ﴿٣٨﴾

"Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta"."
(Q.S. Al - Qashash :38)

Kemudian Nabi Musa alaihi sallam memberikan jawaban yang diabadikan dalam firman-Nya : 

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّى لَأَظُنُّكَ يَٰفِرْعَوْنُ مَثْبُورًا ﴿١٠٢﴾

"Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir'aun, seorang yang akan binasa"."
(Q.S. Al-Israa :102)

Allah Ta'ala berfirman : 

وَجَحَدُوا۟ بِهَا وَٱسْتَيْقَنَتْهَآ أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَٱنظُرْ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُفْسِدِينَ ﴿١٤﴾

"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan."
(Q.S. An-Naml :14)

Mereka menampakkan ingkar namun tidak bersandar kepada hujjah, sekedar kesombongan dan kecongkakan. 

Allah Ta'ala berfirman : 

وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَفَلَمْ تَكُنْ ءَايَٰتِى تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فَٱسْتَكْبَرْتُمْ وَكُنتُمْ قَوْمًا مُّجْرِمِينَ ﴿٣١﴾

"Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan): "Maka apakah belum ada ayat-ayat-Ku yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu jadi kaum yang berbuat dosa?""
(Q.S. Al-Jaatsiyah :31)

Merdeka ingkar tidak berdasarkan atas ilmu, atau akal atau fitrah. 

Sebagaimana alam semesta ini nyata dan apa yang terjadi pada nya merupakan bukti atas ke Esaan Allah Ta'ala dan Rububiyah Nya, dikarenakan tiada makhluk tercipta kecuali disana ada Sang Pencipta, dan apa-apa yang terjadi, tentulah disana terdapat Dzat Yang Menciptakan. 

Allah Ta'ala berfirman : 

أَمْ خُلِقُوا۟ مِنْ غَيْرِ شَىْءٍ أَمْ هُمُ ٱلْخَٰلِقُونَ ﴿٣٥﴾  أَمْ خَلَقُوا۟ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿٣٦﴾

"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?"
"Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)." (Q.S. At-Thuur:35 - 36)

Berkata seorang ahli sya'ir : 

وفي كل شيء له آية        تدل على أنه واحد 

 " Dan didalam segala sesuatu disana terdapat tanda    ♢♢♢   Yang menunjukkan bahwa Dia adalah Maha Esa ".

Ketika orang-orang yang ingkar memberikan jawaban tentang pencipta alam semesta, mereka tidak satu kata dan beragam jawaban, diantaranya : 

●  Alam semesta ini terwujud lantaran lazim terjadi secara alami, ibarat sebuah tumbuhan, hewan-hewan, benda-benda yang menurut mereka kemunculanya alami dengan sendirinya. 

●  Alam semesta ini tercipta ibarat dari sifat-sifat tertentu dan kekhususan - kekhususan tertentu, seperti panas dan dingin, basah dan kering, lembut dan kasar, dan sesuatu yang bergerak seperti diam dan bergerak dan berkembang dan berpasangan dan ber keturunan, sifat sifat ini dan pergerakan ini menurut mereka adalah alami dan ini yang telah menjadikan tercipta nya sesuatu. 

Dan perkataan yang demikian adalah perkataan bathil, karena kejadian alami seperti pendapat pertama melazimkan keberadaan - makhluk ciptaan yang dianggap pencipta menciptakan makhluk yang sama ; sehingga bumi menciptakan bumi lainnya, langit menciptakan langit lainnya, dan begitu seterusnya, maka ini adalah mustahil .

Dan jika munculnya ciptaan dari kejadian alami adalah mustahil, maka menurut pendapat yang kedua lebih mustahil lagi, jika suatu makhluk mustahil menciptakan makhluk serupa, maka sifat dari makhluk lebih mustahil untuk menciptakan suatu makhluk, karena sifat merupakan bagian dari dzat, jika dzat tidak mampu maka sifat lebih tidak mampu untuk menciptakan.......

●  Diantara orang-orang yang ingkar mengatakan : sesungguhnya alam semesta ini tercipta dengan sekonyong konyong, terbentuk oleh molekul dan bagian nya tanpa sengaja yang mengakibatkan tercipta nya makhluk dan kehidupan tanpa ada ada takdir dari Sang Pencipta  Allah Ta'ala. 

Ini merupakan ucapan yang bathil yang tertolak oleh akal dan fitroh. 

Jika kita melihat alam semesta ini yang teratur, dari gugusan galaksi bintang, langit, bumi dan gerakan makhluk yang ada secara teratur dan indah ini yang begitu menakjubkan, maka hal ini tidak mungkin terjadi kecuali merupakan ciptaan Dzat Pencipta Yang Maha Hikmah. 

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata : " Katakanlah kepada mereka orang-orang yang ingkar dan orang-orang yang menentang :  Apa pendapatmu jika terdapat lemari yang memanjang di dekat sungai, dimana sangat sempurna bentuk nya dan susunan nya sangat indah yang  terbuat dari bahan yang sangat bagus yang diletakkan di sebuah kebun yang sangat luas yang terdapat banyak aneka buah-buahan dan tumbuhan, dan pengairan kebun tersebut sangat rapi dan pengaturan letaknya yang sangat elok, serta kondisinya sangat terpelihara dan terjaga dan terawat dengan baik dan tidak ada celah kekurangan sedikit pun, tidak ada buah yang tercecer berserakan terjatuh, namun semua buah yang masak tertata rapi dalam suatu tempat khusus dalam lemari tersebut.  Apakah keberadaan kebun yang sangat indah nan rapi ini terjadi secara alami begitu saja tanpa pemilik, tanpa pengatur dan tanpa penjaga yang bekerja merapikan. ...?  Keberadaan lemari dan kebun yang tersusun indah ini secara sekonyong konyong tanpa ada yang merancang dan mengatur nya. ...? Apa yang engkau lihat, dan apa yang dikatakan oleh akal mu, memang terjadi demikian  . ...?  Siapa yang membisikkan pendapat seperti itu. ..?  Siapa yang mengajari mu untuk mengatakan yang demikian. ....? 

Namun, diantara hikmah Allah Ta'ala Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Hikmah, menciptakan hati yang kelam yang tidak dapat melihat kebenaran, sehingga tidak dapat melihat tanda-tanda keagungan ciptaan yang sangat menakjubkan ini kecuali seperti pandangan mata hewan ternak, sebagaimana menciptakan mata namun tidak dapat melihat kebenaran ".

Selasa, 28 Februari 2017

MENYERU KEPADA AQIDAH ISLAM



Ma'aliy As-Saikh DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidhohullah Ta'ala. 

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du : 

Seorang muslim yang telah dikaruniai Allah Ta'ala aqidah yang lurus berkewajiban untuk menyerukan nya kepada umat manusia, dalam rangka berupaya mengentaskan mereka dari kegelapan menuju cahaya dan jalan yang benar. 

Allah Ta'ala berfirman : 

لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٥٦﴾  ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَوْلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿٢٥٧﴾

" Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

" Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (Q.S. Al-Baqorah :256-257)

Berdakwah kepada Aqidah islam merupakan jalan pertama yang ditempuh dalam dakwah para Rasul semuanya. Mereka tidak memulai dengan sesuatu yang lainnya. 

Allah Ta'ala berfirman : 

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ ٱلضَّلَٰلَةُ ۚ فَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ ﴿٣٦﴾

" Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (Q.S. An-Nahl :36)

Dan setiap Rosul berdakwah kepada umatnya yang pertama disampaikan adalah agar beribadah kepada Allah Ta'ala saja dan meninggalkan sesembahan yang lain. 

Sebagai mana Nabi Nuh, Huud, Sholeh, Syu’aib, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad Sholawatullah wa salaamuhu alaihim. 

Allah Ta'ala berfirman : 

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِۦٓ إِنِّى لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ ﴿٢٥﴾  أَن لَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ ﴿٢٦﴾

" Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu".
"agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan ". (Q.S. Huud :25-26)

Maka sudah menjadi kewajiban bagi mereka yang mengetahui dan mengamalkan aqidah ini agar menyeru kepada manusia dengan cara yang hikmah dan nasihat yang baik sebagai mana hal ini merupakan jalan para Rasul dan pengikutnya. 

Sesungguhnya berdakwah kepada Aqidah ini merupakan asas dan pondasi, sehingga tidak mendahului dengan sesuatu sebelumnya dari perintah menjalankan kewajiban atau meninggalkan larangan, hingga aqidah ini telah menancap dalam sanubari, karena dengan aqidah yang lurus akan menghasilkan sesuatu amalan menjadi benar dan diterima dan sebaliknya tanpa aqidah yang lurus amalan tidak diterima dan tidak ber pahala. 

Sebagai mana diketahui bersama, bahwa suatu bangunan tidak mungkin kokoh dan tegak tanpa melalui pondasi, sehingga para Rasul senantiasa memulai dakwah mereka dengan ini, demikian juga yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika mengutus para sahabat agar memulai dakwah dengan membenahi aqidah. 

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tatkala mengutus sahabat Mu'adz ibnu Yaman radhiyallahu anhu kepada penduduk Yaman :

إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Ta'ala,  dalam riwayat lain, agar meng Esakan Allah Ta'ala. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah Ta'ala telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah Ta'ala telah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka kamu jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah Ta'ala”.  (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dari hadist yang mulia ini, dan dari telaah dakwah para Rasul yang dicantumkan dalam Al-Qur'an dan telaah perjalanan dakwah Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, diambil kesimpulan bahwa manhaj dakwah kepada Allah Ta'ala adalah menyeru kepada manusia kepada Aqidah adalah urutan yang pertama, aqidah yang merealisasikan ibadah hanya kepada Allah Ta'ala semata tiada sekutu bagi-Nya, dan menjauhi peribadatan selain Dia, sebagaimana ini merupakan kandungan makna Lha ilaha illallah. 

Dan Nabi Sallallahu alaihi wa sallam tinggal di Makkah selama tiga belas tahun setelah di angkat menjadi Nabi menyeru kepada manusia berkaitan dengan pembenahan aqidah, yaitu ibadah kepada Allah Ta'ala semata, dan meninggalkan beribadah kepada berhala, hal ini dilakukan sebelum mengajak kepada ibadah sholat, zakat, puasa, haji, jihad atau meninggalkan perkara haram seperti riba, zina, khomer dan judi. 

Dari sini dapat diketahui kesalahan sebahagian kelompok yang mengatasnamakan dakwah, yang mereka tidak memberikan perhatian dalam masalah Aqidah, namun hanya fokus dalam perkara sampingan seperti pembinaan akhlak atau perangai. 

Mereka melihat dan menyaksikan para manusia terbiasa terjerumus dalam syirik besar di sekitar kuburan yang di bangun megah di wilayah sebagian negeri Islam, namun mereka tidak mengingkari dan tidak melarang nya, tidak dalam ucapan atau pengajian atau tulisan kecuali sangat sedikit, bahkan tidak jarang diantara mereka yang ikut terjerumus dalam lembah kesyirikan dan kesufian yang menyimpang namun tidak ada teguran atau larangan.

Dengan demikian, mendakwahi mereka dengan memulai memperbaiki aqidah, lebih utama daripada mendakwahi orang-orang kafir dan ingkar yang secara jelas terlihat yang mereka terang-terangan menyelisihi para Rasul, adapun mereka pengagung kubur dan sufi menyeleweng, mereka mengira diri mereka muslimin dan apa yang mereka kerjakan merupakan bagian dari islam, sehingga mereka tertipu dan menipu orang lain. 

Allah Ta'ala telah memerintahkan kepada kita agar memulai mendakwahi dan berjihad kepada orang-orang kafir yang terdekat sekitar kita.

Allah Ta'ala berfirman : 

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ ٱلْأَقْرَبِينَ ﴿٢١٤﴾

"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat". (Q.S. Asy-Syûrâ :214)

Allah Ta'ala berfirman : 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قَٰاتِلُوا۟ ٱلَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ ٱلْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا۟ فِيكُمْ غِلْظَةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ ﴿١٢٣﴾

"Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa." (Q.S. At-Taubah :123)

Selama kita tidak memperkuat keadaan dari dalam tubuh kaum muslimin, maka kita tidak akan pernah dapat mengalahkan benteng musuh.

Dikisahkan bahwa seseorang pengagung kubur melihat orang yang sedang menyembah berhala dihadapan nya, maka pengagung kubur pun mengingkari nya, namun di jawab oleh penyembah berhala : " Engkau beribadah kepada makhluk yang tidak engkau lihat dihadapan mu, sedangkan aku beribadah kepada makhluk yang jelas terukir dihadapan ku; mana yang lebih mengherankan. ...?"  Maka pengagung kubur pun terbantahkan. 

Semacam ini, walaupun keduanya terjerumus dalam lembah kesyirikan dan kesesatan, dikarenakan mereka menyeru kepada sesuatu yang tidak memiliki manfaat atau mudhorot, namun penyembah kuburan lebih tenggelam dalam kesesatan dan lebih tergelincir dalam mencari kemustahilan. 

Maka sepantasnya pada da'i di jalan Allah Ta'ala hendaknya memfokuskan dakwah dalam sisi Aqidah untuk lebih banyak lagi dari sisi yang lain, dan dituntut agar mereka memahami dan mempelajari masalah Aqidah secara benar terlebih dahulu, kemudian mengajarkan kepada lainnya dan memperbaiki dan membenahi kepada siapa saja yang menyeleweng atau menyelisihi. 

Allah Ta'ala berfirman : 

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ﴿١٠٨﴾

"Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (Q.S. Yûsuf :108)

Al-Imam Ibnu Jarir rahimahullah berkata : " Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi Nya, katakanlah wahai Muhammad, ini adalah dakwah yang aku sandang dan jalan yang aku tempuh, yaitu menyeru kepada tauhid ikhlas beribadah kepada Allah Ta'ala semata, dan meninggalkan sesembahan selain-Nya dari berhala-berhala, dan hanya taat kepada Nya serta menjauhi dari bermaksiat kepada Nya. Dan jalan yang aku tempuh ini berada di atas ilmu yakin, demikian pula orang-orang yang senantiasa mengikuti ku dan beriman kepada ku, dan Maha Suci Allah dari segala tandingan, dan aku senantiasa berlepas diri dari orang-orang yang berbuat kesyirikan, aku bukan golongan merekadan mereka bukan golongan ku".

Sesungguhnya ayat yang mulia diatas, menunjukkan kepada kita tentang pentingnya mengetahui masalah Aqidah islam dan menyerukan nya, dan para pengikut Rosul alaihimus sallam, adalah orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak mereka, yang memiliki dua tanda yaitu : mengetahui aqidah dan mendakwahkan nya, dan barangsiapa yang tidak mempelajari Aqidah atau tidak perhatian masalah ini dan meninggalkan nya, maka mereka bukanlah pengikut para Nabi secara hakiki.

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam menafsirkan firman Allah Ta'ala : 

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ ﴿١٢٥﴾

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (Q.S. An-Nahl :125)

Beliau berkata : " Allah Ta'ala menyebutkan tentang martabat berdakwah, dan disebutkan tiga langkah sesuai keadaan orang-orang yang diseru, jika orang tersebut berusaha untuk mencari kebenaran dan menerima kebenaran jika ditunjukkan kepada nya, maka orang semacam ini hendaknya di dakwahi dengan cara yang hikmah dan tidak dibutuhkan untuk berdebat atau berjidal.

Namun Jika orang tersebut banyak berkecamuk dengan lawan kebenaran, dan diketahui bila diberitahu ia akan menerima dan mengikuti, maka semacam ini dibutuhkan kepada mauidhzoh hasanah dengan targib dan tarhib. 

Dan jika orang tersebut diketahui menentang dan berpaling dari kebenaran, maka ini membutuhkan kepada jidal namun dengan cara yang terbaik. Jika ia sadar dan menerima, namun jika tidak, maka berganti cara dengan selain jidal bila memungkinkan. .....".

Dengan demikian nampak jelas manhaj dakwah dan apa saja yang sepantasnya dilakukan dalam urusan ini, dan menjadi jelas pula kesalahan sebahagian kelompok yang condong dalam dakwah, namun menyelisihi manhaj yang lurus yang telah dijelaskan oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya sallallahu alaihi wa sallam. 

          ●●●●●☆☆☆☆☆●●●●●

Selasa, 21 Februari 2017

KEWAJIBAN MEMPELAJARI AKIDAH ISLAM

Ma'aliy As-Saikh DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidhohullah Ta'ala. 

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du : 

Sesungguhnya telah menjadi kewajiban setiap muslim untuk mempelajari Aqidah Islam, agar dapat mengetahui makna dan kandungan nya, demikian pula mengetahui lawan dan perkara yang dapat merusak dan membatalkan nya dari unsur syirik besar dan syirik kecil. 

Allah Ta'ala berfirman : 

فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَىٰكُمْ ﴿١٩﴾

" Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang hak selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal ".(Q.S. Muhammad :19)

Al-Imam Al-Bukhary rahimahullah berkata : " Bab (pembahasan tentang) Ilmu (didahulukan) sebelum berkata dan beramal ". Dan membawakan dalil ayat ini. 

Al-Imam Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, berkata Ibnu Munayyiir rahimahullah : " Yang dimaksud disini bahwasanya Ilmu merupakan syarat dalam sah nya suatu ucapan dan amalan, maka tidak akan memiliki arti kecuali dengan Ilmu tersebut, sehingga didahulukan dari kedua nya, karena Ilmu yang menjadikan pengesah suatu niat dan amal. .....".

Bertolak dari sini, para Ahli Ilmu mengedepankan untuk mempelajari Ilmu Aqidah dan mengajarkannya dan menjadikan nya sebagai bagian terdepan dari Ilmu pengetahuan, dan para Ulama banyak yang menulis secara khusus dan mendetail tentang hukum hukumnya serta apa yang menjadi wajib didalam nya, dan tidak terlewatkan penjelasan tentang hal-hal yang dapat merusak atau berlawanan dari perkara kesyirikan, khurafat serta perkara bid’ah. 

Demikian maka dari kalimat Syahadat Lha Ilaha illallah, bukan semata mengucapkan secara lisan, namun memiliki konsekuensi makna dan tuntutan yang wajib diketahui dan diamalkan secara lahiriah dan batin dan kalimat Syahadat ini memiliki pembatal dan perusak yang tidak dapat dihindarkan kecuali dengan mempelajari nya, sehingga sudah menjadi kewajiban jika Ilmu Aqidah dijadikan rujukan dalam materi pembelajaran sekolah dalam setiap jenjang, dan diberikan setiap harinya beberapa jam yang secukupnya, dan memilih para pengajar yang memiliki kemampuan dan tidak hanya fokus dalam penilaian naik dan tidak nya, dan semacam ini tentu berbeda dengan apa yang terjadi pada pendidikan zaman sekarang secara umum, dimana tidak diberikan perhatian yang cukup dalam materi-materi pembelajaran, yang akan menimbulkan dampak munculnya generasi yang bodoh dalam perkara Aqidah yang lurus dan mempercayai kesyirikan-kesyirikan , bid'ah dan khurafat, dan menganggap nya sebagai aqidah, dikarenakan menjumpai para manusia menganut nya dan tidak mengetahui tentang kebathilan nya.

Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu berkata : " Tali Islam niscaya akan terlepas sehelai demi sehelai jika tumbuh (dalam masyarakat) Islam orang-orang yang tidak mengetahui (perkara-perkara) jahiliah ".

Dan menjadi kewajiban untuk memilih buku-buku yang benar dan lurus yang ditulis sesuai dengan mazhab Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sejalan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah untuk dijadikan buku pembelajaran para penuntut ilmu dan hendaknya dijauhkan dari buku-buku yang menyimpang dari Aqidah Salaf seperti buku-buku asy-ariyah, mu'tazilah, jahmiyah dan kelompok yang sesat yang menyimpang dari ajaran manhaj Salaf. 

Selain pembelajaran rutin sekolah, hendaknya diadakan pembelajaran di masjid-masjid dengan dibacakan buku buku Aqidah beserta matan dan syarah keterangan nya, sehingga orang-orang yang hadir dalam masjid dapat mengambil manfaat dari pelajaran tersebut, dan sesekali memberikan ringkasan secara gamblang bagi jamaah yang masih awam, dan dengan demikian tersebarlah aqidah islam dan tidak melupakan penyampaian melalui media-media seperti radio yang diperdengarkan secara kontinuitas. 

Demikian pula hendaknya setiap individu memiliki kecenderungan untuk mendalami ilmu Aqidah, dimana dituntut bagi seorang muslim agar memperbanyak menelaah buku-buku Aqidah dan mengenal karangan yang ditulis berdasarkan manhaj salaf dan yang berada dalam manhaj yang menyelisihinya, sehingga seorang muslim diatas bashiroh dalam setiap urusan nya, dan dapat memberikan jawaban syubhat yang dilontarkan kepada Aqidah Ahlus Sunnah. 

Jika kita merenungkan kandungan Al-Qur'an Al-Karim maka niscaya kita menjumpai banyak ayat dan surat yang menekankan pada sisi Aqidah, bahkan hampir seluruh surat Makkiyah identik dengan penjelasan Aqidah Islam dan memberikan bantahan terhadap syubhat yang berkenaan dengan masalah Aqidah. 

Sebagai contoh, kita ambil perumpamaan dalam Surat Al-Fatihah :

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata : "  Ketahuilah bahwasanya surat ini mencakup induk dari tuntutan yang sangat agung dengan cakupan yang sempurna, yaitu mengenal Dzat Yang Di Ibadahi Taba'roka wa Ta'ala dengan tiga Asma' , yang menjadi induk dari Asma'ul Husna dan Sifatul Ulya, yaitu lafadz : Allah dan Ar-Robb dan Ar-Rohmaan. 

Dimana surat ini memiliki kandungan Al-Ilahiyah dan Ar-Rububiyah dan Ar-Rohmah. 

Kalimat " IYYA KA NA'BUDU ", dibangun atas Al-Ilahiyah, dan kalimat " IYYA KA NASTAIIN ", dibangun atas Ar-Rububiyah, sedangkan memohon hidayah menuju jalan yang lurus, dibangun atas sifat Ar-Rohmah. 

Sedangkan kalimat " AL-HAMDU ", mengandung tiga komponen, yaitu bahwasannya Allah Ta'ala Dzat Yang Maha Terpuji dalam Uluhiyah Nya, Rububiyah Nya dan Rohmat Nya, yang mencakup segala pujian dan sanjungan yang sempurna. 

Kalimat " MA'LIKI YAUMID-DIIN ", mengandung penetapan hari kebangkitan dan hari pembalasan bagi seluruh hamba atas perbuatan mereka yang baik dan yang buruk. 

Dan Allah Ta'ala Maha Esa Yang Maha Ha'kim dihadapan para makhluk dan hukum Nya penuh keadilan.......

Hingga beliau berkata : " Dan Al-Qur'an semuanya berisi tentang Tauhid, hak-hak ahli Tauhid dan balasan nya, serta mengupas tentang syirik, pemeluknya dan balasan kepada mereka. 

Dan kalimat "Alhamdulillah " adalah tauhid, "Robbil A'lamiin " adalah tauhid, " Arrohmaan Arrohiim " adalah tauhid, " Ma'liki yaumid diin " adalah tauhid , " Iyyaaka na'budu " adalah tauhid, " Iyyaaka nas'taiin " adalah tauhid, " Ihdinas shirootol mustaqiim " "Shirootol ladzina an'amta alaihim " adalah tauhid dan terkandung permohonan hidayah menuju jalan ahli tauhid yang telah diberikan karunia oleh Allah Ta'ala, " Ghoiril magdhubi alaihim wa lad dhooliin " adalah mereka yang menentang tauhid".

Beliau berkata : "  Dan kebanyakan surat-surat dalam Al-Qur'an, bahkan seluruh surat Al-Qur'an mengandung Tauhid, bahkan kita katakan setiap ayat dalam Al-Qur'an mengandung Tauhid, menguatkan dan mengajak kepada tauhid, dikarenakan Al-Qur'an kandungan isi nya adalah berita tentang Allah Ta'ala, atau Asma' dan Sifat-sifat-Nya, atau perbuatan Nya, dan inilah Tauhid Ilmi Khobari, atau kandungan isi nya adalah seruan untuk beribadah kepada Allah Ta'ala dan berlepas diri dari segala ibadah selain Nya, maka ini adalah Tauhid Iro'di Tholabi, atau isi kandungan nya adalah perintah dan larangan dan kewajiban taat dalam segala perintah dan larangan, maka ini adalah hak-hak tauhid dan pelengkapnya, atau juga kandungan isi nya adalah berita tentang pemuliaan Allah Ta'ala kepada ahli tauhid di dunia dan akhirat, maka ini adalah balasan terhadap ahli tauhid, dan juga kandungan isi nya adalah berita tentang pelaku syirik dan balasan mereka di dunia dan akhirat, maka ini adalah balasan bagi mereka yang meninggalkan tauhid........".

Sebagai mana telah kita ketahui bagaimana perhatian Al-Qur'an tentang perkara Akidah Islam, namun alangkah banyaknya orang-orang yang membaca Al-Qur'an yang tidak memahami tentang akidah dengan pemahaman yang benar, sehingga mereka terjatuh dalam kesalahan dan kekhilafan, dikarenakan mereka hanya mengikuti apa yang mereka jumpai dari pendahulunya, dan tidak membaca Al-Qur'an dengan penuh tadabur, fala haula wa la Quwwata illa billahi. 

  

                  ●●●《■■■》●●●