Selasa, 21 Februari 2017

KEWAJIBAN MEMPELAJARI AKIDAH ISLAM



Ma'aliy As-Saikh DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidhohullah Ta'ala. 

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du : 

Sesungguhnya telah menjadi kewajiban setiap muslim untuk mempelajari Aqidah Islam, agar dapat mengetahui makna dan kandungan nya, demikian pula mengetahui lawan dan perkara yang dapat merusak dan membatalkan nya dari unsur syirik besar dan syirik kecil. 

Allah Ta'ala berfirman : 

فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَىٰكُمْ ﴿١٩﴾

" Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang hak selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal ".(Q.S. Muhammad :19)

Al-Imam Al-Bukhary rahimahullah berkata : " Bab (pembahasan tentang) Ilmu (didahulukan) sebelum berkata dan beramal ". Dan membawakan dalil ayat ini. 

Al-Imam Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, berkata Ibnu Munayyiir rahimahullah : " Yang dimaksud disini bahwasanya Ilmu merupakan syarat dalam sah nya suatu ucapan dan amalan, maka tidak akan memiliki arti kecuali dengan Ilmu tersebut, sehingga didahulukan dari kedua nya, karena Ilmu yang menjadikan pengesah suatu niat dan amal. .....".

Bertolak dari sini, para Ahli Ilmu mengedepankan untuk mempelajari Ilmu Aqidah dan mengajarkannya dan menjadikan nya sebagai bagian terdepan dari Ilmu pengetahuan, dan para Ulama banyak yang menulis secara khusus dan mendetail tentang hukum hukumnya serta apa yang menjadi wajib didalam nya, dan tidak terlewatkan penjelasan tentang hal-hal yang dapat merusak atau berlawanan dari perkara kesyirikan, khurafat serta perkara bid’ah. 

Demikian maka dari kalimat Syahadat Lha Ilaha illallah, bukan semata mengucapkan secara lisan, namun memiliki konsekuensi makna dan tuntutan yang wajib diketahui dan diamalkan secara lahiriah dan batin dan kalimat Syahadat ini memiliki pembatal dan perusak yang tidak dapat dihindarkan kecuali dengan mempelajari nya, sehingga sudah menjadi kewajiban jika Ilmu Aqidah dijadikan rujukan dalam materi pembelajaran sekolah dalam setiap jenjang, dan diberikan setiap harinya beberapa jam yang secukupnya, dan memilih para pengajar yang memiliki kemampuan dan tidak hanya fokus dalam penilaian naik dan tidak nya, dan semacam ini tentu berbeda dengan apa yang terjadi pada pendidikan zaman sekarang secara umum, dimana tidak diberikan perhatian yang cukup dalam materi-materi pembelajaran, yang akan menimbulkan dampak munculnya generasi yang bodoh dalam perkara Aqidah yang lurus dan mempercayai kesyirikan-kesyirikan , bid'ah dan khurafat, dan menganggap nya sebagai aqidah, dikarenakan menjumpai para manusia menganut nya dan tidak mengetahui tentang kebathilan nya.

Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu berkata : " Tali Islam niscaya akan terlepas sehelai demi sehelai jika tumbuh (dalam masyarakat) Islam orang-orang yang tidak mengetahui (perkara-perkara) jahiliah ".

Dan menjadi kewajiban untuk memilih buku-buku yang benar dan lurus yang ditulis sesuai dengan mazhab Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sejalan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah untuk dijadikan buku pembelajaran para penuntut ilmu dan hendaknya dijauhkan dari buku-buku yang menyimpang dari Aqidah Salaf seperti buku-buku asy-ariyah, mu'tazilah, jahmiyah dan kelompok yang sesat yang menyimpang dari ajaran manhaj Salaf. 

Selain pembelajaran rutin sekolah, hendaknya diadakan pembelajaran di masjid-masjid dengan dibacakan buku buku Aqidah beserta matan dan syarah keterangan nya, sehingga orang-orang yang hadir dalam masjid dapat mengambil manfaat dari pelajaran tersebut, dan sesekali memberikan ringkasan secara gamblang bagi jamaah yang masih awam, dan dengan demikian tersebarlah aqidah islam dan tidak melupakan penyampaian melalui media-media seperti radio yang diperdengarkan secara kontinuitas. 

Demikian pula hendaknya setiap individu memiliki kecenderungan untuk mendalami ilmu Aqidah, dimana dituntut bagi seorang muslim agar memperbanyak menelaah buku-buku Aqidah dan mengenal karangan yang ditulis berdasarkan manhaj salaf dan yang berada dalam manhaj yang menyelisihinya, sehingga seorang muslim diatas bashiroh dalam setiap urusan nya, dan dapat memberikan jawaban syubhat yang dilontarkan kepada Aqidah Ahlus Sunnah. 

Jika kita merenungkan kandungan Al-Qur'an Al-Karim maka niscaya kita menjumpai banyak ayat dan surat yang menekankan pada sisi Aqidah, bahkan hampir seluruh surat Makkiyah identik dengan penjelasan Aqidah Islam dan memberikan bantahan terhadap syubhat yang berkenaan dengan masalah Aqidah. 

Sebagai contoh, kita ambil perumpamaan dalam Surat Al-Fatihah :

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata : "  Ketahuilah bahwasanya surat ini mencakup induk dari tuntutan yang sangat agung dengan cakupan yang sempurna, yaitu mengenal Dzat Yang Di Ibadahi Taba'roka wa Ta'ala dengan tiga Asma' , yang menjadi induk dari Asma'ul Husna dan Sifatul Ulya, yaitu lafadz : Allah dan Ar-Robb dan Ar-Rohmaan. 

Dimana surat ini memiliki kandungan Al-Ilahiyah dan Ar-Rububiyah dan Ar-Rohmah. 

Kalimat " IYYA KA NA'BUDU ", dibangun atas Al-Ilahiyah, dan kalimat " IYYA KA NASTAIIN ", dibangun atas Ar-Rububiyah, sedangkan memohon hidayah menuju jalan yang lurus, dibangun atas sifat Ar-Rohmah. 

Sedangkan kalimat " AL-HAMDU ", mengandung tiga komponen, yaitu bahwasannya Allah Ta'ala Dzat Yang Maha Terpuji dalam Uluhiyah Nya, Rububiyah Nya dan Rohmat Nya, yang mencakup segala pujian dan sanjungan yang sempurna. 

Kalimat " MA'LIKI YAUMID-DIIN ", mengandung penetapan hari kebangkitan dan hari pembalasan bagi seluruh hamba atas perbuatan mereka yang baik dan yang buruk. 

Dan Allah Ta'ala Maha Esa Yang Maha Ha'kim dihadapan para makhluk dan hukum Nya penuh keadilan.......

Hingga beliau berkata : " Dan Al-Qur'an semuanya berisi tentang Tauhid, hak-hak ahli Tauhid dan balasan nya, serta mengupas tentang syirik, pemeluknya dan balasan kepada mereka. 

Dan kalimat "Alhamdulillah " adalah tauhid, "Robbil A'lamiin " adalah tauhid, " Arrohmaan Arrohiim " adalah tauhid, " Ma'liki yaumid diin " adalah tauhid , " Iyyaaka na'budu " adalah tauhid, " Iyyaaka nas'taiin " adalah tauhid, " Ihdinas shirootol mustaqiim " "Shirootol ladzina an'amta alaihim " adalah tauhid dan terkandung permohonan hidayah menuju jalan ahli tauhid yang telah diberikan karunia oleh Allah Ta'ala, " Ghoiril magdhubi alaihim wa lad dhooliin " adalah mereka yang menentang tauhid".

Beliau berkata : "  Dan kebanyakan surat-surat dalam Al-Qur'an, bahkan seluruh surat Al-Qur'an mengandung Tauhid, bahkan kita katakan setiap ayat dalam Al-Qur'an mengandung Tauhid, menguatkan dan mengajak kepada tauhid, dikarenakan Al-Qur'an kandungan isi nya adalah berita tentang Allah Ta'ala, atau Asma' dan Sifat-sifat-Nya, atau perbuatan Nya, dan inilah Tauhid Ilmi Khobari, atau kandungan isi nya adalah seruan untuk beribadah kepada Allah Ta'ala dan berlepas diri dari segala ibadah selain Nya, maka ini adalah Tauhid Iro'di Tholabi, atau isi kandungan nya adalah perintah dan larangan dan kewajiban taat dalam segala perintah dan larangan, maka ini adalah hak-hak tauhid dan pelengkapnya, atau juga kandungan isi nya adalah berita tentang pemuliaan Allah Ta'ala kepada ahli tauhid di dunia dan akhirat, maka ini adalah balasan terhadap ahli tauhid, dan juga kandungan isi nya adalah berita tentang pelaku syirik dan balasan mereka di dunia dan akhirat, maka ini adalah balasan bagi mereka yang meninggalkan tauhid........".

Sebagai mana telah kita ketahui bagaimana perhatian Al-Qur'an tentang perkara Akidah Islam, namun alangkah banyaknya orang-orang yang membaca Al-Qur'an yang tidak memahami tentang akidah dengan pemahaman yang benar, sehingga mereka terjatuh dalam kesalahan dan kekhilafan, dikarenakan mereka hanya mengikuti apa yang mereka jumpai dari pendahulunya, dan tidak membaca Al-Qur'an dengan penuh tadabur, fala haula wa la Quwwata illa billahi. 

  

                  ●●●《■■■》●●●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar