Sabtu, 22 Februari 2025

LARANGAN ISBAL



Larangan Isbal



علامة باركود

تحريم الإسبال

تحريم الإسبال

مقالات متعلقة

تاريخ الإضافة: 3/4/2013 ميلادي - 22/5/1434 هجري
ا



Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, serta seluruh sahabatnya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.

Pendahuluan:
Pakaian merupakan salah satu nikmat besar dari sekian banyak nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya untuk menutupi aurat, melindungi dari panas dan dingin, serta dari berbagai gangguan. Syariat Islam telah menjelaskan hukum-hukum tentang pakaian secara rinci, termasuk batasan wajib yang harus ditutupi, pakaian yang dianjurkan, serta yang diharamkan, dimakruhkan, dan dibolehkan, baik dari segi ukuran maupun cara mengenakannya.

Salah satu larangan yang telah ditetapkan adalah larangan isbal, yaitu mengenakan pakaian yang menjulur ke bawah melebihi mata kaki, baik berupa sarung, gamis, mantel, celana panjang, atau pakaian lainnya yang dikenakan oleh laki-laki. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ibnu Umar, Nabi ﷺ bersabda:

"Isbal dalam kain sarung, baju, dan sorban—barang siapa yang menjulurkannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud, no. 4094; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud, 2/771, no. 3450).

Hadits-hadits tentang larangan isbal telah mencapai derajat mutawatir ma'nawi dalam kitab-kitab hadits shahih, sunan, musnad, dan lainnya. Larangan ini diriwayatkan oleh sejumlah sahabat—radhiyallahu 'anhum—seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Abu Sa'id Al-Khudri, dan lainnya. Semuanya menunjukkan larangan yang bersifat tegas (tahrim), karena dalam hadits-hadits tersebut terdapat ancaman keras. Diketahui bahwa setiap perbuatan yang diancam dengan hukuman neraka, kemurkaan, atau siksa dari Allah adalah perbuatan haram dan termasuk dosa besar yang tidak bisa dihapus atau diringankan hukumnya.

Beberapa bahaya isbal:

  1. Menyelisihi Sunnah
    Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda:
    "Kain sarung seorang mukmin adalah sampai setengah betisnya. Jika ia menolaknya, maka hingga mata kakinya. Namun, jika ia tetap menolak, maka tidak ada bagian bagi sarungnya di bawah mata kakinya." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, no. 1783; hadits ini hasan shahih).

  2. Ancaman berat bagi orang yang menjulurkan pakaiannya di bawah mata kaki
    Dalam Shahih Al-Bukhari, dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:
    "Bagian kain yang berada di bawah mata kaki akan berada di dalam neraka." (HR. Al-Bukhari, no. 5787).

  3. Termasuk perbuatan sombong (khuyala')
    Isbal dapat menanamkan sifat ujub, kesombongan, dan meremehkan nikmat Allah. Allah berfirman:
    "Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. Luqman: 18).

  4. Menyerupai wanita
    Dalam Shahih Al-Bukhari, Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
    "Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki." (HR. Al-Bukhari, no. 5885).

  5. Berpotensi terkena najis dan kotoran
    Pakaian yang menjulur menyentuh tanah sehingga mudah terkena najis. Padahal, seorang mukmin diperintahkan untuk menjaga kebersihan dan kesucian. Allah berfirman:
    "Dan pakaianmu, maka bersihkanlah." (QS. Al-Muddatstsir: 4).

  6. Menjadikan ibadahnya tidak diterima
    Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa Nabi ﷺ bersabda:
    "Barang siapa yang shalat dalam keadaan isbal karena sombong, maka Allah tidak berada dalam keadaan halal atau haram bersamanya (artinya tidak menerima ibadahnya)." (HR. Abu Dawud, no. 637; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud, 1/126, no. 595).

  7. Termasuk dosa besar
    Dalam Shahih Muslim, dari Abu Dzar Al-Ghifari, Nabi ﷺ bersabda:
    "Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan dipandang-Nya, tidak akan disucikan, dan bagi mereka azab yang pedih: orang yang menjulurkan pakaiannya (mubtil), orang yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya (mannan), dan orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu." (HR. Muslim, no. 106).

Kesimpulan:
Berdasarkan dalil-dalil di atas, para ulama telah sepakat bahwa isbal hukumnya haram jika disertai dengan kesombongan. Namun, menurut sebagian ulama, isbal tetap terlarang walaupun tanpa kesombongan, karena dalam berbagai hadits, Nabi ﷺ melarang isbal secara mutlak tanpa menanyakan niat pelakunya. Ini menunjukkan bahwa isbal itu sendiri mengandung kesombongan, meskipun pelakunya tidak menyadarinya.

Namun, terdapat beberapa kondisi yang dikecualikan, yaitu:

  1. Lupa atau tidak sengaja, seperti kain yang menjulur tanpa disengaja dan orang tersebut selalu berusaha mengangkatnya, sebagaimana yang terjadi pada Abu Bakar.
  2. Karena alasan medis, misalnya seseorang yang mengalami luka di kakinya sehingga perlu menutupinya dengan kain panjang.
  3. Berlaku bagi perempuan, karena Rasulullah ﷺ memperbolehkan mereka menjulurkan pakaian mereka untuk menutupi kaki, yang merupakan aurat.

Dari semua pembahasan di atas, jelas bahwa isbal bagi laki-laki adalah perbuatan yang terlarang secara mutlak, dan siapa saja yang melakukannya telah melakukan dosa besar serta mengundang murka Allah.



Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau.




[1] Nomor (4094) dan disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (2/771) nomor (3450).
[2] Sunan At-Tirmidzi nomor (1783) dan beliau berkata: "Hadits ini hasan shahih."
[3] (13/247) nomor (7857), dan para penelitinya berkata: "Hadits shahih."
[4] Sunan At-Tirmidzi nomor (1783), dan beliau berkata: "Hadits ini hasan shahih."
[5] Nomor (5787).
[6] Nomor (5885).
[7] Shahih Al-Bukhari nomor (3700), Bab Kisah Baiat - Pembunuhan Umar bin Khattab.
[8] Muhammad Syamsul Haq Al-Azhim Abadi berkata: "Yakni bahwa Allah menjadikannya dalam keadaan bebas dari dosa, yaitu diampuni dosanya. Atau bahwa Allah melindunginya dari perbuatan buruk, atau bahwa Allah memasukkannya ke dalam surga dan mengharamkannya dari neraka, atau bahwa dia sedang melakukan sesuatu yang halal, atau bahwa dia memiliki kedudukan di sisi Allah." ('Aun Al-Ma'bud 2/240).
[9] Nomor (637). Abu Dawud berkata: "Hadits ini diriwayatkan oleh banyak perawi dari 'Ashim dalam keadaan mauquf kepada Ibnu Mas'ud, di antara mereka adalah Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Abu Al-Ahwas, dan Abu Mu'awiyah." Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Nasiruddin Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (1/126) nomor (595).

Abu Dawud juga meriwayatkan dalam Sunannya dari hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ pernah melihat seorang lelaki sedang shalat dengan menjulurkan kainnya, lalu beliau berkata:
"Pergilah dan berwudhulah."
Orang itu pun pergi berwudhu, kemudian kembali. Rasulullah ﷺ kembali bersabda:
"Pergilah dan berwudhulah."
Orang itu pun kembali pergi berwudhu, lalu kembali lagi. Kemudian seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
"Wahai Rasulullah, mengapa engkau menyuruhnya berwudhu lalu engkau diam darinya?"
Beliau menjawab:
"Sesungguhnya dia sedang shalat dengan kainnya yang terjulur, dan sesungguhnya Allah tidak menerima shalat seseorang yang menjulurkan kainnya."

Al-Mundziri dalam ringkasannya berkata: "Dalam sanadnya terdapat Abu Ja'far, seorang penduduk Madinah yang tidak diketahui namanya." An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin setelah menyebutkan hadits ini berkata: "Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad shahih menurut syarat Muslim." (hal. 259, no. 797).

[10] Nomor (106).
[11] Dikutip dari risalah Hadduts Tsawb wal Izrah wa Tahrimul Isbal wa Libasut Syuhrah oleh Syaikh Bakar Abu Zaid (dengan sedikit penyesuaian).
[12] (34/238) nomor (20635), dan para penelitinya berkata: "Hadits shahih."
[13] Sunan An-Nasa'i nomor (5336), dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa'i (3/1080) nomor (4929).
[14] Lihat: Risalah Syaikh Bakar Abu Zaid Hadduts Tsawb wal Izrah wa Tahrimul Isbal wa Libasut Syuhrah (hal. 22-24, dengan sedikit penyesuaian).


Jumat, 21 Februari 2025

KEUTAMAAN WAKTU-WAKTU MULIA DAN KEDUDUKAN PUASA DI DALAMNYA


Keutamaan Waktu-Waktu Mulia dan Kedudukan Puasa di Dalamnya


Segala puji bagi Allah, yang dengan keberadaan-Nya tampak tanda-tanda yang bercahaya, serta karena kemurahan-Nya, nikmat-Nya yang tersembunyi dan nyata melimpah ruah. 

Dialah yang menggerakkan segala yang berputar, angin yang berhembus, tumbuhan yang bermekaran, dan taman-taman yang berseri. Yang pertama dari segala yang ada adalah Dia yang memiliki ciptaan dan urusan, serta kehidupan akhirat.

Allah yang mengetahui rahasia dalam hati dan segala yang tersembunyi, yang tampak dan yang batin, yang memiliki hikmah yang mendalam dan ketentuan yang pasti. 

Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam dada dan yang diceritakan dalam perkataan. Tak ada yang menyerupai-Nya, dan segala sesuatu tunduk di hadapan-Nya.

Dengan kemurahan-Nya, Dia mendekatkan orang-orang yang rendah hati ke hamparan karunia-Nya, serta menyingkap kebesaran-Nya bagi mereka yang mencari petunjuk.

 Mereka yang berpaling dari kebenaran akan tersesat dan jatuh dalam kegelapan, sedangkan mereka yang mencari cahaya-Nya akan beruntung dan meraih kemenangan.

Maka beruntunglah siapa yang diberi nikmat dan petunjuk, serta mendapatkan pertolongan dan hidayah. 

Merugilah siapa yang memilih jalan yang salah dan mengikuti hawa nafsunya, sehingga akhirnya ia terjerumus dalam kebinasaan.

Aku memuji-Nya atas segala nikmat-Nya, dan aku bersyukur kepada-Nya atas semua karunia-Nya. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dia adalah Tuhan yang memiliki keabadian dan kekekalan. 

Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, sang pemberi kabar gembira dan peringatan, yang menyeru kepada kebenaran dan cahaya yang jelas.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya, serta kepada semua yang mengikuti ajarannya dengan baik hingga hari kiamat.

Allah Ta’ala berfirman: 

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami; lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri mereka sendiri, ada yang pertengahan, dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”

Kemudian Allah membagi umat ini menjadi tiga golongan:

  1. Orang yang menzalimi diri sendiri: Mereka adalah orang yang melakukan sebagian kewajiban tetapi juga melakukan perkara-perkara yang diharamkan.
  2. Orang yang pertengahan: Mereka adalah yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan yang haram, namun masih melakukan sebagian hal yang makruh dan meninggalkan sebagian sunnah.
  3. Orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah: Mereka adalah yang mengerjakan kewajiban serta sunnah dan menjauhi yang haram maupun yang makruh.

Disebutkan dalam beberapa hadis bahwa orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan akan masuk surga tanpa hisab, sementara orang yang pertengahan akan dihisab dengan ringan, dan orang yang menzalimi diri sendiri akan mendapatkan bagian dari azab tetapi tidak sampai kekal di neraka.

Ibnu Abbas berkata mengenai ayat "Kemudian Kitab itu Kami wariskan":
Orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan adalah mereka yang masuk surga tanpa hisab, orang yang pertengahan akan dipermudah hisabnya, sedangkan orang yang menzalimi dirinya sendiri akan mendapatkan ampunan.

Disebutkan juga oleh Muqatil bin Sulaiman bahwa golongan pertama adalah yang masuk surga tanpa hisab, golongan kedua mendapat hisab ringan, sedangkan golongan ketiga akan mendapatkan ampunan setelah menerima bagian dari azab mereka.

Diriwayatkan pula bahwa ketika ayat ini turun, Nabi Muhammad ﷺ bersabda: "Umatku termasuk dalam ayat ini." Lalu beliau menjelaskan bahwa golongan pertama adalah yang paling utama, golongan kedua tetap termasuk dalam golongan orang baik, dan golongan ketiga akan mendapat ampunan setelah ditebus dengan azab sesuai kadar dosa mereka.

Maka demikianlah, Allah memberi karunia-Nya dengan membagi hamba-hamba-Nya sesuai dengan amal dan keadaan mereka, dan akhirnya semuanya akan kembali kepada rahmat dan keadilan-Nya.


Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

 "Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, ketika berbuka ada doa yang tidak akan ditolak." Perawi berkata: Aku mendengar Abdullah berkata ketika berbuka: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuni dosaku." (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah).

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 

"Ada tiga golongan yang doanya tidak akan tertolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi. Allah mengangkatnya di atas awan, dan dibukakan baginya pintu-pintu langit, serta Allah berfirman: 'Demi kemuliaan-Ku, Aku pasti akan menolongmu meskipun setelah beberapa waktu.'" (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi).

Rasulullah ﷺ bersabda: 

"Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya."

Adapun kebahagiaan ketika berbuka, yaitu karena matahari telah terbenam dan jiwa merasa tenteram untuk berbuka, menikmati makanan dan minuman, serta merasa puas dan senang. 

Jika sebelumnya ia menahan diri dari hal-hal yang diharamkan, maka saat itu ia mendapat kebebasan untuk menikmati hal-hal yang diperbolehkan.

Sedangkan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya, adalah saat ia menerima pahala puasanya dengan sempurna dan melihat ganjaran besar yang Allah siapkan baginya, sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi: 

"Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya."

Oleh karena itu, dilarang melakukan puasa secara terus-menerus tanpa berbuka (puasa wishal). Maka jika seorang yang berpuasa segera berbuka, ia telah mendekatkan diri kepada Allah dengan amalannya, memuji-Nya, dan bersyukur atas nikmat-Nya. Dengan demikian, ia diharapkan mendapat ampunan atau rahmat dari Allah.

Dalam hadis juga disebutkan bahwa Allah ridha kepada hamba-Nya yang makan sesuatu lalu memuji-Nya atas makanan tersebut, serta minum sesuatu lalu memuji-Nya atas minuman tersebut.

Dan terkadang doanya dikabulkan saat itu juga, sebagaimana disebutkan. Jika ia berniat berbuka, ia juga diberi pahala seperti pahala orang yang berpuasa dan yang berdiri untuk shalat malam, sebagaimana halnya jika ia berniat tidur di malam hari dan bangun di pagi hari untuk beramal, maka tidurnya dihitung sebagai ibadah.

Diriwayatkan bahwa orang yang berpuasa memiliki derajat yang tinggi, sehingga puasanya menjadi ibadah. 

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi ﷺ:

  "Tidur orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalannya diterima, dan doanya dikabulkan." (HR. al-Baihaqi dari Abu Hurairah)

Orang yang berpuasa mengendalikan dirinya dalam ibadah. Doanya dikabulkan saat berpuasa dan ketika ia berbuka.

Inilah makna kebahagiaan orang yang berpuasa ketika melihat pahala puasanya, sebagaimana firman Allah Ta'ala:


"Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS. Yunus: 58)

Namun, ada syarat agar puasanya diterima, yaitu tidak tercampur dengan sesuatu yang haram. Jika ia menahan diri dari sesuatu yang Allah haramkan, lalu berbuka dengan yang haram, bagaimana mungkin doanya diterima? Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi ﷺ:


"Orang yang bepergian jauh, berdebu, dan menengadahkan tangannya ke langit seraya berkata: ‘Ya Rabb, Ya Rabb,’ tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?" (HR. Muslim)

Oleh karena itu, doa orang yang berpuasa dikabulkan jika ia menjaga dirinya dari keharaman.

Sufyan bin ‘Uyainah berkata:
"Pahala puasa tidak diberikan kepada orang-orang yang menyakiti orang lain dalam kezaliman, melainkan Allah menyimpannya untuk orang yang berpuasa hingga Dia membalasnya dengan surga."

Rasulullah ﷺ bersabda:


"Sesungguhnya dunia ini adalah gudang, maka perhatikanlah apa yang kalian simpan di dalamnya. Hari-hari adalah gudang, maka perhatikanlah apa yang kalian isi di dalamnya. Karena setiap manusia akan diberikan balasan sesuai dengan apa yang ia simpan, baik kebaikan maupun keburukan. Dan di hari kiamat, setiap gudang akan dibuka bagi pemiliknya."

Dan orang-orang yang berbakti akan memperoleh bagian mereka di tempat penyimpanan cahaya dan kemuliaan, sedangkan orang-orang berdosa akan menerima balasan mereka di tempat penyimpanan kerugian dan kehinaan.

Syair:


Dan orang yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Pengasih mendapatkan anugerah yang luar biasa,
Dan ia akan memiliki singgasana kebesaran yang tinggi di antara kedudukannya.
Ia akan naik menuju Tuhan segala makhluk untuk mendekatkan diri kepada-Nya,
Dan menerima buku catatan amal serta menimbangnya di timbangan keadilan, yang tidak menzalimi seorang pun.
Maka janganlah seorang hamba merasa takut akan keadilan itu,
Karena tidak ada seorang pun yang dizalimi dan setiap orang akan mendapatkan ganjarannya.
Dan anggota tubuh akan bersaksi atas apa yang telah diperbuatnya,
Demikian pula mulut yang bisu akan mengungkapkan apa yang pernah diucapkannya.

 Sifat-Sifat Surga

Allah Ta'ala berfirman:


"Apakah orang-orang yang beriman itu lebih baik ataukah orang-orang yang durhaka? Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka terdapat surga yang penuh kenikmatan." (QS. Al-Qalam: 34)

Allah Ta'ala juga berfirman:


"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan." (QS. At-Tur: 17)

Allah Ta'ala berfirman:


"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di tempat yang aman." (QS. Ad-Dukhan: 51)

Allah berfirman:


"Surga 'Adn, yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka." (QS. Shad: 50)

Allah juga berfirman:


"Mereka diberi rezeki di dalamnya pagi dan petang." (QS. Maryam: 62)

Allah berfirman:


"Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." (QS. Al-Kahfi: 108)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:


"Allah berfirman: Aku telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan oleh Abu Abdillah Al-Bukhari dari Anas radhiyallahu 'anhu:

Suatu hari, Haritsah bin Suraqah terbunuh dalam Perang Badar. Ibunya datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, engkau tahu bagaimana kedudukan Haritsah di hatiku. Jika dia di surga, aku akan bersabar. Tetapi jika tidak, maka engkau akan melihat apa yang akan aku lakukan." Rasulullah ﷺ bersabda;

 "Wahai Ummu Haritsah, sesungguhnya surga itu memiliki beberapa tingkatan, dan anakmu berada di Firdaus yang paling tinggi."

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu:
Rasulullah ﷺ bersabda,

 "Apakah kalian takut akan kematian? Bukankah surga itu mahal? Bukankah surga itu tinggi?"

Diriwayatkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu:
Setiap hari di bulan Ramadan, Allah menghias surga dan berfirman,

 "Hampir tiba saatnya hamba-hamba-Ku yang shalih akan menyingkirkan penderitaan dan kesulitan dunia serta memasuki surga."

Demikian pula dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma: "Sesungguhnya surga dihias dari awal tahun untuk menyambut kedatangan bulan Ramadan." Rasulullah ﷺ ketika masuk bulan Ramadan berdoa,

 "Ya Allah, jadikanlah Ramadan ini sebagai tempat tinggal bagi ibadah-Mu."

Saudara-saudaraku!
Hari-hari bulan Ramadan ini adalah musim kemuliaan, yang mengandung keutamaan iman. Ini adalah hari-hari kesabaran dan kebaikan. Maka, peganglah dirimu dengan kuat, wahai pencari kebaikan! Ini adalah bulan di mana rahmat turun, doa dikabulkan, dan ampunan diberikan. Berhati-hatilah, jangan biarkan diri terbuai oleh kelalaian dan perbuatan sia-sia.

Ketahuilah!
Ramadan adalah tamu agung yang datang kepadamu. Jangan biarkan dirimu tenggelam dalam angan-angan kosong dan perbuatan sia-sia. Bersungguh-sungguhlah dalam ibadah dan hindari keburukan. Perbaiki niat, akhlak, dan perbuatanmu. Jika hatimu dipenuhi kesadaran akan Allah, maka akan terbuka pintu-pintu keberkahan. Jika engkau menyadari bahwa waktumu di dunia ini terbatas, maka engkau akan lebih menghargai setiap momen yang ada.

Jika engkau bersabar dan menjaga ibadahmu, maka kesedihan akan berganti dengan kebahagiaan.
Engkau akan menyaksikan Ramadan berlalu dengan keberkahan dan di akhirat nanti engkau akan melihat hasil dari semua amal yang engkau lakukan.

Puasa memiliki adab-adab yang mengumpulkannya, yaitu menjaga hati dari langkah-langkah yang haram, menjaga lisan dari ucapan yang tidak pantas, menjaga telinga dari mendengar yang diharamkan, menjaga perut dari makanan yang haram, serta menjaga anggota tubuh dari perbuatan maksiat.

Wahai hamba Allah, ini adalah bulan untuk menyucikan jiwa yang lemah! Ini adalah bulan yang disiapkan untuk orang-orang yang taat dan para ahli ibadah. Ini adalah bulan untuk menjauhi kebiasaan-kebiasaan buruk dan kelalaian, serta untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan kesungguhan.

Wahai pendosa yang lalai, tidakkah engkau menyadari kekurangan dalam ibadahmu? Wahai orang yang mengutamakan dunia dan lupa akhirat, tidakkah engkau tahu bahwa bulan ini adalah kesempatan untuk kembali? Apa yang engkau harapkan dari umur yang semakin berkurang, sedangkan dosa-dosamu semakin bertambah?

Wahai yang berbuat maksiat di siang hari dan malam hari, apakah engkau tidak takut akan murka Tuhanmu? Bukankah engkau menyadari bahwa dosa-dosa itu akan menjerumuskanmu dalam kebinasaan?

Wahai orang yang terbiasa dalam dosa dan kelalaian, apakah engkau tidak takut jika ajal menjemputmu dalam keadaan seperti ini? Maka bertobatlah sebelum semuanya terlambat.

Bulan ini adalah bulan tasbih dan Al-Qur'an. Di dalamnya terdapat kemuliaan besar yang mengangkat derajat orang-orang beriman. Maka berbahagialah bagi mereka yang berpuasa dengan ikhlas dan menjauhi segala keburukan, karena mereka akan mendapatkan pahala dan kebahagiaan di akhirat.

Betapa banyak orang-orang shalih sebelum kita yang telah meninggalkan dunia ini. Kini mereka berada di alam kubur, menanti perhitungan amal mereka. Maka janganlah engkau tertipu oleh panjangnya angan-angan dan kelalaian, karena sesungguhnya ajal datang tanpa peringatan.Dan kemurkaan menimpa para pemuda karena dosa-dosanya, sehingga mereka tenggelam dalam kegelapan kebinasaan, sampai kapan kehidupan akan terus dibiarkan dalam kelalaian?


Ya Allah, wahai Dzat yang tidak tertimpa rasa kantuk maupun tidur, jangan jadikan kematian sebagai kejutan bagi kami. Jangan biarkan kematian datang kepada kami secara tiba-tiba tanpa persiapan. Jangan jadikan keinginan terhadap dunia menguasai hati kami sehingga melalaikan kami dari amal akhirat. Jadikanlah keberhasilan dan kebahagiaan kami dalam meniti jalan ketaatan, dan limpahkan kepada kami kemuliaan serta angkatlah derajat kami di sisi-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskan segala kesalahan kami.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang mulia dan kekuasaan-Mu yang tak terbatas. Kami berlindung kepada-Mu dari azab neraka, dan kami memohon ampunan serta keridhaan-Mu. Anugerahkanlah kepada kami surga-Mu yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan, bersama orang-orang yang Engkau pilih sebagai kekasih-Mu. Ya Allah, ampunilah kami, orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.


Kamis, 20 Februari 2025

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DIBANDINGKAN BULAN-BULAN LAINNYA


 Keutamaan Bulan Ramadhan Dibandingkan Bulan-Bulan Lain


Segala puji bagi Allah yang telah mengkhususkan bulan Ramadhan dengan keutamaan berpuasa dibandingkan bulan-bulan lainnya. 

Di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan berbagai kemurahan diturunkan. 

Pada bulan ini berbagai macam kebaikan berlimpah bagi setiap orang yang ingin mendapatkan karunia. 

Amal ibadah dilipatgandakan, catatan pahala dituliskan, dan ganjaran diberikan kepada setiap orang sesuai dengan amalnya.

Ini adalah bulan yang penuh berkah, yang menurunkan kitab suci bagi kaum yang telah mendapatkan bimbingan dari Allah. Syaitan-syaitan diikat agar tidak mengganggu mereka yang benar-benar beribadah dengan ikhlas. 

Bulan ini merupakan kesempatan besar bagi orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah, sehingga mereka memperbanyak ibadah, meninggalkan kebiasaan buruk, dan fokus pada puasa, shalat, serta ketaatan. 

Mereka memanfaatkan waktu dan umur dengan sebaik-baiknya, serta menjauhi keburukan dan kemaksiatan.

Mereka harus sadar bahwa dunia ini adalah ladang untuk akhirat, maka mereka harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya sebelum ajal menjemput. 

Mereka yang beramal di bulan ini akan mendapatkan pahala berlipat ganda, dan mereka yang bertaubat akan diampuni karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sesungguhnya Allah telah memberikan berbagai nikmat kepada hamba-hamba-Nya. 

Ada yang berupa nikmat yang jelas, ada yang berupa ujian yang disertai rahmat, dan ada pula yang berupa peringatan agar manusia kembali ke jalan yang benar.

 Maka barang siapa yang menerima nikmat dengan syukur, Allah akan menambahnya, karena bersyukur adalah kunci untuk mendapatkan lebih banyak kebaikan.

Aku memuji Allah dengan pujian yang paling sempurna, karena Dialah yang paling pantas untuk disebut dan disyukuri.

 Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Kesaksian ini akan bermanfaat di Hari Pembalasan dan menjadi pelindung dari keburukan. 

Aku juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, sebaik-baik penyeru kepada kebaikan dan penghalang dari keburukan.

"Dan ia merupakan orang yang paling bertakwa diantara orang-orang yang shalat dan berpuasa, bersungguh-sungguh dan berdiri (beribadah), serta menjalankan perintah. 

Semoga shalawat Allah tercurah kepada beliau (Nabi Muhammad ﷺ) dan kepada para sahabatnya, yang mereka adalah bintang-bintang petunjuk dalam kegelapan zaman, dengan cahaya yang terang dan bimbingan yang bersinar.

Allah Ta’ala berfirman:

'Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)' (QS. Al-Baqarah: 185).

Allah Ta’ala telah memberikan anugerah besar kepada kita dengan bulan Ramadan ini, bulan yang penuh keutamaan karena di dalamnya diturunkan Al-Qur'an yang agung.

Ada beberapa makna dari turunnya Al-Qur'an dalam ayat tersebut:

  1. Bahwa Al-Qur'an diturunkan dalam bulan Ramadan dalam bentuk satu kesatuan ke Baitul ‘Izzah di langit dunia, yang terjadi pada malam Lailatul Qadar. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur setelahnya kepada Rasulullah ﷺ sesuai dengan kejadian-kejadian yang terjadi.

  2. Al-Qur'an diturunkan sebagai syariat puasa.

  3. Al-Qur'an diturunkan untuk menjelaskan hukum-hukum.

  4. Di dalamnya disebutkan bahwa dengan diturunkannya Al-Qur'an terdapat petunjuk bagi manusia dan keterangan yang jelas tentang petunjuk dan pembeda antara yang benar dan yang salah.

Betapa besarnya keutamaan bulan ini, yang di dalamnya terdapat banyak keistimewaan, anugerah, dan kemuliaan yang besar. 

Allah melipatgandakan pahala bagi orang yang beramal di dalamnya, serta memberikan balasan yang lebih bagi para ahli ihsan dengan karunia dan kebaikan-Nya. Bulan ini juga merupakan bulan kesabaran dan pahalanya adalah surga."


Rahmat bertambah dan timbangan orang beriman menjadi berat. Pintu-pintu surga dibuka, sementara pintu-pintu neraka ditutup, serta setan-setan dibelenggu.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Salat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dan dari Ramadan ke Ramadan adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi." (Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya).

Diriwayatkan dari Tsauban dan Ibnu Hibban dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa Allah ﷻ berfirman kepada penjaga surga:

"Wahai Ridwan, bukalah pintu-pintu surga! Dan wahai Malik, tutuplah pintu-pintu neraka bagi orang-orang durhaka dari umat Muhammad ﷺ! Wahai Jibril, turunlah ke bumi, lalu belenggulah setan-setan dengan rantai-rantai besi, kemudian lemparkan mereka ke dalam lautan agar mereka tidak dapat mengganggu umat Muhammad ﷺ selama bulan ini."

Lalu Allah berkata kepada malaikat setiap malam di bulan Ramadan:

"Adakah orang yang meminta, maka Aku akan memberinya? Adakah orang yang bertaubat, maka Aku akan menerima taubatnya? Adakah orang yang memohon ampunan, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang menginginkan sesuatu, maka Aku akan memberikannya? Adakah orang yang menginginkan pelepasan dari neraka, maka Aku akan membebaskannya?"

Dan setiap waktu berbuka, Allah membebaskan seribu orang dari neraka, yang seharusnya telah ditetapkan masuk ke dalamnya. Ketika malam terakhir bulan Ramadan tiba, Allah membebaskan orang-orang sebanyak yang telah dibebaskan sepanjang bulan tersebut.

Diriwayatkan dalam hadis bahwa Allah ﷻ tidak akan menyiksa mereka yang berpuasa selama bulan Ramadan.

Wahai orang yang lalai dari keutamaan bulan ini, sudahkah engkau mengetahui waktunya? Wahai orang yang banyak berbicara sia-sia, jagalah lisanmu! Wahai orang yang terbebani dengan dosa, bersihkanlah amalmu! Wahai orang yang terbiasa berbuat maksiat, tinggalkanlah perbuatan itu!

Ini adalah bulan puasa dan qiyam. Ini adalah musim keuntungan bagi orang-orang yang bertakwa. 

Ini adalah waktu pelipatgandaan kebaikan, bulan penghapusan dosa-dosa, bulan di mana pintu-pintu langit dibuka dan amal kebaikan diangkat doa dan ibadah.

 Bidadari yang bermata indah menyebar di taman-taman surga, menantikan para kekasih dari ahli ketaatan. 

Maka beruntunglah bagi orang yang memperbanyak amal saleh di dalamnya. 

Di bulan ini, disucikan anggota tubuh dari berbagai maksiat,dosa, dan keburukan hingga menghantarkan kepada ridha dan surgaAllahTa’ala.

Dan dalam hari-harinya tampak berbagai keutamaan serta keberkahan. 

Sungguh, satu malam di bulan ini lebih baik daripada seribu bulan, yaitu malam yang dipenuhi ampunan dan kemenangan dengan surga.

Bulan ini adalah bulan kebaikan. Maka siapa yang mencarinya, hendaklah ia memperbanyak amalan dengan pahala yang dilipatgandakan. Lalu, apa hikmah di balik semua ini?

Sesungguhnya bulan Ramadan bukanlah seperti bulan-bulan lainnya.

Sebagaimana dikatakan dalam syair:
"Jika engkau belum pergi, bertambah takwa.
Jika engkau mati setelahnya, maka engkau telah memperoleh kemenangan yang nyata.
Berbahagialah karena tidak menjadi yang tertolak,
Dan engkau tidak terusir sebagaimana yang terhalang sebelumnya."

Allah Ta'ala telah memberikan perumpamaan dalam firman-Nya:
"Itu adalah beberapa hari yang telah ditentukan."

Sungguh, ia adalah tamu yang agung, keutamaannya tidak ada tandingannya, karena ia adalah anugerah besar dari Allah kepada makhluk-Nya. 

Jika seseorang sedang sakit atau dalam perjalanan, ia diperbolehkan berbuka, dan jika ia memilih berpuasa, maka puasanya tetap sah, namun berbuka lebih utama.

Demikian pula bagi orang yang tua renta, orang yang sakit parah, serta bagi orang miskin yang tidak memiliki makanan. 

Jika seseorang sedang berpuasa dan mengalami kesulitan, lalu ia berbuka, maka itu adalah kemudahan baginya.

Allah telah memberikan kemudahan kepada hamba-hamba-Nya dengan keutamaan dan rahmat-Nya, serta membimbing mereka dengan kebenaran dari Al-Qur'an. 

Allah menjadikan puasa sebagai sarana kesehatan jasmani, pembersih hati dan lisan dari dosa serta maksiat.

Puasa juga diturunkan kepada manusia oleh pemimpin seluruh umat, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Karena itu, hendaknya seorang mukmin tidak meninggalkan puasa kecuali jika ada udzur yang dibenarkan syariat.

Hamba-hamba Allah!
Sungguh, kalian telah diberikan peluang untuk memperoleh perdagangan yang menguntungkan dengan luasnya kesempatan amal.

"Dan Allah memudahkan bagi kalian amal-amal saleh dari berbagai jenisnya, serta menyiapkan bagi kalian balasan yang berlimpah dari keutamaannya. 

Dia juga mengangkat derajat kalian dari berbagai kehormatan yang mulia. Maka bersyukurlah kepada Allah atas segala yang telah Dia berikan kepada kalian dari nikmat Islam, dan atas keistimewaan yang diberikan kepada Nabi kalian ﷺ berupa rahmat dan kedamaian.

Maka jagalah bulan puasa, karena ia adalah penyempurna rukun-rukun keislaman dan pemutus belenggu setan. 

Di dalamnya, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan siksa bagi para pendosa diringankan. 

Di dalamnya, rezeki bagi makhluk dibentangkan, dosa-dosa dihapus, dan kebajikan dilipatgandakan. 

Para penghuni surga bersuka cita dengannya, dan para penghuni neraka meratap karena kehancuran mereka. 

Allah telah mengkhususkan malamnya dengan kemuliaan-Nya, maka jagalah malamnya dan putuskan siangmu dengan puasanya.


Dikatakan dalam "al-Laṭā’if": 

Ketika Allah menurunkan Adam dari surga, Adam menangis karena perpisahan tersebut. Tangisan itu terus berlangsung sepanjang tahun hingga bumi menjadi darul bala’ (tempat ujian), tidak ada kebahagiaan yang abadi, tidak ada tempat tinggal yang aman, dan tidak ada kenyamanan yang terus-menerus. 

Ketika Adam turun ke bumi, Jibril datang kepadanya dan berkata: "Wahai Adam, apa yang membuatmu menangis?" Adam menjawab: "Aku menangis karena rumah Allah yang mulia, yang dahulu aku tinggali. Aku menangis karena aku diusir dari negeri kemuliaan menuju negeri cobaan."

Jibril berkata kepadanya: "Wahai Adam, janganlah menangis, karena sesungguhnya Allah telah menetapkan bahwa sebagian keturunanmu akan kembali ke negeri itu." Lalu dikatakan dalam sebuah riwayat bahwa Adam berkata: "Aku menangis atas rumah yang, seandainya aku berada di dalamnya, hatiku akan tenang dan jiwaku akan tenteram."

Dan diriwayatkan bahwa Adam berkata kepada keturunannya: "Kami telah diciptakan dari keturunan langit, dan Kami diberiberi makan dengan makananmereka, namun kita tersandra oleh Iblis, tidak ada ketenangan bagi kita, tidak ada kebahagiaan kecuali kesedihan dan penderitaan, hingga kita kembali ke negeri yang darinya kita dikeluarkan.

Syair:

Maka kita akan kembali ke surga ‘Adn seperti sebelumnya,
Tempat tinggal pertama kita, di sanalah kebahagiaan dan kemuliaan.

Ketika terjadi pertemuan antara Nabi Adam dan Nabi Musa, Musa mencela Adam karena dikeluarkan dari surga akibat dosanya dan keturunannya mengalami penderitaan di dunia. Adam pun membela diri dengan takdir yang telah ditetapkan sebelumnya. 

Ini seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ:

"Jika sesuatu menimpamu, jangan katakan: ‘Seandainya aku melakukan ini, tentu akan terjadi begini,’ tetapi katakanlah: ‘Allah telah menetapkan, dan apa yang Dia kehendaki, pasti terjadi.’"

Syair:
Jika bukan karena ketentuan takdir yang telah ditetapkan sebelumnya,
Tak seorang pun akan mengetahui apa yang akan menimpanya.

Sebelumnya, keutamaan Adam terlihat dalam penciptaannya dan sujudnya para malaikat kepadanya. 

Allah mengajarkan kepadanya nama-nama segala sesuatu, dan para malaikat pun tunduk pada ilmu yang telah diberikan kepada Adam, hingga mereka mengakui kelebihannya.

Namun, Iblis justru sombong terhadap dirinya sendiri dan berkata, “Aku lebih baik darinya.” Sebaliknya, keutamaan Adam sempurna karena pengakuannya atas kesalahannya sendiri, sebagaimana firman Allah:

"Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)

Syair:
Jika Allah menghendaki sesuatu, maka terjadilah ia,
Bahkan jika lisan menolaknya, tetap saja ketentuan-Nya berlaku.

Seandainya api tidak menyelimuti sesuatu di sekitarnya, niscaya tidak akan dikenal keharuman kayu gaharu yang terbakar.

Berhati-hatilah terhadap musuh yang telah mengeluarkan nenek moyang kalian dari surga. Sesungguhnya ia berusaha dengan segala cara untuk mengeluarkan kalian darinya juga. Permusuhan dan tipu daya yang dilancarkannya terhadap kalian adalah tradisi lamanya. Tidaklah ia mengusir seseorang dari surga dan menjauhkannya dari rahmat kecuali dengan kesombongannya untuk bersujud ketika diperintah. Iblis telah berputus asa dari kembali ke surga dan telah memastikan keterusiran dan hukuman abadinya, maka ia tidak akan rela jika ada orang lain yang mendapatkannya. Oleh karena itu, janganlah menjadikan iblis dan keturunannya sebagai pemimpin kalian. Allah telah memberi peringatan kepada kalian, sebagaimana firman-Nya:

"Apakah kalian akan menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin, padahal mereka adalah musuh bagi kalian? Sungguh buruk sebagai pengganti bagi orang-orang zalim." (QS. Al-Kahf: 50)

Kesombongan Adam terhadap Iblis membuatnya patuh, lalu ia menjadi pendosa. Kemudian setan menggoda dan Adam pun menaatinya. Maka Allah berfirman:

"Apakah Aku tidak telah memerintahkan kalian, wahai anak cucu Adam, agar tidak menyembah setan? Sungguh ia adalah musuh yang nyata bagi kalian." (QS. Yasin: 60)

Syair:

Allah telah menjaga amanah-Nya dan perjanjian-Nya yang dahulu.
Kami pun menjaga perintah-Nya dengan ketakwaan.
Kami adalah kaum yang jika kami melihat nikmat Allah, kami bersyukur.
Dan jika Engkau mencabutnya, kami bersabar dengan ikhlas.

Wahai orang yang keburukannya lebih banyak dari kebaikannya, ketahuilah bahwa tidak ada yang kekal kecuali Dia.
Wahai orang yang selalu mengeluh, bertakwalah dan bersabarlah.
Wahai orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya, tidak ada manfaat bagimu.
Wahai orang yang lisan dan hatinya tidak sejalan, sesungguhnya tidak ada cahaya di dalamnya.

Ketahuilah bahwa Islam memiliki tanda-tanda yang jelas.
Jika engkau melihat seorang Muslim bersikap angkuh, ketahuilah bahwa Islam belum sempurna dalam dirinya.
Jika engkau melihat seorang pembawa Al-Qur'an diam terhadap kebatilan, maka ketahuilah bahwa ia termasuk orang-orang yang tertipu dan lalai.
Jika engkau melihat seseorang berpaling dari kebenaran, maka ketahuilah bahwa ia telah jauh dari hakikat sebenarnya.

"Wahai sahabat-sahabatku, betapa banyak dari kita yang lengah dan lupa, wahai orang yang tertipu dan lalai. Betapa banyak orang yang mengejar sesuatu yang fana dan tidak kekal, dan betapa banyak yang mengira dirinya berbuat baik padahal ia dalam kebinasaan. Sungguh, hatiku gentar melihat keadaan ini. Hati yang suci dari dosa dan kesalahan memiliki cahaya yang terang, sedangkan hati yang kotor dan lalai dari kebenaran akan jauh dari cahaya itu."

"Apabila engkau melihat seseorang yang sibuk dengan dunia dan melalaikan akhirat, ketahuilah bahwa hatinya belum tersentuh cahaya Al-Qur’an. Dan apabila engkau melihat seseorang yang berpaling dari kebenaran, maka sesungguhnya ia telah kehilangan arah dalam pencariannya."

Sebagian orang saleh berkata:
"Adam dikeluarkan dari surga karena satu dosa, sementara kalian berbuat dosa dan masih berharap masuk surga?"

Ia juga berkata:
"Dosa menghubungkan pelakunya kepada dosa lainnya, hingga akhirnya dosa itu membawa kehancuran bagi dirinya. Orang yang lalai akan terus melangkah menuju kehancuran tanpa sadar, dan orang yang bermaksiat akan terus terjerumus ke dalam kebinasaan."

"Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari keburukan diri kami, dan kami memohon kepada-Mu untuk menolong kami dalam menghadapi musuh-musuh kami. Limpahkanlah kepada kami keimanan yang teguh dan keyakinan yang kuat, sebagaimana Engkau telah memberikan nikmat kepada para hamba-Mu yang saleh."

"Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami, perbaikilah keadaan kami, dan jadikanlah kami termasuk dalam golongan orang-orang yang Engkau ridhai. Wahai Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."