Jumat, 14 Maret 2014

MANHAJ SALAF

Segala puji bagi Allah, kita memuji, memohon perlindungan, memohon ampun, dan  bertaubat kepada-Nya, dan kita berlindung kepada Allah dari segala keburukan jiwa kita dan keburukan amal-amal kita. Sesungguhnya barang siapa yang diberi hidayah Allah, maka tak seorang pun mampu menggelincirkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tak seorangpun mampu memberi hidayah kepadanya. Dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak melainkan  Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.  Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.” (QS Al Imron: 102)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (QS An Nisaa: 1)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS Al Ahzab: 70-71)

Wa ba’du, sungguh Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi semesta alam,  Allah berfirman:                                                                                                                                                              
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiyaa': 107)

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. (QS Al Baqarah: 143)

Umat Wasathon yaitu pertengahan tidak condong dan melenceng dari kebenaran, tidak ghuluw dan tidak pula kasar, akan tetapi pertengahan dan adil, karena ajaran Islam melarang umatnya dari bersikap Ghuluw dan kasar atau meremehkan, akan tetapi memerintahkan agar bersikap adil dan tengah dalam segala perkara, karena ciri khas dan karateristik agama ini adalah adil, tengah-tengah, tidak dzalim, dan berhukum dengan timbangan yang lurus.

Sesungguhnya sebaik-baik agama yang mampu menerapkan keadilan di muka bumi ini dalam segala bentuk ucapan, amalan, keyakinan, hanyalah agama Islam, dan manhaj Ahlussunnah adalah jalan dan metoda yang menerapkan ajaran Islam secara Kafah yang meneladani Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para Kholifah yang mendapat petunjuk. Dikarenakan berpegang erat dengan Kitab dan Sunnah sesuai pemahaman para Salaf, maka merekalah orang-orang yang mendapat peringkat adil dan pertengahan dalam urutan pertama. Walaupun secara umum disandang keseluruhan umat ini, akan tetapi Ahlussunnah berada pada urutan terdepan, hal itu dikarenakan mereka adalah generasi teladan, yang Allah kabarkan mereka adalah sebaik-baik generesi yang dikeluarkan untuk manusia, karena merekalah satu-satunya generasi yang merealisasikan mutabaah terhadap Al Kitab dan As Sunnah. Berbeda dengan selainnya dari firkoh, kelompok dan golongan dari umat ini, tidaklah dari setiap mereka memiliki pelanggaran dan penyelewengan terhadap Al Kitab dan As Sunnah, oleh karenanya Ahlussunnah merupakan umat Wasathon, Tho’ifah Mansyuroh, generasi yang mendapat pertolongan, dan dialah Al Firqotun Najiyah, dan merekalah yang sebagaimana diungkapkan oleh Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, ”Mereka adalah umat yang paling baik dan adil diantara manusia, sebagaimana ajaran islam merupakan ajaran yang paling baik diantara ajaran-ajaran yang ada”.

Sebagaimana diketahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah mereka adalah para sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik serta orang-orang yang senantiasa meniti jalan mereka dengan setia hingga Hari Kiamat, dan mereka tidak dikenal dengan nama ini kecuali setelah muncul perkara-perkara bid’ah dan beragamnya firqoh dan golongan sesat yang masing-masing menyeru kepada kesesatan dan hawa, walaupun secara nyata kelompok sesat tersebut menyandarkan diri kepada ajaran islam. Dari sini sepantasnya ahli haq menampakkan dan membedakan diri dari selainnya diantara kalangan ahli bid’ah dan kelompok menyeleweng dalam aqidah mereka, sehingga penamaan Ahlus Sunnah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al Firqotun Najiyah, At Tho’ifatul Mansyuroh, Ahlul Hadist wal Atsar, adalah penamaan yang syar’i karena diambil dari Nusush Syari’ah.

Akan tetapi tatkala ahlul bid’ah dan kelompok yang menyeleweng menggunakan nama ahlus sunnah, pada kenyataannya mereka bukan berada dalam keyakinan ahlus sunnah, maka dari sini ahlus sunnah diberikan nama Salafiyin, dan dakwah mereka dibangun meniti para salaf, yang hanya membatasi diri dengan mengikuti apa-apa yang ada di dalam Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman para Salaf Sholih dari kalangan para sahabat dan Tabi’in dan para pengikut Salaf yang konsisten di atas sunnah dan menjauhi segala bentuk bid’ah dan mencegahnya. Sebagaimana kita telah diperintah agar mengikuti para sahabat dan meniti petunjuk mereka sebagaimana telah Allah difirmankan: Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (QS Luqman: 15)

Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah, ”Dan setiap sahabat(Rasulullah) adalah munib (orang yang kembali kepada Allah) maka wajib untuk diikuti jalannya, sedangkan ucapannya, keyakinannya, merupakan jalan yang terbesar, dan dalil yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang munib atau kembali kepada Allah adalah bahwa Allah telah memberi hidayah dan petunjuk kepada mereka, Allah berfirman:

“Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. (QS Asy Syuraa: 13)

Allah telah memberikan ridho kepada para sahabat dan kepada orang-orang yang senantiasa mengikuti petunjuk mereka dengan baik, sebagaimana firman-Nya:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (QS At Taubah: 100)

Maka tidak termasuk perkara bid’ah dan baru, jika memberikan nama bagi ahlussunnah wal jama’ah dengan nama Salafiyin, karena kalimat Salafiyin sama dengan kalimat ahlussunnah wal jama’ah, karena keduanya kembali kepada para sahabat, mereka adalah Salafus Sholih bagi umat ini, dan merekalah Ahlussunnah wal Jama’ah, sebagaimana boleh bagi kita mengatakan sunni dalam rangka penisbatan kepada ahlussunnah, maka boleh juga kita katakan Salafiy, dalam rangka penisbatan dan penyandaran kepada para salaf, dan keduanya tidak berbeda.

Tatkala munculnya perpecahan dan perselisihan maka kalimat salaf hanya disandang bagi mereka yang selamat aqidah dan manhajnya sesuai dengan pemahaman Salaf Sholih dari sahabat dan generasi utama, maka penamaan ini yaitu Salaf, sesuai dengan nama syar’i Ahlussunnah wal Jama’ah, dan dakwah kepada ajaran salaf, atau dakwah Salafiyah sesungguhnya adalah dakwah kepada islam yang murni, kepada kebenaran, kepada sunnah yang sempurna, kepada ajaran islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang diajarkan kepada para sahabat yang muliya.

Tidak diragukan lagi bahwa dakwah ini adalah dakwah yang haq, dan penisbatan  ataupun penyandaran kepada dakwah ini adalah hak, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah, ”Dan tidak tercela bagi yang menampakkan madzhab salaf dan bersandar kepadanya, atau menginduk kepadanya, bahkan wajib untuk menerimanya, karena manhaj salaf adalah haq“.

Dan dahulu para imam-imam islam dari ahlussunnah memiliki pengaruh yang besar dalam berdakwah di atas sunnah dan dakwah kembali kepada jalan salaf sesuai manhaj mereka, diantaranya adalam Malik, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abi ‘Ashim, Al Ashbah’any, Al ‘Ajurry, dan selainnya, kemudian Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qoyyim, Ibnu Abdul Hadi, Ibnu Katsir, Ad Dhahabi, kemudian Muhammad ibnu Abdul Wahab, dan para imam dakwah setelahnya yang memberikan andil untuk menampakkan dakwah salaf sepanjang masa, yang dibangun akidah dan agamanya diatas kitab Allah dan sunnah Nabinya dan siroh para Salaf Sholih yang senantiasa memadamkan gerakan bid’ah yang menyeleweng dari pondasi ini. Kami berbicara panjang lebar masalah ini dikarenakan  sering mendengar dan melihat adanya orang-orang yang mencela dakwah Salafiyah atau mencela penegak dakwah Salaf dan melontarkan tuduhan hizbiyah atau kelompok sempalan yang tak ubahnya sama dengan kelompok sesat yang muncul di masa kini  dan menyatakan bahwa pimpinan kelompok baru salafiyah adalah Imam Muhammad ibnu Abdul Wahab.

Pada hakikatnya bahwa Imam Muhammad ibnu Abdul Wahab ia adalah seorang da’i dari juru dakwah Salafiyah dan seorang pembaharunya, yang menghidupkan kembali setelah yang sebelumnya nampak redup, dikarenakan banyak dijumpai bid’ah dan kurofat, sehingga mengokohkan kembali menjadi bersih dan murni di jazirah tersebut.

Bahkan sesungguhnya negara yang penuh barokah ini, yaitu daulah Arab Saudi -semoga Allah menjaga para penduduknya- merupakan daulah salafiyah dan dakwahnya adalah dakwah salafiyah, sebagaimana diungkapkan oleh pendirinya malik Abdul Aziz ibnu Abdurrohman Al Su’ud rohimahullah, tatkala dalam pidatonya di musim Haji th 1365 H, ”Sesungguhnya aku adalah seorang salafi dan aqidahku adalah aqidah  salafiyah yang berdiri tegak di atas Al Kitab dan As Sunnah“.

Berkata pula di dalam pidatonya, ”Orang-orang mengatakan kita adalah kelompok Wahabiyah, dan sebenarnya kami adalah Salafiyun yang senantiasa menjaga agama kita secara murni mengikuti kitab Allah dan sunnah Nabi, dan tiada perbedaan antara kita dan kaum muslimin melainkan kita sama sama berpegang dengan Al Kitab dan As Sunnah“. 

Maka daulah Saudi Arabia tegak diatas ajaran Islam yang murni di atas kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya, sesuai pemahaman para salaf umat ini, oleh karenanya tergambar dalam kepemimpinannya di atas hikmah dan keadilan, memberikan kelonggaran kepada madzhab-madzhab fiqih yang populer, sebagai halnya para pelajar di negeri ini pada jenjang strata satunya mempelajari fiqih empat mazhab, Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad, terlebih pada fakultas syari’ah di Islamic Univercity Madinah, diajarkannya  perbedaan madzab, dan yang diajarkan disana bukanlah perbedaan aqidah, akan tetapi perbedaan di dalam perkara cabang fiqih.

Berkata Malik Abdul Aziz, ”Jalan yang kita tempuh adalah jalannya para salaf sholih, kita tidak mengkafirkan seseorangun kecuali apabila telah divonis kafir oleh Allah dan Rosul-Nya, dan tidak ada madzhab kecuali madzhab salafus-sholih, dan kita tidak fanatik pada salah satu madzhab, dari madzhab-madzhab Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad mereka semua adalah imam kami“. Ungkapan raja ini adalah ungkapan yang sangat berharga yang menjabarkan pemahaman yang benar terhadap salafiyah yang mana ini merupakan ajaran islam yang murni.

Di masa sekarang ini banyak dijumpai orang-orang dari kalangan penulis yang condong pada pemikiran barat, politikus yang memusuhi islam, dari pendukung yahudi yang mendunia, mereka  mencela islam secara umum, dan mencela mamlakah Saudi Arabia dan dakwah Salaf secara khusus, melakukan kebohongan, kedustaan dan kedzaliman serta mencoreng nama baik Islam dan Salaf, memutar balikkan kenyataan yang ada.

Walaupun secara nyata bahwa dakwah Salaf merupakan dakwah yang lembut tidak mengkafirkan, membid’ahkan memfasikkan seseorang dengan tanpa dalil, jauh dari perbuatan ghuluw dan keji, akan tetapi dakwah ini dituduh dengan tuduhan yang tidak berdasar, melekatkan sesuatu yang tidak nyata, yang mencoreng keindahannya, merubah hakikat yang ada, membikin lari para pendengarnya, hingga manusia mengambil jarak dengannya, hal ini disebabkan adanya beberapa faktor yang utama diantaranya munculnya jamaah Islamiyah Hizbiyah yang terpengaruh dengan cara fikir kelompok sesat khowarij, yang mungkin sebagian tokoh dan pembesar mereka memiliki kemiripan dan kesamaan dalam sebagian sudut pandangan tertentu dengan manhaj Salaf, bahkan dengan sengaja menamai kelompok mereka dengan nama Salafiyah, walau secara nyata mereka bukanlah Salafiyah, sehingga menjadikannya rancau di mata kebanyakan manusia yang tidak paham betul tentang dakwah Salafiyah, sehingga orang mengira ini adalah kelompok Salafiyah, ataun berpemahaman Wahabi, sebagaimana sering terdengar penamaan ini.

Menghebohkan lagi tatkala terdengar suatu kelompok Hizbiyah dengan menggunakan nama Jama’ah Salafiyah Jihadiyah, bagaimana mungkin mereka menyandang gelar Salafiyah, sedangkan mereka menyelisihinya dalam perkara Aqidah dan Manhaj??  Bagaimana mungkin dikatakan kelompok Jihadi, sedangkan syariat Jihad yang benar dan shohih beserta prasyaratnya tidak terpenuhi dalam kelompok ini??

Sesungguhnya yang menjadi tolak ukur dan neraca adalah kenyataan bukan sekedar lafadz dan penamaan belaka, oleh karenanya marilah kita berhati-hati, agar tidak salah dan tersesat disaat di medan dakwah sekarang ini. Dan wajib bagi kita agar beramal berdasar Tasfiyah (pemurniaan) sehingga membersihkan tuduhan yang sengaja dilontarkan, dan wajib pula kita mentarbiyah (mendidik) generasi ini di atas ajaran islam yang murni yang diambil dari wahyu yang suci dari Al Kitab dan As Sunnah sesuai pemahaman Salaful Ummah, serta menjaga ajaran ini, mengagungkannya sesuai pada porsinya.

Dan sungguh Allah telah memberikan karunia kepada umat ini dengan diutusnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyempurnakan agama-Nya, nikmat-nikmat-Nya, dan meridhoi agama Islam sebagai keyakinan dan tidak akan menerima keyakinan lainnya.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS Al Maidah: 3)

Berkata Ibnul-Qoyyim, ”Dan ini dikarenakan jalan yang mengantarkan kepada Allah hanyalah satu, yaitu apa yang dibawa oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diutus dan apa yang diwahyukan di dalam Al Kitab, dan tidak akan mengantarkannya kecuali dengan jalan ini, jika sekiranya para manusia datang dengan berbagai jalan yang ditempuh dan aneka ragam pintu niscaya jalan-jalan dan pintu  tersebut tertutup dan terkunci, kecuali hanya satu jalan yang telah Allah gariskan untuk samapai kepada-Nya“. (At Tafsirul Qayyim, hal 14-15)

Dan Allah telah perintahkan tatkala terjadi perselisihan dan perbedaan agar merujuk dan kembali kapada Allah dan Rasul-Nya, yaitu dengan kembali kepada  Kitabullah dan Sunnah Nabi. Allah berfirman:

Kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An Nisaa: 59)

Dalam firman Allah di atas dinyatakan kalimat, ”tentang sesuatu“ adalah kalimat umum yang mencakup segala perkara baik dalam perkara ushul maupun perkara cabang. Berkata ibnul Qoyyim, ”Jika tidak dijumpai di dalam Al Kitab dan As Sunnah penjelasan hukum tentang apa yang diperselisihkan maka niscaya tidak diperintah untuk merujuk kepada keduanya, dikarenakan sangatlah tidak logis jika Allah memerintahkan agar merujuk kepada keduanya ternyata tidak dijumpai pada keduanya“. Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat." (QS Al An'am: 159)

“Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS  An Nisaa: 115)

Di dalam ayat di atas Allah memberikan ancaman bagi siapa saja yang mengikuti selain jalan kaum mukminin  dengan ancaman kesesatan dan diwajibkan agar mengikuti jalan kaum mukminin dalam memahami syariat Allah, sekiranya keluar dari jalur ini maka ia tersesat. Allah memberikan pujian bagi kaum salaf dari muhajirin dan anshor dalam firman-Nya:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah: 100)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa sebaik-baik generasi adalah generasinya, Nabi bersabda, ”Sebaik baik generasi adalah generasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya “.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya agar mengikuti sunnahnya dan sunnah para kholifah sepeninggalnya, serta memperingatkan dari menyeleweng darinya, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ setelahku, genggam dan berpeganglah dengan erat dan jauhilah perkara baru dalam agama, karena segala pekara baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat“. (HR Bukhori)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sifat terhadap kelompok yang akan selamat dalam sabdanya, ”Mereka adalah apa apa yang aku dan para sahabatku hari ini ada padanya. Maka dalil dalil di atas menunjukkan tentang wajibnya mengikuti Al Kitab dan As Sunnah serta mengikuti jalannya kaum mukminin“. Kaum mukminin yang dimana kita diwajibkan agar mengikutinya adalah mereka para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana telah diterangkan oleh Ibnu Qoyyim, ”Dan setiap sahabat mereka kembali kepada Allah Ta’ala, maka wajib untuk mengikuti jalan mereka, dan perkataan serta keyakinan para sahabat merupakan jalan yang teragung agar diikuti“.

Berkata Ibnu Mas’ud, ” Ikutilah dan jangan membuat jalan baru yang bid’ah, sungguh kalian telah tercukupi“.

Berkata Imam Ahmad, ”Pondasi sunnah yang ada pada kami adalah berpegang teguh serta mengikuti dengan apa yang ada pada para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan menjahui perkara bid’ah “. Maka wajib bagi seorang muslim agar mengikuti Al kitab dan Assunnah dengan pemahaman salaf sholih . 

Disadur dari:  “Kun Salafiyan ‘alal Jaddah”, DR. Abdussalam As Suhaimi hafidzahullah.

1 komentar:

  1. http://quantumfiqih.wordpress.com/2013/06/27/wasiat-al-imam-al-munawi/

    BalasHapus