Jumat, 18 Oktober 2024

PEMBUKAAN DAUROH MOJOKERTO




*PEMBUKAAN DAURAH MINHAJUS SUNNAH – 1446 H*

TRAWAS MOJOKERTO – 11 Rabiul Akhir 1446 H/14 Oktober 2024


PEMBUKAAN OLEH SYAIKH ABDUL MALIK RAMADHONI AL-JAZAIRIY hafizhahullah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ إِلَهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ  
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ  


Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam, dan aku bersaksi bahwa tiada Rabb yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Rabbnya para umat terdahulu dan yang akan datang.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul. Semoga Allah memberikan shalawat, salam, dan keberkahan atasnya, keluarganya, dan para sahabatnya semuanya.


وَإِذْ قَدْ تَقَدَّمْتُ بِالشُّكْرِ وَالْحَمْدِ لِلَّهِ لِأَنَّهُ الْمَحْمُودُ أَوَّلًا وَآخِرًا، وَالْمَحْمُودُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، وَالْمَحْمُودُ عَلَى كُلِّ حَالٍ إِذْ لَيْسَ فِي قُدْرِهِ إِلَّا مَا يَسُرُّ الْحَالَ، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ، فَأَتَقَدَّمُ ثَانِيًا بِالشُّكْرِ لِلْإِخْوَةِ الْقَائِمِينَ عَلَى مُؤَسَّسَةِ مِنْهَاجِ السُّنَّةِ بِهَذَا الِاسْمِ الْجَمِيلِ الطَّيِّبِ، وَإِنْ شَاءَ اللهُ وَجَدْنَاهَا أَوْ وَجَدْنَاهُمْ اِسْمًا عَلَى مُسَمًّى لِلِالْتِزَامِ بِالسُّنَّةِ، وَالِاسْتِقَامَةِ عَلَيْهَا، وَالْعَمَلِ عَلَى حِفْظِهَا وَتَعَلُّمِهَا وَتَعْلِيمِهَا وَنَشْرِهَا، وَذَلِكَ هُوَ سَبِيلُ أَهْلِ الْحَقِّ. 

Setelah aku mengucapkan syukur dan pujian kepada Allah, karena Dia-lah yang Dzat yang dipuji pertama dan terakhir, Dzat yang dipuji secara lahir dan batin, dan Dzat yang dipuji dalam setiap keadaan. Tidak ada dalam ketetapan-Nya kecuali hal yang menyenangkan, baik diketahui oleh yang mengetahui atau tidak diketahui oleh yang tidak mengetahuinya. Maka aku ingin mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudara yang mengelola Yayasan Minhajus Sunnah dengan nama yang indah dan baik ini. InsyaAllah, kami menemukan mereka benar-benar sesuai dengan nama tersebut, dalam berkomitmen kepada sunnah, istiqamah di atasnya, bekerja untuk menjaga, mempelajari, mengajarkannya, dan menyebarkannya. Itulah jalan orang-orang yang berada di atas kebenaran.


هَذِهِ الْمُؤَسَّسَةُ اِزْدَانَتْ بِهَا مَدِينَةُ سُرَابَايَا وَتَحْدِيدًا فِي مَنْطِقَةِ مُوجوكيرتو ، أَسْأَلُ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُسَدِّدَ خُطَاكُمْ، وَأَنْ يَرْزُقَكُمُ الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَفِي الدَّعْوَةِ إِلَى سَبِيلِهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَنْ يَجْعَلَكُمْ مَنَارًا لِهَذِهِ الْبِلَادِ الطَّيِّبَةِ بِلَادِ إِنْدُونِيسِيَا. نَشْكُرُ أَهْلَهَا وُلَاةً وَالْمَسْؤُولِينَ الَّذِينَ أَتَاحُوا لَنَا هَذِهِ الْفُرْصَةَ لِلِّقَاءِ وَنَشْرِ الْحَقِّ، 



Lembaga ini menambah keindahan kota Surabaya, khususnya (sekarang) di kawasan Mojokerto. Aku memohon kepada Allah yang Maha Mulia untuk meluruskan langkah kalian, memberi kalian keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan, serta dalam menyeru ke jalan-Nya. Semoga Allah menjadikan kalian sebagai cahaya bagi negeri yang baik ini, negeri Indonesia. Kami berterima kasih kepada penduduknya, para pemimpin dan para pejabat yang telah memberikan kami kesempatan ini untuk bertemu dan menyebarkan kebenaran.


وَإِنَّ الْقَلْبَ لَيَغْمُرُهُ السُّرُورُ حِينَ يَجِيءُ مِنْ مَهْدِ النُّبُوَّةِ مَهْدِيِّ الدَّعْوَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ هَذِهِ الْبِلَادِ الْبَعِيدَةِ الْمَهْوَى مِنْ تِلْكَ الْبِلَادِ، وَنَجِدُ فِيهَا الْإِسْلَامَ بَلْ نَجِدُ فِيهَا الْإِسْلَامَ وَالسُّنَّةَ وَالْعَقِيدَةَ، عَقِيدَةَ التَّوْحِيدِ، هَذَا مِنْ فَضْلِ اللهِ عَلَيْنَا جَمِيعًا.


"Dan sungguh hati dipenuhi dengan kebahagiaan ketika datang dari tempat kelahiran kenabian, tempat kelahiran dakwah Islam, ke negeri-negeri yang jauh ini, dan kita menemukan Islam di sini, bahkan kita menemukan di sini Islam, Sunnah, dan akidah, yaitu akidah tauhid. Ini semua adalah karunia dari Allah bagi kita semua."
.

وَعَلَى أَهْلِ إِنْدُونِيسِيَا خَاصَّةً وَنَحْمَدُ اللهَ تَعَالَى، وَكَذَلِكَ يَغْمُرُنَا السُّرُورُ حِينَما نَجِدُ إِخْوَانًا لَنَا مِنَ الْأَعَاجِمِ يَتَكَلَّمُونَ، لَا أَقُولُ بِلِسَانِنَا بَلْ بِلِسَانِ الْقُرْآنِ إِنْ صَحَّ التَّعْبِيرُ، أَيْ بِلُغَةِ الْقُرْآنِ، فَهَذَا شَأْنٌ عَظِيمٌ. 


Dan bagi penduduk Indonesia khususnya, kita memuji Allah Ta'ala. Hati kita juga dipenuhi kegembiraan ketika kita menemukan saudara-saudara kita dari kalangan non-Arab yang berbicara, tidak saya katakan dengan bahasa kita, tetapi dengan bahasa Al-Qur'an, jika diperbolehkan untuk mengungkapkannya demikian, yaitu dengan bahasa Al-Qur'an. Ini adalah suatu hal yang agung.


فَهَنِيئًا لَكُمْ، هَنِيئًا هَنِيئًا، لِأَنَّ قُلُوبَكُمْ اِسْتَبْشَرَتْ بِلُغَةِ كِتَابِ رَبِّكُمْ، "إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ"، وَقَدْ عَقَلْتُمْ الْكَثِيرَ مِنْهُ، أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَزِيدَكُمْ وَيَزِيدَكُمْ وَعَقْلَهُ وَفَهْمَهُ. مَا فِي الْقُرْآنِ لَا يَنْتَهِي إِطْلَاقًا لِأَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ: "قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا". 


Maka selamat untuk kalian, selamat, selamat, karena hati kalian telah bergembira dengan bahasa kitab Rabb kalian: "Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur'an berbahasa Arab agar kalian mengerti" (Surah Yusuf (12:2)). Dan kalian telah memahami banyak darinya. Saya memohon kepada Allah untuk menambah pemahaman dan pengertian kalian tentang Al-Qur'an. Apa yang ada dalam Al-Qur'an tidak akan pernah habis, karena Allah yang Maha Mulia berfirman: "Katakanlah, seandainya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Rabbku, sungguh lautan itu akan habis sebelum habis kalimat-kalimat Rabbku, walaupun Kami datangkan yang semisal dengannya sebagai tambahan." (Surah Al-Kahfi (18:109))

وَهَذَا الْعِلْمُ عَظِيمٌ. نَشْرُ الْعِلْمِ بَابٌ عَظِيمٌ، لِأَنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ عَرَفَتْ أَوَّلَ مَا دَخَلَهَا مِنَ الْخَيْرِ عَنْ طَرِيقِ الْعِلْمِ، لَا يَخْتَلِفُ اِثْنَانِ فِي أَنَّ أَوَّلَ مَا أَنْزَلَ اللهُ عَلَى قَلْبِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: "اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ". 


Dan ilmu ini adalah ilmu yang agung. Menyebarkan ilmu adalah pintu yang besar, karena umat ini pertama kali mengenal kebaikan yang masuk melalui ilmu. Tidak ada dua orang yang berbeda pendapat bahwa wahyu pertama yang Allah turunkan kepada hati Muhammad shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam adalah: "Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan, menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah, dan Rabbmu yang Maha Mulia, yang mengajar dengan pena, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (Surah Al-'Alaq (96:1-5))


هَذَا فَضْلُ اللهِ، حَافِظُوا عَلَى هَذَا الْفَضْلِ، لِأَنَّ مَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَى نِعْمَةِ اللهِ رَفَعَهَا مِنْهُ، وَرَفْعُ هَذِهِ النِّعْمَةِ خَسَارَةٌ مَا بَعْدَهَا خُسْرٌ، أَيْ رَفْعُ الْإِسْلَامِ مِنْ قُلُوبِ أَهْلِهِ. أَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يَجْعَلَنَا مِنْ أَهْلِ ذَلِكَ، وَأَنْ يُجَنِّبَنَا ذَلِكَ، وَأَنْ يُثَبِّتَنَا. مِنْ تَوْفِيقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.


Ini adalah karunia Allah. Peliharalah karunia ini, karena siapa yang tidak menjaga karunia Allah, maka Allah akan mencabutnya. Dicabutnya karunia ini adalah kerugian yang tidak ada kerugian setelahnya, yaitu tercabutnya Islam dari hati pemeluknya. Saya memohon kepada Allah Ta'ala untuk menjadikan kita termasuk dari orang-orang yang mendapat karunia itu, dan semoga Dia menjauhkan kita dari keburukan tersebut, serta meneguhkan kita. Ini adalah bagian dari taufik Allah yang Maha Mulia.


وَالْمُوَافَقَاتُ أَرَادَهَا اللهُ جَاءَتْ هَكَذَا مِنْ غَيْرِ تَرْتِيبٍ. أَنَا وَأَخِي الْكَرِيمُ شَيْخِي الْفَاضِلُ حَمْدُ العَتِيقُ أَنَّنَا وَإِيَّاكُمْ نَعْلَمُ أَنَّ أَعْظَمَ مَصَادِرِ التَّلَقِّي لِلطَّائِفَةِ الْمَنْصُورَةِ، الفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ، وَأَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ هُوَ القُرْآنُ وَالسُّنَّةُ مِنْ فَضْلِ اللهِ تَعَالَى عَلَيْنَا ذَلِكَ.
 

Dan kesesuaian ini adalah kehendak Allah yang datang begitu saja tanpa perencanaan. Saya dan saudara saya yang terhormat, Syaikh Hamed Al-’Atiiq, bersama-sama dengan Anda semua mengetahui bahwa sumber penerimaan ajaran yang paling agung bagi At-Thoifah al-Manshurah (kelompok yang diberi pertolongan), Al-Firqoh an-Najiyah (kelompok yang selamat), dan Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah Al-Qur'an dan as-sunnah, sebagai karunia Allah atas kita semua.
 

فَجَاءَتْ هَذِهِ الدَّوْرَةُ تَحْكِي هَذَا الْفَضْلَ لِأَنَّنِي عَرَضْتُ عَلَى إِخْوَانِكُمْ الْقَائِمِينَ عَلَى هَذِهِ الْمُؤَسَّسَةِ مَجْمُوعَةَ بَرَامِجَ لِأُلْقِيَهَا عَلَى مَسَامِعِكُمْ وَلَيْسَ الْجَالِسُ فِي عُلُوِّ هَذِهِ الْمِنْصَّةِ بِأَعْلَى مِنَ الْجَالِسِ تَحْتَهَا، وَلَكِنْ هَكَذَا شَاءَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.
 

Maka datanglah program daurah ini yang menggambarkan karunia tersebut, karena saya telah mengajukan kepada saudara-saudara Anda yang mengelola yayasan ini beberapa program untuk saya sampaikan kepada Anda. Dan orang yang duduk di atas podium ini tidak lebih tinggi daripada yang duduk di bawahnya, namun inilah kehendak Allah yang Maha Agung.
 

وَنَحْنُ نَقُولُ هَذَا التَّنَاصُحُ بَيْنَنَا لَا لِلزِّيَادَةِ فَضْلٍ، فَاخْتَرْتُمْ كِتَابَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَنَتَدَارَسُ سُورَةً مِنْ سُوَرِ الْقُرْآنِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ مَعَانٍ عَظِيمَةٍ نَحْنُ بِحَاجَةٍ إِلَيْهَا جَمِيعًا فِي كُلِّ وَقْتٍ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ.
 

Kami mengatakan bahwa saling memberi nasihat ini di antara kita bukan untuk menambah keutamaan apa pun. Anda telah memilih Kitab Allah Yang Maha Agung, maka kita akan mempelajari sebuah surat dari surat-surat Al-Qur'an, karena di dalamnya terdapat makna-makna yang besar yang kita semua butuhkan di setiap waktu dan di setiap tempat.
 

وَنَحْنُ أَحْوَجُ مَا نَكُونُ إِلَيْهَا فِي هَذَا، سَتَعْلَمُونَهُ إِنْ شَاءَ اللهُ. وَاخْتَارَ الشَّيْخُ جَزَاهُ اللهُ خَيْرًا الْقِسْمَ الثَّانِي مَصْدَرَ التَّلَقِّي، مَصَادِرَ تَلَقِّي القُرْآنِ وَالسُّنَّةِ وَنُفَسِّرُ شَيْئًا مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
 

Dan kita sangat membutuhkan hal ini, yang akan Anda ketahui inSya Allah. Syaikh Hamd Al-’Atiiq, semoga Allah membalas kebaikannya, telah memilih bagian kedua tentang sumber penerimaan, yakni sumber penerimaan Al-Qur'an dan sunnah. Kita akan menafsirkan sebagian dari Kitab Allah Yang Maha Agung.
 

نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يَشْرَحَ صُدُورَنَا وَجَوَارِحَنَا لِكِتَابِهِ، وَالشَّيْخُ يَأْخُذُ مَعَكُمْ الأَرْبَعِينَ النَّوَوِيَّةِ. أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُسَدِّدَهُ وَيَرْزُقَهُ الإِخْلَاصَ وَيُوَفِّقَهُ وَيُوَفِّقَنَا جَمِيعًا لِذَلِكَ.
 

Kami memohon kepada Allah Ta'ala agar membuka dada dan hati kita untuk menerima kitab-Nya. Syaikh Hamd Al-’Atiiq akan membimbing kalian dalam mempelajari Al-Arba'in An-Nawawiyyah. Saya memohon kepada Allah agar memberinya keteguhan, memberikan keikhlasan kepadanya, serta memberi taufik kepada kita semua untuk itu.
 

هَذَا فَضْلٌ عَظِيمٌ لِأَنَّ الإِنسَانَ يَحْفِلُ أَشَدَّ مَا يَحْكِي مِمَّا جَاءَ فِي كِتَابِهِ وَالسُّنَّةِ، إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْزَلَ القُرْآنَ كَمَا أَنْزَلَ السُّنَّةَ، إِنَّا أَنْزَلْنَا القُرْآنَ عَرَبِيًّا وَقَالَ كَذَلِكَ فِي السُّنَّةِ: "وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ نَزَلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ"، لِتُبَيِّنَ خِطَابًا لِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَسُولِهِ الكَرِيمِ.
 

Ini adalah karunia yang besar karena manusia merasa terhormat ketika dia membicarakan apa yang datang dari Kitab Allah dan sunnah-Nya. Sesungguhnya Allah yang Maha Agung menurunkan Al-Qur'an sebagaimana Dia menurunkan as-sunnah. "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab." (Q.Surah Yusuf (12:2)) Allah juga berfirman tentang sunnah: "Kami menurunkan kepadamu peringatan agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka, supaya mereka berpikir," (Surah An-Nahl (16:44)) sebagai sebuah penjelasan bagi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, Rasul yang mulia.

 
فَالسُّنَّةُ بَيَانٌ لِلْقُرْآنِ.
 

Jadi, sunnah adalah penjelasan bagi Al-Qur'an.


هِيَ وَحْيٌ كَمَا قَالَ تَعَالَى: "إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى، عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى". فَهُمَا الْمَصْدَرَانِ الْعَظِيمَانِ: الْقُرْآنُ وَالسُّنَّةُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: "اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِهِ، قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ". وَقَالَ تَعَالَى: "وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ". خَاطَبَ رَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَقَالَ تَعَالَى: "قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَى إِلَيَّ مِنْ رَبِّي". سُبْحَانَ اللهِ، كُلُّهَا وَحْيٌ وَحْيٌ وَحْيٌ.

 
Itu semua adalah wahyu, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: "Itu hanyalah wahyu yang diwahyukan, diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat." Maka keduanya adalah dua sumber yang agung: Al-Qur'an dan sunnah. Allah Ta'ala berfirman: "Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari  Rabb kalian, dan janganlah kalian mengikuti selain-Nya sebagai pelindung. Sedikit sekali kalian mengingatnya." (Surah Al-A'raf (7:3)). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu." (Surah Al-Ahzab (33:2)) Allah berbicara kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah, sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari  Rabbku." (Surah Al-A'raf (7:203)) Subhanallah, semuanya adalah wahyu, wahyu, dan wahyu.

 

وَرَدَّ تَعَالَى فِي مِثْلِ هَذِهِ الْآيَاتِ يُبَيِّنُ أَنَّ السَّبَبَ الْأَوَّلَ وَالْأَخِيرَ لِهَدَايَةِ النَّاسِ مَوْجُودٌ فِي هَذَا الْوَحْيِ. قَالَ تَعَالَى: "قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي، وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي". سُبْحَانَ اللهِ، شُوفْ هَذِهِ الْمُقَابَلَةَ الْعَجِيبَةَ: لَوْ اعْتَمَدْتَ عَلَى فَهْمِكَ وَعَقْلِكَ وَمَنْطِقِكَ وَمَا اسْتَخْلَصَهُ مَنْ يُسَمُّونَهُمُ بِالْحُكَمَاءِ أَوْ مَا اسْتَنْبَطَهُ الْفَلَاسِفَةُ أَوِ الَّذِينَ يُقَنِّنُونَ لِلنَّاسِ، ضَلَلْتَ.


 Allah Ta'ala menjelaskan dalam ayat-ayat seperti ini bahwa sebab utama dan terakhir bagi petunjuk manusia terdapat dalam wahyu ini. Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah, jika aku sesat, maka sesungguhnya aku hanya akan menyesatkan diriku sendiri. Dan jika aku mendapatkan petunjuk, maka itu adalah karena apa yang diwahyukan  Rabbku kepadaku." (Surah Saba' (34:50)). Subhanallah, lihatlah perbandingan yang menakjubkan ini: Jika kamu bergantung pada pemahamanmu, akalmu, logikamu, atau pada kesimpulan dari apa yang disebut oleh mereka sebagai para bijak atau apa yang dihasilkan oleh para filsuf, atau mereka yang menetapkan hukum bagi manusia, maka kamu akan tersesat.

 
وَإِنِ اهْتَدَيْتَ، فَمَا الَّذِي يَقُولُ هَذَا يَا إِخْوَانِي؟ اللهُ يَقُولُ لِمَنْ؟ لِخَيْرِ رُسُلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: "قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي، وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي".

 
Dan jika aku mendapatkan petunjuk, siapakah yang mengatakan hal ini, wahai saudara-saudaraku? Allah berkata kepada siapa? Kepada Rasul-Nya yang terbaik, shallallahu 'alaihi wa sallam: "Katakanlah, jika aku sesat, maka sesungguhnya aku hanya akan menyesatkan diriku sendiri. Dan jika aku mendapatkan petunjuk, maka itu adalah karena apa yang diwahyukan  Rabbku kepadaku."

 
يَعْنِي أَنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِ اهْتَدَيْتُ، فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي. الْهِدَايَةُ كُلُّهَا بِمَا جَاءَ فِي الْوَحْيِ، أَنْ يَتَّبِعَ الإِنْسَانُ الْوَحْيَ. وَتَأَمَّلُوا قَوْلَ اللهِ تَعَالَى لِنِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللهِ وَالْحِكْمَةِ".

 
Artinya, aku, (Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam), jika mendapatkan petunjuk, itu karena apa yang diwahyukan  Rabbku kepadaku. Petunjuk semuanya ada dalam apa yang dibawa oleh wahyu, yakni mengikuti wahyu. Perhatikanlah firman Allah Ta'ala kepada istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah." (Surah Al-Ahzab (33:34))

 
إِنَّ اللهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا، "وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللهِ وَالْحِكْمَةِ". سُبْحَانَ اللهِ، مِنْ آيَاتِ اللهِ وَالْحِكْمَةِ. آيَاتُ اللهِ عَرَفْنَاهَا، وَالْحِكْمَةُ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ هِيَ السُّنَّةُ.

 
"Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui, dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah." (QS. Al-Ahzab: 34). Subhanallah, dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Ayat-ayat Allah kita sudah mengetahuinya, dan hikmah, menurut Imam Syafi’i rahimahullah, adalah sunnah.

 
إِذَا اجْتَمَعَ الْقُرْآنُ وَالسُّنَّةُ فِي سِيَاقٍ وَاحِدٍ دَلَّ عَلَى أَنَّ كَلِمَةَ الْحِكْمَةِ هِيَ السُّنَّةُ. وَلَكِنَّ الْعَجِيبَ فِي هَذِهِ الآيَةِ أَنَّ عَلَى مَا قَالَ وَتَسْلِيمِ الْقُرْآنِ وَالْحِكْمَةِ، أَوْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الْحِكْمَةُ.

 
Jika Al-Qur'an dan as-sunnah digabungkan dalam satu konteks, ini menunjukkan bahwa kata "hikmah" adalah as-sunnah. Namun, yang mengagumkan dari ayat ini adalah, menurut apa yang dikatakan, penerimaan Al-Qur'an dan hikmah, atau apa yang diturunkan kepada kalian, adalah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam itu sendiri merupakan hikmah.

 
هَذَا أَقْصَرُ لِمَاذَا طَوَّلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ؟ الْبَلَاغَةُ أَنْ تَأْتِيَ بِكَلَامٍ وَجِيزٍ وَتُبَلِّغَ الْمَعْنَى الَّذِي تُرِيدُ.

 
Ini adalah bentuk singkat, mengapa Allah Azza wa Jalla memperpanjangnya? Retorika adalah menyampaikan kalimat yang ringkas dan mencapai makna yang ingin disampaikan.

 
"وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللهِ وَالْحِكْمَةِ".

 "Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah.” (QS. Al-Ahzaab: 40)


أَلَيْسَ هَذَا أَوْجَزَ؟ هَذَا أَخْصَرَ؟ وَلَكِنَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ أَنْ يُنَبِّهَنَا بِشَيْءٍ عَظِيمٍ: وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ، أَيْ لَا يُوجَدُ فِي بُيُوتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعِنْدَهُ تِسْعَةُ أَبْيَاتٍ، سِوَى مَا أَنْزَلَهُ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ، وَالْحِكْمَةِ الَّتِي يُوحِي اللهُ تَعَالَى بِهَا فِي قَلْبِهِ، سُبْحَانَ اللهِ.
 
Bukankah ini lebih ringkas? Ini lebih pendek? Namun Allah Ta'ala menghendaki untuk memberi kita peringatan yang agung: “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian.” (Surah Al-Ahzab (33:34)).  Yakni, di rumah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam—dan beliau memiliki sembilan rumah—tidak ada yang terdapat di dalamnya kecuali apa yang Allah turunkan ke dalam hatinya dan hikmah yang Allah wahyukan dalam hatinya. Subhanallah.
 
هَذَا دَرْسٌ لَنَا كُلُّنَا. عِنْدَنَا أَزْوَاجٌ وَعِيَالٌ، نَتْلُو هَذَا الشَّيْءَ. هَذَانِ مَصْدَرَانِ عَظِيمَانِ، أَعْظَمُ مَصَادِرِ الشَّرِيعَةِ، أَعْظَمُ مَصَادِرِ التَّلَقِّي فِي بُيُوتِنَا. هَذَا الَّذِي لَنَا الاسْتِقَامَةَ وَالثَّبَاتَ إِلَى أَنْ نَلْقَى اللهَ.
 
Ini adalah pelajaran bagi kita semua. Kita memiliki pasangan dan anak-anak, dan kita membaca hal ini. Kedua sumber ini sangat agung, sumber terbesar dari syariat, sumber terbesar dari penerimaan di rumah kita. Inilah yang akan memberi kita keteguhan dan konsistensi sampai kita bertemu dengan Allah.
 
فَهَنِيئًا لَكُمْ فِي هَذِهِ الدَّوْرَةِ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى، كِتَابًا وَسُنَّةً، وَحْيَ اللهِ تَعَالَى. قُلُوبُنَا بِذَلِكَ، وَسَدَّدَ مَشَايِخَنَا وَإِخْوَانَنَا الْمُتَكَلِّمِينَ وَالسَّامِعِينَ، وَجَعَلَنَا خَيْرَ خَلَفٍ لِخَيْرِ سَلَفٍ.
 
Maka selamat bagi kalian dalam program ini, insya Allah Ta'ala, dengan Al-Qur'an dan sunnah, wahyu dari Allah Ta'ala. Semoga hati kita dipenuhi dengannya, semoga Allah memberikan keteguhan kepada para syaikh dan saudara-saudara kita, para pembicara dan pendengar, dan menjadikan kita sebaik-baik penerus dari sebaik-baik pendahulu.
 

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، 
 
Semoga shalawat, salam, dan keberkahan tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, dan seluruh sahabatnya. 






*PEMBUKAAN DAURAH MINHAJUS SUNNAH – 1446 H*

TRAWAS MOJOKERTO – 11 Rabiul Akhir 1446 H/14 Oktober 2024


PEMBUKAAN SYAIKH HAMED BIN ABDUL AZIIZ AL-ATIIQ hafizhahullah


وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. نَشْكُرُ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ عَبْدَ الْمَلِكِ عَلَى كَلِمَاتِهِ الرَّاعِيَةِ الَّتِي غَرَسَتْ فِي قُلُوبِنَا حُبَّ الْعِلْمِ وَالتَّمَسُّكَ بِسُنَّتِهِ.


Segala puji bagi Allah, Rabb  seluruh alam. Kami mengucapkan terima kasih kepada Syaikh Abdul Malik atas kata-katanya yang penuh perhatian yang telah menanamkan dalam hati kita cinta terhadap ilmu dan berpegang teguh pada as-sunnah.
 

أَمَّا الآنَ مَعَ كَلِمَاتِ فَضِيلَةِ الشَّيْخِ أَحْمَدَ حَمَدَ الْعَزِيزِ الْعَتِيقِ، فَلْيَتَفَضَّلْ مَشْكُورًا مَأْجُورًا.
 

Sekarang mari kita dengarkan kata-kata dari Syaikh Ahmad Hamd Al-Aziz Al-'Ateeq, dipersilakan dengan segala hormat.

 
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْإِخْوَةُ وَالْأَبْنَاءُ، أَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كَمَا جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَكَانِ الْمُبَارَكِ أَنْ يَجْمَعَنَا فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى مِنْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ، وَوَالِدِينَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَمَنْ نُحِبُّ، إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
 

Aku bersaksi bahwa tiada Rabb  selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam yang banyak kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya. Saudara-saudaraku dan anak-anakku, saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana Dia telah mengumpulkan kita di tempat yang diberkahi ini, semoga Dia mengumpulkan kita di Firdaus yang tertinggi di surga bersama para nabi, orang-orang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh, bersama kedua orang tua kita, pasangan kita, keturunan kita, dan orang-orang yang kita cintai. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
 

مَشَايِخِي وَإِخْوَانِي وَأَبْنَائِي، هَذِهِ الدَّعْوَةُ الْمُبَارَكَةُ الَّتِي مَنَّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا عَلَيْنَا، يَنْبَغِي أَنْ نَعْلَمَ عِلْمَ الْيَقِينِ أَنَّهَا لَنْ تَقُومَ لَهَا قَائِمَةٌ إِلَّا بِأَسَاسَيْنِ ذَكَرَهُمَا اللهُ تَعَالَى فِي سُورَةِ الصَّفِّ الَّتِي سَيَشْرَحُهَا شَيْخُنَا حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى: "هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ".
 

Syaikh-syaikh saya, saudara-saudara saya, dan anak-anak saya, dakwah yang diberkahi ini yang Allah Azza wa Jalla anugerahkan kepada kita, kita harus mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa dakwah ini tidak akan bisa berdiri kecuali di atas dua dasar yang disebutkan Allah Ta'ala dalam surah Ash-Shaff, yang akan dijelaskan oleh syaikh kita, semoga Allah menjaganya: "Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, agar Dia memenangkan agama itu di atas seluruh agama, walaupun orang-orang musyrik membencinya." (At-Taubah (9:33):)
 

هَذِهِ الدَّعْوَةُ لَنْ تَظْهَرَ وَلَنْ تَقْوَى وَلَنْ يُمَكِّنَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهَا إِلَّا بِهَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ: "هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ". قَالَ ابْنُ كَثِيرٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى: "الْهُدَى" هُوَ الْإِيمَانُ وَالْعِلْمُ الصَّحِيحُ، وَ"دِينُ الْحَقِّ" هُوَ الْعَمَلُ الصَّالِحُ. 

Dakwah ini tidak akan muncul, tidak akan kuat, dan Allah Azza wa Jalla tidak akan memenangkannya kecuali dengan kedua perkara ini: "Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar." Ibn Katsir rahimahullah Ta'ala berkata: "Petunjuk" adalah iman dan ilmu yang benar, dan "agama yang benar" adalah amal shalih. 


هَذِهِ هِيَ دَعْوَتُكُمْ يَا أَهْلَ السُّنَّةِ، هَذِهِ هِيَ دَعْوَتُكُمْ يَا أَتْبَاعَ السَّلَفِ الصَّالِحِ: الْهُدَى وَدِينُ الْحَقِّ، الْإِيمَانُ وَالْعِلْمُ الصَّحِيحُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ.
 

Inilah dakwah kalian, wahai Ahlus Sunnah, inilah dakwah kalian, wahai pengikut salafus shalih: petunjuk dan agama yang benar, yaitu iman, ilmu yang benar, dan amal shalih.


 وَبِغَيْرِ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ لَنْ يَتَحَقَّقَ الْمَشْرُوطُ: "هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ". نُرِيدُ أَنْ تَظْهَرَ دَعْوَتُنَا وَنُرِيدُ أَنْ يُمَكِّنَ اللهُ لِدَعْوَتِنَا وَنُرِيدُ أَنْ يُعِزَّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ دَعْوَتَنَا، لَنْ يَتِمَّ ذَلِكَ إِلَّا بِهَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ.
 

Tanpa kedua perkara ini, syarat tersebut tidak akan terpenuhi: "Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkan agama itu di atas seluruh agama." (QS. As-Shaff: 9).  Kita ingin dakwah kita terlihat, kita ingin Allah meneguhkan dakwah kita, dan kita ingin Allah Azza wa Jalla memuliakan dakwah kita. Itu semua tidak akan tercapai kecuali dengan kedua perkara ini.


الإيمان، الإيمان، الإيمان: التوحيد، إفراد الله عز وجل بربوبيته وألوهيته وأسمائه وصفاته. وهذا لا يمكن أن يحصل إلا بالعلم الصحيح المستمد من مصدرين رئيسين: المستمد من كتاب الله وسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم.
 

Iman, iman, iman: Tauhid, mengesakan Allah Azza wa Jalla dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Dan ini tidak dapat tercapai kecuali dengan ilmu yang benar, yang diambil dari dua sumber utama: dari Kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
 

وهذا لا يكفي حتى نتبع ذلك بالدين الحق، بالعمل الصالح. "وعالم بعلمه لم يعملن، معذب من قبل عباد الوثن". فالعلم حجة لك أو عليك. إن عملت به كان حجة لك، وإن لم تعمل به كان العلم حجة عليك. نسأل الله السلامة والعافية.
 

Dan ini tidak cukup sampai kita mengikuti itu dengan agama yang benar, dengan amal saleh. "Seorang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya, akan disiksa sebelum para penyembah berhala." Ilmu itu bisa menjadi hujah pendukung bagimu atau melawan/menuntutmu. Jika kamu mengamalkannya, ia menjadi hujah bagimu, dan jika kamu tidak mengamalkannya, ilmu itu akan menjadi hujah melawanmu. Kami memohon keselamatan dan kesehatan kepada Allah.
 

فالله الله يا أهل السنة، يا أهل الفرقة الناجية، أهل الطائفة المنصورة، يا أتباع أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، يا أتباع السلف الصالح، القرون المفضلة. ما هو إلا الإيمان والعلم الصحيح والعمل الصالح. في ماذا؟ في دعوتنا وفي أنفسنا وفي بيوتنا كما قال شيخنا.
 

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai Ahlus Sunnah, wahai golongan yang selamat, golongan yang diberikan pertolongan, wahai para pengikut sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, wahai pengikut salafus saleh, generasi terbaik. Itu tidak lain adalah iman, ilmu yang benar, dan amal saleh. Dalam apa? Dalam dakwah kita, diri kita, dan rumah tangga kita sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh kita.
 

إذا حققنا ذلك حقق الله عز وجل لنا وعده. والله لا يخلف الميعاد: "وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات". مطابقة تماما: "ليستخلفنهم في الأرض". هناك يظهره على الدين كله: "فيستخلفنهم في الأرض كما استخلف الذين من قبلهم وليمكنن لهم دينهم الذي ارتضى لهم". هذا الدين الذي ارتضاه الله لكم: "وليبدلنهم من بعد خوفهم أمنا".
 

Jika kita mewujudkan itu, Allah Azza wa Jalla akan menepati janji-Nya kepada kita. Dan Allah tidak mengingkari janji: "Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal shalih." (QS. An-Nuur: 55). Janji ini sesuai: "Sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi." (QS. An-Nuur: 55). Di sana Allah akan menampakkan agama itu di atas semua agama: "Dan Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan Dia akan meneguhkan agama mereka yang Dia ridai untuk mereka." Agama ini yang Allah ridhai bagi kalian: "Dan Dia akan menggantikan rasa takut mereka dengan keamanan."
 
آية: "يعبدونني لا يشركون بي شيئا". أسأل الله عز وجل أن يجعلني وإياكم من أهل الإيمان والعلم الصحيح، ومن أهل العمل الصالح. إنه على كل شيء قدير. وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.
 

Ayat: "Mereka beribadah kepada-Ku dan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu pun." Saya memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menjadikan saya dan kalian termasuk dari orang-orang yang beriman dan berilmu yang benar, dan dari orang-orang yang beramal saleh. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan akhir dari doa kami adalah segala puji bagi Allah,  Rabb seluruh alam.
 

نشكر فضيلة الشيخ حمد بن عبد العزيز العتيق على كلماته التي تفيض حكمة وتذكيرا، سائلين الله نبيه عنا خير الجزاء. أخيرا يا إخواني في الله، نحن على مشارف بحار من العلم. فاغتنموا هذه الأيام المباركة، واستفيدوا من هذه الدورة الشرعية، فإن العلم سفينة النجاة.
 

Kami mengucapkan terima kasih kepada Syaikh Hamed bin Abdul Aziz Al-'Ateeq atas kata-katanya yang penuh hikmah dan pengingat, semoga Allah memberi beliau balasan yang terbaik dari kami. Akhirnya, wahai saudara-saudaraku yang dicintai karena Allah, kita berada di tepi samudra ilmu. Maka manfaatkanlah hari-hari yang diberkahi ini, dan ambillah manfaat dari program syar'i ini, karena ilmu adalah kapal penyelamat.
 

"اصبر على مر الجفا من معلم، فإن رسوب العلم في نفراته، ومن لم يذق مر التعلم ساعة، تجرع ذل الجهل طول حياته". دعونا نختم بذكر الله والدعاء أن يجعل هذه الدورة المباركة نافعة ومثمرة، وأن يوفقنا جميعا لما يحبه ويرضاه.

 
"Bersabarlah atas kekasaran seorang guru, karena ilmu yang bermanfaat sering datang dari tegurannya. Dan siapa yang tidak merasakan pahitnya belajar sebentar, akan menelan kehinaan kebodohan sepanjang hidupnya."  (Diwan as-Syafi’i hal 41). Mari kita akhiri dengan berdzikir kepada Allah dan berdoa, semoga Allah menjadikan program ini bermanfaat dan membawa hasil yang baik, serta semoga Dia memberikan kita semua taufik untuk melakukan apa yang Dia cintai dan ridhai.
 

اللهم اجعل هذا المجلس مجلسا تكتب فيه لنا الخير، وتفتح لنا فيه أبواب الفهم، وبارك لنا في علمنا ووقتنا. وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين. والحمد لله رب العالمين. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
 
Ya Allah, jadikanlah majelis ini sebagai majelis yang Engkau catatkan kebaikan bagi kami di dalamnya, dan Engkau bukakan pintu-pintu pemahaman bagi kami. Berkahilah ilmu kami dan waktu kami. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kami Muhammad, keluarganya, dan seluruh sahabatnya. Segala puji bagi Allah,  Rabb seluruh alam. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Bersambung
Zaki Rakhmawan Abu Usaid

Minggu, 13 Oktober 2024

BUAH KEIMANAN TERHADAP TAKDIR


BUAH KEIMANAN TERHADAP TAKDIR 



Segala puji bagi Allah, salawat dan salam atas Rasulullah, keluarganya, sahabatnya, dan semua yang mengikutinya. 

Amma ba'du: 

Dalam pertemuan sebelumnya, kita telah berbicara tentang iman kepada takdir sebagai salah satu rukun iman, di mana iman seorang hamba tidak akan sempurna sampai dia beriman kepada takdir, baik yang baik maupun yang buruk, manis atau pahit, serta menyadari bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset darinya, dan apa yang luput darinya tidak akan pernah mencapainya. 
Amalnya juga tidak akan diterima sampai dia beriman kepada takdir.

Jika kita memahami bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, maka iman memiliki pengaruh yang jelas pada perilaku, akhlak, dan interaksi seorang mukmin. 
Khususnya, iman kepada takdir memiliki dampak yang paling besar pada perilaku, akhlak, dan interaksi ini. 
Mukmin dekat dengan Tuhannya, menyadari pengawasan-Nya, dan berusaha mendapatkan ridha-Nya dalam perkataan dan perbuatan, baik secara terbuka maupun tersembunyi. 
Iman kepada takdir memenuhi hati dengan keridhaan kepada Allah, agama-Nya, dan Rasul-Nya, serta ridha terhadap segala ketetapan dan ujian dari Allah, sehingga ia dapat merasakan manisnya iman dan tidak ingin menggantinya dengan apa pun.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: "Dia telah merasakan manisnya iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya." (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab al-Iman). 

Rasulullah ﷺ juga bersabda: "Ada tiga hal yang jika seseorang memilikinya, ia akan merasakan manisnya iman: mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari segalanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api." (Muttafaq ‘alaih).

Pengaruh iman kepada takdir terhadap perilaku mukmin tercermin dalam beberapa aspek, di antaranya:

Pertama: 
Menyempurnakan Pekerjaan dan Bertawakal kepada Allah Mukmin yang sejati, sebagaimana telah disebutkan, adalah orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendatangkan manfaat bagi dirinya dan orang lain, baik di dunia maupun di akhirat. 
Ia berusaha untuk mendakwahkan kebaikan dan petunjuk kepada manusia, bersabar atas kesulitan yang ia hadapi di jalan Allah, dan menyerahkan urusannya kepada Allah, tanpa rasa lemah atau malas. 
Inilah yang disebut dengan mukmin yang kuat.

Seperti sabda Rasulullah ﷺ: "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun dalam keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata, 'Jika aku lakukan ini dan itu, tentu akan terjadi begini dan begitu,' tetapi katakanlah, 'Ini adalah ketetapan Allah, dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi,' karena 'seandainya' membuka pintu bagi setan." (Diriwayatkan oleh Muslim).

Meskipun seorang mukmin sangat bersemangat dalam mencari manfaat dunia dan akhirat, seperti ilmu yang bermanfaat, amal saleh, dan usaha mencapai kemajuan dalam segala aspek kehidupan, ia tetap menegakkan salat, menunaikan zakat, memerintahkan yang baik, dan mencegah yang munkar. 
Ia hanya memakan makanan yang halal dan baik, dan menghindari segala yang haram dan buruk. 
Tujuannya mulia, dan cara-cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut juga mulia. 
Ia menjaga kesucian hati dan lisan, tidak mengungkapkan kejahatan secara terbuka, dan tidak melakukan perbuatan keji.

Dengan semua ini, ia tetap ridha dengan apa yang telah Allah takdirkan, bersabar menghadapi cobaan, dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. 

Seperti sabda Nabi ﷺ: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, karena semua urusannya adalah kebaikan baginya, dan ini hanya berlaku bagi seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, maka itu juga baik baginya." (Diriwayatkan oleh Muslim).

 Ia tidak menyesali apa yang telah luput darinya, dan tidak berbangga dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya. Ia tidak mengucapkan seperti perkataan orang kafir terhadap nikmat Allah, 
"Ini diberikan kepadaku karena ilmu yang ada padaku," (QS. Al-Qashash: 78), 

tetapi ia berkata,
 "Ini adalah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Ma'idah: 54).

Allah berfirman: 
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Al-Hadid: 22-23).

Seorang mukmin yang beriman kepada takdir tetap bersandar kepada Allah, mengambil sebab-sebab yang diizinkan, dan hatinya bergantung kepada Sang Penyebab, Allah Ta'ala. 
Ia memahami bahwa doa dapat mengubah takdir, sehingga ia selalu berdoa memohon kepada Allah agar diberi taufik, keteguhan, petunjuk, dan perlindungan dari segala bahaya dan musibah.

Kedua: 
Perilaku Lurus dengan Sesama Manusia Ketika seorang hamba yakin bahwa manfaat dan bahaya datangnya dari Allah, dan bahwa manusia tidak memiliki kuasa apa-apa dalam urusan ini, maka hatinya hanya bergantung kepada Allah, dan ia berusaha untuk mendapatkan ridha-Nya, bukan ridha manusia. Ini membuatnya meninggalkan cara-cara buruk dalam berinteraksi dengan manusia. 
Ia tidak akan berbohong, menipu, atau berpura-pura demi mencapai tujuan duniawi.

Ia juga tidak akan mengkhianati, menzalimi, atau mendustai hak-hak orang lain, karena ia tahu bahwa apa yang sudah Allah takdirkan untuknya akan ia terima, dan apa yang bukan untuknya tidak akan pernah ia peroleh meskipun ia berusaha keras dengan cara-cara yang haram.

Iman kepada takdir mendorong seorang mukmin untuk memiliki sifat amanah dan jujur dalam seluruh interaksi sosial dan transaksi duniawinya. 
Ia selalu bersikap adil dalam jual beli, muamalah, dan dalam memenuhi janji. Ia senantiasa berlaku baik kepada sesama makhluk karena ia tahu bahwa semua manusia adalah bagian dari ketetapan Allah, dan ia harus berbuat baik kepada mereka seperti yang diperintahkan oleh-Nya.

Sikap ini melahirkan hubungan yang harmonis dan berimbang antara seorang mukmin dan sesama manusia, berdasarkan cinta, keadilan, dan ketulusan. Ia tidak dendam atau iri hati, karena ia menyadari bahwa rezeki, kehormatan, dan takdir manusia telah ditentukan oleh Allah. Ia pun tidak suka jika saudara muslimnya tertimpa musibah atau kesulitan, bahkan ia akan berusaha menolongnya. 

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga: 
Kesabaran dan Keteguhan dalam Menghadapi Cobaan

Mukmin yang beriman kepada takdir memiliki kekuatan untuk menghadapi ujian dan musibah yang datang dari Allah. Ketika ia mengalami musibah, kesulitan, atau kehilangan, ia bersabar, berserah diri kepada Allah, dan tidak putus asa. 
Ia memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah bagian dari ketetapan Allah, dan di balik setiap ujian pasti terdapat hikmah yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang, Dia akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari). 

Hal ini menunjukkan bahwa ujian adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, agar ia lebih dekat dengan-Nya dan diberikan balasan pahala di akhirat. Dengan demikian, seorang mukmin menghadapi segala cobaan hidup dengan kesabaran yang tinggi, keyakinan yang kuat, dan pengharapan yang tulus kepada Allah.

Ia pun tidak pernah putus asa dari rahmat Allah, karena ia memahami bahwa rahmat dan kasih sayang Allah lebih besar dari segala musibah yang ia hadapi. 

Dalam firman Allah: 
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6). 

Keyakinan ini membuat hati seorang mukmin selalu tenang dan tidak goyah, meskipun ia menghadapi berbagai rintangan dan cobaan.

Keempat:
 Berusaha Mendapatkan Rezeki yang Halal

Tidak diragukan lagi bahwa masalah rezeki menjadi perhatian banyak orang, begitu pula masalah ajal. 
Seorang mukmin yang bertawakal kepada Allah tidak terlalu disibukkan oleh kedua hal tersebut, karena ia yakin sepenuhnya bahwa rezeki telah ditentukan dan ajal telah ditetapkan.
 Tidak ada seorang pun yang bisa mengurangi rezekinya, sebagaimana tidak ada yang bisa mempercepat atau menunda ajalnya. Namun, ini tidak berarti bahwa orang yang bertawakal mengabaikan usaha dalam mencari rezeki. Ia yakin bahwa apa yang ditakdirkan untuknya tidak akan meleset darinya, dan apa yang tidak ditakdirkan untuknya tidak akan ia peroleh.

Oleh karena itu, ia tidak akan membunuh anaknya karena takut miskin, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang jahiliah dahulu. Ia juga tidak akan mencegah keturunannya atau menggugurkan istrinya, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang di zaman modern ini. 
Ia memandang keturunan sebagai rezeki dari Allah yang telah dijamin oleh-Nya. Namun, ia tetap berusaha memperbaiki kualitas keturunannya, meningkatkan taraf hidup mereka, serta memberikan pendidikan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka.

Tanggung jawab ini ada pada seorang pria terhadap keluarganya, seorang wanita terhadap anak-anaknya di rumah, seorang guru terhadap murid-muridnya, dan seorang pemimpin terhadap masyarakat muslim.

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Seorang mukmin dalam urusan rezeki tidak akan beralih kepada yang haram. 
Ia mencari penghasilan yang baik dan menghindari cara-cara mendapatkan rezeki yang buruk, karena ia tahu bahwa rezekinya tidak akan pernah meleset darinya. Jadi, mengapa ia harus tamak terhadap yang haram, padahal Sang Pemberi Rezeki telah menjamin rezekinya?

Ia juga tidak akan sibuk mengejar dunia sehingga melupakan akhiratnya. Sebaliknya, ia berusaha mengumpulkan amal kebajikan dan berlomba-lomba dalam ketaatan, karena ia menginginkan bagian yang lebih besar dari rezeki yang telah ditetapkan, yaitu surga. Ia menginginkan surga Firdaus yang tertinggi, dan memohon kepada Allah untuk mendapatkannya.

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Jika kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus, karena ia adalah surga yang paling tinggi dan paling mulia, di atasnya terdapat Arsy Allah, dan dari surga itu mengalir sungai-sungai surga” (HR. Bukhari).

Para muslim awal percaya kepada janji Allah dan merasa tenang dengan jaminan-Nya, sehingga mereka mengorbankan harta dan jiwa di jalan Allah, karena kerinduan mereka terhadap surga dan ketakutan mereka terhadap neraka. 

Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Perang Tabuk memberikan seluruh hartanya di jalan Allah. Nabi ﷺ bertanya kepadanya: “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” 
Abu Bakar menjawab: “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Meskipun rezeki itu penting, ia bukan hanya terkait dengan perkara dunia. 
Rezeki mencakup hal-hal yang lebih luas dan lebih penting daripada harta atau materi.
 Karena itu, seorang mukmin yang bertawakal akan mencari istri yang salehah dan beragama yang akan membantunya dalam urusan dunia dan akhirat. 

Nabi ﷺ bersabda: “Pilihlah wanita yang beragama, engkau akan beruntung” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian pula, seorang mukmin menginginkan keturunan yang saleh yang akan menjadi penyejuk hatinya dan menjadi pewarisnya setelah ia tiada dalam membangun bumi dan beribadah kepada Allah. 
Dari keturunan yang saleh, ia akan mendapat manfaat besar dari amal dan doa mereka setelah kematiannya. 

Oleh karena itu, Nabi Ibrahim berdoa: 
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh” (QS. Ash-Shaffat: 100).

 Nabi Zakaria juga berdoa:
 “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa” (QS. Ali Imran: 38).

Salah satu rahmat Allah adalah bahwa amal dan doa anak yang saleh akan terus mengalir pahalanya kepada orang tuanya, bahkan Allah akan mengangkat derajat orang tua bersama anak-anak mereka.

 Allah berfirman:
 “Dan orang-orang yang beriman serta diikuti oleh anak cucu mereka dengan keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Setiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Ath-Thur: 21).

 Nabi ﷺ bersabda: 
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya” (HR. Muslim).

Hal terbaik yang diinginkan oleh seorang mukmin setelah iman dan keyakinan adalah agar Allah memberinya kesehatan di dunia dan akhirat. 

Nabi ﷺ bersabda:
 “Wahai manusia, mintalah kepada Allah kesehatan, karena tidak ada anugerah yang lebih baik setelah keyakinan daripada kesehatan” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Seorang mukmin meyakini bahwa ajal telah ditetapkan dan rezeki telah dibagi, dan bahwa Allah-lah Sang Pemberi Rezeki Yang Maha Kuat lagi Maha Kokoh. 

Allah berfirman:
 “Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia, maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan-Nya)?” (QS. Fathir: 3).

Oleh karena itu, ia berusaha mencari rezeki dengan cara-cara yang halal, dan hatinya tetap bergantung kepada Sang Pemberi Rezeki. 
Ia merasa tenang bahwa rezekinya telah dijamin, sehingga ia mencari rezeki tanpa rasa tamak atau bergantung sepenuhnya kepada dunia.

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) telah membisikkan kepadaku bahwa tidak ada satu jiwa pun yang akan meninggal hingga ia menyempurnakan rezekinya dan ajalnya. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik” (HR. Abu Nu’aim).

Kelima: 
Menyaksikan Takdir

Seorang mukmin yang beriman kepada takdir Allah tahu dengan pasti bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset darinya.
 Ia sabar dan teguh ketika menghadapi cobaan yang tidak dapat ia hindari. 

Allah berfirman: 
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa, melainkan dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan petunjuk kepada hatinya” (QS. At-Taghabun: 11).

Allah juga berfirman: 
“Dan pasti Kami akan menguji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: 'Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali'. Mereka itulah yang memperoleh keberkahan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah: 155-157).

Seorang mukmin menyaksikan takdir Allah ketika musibah datang, sehingga ia merasa ridha dan berserah diri, serta mengucapkan sabda Rasulullah ﷺ:
 “Sesungguhnya mata ini meneteskan air mata, dan hati ini merasa sedih, tetapi kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Tuhan kami.”

Ia juga melihat petunjuk dan taufik untuk taat, sehingga ia tidak merasa memiliki kebaikan apa pun. 
Ia tidak membiarkan rasa bangga masuk ke dalam hatinya. Sebaliknya, ia melihat karunia Allah yang telah memberinya petunjuk dan hidayah. 
Di sisi lain, ia menyadari kekurangan dan ketidakmampuannya untuk memenuhi hak-hak ibadah. 

Para sahabat Nabi ﷺ dahulu sering berkata:
“Demi Allah, jika bukan karena Allah, kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak akan bersedekah, dan tidak akan shalat. Maka, turunkanlah ketenangan kepada kami dan teguhkan langkah kami jika kami bertemu dengan musuh.”

Ibn Qayyim berkata: 
“Hak Allah dalam ibadah ada enam: ikhlas, mengikuti sunnah, nasihat, berbuat baik, menyaksikan karunia Allah, dan memperhatikan kelemahan diri.”

Adapun dalam hal dosa dan maksiat, ia tidak beralasan dengan takdir Allah untuk membela dirinya. 
Sebaliknya, ia akan menyesali dirinya dan mengajak dirinya untuk bertaubat dan kembali kepada Allah. 
Jika ia bertaubat dan kembali, maka tidak ada seorang pun yang berhak menegur atau menyalahkannya atas dosa yang telah ia tinggalkan.

Rasulullah ﷺ bersabda: 
“Adam dan Musa Alaihima salam berdebat di hadapan Tuhan mereka. 
Adam memenangkan argumennya. 
Musa berkata: 'Engkaulah Adam, yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya, dan Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam dirimu. Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadamu, dan Allah menempatkanmu di dalam surga. 
Namun, engkau menyebabkan manusia terjatuh ke bumi karena kesalahanmu.' Adam menjawab: 'Engkaulah Musa, yang Allah pilih dengan risalah-Nya dan yang berbicara langsung dengan-Nya. Apakah engkau menyalahkan aku atas sesuatu yang telah ditakdirkan Allah sebelum aku diciptakan empat puluh tahun?'”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Maka Adam memenangkan argumennya atas Musa.”

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Gamal Al-Marakabi


Rabu, 09 Oktober 2024

PENGARUH IMAN KEPADA TAKDIR


PENGARUH IMAN KEPADA TAKDIR TERHADAP PERILAKU ORANG BERIMAN 



((   Jika seseorang yakin bahwa manfaat dan bahaya berada di tangan Allah Ta'ala, dan bahwa makhluk tidak memiliki kendali atas hal-hal tersebut, hatinya akan bergantung kepada Allah dan ia akan berusaha mencari keridhaan-Nya, bukan keridhaan manusia. 
Ini akan menjauhkannya dari metode buruk dalam berinteraksi dengan orang lain, sehingga ia tidak akan berbohong, munafik, atau menjilat demi mencapai tujuan duniawi. 
Keyakinan ini akan melahirkan kejujuran dan keteguhan dalam menjalankan perintah Allah Ta'ala.   ))



Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya.

Adapun selanjutnya:

Kami telah berbicara sebelumnya tentang iman kepada takdir sebagai salah satu rukun iman. 
Iman seseorang tidak sempurna sampai ia percaya kepada takdir, baik yang baik maupun buruk, manis ataupun pahit, dan mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset darinya, dan apa yang meleset darinya tidak akan menimpanya. Perbuatannya tidak akan diterima sampai ia beriman kepada takdir. 
Ketika kita mengetahui bahwa iman terdiri dari perkataan dan perbuatan, iman memiliki pengaruh yang jelas terhadap perilaku, akhlak, dan interaksi orang beriman. Iman kepada takdir, khususnya, memiliki pengaruh yang besar dalam perilaku, akhlak, dan interaksi tersebut. Orang beriman dekat dengan Tuhannya, merasakan pengawasan Allah, dan berusaha mencari keridhaan-Nya dalam perkataan dan perbuatan, baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan.

Iman kepada takdir memenuhi hati dengan keridhaan kepada Allah, agamanya, dan Rasul-Nya, serta keridhaan terhadap ketetapan Allah dalam setiap cobaan. Dengan ini, ia merasakan manisnya iman dan tidak akan menggantinya dengan apa pun. 

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam: "Akan merasakan manisnya iman bagi yang ridha kepada Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya" (HR. Muslim).

Beliau juga bersabda: "Ada tiga hal, yang barang siapa memilikinya akan merasakan manisnya iman: mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi yang lain, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan membenci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia membenci untuk dilemparkan ke dalam neraka" (Muttafaq 'alayh).

Pengaruh iman kepada takdir dalam perilaku orang beriman terlihat dalam berbagai aspek ;

pertama :  
Dalam kesempurnaan pekerjaan dan tawakal yang baik kepada Allah Ta'ala. Orang beriman, seperti yang kami katakan, bersemangat untuk melakukan apa yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain di dunia dan akhirat. 
Ia gigih dalam mengajak orang kepada kebaikan dunia dan akhirat, sabar dalam menghadapi gangguan demi mencari keridhaan Allah, mengharapkan pahala dari Allah, dan bersandar kepada-Nya, tanpa lemah atau bermalas-malasan. Inilah yang disebut mukmin yang kuat.

Seperti yang disabdakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam: "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan di setiap keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu, jangan berkata, 'Seandainya aku lakukan ini dan itu, pasti akan terjadi demikian dan demikian,' tetapi katakan, 'Takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki telah terjadi,' karena 'seandainya' membuka pintu perbuatan setan" (HR. Muslim).

Di samping kesungguhannya dalam mencari hal-hal yang bermanfaat di dunia dan akhirat seperti ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, dan usaha mencapai kemajuan dalam setiap aspek kehidupan, ia menegakkan shalat, membayar zakat, menyuruh yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar, memakan yang halal dan baik, dan menjauhi segala yang haram dan buruk. 
Tujuannya mulia, dan cara-cara untuk mencapai tujuannya juga terhormat. Ia menjaga kebersihan hati dan lidahnya, tidak berteriak-teriak dengan kata-kata buruk, dan tidak melakukan perbuatan keji. Dalam semua ini, ia tetap ridha dengan apa yang Allah takdirkan untuknya, bersabar dalam menghadapi ujian, dan bersyukur atas nikmat. 

Seperti yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam: "Sungguh menakjubkan urusan orang beriman, karena segala urusannya baik baginya. Ini hanya berlaku bagi orang beriman. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar dan itu baik baginya" (HR. Muslim).

Ia tidak menyesali atau bersedih atas rezeki yang terlewatkan di dunia, juga tidak berbangga dengan apa yang Allah berikan kepadanya, dan ia tidak berkata seperti orang kafir yang ingkar kepada nikmat Allah:
 "Sesungguhnya aku diberi ini karena ilmu yang ada padaku" (QS. Al-Qashash: 78),

 tetapi ia berkata: 
"Itulah karunia Allah, yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui" (QS. Al-Maidah: 54). 

Allah SWT berfirman:
 "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu" (QS. Al-Hadid: 22).

Orang beriman bersandar kepada Allah, mengambil sebab-sebab yang ada, dan hatinya tergantung kepada Allah, Sang Pengatur segala sebab. 
Ia berusaha menentang takdir dengan takdir yang lain, seperti yang dilakukan Umar bin Khattab ketika memasuki wilayah Syam dan diberitahu bahwa wabah telah menyebar di sana.
 Umar ingin kembali, dan Abu Ubaidah bin Jarrah berkata kepadanya: "Apakah engkau lari dari takdir Allah?" 
Umar menjawab: "Seandainya orang lain yang berkata demikian. Aku lari dari takdir Allah menuju takdir Allah." 
Ia juga tahu bahwa doa bisa mengubah takdir, sehingga ia selalu memohon kepada Allah untuk keteguhan, hidayah, kebaikan, dan perlindungan dari bahaya dan bencana.


Kedua: 
Perilaku Lurus Terhadap Sesama

Jika seorang hamba meyakini bahwa manfaat dan bahaya ada di tangan Allah Ta'ala, dan makhluk tidak memiliki kuasa atas hal itu, maka hatinya akan terpaut kepada Allah, dan ia akan berusaha mencari keridhaan-Nya, bukan keridhaan manusia. 
Hal ini membuatnya meninggalkan cara-cara yang buruk dalam berinteraksi dengan orang lain, seperti berbohong, berpura-pura, atau berdusta demi tujuan duniawi. Sikap ini menanamkan kejujuran dan keteguhan dalam menaati perintah Allah Ta'ala.

Jika seorang hamba menyadari bahwa ajalnya berada di tangan Allah Ta'ala, dan bahwa ancaman terbesar dari musuhnya, yaitu kematian, hanya terjadi atas kehendak Allah Ta'ala, bukan karena kehendak makhluk, maka hal ini akan memberinya keberanian dalam menghadapi musuh dan dalam amar ma'ruf nahi munkar. 

Allah Ta'ala berfirman:
"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meskipun kamu berada di benteng yang tinggi lagi kokoh." (QS. An-Nisa: 78)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman:
"Mereka berkata: 'Sekiranya ada hak campur tangan bagi kami dalam urusan ini, tentulah kami tidak akan dibunuh di sini.' Katakanlah: 'Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh.'" (QS. Ali 'Imran: 154)

Seorang hamba yang menyadari bahwa semua yang terjadi pada dirinya dari kekurangan atau keburukan dari orang lain adalah atas ketetapan Allah Ta'ala, maka hal ini akan mendorongnya untuk memaafkan orang yang mendzaliminya, atau yang berbuat buruk kepadanya. Contohnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selalu bersabar menghadapi gangguan, dan membalas keburukan dengan kebaikan. 
Beliau tidak pernah membalas dendam untuk dirinya sendiri, tetapi jika hak-hak Allah dilanggar, maka tidak ada yang bisa menahan kemarahannya hingga Allah Ta'ala dipuaskan. 

Banyak sekali peristiwa di mana Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam berkata saat beliau disakiti:
"Semoga Allah merahmati Musa, ia lebih banyak disakiti daripada ini namun ia tetap bersabar."

Anas bin Malik berkata:
 "Aku telah melayani Nabi selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah berkata kepadaku tentang sesuatu yang telah kulakukan, 'Mengapa kamu lakukan itu?' atau tentang sesuatu yang tidak kulakukan, 'Mengapa kamu tidak melakukannya?' Jika ada di antara keluarganya yang mencelaku, Nabi akan berkata, 'Biarkan dia, jika sesuatu telah ditetapkan, pasti akan terjadi.'"


Ketiga: 
Menggabungkan Rasa Takut dan Harapan. 

Orang yang beriman kepada takdir menyembah Tuhannya dengan perasaan takut dan berharap; karena dia yakin bahwa yang paling penting adalah akhir hidupnya. Orang yang beruntung adalah mereka yang dipilih oleh Allah untuk meraih kebahagiaan, dan orang yang celaka adalah mereka yang telah ditentukan untuk bernasib buruk sejak dalam rahim ibunya. Seseorang mungkin beramal seperti ahli surga menurut pandangan manusia, namun di akhir hidupnya ia melakukan amal yang menghantarnya ke neraka, dan sebaliknya.

Oleh sebab itu, orang beriman harus senantiasa berharap pada rahmat Allah dan takut akan azab-Nya. 
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sendiri, sebagai pemimpin umat manusia, selalu hidup dengan perasaan takut dan berharap. 

Allah Ta'ala berfirman: 
“Dan Zakariya ketika dia menyeru Tuhannya, 'Wahai Tuhanku, janganlah Engkau membiarkanku sendirian tanpa keturunan, dan Engkau adalah pewaris yang terbaik.' Maka Kami mengabulkan doanya dan memberinya seorang putra, Yahya, serta memperbaiki keadaan istrinya. Sungguh mereka selalu bersegera dalam kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan takut. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 89-90)

Demikian pula, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dalam doanya berkata: 
“Ya Allah, dengan ilmu-Mu terhadap yang gaib dan kekuasaan-Mu terhadap makhluk, hidupkanlah aku selama Engkau mengetahui bahwa hidup itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku. 
Ya Allah, aku memohon rasa takut kepada-Mu di saat gaib dan di saat terlihat, dan aku memohon kata-kata yang benar baik dalam keridhaan maupun dalam kemarahan, serta aku memohon kesederhanaan dalam kekayaan dan kemiskinan. 
Aku memohon nikmat yang tidak pernah habis, dan aku memohon kebahagiaan yang tidak pernah terputus. 
Aku memohon ridha setelah keputusan-Mu, dan aku memohon kenikmatan melihat wajah-Mu, serta kerinduan untuk bertemu dengan-Mu tanpa menghadapi kesulitan yang membahayakan atau fitnah yang menyesatkan. 
Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mendapatkan petunjuk”. (HR. An-Nasa’i)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga pernah bersabda: 
"Demi Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, salah seorang dari kalian mungkin beramal dengan amal ahli surga hingga jaraknya dengan surga tinggal satu hasta, tetapi catatan takdir mendahuluinya sehingga ia beramal dengan amal ahli neraka dan masuk ke dalamnya. Dan salah seorang dari kalian mungkin beramal dengan amal ahli neraka hingga jaraknya dengan neraka tinggal satu hasta, tetapi catatan takdir mendahuluinya sehingga ia beramal dengan amal ahli surga dan masuk ke dalamnya" (HR. Muslim dalam Kitab Takdir).

Imam Al-Bukhari dalam kitab "Ar-Riqaq" dari Shahih-nya mengutip hadits Abu Hurairah yang mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Allah menciptakan rahmat ketika menciptakan-Nya menjadi seratus bagian. Dia menahan sembilan puluh sembilan bagian, dan hanya mengirimkan satu bagian ke seluruh makhluk-Nya. 
Jika orang kafir mengetahui seluruh rahmat yang ada di sisi Allah, dia tidak akan putus asa untuk masuk surga. Dan jika orang beriman mengetahui seluruh siksa yang ada di sisi Allah, dia tidak akan merasa aman dari neraka”.


Keempat: 
Menahan Diri dari Dunia dan Bersikap Zuhud

Iman kepada takdir juga mendorong seorang hamba untuk tidak tamak terhadap dunia dan apa yang ada di dalamnya. Karena dia yakin bahwa rezeki dan takdir telah ditetapkan oleh Allah Ta'ala, seorang hamba tidak akan gelisah jika rezekinya tampak sedikit. 
Dia tidak akan terobsesi dengan kekayaan dunia, karena ia tahu bahwa apa yang Allah tuliskan untuknya, tidak akan luput darinya.

 Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian terlalu rakus terhadap dunia, sebab sesungguhnya apa yang Allah telah tentukan sebagai rezekimu, akan sampai kepadamu tanpa kamu kejar” (HR. Ibnu Majah).

Ketika seorang hamba mengimani bahwa dunia hanyalah sementara, dan bahwa kehidupan akhirat adalah tujuan akhir, ia akan memilih zuhud (hidup sederhana) dalam kehidupan dunia. Zuhud tidak berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, namun itu adalah sikap hati yang tidak terlalu terikat dengan dunia dan lebih mengutamakan akhirat. 
Ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya, yang meskipun memiliki kekayaan, mereka tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.

Sikap zuhud ini juga akan menjauhkan seseorang dari kecemburuan dan iri hati terhadap orang lain. 
Seorang hamba yang beriman kepada takdir akan memahami bahwa apa yang dimiliki orang lain adalah bagian dari takdir mereka yang telah ditetapkan oleh Allah, dan bahwa Allah Maha Bijaksana dalam membagi rezeki-Nya. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian, dan jangan melihat orang yang lebih tinggi dari kalian, karena hal itu akan lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah” (HR. Muslim).


Kelima: 
Sabar dalam Menghadapi Ujian

Iman kepada takdir mengajarkan seorang hamba untuk sabar dan ridha dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan hidup. 
Dia sadar bahwa segala yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah, dan bahwa setiap cobaan mengandung hikmah dan kebaikan, meskipun dia mungkin tidak dapat memahaminya pada saat itu. 

Allah berfirman: 
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (QS. Al-Baqarah: 216).

Ketika seorang hamba yakin bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah, dia tidak akan terlalu larut dalam kesedihan ketika ditimpa musibah. 
Sebaliknya, dia akan menerima ujian tersebut dengan penuh kesabaran, dan berharap pahala dari Allah. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman, karena semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapat kebaikan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, dan itu baik baginya" (HR. Muslim).

Sikap sabar inilah yang membuat seorang hamba menjadi kuat dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. 
Ujian yang berat tidak akan melemahkan keimanannya, melainkan justru memperkuat hubungan hatinya dengan Allah. 

Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kehilangan putranya, Ibrahim, beliau bersabda: “Mata ini menangis dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kami. Sungguh, kami sangat sedih dengan perpisahanmu, wahai Ibrahim” (HR. Al-Bukhari).


Keenam: 
Tawakal kepada Allah Ta'ala 

Orang yang beriman kepada takdir akan berserah diri sepenuhnya kepada Allah, karena dia tahu bahwa segala sesuatu di bawah kendali Allah. 
Dia memahami bahwa meskipun dia harus berusaha dengan sebaik mungkin, hasil akhirnya ada di tangan Allah. 
Tawakal tidak berarti meninggalkan usaha, tetapi berusaha semaksimal mungkin kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. 

Allah berfirman: "Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Dia telah menjadikan ketentuan bagi setiap sesuatu" (QS. At-Talaq: 3).

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan contoh sempurna dalam hal tawakal. 
Ketika dalam Perang Uhud, meskipun beliau berencana dan mempersiapkan segalanya dengan matang, beliau tetap mengingatkan para sahabatnya bahwa kemenangan atau kekalahan ada di tangan Allah. 

Beliau bersabda: “Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Mereka keluar di pagi hari dalam keadaan lapar, dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang” (HR. At-Tirmidzi).

Tawakal juga berarti menerima keputusan Allah dengan lapang dada. 
Seorang yang tawakal tidak akan kecewa atau marah jika hasil usahanya tidak sesuai dengan harapan, karena dia yakin bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik menurut Allah Ta'ala. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Jika engkau memohon kepada Allah, maka mohonlah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai” (HR. At-Tirmidzi).

Dengan demikian, iman kepada takdir memberikan ketenangan jiwa, keteguhan hati, dan sikap optimis dalam menjalani kehidupan. 
Keyakinan bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Allah membuat seorang hamba tidak mudah goyah oleh perubahan keadaan dunia, dan dia akan senantiasa bersyukur dan bersabar, serta tawakal kepada Allah dalam segala keadaan.


Ketujuh: 
Menjaga Lisan dan Perilaku dari Keluh Kesah

Orang yang beriman kepada takdir akan berhati-hati dalam menyikapi cobaan dan ujian hidup, termasuk menjaga lisan dan perilaku agar tidak jatuh dalam keluh kesah atau penyesalan yang berlebihan. 
Dia sadar bahwa segala yang terjadi adalah atas kehendak Allah, dan sikap keluh kesah hanya akan menjauhkan dirinya dari keridhaan Allah Ta'ala. 

Keluhan yang berlebihan dan perilaku yang menunjukkan ketidakpuasan terhadap ketentuan Allah dapat mengurangi pahala dari ujian yang dihadapinya. 

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu bersikap positif, baik dalam ucapan maupun tindakan, meskipun berada dalam situasi yang sulit. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah berupa sakit atau selainnya, melainkan Allah menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ketika seorang hamba menjaga lisannya dari keluhan, dia akan lebih mudah mengarahkan pikirannya untuk bersyukur dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa. 
Kesadaran bahwa segala sesuatu telah ditetapkan dengan hikmah dan kebijaksanaan Allah akan membuatnya lebih tenang dalam menghadapi ujian hidup, serta menjauhkan dirinya dari sikap terburu-buru dalam menyalahkan keadaan.


Kedelapan: 
Meningkatkan Hubungan dengan Allah melalui Doa

Iman kepada takdir tidak berarti bahwa seorang hamba harus pasif dan hanya menerima segala yang terjadi tanpa usaha. Sebaliknya, dia tetap diperintahkan untuk berdoa dan memohon kepada Allah atas segala kebutuhannya. Dalam ajaran Islam, doa merupakan bentuk penghambaan yang paling mulia, dan melalui doa, seorang hamba menunjukkan kerendahan hatinya serta pengakuan bahwa segala sesuatu di tangan Allah Ta'ala.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 
“Doa adalah senjata orang beriman, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi” (HR. Hakim). 

Dengan iman kepada takdir, seorang hamba akan menyadari bahwa doa bukanlah sekadar permintaan, melainkan juga sarana untuk mempererat hubungan dengan Allah Ta'ala. 
Dia akan bersungguh-sungguh dalam berdoa, dengan penuh keyakinan bahwa apapun yang diminta, jika itu baik baginya, akan dikabulkan oleh Allah Ta'ala.

Selain itu, doa juga memberikan kekuatan batin dalam menghadapi ujian hidup. Seorang hamba yang sering berdoa akan merasa lebih dekat dengan Allah, dan dengan demikian, dia akan lebih mudah menerima apapun yang telah ditetapkan oleh Allah. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat indah untuk memohon kebaikan dari takdir, yaitu:
 “Ya Allah, takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun aku berada, dan jauhkanlah aku dari keburukan” (HR. Ahmad).


Kesembilan: 
Berprasangka Baik kepada Allah Ta'ala 

Seorang mukmin yang mengimani takdir akan senantiasa berprasangka baik kepada Allah, meskipun menghadapi berbagai kesulitan. 
Dia yakin bahwa apapun yang Allah tetapkan adalah yang terbaik untuk dirinya, dan bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya. 

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta'ala berfirman: 
"Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka ia akan mendapat kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk, maka ia akan mendapatkan keburukan” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Prasangka baik kepada Allah akan membuat seorang hamba lebih optimis dan tenang dalam menghadapi hidup. 
Dia tidak akan merasa putus asa ketika doanya belum dikabulkan atau ketika dia belum mendapatkan apa yang dia inginkan. 
Sebaliknya, dia akan selalu yakin bahwa Allah memiliki rencana yang lebih baik untuknya. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 
“Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman. Semua urusannya adalah kebaikan baginya” (HR. Muslim).

Dengan berprasangka baik, seorang mukmin juga akan lebih mudah bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan, sekaligus lebih bersabar ketika menghadapi cobaan. 
Dia akan senantiasa mengingat bahwa segala yang terjadi, baik atau buruk menurut pandangannya, adalah bagian dari kasih sayang Allah yang ingin membawanya lebih dekat kepada-Nya.


Kesepuluh: 
Mengingat Kematian dan Kehidupan Akhirat

Iman kepada takdir mengingatkan seorang hamba bahwa kehidupan dunia ini bersifat sementara dan penuh dengan ujian. Namun, kehidupan akhirat adalah tujuan utama, di mana hasil dari setiap amal perbuatan di dunia akan dipertanggungjawabkan. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
 “Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati” (HR. Ibnu Majah).

Dengan mengingat kematian, seorang mukmin akan lebih mudah menerima takdir yang menimpanya, karena dia sadar bahwa kesulitan dunia hanyalah sementara. 
Dia akan lebih fokus untuk memperbanyak amal kebaikan dan memperbaiki hubungannya dengan Allah, sehingga ketika kematian datang, dia siap untuk menghadapi kehidupan yang abadi di akhirat. 

Allah Ta'ala berfirman: 
“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu” (QS. Ali ‘Imran: 185).

Akhirnya, iman kepada takdir memberikan kepada seorang hamba landasan yang kokoh untuk menghadapi berbagai dinamika kehidupan. 
Dengan keyakinan bahwa segala sesuatu diatur oleh Allah yang Maha Bijaksana, seorang mukmin akan menjalani hidup dengan lebih tenang, optimis, sabar, dan tawakal. 
Semua ini adalah bekal yang sangat berharga untuk meraih keridhaan Allah di dunia dan akhirat.


Kesebelas: 
Sabar dan Tawakal dalam Menghadapi Cobaan

Seorang mukmin yang beriman kepada takdir akan selalu bersabar dalam menghadapi cobaan hidup. Kesabaran merupakan salah satu ciri orang yang beriman, dan Allah menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang bersabar.

 Allah berfirman:
 “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10).

Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi lebih kepada ketahanan hati dalam menerima ketentuan Allah. 
Orang yang sabar tidak akan mengeluh atau memberontak terhadap takdir Allah, melainkan akan tetap teguh dan berusaha mencari solusi terbaik dari setiap masalah yang dihadapinya. 
Dia memahami bahwa cobaan adalah bagian dari ujian iman, dan bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar kemampuannya. 

Sebagaimana firman Allah: 
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286).

Selain sabar, seorang mukmin juga akan bertawakal kepada Allah Ta'ala. 
Tawakal adalah sikap menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah melakukan ikhtiar maksimal. 
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi justru berusaha sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

 Dalam sebuah hadits disebutkan: 
“Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberi rezeki kepadamu sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung yang keluar pagi dalam keadaan lapar dan kembali sore dalam keadaan kenyang” (HR. Tirmidzi).

Tawakal memberikan ketenangan hati karena seorang mukmin menyadari bahwa apapun hasil dari usahanya, itu adalah yang terbaik menurut Allah. 
Dengan sikap sabar dan tawakal, seorang hamba akan lebih mudah menghadapi berbagai tantangan hidup, serta menjadikan setiap ujian sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.


Keduabelas: 
Menghindari Rasa Putus Asa

Iman kepada takdir mencegah seorang mukmin dari rasa putus asa, meskipun menghadapi kegagalan atau kehilangan dalam hidup. 
Putus asa adalah salah satu bentuk kelemahan iman, dan Islam sangat menganjurkan untuk selalu optimis dan berharap kepada Allah. 

Allah berfirman: 
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir” (QS. Yusuf: 87).

Rasa putus asa muncul ketika seseorang tidak lagi melihat harapan dari situasi yang dihadapinya, namun seorang mukmin yang beriman kepada takdir akan selalu menyadari bahwa rahmat Allah sangat luas, dan Allah bisa mengubah keadaan kapan saja. 
Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan bahwa seorang hamba harus selalu berprasangka baik kepada Allah dan tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. 

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 
“Jika kiamat terjadi dan di tangan salah seorang dari kalian ada benih, maka hendaklah ia menanamnya” (HR. Ahmad).

Hadits ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan untuk tetap berusaha, meskipun tampaknya harapan sudah habis. 
Dengan keyakinan kepada takdir, seorang mukmin tidak akan membiarkan dirinya terjebak dalam keputusasaan, tetapi justru akan bangkit dan terus berusaha dengan penuh harapan kepada Allah.


Ketigabelas: 
Membentuk Sikap Rendah Hati dan Tidak Sombong

Iman kepada takdir juga membentuk sikap rendah hati dan menjauhkan seorang mukmin dari sifat sombong. 
Dia menyadari bahwa apapun yang dia capai di dunia ini adalah berkat karunia Allah, bukan semata-mata karena usaha atau kemampuannya. Dengan pemahaman ini, seorang mukmin tidak akan merasa sombong atas keberhasilannya, melainkan selalu bersyukur dan merendahkan hati di hadapan Allah Ta'ala.

Sombong adalah salah satu sifat yang sangat dibenci oleh Allah Ta'ala. 

Dalam hadits qudsi, Allah Ta'ala berfirman: “Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Siapa yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, maka akan Aku masukkan ke dalam neraka” (HR. Muslim). 

Seorang mukmin yang beriman kepada takdir akan senantiasa menjauhkan diri dari sifat sombong, karena dia menyadari bahwa segala yang dia miliki hanyalah titipan sementara dari Allah, dan bisa diambil kapan saja oleh-Nya.

Dengan sikap rendah hati, seorang mukmin akan lebih mudah meraih keridhaan Allah, dan akan lebih dicintai oleh orang-orang di sekitarnya. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
 “Barangsiapa yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya” (HR. Muslim).


Keempatbelas: 
Menyadari Bahwa Dunia Hanyalah Ujian Sementara

Terakhir, iman kepada takdir mengajarkan bahwa dunia ini hanyalah tempat ujian, dan kehidupan yang sebenarnya adalah di akhirat. 
Seorang mukmin yang beriman kepada takdir akan menyadari bahwa segala kenikmatan atau kesulitan yang dia alami di dunia adalah ujian dari Allah, untuk melihat sejauh mana keimanan dan ketakwaannya.

Allah berfirman: 
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kalian dikembalikan” (QS. Al-Anbiya: 35). 

Dengan pemahaman ini, seorang mukmin tidak akan terlalu terikat dengan dunia, tetapi akan lebih fokus mempersiapkan diri untuk kehidupan di akhirat.

Dia akan memanfaatkan segala kesempatan di dunia ini untuk memperbanyak amal kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah, karena dia tahu bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 
“Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang musafir yang sedang melewati jalan” (HR. Al-Bukhari).

Dengan demikian, iman kepada takdir membawa ketenangan jiwa dan kesadaran bahwa apapun yang terjadi di dunia ini, semuanya adalah bagian dari rencana Allah yang penuh hikmah.


Kelima belas: 
Menyadari Bahwa Setiap Musibah Ada Hikmahnya

Iman kepada takdir juga mengajarkan seorang mukmin bahwa di balik setiap musibah atau kesulitan pasti ada hikmah yang Allah kehendaki.
 Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di dunia ini secara kebetulan, semuanya terjadi sesuai dengan kehendak dan ketetapan Allah yang penuh hikmah. Seorang mukmin yang memahami hal ini akan selalu berprasangka baik kepada Allah, meskipun ia tengah menghadapi cobaan yang berat.

Allah berfirman:
 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216).

Dengan keyakinan ini, seorang mukmin tidak akan terburu-buru menyalahkan takdir ketika musibah menimpanya. Sebaliknya, ia akan berusaha untuk menemukan pelajaran dan hikmah di balik setiap peristiwa yang ia alami. 
Sebagai contoh, cobaan dapat menghapus dosa-dosa, meningkatkan derajat, atau menjadi sarana untuk meningkatkan ketergantungan kepada Allah Ta'ala. 

Dalam sebuah hadits disebutkan: “Tidaklah seorang mukmin tertimpa rasa sakit, kelelahan, penyakit, atau kesedihan, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan sebab itu” (HR. Al-Bukhari).

Dengan menyadari adanya hikmah di balik musibah, seorang mukmin akan menjadi pribadi yang lebih kuat dan optimis dalam menghadapi tantangan hidup.


Keenam belas: 
Memupuk Ketegaran Hati dalam Beribadah

Iman kepada takdir juga memperkuat ketegaran seorang mukmin dalam beribadah. 
Dia memahami bahwa hidup ini adalah bagian dari ujian, dan bahwa ibadah kepada Allah adalah tujuan utama keberadaannya di dunia.
 Ketegaran dalam beribadah muncul dari kesadaran bahwa apapun yang terjadi, apakah kemudahan atau kesulitan, semuanya adalah bagian dari ujian Allah untuk melihat sejauh mana keistiqamahan hamba-Nya.

Allah berfirman: 
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Seorang mukmin yang teguh beriman kepada takdir tidak akan membiarkan urusan dunia mengalihkan perhatiannya dari kewajiban utamanya, yaitu beribadah kepada Allah Ta'ala. 
Bahkan ketika ia dihadapkan pada kesulitan atau kegagalan, ia akan tetap berusaha mendekatkan diri kepada Allah, karena ia yakin bahwa hanya dengan berpegang teguh kepada Allah, ia akan menemukan ketenangan dan kekuatan untuk menghadapi segala cobaan.


Ketujuh belas: 
Meningkatkan Kepedulian terhadap Sesama

Keyakinan pada takdir tidak hanya mempengaruhi hubungan seorang mukmin dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia.
 Seorang mukmin yang beriman kepada takdir akan lebih peduli terhadap sesamanya, karena ia menyadari bahwa setiap orang menghadapi ujian dan takdir yang berbeda-beda.
 Dengan pemahaman ini, ia akan lebih berempati terhadap orang lain yang tengah mengalami kesulitan, dan akan berusaha membantu mereka semampunya.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
 “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal cinta, kasih sayang, dan kepedulian adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasakan sakit dan demam” (HR. Muslim).

Keyakinan kepada takdir juga mendorong seorang mukmin untuk bersedekah dan membantu orang lain, karena ia menyadari bahwa kekayaan dan keberhasilan yang dimilikinya adalah bagian dari takdir Allah, yang bisa kapan saja berubah. 
Dengan sikap ini, seorang mukmin akan lebih mudah berbagi dan tidak akan terikat dengan kekayaan dunia.


Kedelapan belas: 
Menjauhkan Diri dari Kedengkian dan Iri Hati

Iman kepada takdir juga melindungi seorang mukmin dari perasaan iri hati dan dengki terhadap keberhasilan atau kebahagiaan orang lain.
 Dia menyadari bahwa setiap orang memiliki takdirnya masing-masing, dan bahwa apapun yang diperoleh oleh orang lain adalah bagian dari ketetapan Allah. Dengan pemahaman ini, dia tidak akan merasa iri atau ingin merebut apa yang dimiliki orang lain, melainkan akan merasa puas dan bersyukur dengan apa yang telah Allah tetapkan untuknya.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
 “Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, atau saling membelakangi, tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (HR. Muslim).

Keyakinan kepada takdir mengajarkan seorang mukmin untuk senantiasa bersyukur atas apa yang dimilikinya, dan tidak tergoda untuk iri terhadap orang lain. Sebaliknya, ia akan mendoakan kebaikan bagi orang lain dan berusaha untuk memperbaiki dirinya sendiri agar bisa meraih ridha Allah.

Dengan memahami berbagai hikmah dari iman kepada takdir, seorang mukmin akan menjadi pribadi yang lebih sabar, bersyukur, rendah hati, dan optimis dalam menghadapi kehidupan. Iman kepada takdir memberikan ketenangan hati dan keteguhan dalam beribadah serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.