TIGA POKOK NIKMAT
Maher bin Hamd Al-Mu‘aiqili
Tanggal Terbit: 11 Oktober 2022 / 15 Rabi‘ul Awwal 1444 H
Kategori: Keadaan Hati
Tema-tema Khutbah:
- Nikmat Allah mewajibkan rasa syukur
- Tiga pokok nikmat: hakikatnya dan karunia Allah kepada kita dengannya
- Kaidah emas untuk meraih ketenteraman jiwa
- Wasiat untuk terus beramal saleh setelah Ramadhan
Kutipan:
Jika engkau menginginkan ketenangan hati dan akhir yang baik, maka lihatlah dalam perkara dunia kepada orang yang berada di bawahmu, agar engkau mengetahui kadar nikmat Allah atasku; dan lihatlah dalam perkara agama kepada orang yang berada di atasmu, agar engkau menyadari seberapa besar kelalaianmu terhadap hak Tuhanmu, sehingga engkau berusaha menyempurnakan dirimu…
KHUTBAH PERTAMA
Segala puji bagi Allah, segala puji bagi Allah Yang memiliki keutamaan dan kebaikan, kemurahan dan anugerah. Dengan kemurahan-Nya seluruh makhluk tercakup, dan dengan rahmat-Nya Dia mengajak mereka ke negeri keselamatan (surga).
Dia adalah yang paling berhak disembah, paling agung untuk disebut, paling penyayang dalam kekuasaan-Nya, paling menolong ketika pertolongan diminta, paling mendengar ketika doa dipanjatkan, paling dermawan dalam memberi, dan paling adil dalam menetapkan keputusan.
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa junjungan dan kekasih kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, kepada keluarga dan sahabat beliau, serta salam yang sebanyak-banyaknya.
Amma ba‘du, wahai kaum mukminin:
Bertakwalah kepada Allah semampu kalian, berpeganglah dengan sunnah Nabi kalian, perbaikilah hubungan di antara kalian, dan jagalah persatuan barisan serta negeri kalian.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.”
(QS. Al-Baqarah: 197)
Wahai kaum muslimin di mana pun kalian berada:
Hari raya adalah salah satu syiar Islam dan musim untuk memperbarui rasa cinta dan keharmonisan. Semoga Allah menjadikan hari-hari raya kalian penuh kebahagiaan, menambah kegembiraan dan kesenangan, mengembalikannya kepada kalian dengan kelapangan, iman, keamanan, keselamatan, kesehatan, serta mengangkat wabah dan penyakit.
Wahai saudara-saudara seiman:
Sesungguhnya nikmat-nikmat Allah Ta‘ala tidak terhitung dan tidak terbilang. Ada nikmat yang tampak dan ada nikmat yang tersembunyi, dan seringkali nikmat yang tidak tampak lebih besar daripada nikmat yang tampak dan nyata.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Tidakkah kalian melihat bahwa Allah telah menundukkan untuk kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepada kalian yang lahir dan yang batin?”
(QS. Luqman: 20)
Para hamba tidak mampu menghitung nikmat-nikmat itu, apalagi menunaikan hak syukurnya.
Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ biasa mengucapkan:
“Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, sebaik-baiknya, dan penuh keberkahan; tidak tercukupi, tidak ditinggalkan, dan tidak bisa ditinggalkan kebutuhan terhadap-Nya wahai Tuhan kami.”
Maksudnya: nikmat-Mu wahai Rabb kami terus mengalir atas kami dan tidak pernah terputus sepanjang hidup kami.
Thalq bin Habib رحمه الله berkata:
“Sesungguhnya hak Allah lebih berat daripada yang mampu dipikul para hamba, dan nikmat Allah lebih banyak daripada yang mampu dihitung para hamba. Maka jadilah kalian orang-orang yang bertaubat di pagi dan petang.”
Tiga Pokok Nikmat
Sesungguhnya manusia pada masa wabah ini telah merasakan tiga pokok nikmat yang tidak mungkin kehidupan akan terasa nikmat tanpa ketiganya.
Dalam Sunan at-Tirmidzi dengan sanad yang hasan, Nabi ﷺ bersabda:
“Barangsiapa di pagi hari di antara kalian berada dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan hari itu, maka seolah-olah telah dihimpunkan baginya seluruh dunia.”
Hadits mulia ini menjadi pengingat akan nikmat yang telah menjadi kebiasaan banyak manusia, sampai hampir-hampir mereka tidak lagi merasakan nilainya.
Pokok Nikmat Pertama: Keamanan
Itulah nikmat keamanan dan keselamatan pada diri, keluarga, negeri, dan harta.
Dan inilah doa Nabi Ibrahim عليه السلام:
“Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan karuniakanlah kepada penduduknya rezeki berupa buah-buahan, yaitu bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.”
(QS. Al-Baqarah: 126)
Allah Ta‘ala juga mengingatkan Rasul-Nya dan para sahabat dengan mendahulukan nikmat rumah yang aman sebelum rezeki:
“Ingatlah ketika kalian dahulu sedikit dan tertindas di bumi, takut orang-orang akan menculik kalian, lalu Allah memberi kalian tempat berlindung, menguatkan kalian dengan pertolongan-Nya, dan memberi rezeki kepada kalian dari yang baik-baik agar kalian bersyukur.”
(QS. Al-Anfal: 26)
Jika keamanan telah menyeluruh di negeri, dan masyarakat merasa aman dalam agama, jiwa, harta, dan kehormatan mereka, maka mereka dapat bekerja, berusaha mencari rezeki di bumi, tanpa takut selain hanya kepada Allah.
Ya Allah, bagi-Mu segala puji atas nikmat keamanan dan keselamatan.
Pokok Nikmat Kedua: Kesehatan
Pokok kedua adalah keselamatan dan kesehatan.
Nikmat ini merupakan salah satu pemberian yang paling mulia dan paling berharga dari Allah.
Dalam Musnad Imam Ahmad:
Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah kalian diberi sesuatu setelah kalimat tauhid yang lebih baik daripada kesehatan, maka mintalah kepada Allah kesehatan.”
Barangsiapa ingin kesehatannya terus terjaga, hendaklah ia bertakwa kepada Allah secara terang-terangan maupun tersembunyi.
Meminta kesehatan menunjukkan pengakuan terhadap besarnya nikmat Allah, kebutuhan hamba terhadap Tuhannya, dan ketergantungannya kepada kelembutan dan keselamatan dari-Nya.
Dan doa ini adalah doa terbaik serta yang paling dicintai oleh Allah.
Dalam Sunan at-Tirmidzi dengan sanad sahih, Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Aku berkata: Wahai Rasulullah, ajarkanlah aku satu doa untuk aku panjatkan kepada Allah.”
Beliau bersabda: “Mintalah kepada Allah kesehatan.”
Aku menunggu beberapa hari, lalu kembali dan berkata: Wahai Rasulullah, ajarkan aku satu doa.
Beliau bersabda: “Wahai Abbas, wahai paman Rasulullah, mintalah kepada Allah kesehatan, mintalah kepada Allah kesehatan di dunia dan akhirat.”
Pengulangan wasiat ini menunjukkan betapa agungnya nilai doa tersebut.
Bahkan Rasulullah ﷺ memulai dan menutup harinya dengan doa ini.
Dalam Sunan Abu Dawud, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:
Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan doa-doa ini pada pagi dan petang hari: “Ya Allah, aku memohon kesehatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon ampunan dan kesehatan dalam agama, dunia, keluarga, dan hartaku.”
Pokok Nikmat Ketiga: Cukup Rezeki Harian
Pokok ketiga adalah tercukupinya makan dan minum.
Air merupakan nikmat paling agung dan yang pertama akan ditanya pada hari kiamat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya nikmat pertama yang ditanyakan pada hari kiamat kepada seorang hamba adalah:
‘Bukankah Kami telah menyehatkan tubuhmu dan memberimu minum air dingin?’”
Allah berfirman:
“Kemudian pada hari itu kalian benar-benar akan ditanya tentang nikmat.”
(QS. At-Takatsur: 8)
Nasihat Penutup Khutbah Pertama
Wahai saudara yang diberkahi Allah:
Jika engkau menghendaki ketenangan jiwa dan akhir yang baik, maka lihatlah urusan dunia kepada orang yang berada di bawahmu, dan lihatlah urusan agama kepada orang yang lebih tinggi darimu.
Wahai orang yang diberi pakaian kesehatan, keluarganya diberi keselamatan, dicukupi rezeki hariannya, diberi keamanan hati dan ketenteraman jiwa:
Sungguh Allah telah mengumpulkan seluruh nikmat untukmu.
Sambut harimu dengan syukur melalui:
- Menunaikan kewajiban
- Menjauhi larangan
“Beramallah wahai keluarga Daud sebagai tanda syukur, dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
(QS. Saba’: 13)
Doa Penutup Khutbah Pertama
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang bersyukur kepada-Mu, berdzikir kepada-Mu, takut kepada-Mu, taat kepada-Mu, kembali dan tunduk kepada-Mu.
Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari:
- hilangnya nikmat-Mu,
- berubahnya kesehatan-Mu,
- datangnya azab-Mu secara tiba-tiba,
- dan seluruh kemurkaan-Mu.
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.
Allah berfirman:
“Allah yang menciptakan langit dan bumi, menurunkan air dari langit, lalu mengeluarkan dengannya buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian...
dan jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia benar-benar zalim dan sangat mengingkari.”
(QS. Ibrahim: 32–34)
Semoga Allah memberkahiku dan kalian dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta memberi manfaat bagi kita dengan ayat-ayat dan hikmah-hikmahnya.
Aku berkata sebagaimana yang kalian dengar, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan kalian dari segala dosa dan kesalahan — maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.
KHUTBAH KEDUA
Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita syariat Islam dan memudahkan puasa serta salat malam.
Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, sebaik-baik manusia yang beribadah, berpuasa, dan salat malam.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada beliau, keluarga, sahabat, dan para pengikut beliau.
Wahai saudara-saudara seiman:
Baru saja kita ditinggal oleh bulan yang mulia dan musim yang agung. Hari-harinya telah berlalu, malam-malamnya telah habis, dan catatan amalnya telah ditutup.
Barangsiapa memperoleh:
- kebersihan hati,
- dan kesucian jiwa,
maka ia akan menyongsong hari setelah Ramadhan dengan amal kebaikan.
Karena tanda diterimanya satu amal adalah menyusulnya amal kebaikan lainnya.
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa:
- ujub (bangga diri),
- riya (pamer),
adalah dua perusak amal.
Ibrahim عليه السلام saat membangun Ka‘bah pun khawatir amalnya tidak diterima:
“Wahai Rabb kami, terimalah dari kami.”
(QS. Al-Baqarah: 127)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian tidak berbuat dosa, aku khawatir atas kalian dosa yang lebih besar dari itu: yaitu ujub.”
Karena itu para salaf sangat takut terhadap penyakit ujub ini.
Dan meskipun Ramadhan telah berlalu, Allah menjadikan hidup seluruhnya sebagai ladang ibadah.
Perbanyaklah amalan sunnah dan kebaikan:
Dalam Shahih Muslim:
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu diikuti enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.”
Karena satu kebaikan dibalas sepuluh, maka Ramadhan sepadan sepuluh bulan, enam hari Syawwal sepadan dua bulan.
Dianjurkan pula puasa:
- Senin dan Kamis
- Ayyamul Bidh (13,14,15)
Ketahuilah wahai kaum beriman, bahwa: Salat terbaik setelah yang wajib adalah qiyamul lail (salat malam).
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Jangan tinggalkan salat malam, karena Rasulullah tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit atau lelah, beliau tetap salat sambil duduk.”
Jalan kebaikan itu banyak, pintu surga ada delapan:
- Pintu salat
- Pintu sedekah
- Pintu puasa (Ar-Rayyan)
Sufyan bin ‘Abdillah ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah ﷺ:
“Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku satu kalimat dalam Islam yang tidak akan aku tanyakan lagi kepada siapa pun selain engkau.”
Beliau menjawab:
“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Artinya: Tetaplah lurus di atas tauhid dan syariat sampai engkau bertemu Allah dalam ridha-Nya.
Karena Allah tidak membatasi amal seorang mukmin selain kematian.
Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu walaupun sedikit.
Sedikit yang terus-menerus lebih baik daripada banyak tetapi terputus.
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim:
Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya: “Apakah Rasulullah mengkhususkan hari tertentu untuk ibadah?” Ia menjawab: “Tidak, amal beliau itu terus-menerus.”
Allah berfirman:
“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.”
(QS. Al-Hijr: 99)
Kemudian ketahuilah, wahai kaum mukminin:
Allah telah memerintahkan kalian dengan perintah yang mulia, Dia awali dengan Diri-Nya:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi…”
(QS. Al-Ahzab: 56)
Ya Allah: Curahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya… Ridhoilah para khalifah yang mendapat petunjuk:
- Abu Bakar
- Umar
- Utsman
- Ali
Dan seluruh sahabat, tabi‘in, dan pengikut mereka hingga hari kiamat.
Doa Penutup Khutbah
Ya Allah, muliakan Islam dan kaum muslimin.
Jadikan negeri ini dan seluruh negeri kaum muslimin aman dan tenteram.
Perbaikilah keadaan umat Islam di seluruh tempat.
Lindungilah kami dari:
- wabah
- mahalnya harga
- riba
- zina
- gempa
- fitnah yang tampak dan tersembunyi.
Berilah kami:
- kelapangan setelah kesempitan
- kegembiraan setelah kesedihan
- jalan keluar setelah kesulitan.
Sembuhkanlah orang-orang kami yang sakit, rahmatilah yang telah meninggal, dan tolonglah yang lemah.
Ya Allah, ampuni kami:
“Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri…”
(QS. Al-A‘raf: 23)
“Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami…”
(QS. Al-Hasyr: 10)
“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan dunia dan akhirat.”
(QS. Al-Baqarah: 201)
“Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Mulia…”
(QS. Ash-Shaffat: 180–182)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar