Kejujuran adalah Penyelamat dan Dusta adalah Kebinasaan
Syaikh Maher bin Hamad Al-Mu‘aiqili
📅 Disampaikan: 12 September 2025 / 20 Rabi‘ul Awwal 1447 H
📅 Diterbitkan: 13 September 2025 / 21 Rabi‘ul Awwal 1447 H
Pokok Khotbah:
- Pelajaran dan hikmah dari kisah Ka‘ab bin Malik yang tertinggal dari Perang Tabuk.
- Kewajiban seorang muslim untuk senantiasa jujur dalam ucapan dan perbuatannya.
- Keutamaan dan kemuliaan sifat jujur.
Khotbah Pertama
Segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Tinggi.
Dialah yang menyeru hamba-hamba-Nya untuk berlaku jujur dalam ucapan dan perbuatan.
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya — Tuhan Yang memiliki keagungan dan kesempurnaan, suci nama-nama-Nya, mulia zat-Nya, dan tinggi kedudukan-Nya.
Aku juga bersaksi bahwa Nabi kita, junjungan kita, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya — yang memiliki akhlak paling mulia, yang dianugerahi hikmah dan perkataan yang padat makna.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarganya, para sahabatnya yang terbaik, dan siapa pun yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga hari kiamat.
Amma ba‘du — wahai kaum mukminin, aku wasiatkan kepada diriku dan kalian untuk bertakwa kepada Allah.
Barang siapa bertakwa kepada Allah, maka akhirat akan menjadi cita-citanya; dan siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan, Allah akan menanamkan kekayaan di hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.
Sebagaimana firman Allah:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Thalaq: 2–3)
Pelajaran dari kisah Ka‘ab bin Malik
Wahai umat Islam, Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya kisah Ka‘ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu ketika tertinggal dari Perang Tabuk.
Ia berkata:
“Ketika sampai kepadaku kabar bahwa Rasulullah ﷺ telah pulang dari Tabuk, hatiku diliputi kesedihan. Aku mulai berpikir untuk berdusta, ‘bagaimana aku bisa selamat dari kemarahan beliau besok?’ Aku meminta pendapat keluarga, namun akhirnya aku sadar: aku tidak akan selamat kecuali dengan kejujuran. Maka aku bertekad untuk berkata jujur.”
Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau mendatangi masjid, shalat dua rakaat, kemudian duduk menyambut orang-orang.
Ka‘ab datang dan memberi salam. Rasulullah ﷺ tersenyum, tapi dengan senyum orang yang sedang marah. Beliau berkata, “Kemari!”
Ka‘ab pun duduk di hadapan beliau, dan beliau bertanya:
“Apa yang membuatmu tidak ikut berangkat? Bukankah engkau telah membeli kendaraanmu?”
Ka‘ab menjawab:
“Wahai Rasulullah, seandainya aku duduk di hadapan orang lain di dunia ini, aku bisa beralasan dan lolos dari kemarahannya. Namun aku tahu, jika aku berdusta kepadamu hari ini agar engkau ridha kepadaku, Allah pasti akan membuatmu murka kepadaku nanti. Demi Allah, aku tidak punya alasan apa pun. Aku belum pernah sekuat dan sekaya ini ketika aku tidak berangkat bersamamu.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Adapun orang ini telah berkata jujur. Berdirilah hingga Allah memutuskan perkaramu.”
Setelah Allah menerima taubat Ka‘ab dan dua sahabatnya, Ka‘ab datang lagi kepada Rasulullah ﷺ. Wajah beliau berseri-seri penuh kegembiraan dan bersabda:
“Bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah kau alami sejak ibumu melahirkanmu!”
Ka‘ab bertanya:
“Apakah ini dari engkau, wahai Rasulullah, atau dari Allah?”
Beliau menjawab:
“Tidak, ini dari Allah.”
Ka‘ab berkata:
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamatkanku dengan kejujuran, dan sebagai bentuk taubatku, aku berjanji tidak akan berkata kecuali jujur selama aku hidup.”
Dan Allah menurunkan ayat:
“Sungguh, Allah telah menerima taubat Nabi, para Muhajirin dan Anshar… Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.”
(QS. At-Taubah: 117–119)
Ka‘ab berkata:
“Tidak ada nikmat yang lebih besar bagiku setelah Islam daripada nikmat bahwa aku jujur kepada Rasulullah ﷺ.”
Semoga Allah meridhai Ka‘ab bin Malik dan seluruh sahabat Nabi, dan semoga kita dikumpulkan bersama mereka di:
“Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di tempat yang penuh kejujuran di sisi Raja Yang Maha Berkuasa.”
(QS. Al-Qamar: 54–55)
Wahai kaum mukminin
Kejujuran adalah syiar seorang mukmin di setiap keadaan, pakaian yang ia kenakan dalam perkataan dan perbuatannya.
Ia menjadi sifat yang melekat dalam dirinya hingga menjadi watak dan kebiasaannya.
Ia tidak berbicara tanpa pertimbangan, tidak menilai sesuatu berdasarkan prasangka, tapi selalu meneliti dan mencari kebenaran.
Dengan itu ia akan ditulis di sisi Allah sebagai shiddiq (orang yang sangat jujur), yaitu derajat tertinggi setelah kenabian dan kesyahidan.
Allah berfirman:
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah — dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.”
(QS. An-Nisa’: 69)
Rasulullah ﷺ bersabda dalam Shahih Muslim:
“Hendaklah kalian selalu jujur, karena kejujuran membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa ke surga. Seseorang senantiasa berkata jujur hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.”
Maka beruntunglah orang yang jujur kepada Allah, lalu Allah membenarkannya.
Beruntunglah orang yang jujur kepada sesama manusia, lalu Allah memuliakannya.
Dan beruntunglah orang yang teguh di jalan orang-orang jujur hingga wafat.
“Di antara orang-orang mukmin ada orang-orang yang menepati janji mereka kepada Allah; di antara mereka ada yang telah gugur, dan di antara mereka ada yang menunggu, dan mereka tidak mengubah (janji mereka).”
(QS. Al-Ahzab: 23)
Khotbah Kedua
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Mahabenar dan Mahaadil.
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, Raja yang Hak dan Nyata.
Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad ﷺ adalah hamba dan Rasul-Nya, orang yang jujur dan amanah.
Shalawat dan salam atas beliau, keluarganya, para sahabatnya, dan semua pengikutnya hingga hari kiamat.
Hakikat kejujuran
Wahai kaum mukminin, kejujuran adalah akhlak agung.
Allah memuji Diri-Nya dengan sifat ini dalam Al-Qur’an:
“Siapakah yang lebih jujur perkataannya daripada Allah?”
(QS. An-Nisa’: 87)“Dan siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah?”
(QS. An-Nisa’: 122)
Para nabi juga dipuji dengan kejujuran.
Tentang Ibrahim:
“Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat jujur lagi seorang nabi.” (QS. Maryam: 41)
Tentang Ismail:
“Sesungguhnya dia adalah orang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 54)
Adapun Nabi Muhammad ﷺ — beliau dikenal sebagai ash-shadiq al-amin (yang jujur dan terpercaya), baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi rasul.
Beliau datang dengan kebenaran, berkata benar, memerintahkan kebenaran, dan menepati janji.
Allah memerintahkannya untuk berdoa:
“Ya Tuhanku, masukkan aku dengan cara masuk yang benar, dan keluarkan aku dengan cara keluar yang benar, dan berikan kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.”
(QS. Al-Isra’: 80)
Syariat beliau adalah syariat kejujuran, dan para sahabatnya adalah orang-orang yang benar.
“Dan orang yang datang dengan kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Az-Zumar: 33)
Kejujuran membawa ketenangan
Kejujuran adalah dasar yang kokoh dalam niat, ucapan, amal, dan keadaan.
Ia membawa ketenangan dan kedamaian hati, mengundang terkabulnya doa dan dihilangkannya kesulitan.
Orang jujur mulia dan terhormat; sedangkan pendusta — na‘udzubillah — hina dan rendah.
Karena itu Nabi ﷺ sangat mencela dusta, bahkan dalam perkara kecil sekalipun.
Beliau melatih anak-anak untuk mencintai kejujuran dan membenci dusta.
Dalam hadis dari Abdullah bin Amir radhiyallahu ‘anhu:
Ibunya memanggilnya ketika Nabi ﷺ sedang duduk di rumah mereka,
“Ibnu Amir, kemarilah, aku akan memberimu sesuatu.”
Maka Nabi ﷺ bertanya, “Apa yang hendak engkau berikan kepadanya?”
Ia menjawab, “Aku akan memberinya kurma.”
Beliau bersabda:
“Jika engkau tidak memberinya apa pun, niscaya akan dicatat bagimu satu kebohongan.”
(HR. Abu Dawud)
Maka jangan remehkan kebohongan, wahai hamba Allah.
Sekali seseorang membuka pintu dusta, sulit baginya untuk menutupnya kembali.
Bahaya kebohongan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jauhilah dusta, karena dusta menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan menuntun ke neraka. Seseorang senantiasa berdusta hingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”
(HR. Muslim)
Beliau juga memperingatkan agar tidak berdusta walau dalam bercanda:
“Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta agar orang tertawa karenanya; celakalah baginya, celakalah baginya.”
(HR. Ahmad)
Apalagi di zaman media sosial, ketika berita bohong dan fitnah menyebar cepat.
Nabi ﷺ bersabda:
“Cukuplah seseorang dikatakan pendusta bila ia menceritakan semua yang ia dengar.”
(HR. Muslim)
Maka bagaimana halnya dengan orang yang menciptakan kebohongan dan menyebarkannya?
Dalam Shahih al-Bukhari, Rasulullah ﷺ menceritakan dalam mimpi beliau:
“Aku melihat seseorang yang mulut, hidung, dan matanya disobek hingga ke tengkuknya — karena setiap pagi ia keluar dari rumahnya lalu menyebarkan kebohongan hingga menjangkau seluruh penjuru dunia.”
Dusta terbesar: berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya
Allah berfirman:
“Pada hari kiamat engkau akan melihat wajah orang-orang yang berdusta atas nama Allah menjadi hitam. Bukankah di neraka Jahannam tempat bagi orang-orang yang sombong?”
(QS. Az-Zumar: 60)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”
(HR. Bukhari)
Penutup
Wahai hamba Allah, jadikanlah kejujuran sebagai pakaian dan hiasan hidupmu — baik di depan umum maupun dalam kesendirian.
Karena hanya orang-orang yang jujur yang akan selamat di hari kiamat.
“Allah berfirman: Inilah hari ketika kejujuran orang-orang yang jujur memberi manfaat bagi mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang besar.”
(QS. Al-Ma’idah: 119)
Doa Penutup
Selawat dan salam atas Nabi yang jujur lagi terpercaya ﷺ:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang beriman, bershalawatlah untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan keberkahan kepada Nabi Muhammad, istri-istri, dan keturunannya sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada keluarga Ibrahim.
Ridai para khalifah yang lurus: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, juga seluruh sahabat dan tabi‘in.
Ya Allah, muliakan Islam dan kaum Muslimin; jadikan negeri kami aman, tenteram, dan makmur, begitu pula seluruh negeri Muslimin.
Ya Allah, lindungilah pemimpin kami, kuatkanlah mereka dalam kebenaran, dan karuniakan kemenangan kepada para penjaga negeri dan para pejuang di perbatasan.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Palestina, kuatkan mereka, sembuhkan yang terluka, beri makan yang lapar, dan hancurkan para penjajah zionis yang zalim.
Ya Allah, jagalah Masjid Al-Aqsha tetap mulia hingga hari kiamat.
Ampunilah seluruh kaum Muslimin, yang hidup maupun yang telah wafat.
“Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.”
(QS. Al-Baqarah: 201)“Maha suci Tuhanmu, Tuhan yang memiliki keagungan dari apa yang mereka sifatkan. Salam sejahtera bagi para rasul, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”
(QS. As-Saffat: 180–182)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar