Kamis, 29 Agustus 2013

PERSATUAN

Tidak diragukan lagi bahwa kaidah ajaran Islam terbesar, pondasi yang sangat mendasar, adalah menjaga hati dan menjalin persatuan di atas kebenaran, berpegang di atas jama'ah, serta memperbaiki hubungan diantara sesama seakidah. Dikarenakan perkara tersebut mendatangkan maslahat yang amat besar, berpahala melimpah, dan keutamaan yang banyak. Sebaliknya perpecahan, perselisihan, akan mendatangkan keburukan dan petaka serta menggugurkan banyak hukum-hukum.

Allah Ta'ala berfirman: "Dan berpegang teguhlah kalian di atas tali Allah dan janganlah berpecah belah". (QS.Ali-Imron: 103).

Allah Ta'ala berfirman: "Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan diantara sesama kalian". (QS. Al Anfal: 1)

Kandungan ayat muliya di atas terkadang tidak terfikirkan kebanyakan para manusia yang berusaha memecah keutuhan kalimat dan para provokator yang tidak memiliki kecenderungan untuk tegaknya keutuhan. Para ulama islam sepakat akan menjaga utuhnya kalimat dan berusaha menguatkan asas ini. Diantara teladan dari para ulama antara lain:

1. Dikisahkan dari banyak riwayat ungkapan para ulama, "Marilah kita memohon kepada Allah agar disatukan hati-hati kami dan kalian, memperbaiki hubungan diantara kita semua, serta menunjuki kita kepada jalan yang selamat dan mengentaskan kita dari jalan kesesatan menuju jalan kebenaran. Dan tujuan terbesar kita adalah memperbaiki hubungan diantara kita seraya melembutkan hati-hati kita.

2. Tatkala Sulthon An-Na'sir dimasa Ibnu Taimiyah memberikan persetujuan untuk memberikan hukuman penggal bagi para hakim yang menentang dan membangkang dan meminta fatwa kepada Ibnu Taimiyah, maka seraya memberikan jawaban, "Jika engkau penggal mereka niscaya engkau tidak menjumpai seperti mereka sepeninggalnya". Sulthon bertanya kembali, "Sesungguhnya mereka telah menyakitimu dan berusaha untuk membunuhmu berulang kali". Maka Ibnu Taimiyah menjawab," Barangsiapa yang telah menyakitiku maka hari ini aku telah maafkan dan barangsiapa menyakiti Allah dan Rasul-Nya maka Allah akan murka kepadanya dan aku tidak akan mencari kemenagan untuk diriku pribadi. Dan senantiasa mengulang-ulang pernyataannya hingga melembut dan As-Shulthon memaafkannya.

3. Para ulama memberi peryataan, "Kewajiban bagi seorang muslim jika telah menempati suatu wilayah dari wilayah kaum muslimin maka hendaknya ia menunaikan sholat jamaah dan jum'ah bersama masyarakat sekitar, mencintai dan loyal kepada kaum mukminin serta tidak memusuhinya. Jika sekiranya menjumpai diantara mereka ada yang sesat dan terjerumus dalam kesesatan yang memungkinkan diberi nasihat dan diarahkan kepada petunjuk yang lurus maka dilaksanakan, jika tidak mampu maka sesungguhnya Allah tidak membebani suatu jiwa melainkan apa yang ia mampu.

4. Fatwa dari para ulama menyatakan, "Barangsiapa yang diundang pada suatu hidangan dan samar padanya, maka tidak mengapa menyantap makanan sersebut walau hanya sedikit. Jika di sana terdapat maslahat yang dominan seperti untuk melunakkan hati dan semisalnya".

5. Sesungguhnya dianjurkan bagi seseorang untuk menjinakkan dan melembutkan hati walau dengan meninggalkan suatu perkara yang mustahab, dikarenakan maslahat ta'lif qulub dalam timbangan agama lebih besar dari melakukan mustahab tersebut, dan yang utama adalah mengikuti petunjuk secara cermat dan berlembut serta melunakkan hati. Seperti mengeraskan bacaan basmalah dalam rangka menjaga keutuhan, seperti pula menyambung rekaat dalam sholat witir yang tiga rekaat dari pada memisahnya, sebagaimana imam Ahmad mengutamakan meninggalkan qunut dalam sholat witir dalam rangka melunakkan hati para makmumnya.

Bahkan Ibnu Taimiyah menganggap seseorang yang fanatik menyatakan basmalah adalah ayat dari kitab Allah yang wajib dibaca sebagai bentuk syiar perpecahan dan furqoh yang kita dilarang darinya. Sesungguhnya kerusakan yang akan timbul dari perpecahan ini jauh lebih dahsyat dari perbedaan pendapat di atas.

Ini merupakan ulasan singkat dari beberapa perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam masalah ta'liful qulub (melunakkan hati lawan) dan masalah menjaga persatuan, maka alangkah butuhnya di zaman seperti ini yang sangat merindukan pencerahan cinta kasih kepada sesama muslim, hingga terajut ikatan yang menjaga keutuhan bersama yang mampu mendekatkan yang jauh, dan menunjuki yang tergelincir diantara mereka.

Dan tiada henti setelah harapan taufiq dari Allah kita selalu berusaha menambah ilmu dan kesabaran serta takwa dan kebersihan hati dan memandang maslahat untuk umat.

dari tulisan DR Ahmad ibnu Ibrohim Al-Hamad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar